
<<<<<
Mendengar suara menyebutkan nama Bunda Artiana. Sontak Bunda Artiana, Dimas dan Archo menoleh ke arah suara tersebut.
"Mr Mario Fuca!"
Lontar Dimas saat matanya menangkap sosok laki-laki yang ia yakini sebagai Mario Fuca tengah berdiri tak jauh mereka bersama dengan seorang perempuan di sampingnya yang tak lain adalah Adriene.
Mendengar Dimas menyebut nama Mario membuat Bunda Artiana terperangah dan beralih menoleh ke Dimas.
"Barusan kamu bilang apa Nak? Mr Mario Fuca?! Maksudmu Mr Mario suami dari Maria?" cecar Bunda Artiana.
Dimas mengangguk. "Iya Bunda, Mario Fuca. Laki-laki yang sudah mengambil Kak Maria dari kita." ujarnya menunjuk ke arah Mario.
Seketika mata Bunda Artiana langsung kembali mengarah ke Daddy Mario karena Dimas menunjuk ke arahnya.
"Ja-jadi orang itu Mr Mario Fuca?" lirih Bunda Artiana.
Lalu kemudian Daddy Mario dan Adriene melangkahkan kakinya menghampiri Bunda Artiana dan lainnya. Saat sudah berada di hadapan mereka, Daddy Mario mengulurkan tangannya ke arah Bunda Artiana.
"Bagaimana kabar anda, Nyonya Artiana?" tanya Daddy Mario dengan sopan.
Sejenak Bunda Artiana memandangi Daddy Mario dari atas sampai bawah seraya menyidiknya. Sedangkan Dimas terlihat memasang ekspresi wajah yang tak biasa pada Daddy Mario, bahkan tangannya pun sudah di kepalnya dengan kuat, sehingga membuat Archo yang melihat ekspresi Dimas langsung mengerutkan dahinya.
Lalu....
"Kenapa anda melihat saya seperti itu, Nyonya?" tanya Daddy Mario yang keheranan.
"Apa anda benar-benar Mr Mario?" bukannya menjawab Bunda Artiana malah bertanya kembali untuk memastikannya.
"Tentu saja ini saya Mario, Nyonya Artiana." jawab Daddy Mario.
Bunda Artiana menghela nafasnya dan menyunggingkan senyumnya. Sesaat Bunda Artiana mengangkat tangannya dan mengulurkannya ke arah Daddy Mario. Akan tetapi saat hendak menjabat tangan Daddy Mario, tiba-tiba Dimas menahan tangan Bunda Artiana.
"Dimas apa yang kamu lakukan?" tanya Bunda Artiana.
"Maaf Bunda karena sudah menahan tangan Bunda. Tapi Dimas melakukan ini karena Dimas tidak ingin tangan Bunda menyentuhnya," papar Dimas menatap tajam Daddy Mario.
"Dimas...."
"Nyonya Artiana, siapa pria berkacamata ini? Nampaknya dia tidak senang melihat saya?" tanya Daddy Mario.
Sejenak Bunda Artiana melirik ke Dimas kemudian kembali lagi ke Daddy Mario.
"Emmm, Dia ini Dimas anak saya dan adik dari Maria," Bunda Artiana memperkenalkan Dimas pada Daddy Mario.
"Apa! Jadi pria berkacamata ini adalah Dimas? Anak kecil yang dulu melempar mainannya ke wajah saya, Nyonya?"
Bunda Artiana mengangguk pelan. "I-iya Mr Mario."
Daddy Mario pun beralih ke arah Dimas.
"Bagaimana kabar kamu Dimas? Gak di sangka kamu sudah sebesar ini, dan wajah kamu juga mirip dengan Tuan Wirawan hanya saja kamu memakai kacamata sama seperti Archo." papar Daddy Mario seraya mengulurkan tangannya.
Paak....
Dimas menepis keras tangan Daddy Mario beralih mencengkeram kerah baju Daddy Mario, sontak membuat semua tersentak kaget.
"Dimas! Apa yang kamu lakukan Nak?" seru Bunda Artiana.
"Dokter Dimas!" timpal Archo mencoba melepaskan tangan Dimas.
