
<<<<<
Matanya yang sayu kini terbelalak, mulutnya pun sedikit menganga karena melihat seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Malam Nona, akhirnya kita bertemu lagi...."
Ia melepaskan topi sama maskernya, kemudian menyunggingkan senyumnya pada Melan sembari merentangkan kedua tangannya sehingga Melan terpaku.
"Tu-Tuan Archo!" batin Melan menyebut orang tersebut yang ternyata suaminya sendiri yaitu Archo Fuca.
Melan menggigit bibir bawahnya, matanya yang tadinya terbelalak menatapnya pun kini perlahan menurunkan pandangannya ke bawah seraya menundukkan kepalanya.
Melihat Melan seperti itu membuat Archo mengernyit heran, ia mengulurkan tangan kanannya dan menempatkannya di dagu Melan seraya mendongakkannya.
Ketika pandangan mereka berdua saling bertemu kembali, Archo tercengang melihat ekspresi sedih yang terpampang di wajah Melan bahkan matanya sudah menggenang dengan air mata yang kemudian perlahan mengalir membasahi pipinya.
Seketika ia langsung merengkuh tubuh Melan dan memeluknya dengan erat.
"Mel...."
Melan terisak-isak seraya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu membuat hati Archo terenyuh, ia pun menghela nafasnya.
"Maafkan aku karena jarang memberi kabar padamu dan baru bisa pulang menemui mu, Melan." ucap Archo sembari mengelus punggung Melan.
Ya dua hari setelah Melan di kabarkan hamil serta kondisinya yang sudah membaik, Archo langsung pulang ke Amerika tanpa membawa Melan. Karena dia mengingat akan pesan yang di sampaikan oleh Dokter Kiki bahwa Melan harus banyak istirahat dan tidak boleh bepergian jauh.
Sebenarnya Archo sangat kecewa karena rencana ingin menggagalkan pernikahannya bersama Adriene dengan memperkenalkan Melan secara langsung pada keluarganya yang berada di Amerika dan Paris jadi tidak berjalan dengan baik alias gagal.
Selain itu juga Archo tidak tega meninggalkan istrinya apa lagi kondisinya yang sedang hamil, akan tetapi karena Daddy Mario terus-menerus menghubunginya serta desakan dari Melan. Oleh sebab itu dengan sangat terpaksa dan berat hati Archo meninggalkannya sendirian dengan bekal yang di berikannya untuk Melan.
Dan setelah berada di Amerika, Archo malah sangat di sibukkan oleh pekerjaannya sehingga membuatnya jarang menghubungi dan memberi kabar pada Melan.
Sesaat setelah saling melepas rindu, keduanya pun melepaskan pelukannya.
"Sudah jangan menangis lagi! Sekarang aku sudah ada di sini untuk menemani dan menjaga mu, Mel." Archo mengusap air mata Melan.
Melan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, kemudian ia menggenggam tangan Archo dan mengajaknya masuk ke dalam. Lalu keduanya pun mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Bagaimana kabar kamu dan calon anak kita?" tanya Archo mengelus perut Melan.
Melan tersenyum sembari meraih tab-nya yang berada di atas nakas, ia pun mulai menulis sesuatu di tab-nya, kemudian menunjukkannya pada Archo.
"Kabar kami baik-baik aja, Tuan. Lalu bagaimana dengan Tuan sendiri?"
"Syukurlah kalau kalian baik-baik aja. Ya seperti yang kamu lihat, kalau kabar ku juga baik-baik aja, Mel." balas Archo di susul senyumnya.
Melan kembali menulis di tab-nya.
"Lalu kenapa barusan pas Tuan datang tidak langsung masuk ke dalam dan malah menekan bel pintu? Bukankah Tuan juga menyimpan kunci Apartemen milik Tuan ini? Jujur saya sangat terkejut dan ketakutan, saya juga sempat mengira kalau yang datang itu orang jahat dan bukan anda, Tuan."
Archo menghela nafasnya sejenak.
"Itu karena aku ingin ngasih kejutan untuk kamu, Mel. Makanya aku sengaja gak langsung masuk ke dalam," ia menempatkan tangannya di atas kepala Melan. "Maaf ya kalau aku sudah membuat mu terkejut dan ketakutan." sambung ucapnya.
Melan manggut-manggut.
"Oh iya, apa Tuan mau di buatkan sesuatu?"
Archo menggeleng. "Nggak usah Mel, perutku udah kenyang banget. Lebih baik kamu istirahat lagi aja ya! Aku juga mau langsung istirahat, soalnya aku udah lelah banget karena seharian di perjalanan."
