
Sesampainya di depan kamar, Desi membuka pintunya dengan menggunakan sikunya dan saat pintu terbuka, ia pun bergegas masuk.
"Mrs Maria waktunya makan si...."
Praaaang....!!
Desi sangat terkejut sehingga menjatuhkan nampan berisi makanan yang ia bawa karena melihat Maria sedang mencakar pergelangan tangan kanannya yang terhubung urat nadinya dengan menggunakan kuku panjang di jari tangan kirinya hingga tergores dan berdarah. Seketika membuat Desi langsung menghampiri Maria.
"Mrs Maria, apa yang anda lakukan?" seru Desi seraya memegangi tangan kiri Maria dengan erat.
"Lepaskan tanganku! B*stard." teriak Maria yang memberontak dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Desi.
Bukannya melepas, Desi malah menempatkan tangan kiri Maria di sela besi ranjang yang di gunakan Maria lalu mengikatnya dengan kuat.
"Apa yang kamu lakukan sial*n? Cepat lepaskan tanganku!" lagi-lagi Maria berteriak meminta Desi melepaskan tangannya.
"Saya tidak akan melepaskan tangan anda, Mrs Maria!" cetus Desi.
Maria mencebik. "Dasar liar! wanita murahan, wanita j*lang."
"Wah kata-kata anda membuat saya sedikit tersinggung lho. Tapi sayangnya perkataan anda itu tidak bisa membuat saya melepaskan tangan anda, Mrs Maria. Dan lagi ...." Desi memicingkan matanya. "Apa maksud anda melukai tangan anda seperti ini Mrs Maria? Apa anda sudah bosan hidup dan ingin mengakhirinya dengan cara konyol semacam ini, hah!" sambung sentaknya.
Seketika Maria mendengus seraya menajamkan tatapan matanya pada Desi.
"Iya kamu benar sekali, aku memang sudah bosan dengan hidupku yang terus-terusan terkurung seperti ini dan aku ingin secepatnya mengakhiri hidup ku yang menderita ini. Jadi cepat lepaskan tanganku wanita sial*n!" cicit Maria.
Sesaat Desi menghela nafasnya sambil perlahan mengangkat satu tangannya, kemudian....
Plaak!
Ia pun mendaratkan tamparan kerasnya ke pipi kanan Maria membuat Maria tersentak kaget.
"B*tch, wanita sial*n! Beraninya kamu menamparku, sini kamu! Biar ku patahkan tanganmu itu." sungut Maria seakan ingin menerkam Desi.
Maria mencoba menggerakkan tangan kanannya. Namun sayangnya tidak bisa, karena penyakit stroke-nya yang belum membuat sebagian dari tubuh Maria tidak berfungsi dengan normal. Sedangkan tangan kirinya terikat dengan kuat sehingga tidak mudah untuk di lepaskan.
"Aaaaarrgh!" Maria menjerit.
Melihat itu Desi pun menyeringai. "Heh, menggerakkan tangannya sendiri saja tidak bisa, ada hati ingin mematahkan tangan saya." ejeknya.
Sehingga Maria kembali menajamkan tatapannya.
"Kamu!"
"Sudah hentikan! Saya tidak ingin berdebat dan mencari masalah dengan orang lumpuh seperti anda, Mrs Maria."
Maria pun berdecak, "Cih, tidak ingin mencari masalah tapi berani menamparku. Asal kamu tahu, selama hidupku tidak ada yang pernah berani menampar dan menyiksa ku seperti ini, justru semua orang malah menyanjung ku. Tapi berbeda dengan kalian semua yang ada di sini, melakukan saya seperti layaknya binatang."
Hmmm, sepertinya Maria lupa kalau anak emasnya yaitu Kimberly pernah berbuat kasar padanya.
Suara hembusan nafas pun seketika keluar dari mulut Desi.