Dan saat pengawal Daddy Mario hendak mendekat, Daddy Mario mengangkat tangannya memberi isyarat untuk tidak mendekat. Tentu saja pengawalnya langsung menurut dan tetap berdiri di tempatnya.
Lalu....
"Untuk apa kamu datang kemari? Brengs*k! Apa kamu ingin menghancurkan keluarga ku lagi? Memangnya masih belum cukup selama 29 tahun lebih kau menghancurkan keluarga ku, hah!" cerca Dimas yang terus mencengkeram kerah baju Daddy Mario.
Daddy Mario tidak berkata apa-apa, hanya senyumannya saja yang terukir di wajahnya membuat Dimas semakin murka. Ia pun melepaskan salah satu tangannya dari kerah Daddy Mario beralih melayangkannya ke wajah Daddy Mario.
"Dimas!" seru Bunda Artiana dan ....
Bugh!
Satu pukulan Dimas mendarat sempurna, namun sayangnya bukan di wajah Daddy Mario melainkan di wajah Archo sehingga membuat Archo tersungkur.
Sebab di saat Dimas melayangkan tangannya dan mengarahkannya ke Daddy Mario, dengan sigap Archo langsung berdiri di depan Daddy Mario sehingga ia yang terkena pukulan dari Dimas.
"Archo!" seru Adriene mendekat ke Archo. "Kamu tidak apa-apa, Arc?" sambungnya.
"Aku tidak apa-apa," balas Archo mengusap darah di sudut bibirnya.
"Tuan Archo, kenapa anda menghalangi si tua ini? Hah! Oh apa karena si tua ini adalah Ayah tercinta anda, sehingga anda rela terkena pukulan saya demi melindunginya." pekik Dimas.
"Maafkan saya Dokter Dimas! Saya ...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dari belakang Bunda Artiana langsung memeluk erat Dimas.
"Dimas, Bunda mohon kamu jangan seperti ini! Tahan emosi kamu, Dimas! Ingat saat ini Istri mu sedang mengandung, jangan sampai dia dan bayi di kandungnya kenapa-napa akibat ulah mu ini, Nak!" tutur Bunda Artiana.
"Tapi Bunda, apa Bunda lupa dengan apa yang sudah di lakukan si tua ini terhadap keluarga kita? Dia sudah membuat keluarga kita hancur Bunda, bahkan sampai Ayah pergi ninggalin kita dan lebih parahnya lagi dia sudah membuat keponakan Dimas yaitu cucu Bunda mengalami penderitaan akibat di tinggal pergi Kak Maria gara-gara si tua ini. Jadi sudah sepatutnya Dimas memberikan pelajaran untuk si tua ini, meskipun Dimas tembak mati si tua ini, itu tidak akan cukup membayar semua yang dia lakukan pada keluarga kita, Bunda." ujar Dimas dengan panjangnya.
"Bunda tau Nak dan Bunda juga tidak lupa dengan kejadian di masa lalu, tapi kan itu sudah menjadi masa lalu yang harus kita pendam. Dan lagi kejadian di masa lalu bukan sepenuhnya kesalahan Mr Mario, tapi ini juga kesalahan Bunda dan Ayahmu, Dimas. Jadi Bunda mohon kamu jangan ungkit lagi kejadian pahit di masa lalu itu ya Nak!" kata Bunda Artiana di susul tangisannya.
Sejenak Dimas terdiam, lalu di hembuskan nafasnya secara perlahan. Ia pun membalikkan badannya menghadap ke Bunda Artiana dan memeluknya.
"Maafin Dimas, Bunda! Karena Dimas sudah buat Bunda menangis," ucap Dimas.
Bunda Artiana mengelus punggung Dimas. "Bunda maafin kamu Nak, tapi jangan di ulangi lagi ya!"
"Iya Bunda." balas Dimas.
Sesaat Dimas melepaskan pelukannya dan beralih ke arah Archo.
"Tuan Archo, saya minta maaf atas kelakuan saya yang sudah memukul wajah anda!" ucap Dimas.
Archo mengibas tangannya. "Tidak apa-apa Dok, lagi pula ini salah saya juga yang tidak menghindar."
