Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Duka Keluarga Wirawan....


__ADS_3

<<<<<


Bukannya bangun, Bunda Artiana malah semakin terlelap dan nampak dari wajahnya yang sudah mulai memucat. Melihat itu pun sontak membuat Dimas yang lainnya terkejut serta panik.


"Bunda bangun, Bunda!"


Dimas bangkit dari posisinya dan kembali membangunkan Bunda Artiana seraya mengguncang tubuhnya, namun tetap saja Bunda tidak membuka matanya.


Eqitna dan Maria pun mendekat ke Dimas.


"Bunda kenapa, Dim?" tanya Eqitna.


"Eqi, tolong ambilkan tas milikku, cepat!" suruh Dimas.


Eqitna langsung menurut dan bergegas keluar dari kamar Bunda Artiana.


"Dimas, apa yang terjadi pada Bunda?" tanya Maria.


Namun Dimas tidak menjawabnya, karena fokus pada Bundanya seraya memeriksa denyut nadi di tangan Bunda Artiana.


Dan saat memeriksanya, ternyata ia tidak merasakan denyut nadi di tangan Bundanya, kemudian ia beralih ke arah leher Bunda Artiana dan tetap sama ia tidak merasakan denyutnya.


Bahkan ketika Dimas menempatkan jari telunjuknya di bawah hidung Bunda Artiana, hembusan nafas Bundanya pun tidak ia rasakan di jari telunjuknya, sontak membuat Dimas kembali terkejut.


"Bunda, ayo bangun Bunda! Jangan buat Dimas ketakutan seperti ini." ucap Dimas seraya mencubit lengan Bunda Artiana.


Sebenarnya Dimas melakukan itu untuk mendapatkan respon atau rangsangan dari tubuh Bunda Artiana.


(Ya pengalaman dari Author juga)


Dan tetap saja tidak ada respon apa-apa dari Bunda Artiana sehingga membuat air mata yang tadinya Dimas tahan kini perlahan lolos membasahi pipinya, tangannya pun mulai bergetar dan kakinya sudah terasa lemas seakan tak mampu menopang tubuhnya.


Namun Dimas mencoba untuk tetap tenang dan tidak berfikiran macam-macam tentang apa yang terjadi pada Bunda Artiana. Tak lama Eqitna pun datang dengan membawa tas milik suaminya itu.


"Dimas ini tasnya!" Eqitna memberikan tas tersebut pada Dimas.


Seketika Dimas menyambar tasnya dari tangan Eqitna dan membukanya, kemudian ia mengambil sebuah stetoskop dan senter dari dalam tasnya lalu kembali memeriksa ke Bunda Artiana dengan menggunakan alat tersebut.


Sesaat.....


"Dimas, bagaimana dengan Bunda? Dan kenapa kaki Bunda dingin seperti ini?" tanya Eqitna seraya memegang kaki Bunda Artiana.


Dimas menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ia menoleh ke Eqitna dan memeluknya. Lalu terdengar suara isak tangis yang keluar dari mulut Dimas membuat Eqitna, Maria dan Mira semakin kebingungan dan penasaran.


"Dimas, kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi pada Bunda? Cepat katakan pada Kakak?!" sentak Maria.


"Dimas, jangan bikin kami penasaran. Ayo katakan sebenarnya Bunda kenapa?"


"Bu-Bunda.... Bunda sudah pergi meninggalkan kita!" kata Dimas.


"Apa!"


Sontak Eqitna, Maria dan Mira sangat terkejut mendengarnya, bahkan Mira sampai menjatuhkan kue ulang tahun yang berada di tangannya.


"Nyonya besar!"


"Bunda...." lirih Eqitna dengan air matanya yang mengalir dan memeluk erat suaminya.


"Apa yang kamu katakan itu Dimas? Apa maksudmu dengan Bunda pergi?" cecar Maria seraya menarik baju Dimas.


