
<<<<<
Lalu kemudian ia kembali menengadah melihat Zuy, terlihat jelas air mata yang sudah memenuhi mata Davin itu.
"Tu-Tuan Ray, dia ...."
"Ray kenapa Pak?" sela Zuy.
"Dia di ..., hiks."
Perkataannya terhenti karena di ganti oleh suara isak tangisnya yang keluar dari mulutnya di sertai air matanya yang menggelinding ke bawah. Sontak membuat Zuy dan Airin terbelalak melihatnya, lalu mereka berdua pun langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Pak Davin, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Pak Davin malah menangis? Ray baik-baik aja kan, tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya kan Pak?" cecar Zuy.
Rasa khawatir dan panik mulai terlukis di wajah cantiknya, terlihat juga matanya sudah mulai menggenang. Sedangkan yang di tanya malah terus saja terisak sembari menundukkan kepalanya.
"Pak!" Zuy mengarahkan kedua tangannya ke arah Davin dan menempatkannya di kedua bahunya seraya memegangnya.
"Kenapa Pak Davin tidak menjawab pertanyaan ku? Cepat katakan Pak! Apa yang terjadi dengan Ray sampai membuat Pak Davin menangis seperti ini?" Zuy kembali bertanya Davin dengan nada keras, genangan air matanya pun tak dapat di tampungnya lagi sehingga jatuh berlinang membasahi pipinya itu.
Akan tetapi Davin tetap saja bergeming membuat rasa penasaran, cemas dan paniknya pun semakin menyerang di diri Zuy.
"Lihat aku Pak! Dan katakan padaku yang sejujurnya tentang apa yang terjadi dengan Rayyan. Jangan bikin aku semakin penasaran dan cemas seperti ini Pak!" Zuy terus mendesaknya agar Davin secepatnya berbicara.
Airin yang sedari tadi diam pun langsung mendekat ke sahabatnya, di elusnya punggung Zuy seraya menenangkannya sehingga membuat Zuy sedikit tenang dan perlahan menurunkan tangannya dari bahu Davin. Setelah itu, ia beralih melihat ke arah Davin yang masih tertunduk.
"Pak, sebenarnya apa sih yang ingin Pak Davin sampaikan pada Zuy tentang Tuan bos? Kenapa Pak Davin di tanya malah diam dan menangis seperti itu? Jangan suka bikin orang penasaran dan cemas dong Pak! Apa Pak Davin gak kasihan sama Zuy? Hm!" Airin ikut mencecar Davin.
Untuk sesaat Davin mengusap matanya, lalu ia kembali mendongakkan kepalanya menatap Zuy dan Airin.
"Maafin aku, Zuy, Airin! Aku tidak bermaksud membuat kalian cemas dan penasaran. Hanya saja aku tidak bisa menahan air mataku ini dan aku juga bingung harus bagaimana mengatakannya pada kalian terutama kamu, Zuy." lontar Davin.
"Ngapain mesti bingung segala sih, tinggal katakan saja yang sebenarnya terjadi pada Tuan Ray supaya kami tidak cemas dan penasaran Pak!" pekik Airin mewakili Zuy.
Davin membuang nafasnya sejenak.
"Baiklah, kalau begitu ayo kalian ikut aku!"
Zuy mengernyit. "Ikut?"
"Memangnya Pak Davin mau bawa kami kemana?" tanya Airin.
"Bukannya kalian cemas dan ingin tahu keadaan Tuan Ray?"
Keduanya pun mengangguk secara bersamaan.
Zuy lalu berkata, "Tentu saja aku ingin tahu Pak. Tapi sebelum itu, tolong jelaskan dulu padaku yang sebenarnya? Jangan bikin aku semakin penasaran Pak!"
"Ya aku akan menjelaskannya padamu, Zuy. Tapi tidak untuk sekarang karena keburu malam dan sudah tidak ada waktu lagi." ujar Davin.
"Tapi Pak...."
