Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tentang....


__ADS_3

<<<<<


Ray lalu membawa Zuy keluar dari walk in closetnya, setelah itu mereka berdua duduk di tepi ranjang.


"Sayangku, aku ingin bicara tentang ...."


Sebelum melanjutkan perkataannya, Ray menggenggam erat tangan Zuy sambil merapihkan rambut Zuy yang belum sempat ke sisir.


"Ray, sebenarnya kamu ingin bicara tentang apa sih?" tanya Zuy penasaran.


"Sayangku, aku ingin bicara tentang Syukuran untuk kelahiran Baby R dan Baby Z." jawab Ray.


"Oh, mau bicara tentang itu, Zuy kira tentang apa. Hmmmm...."


"Iya sayangku, barusan juga Daddy tanya soal Syukuran si kembar. Euuum, kalau menurut sayangku bagaimana baiknya? Apa kita adakan Syukuran besar-besaran atau bagaimana?" tanya Ray yang meminta pendapat dari Zuy.


"Kalau Zuy sih pengin ngadain Syukuran buat kelahiran si kembarnya biasa aja, Ray. Seperti acara makan-makan bersama keluarga," ujar Zuy.


"Sayangku, apa kamu yakin ingin mengadakannya biasa-biasa saja?" tanya Ray memastikan.


Tanpa ragu, Zuy pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya aku sangat yakin, Ray. Bukannya barusan kamu meminta pendapat dariku? Pendapat ku ya begitu, Syukurannya biasa aja," papar Zuy.


"Tapi sayangku...." lirih Ray merengut kan wajahnya.


Zuy yang melihatnya pun langsung memegang kedua pipi Ray sembari menghela nafasnya.


"Huuft, aku tahu apa yang kamu inginkan untuk Syukuran si kembar, Ray. Aku juga tidak akan melarangnya. Tapi kalau menurutku sih dari pada mengadakan pesta besar untuk Syukuran si kembar, alangkah baiknya kalau kita ganti dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat!" tutur Zuy.


"Maksud sayangku?"


"Euuum begini Ray, maaf ya kalau Zuy baru ngasih tau kamu. Sebenarnya waktu Zuy masih mengandung si kembar, Zuy pernah berucap dan berjanji pada diri Zuy sendiri. Jika mereka lahir dengan selamat dan normal, Zuy ingin sekali membeli barang-barang seperti baju, mainan, tas ya pokoknya yang bermanfaat buat anak-anak. Dan Zuy ingin sumbangkan barang-barang itu buat Panti asuhan yang berada di Kota M. Ya sebenarnya sih Zuy udah tahu kalau setiap bulannya kamu suka memberikan donasi bahkan barang-barang untuk Panti asuhan itu. Tapi ini kan janji Zuy, jadi ...." kata Zuy dengan panjang lebarnya, lalu ia pun menundukkan kepalanya.


"Sayangku...."


Ray memegang dagu Zuy dan mendongakkannya sehingga mereka saling bertatapan.


"Euuum...." Zuy menggigit bibir bawahnya, nampak jelas bahwa ia tengah ragu untuk mengatakannya pada Ray.


"Sayangku, jangan menggigit bibir mu seperti itu!" tutur Ray menempelkan ibu jarinya di bibir Zuy. "Apa kamu sedang menginginkan sesuatu? Katakanlah!" sambungnya.


"Maaf Ray! Zuy hanya ragu untuk mengatakannya. Takutnya nanti kamu marah dan kecewa sama Zuy," ucap Zuy.


"Haaaa.... Sayangku, mana mungkin aku marah dan kecewa sama kamu, karena sayangku kan wanita yang aku cintai. Jadi katakanlah apa yang kamu inginkan!" ujar Ray.


Sebelum membuka suaranya, Zuy mengambil nafasnya terlebih dahulu dan menghembusnya perlahan dan di tatapnya kembali dengan lekat wajah lelaki tampan di hadapannya itu.


