
<<<<
Maria terkejut mendengar pertanyaan Kimberly, sesaat ia menundukkan kepalanya.
"Ah, itu sebenarnya ...."
Maria menghentikan ucapannya sembari meremas kuat bajunya itu.
"Sebenarnya apa Mam? Kalau ngomong jangan setengah-setengah gitu dong!" pekik Kimberly.
Maria lalu menghela nafasnya dan perlahan mengangkat kepalanya ke arah Kimberly yang tengah berdiri di hadapannya.
"Kim, bukannya kamu baru datang ya? Pasti kamu cape, lebih baik kamu bebersih dulu, setelah itu baru istirahat. Atau kamu mau makan dulu?" lontar Maria.
"Mam.... Jangan mengalihkan pembicaraan! Cepat jawab, sebenarnya Mam mau kemana?" Kimberly pun semakin penasaran.
"Kim, sebenarnya Mam ingin tinggal bersama keluarga Mam yang berada di Indonesia," jelas Maria, membuat Kimberly terkejut mendengarnya.
"Apa! Mam ingin tinggal di sana?"
"Maria mengangguk. "Iya Kim."
Seketika Kimberly langsung mengerutkan dahinya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kim...." tegur Maria.
"Kenapa? Kenapa Mam ingin tinggal di sana? Apa Mam sudah tidak menyayangiku lagi?" sentak Kimberly
"Kimberly, kenapa kamu bicara seperti itu, tentu Mam sangat menyayangi mu Kim," ujar Maria.
"Kalau Mam sayang, Mam tidak mungkin memilih untuk tinggal di sana."
Maria lalu meraih tangan Kimberly.
"Kim, dengarkan perkataan Mam! Kenapa Mam ingin tinggal di sana, sebab kondisi Mam yang sekarang ini. Kamu kan tahu Mam sudah tidak bisa apa-apa lagi, Mam hanya bisa duduk di kursi roda saja," jelas Maria. "Dan lagi...." imbuhnya.
"Dan lagi apa Mam?"
Maria kembali menundukkan kepalanya.
"Sekarang kamu tidak pernah pulang ke rumah, Archo juga selalu sibuk, jadi Mam merasa kesepian Kim. Maka dari itu Mam ingin tinggal di sana bersama Nenek dan Pamanmu itu," ungkap Maria.
"Oh jadi karena itu Mam ingin tinggal di sana. Mam sudah berapa kali Kim bilang, kalau Kim sangat sibuk Mam," cetus Kimberly.
"Iya Mam tau kalau kamu sangat sibuk, Kim. Tapi Mam sangat merindukan dimana saat kamu selalu di rumah, memeluk Mam bahkan tidur pun kamu minta di temani Mam. Namun sekarang kamu semakin jauh dari Mam, tidak pernah pulang, bahkan sering membentak Mam. Ya tapi Mam sadar kok, kenapa kamu seperti itu, karena kondisi Mam yang sekarang ini kan? Jadi kamu merasa malu dan risih pada Mam," ujar Maria, air matanya pun lolos membasahi pipinya.
Seketika Kimberly langsung melepaskan tangan Maria dari tangannya itu.
"Kim...."
Kemudian Kimberly mencondongkan badannya ke arah Maria.
"Mam, kenapa bicara seperti itu? Siapa yang risih dan malu? Kim gak begitu Mam. Kim hanya mencoba membantu Mam supaya orang-orang tidak mengetahui kondisi Mam yang seperti ini. Mam kan tahu kalau Kim seorang model," cecar Kimberly, ia pun menegakkan kembali tubuhnya.
"Tapi bukan seperti ini caranya Kim!"
"Lalu Kim harus bagaimana Mam? Apa Mam ingin Kimberly mengurus Mam? Atau menyuapi Mam?" tanya Kimberly dengan lantang.
Akan tetapi Maria menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mam hanya ingin kamu pulang Kim, Mam hanya ingin kita seperti dulu lagi. Mam kangen di peluk sama di cium kamu, Kim." ujar Maria.