Dimas menyunggingkan senyumnya, kemudian Bunda Artiana mengajak Daddy Mario dan lainnya masuk ke dalam rumahnya. Setelah berada di ruang tamu, mereka semua pun duduk di atas sofa, berbincang soal kabar masing-masing.
Lalu....
"Dokter Dimas, Bunda. Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Mam?" tanya Archo yang mulai masuk ke intinya.
Dimas menggeleng. "Belum, kami belum mendapatkan kabar apa-apa soal Kak Maria, Tuan Archo."
"Apa! Kenapa masih belum ada kabar, Dok? Apa Polisi belum menyelidiki kasus ini?"
"Mereka sudah menyeledikinya tapi belum mereka belum memberikan informasi soal Kak Maria pada kami. Dan lagi bukan hanya dari pihak kepolisian saja, pengawal yang di utus dari Tuan Muda pun juga sama." jelas Dimas.
"Pengawal Tuan muda? Tuan muda siapa Nak Dimas?" tanya Daddy Mario.
Bukannya menjawab pertanyaan Daddy Mario, Dimas memalingkan wajahnya ke arah yang lainnya membuat Bunda Artiana yang melihatnya pun langsung menghela nafasnya, sesaat Bunda Artiana kembali beralih ke Daddy Mario.
"Mr Mario, tolong maafkan Dimas! Dimas memang seperti itu. Dan untuk Tuan muda yang di maksud Dimas itu dia adalah cu...."
"Cucu pemilik Rumah sakit tempat di mana Dokter Dimas bekerja Dad." Archo tiba-tiba memotong perkataan Bunda Artiana.
__ADS_1
Seketika beberapa pasang mata langsung mengarah ke Archo, kemudian Archo melihat ke arah Dimas sembari mengangguk pelan seraya memberikan isyarat, seakan mengerti Dimas pun membalasnya dengan anggukan juga.
"Bagaimana kamu bisa tahu, Arc. Kalau Tuan Muda yang di maksudkan Dimas adalah cucu dari pemilik Rumah sakit tempat ia bekerja?" cecar Daddy Mario.
"Tentu Archo tahu, kan Dokter Dimas yang cerita." ujar Archo.
Seakan masih tak percaya dengan perkataan Archo, Daddy Mario pun beralih pada Bunda Artiana dan bertanya, "Apa yang di katakan Archo barusan itu benar, Nyonya?"
"Ah, itu ...."
"Tentu saja apa yang di katakan Tuan Archo itu benar kalau Tuan muda yang saya maksudkan adalah cucu dari pemilik Rumah sakit tempat saya bekerja. Nampaknya anda tidak percaya dengan anak anda, Mr Mario? Sehingga anda bertanya pada Bunda saya." cetus Dimas.
"Ah maaf Nak Dimas, bukan maksud saya tidak mempercayai Archo. Hanya saja anak ini suka berbohong pada saya," papar Daddy Mario menekan kepala Archo.
Mendengar itu Dimas memutar bola matanya dengan malas.
"Lalu bagaimana dengan Mira dan Dadan? Apa ingatan mereka berdua sudah kembali?" tanya Archo.
"Ingatan mereka berdua sudah sedikit membaik, hanya saja mereka selalu merasakan sakit kepala jika saya menyuruh mereka untuk bercerita tentang kejadian itu. Entah obat apa yang mereka gunakan sehingga membuat Mira dan Dadan seperti itu." jelas Dimas.
"Oh begitu ya. Euuum maaf Dok, bisakah anda memanggil mereka berdua untuk datang ke sini!"
Dimas mengangguk dan beranjak untuk memanggil Mira dan Dadan. Sesaat Dimas datang kembali bersama Mira dan Dadan.
"Kalian berdua duduklah di sana!" kata Dimas pada keduanya.
Seketika Mira dan Dadan mengangguk patuh. Lalu Archo melihat ke Adriene yang berada di sampingnya.
"Adriene...."
"Ya Arc." sahut Adriene.
"Bisakah kau membantu Dokter Dimas memeriksa kedua orang ini! Soalnya mereka ...."
