Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Informasi Dua Orang....


__ADS_3

<<<<<


"Kami mau menyampaikan kabar bahwa ...."


"Apa!"


Sentak Archo seraya membangunkan tubuhnya karena terkejut mendengar kabar yang di bawakan oleh si penelpon.


"Kamu serius dengan kabar yang kamu bawa ini?"


"Tentu saja Mister, makanya saya langsung menghubungi anda," balas si penelpon.


"Lantas siapa mereka?" tanya Archo.


"Menurut informasi yang kami dapat mereka berdua adalah Yono dan Irfan. mereka berdua juga bukan berasal dari Kota ini. Yono berasal dari Kota K, dia juga mantan Apoteker di sebuah Rumah sakit di Kota-nya. Karena melakukan kesalahan besar, Yono akhirnya di pecat dari RS tersebut bahkan ia sempat menjalani hukumannya dan baru terbebas 2 tahun yang lalu. Sedangkan Irfan seorang preman rentenir dari Kota X, dia juga pernah di penjara atas kasus pelecehan dan penyiksaan. Irfan terbebas dari hukum sejak satu setengah tahun yang lalu. Kemudian seseorang merekrut mereka menjadi anak buahnya, dari situlah mereka berdua bertemu," jelas si penelpon itu.


Seketika membuat Archo mengerenyitkan keningnya.


"Oh jadi seperti itu ya informasi tentang mereka, lalu bagaimana dengan Mam? Apa kalian juga menemukan tempat mereka menyekap Mam?" cecar Archo.


"Maafkan kami Mr Archo! Untuk saat ini Kami masih belum bisa menemukan tempat di mana mereka menyekap Mrs Maria," ujarnya.


"Apa! Jadi kalian hanya dapat informasi tentang mereka berdua saja? Sedangkan tempat mereka menyekap Mam, kalian masih belum menemukannya?" sentak Archo.


"I-iya Mr Archo. Ta-tapi anda tidak perlu khawatir, karena secepatnya kami akan menemukan tempat di mana mereka menyekap Mrs Maria. " kata si penelpon.


Sesaat Archo mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Baiklah kalau kamu sudah bicara seperti itu, tapi ingat kalau dalam lima hari kalian belum menemukan tempatnya, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu pada kalian!" gertak Archo.


"Si-siap Mr Archo." balasnya dengan gugup.


"Kalau begitu kalian istirahatlah! Dan terimakasih karena sudah memberikan informasi tentang kedua orang itu." ucap Archo.


"Sama-sama Mister."


Archo lalu memutuskan telponnya, setelah itu ia mencari kontak yang berada di hpnya dan menghubunginya.


********************************


Villa Noel Gallagher


Seseorang nampak tergesa-gesa menuju ke arah kamar dimana Noel berada. Setibanya, ia pun langsung mengetuk pintunya.


Tok... Tok.... Tok....


"Bos... Bos...." seru-nya.


Di dalam kamarnya, Noel nampak sedang asik bermain dengan Desi, saat mendengar suara ketukan pintu dan di susul suara seseorang. Noel langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah pintu.


"Ck, siapa sih yang berani-berani mengganggu kesenangan ku?" umpat Noel.


"Ada apa bos?" tanya Desi.


"Itu ada yang nyamuk yang menggangu. Sebentar ya! Setelah aku membereskan nyamuk itu, kita lanjutkan lagi permainan kita," kata Noel mengelus rambut Desi.


"Baiklah bos."


Noel beranjak dari tempat tidurnya seraya memakai baju tidur model kimono, setelah selesai ia pun langsung melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Bos...." sapa-nya menunduk sopan.


Noel mengerenyit. "Huh, ternyata kamu Fan, aku kira siapa. Mengganggu kesenangan ku saja." umpatnya.


"Maaf bos kalau saya mengganggu anda yang sedang bersenang-senang. Tapi ada sesuatu sangat penting yang ingin saya sampaikan pada anda!" ujar Fan.


"Sesuatu sangat penting?" lirih Noel. "Katakan padaku sesuatu sangat penting apa sampai kamu berani mengganggu ku!" sambungnya.