Sesaat Kimberly menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Lalu ia memutar badannya dan melangkahkan kakinya keluar. Akan tetapi saat di ambang pintu, Kimberly menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Maria.
"Kim...."
"Mam, jika Mam ingin pergi silahkan! Kim tidak akan melarang Mam lagi," pekik Kimberly dan...
Braaak....
Ia pun menutup pintunya dengan keras sehingga membuat Maria tersentak.
"Kimberly...." lirih Maria menitihkan air matanya.
Setelah dari kamar Maria, bukannya pergi ke kamarnya, justru ia malah melangkah menuju pintu keluar. Saat berada di luar, Kimberly segera masuk ke dalam mobilnya. Lalu ....
"Mam, maaf kalau sekarang Kim berubah. Walaupun begitu, Kim tetap sayang sama Mam," ucap Kimberly sambil mencegkram kuat setir mobilnya.
Lalu Kimberly menyalakan mobilnya. Sesaat kemudian, ia pun segera melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya itu.
***********************
Kembali pada saat Ray dan Zuy yang berada di pantai.
"I-ini...."
"Bagaimana sayangku, apa kau menyukainya?" tanya Ray.
"Ray, ini rumah siapa?" tanya Zuy yang keheranan sembari menunjuk ke arah sebuah bangunan mewah berlantai dua di hadapannya.
Ray tersenyum sembari merangkul pundak pujaan hatinya itu.
"Itu Villa sayangku, dan tentu saja milik kita," jawab Ray
"Hah! Milik kita?"
Ray mengangguk. "Iya sayangku milik kita, dan di sebelahnya lagi milik Kak Yiou," ujar Ray membuat Zuy kembali terkejut.
"Apa! Sejak kapan kamu dan Mrs Yiou punya Villa ini?"
"Sejak satu bulan yang lalu, sayangku. Sebenarnya ini punya temannya Kak Yiou, terus ia menjualnya pada Kak Yiou. Tapi karena Kak Yiou sudah punya, maka dari itu ia menawarkannya padaku. Setelah itu, aku menyuruh seseorang untuk merenovasinya dan baru selesai seminggu yang lalu," jelas Ray.
"Kenapa kamu baru bilang Ray. Ah maaf bukan maksudku...." ucap Zuy.
Ray kembali menyunggingkan senyumannya dan berkata, "Tidak apa sayangku, lagian aku ingin memberi kejutan untuk sayangku, jadi ya baru sekarang aku bilang ke kamu."
"Oh...."
"Ayo masuk!" ajak Ray.
Zuy mengangguk patuh, lalu mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk. Sesampainya, Ray langsung membuka pintunya dan seketika Zuy kembali tercengang melihat apa yang di dalam Villa tersebut.
"Ray, kenapa aku merasa tidak asing dengan ruangan ini, ini seperti ...." papar Zuy yang mencoba mengingatnya.
"Yang ada di dalam buku gambarmu itu kan, sayangku." sela Ray.
"Ya benar Ray. Euum tunggu!" pandangan Zuy langsung mengarah ke Ray. "Bagaimana kamu bisa tahu, Ray?"
"Tentu saja aku tahu, karena aku melihatnya sayangku," jawab Ray.
Zuy memanggut. "Oh.... Jadi begitu ya?"
__ADS_1
"Iya sayangku, yaudah kita lihat-lihat yuk!" Ray kembali mengajak pujaan hatinya.
Kemudian mereka melihat-lihat ruangan yang di Villa itu tanpa tertinggal.
"Bagaimana sayangku, apa kamu menyukainya?"
"Iya Ray, aku menyukainya," jawab Zuy mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu, yaudah sekarang kita lihat kamar utama!"
"Kamar utama? Kan barusan udah," papar Zuy.
Ray menggeleng. "Itu bukan kamar utama sayangku. Ayo aku tunjukin kamarnya!"
Zuy mengangguk pelan saja, menggandeng tangan Zuy dan berjalan menuju ke arah yang di tujunya.