Dimas langsung melepaskan pelukannya dan beralih menghadap ke arah Kakaknya. Sedangkan Eqitna dan Mira ke Bunda Artiana.


Lalu.


"Kak Maria," Dimas menggenggam tangan Maria. "Bunda sudah meninggal Kak."


"Apa! Meninggal? Kamu pasti bohong kan Dimas? Bunda tidak mungkin pergi ninggalin kita." pekik Maria yang belum percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya.


"Kak, Dimas gak bohong. Bunda benar-benar sudah pergi menyusul Ayah." jelas Dimas.


Maria pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak Dimas! Bunda tidak meninggal, dia hanya tertidur pulas saja. Ayo lebih baik kita bawa Bunda ke Rumah sakit! Siapa tahu Bunda bangun dari tidurnya." lontarnya seraya mengguncang lengan Dimas.


"Kak Maria!" Dimas berjongkok seraya memegang kedua bahu Maria. "Kak, dengarkan aku! Percuma kita membawa Bunda ke Rumah sakit Kak. Bunda memang benar-benar sudah pergi meninggalkan kita. Bunda sudah pergi menyusul Ayah kita, Kak."


Perkataan adiknya itu berhasil membuat air mata Maria jatuh mengalir membasahi pipinya.


"Bundaaaa...." jerit Maria.


Dimas pun segera memeluk erat Maria dan kini tangis keduanya pecah seketika. Sesaat Dimas dan Maria saling melepaskan pelukannya kemudian mendekat ke arah Bundanya.


Maria menggenggam erat tangan Bundanya yang sudah lemas seraya menciumnya.


"Bunda, kenapa Bunda pergi? Padahal hari ini hari ulang tahun Bunda. Harusnya hari ini kita merayakannya dengan suka cita dan bukan duka cita seperti ini! Bunda, apa Bunda marah denganku, apa Bunda sudah bosan menemani ku sehingga Bunda memilih pergi meninggalkan kami semua? Bunda Maria mohon bangun, jangan tinggalkan kami! Kami masih membutuhkan Bunda." ucap Maria.


Maria meraung keras seraya mengguncang lengan Bunda Artiana. Melihat itu, Dimas kembali memeluk Maria seraya menenangkannya. Ya meskipun sebenarnya Dimas juga sangat terpukul atas kepergian Bunda Artiana, begitu pula dengan Eqitna dan Mira. Lalu....


Bruuk!


Saking terlalu shock-nya, Maria tiba-tiba pingsan di pelukan adiknya itu.


"Kak Maria!" seru Dimas dan Eqitna secara bersamaan.


Dimas pun langsung membopong tubuh Kakaknya dan membawanya ke kamarnya.


**********************************


Villa Z&R


—Pukul 04.45am


Sementara itu, Zuy nampak terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan keras dari kamar si kembar. Seketika ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar anak-anaknya.


Dan benar saja saat sudah memasuki kamarnya, Baby Rayn nampak sedang duduk di atas ranjangnya sambil menangis. Zuy segera membuka penghalang yang berada di ranjang lalu mendudukkan dirinya.


"Duh gantengnya Mamah, pasti kamu haus ya sayang? Makanya kamu bangun dan menangis." ucap Zuy seraya mengangkat tubuh Baby Rayn dan memangkunya.


Kemudian ia membuka kancing bajunya dan mengeluarkan salah ASI-nya untuk Baby Rayn. Seketika Baby Rayn langsung meminumnya dengan lahap.


Ketika sedang menyusui Baby Rayn, tiba-tiba saja air matanya mengalir dengan sendirinya.


"Kenapa tiba-tiba air mataku mengalir seperti ini? Dan lagi kenapa aku merasakan perasaan yang tidak enak seperti ini? Apa jangan-jangan aku masih mengantuk?" lirih Zuy yang keheranan seraya mengusap air matanya.


Zuy mengarahkan pandangannya ke arah jam yang terpampang di dinding.