Sebelum berkata, Fan terlebih dahulu menghela nafasnya.


"Begini bos, sepertinya Villa ini sudah tidak aman lagi untuk kita."


"Tidak aman lagi? Apa maksudmu Fan?" sentak Archo.


"Saya mendengar kabar bahwa keluarga dari Mrs Maria sudah melaporkan hilangnya Mrs Maria ke Polisi dan saat ini pihak kepolisian sedang menyelidikinya, bos." ujar Fan.


Noel manggut-manggut.


"Oh jadi itu sesuatu sangat penting yang ingin kamu sampaikan. Cih, aku pikir apaan," cetus Noel.


"Lho, kenapa tanggapan anda seperti itu, bos?" tan


"Ya karena apa yang kamu sampaikan barusan itu sangat tidak penting untuk ku, Fan. Dan lagi untuk urusan polisi kan kita bisa mengelabui-nya, jadi untuk apa kita takut." papar Noel meremehkan Polisi.


"Oh begitu ya, lalu bagaimana dengan para pengawal yang di utus oleh Mr Archo dan orang yang bernama Rayyan itu? Apa bos masih tetap meremehkannya?" celetuk Fan.


Mendengar itu Noel langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


"Hah! Kamu bilang apa? Pengawal Archo dan Ray?"


"Iya bos. Maka dari itu saya bilang kalau ini adalah sesuatu yang sangat penting," balas Fan.


Sontak membuat Noel menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Kurang aj*r!" sentak Noel memukul pintu. "Ternyata aku terlalu meremehkan wanita lumpuh itu! Dan lagi kenapa Ray sampai membantunya juga, padahal dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Kimberly," sambung umpatnya.


"Terus kita harus bagaimana bos? Aku gak mau kalau sampai masuk ke hotel yang mengerikan itu lagi," cecar Fan dengan paniknya.


Melihat ekspresi Fan yang panik, Noel pun memegang bahu Fan.


"Sudah kamu jangan terlalu panik seperti itu! Karena aku masih punya banyak cara lainnya lagi," tutur Noel.


"Cara lainnya? Maksud anda bos?"


Noel menyeringai. "Nanti juga kamu akan mengetahuinya."


Seketika Fan memutar bola matanya dengan malas sembari menghela nafasnya lagi.


"Terserah anda saja bos, yang penting aku aman."


"Kamu pasti aman, Fan. Yaudah kamu kembali ke kamar mu sana!"


"Baiklah bos, selamat bersenang-senang." ucap Fan.


Ia pun membalikkan badannya dan melenggang pergi menuju ke kamarnya, sedangkan Noel kembali ke kamarnya dan melanjutkan aktivitasnya dengan Desi.


...----------------...


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, malam yang panjang dan penuh drama pun kini telah berubah menjadi pagi yang cerah dengan terpancarnya sinar sang surya.


Villa Z&R


—Pukul 08.15am


Yiou nampak sedang berada di kamar milik Z&R untuk menjenguk Zuy yang masih tertidur. Bukan hanya Yiou saja, Beyza pun ada di sana sambil menggendong Baby Z, begitu pula Ray yang menggendong Baby R.


Sedangkan Dimas sudah berpamitan pulang beberapa saat yang lalu setelah selesai memeriksa Zuy dan melepaskan jarum infus dari tangan Zuy, begitu pula dengan Airin dan Davin yang sudah berangkat ke Perusahaan.


Ya seperti biasanya, Ray meminta Davin untuk menggantikan pekerjaannya, karena Ray harus menjaga dan merawat pujaan hatinya yang sedang sakit.


"Ray, kenapa semalam kamu tidak memberitahu ku tentang keadaan Baby? Kalau bukan karena Davin yang memberitahu ku tadi, mungkin sampai sekarang aku tidak tahu keadaan Baby," cecar Yiou menatap tajam Ray.


