Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tidak Akan Memaksa....


__ADS_3

<<<<<


Sehingga membuat Zuy mengalihkan pandangannya ke arah mereka, sontak membuat Zuy membelalakkan matanya saat melihat kedua orang tersebut.


"Kalian?!!"


Keduanya pun tersenyum ke arah Zuy, lalu kemudian salah satu dari mereka mendekat ke arah Zuy seraya memegang bahu Zuy.


"Bagaimana kabar kamu, keponakanku?" tanyanya.


Seketika Zuy langsung meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Kabar Zuy baik Paman Dokter, lalu bagaimana dengan Paman sendiri?" jawab Zuy sekaligus bertanya.


"Oh syukurlah kalau begitu, kabar Paman juga baik Zuy." balasnya yang ternyata adalah Dimas.


Zuy tersenyum, sesaat pandangannya beralih ke arah orang yang di belakang Dimas.


"Tuan Archo, apa kabar?" Zuy pun bertanya padanya yang tak lain adalah Archo.


"Kabar saya lumayan baik Nona," jawab Archo.


"Syukurlah...." ucap Zuy manggut-manggut.


Dimas lalu mencondongkan tubuhnya ke stroller si kembar.


"Hai cucu-cucu Kakek yang menggemaskan, sedang apa kalian?" sapa Dimas sambil mengelus kepala keduanya.


Baby Z menyahuti sapaan Dimas dengan ocehan dan senyum khasnya sambil mengarahkan satu tangannya yang tengah memegang mainannya. Berbeda dengan Baby Z, Baby R justru malah menangis kencang sehingga membuat Dimas keheranan, begitu pula dengan Zuy yang langsung mengangkat tubuh Baby R dari stroller dan menggendongnya seraya menenangkannya.


"Lho cucu gantengnya Kakek kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Dimas.


"Mungkin Rayn masih terasa asing dengan Paman, makanya dia menangis, tapi bukan cuma Paman Dokter aja, Rayn juga sering menangis kalau liat orang yang baru di temuinya, berbeda dengan Zea," jelas Zuy.


Seketika Dimas beralih ke arah Archo. "Berarti cucuku menangis karena anda, Tuan Archo."


"Lha kok saya?" Archo menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Bukannya anda yang barusan menyapanya," sambungnya.


"Ya sebab anda orang yang baru di temui oleh cucuku, makanya cucuku menangis." lontar Dimas.


Archo mendesah. "Haaa.... Bisa aja anda mengalihkannya, Dok."


Dimas pun terkekeh sama halnya dengan Zuy.


Lalu sesaat....


"Euuum, Paman Dokter, Tuan Archo. Ayo masuk!" ajak Zuy dan di balas anggukan kepala keduanya.


Zuy pun menempatkan kembali Baby R ke stroller-nya samping Baby Z. Lalu di langkahkan kakinya terlebih dahulu menuju ke dalam Villanya sembari mendorong stroller si kembar dan di susul oleh Dimas serta Archo yang berjalan di belakang Zuy.


Saat sudah berada di dalam, Zuy mempersilahkan mereka berdua untuk duduk dan lagi-lagi keduanya hanya mengangguk pelan serta di barengi dengan ucapan, "Terimakasih."


Sebelum ikut duduk bergabung dengan Dimas dan Archo, Zuy terlebih dahulu membawa si kembar ke dalam dan menitipkannya pada Bu Ima sekaligus meminta pelayan membuatkan minuman untuk tamu.


Setelah itu Zuy kembali ke ruang tamu untuk bergabung bersama Dimas dan Archo. Ia pun mendudukkan dirinya di sofa lainnya dan saling berhadapan.


"Maaf Paman, Tuan! Kalau Zuy agak lama." ucap Zuy.


"Tidak apa-apa Zuy." balas Dimas.


"Maaf sebelumnya, apa Paman dan Tuan Archo memang sengaja berkunjung kesini atau hanya sekedar iseng saja?" Zuy mulai membuka suaranya dengan bertanya pada mereka.


