
<<<<<
Sorot matanya Erlin seketika berubah, senyuman jahatnya pun terpancar di wajahnya itu.
"Heh! Lihat saja OB j*lang, sebentar lagi aku akan membuat hidup mu menderita untuk selama-lamanya," batin Erlin.
Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya.
"Anak Mamih sayang, apa kamu sudah makan?" tanya istri Pak Wildan.
Erlin menggeleng. "Belum Mih, Erlin gak nafsu makan di sini. Soalnya mereka ngasih Erlin makanan sampah," ujarnya.
"Makanan sampah?!"
"Iya Mamih. Masa iya Erlin di kasih makan cuma tempe sama sayuran aja, Erlin kan gak suka makanan seperti itu, Mih." kata Erlin.
"Apa! Kamu di kasih makanan seperti itu? Kurang ajar."
Mendengar perkataan Erlin membuat istri Pak Wildan tersentak dan perasaannya pun tercampur aduk antara marah dan sedih semuanya menyatu.
"Iya Mamih, makanya cepat bebaskan Erlin dari sini! Erlin benar-benar gak betah Mi," pinta Erlin.
"Iya sayang, setelah pulang dari sini Mamih akan bilang pada Papihmu. Kalau Papihmu tidak bisa membantu, Mamih akan cari cara lain," papar istri Pak Wildan
Seketika senyum Erlin terukir di wajahnya itu. Lalu kemudian istri Pak Wildan memberikan wadah bekal makanan pada Erlin.
"Ini apa Mih?" tanya Erlin sambil menerimanya.
"Itu makanan yang Mamih bawa dari rumah, ada steak daging, ayam dan semua makanan kesukaanmu," ujar istri Pak Wildan.
Erlin langsung memeluknya kembali.
"Terimakasih Mamih. Mamih memang yang terbaik," ucap Erlin kegirangan.
Istri Pak Wildan mengelus kepala Erlin. "Iya sayang, jangan lupa di habiskan dan jangan berikan pada siapapun," tuturnya.
Saat mereka tengah asik berpelukan, tiba-tiba Petugas datang menghampiri.
"Waktu kalian sudah habis, anda boleh pergi! Dan untuk anda Nona Erlin ayo ikut saya dan kembali ke kamar!" kata Petugas yang bernama Ira dengan lantang.
Erlin dan Mamihnya langsung melepaskan pelukannya, kemudian mereka berdua bangkit dari posisinya. Ira lalu menarik tangan Erlin.
"Mamih...."
"Jangan menarik tangan anakku! Kamu akan menyakitinya," pekiknya.
Bukannya mendengar, Ira malah menatap tajam istri Pak Wildan itu.
"Mamih.... Erlin gak mau kembali ke sana! Erlin benar-benar tersiksa Mih," rengek Erlin.
"Diam!" sentak Ira
Erlin pun langsung tertunduk diam, kemudian pandangan istri Pak Wildan mengarah ke Ira.
"Kamu! Berani sekali kamu menyentak anakku. Kamu pikir kamu siapa, Hah! Ingat jika anakku kenapa-napa, orang pertama yang aku cari adalah kau, dasar Polisi rendahan!" umpat istri Pak Wildan menunjuk ke arah Ira.
Ira lalu menghela nafasnya. "Haaa.... Nyonya, pintu keluarnya ada di sebelah sana, silahkan!"
"Ciih...." decak istri Pak Wildan.
Istri Pak Wildan bergegas pergi, sedangkan Ira langsung membawa Erlin ke tempatnya kembali. Sesampainya ....
"Masuk! Dan menurutlah!" bentak Ira sambil menghempaskan tubuh Erlin, membuat Erlin hampir terjatuh.
Lalu ia menutup pintunya dan melenggang pergi.
"Kurang ajar! Liat saja nanti kau akan menyesal karena menindasku," teriak Erlin.
"Berisik! Kau pikir ini hutan, hah!" pekik teman satu kamarnya.
Sontak Erlin menoleh ke arahnya dan menajamkan tatapannya.
"Kau yang seharusnya diam! Dasar wanita tua," umpat Erlin.
Membuat temannya bangkit dari posisinya dan berjalan mendekat ke arah Erlin. Saat berhadapan ia langsung mencengkram baju Erlin.
"Anak bau kencur, berani sekali kau mengumpatku, cari mati ya!" bentaknya terhadap Erlin.
