Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Temani Aku Ya!


__ADS_3

<<<<<


"Airin, Brian!" panggilnya pada Brian dan Airin.


Seketika berhasil membuat Airin dan Brian mengalihkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya itu.


"Hmmm!"


"Salsa!" lontar Airin menyebutkan nama seseorang yang memanggilnya itu dan ternyata ia adalah Salsa rekan kerjanya.


(Takutnya lupa, Salsa pernah muncul di beberapa episode sebelumnya sama seperti Brian.)


Sesaat Salsa menyunggingkan senyumannya pada Airin. Lalu....


"Emm, apa kalian di sini hanya berdua saja?" tanya Salsa.


Brian mengangguk. "Iya, kita di sini hanya berdua saja Sa," jawabnya.


"Tapi tadinya aku sendirian aja kok Sa, gak lama Brian datang terus minta duduk di sini, yaudah aku izinin deh." timpal Airin.


"Oh begitu ya Rin," lirih Salsa.


"Iya Sa. Eum, apa kamu mau duduk di sini juga bareng kami?" tawar Airin.


"Memangnya boleh Rin?"


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tentu saja boleh Sa." kata Airin membuat senyum Salsa mengembang.


"Terimakasih Rin," ucap Salsa dan di balas anggukan oleh Airin.


Sebelum duduk, Salsa terlebih dahulu meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja. Setelah itu ia pun langsung mendudukkan dirinya di samping Brian.


"Oh iya, Brian...."


"Iya Sa, kenapa?" sahut Brian seraya menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Nanti sore kamu sibuk tidak?" tanya Salsa.


Mendengar pertanyaan Salsa, Brian pun menghentikan aktivitas makannya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Airin yang tengah asik menyantap makanannya membuat Salsa mengerutkan dahinya.


"Hmm! Kenapa Brian malah ngeliatin Airin seperti itu? Apa jangan-jangan sore ini mereka berdua udah ada janji lagi?" pikir Salsa.


Karena merasa sedang di liatin oleh Brian, Airin pun menolehkan kepalanya sedikit seraya menatap Brian.


"Ada apa Brian? Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" cecar Airin.


Seketika Brian langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak ada yang aneh dengan wajah kamu, Rin." ujar Brian.


"Oh, aku kira ada yang aneh dengan wajahku, makanya kamu ngeliatin aku." gumam Airin, ia pun kembali menyantap makanannya.


Lalu....


"Bagaimana Brian, apa nanti sore kamu ada waktu?" Salsa kembali bertanya pada pria yang duduk di sampingnya itu.


Sejenak Brian menghela nafasnya dan beralih ke Salsa.


"Memangnya ada apa sih Sa, kenapa menanyakan tentang sore ini aku punya waktu atau tidak?" tanya Brian penasaran.


"Sebenarnya aku ingin meminta kamu menemani ku ke suatu tempat. Soalnya hari ini adalah hari ulang tahun adikku sedangkan besok ulang tahun Ibuku. Jadi aku ingin membelikan hadiah untuk mereka berdua, Brian." jelas Salsa.


"Oh, hari ini adikmu ulang tahun ya Sa?"


Salsa mengangguk. "Iya Brian dan dia terus saja meminta hadiah padaku. Emm, lalu bagaimana, apa sore ini kamu ada waktu untuk menemaniku, Brian?"


Lagi-lagi Brian melihat ke arah Airin meskipun hanya sekejap lalu kembali lagi ke Salsa.


"Kalau itu kita lihat nanti aja ya! Soalnya aku ada janji lagi dengan orang lain, Sa." ujar Brian.


Seketika membuat Salsa menunjukkan ekspresi wajah yang biasa ia tunjukkan pada Brian saat Brian menolak untuk menemaninya, yaitu memasang wajah sedihnya itu.


"Apa kamu tidak bisa membatalkan janji kamu pada orang lain?"


"Maaf Sa!"


"Ehem, maaf kalau aku mengganggu kalian yang sedang mengobrol!" Airin yang tadinya diam pun akhirnya ikut berbicara.


Sehingga Brian dan Salsa memalingkan wajahnya ke Airin.


"Tidak menggangu kok Rin," kata Brian di susul senyumnya.


"Brian, sore ini kamu ingin mengajakku jalan-jalan ke taman hiburan kan?"


"I-iya Rin. Aku memang ingin mengajak mu jalan-jalan," balas Brian. "Lalu apa kamu bersedia menerima ajakan ku?" sambung tanyanya.


Nyuuut!


Hati Salsa terasa nyeri saat mendengar bahwa Brian mengajak Airin jalan-jalan.