"Ya sebenarnya kami sengaja berkunjung kesini sebab ada yang ingin kami bicarakan dengan mu, Zuy." ujar Dimas.


"Bicara dengan ku? Emmm, memangnya Paman dan Tuan mau bicara apa?" karena penasaran, Zuy pun bertanya kembali.


Sejenak Archo dan Dimas saling memandang satu sama lain seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mereka beralih kembali ke Zuy.


"Begini Zuy, kata Bunda sama Eqitna kemarin kamu berkunjung ke rumah ya?" tanya Dimas.


Zuy mengangguk. "Iya Paman, kemarin Zuy berkunjung ke rumah Paman Dokter tapi hanya sebentar aja."


"Kenapa hanya sebentar Zuy? Padahal Bunda dari kemaren udah nungguin kamu dan si kembar lho, bahkan Eqitna juga," papar Dimas.


"Maafin Zuy, Paman! Sebenarnya Zuy juga ingin lama main ke rumah Paman karena Zuy juga kangen sama Nenek, tapi secara bersamaan Bi Nana juga berkunjung ke sini, jadi ya Zuy buru-buru pulang." ujar Zuy yang berbohong pada mereka.


"Bukan karena Mr Mario kan makanya kamu buru-buru pulang?" dugaan Dimas. "Soalnya semalam Bunda cerita ke Paman lho Zuy, kalau kemarin kamu bertemu dengan Mr Mario dan bahkan berbicara berdua dengannya juga."


"Apa!" Zuy tersentak kemudian bertanya, "Ja-jadi Nenek sudah bilang ke Paman soal kemarin Zuy bertemu dengan Mr Mario?"


Dimas mengembuskan nafasnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Zuy," jawab Dimas dengan singkat.


"Bukan hanya Bunda saja, tapi Daddy juga cerita ke saya kalau beliau sudah bertemu dan mengobrol dengan anda, Nona Zuy." timpal Archo.


"Oh jadi begitu ya," lirih Zuy di susul helaan nafasnya. "Haaa.... Ya memang benar kalau Zuy kemarin bertemu dan mengobrol berdua dengan Mr Mario. Ya sebenarnya juga Zuy buru-buru pulang karena Zuy tersinggung dengan perkataan Mr Mario dan bukan karena ada Bi Nana main ke Villa," sambung jelasnya.


Sontak membuat Dimas dan Archo terkejut mendengarnya.


"Jadi dugaan Paman benar ya kalau kamu pulang karena dia?"


Zuy mengangguk. "Iya Paman dan Zuy minta maaf kalau Zuy udah berbohong pada Nenek! Zuy terpaksa melakukan itu karena Zuy gak mau Nenek kepikiran," ucapnya.


Sejenak Dimas menghela nafasnya.


"Zuy, sebelumnya Paman minta maaf kalau Paman ikut campur! Tapi Paman ingin bertanya sama kamu, sebenarnya apa yang di katakan oleh Mr Mario sehingga membuat mu tersinggung Zuy?"


Zuy mengerenyit. "Lho kenapa Paman malah bertanya? Bukankah tadi Paman bilang kalau Bunda dan Mr Mario sudah menceritakannya pada kalian." lontarnya.


"Ya Bunda memang cerita, tapi beliau hanya mengatakan kalau kamu bertemu dengan Mr Mario dan mengobrol dengannya, itu saja Zuy." papar Dimas.


"Ya kalau Daddy memang cerita pada saya, akan tetapi saya masih belum percaya dengan ucapan Daddy. Maka dari itu saya dan Dokter Dimas datang kesini sebab kami ingin tahu secara langsung dari anda, Nona. Tentang apa yang telah di katakan oleh Daddy Mario kepada anda sampai membuat anda tersinggung," lontar Archo.


Sebelum membuka suaranya, Zuy terlebih dahulu mengatur nafasnya. Lalu....


