Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Cicilan Telinga....


__ADS_3

<<<<<


Zuy pun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Ray.


"Ray, sepertinya aku ...."


"Sepertinya apa sayangku? Apa sayangku sakit?" sela Ray yang khawatir dengan pujaan hatinya itu.


"Sakit? Zuy gak sakit Ray." ujar Zuy menggelengkan kepalanya.


"Kalau sayangku gak sakit, kenapa sayangku muntah-muntah seperti itu? Ah, apa jangan-jangan cicilan telinga yang kita buat sudah full, makanya sayangku muntah-muntah." papar Ray yang menduga-duga.


Sontak membuat Zuy tercengang dan membelalakkan matanya.


"Hah! Cicilan telinga yang full?"


Ray langsung mengangguk cepat sambil menyunggingkan senyumannya, melihat ekspresi Ray, sejenak Zuy pun mendesah panjang.


"Haaaa.... Sepertinya sekarang aku paham apa yang kamu maksud dengan cicilan telinga, tapi sayangnya dugaan mu itu tidak benar, Ray."


"Apa! Tidak benar? Jadi sayangku ...."


"Ya, aku tidak sedang mengandung adiknya si kembar," jelas Zuy.


"Terus kalau sayangku tidak hamil dan tidak sakit, kenapa sayangku bisa muntah-muntah seperti itu?"


Sebelum menjawab, Zuy menggenggam tangan Ray dan menariknya ke arah sofa yang berada di kamarnya, kemudian mereka berdua duduk di atas sofa tersebut.


"Ray, sebenarnya aku muntah karena kekenyangan," ujar Zuy.


"Kekenyangan?"


Zuy menganggukkan kepalanya. "Iya aku kekenyangan bahkan sangat kekenyangan, jadinya perutku gak nahan lagi dan akhirnya membuatku muntah-muntah."


"Memangnya sayangku makan apa aja sampai kekenyangan begitu?" tanya Ray.


Seketika Zuy mengerenyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Ray, lalu ia pun mencubit pipi Ray.


"Ray jangan berlagak seperti orang yang lupa! Aku kekenyangan juga gara-gara kamu tahu!" pekik Zuy sembari menurunkan tangannya dari pipi Ray.


"Hmmmm, gara-gara aku?" Ray menunjuk ke arahnya sendiri.


"Iya, sebab setiap selang beberapa saat, kamu datang selalu membawa makanan. Pertama kamu bawakan aku susu, buah dan bubur kacang hijau, kamu juga yang menyuapiku. Yang kedua kue cokelat, kamu menyuruhku untuk menghabiskannya. Dan yang terakhir kamu membawa makan malam untukku. Bagaimana aku tidak kekenyangan coba, perutku saja sampai tidak bisa menahannya," Zuy menjelaskannya dengan nada menggerutu. Lalu....


Pffft....


"Hahaha.... Jadi itu penyebab kamu sampai muntah-muntah. Hmmmm, maafkan aku ya sayangku!"


Zuy pun tersenyum sembari mengalungkan tangannya ke leher Ray.


"Iya aku memaafkan mu, Rayyan." balas Zuy.


"Terimakasih sayangku," ucap Ray. "Tapi sayangku, sebenarnya tadi aku sempat mengira dan berharap kalau sayangku bakalan hamil lagi," sambungnya.


"Apa! Kamu berharap aku hamil lagi?"


"Iya sayangku," Ray membalas di barengi anggukan kepalanya.


Dahi Zuy kembali mengernyit. "Rayyan! Si kembar masih kecil, duduk juga masih di bantu. Masa iya aku hamil lagi kasihan mereka dong, Ray. Kalau kamu mau adiknya si kembar, nanti ya kalau si kembar udah gedean dikit!" lontarnya menoel caping hidung Ray.


"Kamu benar sayangku, baiklah kalau begitu kita tunggu di kembar bisa jalan, baru kita tambah adik untuk si kembar."


"Nah gitu dong, tampan-ku. Oh iya, aku lupa bilang ke kamu Ray," ujar Zuy.


"Memangnya kamu mau bilang apa sayangku?" tanya Ray.


"Aku mau bilang kalau besok jadwal si kembar di imunisasi. Dokter Verona dan Kak Eqitna juga sudah memberitahu ku," jawab Zuy.