Melan terdiam seraya menatap lekat wajah pria berkacamata itu.
"Sebenarnya aku ingin sekali bertanya tentang rencana pernikahannya dengan Kakak cantik itu, seperti apa yang Tuan ceritakan sebelum pergi ke Amerika. Tapi kenapa aku takut dan merasa belum siap untuk mendengarnya bahkan dada ku terasa sangat sakit. Apa ini mungkin perasaan ku terhadap Tuan sudah terlalu dalam? Tapi apa aku pantas mencintai orang yang sempurna seperti Tuan? Meskipun kami menikah, tapi perasaan di antara kami masih sama-sama canggung dan lagi aku juga hanya istri dadakan yang di nikahi-nya atas kesalahan dan keterpaksaan. Selain itu aku juga hanya seorang gadis bisu, tidak seperti Kakak cantik itu. Mana mungkin Tuan mau mencintai gadis desa seperti ku ini." batin Melan sembari meremas tangannya.
Lalu....
"Mel, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
Seketika Melan langsung mengerjapkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hmmm, yaudah kalau gitu sekarang kita ke kamar yuk!" ajak Archo.
Sesaat keduanya sama-sama beranjak dari tempat duduknya dan beralih menuju ke kamar.
Saat tiba di kamarnya, Melan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, sedangkan Archo terlebih dahulu membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia pun ikut berbaring di samping Melan sembari melingkarkan tangannya di pinggang kecil istrinya membuat Melan mengganti posisi tubuhnya menghadap ke arah Archo.
"Mel...."
Melan mendongak menatap Archo.
"Emmm, bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan!" pinta Archo.
Namun Melan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Mel, kamu istriku! Jadi tidak sepantasnya kamu memanggil ku dengan sebutan Tuan!"
Melan meraih tangan Archo, kemudian ia menggerakkan jari telunjuknya di telapak tangan Archo.
"Lalu saya harus memanggil anda apa Tuan?" Archo meniru apa yang di tuliskan oleh Melan melalui telapak tangannya.
"Kamu bisa memanggil ku Archo atau apa saja senyaman kamu, Mel. Asalkan jangan Tuan ataupun Mister! Coba perlahan aja pasti lama-lama juga terbiasa." lanjut kata Archo.
Melan kembali menggerakkan jari telunjuknya di telapak tangan Archo.
"Baiklah, saya akan mencobanya perlahan."
"Ya, aku tunggu!"
Archo mengelus lembut pipi Melan dengan punggung tangannya, kemudian mendaratkan ciuman di kening dan beralih ke bibir mungil istrinya itu. Hasratnya tidak dapat di tahannya lagi, ia pun mulai meraba bagian sensitif dari Melan.
"Mel, bantu aku ya!" bisik Archo.
Tanpa membantah, Melan pun menuruti keinginan suaminya itu.
"Aku sangat mencintaimu, Melan." batin Archo.
...----------------...
Fajar menyingsing dari ufuk timur menyentuh embun pagi, memancarkan cahaya hangat dari mentari pagi hari yang sudah mulai beranjak naik dari singgasananya.
Villa Z&R
—Pukul 06.37am
Zuy baru saja kembali ke kamarnya setelah selesai membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi, ia lalu membuka tirai yang menutupi seluruh dinding kaca di kamarnya seraya membuka sedikit pintu yang menuju ke balkon sehingga cahaya dan udara segar dari luar masuk ke dalam kamarnya.
Selepas itu, Zuy beralih menuju ranjangnya dan duduk di tepinya. Namun tiba-tiba saja ia tersentak karena dari belakang tubuhnya Ray melingkarkan tangannya di pinggang dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Zuy sambil menciuminya dengan mesra, sehingga Zuy meringis dan menolehkan kepalanya.
"Ray! Kamu udah bangun?"
Ray menghentikan aksinya seraya menengadah menatap pujaan hatinya dengan matanya yang masih sayu sambil menyunggingkan senyumnya.
"Pagi sayangku." ucapnya.
"Pagi juga Daddy tampannya anak-anakku." balas Zuy.
__ADS_1
Ray berpindah posisi tidur di pangkuan pujaan hatinya.
"Sayangku, elus-elus rambutku dong!" pintanya dengan manja.
"Hmmm, baiklah."
Zuy pun mengelus rambut pria tampannya itu dengan lembut membuat Ray merasa nyaman.
"Oh iya sayangku, apa Rayn sama Zea masih pada tidur?" tanya Ray.
Zuy menganggukkan kepalanya.