"Paman, Tuan Archo. Sebenarnya Zuy tidak ingin membicarakan lagi tentang apa yang telah Mr Mario katakan. Akan tetapi karena Tuan Archo dan Paman begitu penasaran dan ingin tahu, maka Zuy akan menceritakannya pada kalian berdua. Sebenarnya kemarin ...."


Zuy menceritakan pada Dimas dan Archo tentang apa yang sudah ia dan Daddy Mario bicarakan.


(Ceritanya sudah ada di Bab 240 yang berjudul Bicara.)


Sontak mereka berdua tercengang saat mendengar cerita dari Zuy.


"Apa! Jadi si tua itu bicara seperti itu padamu, Zuy?" pekik Dimas.


"Iya Paman," balas Zuy sambil mengusap matanya.


"Tsk, benar-benar si tua itu, berani-beraninya dia merendahkan keponakan ku ini!" sungut Dimas mengepalkan tangannya.


"Nona, apa yang anda katakan barusan itu benar kalau Daddy bicara seperti itu pada anda?" tanya Archo memastikan.


"Ya tentu saja benar, untuk apa saya berbohong Tuan Archo." jawab Zuy.


Seketika membuat Archo menundukkan kepalanya karena merasa malu dan bersalah, bahkan nampak buliran air matanya yang mengalir sampai terkena kacamatanya.

__ADS_1


"Maaf Tuan Archo, kalau saya sempat berbicara kasar terhadap Mr Mario. Sebab karena beliau lah saya jadi berpisah dengan Mamah bahkan sampai bertahun-tahun lamanya." lontar Zuy.


Archo mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Zuy.


"Tidak apa-apa, saya mengerti dengan apa yang anda rasakan selama ini. Wajar saja kalau anda marah dan berbicara kasar pada Daddy saya, memang beliau lah yang salah karena sudah membuat Nona dan Papah Nona terpisah dari Mam. Dan sampai kapanpun juga saya tidak akan pernah menyalahkan anda, Nona. Bahkan saya tidak akan memaksa anda untuk memaafkan kesalahan Daddy saya ini!" ucap Archo.


"Syukurlah kalau anda mengerti tentang perasaan saya. Ya walaupun sebenarnya saya juga marah dan iri pada anda, Tuan Archo. Karena Tuan bisa merasakan kasih sayang dari Mrs Maria, meskipun Tuan tidak terlahir dari rahim Mrs Maria. Berbeda dengan saya yang tidak pernah merasakan kasih sayangnya, padahal saya yang anak kandungnya sendiri," celetuk Zuy.


Mendengar itu Archo kembali menundukkan kepalanya. "Maafkan saya Nona!" ucapnya.


Sehingga Zuy memutar bola matanya dengan malas sembari menghela nafasnya.


"Sudahlah Tuan! Jangan terlalu sering meminta maaf karena itu semua adalah masa lalu dan selamanya akan tetap menjadi masa lalu yang tidak akan pernah terulang lagi dan hanya menyisakan kenangan pahit saja," cetus Zuy.


Lalu....


"Terus masalah hubungan kamu dengan Tuan Muda. Bagaimana kalau nantinya si tua Mario itu mengetahuinya. Apa yang akan kamu lakukan keponakan ku?" tanya Dimas.


"Jika suatu saat nanti Mr Mario mengetahui hubungan Zuy dengan Ray. Maka Zuy akan berterus terang padanya dan akan menolak permintaannya untuk melepaskan Ray, sama halnya seperti Zuy menolak Mrs Maria dulu saat beliau meminta ku untuk meninggalkan Ray," ujar Zuy.


Dimas dan Archo pun langsung mengembangkan senyumnya.


"Bagus keponakan ku! Pertahankan apa yang sudah menjadi milik mu itu." tutur Dimas.


"Benar apa yang di katakan oleh Dokter Dimas, Nona." sambung Archo.


Lagi-lagi Zuy terperangah mendengar perkataan dari Dimas dan Archo.


"Ka-kalian mendukung ku?"


Dimas menganggukkan kepalanya. "Tentu saja."