"Oh, jadi besok ya jadwal mereka di imunisasi. Baiklah besok sebelum berangkat ke Perusahaan, terlebih dahulu aku akan mengantar dan menemani kalian pergi ke rumah sakit untuk imunisasi anak-anak kesayangan ku," kata Ray.


"Tapi Ray...."


"Tapi apa sayangku? Pokoknya besok aku akan menemani kalian pergi ke rumah sakit dan sayangku jangan menolaknya, oke!"


Sesaat Zuy kembali menghela nafasnya.


"Ray, siapa juga yang menolak mu, justru Zuy malah senang kalau kamu yang menemani. Tapi yang Zuy maksud adalah apa kamu sanggup dan tidak akan menangis lagi saat melihat si kembar di imunisasi?" cetus Zuy.


"Me-memangnya siapa yang menangis? Aku gak pernah nangis kok saat melihat si kembar di imunisasi," elak Ray sambil mengalihkan wajahnya dan membelakangi Zuy.


Melihat Ray seperti itu, Zuy pun menyunggingkan senyumnya.


"Hmmmm, dasar kamu Ray." batin Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesaat ia pun mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ray sambil memegang bahu Ray.


"Benarkah kalau waktu itu kamu tidak menangis?" bisik Zuy.


"Be-benar sayangku, waktu itu bukan aku yang menangis," lagi-lagi Ray mengelak dan nampak jelas raut wajahnya yang memerah.


"Oh, tapi kenapa wajah kamu memerah seperti itu, Ray?"


"Wanita ini benar-benar membuatku tergoda," batin Ray, dengan kilat ia pun membalikkan tubuhnya dan mengunci kedua tangan Zuy sembari menekan tubuh Zuy dengan tubuh besarnya itu, sehingga membuat Zuy ternanap.


"Sayangku, daripada membicarakan tentang aku yang menangis karena si kembar, lebih baik kamu jelaskan padaku tentang kejadian di Supermarket!"


"Hah! Kejadian di Supermarket? Maksudmu?" tanya Zuy kebingungan.


"Sayangku, aku mendengar kabar bahwa ada seorang laki-laki datang mendekati mu. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa dia orang di masa lalu kamu?" cecar Ray, nampak ada kecemburuan di dalam dirinya.


"Haaa.... Pasti kamu dapat kabar dari pengawal mu itu. Ya kamu benar, dia memang orang di masa lalu ku," ujar Zuy dengan niat menggoda Ray.


"Apa kamu bilang! Jadi dia memang orang masa lalu kamu? Tapi bukannya sayangku pernah bilang padaku, bahwa sayangku tidak pernah mempunyai pacar atau hubungan dengan laki-laki lain selain aku?"


"Hmmmm, memangnya aku pernah bilang seperti itu ke kamu, Ray?"


"Sayangku...."


Lalu tiba-tiba Zuy menyemburkan tawanya.


"Sayangku apa ada yang lucu? Sampai kamu tertawa seperti itu?" pekik Ray.


"Kamu yang lucu Ray dan bau tumpahan cuka darimu itu menyengat di hidung ku."


Ray mengerutkan keningnya, ia pun melepaskan genggamannya dan beralih mencubit kedua pipi Zuy.


"Sayangku, masih sempat-sempatnya ya kamu mencandai ku."


"Aah, iya-iya maafkan aku Rayyan! Aku kan hanya ingin menggoda mu saja, soalnya kamu suka lucu kalau sedang numpahin cuka gini. Ya dia memang orang masa lalu ku, tapi bukan berarti dia pernah di hatiku ataupun jadi pacarku," jelas Zuy.


"Jadi maksud sayangku?"

__ADS_1


"Dia hanya temanku saat aku masih duduk di bangku SMA, namanya Devaro Hansel. Dan dulu dia juga pernah datang ke Perusahaan untuk menemui mu."


"Devaro Hansel?" lirih Ray mengingat nama Deva. "Sekarang aku ingat, Devaro yang dari Perusahaan DE itu kan? Kalau tidak salah dia juga mengajak sayangku makan siang, terus sampai istrinya salah paham dan menampar sayangku, benarkan?" sambung kata Ray.