Ya Ray sengaja menunjukan kamar utama yang terakhir, supaya bisa leluasa.
Sesampainya, Zuy pun terpukau melihat kamar utama yang begitu mewah, di lengkapi dengan kaca jendela besar, sehingga pemandangan laut bisa di lihat dari kamar tersebut.
"Waah ini benar-benar indah Ray, lihatlah aku bisa melihat pemandang laut dan sunset dari sini!" puji Zuy sambil melihat laut dari jendela kaca tersebut.
Ray lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy.
"Iya memang indah, sama seperti mu sayangku," ucap Ray.
"Hmmm.... Mulai lagi deh gombalnya," gumam Zuy.
"Aku gak ngegombal kok, sayangku." elak Ray sambil mencium ceruk leher Zuy.
"Ray, apa yang kamu lakukan? Geli iih...." pekik Zuy yang nampak kegelian akibat ulah Ray.
Ray terkekeh. "Hihihi.... Maaf sayangku, habisnya kamu gemesin sih. Oh iya sayangku, kita duduk yuk!"
"Ayo! Kakiku juga udah pegal nih," balas Zuy mengangguk.
Lalu mereka langsung duduk di atas sofa yang berada di kamarnya itu.
"Euuum Ray."
Ray menoleh. "Iya sayangku, kenapa?"
"Kenapa kamu dan Mrs Yiou beli Villa dekat pantai?" Zuy bertanya karena penasaran.
"Kalau aku sih jelas karena kamu sayangku, kan kamu suka sama pantai. Kalau Kak Yiou, karena ia mempunyai keinginan." ujar Ray.
"Keinginan?"
Ray mengangguk. "Iya sayangku, keinginannya yaitu jika dia mendapat jodohnya, maka Kak Yiou ingin mengadakan resepsi pernikahannya di Villa-nya ini," jelasnya.
"Oh.... Berarti kalau nanti Mrs Yiou dan Kak Aries menikah, mereka akan mengadakan resepsinya di sini dong?"
"Iya sayangku, maka dari itu dia membeli Villa di sini," kata Ray.
"Waah keren nih Mrs Yiou. Ah, aku juga ingin seperti Mrs Yiou, mengadakan acaranya dekat pantai," lirih Zuy membuat Ray tertegun mendengarnya.
Kemudian Ray menangkup kedua pipi Zuy. "Apa sayangku benar-benar menginginkannya?"
Zuy mengangguk. "Iya.... Bukankah itu sangat indah."
"Kalau begitu, nanti kita akan mengadakannya di tempat ini, bila perlu bareng sama Kak Yiou dan Aries," ujar Ray. "Bagaimana sayangku?" imbuhnya.
"Iya sayangku, apa kamu keberatan?"
"I-iya, Zuy keberatan," singkat Zuy sembari menurunkan tangan Ray.
Ray lalu menatap Zuy dengan sendu.
"Kenapa keberatan sayangku? Apa karena bareng sama mereka?" tanya Ray
"Bukan begitu Ray, hanya saja ini," Zuy menunjuk ke arah perutnya.
"Perut? Memangnya kenapa dengan perutmu, sayangku?"
Sesaat Zuy menghela nafas panjangnya.
"Haaa... Begini lho Ray, sekarang kan perut Zuy sudah membesar, masa iya Zuy harus memakai gaun pernikahan dengan perut seperti ini, bayanginnya aja udah bikin Zuy tutup mata, apalagi nanti orang yang melihatnya, bisa-bisa Zuy di bilang badut yang di dandanin gaun pengantin dong," jelas Zuy. Lalu....
Pffft...
"Hahaha... Hahaha...."
Seketika Ray menyemburkan tawanya saat mendengar penjelasan Zuy.
"Tuh kan kamu aja sampai tertawa seperti itu, hummmpt...." gerutu Zuy sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Habisnya kamu lucu, masa iya ada yang bilang seperti itu. Bagi ku kamu cantik sayangku, apalagi semenjak kamu hamil, kecantikanmu malah makin bertambah," ungkap Ray.
