
<<<<<
Ray pun menganggukkan kepalanya, "Iya Kakak, hitung-hitung kita liburan di sana, ya bisa di anggap kencan juga sih, hmmm jadi gimana Kak, apa Kakak mau temani Ray?"
Zuy pun menundukkan kepalanya, "Soal itu Zuy ...,"
Zuy tiba-tiba terdiam, melihat Zuy terdiam menunduk, Ray pun memegang dagu Zuy dan mendongakkan kepala Zuy, sehingga pandangan mereka saling bertemu.
"Kak, kenapa diam?"
"Eummm, Zuy bingung harus menjawab apa Tuan Muda, Swedia kan jauh Tuan, lagian Zuy belum pernah kesana, takut nyasar, nanti Zuy gak bisa pulang lagi..." ujar Zuy, lalu kemudian...
Pffft...
"Hahaha.. ya ampun Kakak, ternyata Kakak takut nyasar ya, Kak Zuy sayang, kan Kakak perginya sama Ray, gak mungkin Kakak nyasar," jelas Ray sambil terkekeh.
"Bu-bukan hanya itu Tuan Muda.." hardik Zuy sambil memalingkan pandangannya.
Ray menyodorkan dirinya ke arah Zuy, "Bukan hanya itu? jadi?" tanya Ray.
"Ya, kan mungkin itu acara sangat penting sampai anda di undang ke sana, masa iya anda harus mengajakku, kan masih banyak yang lainnya Tuan Muda," papar Zuy
Mendengar itu, Ray langsung menatap tajam mata Zuy, lalu ia pun menghela nafasnya.
"Haa... Kakak Zuy sayang, apa salahnya kalau Ray ajak calon istri sendiri."
"Ca-calon istri..." batin Zuy, pipinya seketika memerah.
"Toh dari pada Ray ajak wanita lain, apa Kakak penginnya Ray mengajak wanita lain?" tanya Ray,
"Tapi kalau Kakak maunya gitu, nanti Ray akan mengajak Wan ...," sambung Ray sambil membuang muka, akan tetapi belum juga selesai bicara, tiba-tiba.
"Ja-jangan Tuan Muda," seru Zuy, "Ah maksud Zuy itu, anu, apa ya ...," sambungnya, ia pun terlihat sangat gugup.
Melihat Zuy yang gugup begitu, ia pun menyunggingkan senyumnya. Ia pun kembali menatap Zuy, dengan tatapan jahilnya.
"Kakak cemburu ya?!!" tanya Ray menggoda Zuy.
"Si-siapa yang cemburu Tuan," pekik Zuy gugup.
"Oh iya.."
Ray terus saja menggoda Zuy, sehingga Zuy kesal dan memukul pundak Ray.
Paak.. Paaak..
"Seneng banget ya godain orang," pekik Zuy terus memukul Ray.
"Hahaha, habis Kakak lucu kalau udah cemburu gitu," ujar Ray
Zuy pun mendengus kesal, "Tuan Mudaaaa...!!!"
Melihat Zuy yang sudah mulai kesal, dengan sigap Ray pun memegang pergelangan tangan Zuy dan memeluknya.
"Kakak, Ray senang kalau Kakak cemburu, itu berarti Kakak memang peduli dan sayang sama Ray," ucap Ray, ia pun mencium puncak kepala Zuy, lalu tiba-tiba..
Braaaak...
Seseorang mendobrak pintu ruangannya Ray. Membuat Zuy dan Ray kaget, lalu mereka menoleh ke arah pintu.
"Tuan Ray ada apa? kedengarannya berisik sekali, apa terjadi sesuatu dengan anda Tu ... aah.." serunya, lalu ia terkejut melihat Zuy dan Ray pelukan.
"Kak Davin > Pak Davin, " ucap Zuy dan Ray bersama, lalu mereka pun langsung melepaskan pelukannya.
"Ahahaha, aku gak liat apa-apa kok, silahkan lanjutkan lagi, aku keluar dulu ya," kata Davin sambil memutar badannya, akan tetapi...
Ray segera mendekat ke arah Davin dan langsung menarik kerah baju Davin.
"Kak Davin mau kemana?" pekik Ray
Davin pun menoleh ke arah Ray, seketika bulu kuduknya langsung berdiri melihat tatapan tajam dari Ray, seakan-akan ingin menerkam Davin.