Tanpa berkata lagi, Davin pun langsung menggandeng tangan Airin dan Zuy, lalu membawa keduanya keluar dari Villa.
Setelah berada di luar Villa Davin, Airin dan Zuy berjalan menelusuri pantai menuju tempat yang di tujunya itu.
Selama perjalanan, pria glowing mirip Oppa itu pun terus menggandeng tangan keduanya tanpa melepasnya.
Lalu....
"Pak, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Zuy.
"Nanti kamu juga akan tahu kalau sudah sampai di tempat tujuan, Zuy." jawab Davin.
Zuy tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman gandengan tangan Davin. Sehingga Davin memutar badannya menghadap ke arah Zuy begitu pula dengan Airin.
"Zuy...." lirih Airin.
"Ada apa Zuy? Kenapa berhenti?"
"Pak, tolong katakan padaku yang sejujurnya! Apa yang terjadi sebenarnya dengan Ray?" Zuy kembali menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya.
"Baiklah, sekarang juga aku akan mengatakannya padamu," Davin menghela nafasnya sejenak. "Sebenarnya saat ini Tuan Ray sedang terluka Zuy." sambung jelasnya.
Sontak Zuy dan Airin pun sangat terkejut mendengarnya.
"Ya ampun Tuan bos," lirih Airin menutup mulutnya dengan tangannya.
Lalu....
"Apa! Rayyan terluka?!" sentak Zuy, matanya pun kembali berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis.
Davin mengangguk. "Iya Zuy dan dia sangat membutuhkan kamu," jawabnya.
Seketika tubuh Zuy terasa lemas dan hampir terjatuh, untung saja Airin dengan sigap menahannya sehingga Zuy tidak terjatuh.
"Zuy...."
"Ke-kenapa Ray bisa terluka Pak? Bukannya banyak pengawal yang menjaganya?" cecar Zuy dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
Davin menggelengkan kepalanya.
"Aku juga gak tahu Zuy. Waktu itu aku tidak ikut Tuan Ray meeting di luar, karena aku harus menggantikannya di Kantor. Lalu tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari salah satu pengawal, kalau Tuan Ray terluka gara-gara di serang beberapa orang dan sekarang dia sedang berada di suatu tempat. Makanya sekarang aku mengajak kalian pergi ke tempat di mana Tuan Ray berada," ujar Davin.
Zuy menarik nafasnya dan membuangnya seraya mengusap air matanya, kemudian ia menatap lekat pria glowing di hadapannya itu.
"Kalau begitu, cepat bawa aku kesana sekarang! Aku ingin melihat keadaan Ray." pinta Zuy.
Davin mendesah. "Ya kan aku memang ingin membawamu kesana Zuy, tapi kamu malah berhenti dan bertanya kembali." celetuknya.
Sehingga membuat Zuy tertunduk sembari meminta maaf, lalu sesaat mereka bertiga pun kembali melangkahkan kakinya.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit berjalan, mereka bertiga pun sampai di tempat tujuan yang tak lain adalah Pelabuhan yang terletak tak jauh dari tempat Villa mereka berada.
Zuy dan Airin membelalakkan matanya secara bersama, sesaat pandangan keduanya pun beralih ke Davin.
"Pak kita di pelabuhan?" tanya Zuy.
"Iya, kenapa Pak Davin membawa kami kesini?" sambung Airin.
"Ya karena ini tempatnya dan Tuan Ray sedang berada di dalam kapal itu!" Davin menunjuk ke arah sebuah kapal yang tengah berlabuh di sana.
Keduanya pun memalingkan wajahnya ke arah di mana kapal yang di tunjuk oleh Davin.
"Pak Davin serius kalau Ray ada di kapal gelap itu?" tanya Zuy memastikan.
"Iya, yaudah ayo kita kesana!" ajak Davin dan hanya di balas anggukan oleh keduanya.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah kapal dan sesaat setelah berada di atas kapal, tiba-tiba lampu menyala dengan sendirinya, sehingga kapal yang tadinya gelap kini menjadi terang.
