
<<<<<
Sesaat mereka berdua pun melanjutkan aktivitas belanjanya lagi. Lalu....
"Permisi...."
"Iya...."
Airin menyahut sembari memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut, sedangkan Davin masih tetap fokus memilih daging.
"I-ini...."
Mata Airin pun terbelalak karena terkejut melihat empat orang wanita dan tiga di antaranya nampak tengah hamil sebab di lihat dari perutnya yang menonjol alias membesar. Mereka berempat berdiri berjejer di hadapan Airin.
"Eum maaf, ada apa ya Kakak-kakak cantik?" tanya Airin.
Namun mereka tidak menjawab pertanyaan Airin dan malah terus menatapnya sembari menyunggingkan senyumnya. Sehingga Airin mengernyitkan keningnya.
"Sebenarnya ada apa sih dengan mereka, kenapa ngeliatin aku seperti itu? Ah tunggu, mungkin saja bukan ngeliatin aku tapi ...."
Lalu sesaat Airin beralih melihat Davin. "Hmmm, pantesan aja para ibu-ibu hamil nyamperin. Maskernya di turunin gitu, dasar Pak Davin ini." lirihnya.
Karena merasa sedang di liatin Airin, membuat Davin langsung melirikan matanya itu.
"Kenapa melihat ku seperti itu singa betina? Awas nanti kamu terpesona lho dengan wajah tampan dan glowing ku ini."
Airin pun berdecak. "Ck, apa sih Pak. Lagian yang terpesona dengan wajah glowing Pak Davin bukan aku melainkan mereka ini." ujarnya.
"Mereka?" lirih Davin mengerenyitkan keningnya.
"Iya, Pak Davin Lihatlah sendiri!" Airin mengarahkan tangannya ke para wanita yang di sampingnya itu.
Davin menengadah melihat di mana tangan Airin mengarah. Sontak membuat Davin terkejut dengan mata membelalak, sama halnya dengan Airin tadi.
"Oh tidak! Jangan lagi...." batin Davin.
Ia pun segera menaikan maskernya menutupi hidung dan mulutnya, kemudian bersembunyi di balik tubuh Airin, membuat para wanita itu mengernyit heran.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bersembunyi seperti itu?" tanya salah satunya.
"Ah itu.... Mungkin dia ingin buang angin, sebentar ya Kakak-kakak cantik!" ujar Airin di susul senyuman ramah.
Kemudian Airin menolehkan kepalanya ke arah Davin yang berada di belakangnya.
"Kenapa sembunyi sih Pak? Mereka kan hanya ibu hamil bukan Pria tulang lunak?"
"Ck, justru Ibu-ibu yang sedang mengidam ini lah yang membuat ku harus nambah perawatan maskernya. Mending sih kalau ngidamnya megang sama ngelus doang, lha kadang pakai nyubit segala sampai pipiku glowing ku ini memerah Rin." ujar Davin dengan nada berbisik.
Mendengar itu Airin menyemburkan tawa kecilnya.
"Pengalaman sering di pegang ibu-ibu hamil ya Pak? Hahaha...."
"Jangan meledekku Rin!" pekik Davin. "Lebih baik kamu tolongin aku untuk menangani para wanita yang sedang mengidam itu ya Rin-Rin singa betina yang manis!" sambung pintanya.
Airin mendesah. "Dasar Oppa-Oppa saranghae ini. Hmmm, baiklah aku akan tangani mereka, tapi jangan lupa traktiran ice creamnya."
"Iya Rin-Rin." balas Davin mengangguk.
Airin menghela nafasnya terlebih dahulu, kemudian ia beralih kembali ke arah para wanita itu.
"Maaf Kakak-kakak cantik kalau agak lama menunggu!" ucap Airin.
"Tidak apa-apa." balasnya salah satunya.
"Eum, lalu sebenarnya ada apa ya Kakak-kakak cantik? Apa kalian memerlukan sesuatu? Ah atau jangan-jangan kami menghalangi kalian memilih daging di sini?" lontar beberapa pertanyaan Airin.
Sesaat keempat wanita itu saling menatap satu sama lain, lalu....
"Maaf, sebenarnya kami kesini karena ada yang ingin kami tanyakan sama kamu," ujar salah satunya.
"Memangnya Kakak ini mau nanya apa?"
"Emm, aku ingin bertanya apa pria yang bersembunyi di belakang kamu ini pacar atau suami kamu?" tanya wanita yang tengah hamil itu.