"Meskipun Zuy egois dan tidak memikirkan perasaan Kimberly?"


"Zuy, kamu jangan bicara seperti itu! Bagi Paman, kamu bukanlah orang yang egois dan kamu memang layak mendapatkan kebahagiaan mu sendiri bersama Tuan Muda dan juga anak-anak kamu itu! Paman akan selalu mendukungmu, Zuy." ucap Dimas.


"Ya begitu pula dengan saya Nona."


Zuy pun tertegun dengan perkataan Dimas dan Archo, sehingga membuatnya kembali menitihkan air matanya.


"Terimakasih Paman, Tuan Archo." ucap Zuy.


"Sama-sama keponakan ku."


Lalu tiba-tiba....


Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....


Suara hp milik Dimas berdering sangat keras membuat Dimas merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya itu.


"Sebentar ya, Paman mau jawab telpon dulu!" kata Dimas sambil beranjak dari tempatnya dan menjauh beberapa jarak.


Sesaat kemudian....


"Zuy, sepertinya Paman harus pergi." kata Dimas.


"Lho kenapa buru-buru Paman?" tanya Zuy.


"Sebab Paman sudah di tunggu oleh orang rumah sakit!" jawab Dimas.


Archo dan Zuy sama-sama bangkit dari posisinya.


"Oh yaudah kalau begitu saya ikut anda ya Dokter Dimas, soalnya saya juga mau balik ke hotel karena masih banyak pekerjaan yang harus saya urus," kata Archo.


Dimas mengangguk. "Baiklah Tuan Archo."


"Yaudah kalau gitu Paman pergi dulu ya! Jaga diri kamu baik-baik, jaga kesehatan kamu dan jangan terlalu kecapean juga. Oh iya satu lagi, jangan lupa sampaikan salam Paman untuk Tuan Muda ya!" kata Dimas sekaligus memberikan pesan pada Zuy.


"Iya Paman Zuy akan selalu ingat pesan Paman dan Zuy akan menyampaikan salam Paman untuk Ray." Zuy mencium punggung tangan Dimas. "Paman juga hati-hati ya! Begitu juga dengan anda, Tuan Archo." sambungnya.


"Iya Nona." balas Archo mengangguk sopan.


Setelah selesai berpamitan pada Zuy mereka berdua pun bergegas pergi. Sedangkan Zuy langsung kembali ke anak-anaknya yang sedang bersama dengan Bu Ima.


*************************


Siang hari kemudian....


Di tempat lainnya, lebih tepatnya di sebuah Cafe, terlihat Noel tengah berada di dalam Cafe tersebut. Nampak jelas bahwa ia sedang menunggu seseorang yang tak lain adalah Andrew.


Sebab beberapa jam yang lalu Noel menghubungi Andrew dan memintanya untuk bertemu di Cafe.


Tak lama kemudian, Andrew pun datang dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Noel.


"Andrew...." seru Noel melambaikan tangannya.


Mendengar namanya di panggil, seketika Andrew menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Dan setelah tahu siapa yang memanggilnya, ia pun bergegas menghampiri Noel.


Lalu....


"Yo bro! bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Noel pada Andrew.


"Ya seperti yang kamu lihat, kabarku baik-baik saja." jawab Andrew.


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya kamu mau pesan apa Ndrew? Aku yang traktir," ujar Noel.


"Seperti biasa aja Noel," kata Andrew.


"Oke...."


Kemudian Noel memesan menu yang ada di cafe tersebut pada Waitress. Setelah selesai mencatat pesanan milik Noel, Waitress itu pun melenggang pergi.


"Ndrew...."


Andrew menoleh. "Iya, kenapa Noel?"


"Sebenarnya aku mengajak mu untuk ketemuan di sini karena ada sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan ke kamu, Ndrew." papar Noel.


"Hmmmm, sudah ku duga." lirih Andrew. "Lalu sesuatu apa yang ingin kamu tanyakan pada ku, Noel?" sambung tanyanya.