"Hmmm, ternyata sudah hampir jam lima pagi, aku kira masih jam tiga." Ia pun beralih ke Baby Rayn yang tengah meminum ASI-nya.


"Minum yang banyak ganteng! Biar kenyang terus bobo lagi yang nyenyak deh." lanjut kata Zuy mengelus pipi gembul anaknya.


Baby Rayn pun melirikkan matanya ke Zuy sembari mengangkat tangannya dan menempatkannya di pipi Mamahnya.


Tak lama setelah Baby Rayn terpejam dan melepaskan Asi Mamahnya dari mulutnya kemudian membaringkannya di samping adiknya dengan perlahan, meskipun Baby Rayn sempat mengerang.


Selepas itu, Zuy beralih ke arah kamarnya lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjangnya sembari menarik nafasnya.


"Aku kenapa ya? Perasaan ku benar-benar tidak seperti biasanya, terus kenapa aku kepikiran sama Nenek." lirih Zuy menundukkan kepalanya.


Zuy mengambil hpnya yang di atas nakas dan ketika melihat ke arah layar benda pintarnya, seketika ia membelalakkan matanya.


"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa kalau hari ini Nenek ulang tahun. Hmmm, pantesan aku kepikiran Nenek terus. Duh, dasar kamu ini Zuy benar-benar manusia pelupa!" Zuy menepuk jidatnya.


Lalu Zuy mencari kontak Dimas dan menghubunginya. Namun sayangnya Dimas tidak menjawab telponnya.


"Kenapa gak di angkat ya? Apa jangan-jangan Paman Dokter masih tidur? Tapi aku penasaran, apa semalam kejutan untuk Nenek berhasil atau tidak. Hmmm, coba sekali lagi deh."


Ia pun kembali menghubungi Pamannya dan akhirnya....


Tuuut...


"Halo Kak Zuy..." suara anak perempuan dari sebrang telponnya.


"Nayla!"


"Iya ini Nayla Kak."


"Lho, kenapa jam segini kamu udah bangun? Ayah mana?" tanya Zuy.


"Nayla bangun karena di suruh ngejagain Jio Kak."


Zuy mengerenyit. "Ngejagain Jio? Memangnya Ayah sama Mamah kemana? Dan lagi kenapa suara kamu seperti habis nangis, Nay?"


"Ayah sama Mamah di bawah ngurus Nenek yang meninggal." jawab Nayla.


Seketika Zuy kembali membelalakkan matanya karena sangat terkejut dengan jawaban Nayla.


"Barusan kamu bilang apa Nay?! Nenek meninggal?"

__ADS_1


"Iya Kak."


Zuy menghela nafasnya sejenak.


"Nay, kamu bisa ke Ayah dan memberikan hpnya?! Soalnya Kakak mau ngomong sama Ayah kamu." pinta Zuy, ia masih belum percaya dengan perkataan Nayla.


"Iya, sebentar ya Kak."


"Iya."


Lalu sesaat....


"Iya Zuy," ucap Dimas.


"Paman Dokter, apa benar yang di katakan Nayla, kalau Nenek meninggal?" tanya Zuy memastikan.


Dimas tersentak. "Apa! Jadi Nayla memberitahu mu soal Bunda?"


"Paman, tolong katakan padaku! Kalau yang di bilang sama Nayla itu gak benar kan?" cecar Zuy.


Dimas terlebih dahulu menarik nafasnya sebelum berkata.


"Zuy, yang di katakan Nayla itu benar kalau Bunda memang sudah pergi ninggalin kita semua!" ujar Dimas.


"Ja-jadi Nenek beneran pergi?!"


"Iya Zuy, Bunda pergi menyusul Kakekmu."


Bagaikan tersambar petir di pagi buta, Zuy pun benar-benar sangat shock dan terpukul mendengarnya sampai-sampai benda pipih yang di pegangnya terlepas dan terjatuh di lantai.