"A-ampun Tuan Ray, saya benar-benar gak sengaja, saya hanya terkejut mendengar suara keras Zuy, saya pikir anda kenapa-napa, gak taunya kalian lagi bercinta, tapi serius deh saya gak lihat apa-apa," ucap Davin sambil menangkupkan kedua tangannya.
Ray pun langsung mendengus kesal, "Sudah selesai ngomongnya.."
"Su-sudah Tuan.." ujar Davin, lalu ia menutup mulutnya.
Mendengar kelakuan Ray dan Davin, Zuy langsung terkekeh.
"Hihihi.. ya ampun perutku.."
Ray dan Davin pun melihat ke arah Zuy, melihat Zuy terkekeh, Ray pun tersenyum bahagia, begitu pula dengan Davin.
"Tuan Muda, bisakah anda melepaskan Pak Davin, kasihan dia udah berkeringat gitu," pinta Zuy.
Ray pun langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Davin, Davin segera bersembunyi di belakang Zuy.
"Zuy terimakasih, kau menyelamatkan ku," ucap Davin sambil memegang bahu Zuy.
Tatapan Ray makin tajam saat melihat Davin memegang bahu Zuy.
"Lepaskan tanganmu dari bahu calon istriku..!!"
"Ah iya maaf Tuan Ray," ucap Davin, lalu ia melepaskan tangannya dari bahu Zuy.
"Hah, kalian ini, yaudah Zuy mending balik ke Pantry aja, nah Tuan Muda, nanti Zuy tunggu di parkiran ya.." kata Zuy, lalu ia pun bergegas keluar dari ruangan Ray. Setelah Zuy keluar dari ruangan Ray, lalu..
Tos...!!
Ray dan Davin melakukan High five (tos tangan).
"Kerja bagus Kak, terimakasih sudah membuat Zuy tertawa, tapi sayangnya Kak Davin datangnya di waktu kurang tepat, mengganggu adegan romantis saja," umpat Ray sambil memicingkan matanya.
"Ya, kan aku kesini juga karena denger teriakan Zuy, aku pikir anda kenapa-napa, atau Zuy di apa-apain sama anda, makanya cepat-cepat kesini.." papar Davin
"Hah, dasar adonan moci, kebetulan Kak Davin kesini, nanti pulang kerja, Kakak pulang aja duluan, Ray mau ke rumah Bi Nana dulu, soalnya Bi Nana mengundangku ke rumahnya," jelas Ray.
"Oke baiklah Tuan Ray," ucap Davin, lalu ia pun mendudukan dirinya di atas sofa.
__ADS_1
Sedangkan Ray kembali ke kursinya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
*********************
Rumah Bi Nana
Beberapa saat sebelumnya, setelah selesai menelpon Zuy, Bi Nana pun meletakkan kembali hpnya di atas meja.
"Bagaimana Na, apa Zuy akan datang bersama Tuan Ray?" tanya Pak Randy
"Nana belum tahu, kata Zuy tadi dia akan memberi tahu Tuan Muda dulu, nanti dia bakalan sms Nana," ujar Bi Nana, lalu tak lama kemudian..
Kliiing.. (Bunyi pesan masuk)
Bi Nana pun mengambil hpnya kembali, lalu ia memencet ikon pesan.
[Pesan..]
Gadis Kecilku
📲 Bi Nana, Tuan Muda bilang, kalau dia akan datang ke rumah Bi Nana, nanti pulang kerja kita langsung ke rumah Bi Nana...📱
📱Oke Zuy, Bibi tunggu ya..!! 📲 (balas Bi Nana)
"Siapa Na?" tanya Pak Randy.
Bi Nana pun menoleh ke arah Pak Randy, "Pesan dari Zuy, Tuan Muda bakalan datang dengan Zuy," jawab Bi Nana
"Oh Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana rencananya, maksudku bagaimana kalau mereka tidak mengakui hubungan mereka dan tetap merahasiakannya dari kita?" Pak Randy pun mulai ragu.
Bi Nana pun tersenyum dan berkata, "Untuk itu serahkan padaku, dan lagi Nana juga perlu bantuan Papih."
Bi Nana mendekat ke Pak Randy lalu membisikkan sesuatu pada Pak Randy.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Pak Randy.
"Serahkan padaku, dengan cara itu pasti berhasil," kata Bi Nana dengan percaya diri.
"Kalau gitu, atur aja deh Na, aku cuma ikutan aja," papar Pak Randy.
"Yaudah kalau gitu Nana mau menyiapkan bahan makanan untuk mereka datang," ujar Bi Nana.
Lalu Nara menghampiri Bi Nana dan Pak Randy.