"Iya masih, soalnya tadi Rayn sama Zea udah pada bangun duluan karena lapar di tambah popoknya pada penuh semua. Jadi ya sekarang ini mereka berdua masih pada tidur pulas." ujar Zuy.
Ray manggut-manggut.
"Oh.... Pantesan sepi, biasanya setiap pagi suka rame sama ocehan khas mereka. Apalagi kalau Rayn sama Zea di bawa kesini pasti tempat tidur kita langsung di kuasai mereka berdua. Dan lagi mereka berdua pasti gak ada yang mau mengalah kalau sudah berebut sesuatu, entah itu mainan, dot atau pelukan Mamah sama Daddy-nya ini."
"Ya termasuk Daddy-nya yang juga gak mau ngalah sama anak-anak kalau udah berebut pelukan dariku. Bahkan kamu sering banget iseng godain Rayn sama Zea sampai mereka berdua nangis karena ulah Daddy-nya ini." gerutu Zuy mengerucutkan bibirnya.
"Ya maaf sayangku! Habisnya mereka berdua lucu sih kalau udah di goda mirip banget sama Mamahnya ini. hahaha...."
"Humph, dasar kamu ya!" Zuy menoel pipi Ray membuat Ray menyemburkan tawanya.
Zuy membuang nafasnya.
"Tapi Ray, kalau di bandingkan dengan Zea justru Rayner lah yang selalu mengalah bahkan sering kali ia di buat nangis oleh Zea. Entah itu di pukul Zea ataupun sedang berebut mainan dengannya. Aku jadi berfikiran, apa jangan-jangan sifat ku yang lemah dan cengeng ini menurun pada anak laki-laki kita ya? Sehingga Rayn juga ikut-ikutan lemah dan cengeng sama seperti ku."
Zuy memasang ekspresi wajah sendu, melihat itu bukannya ikut sedih, Ray justru malah tersenyum sumringah.
"Hei sayangku, kenapa kamu berkata seperti itu? Kalau menurut ku, jika Rayner sering mengalah pada Zea, berarti itu pertanda bahwa ia sangat menyayangi adiknya dan kelak dewasa nanti Rayn akan menjadi perisai yang melindungi Zea serta adik-adiknya dari bahaya atau orang-orang yang ingin menjahatinya. Dan lagi siapa yang bilang kalau kamu wanita lemah dan cengeng? Kamu bukan wanita seperti itu sayangku, bagiku kamu adalah wanita hebat dan tangguh. Aku sangat bahagia bisa memiliki wanita seperti kamu dan betapa bahagianya lagi jika anak-anak bisa mewarisi sifat kamu ini. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi ya sayangku!" kata Ray mengelus lembut pipi Zuy.
Mendengar perkataan dari pria tampannya membuat raut wajahnya yang sendu kini berubah, senyum manisnya pun kembali terukir di wajah cantiknya, lalu Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya kamu benar Ray. Emmm, maaf ya kalau tadi aku berkata seperti itu!" ucap Zuy.
"Tidak apa-apa sayangku. Tapi kalau kamu masih merasa bersalah, kamu bisa meminta maaf dengan memberikan ku morning kiss yang mesra dan sangat lama! Bagaimana sayangku?"
Ray mengetuk-ngetuk bibir Zuy sembari mengedipkan sebelah matanya. Untuk sejenak Zuy menghela nafasnya.
"Oke." ia lalu mendekatkan wajahnya ke pria tampannya.
Cup....
Cup....
Zuy menghujani beberapa ciuman di wajah Ray, kemudian yang terakhir bagian ciuman yang paling di sukai mereka berdua.
Lima menit berlalu akhirnya mereka berdua melepaskan tautan bibirnya.
"Sayangku, tiba-tiba aku lapar!"
"Hmmm, lapar? Yaudah kalau gitu kamu ke kamar mandi dulu! Habis itu kita turun terus sarapan bareng sama yang lainnya, ya!"
Akan tetapi Ray malah mengernyitkan keningnya.
"Bukan lapar yang itu sayangku."
"Terus?"
Ray langsung mengganti posisinya menjadi berdiri, tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke kamar mandi.
Braaaak....
Setelah menutup keras pintu kamar mandinya, Ray menurunkan Zuy seraya menyandarkannya ke dinding.
"Sayangku, bukannya tadi aku bilang kalau aku lapar, dan sekarang aku ingin memakanmu."
"Hah!"
Ray mendekatkan wajahnya ke leher Zuy dan kembali menciuminya dengan buas serta memberikan jejak merah kepemilikannya. Tangannya pun sudah mulai melepas baju yang di kenakan pujaan hatinya hingga tak ada sehelai baju yang menempel di tubuhnya.