"Ray, boleh ya kalau Syukuran buat kelahiran si kembar di adainnya biasa aja! Dan sebagai gantinya aku ingin menepati janjiku yaitu memberikan sesuatu pada anak-anak panti asuhan yang berada di Kota M. Tapi kalau kamu tetap ingin mengadakan pesta besar buat si kembar, gak apa-apa kok. Zuy juga gak akan melarangnya," lontar Zuy meminta pada Ray.


"Sayangku, kalau itu mau kamu, mana mungkin aku menolaknya," kata Ray.


"Jadi?"


Ray tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya sesuai permintaan sayangku, kita akan mengadakan Syukuran untuk kelahiran si kembar yang sederhana saja," kata Ray.


Seketika senyum Zuy langsung mengembang, sekilas ia mendaratkan bibirnya ke pipi Ray membuat Ray merona.


"Terimakasih Ray," ucap Zuy.


"Apapun untuk kamu, sayangku." balas Ray mengelus pipi Zuy.


Sebenarnya Zuy khawatir dan takut, kalau sampai Ray mengadakan acara besar untuk Syukuran kelahiran si kembar, maka akan ada orang jahat yang mengincar kedua anaknya itu. Meskipun Zuy tahu bahwa Ray akan selalu melindungi mereka dengan segala cara.


Akan tetapi yang namanya penjahat akan selalu menggunakan cara licik untuk sesuatu yang di inginkannya. Begitu pula dengan Ray yang langsung menyadari permintaan pujaan hatinya itu, makanya ia pun menyetujui permintaan Zuy.


"Oh iya sayangku, apa kita cari pengasuh untuk si kembar?" tanya Ray.


"Ray, si kembar masih terlalu kecil untuk di urus oleh pengasuh dan lagi Zuy juga masih sanggup kok mengurus mereka berdua," papar Zuy.


"Tapi sayangku, apa kamu yakin tidak apa-apa kalau kamu mengurus mereka tanpa pengasuh?" Ray bertanya kembali untuk memastikannya.


Zuy pun mengangguk cepat. "Tentu Zuy tidak apa-apa Ray, dan lagi yang Zuy urus kan anak Zuy sendiri. Dari pada pengasuh sih, kayaknya Zuy lebih butuh di pijat deh, soalnya punggung Zuy sering sakit setelah menyusui mereka."


Mendengar itu, Ray naik ke atas ranjang dan duduk di belakang Zuy, kemudian ia pun langsung memijat punggung pujaan hatinya.


"Bagaimana sayangku?"


"Lumayan enakkan punggung ku. Pandai juga kamu memijat, Ray." ucap Zuy memuji Ray.


"Tentu saja, aku kan bisa segalanya. Hahaha...." Ray mulai menyombongkan dirinya.


"Hmmmm, dasar kamu ya!" gumam Zuy.


Lalu tiba-tiba Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Sayangku, setelah selesai memijit, apa yang akan sayangku berikan untukku?" bisik Ray menggoda.


Sehingga membuat telinga Zuy merasa panas, pipinya pun memerah bak kepiting rebus, kemudian di tolehkan sedikit wajahnya ke arah Ray.


"Memangnya kamu mau apa? Cium?"


"Hmmmm, bagaimana kalau adik buat si kembar."


Sontak membuat Zuy terkejut mendengarnya bahkan wajahnya pun mulai keunguan.


"Hah! A-adik si kembar? Ray, kamu ini benar-benar mesum! Si kembar kan belum ada sebulan dan lagi jahitan ku masih terasa sakit," pekik Zuy membelalakkan matanya. Lalu ....


Pffft....


"Hahahaha...." Ray menyemburkan tawanya.


"Ray, kenapa kamu tertawa?" tanya Zuy keheranan.

__ADS_1


"Habisnya lihat ekspresi wajah mu seperti itu dan di tambah lagi dengan kata MESUM, bikin aku tidak tahan untuk tertawa. Sayangku, padahal kan sebenarnya aku hanya ingin menggoda mu saja, aku juga tahu kalau si kembar masih terlalu kecil dan juga kamu masih kesakitan," ujar Ray.


Sehingga membuat Zuy mendengus kesal, ia pun mengambil boneka beruang kecil yang berada di atas ranjangnya dan melemparkannya ke arah Ray.


