
**** WARNING...!! ******
<<<<<
Mendengar tuturan Ray, Zuy pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Ray. Sedangkan Ray terus memeluknya dengan erat dan mencium puncak kepala Zuy.
"Kakak, Ray akan selalu di sini dan akan selalu melindungi Kakak.."
"Tuan Muda maaf, Zuy tadi ..., hiks.." lirih Zuy sesenggukan.
"Sssht, sudah Kakak gak usah minta maaf, tenangkan diri Kakak, nanti kalau sudah tenang, Kakak boleh cerita ke Ray," pinta Ray,
Zuy pun hanya menganggukkan kepalanya saja, sambil terus menangis di dekapan Ray.
Beberapa saat kemudian...
"Kak, apa Kakak sudah merasa tenang?" tanya Ray.
Namun tidak ada jawaban apa-apa dari Zuy, lalu Ray melihat ke arah Zuy, dan ternyata Zuy tertidur lelap dalam pelukan Ray.
"Pantas saja gak ada suara, ternyata Kakak tidur toh, mungkin cape karena menangis, kasihan Kakak sayangku ini," papar Ray sambil mengelus pipi Zuy.
Karena tidak ingin membuat Zuy terbangun dari tidurnya, Ray pun memutuskan untuk menemani Zuy, ia lalu menaikan kakinya ke atas kasur dan menggeser tubuhnya dengan hati-hati supaya Zuy tidak terbangun, karena posisi Zuy masih memeluknya.
"Ray akan temani Kakak malam ini, Ray gak akan tidur, Ray akan menjaga Kakak," ucap Ray.
Hoaaam...
Mungkin karena rasa kantuknya tidak bisa di tahan, ia pun merebahkan badannya dengan hati-hati, sesaat kemudian Ray tertidur sambil memeluk Zuy.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 05.25 Am, mereka pun masih sama-sama terlelap tidur. Namun posisi mereka berubah menjadi sama-sama terlentang, tidak saling berpelukan lagi.
"Eehmmm," erang Ray, sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Zuy. Akan tetapi...
Plook...
Tanpa sengaja, Ray mendaratkan tangannya tepat di atas salah satu bukit indah milik Zuy.
Teet.. teeet...
"Squshy..!! hah pasti boneka Squshy milik Lesya, udah berapa kali di bilangin, jangan suka meninggalkan boneka Squshy di tempat tidurku Lesya," erang Ray yang belum sadar apa yang ia pegang, karena matanya masih terpejam.
"Hmmm, kenapa boneka Squshy yang ini berbeda dari boneka Squshy lainnya, ini lebih empuk dan kenyal dari biasanya," sambungnya.
Lalu ia membuka matanya perlahan-lahan, setelah mata terbuka, ia langsung melihat ke arah tangannya, betapa terkejutnya Ray melihat Zuy tertidur di sampingnya, sontak ia buru-buru bangun dan berganti posisi duduk menyandar.
"Kenapa aku bisa ketiduran di sini? dan lagi apa yang aku pegang tadi, Squshy besar kah?" lirih Ray sambil melihat telapak tangannya tadi. Ray pun lalu melirik ke arah Zuy yang masih tertidur, namun...
Blush...
Wajah Ray memerah seketika, melihat posisi tidur Zuy terlentang, apalagi di tambah kaos lengan pendek dan sedikit ketat yang di kenakan Zuy untuk tidur, sehingga membuat bentuk bulatan indah milik Zuy terlihat sempurna.
"Jackpot..!! Squshy yang sempurna.." lontar Ray memandangi Zuy, lalu kemudian...
"Squshy? tunggu sebentar, berarti yang aku pegang tadi itu ...," papar Ray yang tersadar dengan apa yang ia pegang tadi, lagi-lagi wajahnya memerah.
"Aduuh kamu benar-benar deh Ray, untung kakak belum bangun, coba kalau dia terbangun dan melihat apa yang aku pegang tadi, pasti aku sudah di bilang mesum, mungkin juga kena tampar, Hah.." gumam Ray sambil menepuk jidatnya.
Ray segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia pun menyelimuti Zuy hingga menutupi dadanya, setelah selesai Ray bergegas keluar dari kamar Zuy.
