
<<<<<
Sontak membuat Zuy langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bi Nana.
"Bi Nana!"
Lirih Zuy sembari mengusap air matanya, lalu perlahan Bi Nana membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
"Syukurlah, Bi Nana akhirnya sadar." ucap Zuy dengan bahagianya.
Mendengar suara Zuy, seketika Bi Nana melirik kan matanya ke arah Zuy.
"Zuy, apa itu kamu?" tanya Bi Nana dengan nada lirih.
Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya Bi Nana ini aku, Zuy." balasnya.
"Lalu ini di mana? Dan lagi kenapa kepala dan badan Bibi rasanya pada sakit semua ya?"
Saat pandangannya mengarah ke tangan kirinya yang di perban karena patah tulang akibat kecelakaan itu, sontak membuat Bi Nana terkejut.
"Ke-kenapa tangan kiri Bibi di perban seperti ini? Sebenarnya ini di mana? Lalu apa yang terjadi pada Bibi, Zuy?" lontar beberapa pertanyaan Bi Nana.
"Bi Nana tenang ya! Bi Nana sekarang lagi di rumah sakit." jawab Zuy.
"Apa! Rumah sakit?"
"Iya Bi, sebentar ya! Zuy panggilkan Dokter dulu."
Dan saat Zuy hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba Bi Nana memegangi tangan Zuy.
"Bi Nana...."
"Zuy, jelaskan dulu pada Bi Nana! Sebenarnya apa yang terjadi pada Bibi? Kenapa Bibi bisa berada di rumah sakit?" cecar Bi Nana meminta penjelasan pada Zuy.
Sehingga membuat hati Zuy terenyuh, nampak jelas dari matanya yang sudah menampung air mata dan hampir mengalir. Karena tidak ingin di lihat Bi Nana, ia pun membalikkan tubuhnya membelakangi sembari mengusap matanya itu.
"Zuy...."
Sebelum beralih kembali ke arah Bi Nana, Zuy terlebih dahulu mengambil nafas dan membuangnya.
"Iya Bi Nana," sahut Zuy sembari menghadap ke arah Bi Nana dan tersenyum.
"Zuy, kamu belum menjelaskannya pada Bibi tentang apa yang terjadi, sampai Bi Nana berada di rumah sakit?"
"Bi, memangnya Bi Nana tidak ingat tentang apa yang terjadi pada Bibi?"
Bukannya menjelaskannya pada Bi Nana, Zuy justru malah balik bertanya.
Bi Nana menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, atau mungkin Bi Nana lupa."
"Bi, sebenarnya Bi Nana mengalami kecelakaan, makanya Bi Nana di larikan ke rumah sakit," jelas Zuy.
"Kamu bilang apa? Kecelakaan!" Lagi-lagi Bi Nana di buat terkejut oleh Zuy. Lalu....
Aaaaaah
Tiba-tiba Bi Nana memekik keras sambil memegang kepalanya.
"Bi, Bi Nana kenapa?" tanya Zuy panik.
"Kepala Bibi sakit," jawab Bi Nana.
"Apa! Tunggu sebentar Bi! Zuy akan memanggil Dokter," kata Zuy.
Kemudian ia bergegas keluar dari ruang tersebut, meskipun tangan dan kakinya sempat terbentur besi ranjang dan pintu.
Sesaat sebelumnya....
Sementara itu di tempat yang sama, Ray nampak tengah menggendong Baby Z, begitu pula dengan Aries yang masih menggendong Nara. Sedangkan yang lainnya masih tetap berada di posisinya.
"Kakak Aries, kenapa Kakak Zuy belum keluar?" tanya Nara pada Aries.
"Hmmmm, mungkin sebentar lagi Kakak Zuy keluar," jawab Aries. "Memangnya ada apa Nara?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja Nara juga ingin lihat Mamih," kata Nara.
"Oh, jadi Nara ingin lihat Mamih? Yaudah kita tunggu Kakak Zuy keluar, setelah itu kita jenguk Mamih, ya Nara?" lontar Aries.
Nara pun mengangguk. "Iya Kakak."
Lalu terdengar suara benturan dan terbukanya pintu ruang UGD, kemudian di susul keluarnya Zuy, sontak Ray dan Aries langsung menghampiri Zuy.