"Ternyata kamu masih mengingat kejadian itu ya? Aku aja udah gak ingat tentang kesalah pahaman istrinya Deva terhadap ku," ujar Zuy.


"Ya... Itu karena kamu orangnya suka gampang melupakan sesuatu dan mudah memaafkan. Berbeda dengan ku yang selalu ingat akan perbuatannya terhadap sayangku. Ya bukan cuma dia saja, semua orang yang sudah jahat dan melukai sayangku pun akan aku ingat sampai kapanpun," lontar Ray.


Seketika membuat Zuy tertegun mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Ray, ia pun mencium kilat pipi Ray.


"Terimakasih Ray, karena kamu selalu melindungi ku dan si kembar," ucap Zuy mengelus rambut Ray.


"Sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi kalian yang paling aku sayangi," balas Ray. "Oh iya sayangku, apa tadi kamu bersentuhan dengan lelaki itu?" sambung tanyanya.


"Bersentuhan? Tidak, aku hanya berjabat tangan saja dengannya."


Lalu tiba-tiba Ray meraih tangan Zuy dan menciumi telapak tangannya.


"Ray, apa yang kamu lakukan? Kenapa menciumi tanganku seperti ini?"


"Aku hanya ingin menghapus jejak pria itu, sayangku."


"Apa! Tapi aku kan sudah cuci tangan dan mandi, tentunya tanganku sudah bersih dari jejaknya, Ray."


"Tidak, itu belum cukup membuat jejaknya terhapus dan hanya aku yang bisa menghapusnya."


Ray lalu kembali menciumi tangan Zuy. Sesaat setelah selesai, ia beralih memeluk pujaan hatinya itu.


"Sayangku, aku tidak suka kalau ada orang lain yang menyentuh sayangku, meskipun hanya berjabat tangan saja." cetus Ray yang mencium bahu Zuy.


"Issh, kamu semakin kesini semakin posesif saja, tapi entah kenapa aku sangat menyukainya."


Seketika senyumnya Ray terukir di wajah tampannya itu, ia pun kembali melakukan aksinya itu bagaikan serigala buas, sampai keduanya tenggelam hingga terlelap.


Ya untuk malam ini Ray mendapatkan jatah dan bonus banyak, di tambah kedua anaknya yang tertidur lelap dan tidak mengganggu mereka berdua saat tengah bermain. (Travelling masing-masing ya! Hahaha....)


...----------------...


Keesokan harinya....


Tak terasa malam yang panjang pun kini telah berubah menjadi pagi yang cerah, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 08.35Am.


Sementara itu, Davin, Ray, Zuy dan si kembar sudah berada di teras depan rumahnya dan tengah bersiap-siap untuk berangkat.


"Kak Davin, tolong Kakak sampaikan ke semuanya, bahwa rapat di undur usai jam istirahat! Soalnya aku ingin mengantar mereka ke rumah sakit untuk Imunisasi si kembar. Setelah selesai baru aku langsung ke Perusahaan," titah Ray.


Davin pun langsung menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan Ray," patuhnya.


"Terimakasih," ucap Ray menepuk punggung Davin.


Sesaat kemudian, mereka masuk pun masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Lalu Davin melajukan mobilnya menuju ke Perusahaan CV, sedangkan Ray dan lainnya menyusul di belakang menuju ke arah rumah sakit.


***************************


Rumah Sakit.


Beberapa saat setelah sampai di rumah sakit, dan selesai semua prosedurnya. Kini giliran si kembar masuk ke ruangan untuk Imunisasi.


Ray lalu mengangkat Baby R dan meletakkannya di tempat yang sediakan. Lalu kemudian Dokter Verona menyiapkan semua yang di perlukan, setelah selesai Dokter Verona pun langsung mengimunisasi Baby R dengan menyuntik paha kiri Baby R, sontak membuat tangis Baby R menggema.


Setelah selesai, Zuy langsung menggendong Baby R dan menenangkannya.


Kini giliran Baby Z untuk di imunisasi, Dokter Verona pun melakukan hal yang sama seperti saat ia mengimunisasi Baby R dan membuat tangis Baby Z ikut menggema.


Ray segera mengangkat tubuh anak perempuannya dan menggendongnya, nampak jelas air mata Ray yang lolos membasahi pipinya.