Saat sudah berada di luar kamar yang di tempati Zuy, Ray pun bergegas menuju kamarnya dengan langkah cepat, namun...
Bugh..
Ray dan Davin pun bertabrakan..
"Aduuuuh..." rintih bersama.
Ray pun langsung mendongakkan kepalanya, "Kak Daviiin, kalau jalan hati-hati dong..!!" pekik Ray
"Aduh Tuan Ray, bukannya anda yang jalannya buru-buru, udah gitu wajah anda nampak memerah gitu," papar Davin.
"Apa..!! oh ini mungkin hanya kepanasan, lagian mending wajah memerah, daripada Kak Davin wajahnya memutih kayak adonan Moci," celetuk Ray.
"Ini masker Tuan, bukan adonan moci," gerutu Davin.
"Ya sama aja putihnya," gumam Ray.
"Lagian, kenapa anda buru-buru gitu jalannya, apa anda habis melihat sesuatu?" tanya Davin
Mendengar itu, Ray langsung memalingkan wajahnya, "Si-siapa yang melihat sesuatu, orang aku buru-buru karena mau kembali ke kamar untuk tidur."
Seakan tidak percaya Davin pun memicingkan matanya ke arah Ray dan bertanya, "Benarkah itu Tuan Ray?"
"Iya beneran, hoaaam.. tuh udah ngantuk kan.." ujar Ray sambil berpura-pura menguap. Lalu kemudian..
"Lho Tuan Muda, Pak Davin, tumben jam segini udah pada bangun?" tanya Zuy yang keluar dari kamarnya.
"Squshy...!!" lontar Ray.
Mendengar kata Squshy dari Ray, Zuy dan Davin keheranan.
"Apa..!! Squshy?" tanya Zuy dan Davin barengan.
"Oh bu-bukan, maksud Ray, kok kakak bangun, bukannya tadi masih tertidur?" tanya Ray.
__ADS_1
"Oh, tadi Zuy bangun karena mendengar suara kalian yang berisik," celetuk Zuy.
"Ah maaf Zuy kalau begitu," ucap Davin.
Lalu ia pun langsung mendekati Ray, "Tuan Ray, bagaimana anda tahu kalau Zuy masih tertidur? apa tadi jangan-jangan Tuan Ray ...," Davin pun mencurigai Ray dan membuat Ray jadi salah tingkah.
"Kak Davin, ja-jangan berpikiran yang bukan-bukan, Ray hanya mengeceknya saja kok," jawab Ray berbohong.
"Benarkah itu Tuan Ray, jangan-jangan tadi wajah anda memerah karena ...,"
Sebelum Davin melanjutkan perkataannya, Ray pun langsung menutup mulut Davin.
Melihat tingkah laku mereka berdua, Zuy langsung menghela nafasnya.
"Haa, kalian ini ya, yaudahlah Zuy ke kamar mandi dulu, setelah itu mau masak buat sarapan kita," ujar Zuy, ia pun berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Hmmmm," erang Davin meminta Ray melepaskan tangannya dari mulut Davin.
Lalu Ray pun langsung melepaskan tangannya.
"Hah, hampir saja nafasku berharga hilang, anda benar-benar ya Tuan," gerutu Davin.
"Hah, salah Kak Davin sendiri make ceplos, udah ah Ray ke kamar, mau mandi dulu.." kata Ray
Ray pun segera menaiki tangga menuju ke kamarnya, sedangkan Davin langsung berjalan menuju ke dapur.
Dapur
Sementara itu, setelah dari kamar mandi, Zuy pun segera ke dapur untuk membuat sarapan pagi.
"Pak Davin sedang apa?" tanya Zuy yang melihat Davin sedang berada di Dapur.
"Oh, kamu Zuy, aku sedang mengambil sendok," jawab Davin
"Sendok? untuk apa?" tanya Zuy
Lalu Davin membuka pintu kulkas dan menaroh sendok itu di dalamnya, Zuy pun keheranan melihat tingkah Davin.
"Nah selesai, tunggu 10 menit, baru bisa di ambil," ucap Davin
"Hmmm, memang untuk apa Pak?"