"Jadi dugaan ku benar kalau sore ini mereka memang ada janji," batin Salsa sembari meremas satu tangannya.


Lalu kemudian terdengar suara helaan nafas dari mulut Airin.


"Maaf Brian! Tapi aku menolak ajakan mu itu!" ucap Airin dengan tegas.


"Apa! kamu menolak ajakan ku?" Brian tersentak. "Tapi kenapa Rin?"


"Ya karena sore ini juga sudah ada janji dengan orang lain dan mana mungkin aku membatalkannya." papar Airin.


"Oh jadi begitu ya Rin."


"Iya, sekali lagi maaf ya Brian!" ucap Airin.


"Ya tidak apa-apa Rin," balas Brian, namun terlihat jelas kalau ia sangat kecewa dengan penolakan dari Airin.


Sedangkan Salsa langsung tersenyum bahagia saat mendengar Airin menolak menolak ajakan Brian.


"Syukurlah si wanita bar-bar ini menolak Brian," batin Salsa.


Lalu kemudian Airin bangkit dari posisinya.


"Aku duluan ya Brian, Salsa."


"Lho kok duluan sih Rin?" tanya Brian.


"Ya karena makanan ku udah habis, pengin nambah tapi sayangnya perut ku udah gak bisa nampung makanan lagi," ujar Airin menepuk-nepuk perutnya.


"Hmmm, yaudah kalau begitu Rin."


Airin tersenyum, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Brian dan Salsa. Sedangkan mereka berdua kembali menyantap makanannya.


Setelah keluar dari Kantin, Airin pun langsung menuju ke Pantry.


"Si Brian ngapain tiba-tiba ngajak aku sih? Haaa, tapi untungnya aku punya alasan lain jadi aku bisa langsung menolak ajakannya. Kalau tidak, bisa-bisa si gadis manja itu salah paham lagi padaku," gumam Airin.


Lalu....


"Kak Airin...." seru seseorang.


Seketika Airin langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah orang yang memanggilnya.


"Aydan!"


"Huft, untung ketemu Kakak di sini," lirih Aydan.


"Memangnya ada apa Aydan?" tanya Airin.


"Tadi Pak Davin titip pesan, Kakak di suruh ke ruangannya Pak Davin," jawab Aydan.


Airin mengerenyit. "Di suruh ke ruangannya Pak Davin?"


"Iya Kak. Oh iya Pak Davin juga bilang kalau nanti Kakak ke ruangannya sekalian bawa kopi untuk Pak Davin."


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah...."

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu aku mau ke kantin dulu ya Kak." pamit Aydan.


"Iya, terimakasih ya Aydan." ucap Airin.


"Iya Kak."


Aydan pun berjalan menuju ke arah Kantin, sedangkan Airin kembali ke arah Pantry.


Sesaat kemudian....


Airin kini sudah berada di depan ruangan Davin sembari membawa kopi pesanannya Davin, lalu ia pun mengetuk pintunya.


Tok.... Tok.... Tok....


"Masuk!" suara Davin dari dalam ruangan.


Mendengar itu, ia langsung mendorong pintu tersebut hingga terbuka, kemudian ia melangkah masuk ke dalam.


"Permisi Pak...." ucap Airin.


Davin yang kala itu sedang duduk di kursinya pun langsung menoleh.


"Airin!"


Airin menyunggingkan senyumnya, lalu ia meletakan kopi yang ia bawa di atas meja kerjanya Davin.


"Kopi pesanan anda, Pak." kata Airin.


"Terimakasih Rin-Rin " ucap Davin di susul senyumnya.


"Sama-sama Pak. Eum, maaf Pak! Sebenarnya ada apa ya Pak Davin menyuruh ku datang kesini? Apa hanya untuk mengantar kopi saja?" lontar Airin.


Davin menggeleng. "Tidak singa betina. Aku memang sengaja meminta mu datang kesini."


"Memangnya ada Pak?" tanya Airin.


"Begini Rin, sepulang kerja nanti kamu temani aku ya!"


"Hmmm! Memangnya mau kemana Pak?"


"Nanti juga kamu tau Rin. Mau ya nemenin aku, nanti aku belikan kamu kebab deh."


"Serius mau di beliin kebab?"


Davin mengangguk. "Iya serius Rin."


Untuk sesaat Airin menarik nafas dan membuangnya, lalu ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, tapi seperti biasa ya Pak. Aku tunggu di Halte," kata Airin.


Seketika membuat Davin mengangkat satu Alisnya.


"Kenapa harus di halte terus sih Rin? Bukan di sini aja sekalian, jadi gak usah nunggu jauh-jauh." cetus Davin.