"Mrs Maria yang terhormat, maaf jika tadi saya refleks menampar anda. Habisnya saya kesal dengan apa yang di lakukan oleh anda itu," Desi menunjuk ke tangan kanan Maria yang terluka. "Memang anda pikir dengan mengakhiri hidup anda seperti ini bisa membuat anda cepat meninggal hm! Tidak Mrs Maria, yang ada malah anda semakin tersiksa dengan luka anda itu. Dan lagi kalau sampai bos tahu dengan apa yang anda lakukan ini, pasti bos bakalan marah besar dan akan membuat anda semakin menderita, Mrs Maria." sambung cercanya.
"Biarkan saja dia melihatnya dan marah. Supaya dia tahu kalau aku sudah bosan dan tidak tahan terkurung terus-terusan seperti ini dan lagi sangat ingin kebebasan walaupun aku harus mati sekalian." cetus Maria.
"Haaa.... Mrs Maria, bisakah anda tenang dan bersabar! Bos juga pasti akan membebaskan anda kalau keinginannya sudah di turuti dan sekarang ini Bos masih mencari cara untuk menculik wanita itu."
"Apa! Jadi kalian belum bisa menculik si anak durhaka ah maksudku wanita itu?"
Desi mengangguk. "Iya belum, soalnya wanita itu di jaga ketat oleh beberapa orang di sekelilingnya."
"Tsk, si anak durhaka itu bisa-bisanya dia selalu mendapatkan keberuntungan, sedangkan aku dan Kimberly selalu saja mendapatkan kesialan terus-menerus, ini benar-benar tidak adil untukku dan Kimberly," umpat Maria dalam hatinya.
Lalu....
"Ehemm, Mrs Maria...."
Di lirikan matanya ke arah Desi dengan wajah yang nampak penuh dengan amarah.
"Ngomong-ngomong soal wanita itu. Saya jadi teringat dulu ketika saya masih bekerja di sebuah Perusahaan. Waktu itu saya mempunyai seorang teman wanita, wajahnya mirip sekali dengan dia dan namanya adalah Zoey Lestari atau biasa di panggil Zuy." lontar Desi.
"Apa! Zuy?" Maria tersentak.
"Iya Zuy, dia seorang wanita ramah dan baik. Namun sayangnya sifat baiknya itu hanya kedok luarnya saja, aslinya ternyata dia seorang penjilat, penggoda dan perebut milik orang bahkan calon tunangan saya juga di goda oleh dia. Tapi untungnya tunangan saya itu tidak gampang tergoda oleh dia. Dan lebih parahnya lagi, dia itu mencuri uang dan Dokumen penting milik Perusahaan, akhirnya dia di pecat oleh atasan dan hampir di tahan. Namun entah dengan cara apa dia terbebas dari tuduhan itu dan malah berbalik pada saya. Saya di fitnah dan di tuduh mencurinya, padahal saya tidak pernah melakukan itu, sampai akhirnya saya di pecat dari Perusahaan itu dan mendekam di penjara untuk sesaat. Semua itu karena wanita yang bernama Zuy itu, Mrs Maria." Desi (Anne) menceritakan sebuah kisah kebohongannya pada Maria seraya terisak-isak.
(Cerita aslinya sudah Author ceritakan beberapa episode sebelumnya ya, bahwa yang di fitnah itu adalah Zuy bukan Anne. Bab.116)
Maria pun terenyuh mendengar cerita kebohongan yang di lontarkan oleh Desi itu.
"Makanya setiap kali saya melihat anda dan foto wanita yang di tunjukkan oleh Bos itu. Hati saya kembali sakit apalagi kalau sudah mengingat masa lalu saya itu, hiks...." sambung kata Desi.
"Benar-benar anak durhaka itu, bukan hanya menghancurkan perasaan Kimberly tapi juga perasaan orang lain bahkan sampai berbuat keji seperti itu. Ini benar-benar tidak bisa di maafkan?" cicit Maria dengan wajah yang mengerut dan sorot mata yang tak biasa.