Archo menceritakan kondisi yang di alami oleh Mira dan Dadan. Selepas selesai bercerita, sejenak Adriene menoleh ke arah Mira dan Dadan kemudian beralih kembali ke arah Archo sembari mengangguk.
"Baiklah Arc, aku akan mencobanya." kata Adriene.
Ia pun bangkit dari posisinya dan beralih mendekat ke arah Mira dan Dadan. Setelah itu, Adriene langsung memeriksa kondisi keduanya.
*********************************
Perusahaan CV
Di lobby Perusahaan, Davin terlihat sedang duduk bersama dengan dua staf karyawan wanita, pandangan Davin nampak terfokus pada dokumen yang berada di tangannya itu.
"Bagaimana Pak, apa ada yang salah dengan dokumen ini?" tanya wanita dengan ID card bernama Via.
"Hmmmm, memang ada beberapa yang salah pada dokumen ini," jawab Davin.
"Benarkah! Lalu dimana yang salahnya Pak?" tanya Via kembali.
Davin pun meletakkan dokumen itu di atas meja dan mengarahkannya ke Via.
"Ada di bagian ini, ini dan juga ini!" Davin memberitahu pada Via tentang kesalahan pada dokumen tersebut. "Tolong perbaiki lagi ya Nona Via dan Nona Anggi!" sambung titahnya di susul dengan senyumannya.
Seketika membuat dua wanita di hadapannya itu terpukau melihatnya. Sesaat Via tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Pak Davin, secepatnya saya perbaiki dokumen ini." kata Via.
"Oke, nanti kalau sudah selesai kasih ke saya lagi ya Nona Via cantik!" Davin mengedipkan sebelah matanya.
"Siap Pak. Yaudah kalau begitu kami kembali ke tempat kami, permisi." pamit Via menunduk.
Davin membalas dengan anggukan saja, kemudian Via dan Anggi beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Davin. Selang sesaat, Citra lalu menghampiri Davin.
"Pak Davin...."
Citra lalu mendudukkan dirinya di sofa lainnya.
"Ada ya apa Cit?" tanya Davin.
Bukannya menjawab, Citra malah menyodorkan tempat makan berbentuk love ke arah Davin.
"Hmmm, apa ini Cit?" Davin pun penasaran dengan tempat makan tersebut.
Lalu Citra membuka tempat makan tersebut. "I-ini kue buatan Ibu saya Pak." jawabnya gugup.
"Oh, apa Ibu kamu bikin kue banyak dan di suruh di bagikan pada teman-teman kamu?" tebak Davin.
Seketika Citra tercengang dan nampak wajahnya memerah. "Ba-bagaimana Pak Davin tahu soal itu?"
"Ya itu karena setiap kali kamu kasih makanan ke saya, pasti bilangnya seperti itu." papar Davin.
"Oh, jadi begitu ya Pak. Saya kira Pak Davin...." lirih Citra
"Kenapa Cit?"
Citra menggeleng. "Ti-tidak apa-apa Pak."
"Oh, yaudah kalau begitu saya makan kuenya ya?"
Citra mengangguk. "Iya, silahkan Pak!
Kemudian Davin mengambil kue tersebut dan memakannya, Citra pun menyunggingkan senyumnya saat melihat Davin memakan kue yang di berikan itu. Lalu....
Kling....
Tiba-tiba hp Davin berbunyi, ia pun menghentikan aktivitasnya dan menyambar hpnya yang berada di atas meja.
"Airin! Tumben dia ngechat? Apa ada sesuatu?" lirih Davin melihat ke layar hpnya, kemudian ia menekan icon chat-nya.
[Chat]
Rin-Rin
(Mengirim sebuah Video)
"Cara membuat wajah semakin glowing?" Davin membaca judul Video itu dengan nada lirih.
Karena penasaran, ia pun langsung memutar Video yang di kirimkan oleh Airin. Setelah di putar, ternyata bukan Video dengan judul tersebut, melainkan suara jeritan aneh dari seorang wanita.
"Uhuuuk...." Davin tercengang sampai tersedak kue yang ia makan itu.
Bukan hanya Davin saja tapi Citra dan yang lainnya yang berada di dekat Davin pun ikut tercengang dan melihat ke arah Davin, seketika Davin langsung mematikan video tersebut.
