Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Para Serangga....


__ADS_3

<<<<<


"Ada apa Wan? Kenapa kamu berhenti mendadak?" pekik Ray.


"Maaf Tuan! Ta-tapi itu ada sekelompok orang menghadang jalan kita." ujar Wawan.


"Apa!"


Ray mengarahkan pandangannya ke depan dan apa yang di katakan Wawan ternyata benar, bahwa ada sekelompok orang berjumlah sekitar tujuh orang sedang berdiri di tengah jalan menghadang mobil yang di tumpangi Ray.


"Ciih, hanya sekelompok serangga kecil beraninya menghadang jalan ku."


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan Ray?" tanya Wawan.


"Tentu saja kita akan mengikuti permainan mereka, Wan."


Wawan manggut-manggut. Terlihat salah satu dari kelompok tersebut berjalan mendekat ke mobil Ray dengan membawa sebuah tongkat besi.


Braaaak....


Ia memukul keras bagian kap mobil dengan tongkat yang di bawanya, selepas kemudian berjalan ke arah pintu mobil di mana Ray berada sembari menodongkan tongkatnya.


"Yang di dalam cepat keluar! Kalau tidak, akan aku hancurkan mobil ini." gertaknya.


Pufft....


Ray dan Wawan pun terkekeh geli karena menganggap gertakannya sebagai lelucon.


"Dasar serangga bodoh!" celetuk Wawan.


Lalu....


"Wan."


Wawan mengalihkan pandangannya ke arah Tuannya.


"Iya Tuan."


"Tetaplah di sini dan awasi sekitar! Bilang ke semua pengawal untuk tidak bertindak terlebih dulu sebelum aku memberikan aba-aba atau keadaan darurat! Sebab aku ingin berolahraga sebentar dengan para serangga itu." perintah Ray.


Wawan pun mengangguk. "Siap Tuan. Tapi Tuan harus hati-hati, jangan sampai terluka!"


"Hmmm...." Ray tersenyum, lalu ia membuka pintunya dan turun dari mobilnya.


"Keluar juga mangsa ku ini." lontar si penjahat itu.


"Ada perlu apa Tuan, sampai menghadang jalan kami?" tanya Ray dengan sopan.


Sebelum membuka suara pria itu terlebih dahulu memandangi Ray dari atas sampai bawah.


"Heh, ternyata kalau di lihat-lihat pria ini nampak sangat lemah, tidak seperti apa yang di katakan oleh orang itu." batin pria itu sembari tersenyum smirk.


Ia pun kembali menodongkan tongkat besinya pada Ray.


"A-apa yang anda lakukan Tuan? To-tolong jangan sakiti saya!" ucap Ray dengan nada seperti orang yang sedang ketakutan.


Padahal yang sebenarnya Ray hanya bersandiwara saja.


"Cepat serahkan semua barang-barang berharga milik mu itu!" ia berjalan mendekat ke arah Ray.


"Barang apa? Saya tidak punya barang berharga apapun." lontar Ray seraya berjalan mundur.


"Jangan bohong!" sentak si pria. "Cepat berikan padaku! Atau aku hancurkan kepala mu dengan tongkat ku ini!" sambungnya.


Langkah Ray terhenti karena terhalang oleh mobilnya itu.


"Cepat berikan semua barang berharga-mu padaku!" suara lantang dari si penjahat.


"I-iya akan saya berikan! Tunggu sebentar Tuan."


Ray merogoh saku belakang celananya untuk mengeluarkan dompetnya. Setelah itu ia menyodorkan dompet miliknya pada si penjahat yang berada di hadapannya.


"I-ini Tuan, tapi saya mohon jangan apa-apakan saya!" ucap Ray dengan nada terbata.


Penjahat itu pun tersenyum smirk lalu berkata, "Hmmm, kalau di lihat-lihat dompet mu tebal juga ya, pasti isinya sangat banyak."


Dan ketika ia akan mengambil dompet tersebut dari tangan Ray, dengan sengaja Ray menjatuhkan dompet miliknya itu ke tanah membuat si penjahat berkerut kening.


"Ma-maaf Tuan! Saya tidak sengaja menjatuhkannya karena tangan saya mendadak kram."