"Pasti sakit banget ya cantiknya Daddy. Jangan nangis sayang! Daddy jadi ikutan sedih nih," ucap Ray mendekap tubuh Baby Z.


Zuy dan Dokter Verona hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ray.


"Tuan Ray, lain kali kalau tidak kuat melihat mereka di suntik, anda bisa menunggunya di luar," kata Dokter Verona.


Beberapa saat kemudian, Ray dan Zuy berpamitan sembari mengucapkan "Terimakasih." pada Dokter Verona dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Saat berada di luar ruangan, Zuy tak henti-hentinya terkikik, membuat Ray merengut kan wajahnya.


"Sayangku...."


"Hihihi, maaf Ray! Habisnya semalam kan kamu bilang padaku kalau kamu gak nangis, tapi ternyata sekarang malah nangis seperti ini," ledek Zuy.


"Sayangku, berhenti meledekku!"


"Iya-iya maaf, habisnya kamu lucu sih dan lagi kamu menangis sampai mata kamu jadi sedikit sembab gini," Zuy mengusap mata Ray dengan tangannya.


"Ya aku kan terbawa suasana melihat anak-anak menangis seperti itu. Dulu pas awal juga kamu sering menangis kan sayangku?"


"Iya juga sih, tapi sekarang aku bisa menahannya, meskipun ada rasa ingin nangis juga."


"Buuuu.... Berarti sayangku gak jauh beda dengan ku."


Ray merangkul pundak Zuy dan mencubit gemas pipi Zuy. Lalu kemudian Henri datang menghampiri mereka.


"Tuan Ray, Nyonya." sapa Henri membungkuk.


"Akhirnya kamu datang, Hen." kata Ray


Henri mengangkat kepalanya. "Iya Tuan, dan maaf terlambat karena jalanan sedikit macet."


"Iya tidak apa-apa, kami juga baru selesai," ujar Ray.


Pandangan Ray beralih ke arah Zuy sembari memegang pipinya.


"Sayangku, maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah. Soalnya aku langsung berangkat ke Kantor, tidak apa-apa kan sayangku?"


Zuy mengangguk. "Iya tidak apa-apa, Ray. Kamu yang semangat kerjanya ya!"


"Pasti aku akan selalu semangat, apalagi ada kamu dan si kembar yang selalu menyemangati ku. Terimakasih sayangku."


Sekilas Ray melihat Henri yang berada di depannya. Seakan mengerti Henri pun segera membalikkan badannya.


"Yaudah sayangku, aku berangkat dulu ya!" pamit Ray mencium kedua pipi Zuy.


Kemudian ia beralih ke arah stroller si kembar sembari mencondongkan tubuhnya.


"Anak-anak Daddy yang ganteng dan cantik. Daddy berangkat kerja dulu ya!" ucap Ray pada si kembar dan mencium pipi keduanya.


Sesaat setelahnya, ia mendekat ke arah Henri dan menepuk pundaknya.


"Hen, jaga mereka dengan baik!" titah Ray.


"Baik Tuan Ray." balas Henri menunduk.

__ADS_1


Pandangannya pun beralih ke Zuy sambil melambaikan tangannya dan di balas oleh Zuy.


"Hati-hati ya Ray! Jangan ngebut bawa mobilnya!" ucap Zuy.


"Oke sayangku!"


Ray melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumah sakit itu.


"Ayo kita pulang!" ajak Zuy.


"Iya Nyonya. Sini biar stroller-nya saya yang dorong!" pinta Henri dan di balas anggukan oleh Zuy.


Kemudian mereka berdua pun berjalan bersama. Sesaat setelah berada di luar rumah sakit, Henri pun segera menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya, sedangkan Zuy menunggunya di depan rumah sakit.


"Anak-anak Mamah pinter ya! Cuma nangis sebentar doang," ucap Zuy mengelus kepala keduanya.


Lalu....


"Lho, Zuy!" seru seseorang.


Sontak membuat Zuy menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.


"Hmmmm, Paman Dokter, Nenek!" lirih Zuy.


Ternyata yang memanggil Zuy adalah Dimas dan Bunda Artiana.


Mereka berdua pun mendekat ke arah Zuy, kemudian Zuy meraih tangan Bunda Artiana dan menciumnya begitu pula dengan Dimas.