"Eh, dia ini um—"
"Bilang aja iya kalau aku ini pasangan kamu, singa betina!" bisik Davin, seketika Airin memicingkan matanya ke arah Davin.
"Dek...."
"Ah iya Kak maaf, sebenarnya pria di belakang saya ini adalah ...." terhenti sejenak sembari membuang nafasnya. "Dia su-su-suami saya Kak." ungkap Airin terbata-bata.
"Oh, ternyata memang suaminya ya." lirih wanita hamil itu.
Sedangkan Davin, senyumnya langsung mengembang setelah mendengar perkataan Airin.
"Suami saya? Hmmm, gelar yang bagus singa betina." batin Davin.
Lalu....
"Um, memangnya ada apa ya Kakak-kakak cantik?" tanya Airin.
Salah satu dari empat wanita itu pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, kami hanya penasaran aja sama suami kamu ini. Soalnya wajahnya benar-benar glow up mirip Oppa yang ada di drakor-drakor."
Ketiga sahabatnya yang tengah hamil itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya secara bersamaan menyetujui perkataan dari temannya itu.
"Iya bener banget, suami kamu sangat mirip dengan Oppa yang di drakor-drakor itu, entah aku lupa siapa namanya." balas temannya.
Airin tersenyum lalu berkata, "Wah, terimakasih! Kakak-kakak ini adalah orang ke sekian kalinya yang mengatakan kalau Pak eh su-suami saya mirip Oppa-Oppa drakor. Hihihi...."
Mendengar itu Davin mendengus kesal dan mengerutkan dahinya.
"Ck, dasar singa betina ini! Kenapa malah berterimakasih segala sih, udah gitu pake ikut-ikutan bilang kalau aku mirip Oppa berekor lagi sama seperti yang mereka katakan itu." umpat Davin dalam hatinya.
Kemudian ia menempatkan tangannya di pinggang Airin seraya mencubitnya, seketika membuat Airin tersentak dan ....
"Aaah...." Airin memekik keras.
"Kamu kenapa?"
Airin menggelengkan kepalanya.
"Aku gak kenapa-napa Kak, hehehe...."
"Oh...." lirih wanita itu manggut-manggut.
Airin lalu menoleh ke arah Davin seraya memicingkan matanya. "Pak Davin!"
Davin pun menarik ke bawah kantung matanya sembari menjulurkan lidahnya. "Bleeeh...."
"Hummmph!" dengus Airin.
Lalu sesaat salah satu dari wanita itu mendekat ke Airin dan menggenggam tangannya, sehingga membuat Airin ternanap.
"Dek, sebelumnya kami minta maaf kalau kedatangan kami mengganggu kalian. Tapi bisakah kami meminta tolong padamu?" ucap wanita itu.
"Eh, memangnya Kakak mau minta tolong apa?" tanya Airin.
Wanita hamil itu menghela nafasnya sejenak.
__ADS_1
"Tolong kamu izinkan kami serta bilang ke suami kamu supaya dia mau pegang perut kami berempat!" pintanya.
"Apa!" Airin tercengang. "Jadi Kakak-kakak ini ingin perutnya di pegang oleh suami saya?"
Keempat wanita itu langsung menganggukkan kepalanya bersama.
"Iya dek, kami ingin perut kami di pegang sama suami kamu. Ya siapa tau ketampanan suami kamu yang mirip Oppa drakor itu menular ke anak kami." ujarnya.
Untuk sesaat Airin menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Ya saya izinkan," kata Airin.
Seketika keempat wanita itu tersenyum bahagia. Sedangkan Davin ia malah kembali memunculkan garis di keningnya membuat alisnya hampir bertautan serta menampakkan ekspresi wajahnya yang cemberut.
"Singa betina...." lirih Davin.
"Tapi itu hanya sekedar memegang perut saja. Kalau yang lainnya seperti memegang, mengelus atau mencubit wajah atau bagian tubuh lainnya, maaf saya tidak akan pernah mengizinkannya. Karena itu semua adalah milik saya. Kalau Kakak-kakak sampai melakukan itu, maka saya tidak akan izinkan dia untuk menyentuh perut Kakak-kakak semua." lontar Airin dengan tegasnya.
Sontak membuat Davin yang tadinya cemberut menjadi sumringah, senyumnya pun seketika mengembang karena terpukau dengan apa yang di katakan oleh Airin.