"Pak Davin...." lirih Citra mengerutkan keningnya.
"Ka-kalian jangan berfikir yang bukan-bukan, i-ini hanya kerjaan orang iseng saja." ujar Davin.
"Oh...." Citra manggut-manggut.
"Airin, awas kamu ya!" umpat Davin dalam hati.
Sementara itu di Pantry, Airin nampak tengah mencuci tangannya, lalu tiba-tiba....
Hatchuuuuu....
__ADS_1
"Duh, siapa yang sedang mengutukku sih? Dan lagi kenapa tiba-tiba aku merasakan hawa dingin di leher ku? Apa jangan-jangan ada hantu yang sedang mengumpat ku?" lontar Airin menggosok belakang lehernya.
...----------------...
Menjelang sore hari....
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, matahari pun sudah mulai menggeserkan posisinya ke arah barat.
Sementara itu, Zuy nampak baru keluar dari toko kue dengan membawa dua kantong berisi roti cokelat dan keju kesukaannya. Setelah itu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah motornya yang terparkir di depan toko kue tersebut.
Ya karena jaraknya yang dekat dengan Villanya, jadi Zuy pergi menggunakan motornya, sedangkan si kembar ia tinggal di Villa.
Akan tetapi saat hendak sampai di motornya, tiba-tiba seorang wanita menahan tangan Zuy membuat Zuy menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke arah wanita tersebut.
"Hah! Bu Wanda!" lontar Zuy saat melihat wanita itu yang tak lain adalah Wanda mantan sekretaris sementara dari Perusahaan CV.
"Heh! Ternyata ini benar-benar kamu ya Zuy dan lagi kamu masih mengingat ku." balas Wanda di barengi seringainya.
"Tentu saja saya masih mengingat anda, Bu Wanda. Bagaimana kabar anda?" ujar Zuy sekaligus bertanya.
"Kamu ingin tahu bagaimana kabar ku?" cetus Wanda, lalu....
Plaak....
Satu tamparan keras dari Wanda mendarat ke pipi Zuy dan membuatnya tersentak kaget. Semua pasang mata pun langsung tertuju pada mereka.
"Apa yang anda lakukan? Kenapa tiba-tiba menampar saya?" tanya Zuy keheranan.
"Bukannya tadi kamu ingin tahu kabarku, ya kabarku seperti ini sekarang hancur tanpa pekerjaan, dan itu karena gara-gara kamu, wanita j*lang!" pekik Wanda.
Mendengar itu, semua orang yang berada di sana pun langsung berbisik. Sesaat Zuy menghela nafasnya.
"Bu Wanda, jika anda ingin berbicara dengan saya tentang masa lalu, lebih baik kita bicara di tempat lain saja seperti di tempat makan atau apa, jangan di jalanan seperti ini!" tutur Zuy dengan santainya.
"Memangnya kenapa kalau aku bicara di jalanan seperti ini, hah! Apa kamu malu jika ketahuan oleh orang-orang ini bahwa kamu adalah wanita j*lang yang suka merayu laki-laki?" cetus Wanda.
"Untuk apa saya malu dengan perkataan anda yang tidak ada buktinya itu. Dan lagi bukannya yang malu itu justru anda, Bu Wanda. Sebab anda seperti meminta perhatian dan belas kasih dari orang lain dengan cara memfitnah dan menjelekkan saya seperti ini!" papar Zuy.
Seketika Wanda menggertakan giginya karena kesal dengan apa yang di katakan oleh Zuy. Lalu ia pun kembali melayangkan tangannya, akan tetapi dengan sigap seorang pria menahan tangan Wanda.
"Berhenti membuat keributan di sini Kak!" lontar si pria tersebut yang tak lain adalah salah satu pengawal Ray yang mengawasi Zuy dari jarak jauh.
"Si-siapa yang buat keributan? Dan lagi siapa kamu sebenarnya? Apa kamu salah satu pria yang di godanya?" pekik Wanda.
"Kak, kenapa Kakak bicara seperti itu terhadap adik sepupu Kakak?"