"Halo Zuy, apa kamu masih di sana?! Zuy ...." seru Dimas.


"Nenek!" teriak Zuy di susul tangisnya.


Seketika membuat Ray yang sedang tertidur langsung terbangun.


"Sayangku...." lirih Ray melihat ke arah Zuy.


Ia pun terkejut saat melihat pujaan hatinya menangis dan langsung mengubah posisinya.


"Ada apa sayangku? Kenapa kamu menangis?" tanya Ray memegang kedua bahu Zuy.


Bukannya menjawab, Zuy malah menangis sejadinya sehingga membuat Ray kebingungan, lalu ia memutar tubuh pujaan hatinya sehingga saling berhadapan.


"Sayangku, katakan padaku! Ada apa, kenapa kamu menangis? Apa kamu mengalami mimpi buruk lagi? Hm!" tanya Ray.


Zuy mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah pria tampannya.


"Ray, Ne..Nek, Zuy ma..u ke rumah Pam..an Dokter!" ucapnya sesenggukan.


Ray mengerenyit. "Hmmm, kamu mau ke rumah Paman Dokter?!"


Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"I...ya Ray."


"Tapi ini masih pagi buta sayangku."


"Pokoknya Zuy mau ke rumah Paman, Zuy mau liat Nenek sekarang! soalnya barusan kata Paman Dokter kalau Nenek meninggal.... Hiks." kata Zuy.


Ray tersentak. "Kamu bilang apa sayangku?! Nenek meninggal?"


"Iya, makanya aku mau ke rumah Paman Dokter."


"Baiklah, ayo kita ke rumah Paman. Tapi kamu harus ganti baju dulu ya sayangku!" Ray menyeka air mata Zuy.


Zuy membalas dengan anggukan kepala saja, kemudian keduanya beranjak dari tempat tidurnya. Zuy berjalan menuju ke arah walk in closet sedangkan Ray ke kamar mandi.


Sesaat kemudian, keduanya kini sudah berada di ruang keluarga dan kebetulan berpapasan dengan Mamahnya Airin yang kala itu hendak pergi ke dapur.


"Lho, kalian berdua mau kemana? Dan lagi kenapa anak Mamah menangis seperti ini?" tanya Mamahnya Airin seraya memegang pipi Zuy.


"Kita mau ke rumah Dokter Dimas, Mah. Sebab kami mendapat kabar kalau Nenek meninggal." jawab Ray.


Sontak berhasil membuat Mamahnya Airin terkejut.


"Apa! Neneknya Zuy meninggal?"


"Iya Mah, makanya kami ingin kesana."


"Oh, lalu bagaimana dengan anak-anak?"


Mamahnya Airin manggut-manggut.


"Oh.... Yaudah kalau begitu kalian berdua cepatlah kesana! Nanti agak siangan Mamah kesana sama Nana sekalian bawa si kembar."


"Iya Mah, terimakasih banyak." ucap Ray.


Kemudian Ray dan Zuy mencium punggung tangan Mamahnya Airin secara bergantian, setelah itu mereka berdua melenggang pergi dan sedangkan Mamahnya Airin berjalan ke arah pintu lift menuju ke kamar si kembar.


...----------------...


Di sepanjang perjalanan, Zuy terus saja menangis tanpa henti membuat Ray terenyuh melihatnya.


"Nenek...."


Ray lalu menempatkan salah satu tangannya di kepala Zuy seraya mengelusnya.


"Sabar ya sayangku!" tutur Ray.


Rumah Dimas


Beberapa menit menempuh perjalanan, kini mereka berdua sudah tiba di tempat. Dan benar saja di sana sudah ramai, banyak tetangga berdatangan untuk berbela sungkawa meskipun suasananya masih pagi buta.


Zuy dan Ray turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju ke rumah Dimas.


Setibanya....


"Paman Dokter!" panggil Zuy pada Dimas.


Dimas berserta lainnya langsung menoleh ke arah pintu di mana Ray dan Zuy berdiri di sana.