"Cucuku sedang apa kamu dan anak-anak mu di sini?" tanya Bunda Artiana mengelus rambut Zuy.


"Oh, Zuy habis imunisasi si kembar, Nek. Dan sekarang Zuy mau pulang, lagi nunggu Henri ngambil mobil di parkiran."


"Oh, jadi hari ini jadwal si kembar di imunisasi ya Zuy?" tanya Dimas.


Zuy mengangguk. "Iya Paman, oh iya Nenek sendiri kenapa ada di sini, apa Nenek habis check up?"


"Iya cucuku, hari ini juga jadwal Nenek check up," balas Bunda Artiana.


Lalu kemudian seseorang datang menghampiri Dimas dan membisikkan sesuatu padanya.


"Oh baiklah saya akan segera ke sana!" kata Dimas pada seseorang itu.


Orang itu pun mengangguk dan pergi meninggalkan Dimas.


"Ada apa Dimas?" tanya Bunda Artiana.


"Maaf Bunda, sepertinya Dimas tidak bisa mengantar Bunda pulang, soalnya ada pasien yang membutuhkan Dimas," jawab Dimas.


"Oh, yaudah tidak apa-apa Dimas, Bunda bisa pulang sendiri naik taksi," ujar Bunda Artiana.


"Pakai taksi online aja ya Bun, biar Dimas yang pesan." lontar Dimas sambil mengambil hpnya untuk memesan taksi online.


Akan tetapi....


"Euuum, maaf Paman Dokter."


Dimas mengalihkan pandangan ke Zuy. "Iya Zuy kenapa?"


"Bagaimana kalau Zuy aja yang mengantar Nenek pulang." tawar Zuy.


"Tapi cucuku, apa tidak merepotkan mu?"


"Tentu saja tidak merepotkan Nek, justru Zuy malah senang bisa mengantar Nenek pulang," papar Zuy.


Seketika Dimas dan Bunda Artiana saling memandang satu sama lain, lalu Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah cucuku," Bunda Artiana menyetujuinya.


"Terimakasih Nek," ucap Zuy.


"Harusnya Nenek yang berterimakasih padamu, karena kamu mau mengantar Nenek pulang, Cucuku."


Zuy pun tersenyum, sesaat kemudian mobil yang di kendarai Henri berhenti di depan Zuy. Lalu Henri turun dari mobilnya dan menghampiri Zuy.


"Ayo kita pulang, Nyonya!" ajak Henri.


Zuy mengangguk. "Iya Hen, tapi sebelum itu kita antar Nenek dulu ya!" titahnya.


"Baiklah Nyonya."


Bunda Artiana terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan. Lalu di susul Zuy yang berada di kursi tengah bersama kedua anaknya itu.


"Dimas, Bunda pulang duluan ya!" pamit Bunda melambaikan tangannya.


"Iya Bunda," balas Dimas mengangguk.


Sesaat kemudian Henri langsung melajukan mobilnya dan pergi dari rumah sakit tersebut menuju ke arah rumah Dimas terlebih dahulu.


***************************


Rumah Dimas


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu rumah Dimas.


Setelah mobil berhenti di halaman rumah Dimas, Henri terlebih dahulu turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk Bunda. Perlahan Bunda Artiana turun dari mobilnya dengan bantuan Henri. Selepas itu, Bunda Artiana melihat ke arah Zuy.


"Cucuku...."


"Iya Nenek," sahut Zuy.


"Ayo turun dan main ke rumah!" ajak Bunda Artiana.


Tanpa ragu, Zuy pun menyetujui ajakan Bunda, sesaat setelah Zuy turun dari mobilnya, begitu pula si kembar yang sudah berada di stroller-nya. Mereka pun melangkahkan kakinya.


"Bunda pulang...." seru Bunda Artiana melangkah masuk dan susul oleh Zuy serta Henri.


Sementara itu, Maria yang berada di ruang keluarga pun segera menjalankan kursi rodanya menuju ke ruang utama saat mendengar suara Bunda Artiana. Setibanya di sana....


"Bunda, selamat dat...."


Maria menghentikan ucapannya dan membulatkan matanya karena melihat Zuy yang sedang berdiri di samping Bunda Artiana.


"Lho, kamu!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2