"Apa! Bicara apa kamu ini, siapa yang adik sepupu ku?"
"Emmm, untuk kalian semua yang di sini, maaf atas kesalah pahaman ini! Sebenarnya Kakak saya ini baru keluar dari RSJ, makanya dia masih agak ngelantur seperti ini!" ucap si pria tersebut.
"Huuuu.... Ternyata wanita kurang waras, pantas saja. Ayo kita pergi dari sini!"
Mereka pun bergegas pergi meninggalkan Zuy dan lainnya.
Lalu....
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bilang ke orang-orang kalau aku baru keluar dari RSJ. Hah!" cecar Wanda.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, dan lagi jika anda sampai membuat masalah dengan Nyonya kami, maka saya tidak segan-segan memasukkan anda ke RSJ sungguhan." gertaknya.
"Apa!" seketika Wanda melihat ke Zuy. "Tsk, kali ini kamu bebas Zuy, tapi tidak untuk lain kali!" sambung umpatnya dan melenggang pergi.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Saya baik-baik saja, terimakasih sudah membantu saya."
"Sama-sama Nyonya."
Beberapa saat kemudian, Zuy dan pengawalnya pun pergi dari toko kue tersebut.
**************************
Malam hari kemudian....
Villa Z&R
—Pukul 09.30pm
Ray dan Zuy tengah duduk di balkon kamarnya sambil menikmati secangkir teh hangat beserta roti yang ia beli tadi.
Sebenarnya setelah Ray pulang dari Perusahaannya, Zuy langsung menceritakan tentang apa yang terjadi saat di toko roti. Awalnya Ray marah bahkan ia hampir menyuruh pengawalnya untuk mencari Wanda. Akan tetapi Zuy melarang Ray untuk tidak melakukan apapun terhadap Wanda.
"Ray...."
"Apa sayangku yang cantik." sahut Ray.
"Kenapa beberapa hari ini aku merasakan perasaan yang tidak enak ya."
"Memangnya perasaan apa yang kamu rasakan sayangku, sampai merasa tidak enak seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan Om Randy dan Bi Nana?" cecar Ray.
Zuy mengangkat bahunya. "Entahlah, tapi sepertinya perasaan ku ini bukan karena Paman dan Bi Nana. Akan tetapi perasaan ku ini lebih tertuju pada orang lain, tapi aku gak tau siapa orangnya." paparnya.
"Apa mungkin perasaan tidak enaknya ini tertuju pada Mrs Maria yang sampai saat ini belum juga di ketahui keberadaannya?" batin Ray.
Lalu Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Sayangku, sudah jangan kepikiran terus tentang perasaan tidak enak mu ini! Aku gak mau sayangku sakit jika terlalu memikirkannya. Ya apapun perasaan sayangku itu, lebih baik kita berdoa semoga semuanya baik-baik aja ya sayangku!" tutur Ray.
Zuy mendongak. "Benar juga apa kata kamu, Ray. Aku harusnya gak boleh banyak pikiran. Emmm, terimakasih ya tampan-ku."
"Sama-sama sayangku."
Perlahan Ray merebahkan tubuh Zuy di sofa, setelah itu ia pun mendaratkan bibirnya ke bibir pujaan hatinya itu seraya mengecup dan menyesapnya dengan lembut membuat Zuy tenggelam dan membalas serangan pria tampannya itu.
*************************
Villa Noel Gallagher
Braaaak....
Tanpa permisi atau apa, Noel tiba-tiba mendobrak pintu kamar Maria, sontak membuat Maria terkejut dan menoleh ke arah Noel.
"Noel! Kenapa kamu suka sekali mendobrak pintu kamar ini?" pekik Maria.
"Terserah saya, ini adalah tempat saya jadi mau saya apakan juga terserah saya. Daripada itu, ada yang ingin aku tanyakan pada anda, Mrs Maria!" cetus Noel.
"Ada ingin kamu tanyakan? Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan itu?"
Noel mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.
"Mrs Maria, katakan dengan jujur! Siapa wanita yang sangat mirip dengan anda dan Kimberly itu?" tanya Noel.
"Hah! Wanita yang sangat mirip denganku dan Kimberly!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