Airin lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Zuy, menurut mu horor gak sih lampunya tiba-tiba menyala sendiri?" bisik Airin.
"Ya memang horor sih Rin, tapi mungkin aja ada seseorang yang menyalakan lampunya." balas Zuy berbisik. "Dari pada itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini, dan lagi di mana Ray sebenarnya?" batin Zuy.
Davin yang berdiri di belakang Zuy dan Airin pun mendekat, lalu di tepuknya punggung mereka berdua.
"Eta Mamah aya jurig bodas," lontar Airin karena kaget, lalu ia menengok kebelakang. "Pak Davin!"
Davin terkekeh geli. "Ternyata kamu bisa latah juga ya Rin."
"Ya semua orang juga kalau lagi kaget pasti latah Pak! Lagian ngapain sih iseng banget nepuk punggung orang segala." Airin menggerutu.
"Ya maaf Rin! Lagian kalian asik berbisik sih," papar Davin. "Yaudah ayo kita masuk ke dalam!"
Davin melangkahkan kakinya terlebih dahulu, lalu di susul Airin dan Zuy. Saat sudah masuk ke dalam, keduanya pun tercengang karena melihat desain interior dalam kapal tersebut. Ada beberapa lampu hias, bunga-bunga cantik serta dua meja makan dengan masing-masing lilin di atasnya.
"Wow, indah sekali." Airin berdecak kagum.
Zuy pun kembali menatap Davin dengan tatapan mata tak biasa.
"Pak Davin, apa maksud dari semua ini? Bukannya tadi Pak Davin ingin membawa ku ke Ray? Tapi kenapa malah ke tempat indah seperti ini?" cecar Zuy.
Sebelum berkata, Davin kembali menghela nafasnya.
"Maaf Zuy, sebenarnya ...."
"Sebenarnya aku yang menyuruh Kak Davin untuk membawa kamu kesini, sayangku." seru seseorang.
Sehingga berhasil membuat ketiganya menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah....
"Rayyan > Tuan bos!" lirih Zuy dan Airin bersamaan.
Sontak Zuy langsung berlari kecil ke arah lelaki tampannya itu, setelah saling berhadapan ia langsung memegang pipi Ray.
"Ray ini beneran kamu?" tanya Zuy menyidik.
"Iya ini aku, sayangku." jawab Ray.
Zuy pun memeluk tubuh kekar Daddy dari anak-anaknya itu.
"Syukurlah, hiks...." ucap Zuy di barengi aliran bening yang turun dari matanya.
Ray mengelus rambut Zuy seraya mencium puncak kepalanya. Lalu sesaat mereka melepaskan pelukannya.
"Sayangku, kenapa kamu menangis?" tanya Ray menyeka air mata pujaan hatinya.
"Aku menangis karena khawatir sama kamu, Ray. Aku benar-benar takut kalau kamu kenapa-napa soalnya Pak Davin tadi bilang padaku kalau kamu di serang orang dan terluka. Terus dia juga yang mengajakku kesini karena kamu ada di tempat ini, Rayyan." jelas Zuy.
Mendengar itu, Ray malah menyunggingkan senyumnya seraya memegang bahu pujaan hatinya.
"Sayangku, lihat aku! Aku baik-baik aja, tidak ada yang terluka sama sekali dan lagi sebenarnya aku tidak di serang oleh siapa-siapa." ujar Ray menoel caping hidung Zuy.
"Tapi tadi Pak Davin ...."
"Hmmm, soal itu sebenarnya aku yang menyuruh Kak Davin untuk membohongi sayangku, supaya sayangku di bawa kesini dan melihat kejutan yang aku berikan untukmu, sayangku." ungkap Ray.
Zuy tercengang. "Apa! Berarti yang di katakan Pak Davin tadi itu ...."
"Jangan menatapku Zuy! Aku hanya di suruh aja!" lirih Davin menghindari tatapan Zuy.
Sedangkan Airin yang berada di samping Davin pun memukul punggung Davin dengan keras.