Selepas itu, Ray menyalakan showernya seketika keduanya pun mulai melakukan aktivitasnya di bawah kucuran air shower menciptakan suara-suara misteri di dalam kamar mandi.
"Panggil namaku, sayangku!" bisik Ray.
"R-Rayyan...."
Sedangkan di sisi lainnya, Airin terlihat sedang bersiap-siap berangkat ke Perusahaan. Karena saking terburu-burunya ia sampai-sampai....
Brugh!
Airin menabrak tubuh Davin hingga jatuh menimpanya bahkan bibir keduanya hampir bersentuhan. Untuk sesaat mereka berdua terdiam dan saling memandang satu sama lain.
Akan tetapi tiba-tiba Nara datang dan melihat keduanya, lalu....
"Kakak Airin, Paman putih. Kalian berdua lagi apa?" tanya Nara.
Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah Nara kemudian kembali saling memandang dan ....
Kyaaaa....
Teriak Davin dan Airin sembari beranjak dari posisinya sehingga membuat Bi Nana keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.
"Airin, Nara, Davin ada apa?"
Pandangan ketiganya pun mengarah ke Bi Nana, lalu Airin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ti-tidak ada apa-apa Tante Nana," jawab Airin gugup. "Iya kan Pak!"
Davin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"I-iya bener yang di bilang Airin, tidak ada apa-apa Tan, hahaha...."
"Mereka bohong Mih! Barusan Kakak cerewet sama Paman putih itu lagi—"
"Aduh, sepertinya aku beneran telat nih. Emmm, Tante Nana Airin pamit dulu ya!" sela Airin kemudian mencium punggung tangan Bi Nana. "Bye Pak Davin, sampai bertemu di Kantor ya!" lanjutnya.
"Woi singa betina!" seru Davin.
Bukannya menoleh, Airin malah melesat pergi meninggalkan Davin, Nara dan Bi Nana.
"Ck, dasar Rin-Rin."
"Dav!"
"Ah iya Tante Nana."
"Kalau kamu serius cepat lamar! Jangan di tunda-tunda lagi." tutur Bi Nana.
"Hmmm, ya nanti aku akan segera melamarnya. Tapi Tante jadi Ibu pendamping Davin ya!"
"Iya kalau kamu serius, Tante akan jadi Ibu pendamping kamu, Dav."
Davin menyunggingkan senyum bahagianya dan memeluk erat Bi Nana.
__ADS_1
"Yeaaa, terimakasih Mamih sayang." ucapnya.
"Buuu.... Paman putih kaya anak kecil, meluk-meluk Mamih." celetuk Nara.
"Biarin, bleeeh...." Davin menjulurkan lidahnya ke Nara.
"Sudah-sudah, ayo kita sarapan bersama!" ajak Bi Nana. "Oh iya, Zuy sama Ray masih di kamar ya?"
Davin mendesah. "Ya Tante ini kaya gak tau mereka berdua aja, kalau udah di kamar pasti lama. Biasalah Tan Misteri-misteri gitu."
"Huh, dasar kamu ini! Kalau urusan begituan aja langsung hapal." gumam Bi Nana.
"Ah gak juga Tan, hahaha...."
Beberapa saat setelah selesai dengan semua aktivitasnya, Ray, Davin, Airin kini sudah berada di Perusahaan CV. Sedangkan Zuy tetap berada di Villanya bersama Bi Nana, anak-anak beserta pelayannya.
...----------------...
Tak terasa waktu sore hari telah tiba, matahari pun sudah mulai bergeser ke arah barat dan akan kembali ke tempatnya semula.
Sesuai dengan perkataannya, setelah selesai dengan aktivitas kerjanya, Airin kini sudah berada di halte menunggu kedatangan Davin. Ketika sudah hampir sepuluh menit menunggu, mobil Davin tiba dan berhenti di depan Airin.
"Hoi singa betina yang manis, ayo buruan masuk!" seru Davin dari dalam mobilnya.
"Iya Pak."
Airin membuka pintu mobilnya dan masuk.
"Maaf ya Rin, kalau aku sedikit telat." ucap Davin.
"Nggak apa-apa Pak. Toh lebih baik terlambat kan, jadi orang-orang kantor gak curiga kalau aku pergi bareng Oppa-Oppa saranghe eh apa Oppa-Oppa berekor ya? hihihi...." lontar Airin.
Davin berkerut kening. "Mulai lagi deh menyebutku Oppa-Oppa saranghe sama Oppa-Oppa berekor entar ujung-ujungnya Oppa monyong kaya panggilan para women yang ada di Taman hiburan waktu itu."