"Hah! Barusan anda bilang apa? Anak durhaka? Menghancurkan perasaan Kimberly? Apa maksud perkataan anda barusan Mrs Maria?" cecar Desi yang penasaran.
Sesaat Maria menghela nafas panjangnya.
"Sebenarnya wanita yang kamu maksud itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang aku suruh Noel untuk menculiknya." ujar Maria.
"Apa! Ja-jadi maksud anda, dia itu adalah Zuy. Orang yang sudah membuat hidupku menderita?" Desi pura-pura terkejut mendengarnya.
Maria mengangguk. "Iya dia adalah Zuy orang yang dulu pernah ingin aku celakai, makanya aku sampai meminta bantuan dari Evelyn, Mommy dari Noel."
"Tunggu! waktu itu Noel pernah cerita, kalau anda ingin mencelakainya karena dia telah bersinggungan dengan anda dan anak anda. Apa itu benar Mrs Maria?"
Maria manggut-manggut.
"Iya itu benar, dan dia adalah orang yang sudah menghancurkan perasaan Kimberly dengan cara merebut calon tunangan Kimberly."
"Apa! Ja-jadi dia pernah merebut calon tunangan Kimberly? Ck, kejam sekali ini Zuy, bukan hanya calon tunangan saya aja yang ia rebut tapi calon tunangan dari model terkenal pun ia rebut juga." cerca Desi.
"Iya dia memang wanita kejam, padahal Kimberly adalah adiknya, bukannya menjaga perasaan adiknya justru malah menyakitinya. Maka dari itu aku sangat membencinya dan aku sangat ingin dia membayar semua apa yang ia lakukan pada Kimberly."
Mendengar bahwa Zuy adalah Kakak dari Kimberly, sontak membuat Desi benar-benar terkejut hingga pupil matanya melebar.
"Hah! Ja-jadi Zuy itu anak anda, Mrs Maria?"
"Iya dia adalah anak pertama saya Kakak dari Kimberly meskipun beda Ayah." ungkap Maria.
Seketika Desi menundukkan kepalanya seraya mendengus kesal bahkan muncul garis di antara kedua alisnya hingga membuat alisnya menyatu.
__ADS_1
"Ciih, ternyata si j*lang itu bukan berasal dari keluarga miskin melainkan berasal dari keluarga yang tak biasa. Benar-benar membuatku sangat iri dan ingin cepat-cepat menghancurkannya," Desi mengumpat dari dalam hatinya.
Sesaat....
"Desi...."
Panggilan dari Maria membuat Desi mendongakkan kepalanya ke arah Maria.
"Ada apa?"
"Euuum, bisakah kamu merahasiakan hal ini dari Noel bahwa wanita itu adalah anakku!" pinta Maria.
Desi mengerenyit. "Hmmmm, kenapa harus merahasiakannya dari Noel?"
"Ya karena aku tidak ingin rencananya menculik wanita itu gagal," jawab Maria asal.
"Ya saya paham dan saya bisa merahasiakannya dari Bos, asalkan anda mau bekerja sama dengan kami, tidak membantah dan tidak melakukan hal-hal konyol seperti tadi lagi." tutur Desi.
"Iya-iya aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucap Maria.
Desi pun menyunggingkan senyumnya.
"Baguslah! Yaudah kalau begitu aku keluar sebentar untuk mengambil kotak P3K dan makanan untuk anda," kata Desi sembari beranjak dari tempatnya.
"Iya...."
Desi lalu membereskan makanan yang ia jatuhkan itu, kemudian ia melangkah keluar dari kamar Maria.
"Kamu memang anak yang baik Des, tapi sayangnya kamu bukan Zoya anakku dan lagi aku kasihan padamu karena mengikuti orang yang salah seperti Noel. Hmmm, tapi kamu tenang aja, setelah aku terbebas dari sini, aku akan membawamu dan menjadikan mu sebagai asisten ku," ucap Maria yang terus melihat ke arah pintu kamarnya.
