
WARNING...!!
Bab ini mengandung unsur dewasa, di harapkan bijak dalam membaca terutama bocil di larang membacanya..!! terimakasih.. 🙏🙏
<<<<<
"Lesya, barusan kamu bilang apa?! Kimberly akan ke Swedia?!"
Ray tersentak kaget mendengar penjelasan Lesya, perasaannya kini kembali memanas.
"Iya Ray, makanya aku hubungi kamu untuk memberitahu tentang ini, Ray kapan-kapan kau susul dia ke Swedia..! temani dia supaya semangat, soalnya akhir-akhir ini aku melihat Kimberly selalu diam," pinta Lesya.
"Hmmm, Sis sepertinya Ray harus tutup telponnya, soalnya ada hal yang harus Ray kerjakan, jaga dirimu baik-baik ya Sis, salam buat Daddy..! Bye.."
"Ray, ja ...,"
Ray langsung memutuskan telponnya.
"Sorry Sis, sebenarnya aku juga kangen sama kamu, tapi aku malas jika kamu terus membicarakan soal Kimberly," ucap Ray, "Tsk, kenapa ada aja sih pengganggu, baru juga honeymoon mantapnya," sambung umpatnya.
Ray kembali menghampiri Zuy yang tengah terbaring, ia pun segera naik ke atas ranjang membaringkan badannya dan memeluk Zuy dari belakang.
"Sayangku, sayangku..."
"Hmmmm...."
Ray mengangkat bahunya dan melihat ke arah Zuy, "Sayangku tidur ya, kasihan pasti cape dan kesakitan, maaf ya sayangku," ucap Ray, ia pun mencium puncak kepala Zuy.
"Semoga Bi Nana gak marah ya, harusnya aku ngelakuin ini pas sayangku sudah mengetahui yang sebenarnya, akan tetapi aku malah tidak tahan dan melakukannya sebelum sayangku mengetahui yang sebenarnya," batin Ray.
Lalu ia tersenyum sumringah sambil beranjak dari tempat tidurnya, kemudian ia pun berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Yes, yes, akhirnya aku dan sayangku bersatu padu dan tidak ada yang memisahkan kita untuk selamanya, sayangku akan selalu menjadi milikku selamanya. Hmmm gak menyangka rasanya seperti mendapat Jackpot berkali-kali lipat."
Ray berjalan menuju keluar dari kamarnya Zuy sambil berjoget-joget ala Michael Jackson dan lompat-lompat kegirangan. Saat berada di luar kamar pun ia terus berjoget-joget sambil berjingkrak-jingkrak, namun Ray belum menyadari bahwa ada Henri dan pengawal yang tengah memperhatikan tingkah konyolnya. Lalu sampai pada akhirnya pandangan Ray mengarah di mana Henri dan pengawalnya sedang berdiri, sontak membuat Ray menghentikan aksinya.
"Ehemmm, ada perlu apa kalian kesini?" tanya Ray dengan nada dingin.
Henri dan pengawal lainnya langsung membungkukkan badannya, sesaat kemudian mereka mengangkat kepalanya kembali.
"Maaf Tuan Ray jika kami mengganggu, kami mau melapor bahwa wanita itu sudah kami bereskan dan dia sekarang sudah pergi," jelas Henri.
"Bagus, kalau begitu kalian boleh pergi, oh iya besok kita akan kembali, jadi kalian harus banyak istrihat, jangan terlalu lelah, karena aku akan selalu membutuhkan bantuan kalian!" titah Ray.
Mereka pun menganggukkan kepalanya dan melenggang pergi meninggalkan Ray. Kemudian Ray langsung melesat menuju ke kamarnya.
Ya mungkin dia malu karena kepergok anak buahnya.
***********
Minimarket
Sementara itu, sebelum pulang ke rumah, Davin terlebih dahulu singgah ke Minimarket, karena stock cemilan dan minuman di rumah sudah habis, apalagi ia mendapat kabar bahwa Ray besok akan kembali. Setelah memarkirkan mobilnya, dari dalam mobil Davin melepaskan jas dan dasinya, lalu ia mengambil jaket yang berada di dalam mobilnya dan mengenakannya, tidak ketinggalan pula dengan topi serta masker kainnya.
"Sempurna..!!"
Ia pun segera turun dan berjalan menuju ke arah pintu masuk Minimarket. Ketika sudah berada di dalam minimarket Davin langsung mengambil keranjang belanjaan dan segera mengambil beberapa snack dan minuman bersoda. Setelah selesai, Davin segera ke kasir, akan tetapi ia harus mengantri terlebih dahulu. Sesaat kemudian akhirnya giliran Davin memberikan barang belanjaannya pada pegawai kasir, akan tetapi ...,
"Kakak, bolehkah saya duluan, soalnya adik saya sudah menangis," pinta anak berusia sekitar sepuluh tahunan.