"Dasar kamu ya! Udah punya anak juga, masih aja suka godain Zuy," pekik Zuy.


"Hahaha.... Tapi sayangku suka kan kalau di godain pria tampan seperti ku ini."


"Su.... Nggak, Zuy gak suka." elak Zuy membuang wajahnya, namun berbeda dengan hatinya yang berbunga-bunga, ia pun mengulum bibirnya menahan senyumnya.


Ray kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy.


"Benarkah sayangku tidak suka kalau aku goda?" bisik Ray.


"Be-benar, Zuy ti-tidak suka kalau kamu gak godain ah maksud ku kalau di godain kamu, Ray." balas Zuy gugup.


Ray tersenyum dan berkata, "Oh iya, tapi kenapa sayangku gugup gitu, sampai telinganya merah, terus kenapa jantung sayangku berdegup kencang seperti ini?"


"Si-siapa yang gugup, siapa yang jantungnya berdegup kencang? Zuy gak gitu kok," Zuy tetap saja mengelak.


"Benarkah? Hmmmm, apa aku pancing aja ya! Biar sayangku gak mengelak lagi," papar Ray.


"Apa!" Zuy menolehkan kepalanya sedikit ke arah Ray. "Ray, kamu.... hummmpt."


Ray lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dan menyesapnya dengan lembut membuat Zuy terpaku dan membalasnya. Lalu ....


Kriieet


Tiba-tiba suara pintu terbuka, seseorang pun melangkah masuk, dan ternyata ia adalah Davin.


Ya karena dia yang berani menyelonong tanpa permisi.


"Zuy, Tuan Ray. Baby R menang....is, eeeh...."


Davin pun ternanap melihat adegan ciuman mereka, ia pun buru-buru membalikkan badannya sembari menutup matanya.


"Tuan Ray, Zuy. Maaf kalau aku mengganggu adegan misteri ciuman kalian, tapi aku mau ngasih tau kalau Baby R menangis dan susah untuk di tenangkan," seru Davin.


Sontak pasangan itu pun langsung melepaskan tautan bibirnya.


"A-apa! Baby R menangis?" tanya Zuy yang segera bangkit dari posisinya dan mengusap bibirnya.


"Iya Zuy, makanya aku kesini. Tentunya kamu tahu kalau Baby R susah untuk di tenangin selain sama Ibu dan moyangnya (Ray) itu," ujar Davin yang terus membelakangi mereka.


Zuy melihat ke arah Ray yang masih duduk di atas ranjangnya.


"Ray, Zuy ke depan dulu ya! Mau nenangin Baby R." pamit Zuy.


Ray mengangguk. "Iya sayangku."


Zuy tersenyum dan bergegas melangkah keluar dari kamarnya menuju ke ruang di mana anak-anaknya berada. Sesaat setelah Zuy pergi Davin langsung menghampiri Ray dan duduk di samping Ray.


"Tuan Ray, anda benar-benar ya. Katanya tadi cuma ingin menyusul Zuy tapi gak taunya malah melakukan misteri cup-cupan," celetuk Davin merangkul pundak Ray.


"Ck, apa sih. Lagian Kak Davin kebiasaan banget suka menganggu orang yang sedang bermesraan saja," gerutu Ray.


Ray memutar bola matanya dengan malas.


"Lalu apa ada kabar dari orang-orang yang aku suruh?" tanya Ray.


"Sejauh ini belum ada kabar apa-apa. Tapi ada satu kabar dari keluarga Pak Wildan," balas Davin.


"Apa! Dari Pak Wildan? Memangnya kabar apa?" Ray terkejut sekaligus penasaran.


"Kalau Istrinya sudah berada di sini lagi dan tadi juga ia menjenguk anak dan suaminya," jelas Davin.


"Oh, jadi dia sudah keluar dari rumah sakit itu? Ck, aku pikir dia akan berada di sana sampai bertahun-tahun." sungut Ray mengepalkan tangannya.


"Lalu apa perintah anda, Tuan Ray."


Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Davin dan membisikkan sesuatu padanya, sehingga membuat Davin menyunggingkan senyum smirk-nya. Sesaat setelahnya Ray menjauhkan wajahnya.


"Memang dasarnya Tuan Ray, tapi aku menyukainya." ucap Davin.


Ray lalu bangkit dari posisinya. "Ayo kita keluar!"


Davin pun mengangguk patuh, lalu mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk berkumpul dengan lainnya.


**********************


Rumah Dimas


Sementara itu di rumah Dimas, Bunda Artiana sedang berada di halaman sambil menyirami tanaman kesayangannya itu. Lalu saat pandangannya mengarah ke pagar rumahnya, Bunda Artiana melihat Taksi yang berhenti di depan pagarnya.


"Tumben sore-sore begini ada Taksi berhenti di depan rumah?" lirih Bunda Artiana memandangi taksi tersebut.


Nampak seseorang laki-laki turun dari taksi tersebut, membuat Bunda Artiana semakin penasaran. Sesaat setelah taksi pergi, laki-laki itu pun membalikkan badannya. Dan setelah pintu pagar terbuka, ia segera masuk ke dalam.


"Bunda...." serunya berjalan menghampiri Bunda Artiana sambil melambaikan tangannya.


"Siapa?" lirih Bunda Artiana kebingungan.


Setelah sudah berada di dekat Bunda Artiana, ia langsung meraih tangan Bunda Artiana dan mencium punggung tangannya.


"Bunda, apa kabar?" tanyanya.


"Ka-kabar Bunda baik-baik saja, ma-maaf kamu siapa ya?" jawab Bunda Artiana sekaligus bertanya.


Laki-laki itu pun mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Bunda Artiana sambil menggenggam tangan Bunda Artiana.


"Bunda, apa Bunda tidak mengingat ku? Ini Archo, Bunda." jelasnya yang ternyata Archo.


"Archo?" Bunda Artiana berfikir sejenak untuk mengingatnya. "Nak Archo, ini beneran kamu Nak?" sambung kata Bunda Artiana.


"Syukurlah, akhirnya Bunda mengingat ku," ucap Archo.

__ADS_1


Seketika Bunda Artiana langsung memeluk laki-laki berkacamata itu.


"Nak, kamu dari mana saja? Kenapa baru datang ke sini?" tanya Bunda Artiana.


"Maafkan Archo, Bunda! Archo baru sempat datang, soalnya di sana banyak pekerjaan yang tidak bisa Archo tinggal," ujar Archo.


Bunda Artiana lalu melepaskan pelukannya dan memegang pipi Archo.


"Oh begitu, ya tidak apa-apa Nak. Ayo masuk!" ajak Bunda Artiana.


Archo lalu menganggukkan kepalanya, mereka berdua segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. Setibanya di dalam rumah, Archo langsung duduk di sofa.


"Mira...." seru Bunda Artiana.


Seketika Mira datang menghampiri Bunda Artiana.


"Iya Nyonya besar," sahut Mira.


"Tolong buatkan minuman untuk Nak Archo!" titah Bunda Artiana.


Mira pun langsung mengangguk patuh dan melenggang pergi ke arah dapur. Sedangkan Bunda Artiana mendudukkan dirinya di samping Archo.


"Nak, Bunda perhatikan nampaknya kamu semakin kurus saja," lontar Bunda Artiana memandangi Archo.


"Oh, mungkin karena Archo kecapean Bunda, makanya Archo kurusan," papar Archo.


"Jangan terlalu memforsir diri, Nak Archo. Nanti kamu malah sakit lagi, kalau sekiranya cape, yaudah istirahat aja! Urusan pekerjaan gak akan ada habisnya. Tapi yang terpenting kamu harus jaga kesehatan mu ya Nak!" tutur Bunda Artiana.


"Iya Bunda benar, makanya Archo kesini, supaya Archo bisa istirahat," kata Archo. "Oh iya Mam Maria mana Bun?"


"Maria ada di kamarnya, sebentar! Biar Bunda panggilkan."


Saat Bunda Artiana hendak bangkit dari duduknya, Archo tiba-tiba menahannya.


"Tidak usah Bunda, biar Archo saja ya!" pinta Archo.


