Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Penyakit Bunda....


__ADS_3

WARNING....!!!


Cerita ini mengandung unsur, harap bijak dalam membacanya! Terimakasih... 🙏🙏🙏


<<<<<


"Mam, setelah Bunda di periksa, ternyata beliau terkena serangan jantung, makanya Bunda sekarang ada di ruang ICCU," jelas Archo.


"Apa! Se-serangan jantung!"


Lontar Maria yang tersentak mendengar pernyataan dari Archo.


"Archo! Apa yang kamu katakan itu benar?" sambung tanya Maria.


"Iya Mam, Bunda terkena serangan jantung."


Jedeeeer....


Bagaikan petir yang menyambar di pagi buta, seketika tubuh Maria terasa lemas, dadanya terasa sesak seperti di tindih batu besar, air matanya pun tak bisa di bendungnya lagi.


"Tidaaaaaak...." teriak Maria menggelengkan kepalanya.


"Mam...."


Mendengar teriakkan Maria, membuat Eqitna yang berada di ruangan lain pun langsung keluar dan menghampiri Maria


"Kak Maria ada apa?" tanya Eqitna


Seketika pandangannya mengarah ke Archo yang tengah berada di hadapan Maria.


"Lho, Tuan Archo! Anda sudah pulang? Lalu dimana Dimas? Kenapa kalian tidak menghubungi kami?" sambung tanya Eqitna.


"Dokter Dimas masih di rumah sakit, sedangkan saya pulang hanya untuk mengambil pakaian Dokter Dimas," jawab Archo.


"Lalu bagaimana keadaan Bunda dan lagi kenapa Kak Maria menangis seperti ini?" Eqitna pun mulai penasaran.


"Bunda terkena serangan jantung dan sekarang beliau sedang berada di ruang ICCU," ujar Archo.


"Apa! Serangan jantung lagi?" lontar Eqitna yang terkejut mendengar penjelasan Archo.


Mendengar lontaran Eqitna, Maria langsung melihat ke arah Eqitna.


"Apa Maksudmu lagi?" tanya Maria menyidik.


"Itu ...."


Eqitna nampak kebingungan, karena ia tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Lalu kemudian....


"Euuum Dokter, bisakah anda menyiapkan apa yang di pesan oleh Dokter Dimas?" lontar Archo sambil menggelengkan kepalanya ke arah Eqitna, sebagai isyarat supaya Eqitna tidak berbicara.


Eqitna langsung mengerti apa yang di maksud Archo, ia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan siapkan pakaian dan semua yang di butuhkan oleh Dimas," ucap Eqitna.


Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


"Archo...." panggil Maria.


"Iya Mam...."


Maria lalu memegang tangan Archo. "Bawa Mam ke rumah sakit! Mam ingin melihat Bunda."


"Ta-tapi Mam...."


"Mam mohon Archo! Bawa Mam ke rumah sakit," pinta Maria tersedu-sedu.


Sesaat Archo menghela nafas panjangnya.


"Baiklah Mam, Archo akan membawa Mam ke rumah sakit untuk melihat Bunda," Archo menyetujui permintaan Maria.


"Terimakasih Archo," ucap Maria.


Tak lama kemudian, Eqitna datang sembari membawa tas milik Dimas.


"Ini Tuan Archo, pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan Dimas ada di sini semuanya," ujar Eqitna sembari memberikan tas milik Dimas pada Archo.


Archo lalu mengambil tas tersebut dari tangan Eqitna.


"Terimakasih banyak Dokter, yaudah kalau begitu saya dan Mam ke rumah sakit sekarang," pamit Archo.


"Tunggu! Kak Maria ikut ke rumah sakit?" tanya Eqitna.


Maria mengangguk. "Iya Eqi, Kakak ingin melihat Bunda."


"Oh, yaudah kalau Kakak maunya seperti itu. Nanti Eqi nyusul ke sana," balas Eqitna.