"Sayangku ada apa?" tanya Ray.
"Zuy, apa yang terjadi?" sambung Aries.
Zuy menoleh ke arah keduanya. "Ray, Kak. di mana Dokter?"
"Mungkin di ruangannya, memangnya ada apa?" tanya Aries.
"Nanti Zuy jawab, tapi sekarang tolong Kakak panggilkan Dokternya!"
"Oh, Kakak akan panggilkan sekarang."
Aries bergegas menuju ke arah ruang Dokter sembari menggendong Nara.
"Sayangku, apa yang terjadi dengan tangan kamu?" tanya Ray yang melihat tangan Zuy membiru akibat benturan.
Karena pertanyaan Ray, Zuy pun langsung melihat ke arah tangannya itu.
"Ini.... Bukan apa-apa. Euuum, maaf ya Ray aku tinggal ke dalam lagi, takutnya Bi Nana kenapa-napa." ucap Zuy
"Iya sayangku," balas Ray.
Sebelum melangkah masuk, Zuy terlebih dahulu mencium pipi gembul Baby Z dan mengelusnya. Setelah itu ia pun kembali masuk k dalam.
"Sepertinya sayangku melupakan sesuatu?" lirih Ray sambil melihat ke arah Baby Z yang tengah menatapnya sambil mengisap jari tangannya.
"Duh cantiknya Daddy jangan isap jari dong! Ayo kita ke Kakak sekalian ambil dot milik kamu," ucap Ray.
Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah di mana Baby R berada.
Sesaat setelah berada di dalam ruang UGD....
"Bi maaf lam.... lho ada Bi? Kenapa Bibi menangis? Apa kepala Bibi masih sakit?"
Bi Nana menoleh. "Zuy, mana Pamanmu? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" cecarnya.
"Paman? Apa Bi Nana sudah ingat tentang apa yang terjadi pada Bibi dan Paman?"
"Iya Bibi udah ingat sekarang tentang apa yang terjadi pada Bibi dan juga Paman kamu. Bahkan sebelum Bibi pingsan, Bibi sempat melihat kondisi Paman kamu, Zuy." jawab Bi Nana.
Seketika Zuy menundukkan kepalanya, melihat itu pun Bi Nana langsung memegang tangan Zuy
__ADS_1
"Zuy, tolong katakan dengan jujur! Di mana Paman mu, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" lontar Bi Nana dengan pertanyaan yang sama seperti tadi.
Zuy menghela nafas panjangnya sambil mengangkat kepalanya kembali.
"Bi Nana tenang aja ya! Paman ada di ruang rawat dan kondisi Paman juga baik-baik aja," jawab Zuy. "Maafin Zuy Bi! Zuy terpaksa membohongi Bibi." sambung ucap hatinya.
"Zuy, apa yang kamu katakan itu benar? Apa kamu tidak sedang membohongi Bibi? Sebab Bi Nana tahu saat kamu sedang berbohong ataupun jujur," cetus Bi Nana.
Mendengar itu, Zuy pun menggigit bibir bawahnya, nampak jelas kini ia tengah kebingungan. Lalu....
"Apa yang di katakan keponakan anda itu benar, Nyonya." seru seseorang menghampiri.
Pandangan mereka berdua seketika mengarah ke suara tersebut yang ternyata adalah Dokter yang menangani Bi Nana.
"Dokter," lirih Zuy.
Dokter lalu tersenyum pada Zuy sambil memegang pundak Zuy. Sesaat Dokter berdiri di samping ranjang Bi Nana.
"Dokter, Bi Nana. Zuy keluarya! Takutnya si kembar nangis." pamit Zuy.
"Apa Nara dan Rana ada di sini juga?" tanya Bi Nana.
Zuy mengangguk. "Iya Bi, tapi mereka anteng kok. Yaudah Zuy keluar ya!"
Zuy pun melenggang pergi ke arah keluar dari ruang UGD tersebut.
Sesaat setelah Zuy keluar, Dokter pun memeriksa Bi Nana.
"Dok, apa saya boleh melihat suami saya?"
"Maaf Nyonya, untuk sekarang Nyonya belum bisa menemuinya."