"Oh, iya Nak Archo." balas Bunda Artiana mengangguk.


Archo pun berdiri dari duduknya. "Kalau begitu Archo ke Mam dulu ya Bunda."


Bunda Artiana hanya membalas dengan anggukan kepala, lalu Archo berjalan menuju ke arah kamar Maria. Setelah berada di depan pintu kamarnya, Archo berdiri sejenak sambil menghela nafasnya dan mengetuk pintunya.


Tok.... Tok.... Tok....


"Masuk aja!" seru Maria dari dalam kamarnya.


Mendengar itu, Archo langsung mendorong pintunya hingga terbuka.


"Mam...." panggil Archo.


Seketika Maria langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu.


"Archo!!"


Archo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ia pun langsung menghampiri Maria dan berlutut di hadapan Maria.


"Bagaimana kabar Mam? Apa Mam baik-baik saja?" tanya Archo. Lalu tiba-tiba....


Plaak....


Maria mendaratkan tangannya ke pipi Archo dengan keras, sehingga membuat Archo tersentak kaget.


"Mam, kenapa menampar ku?"


"Itu karena kamu sudah membuat Mam marah, Archo." pekik Maria.


"Archo mengerti, pasti ini ada kaitannya dengan Kimberly yang mendekam di penjara kan, Mam?" lontar Archo.


"Itu kamu tahu, lantas kenapa kamu begitu jahat dan tega terhadap Kimberly yang tak lain adalah adik mu sendiri, Archo!" sentak Maria.


Mendengar sentakan keras dari Maria, Archo langsung menundukkan kepalanya.


"Maafkan Archo, Mam. Bukan maksud Archo jahat terhadap Kimberly, akan tetapi Archo ingin supaya Kimberly sadar atas kejahatan yang dilakukannya," ucap Archo.


"Harusnya kamu jangan membawa Kimberly ke sana, Archo! Dia pasti sangat menderita tinggal di dalam penjara, apalagi Kimberly masih kecil. Apa tidak ada cara lain, Archo?" lontar Maria dengan emosinya.


Membuat Archo mengangkat kepalanya kembali dan menatap Maria.


"Mam, tapi itu juga keinginan Kimberly sendiri untuk memilih di penjara dari pada harus di Paris dan tinggal di Asrama Tante Grace," jelas Archo.


"Apa! Asrama Tante Grace?"


Archo mengangguk cepat. "Iya Mam, awalnya Archo ingin mengirim Kimberly kesana, cuma ia menolaknya, Mam."


"Kamu benar-benar sudah gila ya Archo! Ya jelas Kimberly menolaknya, karena Asrama Grace bagaikan neraka, orang salah sedikit saja langsung di pukul hingga badannya terluka semuanya, apa kamu tega melihat badan adik mu penuh dengan luka, hah!" pekik Maria.


"Ya mau bagaimana lagi Mam, Archo ingin Kimberly sadar dengan apa yang ia lakukan pada seniornya itu." lirih Archo.


"Memangnya kamu tidak bisa membujuk wanita itu? Supaya dia mau berdamai dengan kita, jadi Kimberly tidak sampai di hukum seperti itu."


"Mam, dia yang menolak untuk di ajak berdamai. Dia hanya ingin Kimberly merasakan penderitaan yang ia alami selama ini akibat ulah dari Kimberly itu," balas Archo.


Lalu Maria mencengkeram kuat pundak kiri Archo.


"Archo! Harusnya kamu membujuknya lebih halus lagi, kasih uang atau barang mewah, supaya dia mau berdamai dengan kita. Kalau misalnya cara halus tidak berhasil, kamu kan bisa menggunakan cara kasar, ajak semua bawahan mu dan bikin hidupnya lebih menderita lagi, pasti ia akan menurut dan setuju untuk di ajak berdamai." cetus Maria.


"Tapi...."


"Archo, dengarkan perkataan Mam! Siapa pun yang berani membuat anak kesayangan ku menderita, aku Maria Fuca bersumpah tidak akan pernah melepaskan orang itu sampai kapanpun!"


****Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2