...----------------...
—Pukul 01.47pm
Bi Nana, Beyza beserta Irma dan kedua anak Bi Nana yaitu Nara dan Rana nampak tengah berada di perjalanan menuju ke arah Villa.
"Mih, boleh ya nanti Nara main pasir?"
Bi Nana menganggukkan kepalanya seraya mengelus rambut Nara.
"Iya tentu boleh Nara, tapi jangan sampai main di tengah laut ya!"
"Iya Mamih."
Bi Nana tersenyum, lalu pandangannya beralih ke Beyza yang kala itu tengah mengemudikan mobilnya.
"Bey, kita mampir ke makam Om kamu dulu ya!" pinta Bi Nana pada Beyza.
"Iya Hala," balas Beyza.
Sesaat kemudian, mereka sampai di tempat pemakaman. Setelah mobil terparkir, Bi Nana dan lainnya pun langsung turun dari mobilnya.
Dan sebelum melangkah masuk ke tempat pemakaman, Bi Nana terlebih dahulu membeli beberapa bunga mawar dan bunga tabur beserta airnya di penjual bunga yang berada di depan makam tersebut. Sesudah membelinya mereka semua pun berjalan masuk menuju ke arah makam Pak Randy berada. Setibanya di makam Pak Randy, Bi Nana langsung bersimpuh dan berdoa untuk suami tercintanya.
Selesai berdoa, Bi Nana menaburkan bunga di atas pusara Pak Randy, begitu pula dengan Nara dan Beyza.
"Pih, maaf aku datang menjenguk Papih lagi. Jujur Pih, aku dan anak-anak sangat merindukan Papih, canda tawa Papih semuanya tentang Papih. Pih, tenang dan lelap ya di sana! Nana janji akan membesarkan anak-anak kita hingga Nara dan Rana menjadi anak yang hebat dan sukses. Doain aku ya Pih, supaya aku segera bangkit dari kesedihan dan keterpurukan ku ini. Kami semua sangat menyayangi Papih," ucap Bi Nana dalam hatinya, di barengi air matanya yang lolos membasahi pipinya.
Lalu....
Bi Nana terharu mendengar ucapan Nara, seketika ia langsung memeluk anak laki-lakinya itu dan menangis. Nara mendongakkan kepalanya ke arah Bi Nana.
"Mamih jangan nangis dong! Nanti Nara ikutan nangis, kalau Nara nangis nanti Papih marahin Nara lagi," tutur Nara seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Mamihnya.
"Maafkan Mamih ya Nara kalau Mamih menangis di depan Nara," ucap Bi Nana.
"Iya Mih," balas Nara.
Beyza dan Irma yang melihatnya pun tak henti-hentinya mengusapkan air matanya.
Sesaat kemudian....
"Ayo kita pergi!" ajak Bi Nana sembari bangkit dari posisinya.
"Iya Mih."
Sebelum melangkah, Bi Nana mengusap nisan Pak Randy seraya mengucapkan selamat tinggal begitu pun dengan Nara dan Beyza. Setelah itu mereka melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Randy.
Akan tetapi saat hendak keluar dari pemakaman tiba-tiba Nara menghentikan langkahnya sambil menatap ke arah di mana makam Papihnya berada, ia pun tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sontak membuat Bi Nana serta lainnya keheranan.
"Nara...." tegur Bi Nana.
Nara pun segera menolehkan kepalanya ke arah Bi Nana.
"Iya Mamih...."
"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti Nara dan lagi ngapain tersenyum dan melambaikan tangan kamu seperti itu? Apa kamu melihat seseorang di sana?" cecar Bi Nana.
"Tadi ada Papih," jawab Nara menunjuk ke arah ia melihat.
"Papih?"
