Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tamu Maria....


__ADS_3

<<<<<


Sementara itu, sebuah taksi baru saja berhenti tepat di jalan depan pagar rumah. Lalu nampak seorang wanita turun dari taksi tersebut seraya melepaskan kacamata hitamnya yang bertengger di hidungnya itu.


"Akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Maria, sebentar lagi kita akan bertemu kembali."


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu supir taksi menghampirinya.


"Maaf Nyonya, ini kopernya!" supir taksi memberikan koper milik si wanita tersebut.


"Thanks," ucapnya dengan singkat sembari mengambil kopernya.


Supir taksi itu membalas dengan anggukan kecil, kemudian pergi meninggalkan wanita itu.


"Ini beneran Rumah milik keluarga Maria! Kenapa lebih mirip Paviliun di rumah ku? Apa jangan-jangan Mario salah ngasih alamat? Hhh, mending coba dulu deh." lirihnya memandangi rumah milik Dimas.


"Excuse me...." seru wanita tersebut.


Di sisi lainnya, Dadan (Supir) nampak tengah duduk santai di temani secangkir kopi hitam. Dan di saat hendak menyeruput kopinya yang masih panas, tiba-tiba terdengar suara dari arah pagar membuat ia mengurungkan niatnya untuk meminum kopinya dan memalingkan wajahnya ke arah pintu pagar.


"Siapa sih yang datang? Pake teriak mie segala lagi, memangnya di sini ada yang pesan mie ya?" gumam Dadan sembari meletakkan gelas kopinya.


Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke arah pintu pagar. Namun ketika sudah beberapa jarak lagi dari pagar, langkah Dadan mendadak terhenti seraya memicingkan matanya ke arah pintu pagar di mana wanita itu ada di sana.


"Siapa wanita itu? Apa dia yang barusan teriak mie? Masa iya sih kalau dia itu penjual mie, dandanannya juga nyentrik gitu. Hmmm, apa jangan-jangan tamunya Tuan kali ya?" pikirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Wanita itu melambai-lambaikan tangannya. "Excuse me...."


"Ya sebentar!"


Dadan kembali melangkahkan kakinya. Lalu....


"Ck, kenapa lama banget sih! Kakiku hampir kram tau gara-gara kelamaan berdiri," ia menggerutu.


"Maaf kalau saya lama! Terus Tante ini siapa? Dan ada keperluan apa datang kesini?" cecar Dadan.


"Siapa aku? Kamu tidak perlu tahu! Yang jelas kedatangan ku kesini karena aku ingin bertemu dengan seorang yang bernama Maria!" jelas si wanita.


Dadan manggut-manggut.


"Oh jadi anda tamu-nya Mrs Maria toh, saya kira tadi anda itu penjual mie."


"What did you say just now?" pekik si wanita membuat Dadan mengernyit heran.


"Maaf Tante bicara apa ya? Soalnya saya gak ngerti bahasa orang luar."


Ia mencebik. "Cih, dasar bodoh! Kalau kamu gak ngerti lebih baik diam dan cepat bawa aku menemui Maria!"


Dadan membalas dengan anggukan pelan, lalu ia langsung membukakan pintu pagarnya.


"Silahkan masuk Tan!"


"Ya." balasnya sembari melangkah masuk.


Setelah menutup pintu pagar, Dadan mengantar wanita tersebut untuk menemui Maria. Setibanya....


"Tunggu di sini bentar Tan! Saya akan ke dalam untuk memanggil Mrs Maria."


"Oke." wanita itu mengangguk.


Dadan pun segera menjejakkan kakinya ke arah ruang keluarga di mana Maria, Bunda Artiana sedang berada di sana.


Lalu....


"Permisi Nyonya besar, Mrs Maria!" ucap Dadan.


Keduanya mengalihkan pandangannya ke Dadan.


"Ada apa Dan?" tanya Bunda Artiana.


"Maaf Nyonya besar kalau saya mengganggu, tapi itu ada penjual mie asing."


"Penjual mie asing?"


Dadan menggeleng. "Ah bukan maksud saya ada seorang wanita asing mencari Mrs Maria."


Maria tercengang. "Hah! Mencari saya?!"


"Iya Mrs Maria."


Karena penasaran Maria bertanya, "Memangnya siapa yang mencari saya?"