"Penginnya sih Pak, tapi aku gak mau nantinya para karyawan sini pada bergosip aneh-aneh lagi," papar Airin.


"Kamu ini Rin, ngapain sih pakai dengerin omongan orang lain, biarkan saja mereka berkicau nanti juga bakalan cape sendiri."


"Ya siapa juga yang dengerin Pak, tapi ya ..., ah pokoknya nanti aku akan tunggu anda di halte seperti biasa!" kata Airin.


Davin mendesah. "Baiklah kalau mau begitu Rin, aku akan jemput kamu di halte."


Senyum Airin langsung mengembang.


"Terimakasih Pak."


"Iya, Yaudah kamu balik ke tempat asal mu!" titah Davin.


"Kembali ke tempat asal? Memangnya aku jurig apa Pak?" pekik Airin.


"Kamu bukan jurig tapi singa betina Rin."


Seketika membuat Airin mendengus kesal.


"Hummph! Dasar Pak Davin ini." Airin menggerutu seraya mengerucutkan bibirnya membuat Davin terkekeh geli.


Lalu sesaat Airin melangkahkan kakinya menuju keluar. Akan tetapi saat berada di ambang pintu, Airin menghentikan langkahnya dan kembali melihat ke arah Davin.


"Oh iya satu lagi aku lupa bilang ke anda, Pak." lontar Airin.


"Hmmm, memangnya lupa bilang apa Rin?" tanya Davin penasaran.


"Pak Davin jangan lupa pakai masker sama topi ya! Soalnya aku gak mau para women menyerang gara-gara aku ketahuan jalan dengan Oppa-Oppa saranghae alias Kakek-kakek bersarang." ujar Airin sekaligus mencandainya.


"Airin, Barusan kamu menyebut ku apa?"


"Oppa-Oppa saranghae alias Kakek-kakek bersarang, Pak."


Sontak membuat Davin mengerutkan keningnya seraya mendengus, ia pun bangkit dari posisinya.


"Singa betina, sepertinya kamu sedang merindukan rambut mu yang berantakan seperti singa ya? Kalau begitu biar aku yang membantu mu mengacak-acak rambut mu itu ya!" lontar Davin sambil perlahan melangkah ke arah Airin.


"Waduh Oppa-Oppa saranghae udah marah nih, kabur ah..., Bye Pak Davin!"


Airin pun bergegas keluar dari ruangan Davin seraya menutup pintunya.


"Ck, benar-benar deh si singa betina ini! Tapi apa benar wajahku seperti Kakek-kakek. Hmmm, kalau begitu aku harus lebih banyakin masker lagi supaya aku gak keliatan seperti Kakek-kakek bersarang." gumam Davin.


Kemudian ia kembali duduk di kursinya itu.


...----------------...


Sore hari.....


Tak terasa sore hari pun tiba, nampak dari matahari yang sudah bergeser ke arah barat yang sebentar lagi akan menempati singgasananya dan berganti shift dengan sang rembulan.


Sesuai dengan perkataannya, setelah selesai dengan aktivitasnya sebagai OB. Airin kini sudah berada di halte tak jauh dari Perusahaan dan tengah menunggu Davin datang menjemputnya. Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Davin pun datang dan berhenti di depan Airin.


"Singa betina, ayo masuk!" seru Davin dari dalam mobilnya.


"Iya Pak." balas Airin mengangguk.


Airin lalu membuka pintu mobilnya dan bergegas masuk ke dalam.


"Sudah siap Rin? Jangan lupa pakai seatbelt-nya!"


"Sudah Pak Davin," Airin melingkarkan sabuk pengaman ke tubuhnya.


Setelah itu Davin melajukan mobilnya menuju ke tempat yang di tujunya itu.


Hanya memakan waktu lima belas menit perjalanan, mereka pun sampai di tempat tujuan.


"Nah kita udah sampai Rin." kata Davin.


Seketika mata Airin terbelalak karena tercengang melihat tempat yang di maksud Davin yang ternyata adalah....


"Taman hiburan!" Airin menoleh ke Davin. "Ja-jadi tempat yang di maksud anda itu taman hiburan Pak?" cecar Airin.


"Iya Rin. Soalnya tadi siang Tuan Ray bilang kalau Zuy pengin makan ayam bakar yang biasa ia makan di tempat hiburan ini Rin, jadi Tuan Ray meminta ku untuk membelinya." jawab Davin.


"Apa! Jadi Zuy pengin ayam bakar yang ada di taman hiburan ini Pak?" Airin terkejut mendengarnya.