"Oh, yaudah kamu duluan saja dek," kata Davin, ia pun melangkah mundur.
"Terimakasih," ucap anak itu, lalu kemudian...
"Harganya segini dek..!" kata pegawai kasir.
Si anak itu pun langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan uang yang berada di dalam sakunya.
"Saya hanya bawa uang segini, apa boleh kakak? soalnya adik saya ingin makan ini," ujar anak itu.
"Maaf dek gak bisa."
Dengan rasa kecewa anak itu pun langsung memutar badannya dan melangkahkan kakinya, akan tetapi ...,
"Tunggu dek..!!" seru Davin
Anak itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Davin.
"Ada apa Kak?"
Davin memberikan keranjang belanjaan pada anak tersebut.
"Ini, ambil beberapa barang yang kau mau..!" titah Davin.
"Ta-tapi saya ...,"
"Sudah ambil saja...! Kakak tunggu di sini..!"
Anak itu menganggukkan kepalanya dan mengambil keranjang belanjaan dari tangan Davin. Tak lama kemudian, anak itu pun selesai mengambil barang yang ia ingin dan memberikannya pada Davin.
"Ini Kakak," lirihnya.
Davin mengambil keranjang berisi tersebut dan memberikannya pada pegawai kasir.
"Hitung ini sekalian belanjaan ku, tapi di pisah..!"
Pegawai kasir itu menganggukkan kepalanya, sesaat setelah selesai, ia memberikan kantong belanja pada Davin.
"Total semuanya ...," ujar pegawai kasir itu.
Davin mengeluarkan kartu debitnya dan memberikannya pada pegawai kasir, setelah selesai, ia pun memberikan salah satu kantong belanja pada anak itu.
"Ini untukmu..!"
Mata anak itu pun berkaca-kaca, kemudian ia menerima kantong belanja yang di berikan oleh Davin.
__ADS_1
"Terimakasih Kakak," ucapnya.
"Iya sama-sama, sekarang pulang lah..!"
Anak itu menganggukkan kepalanya dan melenggang pergi, begitu pula dengan Davin. Saat berada di mobilnya, Davin langsung membuka pintu mobil dan meletakkan barang belanjaannya ke dalam mobil. Ia pun membuka topi dan masker kainnya. Lalu tiba-tiba dua pria gemulay menghampiri Davin.
"Permisi Om, Eyke numpang ngamen ya, tarik sis...!"
"Pang ketipang-ketipung, si abang kena tikung, pang ketipang-ketipung punya abang jadi melengkung,"
Anggap saja itu nyanyian baru mereka, hehehe...
Davin segera membalikan badannya ke arah pengamen itu.
"Ini uang untuk an ...,"
Davin terkejut saat melihat ke dua pengamen itu adalah wanita jadi-jadian yang pernah mengejarnya di pantai.
(kisahnya ada di Bab.109)
"Eeh si wajah prosotan, kita ketemu lagi.." ujar salah satunya
"Makin kinclong dan mulus aja itu muka kek prosotan, jadi pengin nyubit deh," sambung yang lainnya.
Aaaaaaah
Teriak Davin, ia pun segera membuka pintu mobil depan dan masuk ke dalam mobil, lalu ia langsung menyalakan mobilnya.
"Eeh brondong, kenapa buru-buru?" tanya si wanita jadi-jadian itu sambil mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.
"Kenapa harus bertemu dengan mereka lagi sih, bikin merinding bulu kudukku," umpat Davin, ia segera menginjak gas mobilnya dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan wanita jadi-jadian itu.
"Iih, udah nyanyi capek-capek malah pergi tanpa di bayar, dasar cowo tukang kencing berdiri.." umpatnya.
"Entah dasar cowo aneh, ayo sis kita pergi ke tempat lainnya,"
Dan pada akhirnya mereka pun pergi.
**********************
Rumah Ray
Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit, Davin akhirnya sampai di rumah, setelah memarkirkan mobilnya, ia bergegas menuju ke arah pintu masuk.
Ting Tong
Seseorang pun membuka pintu rumahnya, dan ternyata Yiou.
"Davin, tumben sudah pulang dan lagi kenapa wajahmu pucat gitu, apa concealer yang kamu pakai itu luntur?" tanya Yiou.
"Jangan tanya aku dulu, ini aku titip barang belanjaan ku, aku mau langsung ke kamar," ujar Davin,
Ia pun bergegas menuju ke kamarnya.