"Kurang tau, tapi dari cara bicaranya dia sepertinya orang asing."


"Orang asing?" lirih Maria. "Hmmm, yaudah kalau gitu kamu antar aku menemuinya!"


"Siap Mrs Maria."


Dadan mendekat ke kursi roda Maria, setelah itu ia pun langsung mendorongnya menuju ruang tamu. Sedangkan Bunda Artiana tetap berada di tempatnya.


"Maaf, anda siapa ya? Lalu ada apa mencari saya?" tanya Maria.


Wanita itu langsung memutar tubuhnya menghadap Maria.


"Long time no see, Maria!"


Sontak membuat Maria kembali tercengang seraya membelalakkan matanya.


"Li-Liora!" lontar Maria.


Dan ternyata wanita tersebut adalah Liora, Istri kedua dari Daddy Michael alias Ibu tirinya Ray dan Lesya, serta adik angkat dari Daddy Mario.


Liora pun mendekat ke arah Maria dan memeluknya.


(Let's just say they speak English, the author is lazy to translate it. 😁✌️)


"Bagaimana kabar kamu Maria?" tanya Liora.


"Kabar ku lumayan baik Li, lalu bagaimana dengan mu?"


"Ya, aku kabarku juga baik."


Sesaat mereka melepaskan pelukannya, kemudian Maria menyuruhnya untuk duduk dan Liora pun menurut.


"Li, kenapa kamu gak bilang kalau kamu mau datang kesini? Jadikan aku bisa meminta Dadan untuk menjemput kamu di Airport." cecar Maria.


"Sorry Mar, aku gak sempat ngasih tau kamu. Soalnya ini benar-benar mendadak dan lagi aku kesini juga atas permintaan dari Mario." jawab Liora.


"Permintaan dari Mario?!" lirih Maria menaikkan satu alisnya. "Emm, sebenarnya ada apa sih Li, kenapa Mario sampai meminta mu datang kesini? Apa ada hubungannya sama Kimberly atau—"


Liora menggelengkan kepalanya.


"Tidak, ini tidak ada hubungannya sama Kimberly melainkan dengan Archo." ujar Liora.


Maria mengerenyit. "Archo! Memangnya ada apa dengannya? Dan lagi bukannya Archo sekarang lagi di Paris?"


"Hmmm, ternyata kamu memang belum tahu ya Mar soal kabar pernikahan Archo dengan wanita asal Indonesia itu." kata Liora.


Dan lagi-lagi perkataan dari Liora berhasil membuat Maria sangat terkejut.


"Hah! Kamu bilang apa, Archo menikah?! Serius kamu, Li?" Maria kembali mencecar Liora.


"Iya aku serius Maria, kalau Archo sudah menikah bahkan sekarang Istrinya tengah mengandung anaknya."


"Apa! Terus kamu dapat kabar ini dari mana Liora? Jangan-jangan ini hanya candaan Archo saja."


"Ya tentu saja aku dapat kabar ini dari orangnya langsung dan dia sendiri yang mengatakannya pada kami semuanya di Paris. Awalnya kami juga sempat mengira kalau yang di katakan oleh Archo itu hanya candaan atau kebohongannya saja supaya ia bisa terbebas dari pernikahannya dengan Adriene. Tapi sayangnya yang di katakan Archo itu ternyata benar dan dia sampai menunjukkan buku nikahnya pada kami, Mar." jelas Liora.

__ADS_1


......................


°Flashback


PARIS-FRANCE


•Kediaman Keluarga FUCA


Kala itu Archo dan keluarganya sedang berkumpul di kediaman Fuca untuk mendiskusikan tentang pernikahannya dengan Adriene. Namun suasana yang tenang kini berubah memanas karena Archo memberitahu pada keluarganya bahwa ia telah menikah dengan wanita yang berasal dari Indonesia bahkan ia memberikan buku nikahnya pada keluarganya itu. Sontak membuat Daddy Mario beserta keluarga terkejut dan sangat marah sampai-sampai mereka meminta pada Archo untuk meninggalkan Melan.


Alih-alih menuruti keinginan keluarganya justru Archo malah menentang keras dan tetap mempertahankan pernikahannya itu. Setelah berseteru dengan keluarganya di Paris, Archo langsung pergi dan ke Indonesia.