Nara menggeleng. "Bukan Mih, gak ada siapa-siapa di sana."
Bi Nana langsung meraih tangan Nara dan menggandengnya.
"Oh, yaudah kalau begitu ayo kita ke pergi dari sini!" ajak Bi Nana.
Mereka pun kembali melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang terparkir, sesaat setelah semuanya masuk, Beyza pun langsung melajukan kendaraannya menuju ke Villa milik para keponakannya.
**************************
Villa
Sementara itu, terlihat Zuy, Airin dan si kembar sedang di ruang keluarga yang berada di Villa Yiou, sedangkan Ray dan Davin masih tengah menikmati waktu istirahatnya di Villa sebelahnya yaitu Villa Z&R.
Lalu....
"Baby, Airin. Maaf ya lama!" seru Yiou seraya menghampiri mereka berdua dan nampak di tangannya memegang sebuah paper bag.
"Tidak apa-apa Kak," balas Zuy.
__ADS_1
Perlahan Yiou mendudukkan dirinya di lantai beralaskan karpet bulu tepat di samping Zuy. Kemudian ia mengeluarkan paper bag yang ia bawa itu.
"Ini untuk kamu, Rin." Yiou menyerahkannya pada Airin membuat Airin terperangah.
"U-untuk ku?"
"Iya Rin, hari ini kan kamu ulang tahun, jadi ya anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku untuk kamu, Rin." ujar Yiou. "Ambillah!"
Airin menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Mrs Yiou." Airin lalu mengambil paper bag tersebut dari tangan Yiou. "Terimakasih banyak Mrs Yiou," sambung ucapnya.
Yiou tersenyum dan berkata, "Sama-sama Rin, semoga kamu suka dan Selamat ulang tahun ya Rin, semoga apa yang kamu inginkan secepatnya terkabul serta doa yang terbaik untukmu."
Senyum bahagia Airin pun terpancar di wajah cantiknya.
"Sekali lagi terimakasih Mrs Yiou untuk hadiah dan doanya, aku benar-benar sangat bahagia. Eemmm, bolehkah aku membuka hadiah dari anda, Mrs Yiou?" Airin berucap kembali sekaligus meminta izin membuka hadiahnya.
"Tentu boleh, hadiah itu kan sudah menjadi milik kamu, Rin." balas Yiou.
Mendengar itu, Airin pun langsung membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah sebuah tas branded dengan merk terkenal.
Soal harganya jangan di tanya ya! Hanya Yiou yang tahu, mwehehehe....
Sontak membuat mata Airin terbelalak dan mulutnya sedikit menganga karena tercengang melihat hadiah dari Yiou.
"Mrs Yiou, i-ini ...," Airin menatap Yiou. "Apa anda tidak salah memberikan hadiah ini untukku?" sambung tanyanya sambil menunjuk ke arah hadiahnya.
"Tidak Rin, memangnya ada apa hm? Apa kamu tidak suka dengan hadiah yang aku berikan ini? Kalau begitu aku bisa menukarnya dengan yang lainnya sesuai dengan apa yang kamu sukai," lontar Yiou.
Airin pun langsung mengibaskan tangannya lalu berkata, "Eh, tidak maksudku bukan seperti itu Mrs Yiou. Justru aku sangat menyukai hadiah yang anda berikan untukku, karena kebetulan tas milikku sudah rusak. Hanya saja ...."
"Hanya saja apa Rin?"
"Hanya saja ini terlalu mewah untukku, Mrs Yiou. Dan lagi apa aku pantas menerima hadiah sebagus dan semahal ini?"
Yiou menghela nafasnya seraya meraih tangan Airin dan menggenggamnya.
"Hei, kenapa kamu berbicara seperti itu? Tentu saja kamu pantas menerima hadiah ini karena aku memang memberikan hadiah untuk mu, lagian juga hari adalah hari ulang tahun mu. Kecuali kalau kamu tidak suka hadiahnya, kamu bisa menolaknya Rin," lontar Yiou.