Ia pun mendorong tubuh Erlin dengan keras, sehingga membuat Erlin terjatuh. Lalu temannya yang lain mengambil wadah bekal yang ada di tangan Erlin.
"Jangan! Itu punya ku," seru Erlin.
"Apa aku peduli, tidak tuh. Hei bos, kau lapar lagi kan? Ayo kita makan ini!"
Orang yang mendorong Erlin sekilas menatap Erlin sembari menyeringai. Sesaat ia segera menghampiri temannya yang tengah menikmati makanan yang di berikan istri Pak Wildan untuk anaknya itu. Sedangkan Erlin, tentu saja ia gigit jari saat melihat teman-teman kamarnya tengah menyantap makanannya itu.
"Ob j*lang, tunggu pembalasanku!" umpat Erlin mengepalkan tangannya dengan kuat.
**************************
Rumah Sakit
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit, Ray dan Zuy tiba di rumah sakit. Sesudah memarkirkan mobilnya, mereka bergegas masuk menuju ke ruang di mana Wawan berada. Sesampainya, pengawal yang menjaga ruang itu langsung membungkukkan badannya ke arah Tuannya itu.
"Apa Wawan masih di sana?" tanya Ray
"Iya Tuan. Oh iya tadi Dokter menyuruh anda ke ruangannya!" ujar salah satu pengawalnya.
"Iya, saya sudah tahu," Ray lalu melihat ke arah Zuy. "Sayangku, kamu tunggu di sini ya!" ucapnya pada Zuy.
Zuy mengangguk. "Iya Ray."
"Kalian, jaga Nyonya dengan baik!" perintah Ray
Mereka langsung mengangguk patuh secara bersamaan. Ray lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruang Dokter.
Ruang Dokter
Setelah berada di luar ruang Dokter, Ray mengetuk pintunya.
Tok... Tok.... Tok....
"Masuk!!" seru Dokter dari dalam ruangannya.
Ray langsung membuka pintunya. "Permisi Dok."
"Oh, Tuan Ray. Silahkan masuk!" kata Dokter.
Ray melangkah masuk ke ruangan Dokter dan menghampirinya, kemudian mereka saling berjabat tangan. Sesaat setelahnya....
"Silahkan duduk Tuan Ray!"
"Terimakasih Dok," ucap Ray,
Ia pun mendudukkan dirinya di atas kursi.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu anda, Tuan Ray." ucap Dokter.
"Tidak Dok, justru hari ini saya libur. Oh iya, bagaimana kondisinya Dok?" tanya Ray
"Ya, pasca kecelakaan itu. Pasien mengalami sesak dan gegar otak karena benturan yang cukup keras, bukan hanya itu saja, Pasien juga mengalami luka tusuk di bagian dada kirinya akibat kaca mobil dan juga luka robek di bagian kepalanya sehingga kami harus melakukan operasi terhadap pasien," jelas Dokter.
Ray terpaku saat mendengar penjelasan dari Dokter tentang keadaan pengawalnya tersebut.
"Tadi Dokter bilang pasien mengalami gegar otak, apa itu berarti dia akan mengalami amnesia?" Ray kembali melontarkan pertanyaan.
Dokter tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan. Pasien tidak mengalami amnesia, buktinya saat ia sadar, nama anda yang di sebutnya sambil mengucapkan kata MAAF," ujar Dokter membuat Ray sedikit lega mendengarnya.
"Syukurlah Dok, terus apa saya boleh melihatnya?"
"Masih belum bisa Tuan Ray, nanti kalau kondisinya stabil dan sudah berada di ruang rawat, baru anda boleh melihatnya," tutur Dokter.
Ray memanggut. "Baiklah kalau begitu. Tapi saat dia akan di pindahkan ke kamar rawat, berikan kamar VIP untuknya!"
"Siap Tuan Ray," balas Dokter.
__ADS_1
"Satu lagi Dok. Apa Dokter bisa membantu saya?"
"Ya kalau saya mampu, pasti saya akan membantu anda, Tuan Ray." kata Dokter. "Memangnya mau minta bantuan apa?" imbuhnya.
"Bisakah Dokter membuat data pasien seolah-olah itu saya?"
"Kenapa Tuan Ray meminta bantuan seperti itu?" Dokter nampak kebingungan dengan permintaan Ray.
"Sebab saya ingin menjebak si pelaku itu, karena ...."