"Maaf Kak! Bukannya Ray gak mau memberitahu Kakak tentang keadaan sayangku, hanya saja semalam aku benar-benar panik Kak. Dan lagi aku juga tidak ingin membuat Kak Yiou khawatir dan kepikiran, karena itu tidak bagus buat perut besar Kakak ini." jelas Ray.


"Apa yang di katakan oleh adik Ray ada benarnya juga Yi. Kamu tidak boleh banyak pikiran, tidak baik buat calon anak kamu," sambung Beyza.

__ADS_1


Yiou menghela nafasnya. "Haaa.... Iya juga sih. Lalu apa Baby sudah sarapan dan minum obat?"


"Udah Kak, untuk sementara dia minum Paracetamol dulu. Soalnya resep obat yang di kasih Dokter Dimas, Henri sedang menebusnya di apotik." balas Ray.


"Oh...." Yiou manggut-manggut.


Sesaat kemudian....


Yiou dan Beyza keluar dari kamar tersebut, Baby R dan Baby Z pun di bawa oleh mereka berdua, sedangkan Ray langsung ke kamar mandi, karena ia merasakan sesuatu pada perutnya itu.


Lalu....


"Rayn, Zea...." lirih Zuy seraya membuka matanya.


Setelah nyawanya terkumpul, perlahan Zuy membangunkan tubuhnya mengubah posisinya menjadi duduk. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya, seketika matanya membulat sempurna saat melihat jam yang terpampang di dinding kamarnya.


"Ya ampun! Sudah jam delapan lewat, Ray pasti sudah berangkat, lalu Baby R dan Baby Z juga pasti udah bangun dari tidurnya, aku harus melihat mereka."


Zuy langsung menyingkirkan selimutnya dan menurunkan kakinya hingga menyentuh ke lantai. Kemudian Zuy beranjak dari tempatnya dan melangkah ke arah kamar si kembar, meskipun jalannya sedikit terhuyung.


Setibanya, ia pun mendekat ke arah box si kembar.


"Anak-anak, Mamah dat.... Hah!" Zuy tercengang saat melihat box si kembar kosong. "Dimana anak-anakku? Kenapa mereka tidak ada di sini?"


Tiba-tiba saja ingatan akan mimpinya semalam muncul di pikirannya, sontak ia pun bergegas keluar dari kamar si kembar lewat pintu satunya lagi.


"Baby R, Baby Z...." seru Zuy yang sudah berada di luar kamarnya mencari si kembar.


Pertama ia menuju ke ruang keluarga, namun tidak ada, lalu menuju ke ruang lainnya juga mereka tidak ada, Zuy pun nampak mulai panik.


"Anak-anak kalian dimana?" lirih Zuy melangkah menuju keluar.


Saat sudah berada di luar, ia pun melihat Bu Ima sedang menyirami tanaman, lalu Zuy menghampirinya.


"Bu Ima...."


Mendengar suara Zuy memanggilnya, Bu Ima menoleh.


"Nak Zuy!" sahut Bu Ima sambil mematikan keran airnya. "Nak Zuy, kenapa keluar? Kan masih sakit, ayo Ibu antar ke kamar lagi!"


Zuy menggeleng. "Tidak Bu, Zuy tidak ingin ke kamar, Zuy hanya ingin melihat anak-anak. Apa mereka bersama Ibu?"


"Mereka tidak sedang bersama Ibu, Nak. Tapi mereka sedang bersama ...."


Perkataan Bu Ima pun terhenti sebab Zuy langsung menjejakkan kakinya menuju ke arah pantai.


"Nak Zuy, kamu mau kemana?" seru Bu Ima.


Dan saat hendak menyusulnya tiba-tiba seseorang memegang bahu Bu Ima, sontak Bu Ima mengalihkan pandangannya


"Tuan Ray!"


"Ada apa Bu Ima, kenapa nampak panik begitu? Oh iya, apa Ibu melihat Mamahnya anak-anak? Soalnya dia tidak ada di kamarnya." cecar Ray.


"Tu-Tuan Ray, Nak Zuy ada di sana...." balas Bu Ima menunjuk ke arah Zuy berada.


Seketika Ray membelalakkan matanya karena terkejut melihat Zuy yang sudah berada di pantai.