"Mami, memang siapa yang akan datang?" tanya Nara.
"Kakak Zuy dan Om Ray yang akan datang Nara," jawab Bi Nana.
Mendengar itu, raut wajah Nara pun sumringah, dan langsung berjingkrak-jingkrak di atas sofa, "Asiik, Kakak Zuy datang.."
"Nara.. Yaudah kalau gitu Mami ke dapur dulu, Nara main sama Papih ya," tutur Bi Nana
"Siap Mami.."
Bi Nana pun melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
*********************
Tak terasa waktu cepat berlalu, semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang, sementara itu para Pekerja OB masih sibuk dengan pekerjaannya. Lalu kemudian...
"Rin, aku duluan ya, soalnya mau ke rumah Bi Nana," kata Zuy.
"Oh iya Zuy, lagian juga pangeranmu sudah datang jemput tuh," papar Airin sambil menunjuk ke arah seseorang.
Zuy pun melihat ke arah Airin menujuk, ternyata yang Airin tunjuk adalah Ray, yang menghampiri Zuy.
"Tuan Muda... bukannya tadi Zuy bilang tunggu di Parkiran," lirih Zuy.
"Hai Tuan Bos, mau jemput Tuan Putri ya?" Airin pun menggoda Zuy dan Ray.
"Hai juga Rin, iya mau jemput Tuan Putri," ujar Ray sambil mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Ehemmm.. cie.. cie.." ledek Airin.
Zuy pun memicingkan matanya ke Airin, "Airiiiin.."
"Hahaha.. Tuan Bos buruan bawa Tuan putrinya pergi," pinta Airin.
"Baiklah, ayo Kak kita berangkat sekarang..!!" ajak Ray
Zuy menganggukkan kepalanya, lalu ia menoleh ke arah Airin.
"Rin aku duluan ya.. Bye.." ucap Zuy melambaikan tangannya.
"Iya, kalian berdua hati-hati," tutur Airin, lalu mereka pun pergi,
Lalu seseorang menepuk pundak Airin.
"Hoe Rin.."
"Aiih copot," Airin pun menoleh, "Brian jelek.."
Brian pun berdiri di samping Airin, "Mau pulang bareng?" tanya Brian
"Oke..!!"
Lalu mereka pun jalan bareng menuju ke Parkiran.
••••••••••••••••
Parkiran
Sementara itu, Zuy dan Ray siap-siap berangkat menuju ke rumah Bi Nana.
"Kak Davin, nanti tolong motornya Zuy bawa pulang ya..!!" titah Ray.
"Oke Tuan Ray, Oh iya Zuy, mana konci motornya?" tanya Davin
Lalu Zuy memberikan konci motornya pada Davin, "Ini Pak Davin, euum terimakasih banyak ya, maaf kalau merepotkan," ucap Zuy
__ADS_1
"Gak kok Zuy, kamu tenang aja Molly pasti aman.." ujar Davin sambil mengacungkan jempolnya.
Ray dan Zuy pun masuk ke dalam mobil, dan Ray langsung melajukan mobilnya, lalu mereka pun pergi meninggalkan Davin.
"Ahh sepertinya ada yang tertinggal, aku balik dulu ke dalam," papar Davin, ia pun kembali masuk ke dalam Kantor.
Sementara itu, Brian dan Airin baru sampai di Parkiran.
"Rin, kita makan yuk..!!" ajak Brian.
"Terserah kamu aja Brian," ucap Airin.
Lalu tiba-tiba seseorang datang merangkul lengan Brian, dan dia adalah Salsa.
"Kak Brian, motor Salsa mogok, bisa tidak antar Salsa pulang," pinta Salsa dengan nada manja.
"Ta-tapi Sa, aku mau pergi.." jelas Brian, lalu Salsa memasang wajah memelas, sehingga membuat Brian tak bisa menolak.
"Hah, baiklah.. Rin maaf ya, aku antar Salsa pulang dulu," kata Brian
Airin pun mendengus kesal, "Ah yaudah, aku juga ada perlu," pekik Airin, lalu ia pun menaiki motornya dan menyalakannya.
Kemudian Airin pergi meninggalkan Brian dan Salsa.
°°°°°°°°°°°
Selama di perjalanan, Airin pun terus bergumam tanpa henti, lalu tiba-tiba motor Airin kehilangan keseimbangan akibat ban motornya bocor, ia pun segera menepi.
Dugh.. Dugh...