Ray memberitahu pada Dokter apa yang terjadi sebenarnya, sehingga membuat Dokter terkejut. Sesaat Dokter pun memanggut-manggut.
"Sekarang saya mengerti, Tuan Ray. Oke, saya akan membantu anda," kata Dokter.
"Terimakasih Dokter," ucap Ray
Dokter mengangguk pelan, kemudian Ray bangkit dari posisinya.
"Yaudah kalau begitu saya permisi dulu, Dok. Berikan yang terbaik untuknya! Sampai dia benar-benar sembuh, berapa pun biayanya akan saya tanggung, asalkan dia sembuh," pinta Ray.
"Tuan Ray tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," ujar Dokter meyakinkan Ray.
Ray tersenyum dan berkata, "Oke, terimakasih Dok. Kalau terjadi sesuatu padanya segera hubungi saya!"
Lalu Ray melangkahkan kakinya keluar dari ruang Dokter dan berjalan menuju di mana pujaan hatinya berada. Sesaat kemudian ....
"Sayangku...." panggil Ray menghampiri pujaan hatinya itu.
Zuy pun menoleh. "Ray, kamu kembali? Apa urusan mu dengan Dokter sudah selesai?" tanyanya.
Ray mengangguk. "Iya sayangku."
"Lalu bagaimana keadaannya, apa kita boleh masuk dan melihatnya?" tanya Zuy.
"Masih belum sayangku, mungkin besok," jawab Ray.
"Oh...." singkat Zuy.
Ray lalu mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Sayangku, ayo kita pergi!"
"Pergi! Memangnya kita mau kemana Ray?" tanya Zuy
"Kan tadi aku sudah bilang, bahwa aku akan mengajakmu ke suatu tempat," jawab Ray.
"Oh.... Maaf ya Ray, Zuy gak ingat kalau tadi pagi kamu juga bilang seperti itu," ucap Zuy menunduk.
Melihat itu, Ray tersenyum dan mendaratkan tangannya ke kepala Zuy.
"Tidak apa-apa sayangku. Yaudah ayo kita pergi!"
Zuy mengangguk patuh. "Baik Ray, tapi sebelum itu kita ke rumah Bi Nana dulu ya, soalnya Zuy mau ambil ransel dan foto usg anak kita."
"Baiklah sayangku," Ray menuruti permintaan Zuy.
Zuy lalu bangkit dari posisinya dan berdiri sejajar dengan Ray, meskipun tinggi mereka berdua tidak sama yaitu tinggi Zuy hanya sebahu Ray saja. Lalu kemudian Ray memegang erat tangan Zuy.
"Kalian kalau mau pulang ke Apartemen silahkan! Kini giliran mereka yang berjaga," ujar Ray.
"Baik Tuan Ray, terimakasih." ucap salah satu pengawalnya.
Pandangan Ray mengarah ke para pengawal yang baru tiba.
"Untuk kalian, sama seperti sebelumnya. Sebagian harus berjaga di sekitar sini dan sebagian lagi harus menyamar menjadi pasien rumah sakit atau pengunjung!" perintah Ray. "Supaya tidak terlalu mecolok dan akhirnya jadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit ini," imbuhnya.
Mereka pun mengangguk secara bersamaan.
"Bagus! Yaudah kalau gitu aku pergi dulu. Jika terjadi sesuatu, kalian segera menghubungiku atau Kak Davin!" ujar Ray.
"Baik Tuan Ray." balas mereka serempak.
Ray dan Zuy segera pergi meninggalkan ruang tersebut menuju ke arah pintu keluar rumah sakit.
*********************
Sementara itu di Perusahaan tepatnya di ruang rapat. Davin mengadakan rapat dadakan dengan para karyawan dari Perusahaan CV. Sesuai dengan rencana dan perintah dari Ray, Davin memberitahu pada semuanya bahwa Ray mengalami musibah. Sontak membuat lainnya terkejut dan ada yang sampai menangis, terutama para karyawati yang mengidolakan atasannya itu. Lalu semuanya pun mendoakan Ray agar cepat sembuh.
Ya itulah rencana Ray dan Davin, memberikan kabar palsu supaya membuat semuanya percaya kalau Ray benar-benar korban kecelakaan itu, termasuk membuat si pelaku terjebak dalam permainannya.
Beberapa saat kemudian, rapat akhirnya selesai, satu-persatu meninggalkan ruangan tersebut, Lalu ....