"Dasar pria lemah, bodoh!" umpatnya.


Kemudian ia membungkukkan badannya dan mengambil dompet milik Ray yang berada di tanah. Akan tetapi—


"Kena kau!" Ray menyeringai lalu mengayunkan kakinya dan ....


Duaaak!


Satu tendangan keras dari Ray tepat mengenai dadanya hingga membuatnya tersungkur.


"Kurang aj*r!" teriak si penjahat.


Ray mendekat ke arahnya seraya menatapnya dengan tatapan tajam membunuh.


Penjahat itu pun membelalakkan matanya seraya menunjukkan ekspresi wajahnya yang terkejut karena melihat Ray yang nampak berbeda dari sebelumnya.


"Ke-kenapa dia berbeda dengan yang tadi?" batinnya.


Ray mencondongkan tubuhnya ke arah penjahat tersebut.


"Kenapa ekspresi anda seperti itu, Tuan penjahat? Apa ada yang aneh dengan saya? Hm!"


Ray memampang senyum sinisnya, lalu ia mencengkeram kerah si penjahat dengan kuat sampai lehernya terasa tercekik.


"Aaargh, sakit. Lepaskan aku!" penjahat itu memekik.


"Sakit? Begini saja kamu sudah kesakitan. Mana tampang mu yang barusan seperti seorang berandal sampai ingin menghancurkan kepala ku, hah!" sentak Ray dan ....


Bugh!


Satu pukulan keras dari Ray pun mendarat sempurna di wajah penjahat, kemudian di hempaskan tubuhnya itu hingga kembali tersungkur di tanah.


Si penjahat memutar kepalanya melihat ke arah teman-temannya.


"Dasar bodoh! Kenapa hanya berdiri saja? Cepat hajar dia sekarang!" perintahnya pada ke enam temannya yang sejak tadi hanya berdiam diri saja.


Ke-enam temannya langsung menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Iya ketua." balas salah satu dari mereka.


Lalu ke-enam penjahat tersebut langsung mendekat ke arah Ray dan mengelilinginya.


"Menyerahlah kalau mau selamat!" gertak salah satunya.


Lagi-lagi seringai lebar terlukis di wajah tampan pria yang kini sudah memiliki dua anak.


"Hhh, menyerah? Kata-kata seperti itu hanya cocok untuk serangga-serangga seperti kalian yang bisanya hanya menggertak saja." sindir Ray.


"B*stard! Ayo semuanya, kita serang dan selesaikan orang ini sampai dia tidak bisa berbicara sombong lagi!"


Mereka pun mulai menyerang Ray dan akhirnya terjadilah baku hantam antara Ray serta sekelompok orang jahat itu.


Sedangkan penjahat yang satunya, untuk sementara jadi penonton dulu sebab ia masih merasakan sakit di dada dan wajahnya akibat tendangan serta pukulan dari Ray.


Hanya butuh waktu sesaat, Ray berhasil melumpuhkan satu-persatu lawannya sampai mereka semua tergeletak di tanah. Kemudian ia mendekat ke salah satu dari penjahat dan mencengkeramnya lehernya dengan kuat.


"Le-lepaskan saya!"


"Cepat katakan padaku siapa yang menyuruh kalian untuk menghadang jalan ku?" cecar Ray dengan nada tinggi.


"Ti-tidak ada yang menyuruh kami, kami bergerak sendiri sesuai keinginan kami yang ingin merampas harta benda milik anda." jawabnya terbata-bata.


"Ciiih!"


Ray kembali melampiaskan amarahnya dengan melayangkan tinjunya ke wajah orang yang di cengkeramannya itu.


Dan di saat yang sama pula, salah seorang yang di yakini sebagai ketua kelompoknya tadi perlahan mendekat ke arah Ray sembari membawa tongkat besinya tadi.


Ketika berada di belakang Ray, ia pun segera mengayunkan tongkat besi tersebut ke arah kepala Ray. Akan tetapi ....


DOR!


DOR!


Tongkat yang di genggamnya pun langsung terlepas dan terjatuh di tanah sebab dari arah belakang tubuhnya seorang pengawal Ray terlebih dahulu melesatkan dua peluru karet dan mengenai kedua tangan si penjahat tersebut.