"Sayangku!" lirih Ray, ia pun langsung berlari menuju ke pujaan hatinya itu.


Sementara itu....


"Rayn, Zea.... Dimana kalian sayang?" teriak Zuy mengedarkan pandangannya ke pesisir pantai.


"Sayangku, apa yang kamu lakukan di sini?" Ray mendekat ke Zuy.


"Ray kenapa kamu di sini? Bukannya sekarang kamu sedang di Kantor?" Bukannya menjawab Zuy malah balik bertanya.


Ray langsung memeluk erat tubuh Zuy.


"Rayyan...."


Sesaat Ray melepaskan pelukannya dan beralih menangkup pipi pujaan hatinya, sekilas Ray mengecup bibirnya.


"Sayangku, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ray.


"Tentu saja aku sedang mencari anak-anakku, Ray." jawab Zuy.


"Anak-anak?"


Zuy mengangguk. "Iya anak-anak, aku tadi bangun dan ke kamar anak-anak tapi mereka gak ada di sana, aku cari ke mana pun gak ada juga, mereka bahkan tidak bersama Bu Ima atau pelayan lainnya. Aku jadi takut kalau mereka ada di sini sama seperti mimpi ku semalam."


"Hmmmm, mimpi semalam? Memangnya kamu mimpi apa sayangku? Sehingga membuat mu nampak ketakutan seperti ini?" tanya Ray.


Zuy menceritakan tentang mimpinya semalam ke Ray sambil menitikkan air matanya. Sehingga membuat Ray terenyuh, ia pun kembali memeluk pujaan hatinya.


"Sayangku, itu hanya mimpi orang yang sedang sakit, jadi kamu tidak perlu ketakutan seperti ini ya!" tutur Ray menenangkan Zuy dan mencium puncak kepalanya.


"Tapi Ray...."


"Sshhht! Sayangku, tidak ada yang bisa menyakiti anak-anak maupun kamu, kan ada aku yang akan selalu melindungi kalian semua. Kalau sampai ada seseorang orang yang berani mencelakakan kalian, aku pastikan hidup mereka tidak akan panjang. Dan lagi, sebenarnya anak-anak sedang bersama dengan Kak Yiou serta lainnya, dan mereka sedang menuju ke sini, sayangku." kata Ray.


Zuy mendongakkan kepalanya. "Benarkah? Dimana mereka?"


"Itu mereka." Ray menunjuk ke arah Yiou dan yang lainnya yang sedang berjalan.


"Kakak...." seru Nara melambaikan tangannya.


Seketika membuat Zuy membalikkan badannya melihat ke arah Yiou dan lainnya. Saat mereka sudah dekat dengannya, Zuy langsung duduk berjongkok di depan stroller anak-anaknya sambil mengelus kepala Baby R dan Baby Z.


"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja, Mamah benar-benar khawatir sayang, Mamah takut kalau kalian kenapa-napa," ucap Zuy tersedu-sedu.


Yiou dan Beyza pun nampak keheranan melihat Zuy seperti itu, lalu Yiou menatap Ray dengan tatapan penuh tanya.


"Mimpi buruk Kak," balas Ray dengan nada lirih, seakan tau dengan apa yang ingin Yiou tanyakan.


Yiou pun manggut-manggut. Sesaat Ray membangunkan Zuy dari posisinya, setelah itu mereka semua langsung melangkah menuju ke arah Villanya.


***************************


Perusahaan CV


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.27pm. Semuanya karyawan pun masih bergelut dengan pekerjaannya.


Dari arah pintu masuk Perusahaan CV, nampak seorang pria beranjak tua berjas, memakai topi flat cap dan kacamata hitam serta tongkat di tangannya. Pria itu datang bersama seorang wanita cantik, dan mereka berdua menuju ke resepsionis.


Mereka berdua adalah Daddy Mario dan Adriene.


"Permisi Nona cantik," ucap Daddy Mario.


"Iya Mister, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Citra dengan sopan dan di selingi senyumnya.