"Iya kami janji tidak akan melakukan itu, percayalah pada kami!" ujar wanita hamil tersebut.
"Baiklah kalau kalian sudah berjanji." Airin memutar tubuhnya menghadap ke Davin. "Pak, buruan pegang perut mereka!"
"Tapi Rin...."
"Udah cuma pegang perutnya aja kok." papar Airin.
"Oke, tapi kalau mereka sampai memegang lainnya, kamu yang bertanggung jawab ya!"
"Lha kok aku Pak?" Airin menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya karena kamu yang mengizinkan ku untuk menyentuh mereka."
Airin mendesah. "Haa, terjebak deh. Iya baiklah aku yang akan tanggung jawab."
Davin memegang kepala Airin. "Nah gitu dong singa betina."
Lalu ia pun mendekat ke arah empat wanita yang tengah hamil itu dan memegang perut mereka satu persatu secara bergantian. Sesaat setelahnya....
"Terimakasih Oppa, adek." ucap mereka berempat.
"Iya sama-sama Kakak." balas Airin.
"Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan harmonis."
Davin merangkul pundak Airin. "Ah iya, semoga saja. Terimakasih atas doanya Kakak."
"Iya. Yaudah kalau begitu kami pergi dulu. Permisi!" mereka berempat pun berpamitan pergi meninggalkan Davin dan Airin.
Lalu....
"Pak!"
"Iya Rin."
Airin menyipitkan matanya ke arah Davin.
"Kenapa tadi Pak Davin mencubit pinggangku?" cecar Airin.
"Ahahaha.... Maaf Rin, habisnya tadi kamu bilang kalau aku mirip Oppa-Oppa berekor sama seperti yang mereka katakan. Jadinya aku refleks nyubit pinggang kamu." ujar Davin.
Mendengarnya pun membuat Airin menepuk jidatnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Haduh salah mengartikan lagi nih orang." Airin menengadah menatap Davin. "Pak maksudnya aku dan Kakak-kakak itu, Pak Davin ini mirip dengan Oppa yang ada di drakor drama Korea, bukan Oppa berekor Pak."
Davin manggut-manggut.
"Oh drakor itu drama Korea ya Rin."
"Tentu saja aku punya dan lebih berharga lagi dari apapun," lontar Davin membuat Airin memicingkan matanya dan mendengus.
"Dasar mesum! Nyesel aku bertanya soal ekor." sesal Airin, namun tidak untuk wajahnya yang memerah.
Ia pun segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
"Rin, kamu mau kemana?"
"Tentu saja mau ambil bahan yang lainnya Pak. Soalnya ini masih kurang banyak dari catatan yang di berikan oleh Mrs Yiou." jawab Airin.
"Tunggu singa betina!"
Davin langsung memasukkan daging ke dalam troli belanja dan segera menyusul Airin.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai berbelanja dan sebelum pulang ke Villa. Mereka berdua terlebih dahulu singgah ke Gerai Ice cream yang terletak di sebrang jalan dari Supermarket. Saat sudah turun dari mobilnya, Davin menggandeng tangan Airin dan melangkah masuk ke Gerai Ice cream tersebut.
"Selamat datang di gerai Ice cream kami Tuan, Nona. Sebelum memesan, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Apa kalian sepasang kekasih atau suami istri?" tanya penjual tersebut.
"Memangnya ada apa Kak?"
"Sebab di gerai kami sedang ada diskon khusus untuk setiap pasangan."
Mendengar itu membuat mata keduanya langsung berbinar-binar.
"Wah serius nih?" tanya Davin memastikan.
"Iya Tuan, Nona. Diskon 50 persen untuk ice cream apa saja yang kalian pesan," ujar si penjual.
"Hmmm, lumayan nih diskon 50 persen jadi sisanya buat nambahin beli masker, hehehe...." kata hati Davin.
"Bagaimana? Apa kalian berdua sepasang kekasih?"
"Kami...."
"Tentu saja kami pasangan kekasih, buktinya kami bergandengan tangan dengan mesra. Iya kan singa betina?" Davin melihat Airin sembari menggerakkan kedua alisnya seakan memberi isyarat pada Airin.
"Lanjut lagi ini...." batin Airin.
Untuk sesaat Airin membuang nafasnya dan memalingkan wajahnya ke penjual ice cream tersebut.
"Iya kami pa-pasangan kekasih. he-he-he...."