•Flashback End.


......................


Mendengar itu, sontak raut wajah Maria berubah, rasa terkejut dan amarahnya kini menyatu sampai-sampai giginya menggertak dan meremas kuat tangan kirinya.


"Benar-benar anak kurang ajar!"


Liora manggut-manggut.


"Iya memang dia anak kurang ajar, berani-beraninya membuat malu keluarga kita. Padahal pernikahannya dengan Adriene sudah di depan mata, kita hanya tinggal menunggu kepulangan Adriene dari Inggris, tapi ternyata malah jadi seperti ini." ia menghela nafasnya sejenak. "Maka dari itu Mario meminta ku untuk datang kesini dan memberikan alamat rumah keluarga mu ini, Maria."


"Terus apa tujuan Mario sebenarnya meminta mu datang kesini?"


Liora menyunggingkan senyum smirk-nya.


"Tujuan Mario? Tentu saja untuk menemui wanita itu, memintanya menggugurkan kandungannya serta meninggalkan Archo."


"Oh.... Kalau begitu aku ikut Li! Aku juga ingin memberi peringatan padanya supaya dia meninggalkan Archo."


"Oke," singkat Liora sembari mengambil cangkir teh dan meneguknya perlahan.


"Oh iya Li, apa Michael tahu kalau kamu datang ke Indonesia?" tanya Maria.


Liora menggeleng. "Nggak Mar, Michael taunya kalau aku sedang di Paris. Dan lagi dia juga sedang ke Inggris bersama dengan Kakaknya, jadi ya mana mungkin dia tau kalau aku diam-diam kesini."


"Tapi Li, apa kamu gak curiga kalau Michael akan menyuruh seseorang untuk ngawasin kamu!"


"Tidak, lagian mana mungkin Michael seperti itu. Dia tidak akan berani melakukannya," kata Liora.


"Syukurlah kalau begitu, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan kamu, Liora." lirih Maria.


"Hei Maria, dari pada kamu mengkhawatirkan orang lain, akan lebih baik jika kamu khawatirkan diri kamu sendiri. Lihatlah bagaimana kondisi kamu yang sekarang benar-benar sangat mengkhawatirkan! Dan lagi kamu betah amat ya tinggal di tempat seperti Paviliun ini. Kalau aku jadi kamu sih mending aku minta ke Mario untuk membelikan rumah besar atau Penthouses yang ada di Kota ini dari pada harus tinggal di rumah kecil seperti ini!" lontar Liora.


"Li, jangan bicara seperti itu! Walau bagaimanapun rumah ini tuh—"


"Rumah yang di bangun dari hasil kerja keras ku bersama istri ku dan bukan dari hasil memeras orang yang lemah!" seru Dimas seraya berjalan mendekat ke arah Maria.


Sehingga Maria dan Liora mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.


"Dimas! Kamu sudah pulang?"


"Iya sudah Kak." Dimas meraih tangan Kakaknya dan mencium punggung tangannya.


"Oh iya Dimas, kenalin ini Liora adik dari Mario." Maria mengenalkan Liora pada Dimas.


Liora tersenyum pada Dimas, akan tetapi berbeda dengan Dimas yang menatap Liora dengan tatapan sinis.


"Oh, ternyata adik dari si tua Mario, pantas saja mulutnya gak di pakai filter." sindir Dimas.


"Dimas!"


Dimas beralih ke Maria.


"Maaf Kak! Dimas cape mau ke dalam dulu." ia pun langsung menjejakkan kakinya.


"Who is that handsome man, Maria? (Siapa pria tampan itu, Maria?) Di lihat dari cara berpakaiannya sepertinya dia seorang Dokter."


"Dia adikku, Li. Namanya Dimas dan dia memang seorang Dokter." jelas Maria.


Percakapan pun berlanjut.


************************************


Villa Z&R


—Pukul 08.30pm


Zuy keluar dari kamarnya selepas menidurkan si kembar dan bukan hanya si kembar saja bahkan bayi besarnya alias Ray ikut tertidur nyenyak bersama keduanya. Kemudian ia menuju ke arah tangga dan menuruninya satu-persatu. Lalu ia berjalan ke salah satu kamar di mana Bi Nana berada.


Tok.... Tok.... Tok....