"Ahh sial, sial.. ngapain sih pake bocor segala, bikin mood buruk aja," umpat Airin sambil menendang ban motornya.
Sementara itu, Davin yang sedang mengendarai motor milik Zuy pun melihat Airin sedang berhenti di tepi jalan, ia langsung menghampirinya.
"Lho Rin kenapa?" tanya Davin
Airin pun menoleh, "Oh Pak Davin, ini ban motor ku bocor," jawab Airin.
"Oh, kalau gak salah bengkel motornya masih sekitar satu kilometer lagi Rin," kata Davin.
Airin pun menghela nafasnya, "Hah, yaudah mau gak mau aku dorong sampai sana," lirih Airin.
"Yaudah aku bantuin ya Rin.." tawar Davin
Mendengar tawaran Davin, mata Airin langsung berbinar..
"Aah serius Pak, terimakasih banyak.." ucap Airin
"Iya, yaudah kamu bawa motornya Zuy, biar aku yang dorong motormu itu," titah Davin.
Lalu mereka tukeran motor, lalu Davin pun langsung mendorong motor Airin menuju ke bengkel.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu, sebelum ke rumah Bi Nana, Ray dan Zuy mampir ke toko buah dan mainan, untuk di bawakan pada Bi Nana dan Nara, setelah selesai membeli buah dan mainan, mereka pun segera ke rumah Bi Nana.
*******************
Rumah Bi Nana
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah Bi, lalu mobil Ray masuk ke halaman rumah Bi Nana. Ray dan Zuy turun dari mobilnya, dan langsung menuju ke arah pintu rumah. Setelah di depan pintu, Zuy langsung memijit bel pintunya. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintunya.
"Kakak..." sambut Nara, ternyata yang bukain pintu Nara.
"Hai Nara sayang," sapa Zuy sambil mencium pipi Nara.
"Zuy, Tuan Muda, selamat datang," sambut Pak Randy.
Zuy langsung mencium punggung tangan Pak Randy, begitu juga dengan Ray.
"Paman apa kabar?" tanya Zuy
"Kabar Paman baik Zuy," jawab Pak Randy, "Ayo masuk..!!"
Lalu Zuy dan Ray masuk ke dalam rumah Bi Nana, dan mereka langsung duduk di atas sofa, Bi Nana yang saat itu selesai menyiapkan makanan langsung menghampiri Zuy dan Ray, ia pun memeluk mereka.
"Kalian baru pulang kerja pasti lapar, ayo kita makan dulu..!!" ajak Bi Nana
Mereka pun menganggukkan kepalanya, dan menuju ke meja makan yang berada di ruang tengah. Mereka lalu menarik kursinya masing-masing dan mendudukinya.
Bi Nana langsung mengambilkan makanan untuk Pak Randy, sedangkan Zuy mengambilkan makanan untuk Ray dan dirinya sendiri.
"Selamat makan...!!" ucap bersama, mereka pun menyantap makanannya.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka selesai makannya, Bi Nana dan Zuy pun langsung membereskan semua. Setelah selesai, mereka pun kembali ke ruang utama.
"Zuy.." panggil Pak Randy, seketika memulai pembicaraan.
"Ada apa Paman?" tanya Zuy
"Begini, kami sengaja mengundangmu kesini, sebenarnya ada maksud," kata Pak Randy,
"Maksud? apa itu Paman?" tanya Zuy
"Paman punya seorang teman, dia katanya ingin mencari calon istri, ya Paman ingin mengenalkanmu pada teman Paman, siapa tau kalian cocok," ujar Pak Randy, dengan maksud ingin mengetahui hubungan Ray dan Zuy.
"Apa Paman mau jodohin Zuy dengan seseorang?" tanya Zuy yang terkejut.
Mendengar itu, Ray nampak kesal, ia pun langsung bangkit dari duduknya.
"Maaf Pak Randy, Bi Nana kalau saya tidak sopan, tapi saya tidak setuju kalau Kak Zuy di jodohkan dengan orang lain," pekik Ray.
"Tuan Muda, kenapa anda marah dan melarang? Anda kan hanya Atasan Zuy. Jadi anda tidak berhak untuk melarang kami menjodohkan Zuy dengan siapa pun," hardik Pak Randy.
Ray semakin kesal dengan perkataan Pak Randy, lalu kemudian Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Maaf Pak Randy, Bi Nana. Sekarang saya bukan hanya Atasan Zuy, tapi saya juga Calon suaminya Zuy..."
**Bersambung...
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... ✌😉😉✌