Pufft!
Tawa Airin semakin menggema mendengar perkataan Davin dan sehingga Davin mendengus kesal.
"Dasar singa betina!"
"Sorry Pak! Hahaha," ucap Airin. "Makanya belajar bahasa Korea dong Pak! Biar gak salah terus."
Davin menghela nafasnya.
"Ya nanti aku akan belajar bahasa Korea." ujar Davin. "Oh iya, ngomong-ngomong soal Korea, aku jadi ingat waktu Tuan Ray bilang akan mengajak kita liburan ke sana."
Airin terperangah. "Hah! Serius nih Pak?"
"Iya, aku dengernya sih gitu Rin, entah kapan waktunya. Ya tapi mudah-mudahan aja beneran kalau Tuan Ray mengajak kita untuk liburan ke sana." lontar Davin.
"Semoga aja ya Pak." ucap Airin. "Kalau beneran jadi kesana, mungkin aku bisa bertemu dengan mereka para bias-ku." sambung batinnya.
Lalu sesaat ia langsung melajukan mobilnya dan menuju ke Rumah sakit.
*********************************
Rumah Sakit
Beberapa saat setelah sampai di tempat tujuan, kini keduanya sudah di ruang VVIP A ruang di mana Yiou dan bayinya berada.
"Benar apa yang di katakan oleh Zuy, dede bayinya sangat cantik mirip seperti Mamahnya," puji Airin sembari menggendong bayi Aries.
"Ah, kamu ini bisa aja memuji orang. Tapi terimakasih ya Rin." ucap Yiou tersipu mendengar pujian dari Airin.
Airin menengadah. "Oh iya Mrs Yiou, Kak Aries, siapa nama bayi cantik ini?"
Aries dan Yiou saling memandang satu sama lain seraya mengangguk, lalu beralih kembali ke Airin dan Davin.
"Namanya ialah AYLEEN RIESTYA GILFAN. Panggilannya Ayleen." Aries mengenalkan nama anaknya pada Airin dan Davin.
"Wah, bukan hanya parasnya yang cantik, namanya juga cantik. Hai Baby Ayleen! Salam kenal dari Tante Airin ya cantik." ucap Airin.
Lalu tiba-tiba Davin merangkul pundak Airin.
"Rin-Rin...."
"Apa."
"Ehem, perasaan kamar anak kita sudah siap kan? Ayo sekarang kita bawa anak kita ini pulang ke Villa!" lontar Davin dengan maksud mencandai Yiou.
Yiou merengut. "Siapa yang kamu maksud dengan anak kita, Davino Roveis?"
"Duh, tentu saja Baby Ayleen dong, Kakak Yi yang cantik! Dia kan anakku, liat aja wajahnya yang glowing mirip banget kan sama Papahnya ini." Davin menopang dagunya menggunakan kedua tangannya dengan matanya yang berkedip-kedip.
Seketika Aries, Yiou dan Airin menggeleng-gelengkan seraya berdecak karena tingkah laku Davin.
"Airin," tegur Yiou.
Airin menoleh. "Iya Mrs Yiou."
"Aku punya pesan buat kamu, Rin. Nanti kalau kamu sudah menikah sama si pria glowing ini terus hamil, jangan lupa sering-sering mengucap kata 'amit-amit' sambil mengelus perut biar nanti anaknya gak gila masker kaya bapak moyangnya ini, ya!" tutur Yiou.
"Ja-jangan dengerin omongan Tante tua ini Singa betina! Justru lebih baik jika anakku mirip dengan ku yang tampan dan glowing ini." cetus Davin.
"Siapa yang kamu sebut Tante tua, Davino Roveis?"
"Tentu saja ...." Davin menunjuk ke Yiou.
Lalu adu mulut pun terjadi antara Yiou dan Davin, sehingga Aries mendesah.
"Mulai gaduh lagi dua orang ini, humph!" gumam Aries.
Sedangkan Airin malah menyemburkan tertawa kecilnya.
"Sabar ya Kak Aries!"
*****************************
Rumah Dimas
Sementara itu, sebuah taksi baru saja berhenti tepat di jalan depan pagar rumah. Lalu nampak seorang wanita turun dari taksi tersebut seraya melepaskan kacamata hitamnya yang bertengger di hidungnya itu.
"Akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Maria, sebentar lagi kita akan bertemu kembali."
***Bersambung....
•Nah lho, siapakah gerangan wanita tersebut? 🤔
Jawabannya....
°See you next time.... 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