Lalu Archo mendorong kursi roda Maria dan melangkahkan kakinya menuju keluar rumah, tentu saja Eqitna mengantar mereka. Saat sudah berada di depan, Maria masuk ke dalam mobil dengan bantuan Archo.


"Dokter, kami pergi dulu ya."


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Eqitna.


Archo segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya. Sesaat kemudian Archo langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Setelah mobil sudah menjauh, Eqitna langsung menitihkan air matanya.


"Bunda, semoga Bunda cepat sembuh. Eqi sayang sama Bunda," ucap Eqitna.


***********************


Rumah Sakit


Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka pun sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya Archo dan Maria bergegas menuju ke arah di mana Bunda Artiana berada yaitu ruang ICCU. Setibanya di sana, Maria melihat Dimas tengah duduk menunduk sambil memainkan tangannya. Lalu....


"Dimas...." seru Maria


Mendengar namanya di panggil, Dimas langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Maria.


"Kak Maria," lirih Dimas.


Ia pun segera bangkit dari posisinya dan langsung memeluk Maria, seketika tangis keduanya pecah. Sesaat setelah keduanya tenang....


"Dimas, kenapa Bunda bisa terkena serangan jantung?" tanya Maria.


Dimas lalu menundukkan kepalanya dan nampak air mata yang lolos membasahi pipinya.


"Dimas...."


"Kak, ada yang ingin Dimas sampaikan pada Kakak," ujar Dimas.


"Apa itu Dimas?"


Dimas mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Kakaknya itu.


"Sebenarnya selain asma, Bunda juga mempunyai riwayat penyakit jantung," ujar Dimas.


"Apa! Sejak kapan Dimas?" sentak Maria.


"Sejak Ayah pergi meninggalkan kami," jawab Dimas.


"Terus kenapa kamu tidak bilang ke Kakak, Dimas?"


"Bagaimana Dimas bilang ke Kakak, Kak Maria aja tidak ada kontak dengan kami. Dan di saat Kak Maria kembali, sebenarnya Dimas juga ingin langsung memberi tahu Kakak, akan tetapi Bunda melarang Dimas dengan alasan bahwa Bunda tidak ingin membuat Kak Maria sedih dan kepikiran," jelas Dimas.


Tangis Maria kembali pecah, ia menundukkan kepalanya dan meremas bajunya dengan kuat, Archo yang berada di samping mereka hanya bisa terdiam.


"Bunda, maafin Maria yang selalu menyusahkan Bunda," ucap Maria sesenggukan.


Kemudian Dimas memegang kedua bahu Maria.


"Kak, jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini! Mungkin ini udah takdir yang tidak bisa kita hindari," tutur Dimas.

__ADS_1


"Tidak Dimas, ini bukan takdir tapi ini adalah karma untuk Kakak, karena Kakak sudah melakukan kesalahan besar, jadi imbasnya ke kalian," rutuk Maria. "Maaf Kakak benar-benar minta maaf," imbuhnya.


Seketika Dimas langsung memeluk kembali Maria dan menenangkannya.


************************


Villa Z&R


—Pukul 05.20Am


Sementara itu di Villa Z&R, Airin masih tidur terlelap di atas sofa, begitu pula dengan Davin yang berada di kamar yang awalnya di tempati oleh Airin.


Sedangkan di kamar Z&R, Zuy nampak keluar dari kamar mandi. Kemudian ia melangkah ke arah ranjangnya dan duduk di atasnya. Sesaat pandangannya mengarah ke Ray yang masih tertidur pulas.


"Kamu pasti sangat kelelahan karena mencari ku, maafkan aku ya Ray," ucap Zuy sambil mengelus rambut Ray dan mendaratkan bibirnya ke kening Ray.


Sesaat setelahnya, Zuy beranjak dari posisinya dan melangkah keluar dari kamarnya. Saat sudah berada di ruang depan, Zuy lalu membuka semua gorden yang menutupi jendela kaca Villa hingga terlihat pemandangan pantai-nya.