"Iya Rin, makanya aku mengajakmu karena kamu pasti tau tempatnya kan. " jelas Davin.


"Tentu saja aku tahu Pak. Soalnya aku sering makan di sana bareng Zuy, bahkan Tuan bos juga pernah."


"Baguslah kalau kamu tahu Rin, sekalian aja kita cari hiburan di sini!" kata Davin seraya memakai topi dan masker kainnya.


Airin manggut-manggut.


"Hmmm, benar juga apa kata anda Pak."


"Yaudah ayo kita turun!"


"Oke."


Lalu Airin dan Davin turun dari mobilnya, setelah itu mereka berdua melangkah menuju ke arah pintu masuk taman hiburan. Sebelum masuk Davin terlebih dahulu membeli tiketnya sedangkan Airin menunggu Davin di depan pintu masuk.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Tadi Brian mengajakku ke tempat hiburan, sekarang aku benar-benar pergi ke tempat ini meskipun dengan Pak Davin. Haaa, semoga aja tuh si Brian gak ada di sini." gumam Airin.

__ADS_1


Sesaat Davin pun datang menghampiri Airin.


"Ayo masuk Rin!" ajak Davin.


"Siap Pak."


Kemudian mereka berdua pun melangkah masuk ke dalam taman hiburan tersebut. Ketika sudah berada di dalam, Davin dan Airin langsung menaiki satu-persatu wahana yang ada di sana. Suara teriakan mereka berdua terdengar apalagi saat mereka menaiki wahana berbentuk perahu atau di sebut dengan Kora-kora.


Beberapa saat kemudian....


Setelah puas bermain, kini mereka berdua pun istirahat sejenak dan duduk di tempat yang terbuat dari beton seraya menikmati jajanan yang mereka beli.


"Bagaimana Pak, apa kepala Pak Davin masih puyeng?" tanya Airin.


Karena setelah menaiki Kora-kora, Davin merasakan sakit di kepalanya bahkan hampir muntah.


"Udah mendingan Rin, gak kaya tadi sampai pengin muntah," jawab Davin membuat Airin terkekeh.


"Lagian Pak Davin, udah tau bakal mabuk kalau naik itu, tapi masih aja maksain buat naik." celetuk Airin.


"Habisnya wahana itu selalu bikin penasaran, walaupun bikin aku mabuk tapi seru Rin. Apalagi pas denger teriakan dari orang-orang yang menaikinya." papar Davin.


"Ya anda benar Pak. Oh iya, terimakasih ya Pak sudah mengajakku ke sini. Rasa capek ku langsung hilang seketika." ucap Airin.


Davin tersenyum lalu ia mendaratkan tangannya di atas kepala Airin.


"Sama-sama singa betina."


Lalu tiba-tiba tiga orang wanita datang menghampiri mereka.


"Tuh kan benar apa kataku kalau di sini tuh ada Oppa." ucap salah satu wanita.


Mendengar itu Davin dan Airin langsung menoleh ke arah mereka.


"Iya benar apa katamu girls, liat wajahnya glowing mirip sama bias kita." ujarnya.


Lalu sesaat....


"A-annyeong Oppa!" sapa wanita itu pada Davin seraya melambaikan tangannya.


Seketika membuat Davin mengernyit heran, kemudian ia melihat ke arah Airin seraya mendekatkan wajahnya.


"Hei singa betina, barusan dia ngomong apa ya? Kenapa ada kata anyong Oppa segala Rin? Apa jangan-jangan bibirku sedikit monyong ya gara-gara kelamaan tertutup masker?" bisik Davin.


(Masker kain ya bukan masker wajah 🤭)


Pffft....


"Hahaha...." Airin pun langsung menyemburkan tawanya mendengar bisikan Davin.


"Kenapa kamu malah ketawa gitu Rin?"


"Maaf Pak Davin, maksud mereka itu Annyeong yang artinya mereka sedang menyapa anda Pak," jelas Airin.


"Oh ternyata mereka sedang menyapaku ya Rin, baiklah aku akan membalasnya."


Davin lalu kembali melihat ke arah tiga wanita yang tengah berdiri di sampingnya itu.


"Halo juga wanita cantik." Davin membalas sapaan wanita tersebut seraya melambaikan tangannya dan tersenyum.


Sehingga membuat tiga wanita itu histeris melihatnya.


"Aah, betapa manisnya senyuman Oppa ini, aku jadi pengen bikin foto dan minta tanda tangannya deh."


"Iya bener banget, terus kita pamer ke teman-teman kita kalau kita bertemu dengan Oppa sungguhan."


Selagi ketiga perempuan itu berpaling, Davin langsung menggenggam tangan Airin.