"Benar apa yang di katakan oleh Mrs Yiou, Rin." sambung Zuy.
Airin sangat terharu bahkan buliran beningnya pun lolos membasahi pipinya.
"Lho kok malah nangis Rin?" tanya Yiou yang keheranan.
"Aku menangis karena aku bahagia Mrs Yiou, Zuy. Aku benar-benar sangat bahagia dan bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang baik seperti kalian semua. Terimakasih untuk semuanya karena telah menerima ku di sini," ucap Airin membuat Yiou dan Zuy tertegun mendengarnya.
Zuy mengusap air mata Airin, kemudian mereka bertiga saling berpelukan layaknya Teletubbies membuat Baby R dan Baby Z memandangi mereka bertiga, seketika suara ocehan pun keluar dari mulut mungil si kembar.
...----------------...
—Pukul 08.37pm
Tak terasa waktu berlalu cepat, langit yang cerah pun kini perlahan mulai mengubah warnanya.
Zuy nampak berada di kamar si kembar dan tengah memberikan ASI-nya untuk anak cantiknya itu, sedangkan si anak gantengnya yaitu Baby R sudah tertidur pulas setelah menikmati makanan favoritnya yaitu ASI dari Mamahnya.
Sesaat Ray pun masuk ke dalam kamar si kembar dan berjalan menghampiri pujaan hatinya.
"Sayangku...." panggil Ray.
Zuy menolehkan kepalanya ke arah Ray, lalu ia menempatkan jari telunjuknya ke mulutnya.
"Sshhht.... Jangan berisik Ray!" tutur Zuy dengan nada lirih.
"Oh, maaf sayangku." ucap Ray sambil mendudukkan dirinya di samping Zuy. "Apa anakku yang cantik ini udah tidur sayangku?"
"Matanya sih merem tapi mulutnya masih belum mau lepas," ujar Zuy.
"Oh...."
Ray mendekatkan wajahnya ke arah pipi tembem Baby Z dan menciumnya, kemudian beralih mencium pipi dan bibir pujaan hatinya itu.
"Rayyan...."
"Biar adil sayangku, lagian pipi dan bibir kamu menggodaku sih jadi ya aku cium sekalian, hehehe...." ujar Ray di susul tawa kecilnya.
Sehingga membuat Zuy memutar bola matanya di barengi helaan nafasnya.
"Hummmph, bisa aja kamu Ray," gumam Zuy namun berbeda dengan pipinya yang merona.
Sesaat kemudian, Baby Z pun tertidur pulas dan melepaskan mulutnya dari ASI Mamahnya itu. Lalu perlahan Ray mengangkat Baby Z dari pangkuan Zuy dan beralih ke arah box si kembar. Dengan hati-hati Ray menempatkan tubuh Baby Z ke dalam box tidurnya samping Baby R.
"Bobo yang nyenyak ya si ganteng dan cantiknya Daddy, mimpi ya indah sayang." ucap Ray mengelus kepala kedua anaknya itu.
Setelah itu, Ray dan Zuy melangkah keluar dari kamar si kembar dan bergabung dengan lainnya yang berada di ruang keluarga.
****************************
Rumah Dimas
Kala itu Dimas baru saja pulang dari rumah sakit dan sebelum menuju ke arah kamarnya, Dimas terlebih dahulu menjejakkan kakinya ke arah kamar Bunda Artiana
Karena Dimas tidak melihat Bunda Artiana di ruang tamu maupun di ruang keluarga.
Saat sudah berada di depan kamar Bunda Artiana dan hendak membuka pintunya, tiba-tiba....
Bruuuk!
Terdengar suara gaduh dari dalam kamar, sontak membuat Dimas terkejut, ia pun langsung membuka pintu kamar Bunda dengan keras.
"Bunda!!"
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1