Sesudah itu, ia membalikkan badannya dan ketika hendak melangkahkan kakinya, tanpa sengaja Zuy melihat seseorang yang tidur di sofa dengan seluruh tubuhnya tertutup selimut, sontak membuat Zuy tersentak.


"Siapa yang tidur di sini?" lirih Zuy sambil mendekat ke arahnya.


Setelah itu Zuy membuka selimutnya dan lagi-lagi Zuy di buat terkejut olehnya.


"Airin!"


Kemudian Zuy duduk di dekat Airin sambil mengguncang pelan tubuh Airin seraya membangunkannya.


"Rin, Airin...."


"Heuuung...." erang Airin.


Perlahan ia membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke Zuy.


"Oh ternyata kamu, Zuy." ucap Airin sambil membangunkan tubuhnya menjadi duduk.


"Kenapa kamu tidur di sofa? Bukannya di kamar?" tanya Zuy merapikan rambut Airin yang berantakan.


"Itu karena Pak Davin, Zuy. Makanya aku tidur di sini," jawab Airin mengusap matanya.


"Pak Davin? Maksud mu Rin?"


Airin langsung menceritakan apa yang terjadi sampai ia pindah tidur di sofa. Lalu....


Pffft....


"Hahaha.... Hahaha.... Ya ampun Airin," Zuy menyemburkan tawanya.


"Tuh kan kamu aja sampai ketawa gitu," gumam Airin.


"Aduh maaf Rin, habisnya lucu sih. Harusnya kamu tendang aja tuh pantatnya Pak Davin," seloroh Zuy


"Tadinya juga pengin ku tendang, terus ku seret keluar," cetus Airin.


"Hihihi.... Yaudah kalau begitu, kamu istirahat lagi ya! Aku mau ke dapur dulu nyiapin sarapan."


"Aku bantu Zuy," tawar Airin.


Zuy mengibaskan tangannya. "Tidak usah Rin, biar aku aja," tolaknya.


Airin lalu memegang tangan Zuy.


"Jangan menolak ku, oke!"


"Bukan menolak Rin. Hanya saja, kamu pasti kecapean gara-gara kemaren nyariin aku, maaf ya Rin udah buat kamu khawatir," ucap Zuy dengan raut wajahnya yang sendu.


Mendengar ucapan Zuy membuat Airin terenyuh dan ingin menangis.


"Sudah jangan minta maaf! Ini bukan kesalahanmu, dan lagi kamu itu sahabat sekaligus Kakak kesayanganku, jadi sudah sewajarnya aku mengkhawatirkan mu, Zuy." lontar Airin.


"Tapi...."


"Oh iya kamu benar juga Rin, yaudah aku ke dapur dulu ya, Rin."


Zuy lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ikut!"


"Ayo kalau mau ikut!" ajak Zuy.


Airin pun bangkit dari posisinya, kemudian mereka berdua melangkah bersama menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai menyiapkan makanan untuk sarapan dan aktivitas lainnya. Keduanya sudah berada di meja makan dan tengah menikmati sarapannya, begitu pula dengan Ray dan Davin.


Lalu....


"Rin, jangan cemberut terus dong! Aku kan gak sadar kalau udah menyelinap ke kamar kamu," ucap Davin


Akan tetapi Airin tidak bicara apa-apa karena ia sedang sibuk memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, pandangan Davin lalu mengarah ke Zuy.


"Zuy, bantu aku!" pinta Davin.


"Jangan mau sayangku, biar Kak Davin yang menyelesaikannya sendiri," cetus Ray.


Sehingga membuat Davin mendengus kesal dan pandangannya beralih ke arah Airin.


"Aku janji deh, sepulang kerja nanti aku bawain kebab jumbo sebanyak yang kamu mau," lontar Davin.


Seketika Airin menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Davin dengan mata yang berbinar.


"Waah.... Serius nih Pak Davin?"