"Selamat untuk kalian berdua, silahkan masuk!"
"Terimakasih." ucap Airin dan Davin serempak.
Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke dalam gerai ice cream tersebut.
**************************
Villa Z&R
Sementara itu di Villa, Daddy Michael nampak tengah duduk di teras Villa sembari melihat ke arah lautan, lalu kemudian Zuy datang menghampiri seraya membawa nampan berisi kopi untuk Daddy Michael.
"Daddy," sapa Zuy.
Daddy Michael menoleh. "Iya anakku."
Zuy lalu meletakkan cangkir kopi yang ia bawa ke atas meja.
__ADS_1
"Ini kopinya Dad."
"Terimakasih, oh iya di mana Ray dan kedua cucuku?" ucap Daddy Michael sekalian bertanya.
"Mereka bertiga sedang tidur di kamar Dad." jawab Zuy.
"Oh...." Daddy Michael mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya.
"Euum, Dad...."
"Iya anakku ada apa?"
"Apa Zuy boleh bertanya sesuatu pada Daddy." lontar Zuy.
Daddy Michael mengangguk. "Tentu saja boleh, memangnya kamu mau bertanya apa?"
Sebelum memulai pertanyaannya, Zuy terlebih dahulu mendudukkan dirinya di kursi samping Daddy Michael sembari membuang nafasnya.
"Begini Dad, Zuy ingin bertanya tentang Kimberly." ujar Zuy.
Daddy Michael mengernyit. "Tentang Kimberly? Emm, memangnya apa yang ingin kamu tanyakan tentangnya?"
"Begini Dad. Zuy ingin bertanya keadaannya sekarang? Soalnya Zuy pernah dengar kabar bahwa dia di rawat di rumah sakit akibat di tusuk oleh satu teman tahanannya."
"Oh, jadi kamu ingin tahu keadaan Kimberly ya anakku?"
Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Begini anakku, sebenarnya Daddy belum menjenguk Kimberly selama ia di rawat, hanya istri Daddy saja yang selalu menjenguknya. Tapi dia bilang ke Daddy bahwa keadaan Kimberly sudah lebih baik dari sebelumnya." jelas Daddy Michael.
Seketika Zuy menghela nafas leganya mendengar penjelasan dari Daddy Michael tentang keadaan Kimberly.
"Syukurlah Dad kalau keadaannya sudah membaik, Zuy senang mendengarnya. Dan mungkin juga karena ada Mrs Maria, makanya dia cepat membaik," ucap Zuy dengan air matanya yang mengalir.
"Anakku! Kenapa kamu menangis?" tanya Daddy Michael.
Zuy mengusap air matanya. "Zuy menangis karena bahagia, Dad. Ya meskipun Zuy sedikit iri karena Mrs Maria lebih sayang ke Kimberly dari pada sama Zuy."
"Anakku, bukankah waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu membenci Maria saat ia mengungkapkan bahwa dia adalah Ibu kamu yang sebenarnya?"
"Iya, Zuy pernah bicara seperti padanya. Akan tetapi waktu itu Zuy sangat shock mengetahui bahwa Ibu kandung Zuy adalah Mrs Maria. Dan Zuy waktu itu bilang benci bukan karena Mrs Maria meninggalkan Zuy bertahun-tahun. Zuy membencinya karena Mrs Maria sudah berkali-kali menyiksa Zuy, bahkan Mrs Maria sempat menyuruh Zuy pergi dan menggugurkan kandungan Zuy, Dad. Tapi sebenarnya di hati kecil Zuy, Zuy bahagia akhirnya selama bertahun-tahun Zuy bisa tahu siapa Ibu kandung Zuy yang sebenarnya." ungkap Zuy.
Mendengar ungkapan Zuy membuat Daddy Michael tertegun, kemudian ia menempatkan tangannya di atas kepala Zuy.
"Wajar kalau kamu bilang benci pada Maria, sebab memang dia yang salah. Sudah meninggalkan mu selama bertahun-tahun dan setelah bertemu malah sering menyiksamu demi Kimberly. Tapi kamu jangan merasa iri dan bersedih Anakku! Meskipun Maria tidak menyayangi mu dan belum menganggap mu sebagai anak. Kan masih ada Ray, Daddy, Nana dan lainnya yang sangat menyayangi mu. Jadi bersyukurlah dengan apa yang kamu dapatkan sekarang, ya anakku!" tutur Daddy Michael.