__ADS_1


Ray memutar badannya seraya mendaratkan tendangan kerasnya kembali di tubuh si penjahat itu hingga tergolek di tanah.


Wawan dan beberapa pengawal segera menghampiri Ray.


"Tuan Ray, apa anda baik-baik saja?" tanya Wawan.


"Ya seperti yang kau lihat, Wan." Ray melihat ke para pengawalnya. "Kalian cepat tangkap dan bawa mereka ke tempat biasa!" lanjut titahnya pada pengawalnya.


"Siap Tuan Ray."


Para pengawal pun menganggukkan kepalanya bersamaan, kemudian menangkap sekelompok penjahat tersebut dan membawanya pergi.


"Terus sekarang kita kemana Tuan? Apa ikut mereka atau pulang ke Villa?" tanya Wawan.


"Aku lelah, jadi kita langsung pulang ke Villa saja! Untuk para serangga itu biar para pengawal yang mengurusnya."


"Baik Tuan."


Wawan terlebih dahulu berjalan ke arah mobil dan membukakan pintunya untuk Ray, setelah Ray masuk ke dalam mobilnya, ia pun menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Tuan Ray, kenapa tadi anda tidak memberikan aba-aba pada kami? Dan malah bertindak sendirian?" cecar Wawan sembari menyalakan mesin mobilnya.


Ray menghela nafasnya dan melipat kedua tangannya di dada.


"Sorry! Aku lupa karena terlalu bersemangat menghajar mereka. Dan lagi tadi aku sudah bilang ke kamu kalau aku ingin berolahraga sebentar dengan para serangga itu." cetus Ray.


"Iya Tuan maaf!" Wawan menundukkan kepalanya.


"Yaudah cepat jalankan mobilnya, kita pulang sekarang!" suruh Ray dan di balas anggukan oleh Wawan.


"Baik Tuan Ray."


Kemudian Wawan melajukkan mobilnya menuju arah Villa.


"Sebenarnya aku juga terbawa emosi, gara-gara para serangga itu aku jadi telat pulang. Huh, pasti sayangku sudah menunggu kedatangan ku," batin Ray sembari menyandarkan tubuhnya dan perlahan memejamkan matanya.


******************************


Villa Z&R


Sementara itu di dalam kamar si kembar, Zuy, Airin dan Bu Ima terlihat sedang menenangkan Baby R dan Baby Z, karena sedari tadi keduanya menangis tanpa sebab. Bahkan di sela tangis keduanya mengucapkan kata 'Da,da'.


"Cep-cep, jangan nangis lagi ya anak kesayangannya Mamah! Bentar lagi Daddy kalian datang sayang." ucap Zuy menggendong Baby Z sembari memberikan ASI-nya.


Sedangkan Baby R berada di gendongan Bu Ima seraya meminum ASIP (Asi Perah) yang di tempatkan dalam botol susu.


Sesaat setelah keduanya tenang dan kembali tertidur, Zuy perlahan membaringkan tubuh Baby Z ke dalam box-nya, begitu pula Baby R yang di baringkan di samping adiknya itu. Ketiganya pun menghela nafas leganya secara bersamaan.


"Akhirnya si kembar gembul ku kembali tenang dan tertidur," ucap Airin.


"Tumben banget anak-anak nangis kejer seperti itu? Padahal keduanya sama-sama lagi gak demam." lontar Bu Ima.


Zuy mengangkat bahunya.


"Entahlah Bu, mungkin anak-anak udah kangen sama Daddy-nya." ujar Zuy.


"Emm, memangnya Tuan bos belum ngasih kabar lagi ke kamu ya Zuy? Kalau dia sudah sampai mana?" tanya Airin.


"Belum Rin, bahkan hpnya pun sama sekali tidak bisa di hubungi." Zuy membuang nafasnya sejenak. "Tapi jujur sih, sebenarnya dari semalam perasaan Zuy gak enak seperti ada sesuatu gitu. Bahkan tadi pas anak-anak nangis kejer, dada Zuy ikut terasa sesak Rin, Bu Ima." sambung ungkapnya.


Mendengar itu, Bu Ima pun menempatkan tangannya di punggung Zuy dan mengelusnya.