"Bu Friska, ikut ke ruangan saya ya!" titah Davin.
Friska mengangguk. "Baik Pak Davin."
"Dan kamu Airin," tegur Davin.
Airin menunjuk ke arah hidungnya sendiri. "Saya Pak?"
"Iya kamu, kan aku manggilnya Airin," cetus Davin.
"Ada apa Pak?" tanya Airin.
Davin lalu mendekat ke arah Airin. "Kamu buatkan minuman untuk kami dan antar ke ruanganku! Oh iya untuk aku kopi ya Rin." titah Davin
"Baik Pak, akan saya buatkan," balas Airin mengangguk.
Lalu Airin melenggang pergi dari ruang rapat tersebut, begitu pula dengan Davin dan Friska. Namun Davin tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus memandanginya. Ya siapa lagi kalau bukan Citra, orang yang sangat mengidolakan Davin.
"Tsk, Kenapa selalu Airin sih Pak? aku juga pengin di suruh oleh anda, Pak Davin," umpat Citra.
Ruang Kerja Davin
Sesampainya, mereka berdua masuk ke ruangan tersebut.
"Silahkan duduk!"
"Terimakasih Pak Davin," ucap Friska sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.
Davin juga duduk di sofa lainnya.
"Maaf Pak sebenarnya ada apa ya?" tanya Friska.
"Begini Bu Friska, sebenarnya ...." belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ....
Tok... Tok... Tok....
Seseorang mengetuk pintunya, membuat Davin mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Masuk...!!"
Mendengar suara Davin, ia pun segera membuka pintunya.
"Pak Davin, maaf ini minumannya," ujarnya.
"Huuft.... Ternyata Kamu Rin, Syukurlah." ucap Davin mengelus dadanya.
Airin pun berjalan menghampiri, setelah itu ia meletakkan minuman yang di bawanya ke atas meja.
"Terimakasih Rin,"
"Sama-sama Pak, yaudah kalau gitu saya permisi dulu," balas Airin sekalian pamit.
"Rin, kamu duduk sebentar! Ada yang ingin saya sampaikan," ujar Davin.
Tanpa berkata Airin pun mendudukkan dirinya tepat di samping Friska.
"Begini Bu Friska, Airin. Sebenarnya ...."
Davin menceritakan yang sebenarnya pada dua orang wanita itu, otomatis keduanya pun tersentak kaget.
"Ja-jadi bukan Tuan Ray? Huuuft Syukurlah kalau begitu," ucap Airin mengelus dadanya.
"Iya maka dari itu, aku butuh bantuan kalian!"
"Bantuan apa Pak?" Friska pun langsung bertanya.
__ADS_1
"Tolong bantu rahasiakan ini! Karena aku hanya memberitahu hal ini pada kalian berdua saja," pinta Davin
Keduanya pun menganggukkan kepalanya serempak.
"Terimakasih, Bu Friska dan Airin," ucap Davin
Mereka melanjutkan perbincangannya.
*******************
Rumah Bi Nana
Setelah sampai di rumah Bi Nana dan memarkirkan mobilnya, mereka pun bergegas masuk, Nara yang melihat kedatangan Zuy langsung menghampiri.
"Kakak, Om ganteng," seru Nara
"Iya sayang, Mamih ada kan?"
Nara mengangguk. "Ada, lagi bersama Kak Aries dan dede Rana," jawabnya.
Zuy lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah, di mana Bi Nana berada, Ray dan Nara langsung menyusulnya.
"Bi Nana...." seru Zuy
Aries dan Bi Nana menoleh ke arah Zuy.
"Zuy!!"
"Ray juga di sini Bi," ucap Ray.
Seketika Bi Nana bangkit dari posisinya dan menghampiri Ray.
"Ray, ini benar-benar kamu kan?" tanya Bi Nana
"Iya Bi, ini aku." singkat Ray.
Lalu tiba-tiba Bi Nana memeluk Ray.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Ray. Kamu benar-benar membuat kami khawatir," ucap Bi Nana.
"Maaf ya Bi, karena Ray sudah membuat Bi Nana dan lainnya khawatir."
"Iya Ray, yang penting kamu tidak kenapa-napa."
Sesaat Bi Nana melepaskan pelukannya dan menyuruh mereka duduk.
"Tuan Aries," lirih Ray
"Iya Tuan Ray, ada apa?"