"Maaf sebelumnya saya ingin bertanya, apa benar Ceo dari Perusahaan ini adalah Rayyan G Michael?" tanya Daddy Mario.


Citra mengangguk. "Anda benar Mister, Ceo kami memang Tuan Rayyan G Michael."


"Oh, lalu apakah saya bisa bertemu dengannya?"


"Eemmm, maaf Mister untuk saat ini Tuan Ray sedang tidak ada di sini." ujar Citra.


"Lalu bagaimana dengan asistennya ah maksud saya Davin, Davino Roveis. Apa dia ada?" Daddy Mario kembali bertanya.


"Kalau Pak Davin ada di ruangannya."


"Yaudah kalau begitu saya ingin bertemu dengannya!"

__ADS_1


"Baiklah Mister, tapi saya tanya ke Pak Davin dulu, apa dia sekarang bisa di temui atau tidak," papar Citra.


"Ya silahkan Nona!"


Citra pun mengangkat gagang telepon yang ada di depannya, akan tetapi sebelum ia menghubungi Davin, ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Daddy Mario.


"Maaf sebelumnya Mister, nama Mister dan Miss ini siapa?" tanya Citra.


"Saya Mario Fuca dan ini menantu saya Adriene," Daddy Mario memperkenalkan dirinya dan Adriene.


Sehingga Adriene pun tersipu saat mendengar Daddy Mario menyebutkan dirinya menantu.


"Oh, tunggu sebentar ya Pak!"


Ruang Davin.


Di dalam ruangannya, Davin terlihat sibuk mengecek satu-persatu dokumen yang berada di atas mejanya itu tanpa terlewatkan. Tiba-tiba interkom yang di mejanya berbunyi, ia pun segera menjawabnya.


"Pak ini saya Citra," ucap Citra.


"Iya Cit, ada apa?"


Citra lalu memberitahu ke Davin bahwa Daddy Mario ingin bertemu dengannya, sontak membuat Davin terkejut.


"Apa Mario Fuca!"


"Iya Pak, apa Pak Davin ingin menemuinya?"


Davin menghela nafasnya. "Bawa mereka ke ruangan saya!"


"Baik Pak."


Davin pun langsung memutuskan telponnya.


Sesaat kemudian, Citra datang mengantar Daddy Mario dan Adriene. Setelah itu, Davin mempersilahkan Daddy Mario untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya.


"Wah, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Rayyan sudah memiliki Perusahaan sendiri, dan megah seperti ini," ucap Daddy Mario yang kagum.


"Iya Mr Mario, saya juga tidak menyangka. Oh iya bagaimana kabar anda?" tanya Davin.


"Kabar saya baik-baik saja, Davin." jawab Daddy Mario.


"Oh, Syukurlah kalau begitu. Lalu siapa wanita yang di sebelah anda ini, apa dia istri baru anda?"


Sekilas Daddy Mario melirik ke arah Adriene.


"Oh maksudmu wanita cantik ini, dia adalah menantu ku, istri dari Archo." balas Daddy Mario.


"Apa! Jadi dia istri si mata empat? Ternyata ada yang mau juga dengan si mata empat," celetuk Davin.


Daddy Mario dan Adriene hanya tersenyum simpul mendengar celetukan Davin.


"Maaf Mr Mario, sebenarnya ada urusan apa anda datang kemari?" tanya Davin.


"Ya sebenarnya saya ingin bertemu dengan calon menantu saya, Rayyan. Tapi sayangnya dia tidak ada di sini." jelas Daddy Mario.


"Iya Mr Mario, Tuan Ray memang jarang sekali ada di Perusahaan, sebab ia selalu sibuk dengan pekerjaan lainnya." kata Davin. "Termasuk menjaga anak dan istrinya," sambung batin Davin.


"Oh jadi sekarang Ray super sibuk ya." lirih Daddy Mario.


Davin pun membalasnya dengan anggukan saja.


Lalu....


"Hmmm, dengar-dengar sekarang ini Ray sedang menjalin hubungan asmara dengan wanita lain, apa itu benar, Vin?" Daddy Mario pun mulai mempertanyakan tentang hubungan Ray.