"Bi Nana...." seru Zuy sambil mengetuk pintunya.


"Siapa?" suara Bi Nana dari dalam kamar.


"Zuy, Bi!"


"Masuk aja sayang! Pintunya gak di kunci, soalnya Bibi lagi nyusuin Rana."


Zuy memutar handle pintu seraya mendorongnya hingga terbuka, kemudian ia melangkah masuk.


"Bi Nana...."


"Tutup lagi pintunya Zuy!"


Zuy mengangguk sembari menutup kembali pintunya, kemudian ia mendekat dan duduk di tepi ranjang samping Bi Nana.


"Ada apa Zuy?" tanya Bi Nana sambil menempatkan Rana di tempat tidur.


Zuy menggeleng. "Ng-nggak ada apa-apa Bi."


"Hmmm, tapi kalau di lihat dari wajah kamu, sepertinya kamu ingin sesuatu dari Bibi. Iya kan?" lontar Bi Nana seakan tau maksud Zuy.


Zuy tersenyum menampilkan baris giginya.


"Wah, Bi Nana benar-benar hebat! Bisa menebak kalau Zuy memang ingin sesuatu, meskipun hanya melihat wajah saja." ucap Zuy memuji Bibinya.


Bi Nana mengangkat tangannya dan menempatkannya di atas kepala Zuy.


"Hebat apanya sih! Ya jelaslah Bibi bisa menebaknya, soalnya setiap kamu menginginkan sesuatu dari Bibi pasti wajah kamu itu seperti bocah yang meminta mainan ke Ibunya," ujar Bi Nana.


"Memangnya wajah Zuy seperti itu ya Bi?"


"Iya sayang. Sekarang katakan pada Bibi, apa yang kamu inginkan! Hm."


"Umm itu ...."


"Iya."


"Sebenarnya Zuy ingin nasi uduk kuning buatan dari tangan Bi Nana." ungkap Zuy sehingga Bi Nana terperangah.


"Apa! Jadi kamu ingin nasi uduk kuning buatan Bibi?"


Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Bi. Maaf kalau Zuy ngerepotin Bibi, tapi Zuy kangen makan nasi uduk kuning buatan Bi Nana kaya waktu itu," ucap Zuy.


Bi Nana tersenyum, lalu menjentikkan jarinya ke dahi Zuy.


Bletaak...


"Aduh, kenapa Bi Nana menyentil dahi Zuy?"


"Ya itu karena kamu barusan bilang kalau kamu ngerepotin Bibi. Padahal Bi Nana gak pernah merasa di repotkan oleh mu, Zuy. Justru Bi Nana senang kalau kamu selalu senang jika kamu menginginkan sesuatu dari Bibi dan itu berarti kamu masih tetap gadis kecilnya Bibi yang paling Bibi sayangi." jelas Bi Nana seraya mengelus dahi Zuy yang bekas di sentilnya itu.

__ADS_1


Zuy tertegun lalu di peluknya tubuh Bibinya itu.


"Terimakasih ya Bi! Bi Nana memang yang terbaik dan Zuy sangat bersyukur karena mempunyai Bibi yang sangat sayang sama Zuy."


Bi Nana membalas pelukan Zuy.


"Sama-sama sayang, Bibi juga sangat bersyukur memiliki keponakan yang manjanya seperti kamu." Ia mengelus punggung Zuy dan mencium puncak kepalanya.


Sesaat mereka melepaskan pelukannya, Bi Nana beralih merapikan rambut keponakannya itu.


"Yaudah besok Bibi buatin nasi uduk kuning untuk kamu, tapi semua bahan-bahannya ada kan?"


"Ada Bi, bahkan tadi Zuy minta tolong sama Airin untuk membeli kekurangannya."


"Eem, memangnya Airin sama Davin masih di Rumah sakit ya?"


"Iya Bi, tapi sepertinya mereka sedang di perjalanan menuju pulang dan mungkin bentar lagi sampai." jawab Zuy.


"Oh.... Yaudah kalau gitu kita keluar yuk!" ajak Bi Nana.


Zuy pun mengangguk, keduanya melangkah keluar dari kamar tersebut.


Sementara itu di sisi lainnya....