"Zuy!"


Zuy, Ray melangkah masuk menghampiri Pamannya.


Lalu....


"Anak durhaka! Untuk apa kamu datang kesini? Hah! Apa kamu belum puas dengan apa yang kamu lakukan?" sergah Maria.


Sehingga membuat pandangan orang yang ada di sana mengarah ke Maria, begitu pula dengan Ray yang langsung mengerenyitkan wajahnya seraya mengepalkan tangannya.


"Kak Maria!" pekik Dimas.


Zuy menarik nafasnya dan membuangnya.


"Maaf Mrs Maria! Zuy datang kesini tentu saja untuk Nenek." ujar Zuy.


"Apa! Untuk Bunda?! Hei anak durhaka, ini semua gara-gara kamu makanya Bunda meninggal. Harusnya yang di ambil Tuhan itu kamu bukannya Bunda! Kamu anak durhaka tidak pernah patuh, wanita j*lang!" lontar Maria.


Mendengar kata yang di lontarkan oleh Maria, sontak membuat suasana menjadi mencengkam, bahkan orang yang hadir disana saling berbisik satu sama lain dan itu juga membuat Ray sangat marah.


"Mrs Maria!"


Maria pun menengadah melihat ke arah Ray. Dan di saat Ray hendak melangkah mendekati Maria, tiba-tiba Zuy memegang erat lengan pria tampannya itu sehingga Ray memalingkan wajahnya ke Zuy.


"Sayangku...."


Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya seakan meminta Ray untuk tidak melakukan sesuatu pada Maria.


"Tapi sayangku!"


"Aku mohon, ini demi Nenek!" lirih Zuy dengan matanya yang sudah menggenang air mata.


Ray menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah sayangku, aku menuruti mu."


Zuy tersenyum kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Ray. Melihatnya pun Maria langsung menyunggingkan senyum smirk-nya.


"Kamu benar-benar bodoh ya Ray! Bisa-bisanya kamu sangat menuruti perintah anak durhaka itu." sindirnya.


Lalu...


"Mira...." seru Dimas.


Mira menghampiri Dimas. "Iya Tuan."

__ADS_1


"Cepat bawa Kak Maria ke kamarnya lalu kunci pintunya!" suruh Dimas.


Sehingga membuat Maria tersentak.


"Dimas, apa maksud kamu menyuruh Mira seperti itu? Apa kamu ingin mengurung Kakakmu ini?" cecar Maria.


Dimas menganggukkan kepalanya.


"Iya Kakak benar, Dimas memang ingin mengurung Kakak di kamar."


"Apa! Tapi kenapa Dimas?"


"Itu karena Kak Maria membuat keributan di samping Bunda! Kak, kita ini sedang berduka atas kepergian Bunda, apa Kakak tidak menghormati Bunda? Apa Kakak tidak kasihan pada Bunda? Hm!" ujar Dimas.


"Tentu saja Kakak menghormati Bunda tapi ini semua gara-gara anak durhaka itu, makanya Bunda pergi."


Dimas mendesah. "Kak, Bunda pergi itu bukan karena siapa-siapa, tapi karena sudah takdir Bunda yang memang harus pergi ninggalin kita semua."


"Tapi Dimas ...."


"Sudah cukup Kak!" sergah Dimas. "Mira, cepat bawa Kak Maria ke kamarnya!"


"Iya Tuan."


Mira segera mendorong kursi roda Maria dan membawanya ke kamar.


"Dimas, kamu benar-benar keterlaluan! Dan untuk kamu anak durhaka, aku tidak akan memaafkan mu!" seru Maria.


Dimas lalu mendekat ke arah Zuy dan Ray.


"Zuy, Ray. Tolong maafkan atas kelakuan Kak Maria!"


"Tidak apa-apa Paman, Zuy udah terbiasa dengan sikap Mrs Maria." balas Zuy.