Kamar Davin
Setelah berada di kamarnya, Davin segera naik ke ranjang tanpa melepaskan sepatunya terlebih dahulu, ia pun menarik selimutnya hingga menutupi semua tubuhnya.
"Amit-amit, jangan lagi-lagi ketemu mereka, iiih untungnya aku langsung masuk ke mobil, kalau tidak apa yang terjadi pada wajahku,"
Lontar Davin yang trauma dan ketakutan, ia pun terus meringkuk di atas kasurnya.
**********************
Åre Sky Resort, Swedia
Tak terasa hari pun mulai gelap, karena di Swedia matahari terbenam lebih cepat.
Zuy nampak tengah duduk di sofa yang berada di kamarnya sambil menikmati coklat panas yang di berikan oleh Henri. Perasaannya saat ini tengah bercampur antara bahagia, bingung dan gelisah.
"Gak di sangka, akhirnya aku menyerahkan sesuatu yang berharga untuknya, aku bingung harus bahagia atau bagaimana, dan lagi bagaimana jika Bi Nana tahu, pasti beliau akan marah besar, Aaah kenapa aku seperti ini..." umpat Zuy memukul pipinya. Lalu kemudian..
Tok Tok Tok
Mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia pun langsung menoleh ke pintu.
"Siapa?!"
"Sayangku, ini aku Ray," jawabnya
"Oh, masuklah Ray..!!" titah Zuy.
Ray langsung membuka pintunya, "Sayangku ngapain?" tanya Ray berjalan menghampiri.
"Lagi minum coklat panas Ray," jawab Zuy tersenyum.
"Oh, sepertinya enak, boleh Ray mencobanya?"
Zuy menyodorkan gelas coklat panasnya ke arah Ray. Ray mengambil gelas yang berada di tangan Zuy, lalu ia meminum coklat panas itu secara perlahan. Setelah itu Ray meletakkan gelas tersebut di atas meja. Kemudian ia merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Ray...."
"Sayangku, apa kamu sedang memikirkan sesuatu? raut wajahmu nampak gelisah seperti itu, ada apa sayangku?"
Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa Ray, hanya saja Zuy ingat si manis."
"Sayangku ingat sama manis ya, tenang saja lusa sayangku bakalan bertemu dengan si manis," ujar Ray.
Zuy mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ray.
"Maksudmu Ray?"
"Besok siang kita akan kembali sayangku," jawab Ray
Mendengar jawaban Ray, Zuy menyunggingkan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Benarkah itu Ray?"
Ray mengangguk, "Iya sayangku, hmmm sepertinya sayangku bahagia pas tau kita akan kembali."
"Ya tentu Zuy senang, soalnya Zuy udah kangen sama Nara, Bi Nana, Airin, dan rekan-rekan kerja lainnya dan lagi Zuy bisa kembali bekerja," ujar Zuy.
Ray tersenyum bahagia melihat pujaan hatinya bahagia, ia mendaratkan bibirnya ke kening Zuy. Lalu kemudian Henri datang membawakan pesanan Ray yaitu kue coklat kesukaan Zuy, setelah itu Henri pun pergi.
"Sayangku, ini kue coklat kesukaanmu," Ray memberikan kue coklat pada Zuy.
"Asik kue coklat, terimakasih Ray," ucap Zuy.
Zuy lalu memotong kue coklatnya dan memakannya sehingga bibirnya Zuy blepotan dengan kue coklat, Ray yang melihatnya pun langsung mendekat ke arah Zuy dan memegang dagu Zuy, kemudian ia mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy mengecupnya dengan lembut dan mesra, setelah puas Ray menghentikan aksinya dan beralih menghujani ciuman ke leher Zuy sambil memberikan kembali tanda merah.
"Ray..."
"Hmmmm..."
"Zuy lagi makan kue ini," kata Zuy
"Sayangku, lanjutkan saja makannya! biar Ray yang yang melakukan ini," papar Ray yang terus menghujani ciumannya.
Zuy pun sudah mulai meringis akibat ulah Ray, "Iish Ray, setidaknya jangan di sini..!"
Mendengar itu, Ray kembali menghentikan aksinya dan beralih menatap Zuy.
"Jadi sayangku maunya di mana? di ranjang?"
Zuy mengangguk pelan, wajahnya pun sudah memerah padam, lalu kemudian Ray mengangkat tubuh Zuy dan membawanya menuju ke ranjang alias tempat tidur, sesampainya Ray merebahkan tubuh Zuy.
"Sayangku, Ray akan melakukannya dengan pelan, sehingga sayangku nyaman dan tidak kesakitan," ujar Ray.