Blush...
Seketika wajah Zuy memerah saat mendengar ungkapan dari Ray, senyum manisnya pun terukir di bibirnya itu. Namun ....
"Ya walaupun sekarang kamu itu ...." Ray melanjutkan perkataannya dengan mengembungkan pipinya memaparkan bahwa Zuy sekarang gendut.
Akan tetapi, sebenarnya Ray hanya menggoda pujaan hatinya saja, ya meskipun sekarang Zuy tengah hamil, tapi badannya tidak berubah sama sekali.
"Apa!" lontar Zuy terkejut melihat ekspresi yang di tunjukan Ray.
Kemudian Zuy mengambil bantal dan memukulkannya pada tubuh kekar Ray.
Bugh...
Bugh....
"Ray.... Kamu benar-benar ya! Udah buat aku tersipu eh ujung-ujungnya malah gak ngenakin," pekik Zuy.
"Hahaha.... Tapi kamu tetap cantik sayangku," goda Ray membuat Zuy semakin kesal.
"Berhenti menggodaku! Ayo anak-anakku bantu Mamah, kita serang Papah nakalmu ini!" Zuy mengajak anak-anak yang di perutnya untuk menyerang Ray.
"Waduh, kalian mau menyerangku? Baiklah akan Daddy akan hadapi kalian semua," papar Ray.
Lalu saat Zuy hendak melayangkan bantalnya, tiba-tiba Ray langsung menempatkan tangannya di pinggang Zuy dan menggelitikinya, sontak membuat Zuy menjatuhkan bantal tersebut sambil tertawa karena kegelian.
"Hahaha.... Ray kamu curang!" pekik Zuy.
"Aku gak curang kok, kamu aja yang kurang waspada," canda Ray yang terus menggelitiki Zuy. "Apa kalian menyerah?"
Zuy mengangguk cepat. "Iya, kami menyerah! Hahaha...."
Ray langsung menghentikan aksinya sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Yeaaa, aku menang!" sorak Ray
"Kamu benar-benar Ray," pekik Zuy yang terengah-engah akibat ulah Ray.
Lalu ia pun membuka ransel milik Zuy untuk mengambil air minum. Setelah itu Ray membuka tutup botol minuman tersebut dan memberikannya pada Zuy.
"Ini minum dulu sayangku!"
Zuy mengambil botol minum dari tangan Ray dan meneguknya, sesaat setelahnya ....
"Terimakasih Ray...." ucap Zuy
"Sama-sama, oh iya sayangku, malam ini kita akan menginap di sini!" kata Ray.
"Apa! Menginap?"
Ray mengangguk. "Iya sayangku, bukan malam ini saja, tapi besok juga, ya mumpung weekend."
"Ray.... Kenapa kamu gak bilang sih? Zuy kan gak bawa baju ganti," pekik Zuy.
"Kalau itu kamu tenang saja, semuanya sudah di siapin. Kamu bisa melihatnya di sana!" kata Ray sembari menunjuk arah ruangan yang berada di kamarnya yang tak lain adalah walk in closet.
"Oh, apa aku boleh melihatnya?"
Ray menoel hidung Zuy dan berkata, "Tentu sayangku, yaudah kalau kamu mau lihat dan mencobanya, silahkan sayangku! Siapa tau ada yang kamu suka dan ada yang tidak kamu suka dari pakaian itu."
Zuy mengangguk. "Oke, terus kamu?"
"Aku mau rebahan sebentar sayangku." kata Ray sembari beralih ke atas ranjang.
"Oh, yaudah kamu istirahatlah dulu!" titah Zuy
Kemudian Zuy beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah walk in closet, sedangkan Ray langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur di dekatnya.
Sesampainya, Zuy mengedarkan pandangannya ke arah beberapa lemari di sana, ia merasa takjub dengan semua yang di siapkan oleh Ray.
"Kamu selalu saja memberikan kejutan yang terduga," lirihnya.