Dimas tersenyum. "Terimakasih Zuy, yaudah kita ke Bunda yuk!"


"Iya Paman."


Dimas, Zuy dan Ray mendekat ke arah peti jenazah milik Bunda Artiana. Seketika air mata Zuy kembali saat melihat tubuh Bunda Artiana yang sudah terbaring di dalam peti.


"Nenek! Kenapa Nenek pergi ninggalin Zuy? Padahal kemarin sore kita masih mengobrol dan Nenek meminta Zuy membuatkan makanan kesukaan Nenek." Zuy menyeka air matanya. "Nek, Zuy masih ingat saat pertama kali kita bertemu, Nenek memeluk Zuy dengan erat. Jujur saat Zuy pertama kali mendapatkan pelukan dari Nenek, Zuy merasakan kehangatan yang tak biasa dan itu benar-benar membuat Zuy tenang. Tapi siapa sangka kalau Nenek adalah Nenek kandung Zuy. Zuy bahagia benar-benar sangat bahagia. Nek, maafin Zuy! Kalau Zuy pernah buat salah sama Nenek, semoga Nenek tenang disana dan Zuy sangat menyayangi Nenek!" ucapnya sambil mengelus rambut Neneknya.


Lalu ia mendekatkan wajahnya ke kening Bunda Artiana seraya memberikan ciuman untuk yang terakhir kalinya.


—Pukul 09.20am


Seusai prosesi persiapan, kini sudah waktunya Bunda Artiana di berangkatkan menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sesuai dengan permintaan Bunda Artiana yang ingin di makam kan dekat dengan suaminya yaitu Ayah Wirawan yang berada di Kota S.


Dimas dan Archo ikut ke mobil ambulance, untuk Zuy, Ray, Mamahnya Airin beserta si kembar berada di mobil Ray, sedangkan Bi Nana, Eqitna, Mirna, Melan dan anak-anak mereka berada di mobil Bi Nana.


Lalu kemudian mereka semua pun berangkat menuju ke Kota S.


**************************


Kota S


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam lebih, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Saat peti jenazah sudah di keluarkan dari dalam ambulan, Dimas, Ray, Archo dan tiga orang petugas rumah sakit lainnya menggotong peti tersebut.


Sesampainya, mereka meletakkan peti tersebut di atas tanah dan prosesi pemakaman pun segera di mulai. Semua yang hadir di sana menyaksikan jalannya proses pemakaman Bunda Artiana.


Setelah selesai, Dimas, Zuy dan lainnya menabur bunga di atas makam Bunda Artiana. Dimas pun duduk berjongkok seraya memegang nisan yang bertuliskan nama Bundanya ARTIANA DIANA LESTARI.


"Bunda, terimakasih atas kasih sayang dan pengorbanan Bunda untuk kami, terimakasih karena Bunda tidak menyerah merawat Dimas sehingga Dimas bisa menjadi seperti ini. Dimas benar-benar sangat terpukul atas kepergian Bunda, namun Dimas harus kuat dan ikhlas menerima kenyataan ini sesuai kata Bunda. Bunda, sekarang Bunda sudah tidak merasakan sakit lagi, sekarang Bunda sudah tenang dan berkumpul dengan Ayah. Kami akan selalu merindukan Bunda." ucap Dimas di barengi air matanya.


Beberapa saat kemudian, mereka semua meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


-


Tujuh Hari Kemudian.....


Sore hari di Villa Z&R, Dimas, Eqitna dan Zuy terlihat sedang berada di ruang tamu.


Karena sesaat yang lalu Dimas, Eqitna beserta anaknya berkunjung ke Villa milik keponakannya.


Lalu kemudian Dimas memberikan sebuah kotak besar yang ia bawa pada Zuy sehingga Zuy mengernyit heran.


"Hmmm, apa ini Paman?" tanya Zuy.


"Itu semua alat rajut milik Bunda dan beliau ingin supaya kamu menggunakannya dengan baik," jawab Dimas.