"Nak, mungkin itu hanya perasaan mu saja. Lebih baik kamu berdoa supaya Tuan Ray gak kenapa-napa di perjalanan dan sampai ke rumah dengan selamat, ya!" tutur Bu Ima.


"Iya bener tuh kata Bu Ima," timpal Airin.


Zuy pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya terimakasih ya Bu, Rin." ucap Zuy.


Bu Ima dan Airin pun tersenyum.


"Oh iya Nak, apa kamu mau di buatkan sesuatu?" tanya Bu Ima.


Zuy menggelengkan kepalanya. "Gak Bu, untuk sekarang Zuy lagi gak pengen apa-apa. Lebih baik Ibu dan Airin langsung istirahat ya!"


"Tapi Zuy ...."


"Rin, besok pagi kamu kan kerja, kalau kesiangan bagaimana? Hm!"


"Nah gitu dong, baru namanya Nyonya Roveis. Hihihi...."


"Ck, apa sih Zuy. Kebiasaan deh suka godain aku terus. Untung orangnya udah tidur, coba kalau melek bisa-bisa wajah glowingnya berubah merah tuh," gumam Airin membuat Zuy kembali menyemburkan tawa kecilnya.


Airin dan Bu Ima pun mengembangkan senyumannya karena melihat Zuy tertawa.


Lalu....


"Yaudah kalau gitu Ibu kembali ke kamar ya Nak, tapi kalau ada apa-apa kamu langsung ke kamar Ibu, ya!"


"Iya Zuy, kamu juga harus menghubungi ku!"


Zuy kembali mengangguk. "Pasti, terimakasih ya Rin, Bu Ima."


"Sama-sama."


Bu Ima berjalan keluar terlebih dahulu dan di susul oleh Airin. Zuy kembali memandang kedua anaknya itu sembari mengelus keduanya kemudian ia mendekatkan wajahnya mencium Baby R dan Baby Z secara bergantian.


Selepas itu, ia beranjak dari kamar anaknya dan beralih ke balkon kamarnya.


Di balkon, Zuy terus saja berdiri seraya mengedarkan pandangannya ke bawah melihat sekeliling pantai, tanpa peduli dinginnya angin yang berhembus kencang dan menusuk ke tulangnya.


Lima belas menit berlalu, namun sosok pria tampannya belum juga terlihat di matanya membuatnya semakin cemas dan gelisah.


"Sebenarnya kamu lagi di mana? Jadi pulang apa tidak? Aku benar-benar khawatir, Ray." lirih Zuy di barengi buliran air matanya yang mengalir membasahi pipinya.


Ia mengusap air matanya dan ketika Zuy kembali mengarahkan pandangannya ke pantai, matanya pun terbelalak karena melihat seseorang yang di tunggunya muncul dan tengah berjalan menuju ke Villanya.


"Ray!"


Ia pun beranjak dari balkon dan berlari keluar kamarnya menuju ke arah tangga.


Sementara di sisi lainnya, Ray telah sampai di depan pintu Villanya seraya membuka kunci pintunya. Setelah pintu terbuka, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villanya.


"Rayyan...." seru Zuy.


Ray menengadah melihat pujaan hatinya yang tengah berlari ke arahnya.


"Sayangku jangan lari-lari nanti kamu jat—" ucapnya terhenti karena Zuy langsung memeluk erat tubuh kekarnya itu.


"Hhm.... Aku pulang sayangku." Ray membalas pelukan Zuy dan mencium puncak kepalanya.


Sesaat setelah saling melepas rindu, mereka berdua pun melepaskan pelukannya. Akan tetapi mata Zuy kembali terbelalak karena terkejut melihat buku-buku tangan Ray yang memerah.


"Ray, apa yang terjadi dengan tangan mu? Kenapa memerah seperti ini?" tanya Zuy.


Sehingga Ray beralih melihat ke arah tangannya.


"Ini sebenarnya ...." ia nampak ragu menjelaskannya pada pujaan hatinya.


Zuy tersenyum sembari menempatkan tangannya di pipi Ray.


"Kalau kamu ragu, lebih baik nanti aja jelasinnya ya! Sekarang kamu mau duduk di sini dulu atau langsung ke kamar?"