Davin mengangguk cepat. "I-iya serius Rin, masa aku bohong."


"Hmmm.... Baiklah kalau Pak Davin serius mau membelikannya," ujar Airin.


"Ja-jadi kamu memaafkan ku Rin?" tanya Davin.


"Ya, apa boleh buat," singkat Airin.


Lalu tiba-tiba Davin merangkul Airin dan mengguncangnya, sontak membuat Airin terperangah.


"Terimakasih Rin...." ucap Davin kegirangan


"I-iya, tapi berhenti mengguncangkan ku Pak Davin!" pekik Airin.


"Ah, maaf Rin," Davin melepaskan tangannya.


"Huh! Dasar Pak Davin," umpat Airin.


Ray menggelengkan kepalanya saat melihatnya kelakuan Airin dan Davin, sedangkan Zuy tak henti-hentinya terkekeh.


Beberapa saat setelah selesai menikmati sarapannya, Ray dan Zuy sudah berada di walk in closet yang berada di kamarnya.


"Sayangku, beneran kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal kerja?" tanya Ray, karena ia masih khawatir dengan kondisi pujaan hatinya.


"Zuy beneran tidak apa-apa, Ray." ujar Zuy sambil membantu Ray mengancingkan kemejanya.


"Hmmm, yaudah kalau sayangku tidak apa-apa. Lagian aku udah nyuruh Airin untuk menemani sayangku," kata Ray.


"Iya, terimakasih tampan-ku." ucap Zuy.


"Sama-sama sayangku, oh iya kamu mau di bawain apa sayangku?"


"Bawain martabak aja deh."


"Baiklah nanti aku akan bawakan martabak untuk sayangku ini," kata Ray.


Zuy pun tersenyum. "Ray, bungkukkan badan mu sedikit!"

__ADS_1


Tanpa bertanya, Ray langsung menuruti permintaan Zuy, ia pun membungkukkan badannya. Lalu kemudian ....


Cup....


Zuy mendaratkan bibirnya ke bibir Ray, membuat Ray terpaku, ia pun membalas ciuman pujaan hatinya itu, sesaat setelah puas mereka langsung melepaskannya.


"Sayangku, kamu membuat geoduck milikku kembali aktif," ucap Ray dengan wajahnya yang semu.


Zuy kembali menyunggingkan senyumnya dan mengalungkan tangannya ke leher Ray.


"Kalau begitu biar aku yang menenangkannya," bisik Zuy menggoda.


"Kamu benar-benar nakal ya sayangku, tapi aku menyukainya. Mumpung masih ada banyak waktu, ayo bantu aku menenangkannya!"


"Baiklah!" patuh Zuy. "Maaf Ray, aku melakukan ini supaya kamu tidak terlalu khawatir padaku," sambung batin Zuy.


Ray mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke atas ranjangnya, setelah itu Ray melepaskan apa yang menempel di tubuh Zuy hingga tak ada satupun yang tersisa. Ray lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy.


"Sayangku, aku akan memberikan fanservice terbaikku untukmu," bisik Ray.


"Iya, lakukanlah semau mu, Ray. Karena aku adalah milikmu seorang."


Mendengar itu, Ray langsung memulai aksi buasnya, dengan melahap puas semua apa yang ada di hadapannya itu bagaikan serigala buas. Dan terjadilah Misteri ranjang bergoyang yang berIRAMA.


Sementara itu....


"Lho Pak Davin kenapa masih duduk di sini?" tanya Airin


"Lagi nunggu Tuan Ray selesai," jawab Davin sembari memasangkan dasinya.


"Memangnya Tuan bos belum selesai ya?" tanya Airin.


"Belum, mungkin baru mulai," gumam Davin.


Airin memanggut. "Oh begitu ya."


Sepertinya ada yang aneh dengan pembicaraan mereka?


******************


Rumah Ray


Bu Ima nampak tengah memberi makan pada kucing-kucing kesayangan milik Zuy, sesekali Bu Ima mengusap air matanya.