"Kenapa?"
"Kan keadaan Nyonya masih seperti ini, dan lagi saya Takut kalau Pasien akan shock bila melihat Nyonya seperti ini, jadi nanti saja ya!"
Dokter pun terpaksa berbohong pada Bi Nana.
"Begitu ya Dok. Lalu bagaimana dengan anak-anak saya? Apa saya bisa menemui mereka?"
"Bisa tapi tidak untuk sekarang ini, Nyonya. Tunggu sampai Nyonya di pindahkan ke ruang rawat ya!" tutur Dokter
Bi Nana membuang nafasnya dan mengangguk. "Fyuuu.... Baiklah Dok."
Dokter pun tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya memeriksa Bi Nana.
...----------------...
Menjelang malam hari....
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya tempat di mana saat Mira dan supirnya di tinggalkan oleh Maria dan dua pria yang membawa Maria.
"Heeung.... Jam berapa sekarang?" lirih Mira perlahan membuka matanya.
Nampaknya efek obat bius yang di berikan oleh Fan sudah habis, sehingga Mira tersadar dari pingsannya.
Setelah matanya terbuka, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan betapa terkejutnya Mira saat mengetahui bahwa dirinya masih berada di dalam mobil.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi aku ada di kamar ku dan sedang istirahat siang," pekik Mira.
Lalu....
"Berisik banget sih? Gak tau orang lagi istirahat apa!" pekik Bang Dadan (supir) sembari membangunkan tubuhnya.
"Lho Mira! Kenapa kamu ada di sini? Dan lagi kenapa aku masih berada di mobil?" Pak Dadan juga ikut terkejut saat melihat Mira.
"Lha Justru Mira yang bertanya sama Bang Dadan, tapi kenapa Bang Dadan malah balik tanya lagi sih?" pekik Mira.
"Kalau Mira tanya sama Abang, terus Abang tanya sama siapa? Orang Abang juga bingung kenapa bisa ada di sini bareng lagi sama kamu," cetus Bang Dadan.
"Sudah dari pada ribut mending kita pulang aja! Takutnya mereka semua nyariin kita," kata Mira.
"Oh iya kamu benar juga Mir. Tapi bentar lagi ya! Soalnya kepala Abang masih sakit."
"Ya pelan-pelan aja bawa mobilnya! Yang penting kita sampai di rumah." pekik Mira.
Bang Dadan menghela nafasnya. "Iya baiklah, dasar cerewet."
Bang Dadan pun menyalakan mobilnya dan sesaat kemudian ia langsung melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Dimas.
Sepertinya mereka melupakan kejadian yang mereka alami tadi siang saat bersama Maria.
*******************************
Rumah Dimas
Di rumah Dimas, Bunda Artiana, Dimas dan Eqitna nampak gelisah, karena mereka sedari tadi menunggu Maria dan lainnya yang sampai saat ini masih belum kembali juga.
"Dimas bagaimana? Apa hpnya Mira sudah aktif?" tanya Bunda Artiana.
"Hpnya masih belum aktif, Bun." jawab Dimas yang sedari tadi terus menghubungi Mira dan Bang Dadan.
"Di mana sebenarnya kalian ini? Kenapa udah jam segini masih belum pulang juga." lirih Bunda Artiana yang cemas.
Eqitna yang duduk di samping Bunda Artiana pun langsung merangkulnya.
"Bunda tenang ya! Mungkin aja Kak Maria masih ingin jalan-jalan, dan mungkin sebentar lagi mereka pulang," kata Eqitna sembari menenangkannya.
"Tapi perasaan Bunda benar-benar tidak enak, sepertinya terjadi sesuatu pada mereka, terutama Maria," cemas Bunda Artiana.
"Tapi Bun...."
Eqitna tiba-tiba terdiam karena ia melihat Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memberitahu Eqitna untuk tidak banyak bicara, seketika Eqitna langsung mengangguk patuh. Lalu ia kembali mengelus punggung Bunda Artiana.
Beberapa saat kemudian....
Nampak mobil yang di kendarai oleh Bang Dadan sampai di rumah Dimas, dan setelah di bukanya pintu pagar, Bang Dadan pun melajukan kembali mobilnya memasuki halaman rumah.