"Pak Davin...."


"Sshtt! Ayo kita pergi dari sini! Sebelum mereka melihat ke arah kita lagi." ajak Davin dan Airin hanya membalas dengan anggukan kepala saja.


Kemudian Airin dan Davin perlahan melangkah pergi dari tempat tersebut.


"Lho! Kemana perginya Oppa itu? Apa jangan-jangan di bawa kabur oleh wanita di sebelahnya?"


"Sepertinya sih, ah ini gara-gara kamu sih kelamaan ngambil hp di tas, jadi dia pergi deh."


"Lha kok jadi nyalahin aku sih?"


"Sudah-sudah jangan bertengkar! Lebih baik kita cari mereka, siapa tau masih ada di sekitaran sini."


"Iya kamu benar girls, ayo kita cari sekarang!"


Wanita bertiga itu pun langsung pergi mencari Davin dan Airin.


*****************************


Villa....


—Pukul 08.50pm


Davin dan Airin akhirnya sampai di Villa. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Davin membuka sealtbeat-nya lalu ia mendekat ke arah Airin yang tengah tertidur akibat kelelahan.


"Rin, Airin.... Bangun yuk! Kita udah sampai di Villa nih." Davin mengguncang pelan tubuh Airin.


Akan tetapi bukannya bangun, Airin malah mendengkur keras membuat Davin menghela nafasnya, kemudian ia pun turun dari mobilnya. Lalu salah seorang pengawal datang menghampiri Davin.


"Tolong kamu ambil beberapa bungkusan yang ada di bagasi, setelah itu kamu bawa ke Villa ya! Soalnya aku mau membawa yang paling besar." titah Davin.


Pengawal langsung mengangguk patuh, kemudian ia membuka bagasi mobil dan mengambil apa yang ada di dalamnya. Sedangkan Davin, ia membuka pintu mobil di samping Airin. Ia pun menarik pelan tubuh Airin dan menggendongnya ala bridal style.


Davin dan Pengawalnya pun langsung bergegas menuju ke Villanya.


Sementara itu di balkon kamar....


Zuy terlihat tengah berdiri di sana seraya melihat langit malam dengan taburan bintang-bintang.


"Kemaren Nenek bilang kalau Mrs Maria pulang ke Amerika karena ingin bertemu dengan Kimberly. Pasti sekarang ini mereka sedang berkumpul dan becanda bersama. Hmmm, kapan ya Mrs Maria akan menyayangi ku seperti Kimberly dan aku merasa sedikit iri pada Kimberly," lirih Zuy.


Zuy sampai saat ini belum mengetahui keadaan Maria yang sebenarnya, saat kemaren ia bertanya pada Bunda Artiana dan Dimas. Mereka mengatakannya pada Zuy bahwa Maria pulang ke Amerika untuk menjenguk Kimberly.


Dan ketika pandangannya mengarah ke bawah, Zuy pun melihat Davin sedang menggendong Airin.


"Hmmm, apa yang terjadi pada Airin? Kenapa ia di gendong seperti itu?" ucap Zuy yang khawatir, sehingga ia buru-buru masuk ke kamarnya, namun sayangnya ia malah menabrak tubuh Ray.


"Sayangku ada apa? Kenapa kamu nampak buru-buru seperti itu?" tanya Ray.


"Itu Ray, barusan aku liat Pan Davin menggendong Airin. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu pada Airin." ujar Zuy.


"Yaudah kalau kita lihat sama-sama ya sayangku!"


Zuy menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua melangkah keluar dari kamarnya.


Di sisi lainnya....


Saat berada di depan kamar Airin, Davin mendorong pintu kamar Airin menggunakan tubuhnya hingga terbuka. Setelah itu ia melangkah ke arah tempat tidur, kemudian dengan perlahan ia menempatkan tubuh Airin di atas tempat tidurnya.


"Bener-bener berat banget nih anak," gumam Davin menggerak-gerakkan tangannya karena pegal.


Sesaat Davin melepaskan sepatu yang di kenakan oleh Airin. Setelah itu ia pun menarik selimut seraya menutupi badan Airin.


"Terimakasih ya singa betina karena sudah menemani ku! Tidur yang nyenyak dan mimpi indah ya!" ucap Davin mengelus rambut Airin.


Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah kepala Airin dan saat bibirnya hendak menyentuh kepala Airin, tiba-tiba....


Brugh!


Mendengar suara seperti benda jatuh. Sontak membuat Davin tersentak kaget, sehingga ia mengurungkan niatnya itu dan berbalik menoleh ke arah pintu kamar.


"Kalian!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2