Airin dan Davin baru saja turun dari mobilnya, setelah selesai menurunkan barang belanjaan yang di pesan Zuy, mereka berdua pun berjalan menuju ke Villanya dengan membawa barang belanjaannya.


"Habis ini aku mau langsung mandi ah, soalnya badan ku udah lengket banget." kata Airin sembari merenggangkan otot tangannya.


"Singa betina!"


"Hmmm, iya Pak."


Davin mendadak menghentikan langkahnya dan melepaskan jaket yang di pakainya itu.


"Pakai ini supaya kamu gak kedinginan, Singa betina!" Davin memakaikan jaketnya di punggung Airin.


Untuk sesaat Airin terpaku, kemudian tersenyum pada Davin.


"Terimakasih Pak Davin." ucap Airin.


"Anything for you." lirih Davin.


"Hmm, barusan Pak Davin bilang apa?"


Davin menengadah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku gak bilang apa-apa Rin, aku cuma bilang sama-sama. Hahaha...." elak Davin.


"Oh.... Kirain Pak Davin bilang sesuatu."


"Salah dengar kamu, Rin. Udah kita jalan lagi yuk!"


Airin mengangguk. "Oke Pak Davin."


"Oh iya Rin, kita balapan sampai pintu masuk! Siapa yang menang akan di teraktir makan sama yang kalah. Bagaimana?"


"Hmmm, boleh juga Pak."


"Yaudah kalau gitu—"


Davin tiba-tiba melesat terlebih dahulu meninggalkan Airin.


"Pak Davin curang!" teriak Airin.


"Bukan curang Singa betina tapi pintar, Hahaha...."


"Ck, dasar Oppa-Oppa bersarang!"


Ia pun segera menyusul Davin dengan langkah seribu-nya.


•••


Malam semakin larut, semuanya sudah terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Ray yang justru terbangun.


"Sayangku...." seru Ray karena pujaan hatinya tidak ada di sampingnya.


Ray beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkah ke kamar anak-anaknya. Ternyata Zuy sedang berada di sana sembari menyusui Zea.


"Sayangku...."


Zuy menoleh sembari menempatkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Sshtt...."


Ray mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Zuy.


"Zea bangun ya?"


"Iya, tadi dia nangis kejer."


Ray mengelus pelan pipi gembul anaknya, sesaat setelah mulut Zea lepas dari ASI-nya. Zuy pun membaringkan tubuh anak perempuannya di atas ranjang samping Rayn.


Setelah itu mereka berdua beralih ke kamarnya dan duduk di sofa, Zuy lalu memberikan gelas air minum pada pria tampannya itu.


"Terimakasih sayangku." Ray mengambil gelas air dari tangan Zuy seraya meminumnya hingga habis.


Lalu....


"Oh iya Ray, karena kamu udah bangun, jadi ya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan ke kamu."


"Apa itu sayangku?"


"Memangnya bener ya kalau kamu ingin mengajak kami ke Korea?" tanya Zuy seketika membuat Ray tercengang seraya membelalakkan matanya.


"Kamu tahu dari mana kalau aku mau ngajak kalian kesana?" bukannya menjawab Ray malah bertanya kembali.


"Pak Davin yang cerita ke aku, Ray."


Ray mendesah. "Dasar adonan moci! Terus Airin tahu gak soal ini?"


"Tentu saja tau, orang Pak Davin udah cerita duluan ke Airin."


Ray menepuk jidatnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ck, bener-bener orang satu itu."


"Ray, kenapa kamu gak cerita ke aku sih soal ini?"


Ray mendongak seraya menatap lekat wajah pujaan hatinya.


"Maaf sayangku, sebenarnya aku mau cerita ke kamu. Hanya saja nyari waktu yang pas dan lagi sebenarnya aku ke sana juga karena ada urusan pekerjaan selama beberapa hari jadi ya sekalian aja aku ajak kalian kesana. Selain itu juga ada sesuatu yang harus kita lakukan di sana, sayangku." jelas Ray.


"Hmmm, sesuatu yang kita lakukan? Maksud kamu Ray?"


Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy dan membisikkan sesuatu padanya sehingga membuat Zuy terperangah seraya membulatkan matanya.


"Hah! Serius kamu, Ray?"


***Bersambung....


•Hmmm, kira-kira apa ya yang di bisik Ray? 🤔


See you next time... 😉


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2