"Aww! Singa betina, kenapa kamu memukul punggung ku sih?"
"Untuk mewakili Zuy dan lagi siapa suruh membohongi ku juga, hm...." cetus Airin.
"Ya maaf kalau aku juga membohongi mu, lagian kalau kamu tau rencana Tuan Ray, pasti kamu langsung beritahu Zuy. Iya kan?" papar Davin.
"Um, gak juga Pak. Hehehe...." Airin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Humph!" Davin mendengus.
Sesaat kemudian....
Ray dan Zuy sudah duduk di salah satu meja makan yang berada di sana. Sedangkan Davin dan Airin lebih memilih di luar, dengan alasan ingin melihat pemandangan laut dari atas kapal, juga tidak ingin mengganggu pasangan yang suka bermesraan itu.
Para pelayan datang sembari membawakan makanan mewah dan meletakkannya di atas meja. Kemudian mereka berdua pun langsung menikmatinya. Seperti biasanya, kemesraan selalu di tunjukkan oleh mereka berdua.
Sesaat mereka pun selesai menikmati makanannya itu. Lalu....
"Um, Ray...."
"Iya sayangku."
"Terimakasih ya tampan-ku untuk kejutan mewah yang kamu berikan malam ini," ucap Zuy.
Ray tersenyum dan berkata, "Sama-sama sayangku, lalu apa kamu suka dengan kejutan yang aku berikan ini?"
Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, aku sangat menyukainya."
"Syukurlah kalau sayangku menyukainya. Oh iya ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," kata Ray.
"Oh iya, memangnya sesuatu apa yang ingin kamu tunjukkan padaku, tampan-ku?" tanya Zuy.
Ray lalu beranjak dari tempat duduknya seraya mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Ayo ikut aku!"
Zuy pun menggenggam tangan Ray dan bangkit dari posisinya, Ray lalu membawa Zuy ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar yang berada di dalam kapal tersebut.
Saat sudah berada di dalam, Zuy kembali tercengang karena pemandangan kamar tersebut, yang di hiasi lilin-lilin, taburan kelopak bunga yang berserakan di lantai, sedangkan di atas kasur kelopak bunga tersebut berbentuk hati serta sepasang boneka beruang.
"Waah cantiknya...." ucap Zuy berdecak kagum.
Lalu tiba-tiba Ray mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya ala bridal style.
"Ray kenapa menggendong ku?"
"Biar romantis sayangku."
Ray berjalan menuju ke arah tempat tidurnya, saat sudah di dekat ranjangnya, ia pun menurunkan tubuh pujaan hatinya di atas kasur.
__ADS_1
Setelah itu, Ray duduk di samping Zuy sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas-nya yang tak lain adalah sebuah kotak berbentuk hati, lalu ia pun menyodorkannya pada Zuy.
"Sayangku, ini untuk kamu!"
"Apa ini Ray?" tanya Zuy.
"Ambil dan bukalah!" titah Ray.
Zuy pun mengambil kotak hati tersebut dari tangan Ray dan membukanya. Seketika membuat Zuy terperangah melihat isi dari kotak hati tersebut yang ternyata adalah sebuah kalung permata dengan liontin yang bertuliskan nama Zoey Lestari.
"Cantiknya," Zuy menengadah melihat Ray. "Ini beneran untuk ku Ray?"
Ray mengangguk. "Iya itu untuk kamu, sayangku. Apa kamu menyukainya?"
"Iya aku sangat menyukainya, terimakasih Daddy tampannya anak-anakku."
"Apapun untuk kamu, sayangku."
Mendengar itu membuat Zuy tersenyum bahagia, melihatnya pun membuat Ray terpesona. Ia lalu memegang dagu Zuy seraya mendekatkan wajahnya.
Saat bibirnya saling bersentuhan, ia pun menyesapnya hingga ke dalam. Puas menikmatinya ia pun beralih ke leher dan Squishy besar pujaan hatinya itu hingga meninggalkan jejak merah.