Sontak membuat Davin tersentak kaget. "Anda tau kabar itu dari mana, Mr Mario?"


"Tentu saja dari seseorang dan lagi Ray juga telah membatalkan rencana pertunangannya dengan Kimberly." cetus Daddy Mario.


"Oh jadi begitu ya. Tapi maaf, saya tidak tahu apa-apa tentang hubungan Tuan Ray dengan wanita lain, Mr Mario." ujar Davin.


"Apa! Bukankah kamu yang paling dekat dengan Ray, tentunya kamu pasti tau dong, siapa saja orang yang dekat dengan Ray itu." pekik Daddy Mario.


Davin mendesah. "Ya saya memang dekat dengan Tuan Ray, bahkan seperti Kakak dan adik. Tapi untuk urusan pribadinya, saya tidak pernah ikut campur, Mr Mario."


Hmmm, padahal dia yang paling ikut campur, bahkan sampai misteri-misteri segala macam. Akan tetapi demi kebaikan Ray dan Zuy, Davin pun terpaksa berbohong.


"Oh, aku pikir kamu tahu tentang itu. Ternyata kamu memang orang bodoh yang tidak tau apa-apa tentang atasan mu itu," celetuk Daddy Mario.


"Hehe, terimakasih atas pujiannya." ucap Davin di selingi senyuman paksa.


Perbincangan mereka pun masih berlanjut.


...----------------...


Waktu terus berjalan hingga sore hari pun tiba dan semua karyawan dari Perusahaan CV, satu-persatu sudah meninggalkan pekerjaannya, tapi tidak semuanya ada juga yang lembur sampai larut demi bonus dari atasan.


Sementara itu, Airin terlihat sedang berada di halte. Karena hari ini Davin mengajak Airin untuk pulang bersama. Lalu kemudian seorang pria dengan mengendarai motor sportnya berhenti di depan Airin.


"Hai Rin," sapa-nya sambil membuka helmnya.


"Brian!" seru Airin.


"Sedang apa kamu di sini, Rin?" tanya Brian.


"Aku sedang menunggu angkot," jawab Airin yang berbohong.


Sebab ia tidak ingin menjadi bahan pergunjingan orang kantor, kalau ia pulang dengan atasannya.


"Oh, mau bareng gak? Aku antar sampai ke Kosan kamu, Rin." tawar Brian.


Akan tetapi Airin mengibaskan tangannya.


"Tidak usah Brian aku bisa pulang sendiri." tolak Airin.


"Hmmmm, yaudah kalau mau kamu begitu, aku tidak akan memaksa mu, Rin. Tapi kamu hati-hati ya!" ucap Brian yang sedikit kecewa.


"Iya, kamu juga hati-hati Brian!"


Brian pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu ia memakai helmnya dan menyalakan motornya kembali. Setelah itu ia pergi meninggalkan Airin.


Selang beberapa saat kemudian, Davin datang dan menghentikan mobilnya tepat di depan Airin, lalu kaca mobilnya pun terbuka.


"Hei singa betina yang manis, ayo naik!" seru Davin dari dalam mobilnya.


Airin mendengus sambil memutar bola matanya dengan malas saat mendengar Davin menyebut dirinya singa betina. Ia pun berjalan memutari mobil Davin, setelah pintu mobil di buka, Airin segera masuk ke dalam mobil.


Tak lama kemudian, Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di sisi lain, ternyata Brian kembali menghentikan motornya tak jauh dari halte tersebut dan saat matanya menangkap Airin yang sedang masuk ke dalam mobil Davin, ia pun terlihat sangat kesal sampai-sampai mengepalkan tangannya.


"Huuuu, pantas saja kamu menolak ajakan ku, Rin. Ternyata kamu lebih memilih pulang bersama Pak Davin menggunakan mobil, di bandingkan dengan aku yang hanya menggunakan motor saja," gerutu Brian. Lalu....


"Brian...."


Seketika Brian menolehkan kepalanya ke arah orang yang memanggilnya.


"Hmmmm...."


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2