°Flashback..


Kala itu setelah pulang dari rumah sakit, seperti biasanya Dimas terlebih dahulu menemui Bundanya yang berada di dalam kamar. Setelah masuk ke dalam kamar Bunda, Dimas pun terbelalak melihat Bunda duduk di atas lantai sembari membereskan semua alat rajut miliknya.


"Bunda...." panggil Dimas seraya berjalan mendekat.


Bunda Artiana menolehkan kepalanya.


"Dimas, kamu sudah pulang Nak?"


Dimas mengangguk sambil duduk di samping Bundanya.


"Iya Bunda, terus Bunda sedang apa? Dan kenapa Bunda duduk di lantai seperti ini?" tanyanya.


"Oh.... Ini Bunda sedang membereskan semua alat-alat rajut Bunda, Dimas. Soalnya Bunda ingin memberikannya pada Zuy," ujar Bunda Artiana.


"Bunda mau memberikan semua alat rajut Bunda pada Zuy? Lalu bagaimana dengan Bunda?"


Bunda tersenyum dan berkata, "Dimas, Bunda sudah tidak menginginkannya lagi. Jadi dari pada di simpan, lebih baik Bunda berikan pada cucu Bunda."


"Oh...." Dimas manggut-manggut.


"Dimas, jika suatu hari Bunda tidak sempat memberikan semua ini pada Zuy. Maka Bunda mohon, kamu saja yang memberikannya pada Zuy, ya Dimas!" pinta Bunda Artiana.


"Bunda, kenapa Bunda bicara seperti itu dan lagi memangnya Bunda mau kemana?"


"Ya namanya umur tidak ada yang tahu Nak, siapa tau besok atau lusa Bunda sudah tidak ada disini." kata Bunda Artiana.


Seketika membuat Dimas tertegun kemudian memeluk erat Bunda Artiana.


"Bunda jangan berkata seperti itu! Dimas gak mau Bunda pergi, Dimas masih ingin bersama Bunda dan merawat Bunda." ucap Dimas.


Bunda Artiana pun hanya tersenyum lalu membalas pelukan anaknya.


°Flashback end.


Seketika air mata Zuy tak bisa di bendungnya lagi saat mendengar cerita dari Dimas.


"Nek, Zuy janji akan menjaga dan menggunakan barang yang di berikan oleh Nenek dengan baik." ucap Zuy.


Eqitna memberikan Jio pada Dimas kemudian beralih duduk di samping Zuy dan memeluknya seraya menenangkannya.


***************************


Perusahaan CV


Sementara itu, Airin baru saja keluar dari Perusahaan CV, kemudian ia berjalan menuju ke tempat parkir. Setibanya di parkiran tiba-tiba Brian menghadang jalan Airin.


"Ada apa Brian? Kenapa kamu menghadang jalan ku?" tanya Airin.


Bukannya menjawab, Brian malah duduk berjongkok di depan Airin membuat Airin semakin kebingungan. Secara bersamaan pula, Davin berada di sana dan melihat ke arah Airin dan Brian sembari mengerutkan keningnya.


"Apa yang sedang mereka berdua lakukan?" batin Davin.


Ia pun berjalan mengendap-endap mendekat ke arah keduanya.


Lalu....


"Rin, aku ingin bertanya sesuatu padamu dan kamu harus menjawabnya dengan jujur?"


Airin mengerenyit. "Memangnya kamu mau bertanya apa Brian?"


"Rin, apa kamu menyukai ku atau tidak?"


Seketika Airin terkejut dengan pertanyaan dari Brian, begitu pula dengan Davin yang berada tak jauh dari mereka.


"Hah! Apa yang kamu tanyakan itu Brian?"


"Rin, kamu tinggal jawab saja! Iya atau tidak?"


Airin menarik nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum membuangnya, kemudian ia menatap lekat wajah Brian.


"Iya...."


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2