"Euuum.... Tuan Aries, terimakasih karena sudah membantuku," ucap Ray datar.
Seketika Aries tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Ray.
"Sama-sama, lagian kamu kan adik dan calon keponakan ku, jadi sudah sewajarnya aku membantumu," papar Aries.
Biasanya Ray merasa risih dengan perkataan Aries, namun untuk kali ini dia biasa saja dan malah tersenyum pada Aries, ya tentu saja Aries membalasnya.
...----------------...
βPukul 04.30Pm
Ray dan Zuy sudah berada di perjalanan, setelah beberapa saat berada di rumah Bi Nana dan istirahat di sana.
"Euum Ray...."
"Iya sayangku," sahut Ray.
"Ini bukan jalan menuju ke rumah kan?" tanya Zuy kebingungan.
"Bukan sayangku, ini jalan menuju di mana aku akan membawa mu ke suatu tempat, pokoknya kejutan," jawab Ray.
"Hmmmm.... Lagi-lagi berkata seperti itu, bikin penasaran aja," gumam Zuy.
Ray lalu memegang pipi Zuy. "Iya namanya mau kasih kejutan, masa harus bilang-bilang."
Zuy memutar bola matanya dan menghela nafas panjangnya, Ray yang melihatnya hanya terkekeh saja.
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Ray segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus. Setelah itu mereka pun turun dari mobilnya. Mata Zuy langsung terbelalak melihat tempat yang di maksud Ray tersebut.
"Pantai! Kamu membawaku kesini Ray?" tanya Zuy sambil melihat ke arah Ray.
"Iya sayangku, tapi sebenarnya bukan ini yang aku maksudkan," ujar Ray.
"Lalu...."
Kemudian Ray menggandeng tangan Zuy menuju ke tepi pantai. Sesampainya Ray mengeluarkan kain kecil panjang berwarna hitam. Lalu ia menutup mata Zuy dengan kain tersebut.
"Ray, apa yang kamu lakukan? Kenapa mataku di tutup?" Zuy nampak kebingungan.
Ray tidak menjawab, ia malah sibuk mengikat kain tersebut, setelah itu Ray menggandeng tangan Zuy dan berjalan menelusuri tepi pantai.
"Ray.... Kamu mau membawa ku kemana sih?" pekik Zuy.
"Sabar sayangku, sebentar lagi kita sampai," balas Ray.
"Hummpt," Zuy mendengus kesal.
Setelah melangkah beberapa langkah, Ray langsung menghentikan langkahnya.
"Kita sudah sampai sayangku," ucap Ray.
"Benarkah? Kalau begitu cepat buka penutup matanya!" pinta Zuy.
"Iya sayangku."
Ray lalu membuka pengikat kain tersebut dan melepaskannya dari mata Zuy.
"Nah sekarang buka matamu sayangku!" titah Ray
Zuy mengangguk patuh, lalu perlahan ia membuka matanya dan saat matanya terbuka sempurna. Zuy tercengang saat melihat kejutan dari Ray.
"I-ini...."
***********************
Amerika
Β°Kediaman Maria
Nampak sebuah mobil memasuki halaman rumah Maria, setelah mobil terparkir, seseorang pun keluar dari mobilnya dan ia tak lain adalah Kimberly yang baru pulang dari aktivitasnya. Setelah berada di depan pintu, Kimberly menekan nomor sandi yang berada di pintu dan seketika pintu pun terbuka, lalu ia segera melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
Saat berada di depan kamar Maria, Kimberly tiba-tiba menghentikan langkahnya dan perlahan membuka pintu kamar Maria. Kimberly terkejut mendapati Maria tengah duduk di kursi rodanya sambil memandangi foto di atas nakas.
"Kimberly, kapan kamu pulang sayang? Mam benar-benar merindukanmu dan Mam juga ingin berpamitan padamu, Kim." ucap Maria.
"Hah! Berpamitan?" lirih Kimberly. Lalu....
Braaaak....
Tiba-tiba Kimberly mendorong keras pintu kamar Maria, sontak membuat Maria tersentak dan menolehkan kepalanya.
"Kimberly! Kamu sudah pulang?"
"Mam, jawab dengan jujur! Sebenarnya Mam mau kemana?" tanya Kimberly dengan nada kencang.
Maria terkejut mendengar pertanyaan Kimberly, sesaat ia menundukkan kepalanya.
"Ah, itu sebenarnya ...."
"Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ
__ADS_1