"Langsung ke kamar aja sayangku sekalian mau bebersih."


"Oh.... Yaudah kalau gitu kamu ke kamar duluan ya! Soalnya aku mau ke dapur bikin minuman hangat untuk kamu sekalian ngambil es batu." kata Zuy.


Ray mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oke sayangku yang cantik."


Cup....


Ray terlebih dahulu mengecup pipi pujaan hatinya, lalu bergegas ke kamarnya. Sedangkan Zuy berjalan ke arah dapur.


Sesaat kemudian, mereka berdua kini sudah bersama-sama di dalam kamar dan duduk di sofa. Zuy terlihat sedang mengompres tangan Ray menggunakan kantong kompres berisi es.


"Sayangku."


"Iya."


"Maaf ya kalau aku pulangnya terlambat. Soalnya tadi ...."


Tanpa pikir panjang, Ray menceritakan kejadian tadi pada pujaan hatinya, sontak membuat Zuy sangat terkejut mendengarnya sampai-sampai kantong kompres di tangannya terjatuh.

__ADS_1


"Ya ampun!" Zuy menatap Ray. "Terus apa yang terjadi dengan mu Ray? Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit atau terluka?" cecarnya seraya memeriksa tubuh Ray.


"Sayangku," Ray menempatkan kedua tangannya di bahu Zuy. "Aku baik-baik saja, tidak ada yang sakit ataupun terluka." lanjutnya.


Hiks....


"Pantas saja dari tadi perasaan ku gak enak terus si kembar juga nangis kejer sampai susah di tenangkan, ternyata ada sesuatu yang menimpa kamu, Ray." Zuy terisak.


Melihat pujaan hatinya menangis membuat hati Ray terenyuh, ia pun langsung merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya dengan erat.


"Maafin aku ya sayangku! Karena sudah membuat mu khawatir dan menangis seperti ini."


Zuy mendongak menatap wajah lelaki tampannya itu dan menempatkan tangannya di pipi Ray.


"Jangan minta maaf Ray! Karena ini bukan salah mu dan wajar kalau aku khawatir dengan kamu, sebab kamu pria tampan-ku, Daddy tampannya anak-anakku dan pria yang sangat aku cintai."


Ray tersenyum sumringah mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Zuy. Ia pun mendekatkan wajahnya seraya menempelkan dahi dan caping hidung mereka berdua.


"Coba sayangku ulangi lagi perkataan yang barusan kalau aku ini pria yang sangat kamu cintai!" pinta Ray.


Zuy tersenyum dan berkata, "Rayyan G Michael, kamu adalah pria yang tampan-ku yang sangat aku cintai."


"Aku benar-benar sangat bahagia mendengarnya, terimakasih sayangku." ucap Ray.


Ia mendaratkan ciuman di bibir Zuy dan menyesapnya hingga buas sampai Zuy kesulitan bernafas. Setelah beberapa menit puas menikmatinya, Ray kembali menghujani ciuman di wajah serta bagian yang paling di sukanya dan meninggalkan jejak kepemilikannya.


"Aku sangat mencintaimu, sayangku."


"Aku juga mencintaimu, tampan-ku."


(Banjir oe banjir.... 😁✌️✌️)


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Setelah mendapatkan perawatan intensif selama beberapa hari di Rumah sakit, Maria sudah di perbolehkan pulang dan kini tengah bersiap-siap.


Lalu....


"Archo."


"Iya Mam."


"Soal Desi, apa dia sudah di bebaskan?" tanya Maria.


Archo menggelengkan kepalanya. "Belum Mam."


"Kenapa belum, Archo?"


"Sebab dia juga bersalah Mam karena sudah bekerjasama dengan Noel."


"Kamu salah Archo, Desi tidak pernah bekerjasama dengan Noel. Dia anak yang baik, selama Mam di sekap di sana Desi yang selalu membantu Mam. Bahkan karena dia juga kamu jadi menemukan Mam." lontar Maria.


Archo pun bergeming sembari menundukkan kepalanya.


"Archo," Maria menggenggam tangan Archo. "Mam mohon sama kamu, Nak! Tolong bebaskan Desi dan biarkan dia menjadi perawat Mam!" sambung pintanya.