"Kalian makan yang banyak ya!"


Meong....


Suara manis mewakili kucing lainnya.


"Ibu juga gak tahu nak Zuy kemana, semoga dia baik-baik saja," ucap Bu Ima.


Lalu sebuah mobil memasuki halaman rumah Ray, sontak membuat Bu Ima menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah mobil tersebut.


"Siapa yang datang?" lirih Bu Ima.


Kemudian seseorang turun dari mobilnya, dan ternyata ia adalah Bi Nana yang datang bersama Pak Randy dan kedua anaknya. Melihat itu Bu Ima segera menghampiri Bi Nana.


"Nana...." sapa Bu Ima.


Bi Nana menoleh. "Kak Ima, apa kabar?" tanyanya.


"Kabarku baik-baik saja. Na, apa kamu datang kemari untuk menemui Zuy?"


Bi Nana mengangguk. "Iya Kak, Nana kesini ingin menemui Zuy."


"Yaudah kita masuk dulu!" ajak Bu Ima.


Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, setibanya Bi Nana dan lainnya langsung duduk di atas sofa.


"Kak, bisa tolong panggilkan Zuy?" pinta Bi Nana.


Akan tetapi Bu Ima menggelengkan kepalanya membuat Bi Nana tersentak.


"Kenapa Kak? Apa Zuy tidak mau di temui?" tanya Bi Nana.


"Bukan begitu Na, hanya saja Zuy belum pulang sampai sekarang. Tuan Ray, Tuan Davin juga belum pulang," jelas Bu Ima.


"Apa! Jadi mereka masih berada di Kota M?" sentak Bi Nana.


"Kota M? Maksudmu Kota kelahiran Zuy? Na, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?" pinta Bu Ima.


Sesaat Bi Nana menghela nafasnya, nampak air matanya membasahi pipinya.


"Sebenarnya...."


Belum sempat berbicara, tiba-tiba....


"Permisi...." ucap seseorang dari arah pintu membuat Bi Nana dan lainnya menoleh.


Betapa terkejutnya Bi Nana saat melihatnya dan orang tersebut ternyata....


"Kak Maria!"


"Nana...." sahut Maria.


Ya Maria datang bersama dengan Dimas, lalu kemudian Bi Nana bangkit dari posisinya dan menghampiri Maria.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian belum puas membuat gadis kecilku menderita?" pekik Bi Nana.


"Na, maafkan aku...." ucap Maria menunduk.


"Nyonya bisakah kita bicara baik-baik!" pinta Dimas.


"Untuk apa bicara baik-baik dengan kalian?" sergah Bi Nana.


Melihat istrinya seperti itu, Pak Randy menyerahkan bayi yang di gendongnya pada Bu Ima, kemudian ia menghampiri Bi Nana.


"Sabar Na, jangan terbawa emosi seperti ini!" tutur Pak Randy


"Tapi Pih, karena mereka Zuy kabur dan belum pulang sampai sekarang."


Maria dan Dimas pun terkejut mendengar perkataan Bi Nana.


"Apa kamu bilang? Zuy kabur?"


"Iya, itu semua karena kamu Maria, dasar ibu yang tidak punya hati." sentak Bi Nana.


Bu Ima yang berada di sana pun ikut tersentak saat mendengar perkataan Bi Nana.


"Apa! Jadi wanita itu Ibu kandungnya Zuy?"


*********************


Villa Z&R


Sementara itu, Airin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju keluar.


"Hmmmm, sepertinya enak ini kalau berjemur sambil menikmati angin pantai," ucap Airin sambil meregangkan otot-otot tangannya.


Lalu tanpa sengaja pandangan Airin mengarah pada seseorang yang berada di tepi pantai sambil perlahan berjalan ke arah lautan dan saat ia menyadari orang tersebut adalah Zuy, dengan sigap Airin langsung berlari ke arahnya.


"Zuy, apa yang kamu lakukan?"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2