Zuy lalu membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian yang akan ia kenakannya nanti. Dan ketika ia tengah memilih pakaiannya, tanpa sengaja Zuy melihat sebuah gaun pernikahan yang terbungkus plastik transparan dan tergantung rapi. Ia pun langsung mengambil gaun tersebut.
"Bukankah ini gaun yang aku gambar waktu itu?" tanya Zuy sembari memandangi gaun yang di tangannya itu secara teliti.
"Iya, ini benar-benar gaun itu. Apa Ray yang menyiapkannya untuk pernikahan kita nanti? Hmmmm.... Tapi aku gak menyangka hasilnya bakal secantik ini, warnanya juga bagus seperti yang aku inginkan. Aah, rasanya aku ingin mencobanya, tapi sayangnya ini gak mungkin muat di tubuhku, yang ada entar malah terganjal di perut buncitku ini," lirih Zuy.
Zuy lalu meletakan kembali gaun tersebut di tempatnya semula, setelah itu ia mengambil salah satu pakaiannya dan kembali melangkah ke arah di mana Ray berada. Sesampainya ....
"Ray, Zuy mau man.... Hmmmm, udah tidur ya. Yaudah deh, kalau begitu aku mau mandi dulu, setelah itu nyiapin makan malam," ucap Zuy karena melihat Ray tengah tertidur lelap.
Kemudian ia melangkah menuju ke kamar mandi.
...----------------...
—Pukul 07.15Pm
Nampak Zuy dan Ray tengah menikmati makan malam yang di buat oleh Zuy. Lalu tiba-tiba...
"Hai tetangga baru, aku datang nih...." seru seseorang sembari berjalan menghampiri.
Ray dan Zuy pun tersentak melihatnya yang tak lain adalah....
"Kak Yiou\=>Mrs Yiou!" ucap bersama.
Yiou lalu ikut duduk bersama Zuy dan Ray sambil mengambil makanan yang sudah di siapkan.
"Tadi perasaan pintu depan terkunci deh," celetuk Ray memicingkan matanya ke arah Yiou.
"Aku lewat pintu rahasia," singkat Yiou.
Ray pun memutar bola matanya dengan malas. "Hmmm, pantesan...."
"Euuum.... Pintu rahasia?" Zuy nampak kebingungan.
"Begini lho Baby, antara Villa kalian dan Villa ku ada sebuah pintu yang terhubung, jadi ya aku bisa masuk ke sini," jawab Yiou.
"Oh Begitu ya," lirih Zuy.
"Ya Baby, nanti setelah makan malam, kamu ikut aku main ke Villa ku ya!" ajak Yiou.
Zuy mengangguk. "Oke Mrs Yiou."
Mereka pun menyantap makanannya kembali.
**********************
Rumah Dimas...
Sementara itu, Dimas tengah berada di ruang utama sembari menatap tab-nya. Lalu Eqitna datang menghampiri Dimas.
"Dim...." panggil Eqitna
Dimas menoleh. "Iya Qi, ada apa?"
"Nih, ada yang menelpon," jawab Eqitna sambil menyerahkan hp milik Dimas.
"Memang siapa yang menelpon?" tanya Dimas sembari mengambil hpnya.
"Tuan Archo," singkat Eqitna.
Dimas memanggut, kemudian ia menjawab telponnya itu.
"Dokter Dimas," sapa Archo dari sebrang telponnya.
"Iya ada apa Tuan Archo?" tanya Dimas.
"Maaf kalau saya mengganggu, tapi saya ingin meminta tolong pada anda, Dokter Dimas," ujar Archo.
"Minta tolong? Memangnya minta tolong apa?"
"Besok kalau tidak ada halangan aku dan Mam akan kesana, otomatis kita sampai lusa. Bisakah anda menjemput kami di Airport?"
Seketika Dimas langsung bangkit dari posisinya karena terkejut mendengar perkataan Archo.
"Hah! Ka-kalian mau kesini?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1