Untuk sesaat Archo menghela nafasnya dan menatap wajah Maria.


"Iya, nanti Archo akan berusaha untuk membebaskannya."


"Terimakasih ya sayang."


Archo hanya membalasnya dengan anggukan kepala saja.


"Oh iya, di mana Adriene?"


"Saya di sini Mrs Maria!" seru Adriene berjalan masuk dan menghampiri Maria.


Maria menyunggingkan senyumnya pada Adriene.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Maria.


"Saya barusan habis dari bagian Farmasi mengambil obat anda, Mrs Maria." jawab Adriene sembari menunjukkan kantong berisi obat pada Maria.


"Adriene, jangan panggil aku dengan sebutan Mrs Maria! Kamu harus memanggilku dengan sebutan Mam sama seperti Archo, ya sayang!" titah Maria.


Adriene menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Nanti saya akan mencobanya ya Mrs Maria."


"Oke."


Archo yang mendengarnya hanya bisa terdiam, namun tidak untuk hatinya yang berkata, "Setelah ini, aku harus membujuk Melan supaya mau di kenalkan ke Mam dan Daddy."


Sesaat kemudian Archo, Maria serta Maria keluar dari Rumah sakit tersebut dan pulang ke rumah Dimas.


...----------------...


Satu setengah jam berlalu....


Kini Archo dan lainnya sudah hampir sampai di rumah Dimas yang hanya tinggal beberapa saat lagi.


Rumah Dimas


Sementara itu Bunda Artiana dan Daddy Mario nampak berada di ruang tamu karena sedang menunggu kedatangan Maria. Lain halnya dengan Dimas yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya di Rumah sakit.


Sedangkan di sisi lainnya, terlihat mobil milik Zuy yang baru saja berhenti tepat di halaman rumah Dimas.


Karena beberapa saat sebelumnya Bunda Artiana menghubungi Zuy dan memintanya untuk datang dengan alasan bahwa Bunda Artiana sangat merindukan kedua cicitnya.


Setelah turun dari mobilnya, Zuy menggendong Baby R berjalan ke arah pintu masuk dan di susul Bu Ima yang menggendong Baby Z serta Airin yang ikut bersamanya.


"Permisi," ucap Zuy yang berdiri di ambang pintu.


Bunda Artiana dan Daddy Mario pun mengalihkan pandangannya ke arah Zuy.


"Cucuku!" Bunda Artiana tersenyum seraya bangkit dari posisinya. "Sini masuk Nak!"


Zuy melangkah masuk menghampiri Neneknya. Lalu ia mencium tangan Bunda Artiana.


"Akhirnya kamu datang cucuku."


"Iya Nek, maaf ya kalau Zuy jarang mampir ke sini," ucap Zuy.


"Tidak apa-apa, Nenek paham sayang." Bunda Artiana mengelus pipi cucunya itu.


"Terimakasih Nenek."


Zuy beralih ke arah Daddy Mario dan menjabat tangannya. Selesai bersalaman, Bunda Artiana mempersilahkan Zuy, Airin dan Bu Ima untuk duduk.


"Bagaimana kabar kamu, Zuy?" tanya Daddy Mario pada Zuy.


"Kabar Zuy baik-baik aja Mr Mario." jawab Zuy.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Daddy senang mendengarnya."


Zuy menyunggingkan senyum tipis pada Daddy Mario.


"Cucuku...."


Zuy beralih ke Bunda Artiana. "Iya Nek, ada apa?"


"Emmm, maaf ya cucuku! Sebenarnya Nenek meminta kamu datang ke rumah sebab Nenek ingin—"


"Bunda...." seru seseorang berhasil membuat Bunda Artiana menghentikan perkataannya.


Seketika Bunda Artiana menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya itu, begitu pula dengan Daddy Mario, Zuy beserta lainnya.


"Maria...."


***Bersambung....


•Nah lho anak dan Ibu ketemu lagi, gimana reaksinya ya? 🤔


Ray: "Thor, kalau sayangku sampai di tindas, aku giling kamu dengan mobilku! 👿"


Me: "Nani....!!! 😨"


See You Next Time... 😉


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2