"Untuk menghilangkan mata sembab mu itu Zuy, agar tidak terlalu kelihatan," jelas Davin,
"Dan lagi, aku gak ingin orang yang berharga milik Tuan Ray jadi pusat perhatian orang gara-gara matanya sembab, sebenarnya aku ingin bertanya pada Zuy tentang kejadian kemaren di tempat makan, tapi nanti bakalan ketahuan, kalau Tuan Ray nyuruh pengawal untuk melindungi dan mengawasinya dari jarak jauh," batin Davin.
Zuy lalu membuka kulkas dan mengambil bahan makanan yang akan ia masak.
"Hah, ternyata anda tau banyak ya Pak Davin," papar Zuy.
Zuy pun melanjutkan aktivitasnya di dapur, dan beberapa menit kemudian, ia selesai membuat sarapan, Zuy lalu menyiapkan makanan yang sudah masak ke meja makan.
Setelah itu, ia kembali ke kamarnya, untuk mengganti pakaiannya, tak lama kemudian Zuy pun keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih dan siap untuk berangkat kerja. Namun sebelum itu, ia tak lupa untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, Zuy pun segera menuju ke meja makan. Setelah berada di meja makan, Zuy langsung mengambil sarapannya, dan menyantap sarapannya.
Lalu Davin dan Ray pun menghampiri Zuy.
"Zuy.." sapa Davin.
"Ah Pak Davin, Tuan Muda, maaf Zuy sarapan duluan, karena sudah siang, takutnya terlambat," ucap Zuy.
Ray dan Davin langsung menarik kursinya masing-masing dan mendudukinya.
"Tidak apa-apa Kak, Kakak lanjutin aja sarapannya ya," kata Ray sambil mengambil makanannya.
"Terimakasih Tuan Muda," ucap Zuy.
"Oh iya Kak, gimana perasaan Kakak sekarang, apa sudah lebih baik?" tanya Ray.
Zuy lalu menganggukkan kepalanya, "Iya, sudah membaik Tuan, terimakasih banyak ya Tuan Muda," ucap Zuy, lalu ia menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman Zuy, Ray tersipu dan langsung memalingkan pandangannya, "I-iya sama-sama Kakak, masa cuma terimakasih aja."
"Lalu.."
Ray lalu menyunggingkan senyum jahilnya, "Peluk kek, atau cium pipi calon suami Kakak ini," kata Ray menggoda Zuy.
Uhuuuk....
Mendengar perkataan jahil Ray, membuat Zuy dan Davin tersedak barengan.
"Tuan Muda, anda benar-benar ya, suka sekali menggoda," pekik Zuy.
Ray pun hanya terkekeh melihat ekspresi Zuy seperti itu. Dan setelah itu mereka pun melanjutkan sarapannya.
************
Rumah Bi Nana
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, dan sekarang sudah masuk waktu pukul 10.30 Am. Saat itu Aries sudah berangkat ke Resto, sedangkan Pak Randy sedang menemani Nara bermain di ruang tengah. Bi Nana lalu menghampiri Pak Randy dan duduk di sampingnya.
"Pih, mumpung ada di rumah, sore ini aku ingin menyuruh Zuy datang ke rumah, boleh ya?" tanya Bi Nana
"Ya ampun Na, kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu, ya kan Zuy itu keluarga kita, pasti boleh dong," kata Pak Randy
"Bukan itu maksudnya, aku juga mengajak Tuan Muda Ray untuk datang juga, soalnya Nana ingin tau tentang hubungan mereka, kemaren Kak Ima bilang padaku kalau ...," Bi Nana pun menceritakan semua yang di katakan Bu Ima padanya.
__ADS_1
"Oh jadi begitu Na, yaudah kamu segera hubungi Zuy dan bilang padanya untuk datang bersama Tuan Ray, bagaimanapun juga kita sebagai walinya Zuy harus mengetahui, apa dia benar-benar serius dengan ucapannya untuk menikahi Zuy atau tidak," tutur Pak Randy
"Iya maksud Nana gitu, yaudah kalau gitu Nana hubungi Zuy sekarang, mudah-mudahan sudah aktif hpnya," kata Bi Nana, lalu ia pun langsung menghubungi Zuy.
*************
Perusahaan CV
Sementara itu, Zuy tengah sibuk dengan pekerjaannya, lalu tiba-tiba...