Zuy mengusap air matanya seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya Dad, terimakasih karena dari dulu sudah menyayangi Zuy dan bahkan menerima Zuy." ucapnya Zuy
"Sama-sama anakku."
Lalu sesaat Bi Nana, Baba Yash dan Beyza pun datang.
"Permisi...."
Seketika Daddy Michael dan Zuy langsung memalingkan wajahnya.
"Nana > Bi Nana...." ucap Daddy Michael dan Zuy serempak.
Keduanya pun bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka, kemudian berjabat tangan secara bergantian.
"Apa kabar Na?" tanya Daddy Michael pada Bi Nana.
"Kabar saya baik Mister, lalu bagaimana dengan anda?" jawab Bi Nana sekaligus bertanya kembali.
"Kabar saya juga baik Na. Saya turut belasungkawa atas kepergian suami kamu, saya benar-benar tidak menyangka bahwa Randy akan pergi secepat itu." ucap Daddy Michael.
"Terimakasih Mr Michael. Saya juga tidak menyangka akan di tinggal seperti ini oleh Papihnya anak-anak." ujar Bi Nana.
"Kamu yang sabar dan ikhlas ya Na! Aku yakin kamu bisa melalui semua ini."
"Iya Mr Michael, sekali lagi terimakasih banyak."
"Sama-sama Na."
...----------------...
Sore hari....
—Pukul 04.35pm.
Di tepi pantai, nampak Zuy dan Ray dengan menggendong kedua anaknya tengah berjalan-jalan di atas pasir menelusuri pantai. Baby Z yang berada di gendongan Ray nampak begitu bahagia melihat debur ombak kecil yang menyapu pantai. Begitu pula dengan Baby R yang berada di gendongan Zuy, sedari tadi pandangannya terus mengarah ke lautan.
"Ganteng sama cantiknya Daddy seneng banget kalau udah liat ombak ya, mirip sekali sama Mamahnya," ucap Ray mencubit gemas pipi anak perempuannya itu.
"Tentu saja, mereka berdua kan anak-anakku."
"Eits anak kita sayangku. Kalau gak ada aku yang menyebar benih, mana mungkin ada anak-anak yang ganteng dan cantik seperti mereka ini, sayangku." lontar Ray menoel caping hidung pujaan hatinya itu.
"Iya maksudku anak kita berdua tampan-ku." kata Zuy mengelus pipi Ray. "Yaudah kita jalan lagi yuk!"
Dan saat Zuy melangkahkan kakinya, tiba-tiba Ray menyiprat kan air laut ke arah Zuy membuat Zuy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ray.
"Rayyan!"
"Bukan aku, tapi si cantiknya kita ini sayangku."
Lalu tiba-tiba tangan mungil Baby Z menepuk keras pipi Daddy-nya membuat Ray tersentak dan menoleh ke anaknya itu.
"Aduh cantiknya Daddy, kenapa memukul pipi Daddy sayang?"
"Hahaha.... Kan kena pukul si cantik, makanya jangan isengin Mamahnya." tawa Zuy pun lepas, sehingga membuat Ray berkerut kening.
"Sayangku, kamu menertawakan ku ya? Nih rasakan!"
Ray kembali menyipratkan air laut ke arah Zuy.
"Rayyan berhenti! Nanti bajuku dan Baby R basah." pekik Zuy.
Namun Ray tidak memperdulikannya sehingga membuat Zuy kesal dan membalasnya.
°°°°°°°°°°
Tak terasa waktu berlalu cepat, dan kini saatnya pesta barbeque di mulai. Daddy Michael dan lainnya sudah berada di halaman Villa milik Yiou. Semuanya mempunyai tugas masing-masing seperti Davin, Ray dan Aries bertugas memanggang daging, ikan, ayam, jagung dan lainnya. Sedangkan Zuy, Airin, Yiou menyiapkan lainnya.
Bukan hanya Tuan Villanya saja, para pelayan dan pengawalnya pun juga ikut serta dalam pesta barbeque tersebut.
**************************
Rumah Sakit.
Dimas terlihat tengah duduk di kursi tunggu di depan salah satu ruang yang berada di rumah sakit sembari merekatkan jari-jari tangannya dan menundukkan kepalanya.
Nampak jelas raut wajahnya yang memucat dan keringat dingin mengucur di wajahnya.
"Bunda....."
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