Saat mendengar suara mobilnya, sontak Bunda Artiana, Dimas dan Eqitna berhambur keluar dan berdiri di teras rumahnya.
Seusai turun dari mobil, Mira dan Bang Dadan menghampiri Bunda Artiana sambil menundukkan kepalanya.
"Nyonya besar, Nyonya muda dan Tuan. Maafkan kami yang terlambat pulang," ucap Mira.
"Iya tidak apa-apa, yang penting kalian pulang dengan selamat," balas Bunda Artiana. "Lalu dimana Maria? Kenapa kalian tidak membantunya turun?" sambung tanyanya.
Mendengar pertanyaan Bunda Artiana, membuat Mira dan Bang Dadan terkejut mengangkat kepalanya, kemudian mereka berdua saling memandang satu sama lain.
"Dadan, Mira. Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan Bunda?" pekik Dimas.
"Maaf Tuan, bukannya Mrs Maria sedang di rumah ya bersama Nyonya besar?" lontar Mira.
"Mira apa yang kamu katakan? Bukannya tadi Maria meminta kalian untuk menemaninya ke Minimarket? Kenapa sekarang kamu bicara seperti itu?" cetus Bunda Artiana.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, tapi memang benar sedang bersama Nyonya dan tidak bersama kami." jelas Mira.
Dimas pun mengerenyit. "Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua." lirih Dimas yang curiga. "Bunda, lebih baik kita ngobrol di dalam aja ya! Dan kalian berdua harus menjelaskan tentang apa yang terjadi pada kalian dan Kak Maria."
Bang Dadan dan Mira pun mengangguk patuh, kemudian di langkah kan kaki mereka menuju ke dalam rumah.
Setibanya di dalam, mereka semua duduk di tempatnya masing-masing. Lalu....
"Coba kalian jelaskan pada kami tentang apa yang terjadi pada kalian! Kenapa kalian bisa pulang terlambat dan sampai melupakan Kak Maria?" cecar Dimas berpangku tangan.
"Maaf Tuan Dimas, sebenarnya kami juga tidak tahu tentang apa yang terjadi pada kami, pas bangun tau-tau kami berada di dalam mobil dan di tempat yang sepi. Kami tidak ingat tentang Mrs Maria atau apa, yang kami ingat itu kalau kami sedang istirahat di rumah." jelas Mira.
Sontak membuat Dimas dan lainnya tersentak kaget karena penjelasan dari Mira.
"Apa! Jadi kalian berdua pingsan?" tanya Dimas.
"Sepertinya begitu Tuan, tapi kami benar-benar tidak tahu tentang apa yang terjadi Tuan. Tolong percaya pada kami," ucap Bang Dadan menunduk.
Kemudian Dimas bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah nakas, lalu ia membuka laci nakas tersebut dan mengambil sebuah sebuah sentel miliknya. Setelah itu, Dimas mendekat ke Mira dan Bang Dadan.
"Dan, coba kalian buka mulutnya!" titah Dimas.
Dadan pun menuruti perintah Dimas dan membuka mulutnya. Lalu Dimas menyalakan senternya dan mengarahkannya ke arah mulut Dadan kemudian beralih ke matanya, sama halnya dengan Mira.
"Benarkan dugaan ku, mereka telah di bius dengan menggunakan obat yang membuat korbannya lupa dalam jangka waktu lama," batin Dimas.
Setelah selesai memeriksa keduanya, Dimas pun mengambil kunci mobilnya yang menggantung.
"Dimas, kamu mau kemana?" tanya Bunda Artiana.
"Dimas mau ke minimarket, mau ngecek cctv di sana, siapa tau ada petunjuk. Sekalian mau mampir ke apotek juga. Oh iya Qi, tolong kamu ambilkan minum untuk mereka berdua ya!" kata Dimas sekaligus meminta tolong pada Eqitna.
"Baiklah Dim. Kamu hati-hati di jalan!" ucap Eqitna.
Dimas pun tersenyum dan mengangguk, kemudian ia pergi meninggalkan Bunda Artiana dan lainnya.