Trrrrrrt.. Trrrrrrt...
Mendengar suara dering dari hpnya, Zuy segera mengambil hpnya dari saku celana, setelah itu ia pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo Zuy.." sapa Bi Nana
"Iya ada apa Bi Nana?" tanya Zuy.
"Fuuh, akhirnya nyambung juga, begini Zuy, nanti sepulang kerja, bisakah kamu ke rumah Bibi, kebetulan Pamanmu sudah pulang," ujar Bi Nana.
"Paman sudah pulang Bi, Syukurlah, iya nanti sepulang kerja, Zuy langsung ke rumah Bi Nana," kata Zuy.
"Oh iya, jangan lupa ajak Tuan Muda sekalian ya..!!" pinta Bi Nana.
Mendengar pertanyaan dari Bi Nana, Zuy pun merasa bingung, lalu ia pun bertanya, "Kenapa Tuan Muda juga ikut Bi?"
"Gak kenapa-napa Zuy, cuma biar Tuan Muda tahu rumah Bi Nana aja," kata Bi Nana
"Hah, baiklah Bi Nana, nanti Zuy ajak Tuan Muda," papar Zuy.
"Yaudah kalau begitu, Bi Nana tutup telponnya ya, semangat kerjanya," tutur Bi Nana.
Lalu telpon pun terputus.
Setelah menerima telpon dari Bi Nana, Zuy pun segera menuju ke ruang Ceo untuk menemui Ray.
••••••••••••••
Ruangan Ceo
Tak lama kemudian, akhirnya Zuy sampai di depan ruangan Ray, ia langsung mengetuk Pintunya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk..!!" suara Ray dari dalam ruangannya.
Zuy pun langsung membuka pintu ruangan milik Ray.
Cekleeek...
"Tuan Muda..."
Ray lalu menoleh ke arah pintu, "Hmmm, oh Kakak yang datang, ayo masuk..!!"
Zuy lalu masuk ke dalam dan menghampiri Ray.
"Ada apa Kakak?" tanya Ray
"Euum, begini Tuan Muda, barusan Bi Nana telpon, Bi Nana nyuruh Zuy datang ke rumahnya, tapi Zuy juga harus mengajak Tuan Muda," ujar Zuy, "Apa Tuan Muda bisa?" sambungnya.
"Oh, tentu saja bisa Kak, nanti kita pergi kesana sama-sama ya..!!" kata Ray.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, seketika wajahnya langsung sumringah.
"Terimakasih Tuan Muda, yaudah kalau gitu Zuy ke Pantry, mau lanjutin pekerjaan," ucap Zuy, ia pun memutar badannya, dan hendak melangkahkan kakinya menuju ke pintu luar, akan tetapi...
"Kakak.." panggil Ray sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu ia berjalan mendekati Zuy.
Zuy pun menoleh ke arah Ray kembali, "Hmmm, ada apa Tuan Muda?"
Ray lalu memegang kedua tangan Zuy, "Kak, boleh Ray meminta sesuatu?"
"Sesuatu? apa itu Tuan Muda?" tanya Zuy.
"Jadi begini, setelah ulang tahun Perusahaan CV lusa nanti, Ray akan ke Swedia untuk menghadiri undangan dari sahabat Ray," jelas Ray
"Swedia..!!" Zuy terkejut mendengar penjelasan Ray,
"Iya Kak, makanya Ray minta Kakak untuk ikut Ray pergi kesana, Kakak mau kan temani Ray ke sana?" ia pun bertanya lagi.
"Apa..!! Zuy di ajak ke Swedia Tuan?!!"
Ray menganggukkan kepalanya, "Iya Kakak, hitung-hitung kita liburan di sana, ya bisa di anggap kencan juga sih, hmmm jadi gimana Kak, apa Kakak mau temani Ray?"
Zuy pun menundukkan kepalanya, "Soal itu Zuy ...,"
**Bersambung...
\=\=\=\=\={{{\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ps: Jadi kenapa Ray bisa tau boneka Squshy, karena saat ia tinggal di Amerika, Lesya sering sekali meminta Ray untuk membelikan boneka Squshy. Makanya ia hapal betul dengan boneka Squshy. 😁😁😁✌✌
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... ✌😉😉✌