Sebelum menjawab Noel terlebih dahulu menarik nafasnya dan membuangnya.


"Begini Ndrew, sebenarnya aku ingin bertanya padamu tentang wanita yang sedang kamu taksir itu, apa ...."


"Tunggu!" sela Andrew. "Maksudmu wanita yang mana ini? Soalnya banyak wanita yang aku taksir Noel." sambungnya.


Noel berdecak. "Ck, makanya dengerin dulu kalau orang lagi ngomong Ndrew, jangan main potong aja!"


"Ya maaf Noel," ucap Andrew sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Begini Ndrew, kemaren waktu terakhir kita bertemu di diskotik, kamu bilang padaku kalau kamu sedang naksir seorang wanita yang mirip dengan Kimberly. Benar kan?"


"Bukan mirip dengan Kimberly, tapi dia adalah Kimberly. Ya memang benar kalau saat ini aku sedang menyukai wanita itu dan ingin mengejarnya sampai dapat." ujar Andrew.


"Hmmmm, lalu apa kamu tahu alamat wanita itu atau setidaknya kamu bertemu dengannya lagi?" tanya Noel.

__ADS_1


Seketika Andrew langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak tahu alamat si cantik itu. Soalnya waktu aku deketin si cantik, dia selalu risih dengan ku bahkan dia juga mempunyai pengawal yang kejam, jadi ya aku susah ngikutin dia sampai ke rumahnya. Dan lagi udah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya lagi, padahal aku udah benar-benar merindukan sosoknya itu," jelas Andrew.


"Oh, jadi begitu ya. Aku pikir kamu tau alamatnya," lirih Noel. "Tsk, ternyata memang benar kalau wanita itu sangat berharga bagi Ray, makanya Ray mengutus para pengawal untuk menjaga dan melindunginya. Haaa, kalau seperti ini bagaimana aku bisa menculiknya, sesuai dengan permintaan wanita lumpuh itu," sambung batin Noel meremas tangannya.


Lalu....


"Ehemm," Andrew berdehem membuat Noel melirik ke arahnya.


"Kenapa Ndrew?"


"Tidak apa-apa, hanya saja aku penasaran, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang si cantik itu? Apa jangan-jangan kamu juga menyukai si cantik ya?" cecar Andrew memicingkan matanya ke arah Noel.


"Ck, apa sih yang kamu tanyakan ini Ndrew? Mana mungkin aku menyukainya dan lagian juga aku malas berebut dengan mu. Aku hanya ingin tahu dan menyapanya saja, soalnya sudah lama aku tidak bertemu dengan Kimberly semenjak ia pergi ke Paris. Asal kamu tau Ndrew, sebenarnya aku adalah sahabat dekatnya," papar Noel.


"Apa! Jadi kamu sahabat dekatnya Kimberly?" Andrew tersentak.


"Tentu saja, bahkan orang tua kami juga bersahabat," ujar Noel.


Andrew mendesah. "Haaa.... Kenapa kamu tidak bilang padaku, Noel?"


"Kan sekarang udah bilang Ndrew, maka dari itu aku menanyakan soal dia dan alamat rumahnya. Tapi sayangnya kamu malah tidak tahu alamatnya, benar-benar mengecewakan." lontar Noel sekaligus menggerutu.


"Ya maaf Noel," ucap Andrew.


"Huuumph. Yaudah gak apa-apa. Tapi bisakah kamu membantuku Ndrew?"


Andrew mengerenyit. "Membantu mu? Memangnya kamu perlu bantuan apa Noel?"


Noel lalu mendekat ke arah Andrew kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga Andrew membuat Andrew membelalakkan matanya.


Sesaat setelahnya....


"Kamu benar-benar serius Noel?" tanya Andrew menyidik.


Noel mengangguk cepat. "Iya aku serius Ndrew, makanya tolong bantu aku ya!" pintanya sambil merapatkan kedua tangannya.