Kini tubuh keduanya pun sudah mulai memanas, Ray menindih tubuh Zuy seraya memasukkan geoduck miliknya ke terowongan sempit pujaan hatinya sembari menggerakkan pinggulnya maju-mundur sampai si geoduck menyelesaikan aktivitas rutinnya.
(Bocil skip ya! ✌️✌️)
Sementara itu....
Beberapa saat setelah menikmati makan malamnya di kapal, Airin dan Davin kini tengah berjalan di tepi pantai menuju ke arah Villanya.
"Hei singa betina!"
Airin menoleh. "Hmmm, ada apa Pak?"
"Di rambut kamu sepertinya ada yang menempel," ujar Davin.
"Hah! Ada yang menempel?" Airin langsung memegang kepalanya. "Di sebelah mana Pak?"
"Di sebelah situ Rin."
"Yang ini?"
Davin menggeleng. "Bukan Rin."
"Yang ini?"
"Bukan juga."
Airin mendengus. "Sebenarnya yang menempel di sebelah mana sih Pak? Coba tolong ambilkan!" pintanya.
"Baiklah, akan aku ambilkan sesuai permintaan mu, singa betina."
Davin lalu mengulurkan tangannya dan menempatkannya di atas kepala Airin, setelah itu ia pun mengusap-usap kepala Airin hingga rambutnya berantakan.
"Pak Davin! Kenapa rambut ku malah di berantakin segala sih? Bukannya mengambil apa yang menempel di rambutku itu." pekik Airin.
"Hahaha, sebenarnya tidak ada yang menempel Rin, aku hanya ingin menggoda mu saja."
"Apa! Jadi Pak Davin membohongiku ya?" cecar Airin mengernyitkan keningnya.
"Waduh singa betina udah mulai ngamuk nih, lariii!!!" Davin langsung mengambil langkah seribu dan meninggalkan Airin.
"Pak Davin, jangan lari!" seru Airin.
"Bleeeh...." Davin menjulurkan lidahnya pada Airin.
Sehingga Airin kembali mendengus kesal, kemudian ia pun berlari mengejar Davin membuat Davin mempercepat laju larinya. Akan tetapi....
Kedebug!!
Davin terjatuh hingga wajahnya menyentuh pasir. Melihat itu, Airin bergegas mendekat ke arah Davin.
"Pak Davin, apa Pak Davin baik-baik aja?" tanya Airin sembari membungkukkan badannya.
Seketika Davin mendongakkan kepalanya.
"Pheew.... Aku jatuh Rin, tentu saja aku tidak baik-baik saja," gumam Davin seraya menyemburkan pasir yang menempel di bibirnya.
Pffft....
"Bwahahaha.... Hahaha.... Hahaha...." Airin tertawa terbahak-bahak.
Davin mengernyit heran. "Singa betina, kenapa kamu malah tertawa seperti itu?"
"Habisnya itu butiran pasir pada menggelinding di wajah Pak Davin, gimana aku gak ketawa coba." lontar Airin.
"Humph dasar singa betina! Suka ya kalau udah ngeledek orang." gerutu Davin.
Airin pun tersenyum menampilkan baris giginya serta mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
...----------------...
Tak terasa malam yang panjang kini telah beranjak pergi dan berganti menjadi pagi yang cerah di sinari hangatnya sinar mentari pagi.
Apartemen
Pagi itu, di dalam Apartemennya yang terletak di lantai lima, Archo nampak tengah menikmati sarapannya. Lalu tiba-tiba....
Teeet....
Suara bel pintu Apartemennya terdengar begitu nyaring, sehingga Archo langsung menghentikan aktivitas sarapannya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu.
Saat sudah berada di dekat pintu, ia pun memutar handle pintu dan menariknya sehingga pintu terbuka.
"Kau!!"
***Bersambung....
•Hmmm, apakah yang datang itu seseorang spesial? 🤔
See you next time.... 😉
°Please hug me, Beb! 😢
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