******************************
Villa Z&R
Beberapa saat setelah Zuy keluar dari ruang UGD, Aries pun meminta Zuy dan lainnya untuk pulang. Sedangkan Aries tetap berjaga di sana bersama Ray. Lalu Zuy dan lainnya memutuskan untuk pulang ke Villanya, karena lebih dekat jaraknya di bandingkan dengan rumah Ray.
—Pukul 09.15Pm
Setelah menidurkan si kembar dan Rana, Zuy melangkah keluar dari kamar mereka dan menghampiri yang lainnya yang sedang berkumpul di ruang keluarga sambil nonton tv.
"Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Yiou.
"Sudah Kak." jawab Zuy sambil duduk di sebelah Airin.
Nara yang sedang di pangkuan Bu Irma langsung beranjak dan beralih ke Zuy.
"Kakak, Nara ngantuk." ucap Nara.
"Oh, yaudah sini Kakak puk-puk Nara ya! Biar Nara cepat Bobo."
Nara mengangguk cepat dan langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi kepala di atas paha Zuy, setelah itu Zuy mengelus rambut Nara sampai Nara tertidur.
"Ray dan Kak Aries belum pulang?" tanya Zuy.
"Belum, kalau Aries sepertinya bakalan nginap di sana. Oh iya Davin juga sekarang ada di rumah sakit," jawab Yiou.
"Oh...."
Airin lalu merangkul pundak Zuy. "Kamu yang sabar ya Zuy! Kita berdoa aja semoga Paman dan Bibi cepat sembuh."
Zuy mengangguk. "Iya Rin, aku selalu berdoa untuk kesembuhan mereka berdua. Tapi...."
"Tapi kenapa Zuy?" tanya Airin.
"Aku merasa bersalah karena sudah membohongi Bi Nana tentang keadaan Paman," ujar Zuy.
"Baby, kamu berbohong juga demi kebaikan Tante Nana. Jadi kamu jangan terlalu merasa bersalah ya!" tutur Yiou.
"Benar apa yang Nona Yi katakan, Nak Zuy. Walaupun salah, tapi ya mau bagaimana lagi," sambung Bu Ima.
"Tuh, kamu dengar kan apa yang di katakan Mrs Yiou dan Bu Ima, jadi kamu tenang aja ya! Dan aku sangat yakin Bi Nana pasti mengerti jika beliau tahu yang sebenarnya tentang Paman Randy." timpal kata Airin.
Zuy pun menganggukkan kepalanya. "Iya kalian benar, ya semoga aja Bi Nana mengerti." ucapnya.
Perbincangan mereka pun masih berlanjut.
*****************************
Sementara itu di Villa lainnya....
Yon dan Fan serta pria yang di juluki sebagai bos mereka, sedang berada di sebuah kamar. Dan di atas ranjangnya, nampak Maria yang masih belum sadarkan diri dengan posisi tangan dan kaki terikat.
Lalu....
"Kenapa dia masih belum sadar juga? Memangnya berapa banyak obat bius yang kamu berikan padanya?" sentak pria itu pada Yon dan Fan.
"Tidak banyak bos," jawab Yon.
"Tsk, kalau seperti ini bisa-bisa keluarganya bisa melacak keberadaannya, ini tidak boleh terjadi sebelum aku memerasnya terlebih dahulu," lirih pria tersebut. "Fan....!"
Fan pun mendekat. "Iya bos, ada apa?"
"Kamu ambil air di dalam kamar mandi, lalu siramkan ke arah Maria!" perintahnya pada Fan.
Fan pun menurut dan berjalan menuju ke kamar mandi. Sesaat kemudian ia keluar dengan membawa satu ember air. Setelah itu....
Byuuur....
Fan langsung menyiramkan air yang ia bawa ke arah Maria.
"Banjir-banjir...." seru Fan.
Dan benar saja, setelah di siram Maria akhirnya sadar dari pingsannya, ia nampak kebingungan karena melihat pakaiannya basah.
"Apa yang terjadi? Kenapa pakaian ku basah seperti ini?" lirih Maria.
"Heh! Akhirnya anda sadar juga, Mrs Maria."
Mendengar suara tak asing di telinganya, seketika Maria mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Pria tersebut.
"Hah! Noel?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