"Hmmmm, biar aku pertimbangkan dulu permintaan konyol mu itu," cetus Andrew.


"Oke, tapi jangan lama-lama!"


"Iya-iya...."


Perbincangan mereka pun berlanjut.


...----------------...


Tak terasa hari cepat berlalu, langit yang cerah kini telah berganti menjadi langit yang gelap bertabur bintang-bintang dan di tambah dengan sinarnya sang rembulan malam.


Villa Z&R


—Pukul 10.40pm


Ray dan Davin baru saja pulang dari acara amal yang di adakan oleh para koleganya. Setelah berada di depan pintu, Davin segera memijit bel-nya. Sesaat pelayan pun datang dan membukakan pintunya.


"Tuan Ray, Tuan Davin selamat datang." sambut pelayan tersebut sambil menunduk.


"Terimakasih," ucap Davin.


Sedangkan Ray hanya membalas dengan anggukan kepala saja. Lalu keduanya bergegas menuju ke kamarnya masing-masing.


Setibanya di depan kamar, Ray membuka pintu kamarnya secara pelan dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia melihat Zuy sedang duduk di sofa sambil memainkan pensilnya di buku gambarnya.


Perlahan Ray mendekat ke arah pujaan hatinya itu, ia langsung mendekap tubuh Zuy dari belakang, sontak membuat Zuy terkejut dan menolehkan kepalanya ke belakang, seketika senyumnya mengembang saat melihat sosok pria yang di cintainya.


Ia pun segera bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Ray, lalu di peluknya tubuh Ray dengan erat.


"Ray selamat datang," sambut Zuy.


"Terimakasih sayangku," ucap Ray mencium puncak kepala Zuy.


Sesaat Zuy melepaskan pelukannya.


"Ummm, apa anak-anak sudah tidur?" tanya Ray.


Zuy mengangguk. "Iya mereka sudah pada tidur."


"Haaa.... Lagi-lagi aku melewatkan kesenangan bersama anak-anak," lirih Ray seraya menghela nafasnya.


"Tidak apa-apa Ray, mereka juga ngerti kok. Dan lagi besok dan lusa hari libur kan, jadi kamu bisa tuh main sepuasnya sama si kembar." ujar Zuy sambil membuka kancing kemeja Ray.


"Benar juga apa kata kamu sayangku ini, besok kan hari libur ya. Duh, aku sampai lupa gara-gara terlalu sibuk."


Zuy mendesah. "Hmmmm, dasar kamu Ray. Yaudah kalau gitu kamu bebersih dulu gih!"


"Baiklah sayangku," balas Ray.


"Oh iya, kamu mau aku buatkan apa?"


"Apa aja sayangku, tapi sebelum itu ...." Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy. "Bantu aku dulu yuk!" bisik Ray.


"Hah! Maksudmu bantu apa Ray?"


Bukannya menjawab, Ray malah menyunggingkan senyumnya sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian ia menarik tangan Zuy dan membawanya ke kamar mandi.


*******************************


Sementara di tempat lainnya, Desi nampak tengah mengobrol dengan seorang pria, dan ternyata pria yang bersamanya itu adalah Pino sepupunya Anne.


Sesaat.....


"Wah, aku benar-benar gak nyangka lho, ternyata kamu memang sudah merubah wajah kamu ya sampai aku tidak bisa mengenali kamu lagi lho Anne." cetus Pino. Lalu....


Plaak....


Tiba-tiba Desi memukul bahu Pino dengan keras membuat Pino kesakitan.


"Apa-apaan sih kamu Anne? Kenapa tiba-tiba memukul ku?"


"Berhenti memanggilku Anne. Namaku saat ini adalah Desi bukan Anne dan kamu harus panggil aku dengan sebutan Desi!" pekik Desi.


"Iya maaf Ann eh maksudnya Desi."


"Lalu ada keperluan apa sehingga kamu menghubungi ku lagi Pino?" tanya Desi.


Sesaat Pino membuang nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya keperluan ku itu adalah ...."


****Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2