Ray membuka satu-persatu pakaian yang menempel pada Zuy. Sesaat setelahnya Ray kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy, tangannya pun sudah mulai aktif memainkan Squshy milik Zuy, begitu juga dengan bibirnya yang ikut aktif menelusuri tubuh pujaan hatinya. Sesaat setelah keduanya sudah memanas, kini saatnya kerang geoduck berkepala angsa milik Ray di keluarkan dari tempat persembunyiaannya.
"Ray mulai ya sayangku..!"
"Ta-tapi pelan Ray..!" pinta Zuy.
Ray menganggukkan kepalanya, kerang geoduck milik Ray perlahan memasuki terowongan sempit milik Zuy, karena sebelumnya ia sudah berhasil membuka segel kuncinya, sehingga untuk kedua kalinya ia hanya mendorong pelan saja.
Aaaaaaah
"Pelan-pelan Ray...!!"
"Pasti sayangku, ini juga sudah pelan,"
Ray mulai melakukan pergerakan maju-mundur, maju-mundur gantengnya, sehingga menimbulkan bunyi dan guncangan pada ranjang yang mereka gunakan itu, ya bisa di sebut juga Misteri ranjang bergoyang.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai pada puncaknya, Ray segera mempercepat laju gerakannya menandingi para pembalap motor Sport dan tak butuh waktu lama si geoduck pun sudah selesai dengan aktivitasnya, sehingga membuat Ray dan Zuy terengah-engah. Sesaat setelahnya Ray membaringkan dirinya di samping Zuy dan memeluk Zuy dengan erat.
"Terimakasih sayangku," ucap Ray
Zuy hanya mengangguk pelan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayangku, lebih sadisan mana sama yang tadi?"
"Sama-sama sadis dan membuat ku sakit Ray," ujar Zuy meringis, posisinya membelakangi Ray.
Ray semakin mengeratkan pelukannya, "Kasihan sayangku."
Ia pun mencium tengkuk leher Zuy dan beralih ke punggung Zuy.
Hmmmm,, kayaknya nambah nih si Ray, tuttutututtu.. (Author nimbrung)
...----------------...
Setelah melewati malam yang panjang dan waktu menunjukan pukul 05.40 Am.
"Dingin..." erang Zuy sambil perlahan membuka matanya.
Saat matanya terbuka, pandangan pertama kalinya tertuju pada Ray yang tengah tertidur di sampingnya.
"Tampan-ku," lirih Zuy sambil mengelus kepala Ray.
Setelah nyawanya terkumpul, Zuy segera bangkit dari posisinya, lalu ia mengambil pakaiannya yang berada di bawah dan mengenakannya. Zuy melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Sesaat kemudian ia pun keluar dari kamar mandi dan kembali merebahkan dirinya di atas kasur.
•••••••••••••
Tak terasa waktu cepat berlalu, Zuy nampak tengah mengemasi baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper, begitu pula dengan Ray yang sedang berada di kamar lainnya. Setelah selesai semuanya, mereka bergegas menuju keluar Resort dan di sana sudah ada mobil jemputan mereka. Zuy dan Ray segera masuk ke mobil tersebut, begitu pula dengan para pengawalnya yang berada di mobil lainnya. Lalu sang supir melajukan mobil yang membawa mereka menuju ke Bandara Åre Östersund.
******************
Bandara Åre Östersund, Swedia
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di Bandara Åre Östersund, mobil yang membawa mereka pun langsung terparkir tepat di samping Jet pribadi milik Ray, para pengawalnya segera turun dari mobil dan membawakan barang-barang milik Ray dan Zuy ke dalam jet. Zuy dan Ray juga ikut turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam jet itu.
Setelah berada di dalam, Zuy dan Ray duduk bersampingan dan saling berpegangan tangan.
"Akhirnya liburan kita selesai, dan saatnya kita kembali ke tempat tinggal kita, ini benar-benar kenangan yang sangat indah dan tak bisa terlupakan dalam hidupku. Semoga suatu saat nanti kita bisa ke sini lagi ya Ray," ucap Zuy sambil menyandarkan kepalanya di dada Ray
"Iya sayangku, kita akan kembali ke sini lagi bersama anak-anak kita nanti," kata Ray, ia pun mencium puncak kepala Zuy.
Dan beberapa saat kemudian, Jet tersebut langsung lepas landas dan terbang ke udara meninggalkan Negara bersalju tersebut.
Good Bye Swedia....
***Bersambung
Ps: Sebenarnya ada sesuatu pada kue coklat yang Zuy makan itu.. Sehingga membuat Zuy sedikit memanas... 😉
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1