
<<<<<
Ketika pandangannya mengarah ke kaca besar yang berada di depannya, tiba-tiba.....
Aaaaaah....
Teriak Kimberly karena terkejut melihat wajahnya yang memerah seperti terbakar, bahkan di bagian leher nampak bintik-bintik merah besar seperti cacar.
"Ke-kenapa wajahku bisa jadi seperti ini?" lirih Kimberly sembari memegang wajahnya.
Kimberly pun buru-buru keluar dari kamar mandi dan melangkah ke tempat tidurnya kembali. Kemudian Kimberly menyambar hpnya yang berada di atas nakas dan ia pun langsung menghubungi YanYan.
Tuut....
"Iya Miss Kimberly...." suara YanYan dari sebrang telponnya.
"Yan, cepat kamu jemput Dokter Margaretha dan bawa langsung ke Apartemen ku, Sekarang!" perintah Kimberly.
"Dokter Margaretha? Miss Kimberly, apa anda sedang sakit?" tanya YanYan
"Sudah jangan banyak tanya! Kamu tinggal turuti perintahku saja!" sentak Kimberly.
"Maaf Miss Kimberly. Baiklah saya akan berangkat sekarang," ujar YanYan.
Kimberly memutus telponnya. Setelah itu, ia langsung duduk di tepi ranjang miliknya.
Aaaahh....
"Sial-sial, kenapa wajah ku bisa sampai begini sih? Padahal hari ini jadwal pemotretan ku bersama Ruby. Kalau aku sampai gak hadir, bisa-bisa Clara mengambil kesempatan ini dan menggantikan ku, pokoknya ini tidak boleh terjadi." umpat Kimberly sambil mengacak rambutnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, YanYan pun datang bersama Dokter Margaretha, lalu YanYan langsung menekan tombol kode sandi yang berada di pintu.
Ya karena Kimberly yang memberikan nomor kode sandi-nya pada YanYan, sehingga YanYan bisa keluar masuk ke Apartemen Kimberly.
Setelah pintu terbuka, YanYan dan Dokter Margaretha melangkahkan kakinya menuju ke kamar Kimberly. Setibanya di depan kamar Kimberly, YanYan langsung mengetuk pintunya.
Tok.... Tok.... Tok...
"Miss Kimberly, saya datang bersama Dokter Margaretha," ucap YanYan
"Masuk aja Yan! Pintunya tidak di kunci," seru Kimberly dari dalam kamarnya.
YanYan pun membuka pintunya dan berjalan masuk.
"Mrs Kimberly...."
Mendengar suara YanYan, Kimberly yang kala itu tengah duduk di tempat tidurnya pun langsung menolehkan kepalanya ke arah YanYan.
"YanYan...." lirih Kimberly.
Dan betapa terkejutnya YanYan dan Dokter Margaretha saat melihat wajah Kimberly, mereka pun bergegas menghampiri Kimberly.
"Miss Kimberly, apa yang terjadi? Kenapa wajah anda bisa seperti ini?" tanya YanYan dengan paniknya.
"Aku juga tidak tahu Yan, pas bangun tidur wajah ku sudah seperti ini," ujar Kimberly.
"Sini biar saya periksa!" kata Dokter Margaretha sembari mendudukkan dirinya di samping Kimberly.
Kimberly menganggukkan kepalanya, Lalu Dokter Margaretha mulai memeriksa Kimberly, sesaat kemudian ....
"Bagaimana Dok?"
"Apa kamu mengganti kosmetik mu?" tanya Dokter Margaretha.
Kimberly menggelengkan kepalanya. "Tidak Dok, saya masih memakai kosmetik yang biasa saya gunakan."
"Bisakah saya melihatnya?"
"Bisa Dok. Yan tolong ambilkan semua kosmetik milikku!" titah Kimberly pada YanYan.
YanYan mengangguk patuh, ia pun mengambil kosmetik milik Kimberly dan memberikannya pada Dokter Margaretha. Setelah itu Dokter Margaretha langsung memeriksa kosmetik milik Kimberly itu.
Lalu tiba-tiba Dokter Margaretha mengerutkan dahinya dan seketika pandangannya beralih ke Kimberly.
"Apa benar ini kosmetik yang biasa kamu pakai?" tanya Dokter Margaretha.
"Iya Dok, itu kosmetik yang biasa saya pakai," jawab Kimberly. "Memangnya ada apa dengan kosmetik saya, Dok?" sambung tanyanya.
"Sepertinya ada yang janggal dengan kosmetik ini," ujar Dokter Margaretha.
"Maksud anda apa Dok?" Kimberly nampak kebingungan.
"Miss Kimberly, sepertinya ini bukan kosmetik yang sering anda gunakan. Soalnya saya mendeteksi adanya kandungan berbahaya dalam kosmetik yang anda gunakan ini," jelas Dokter Margaretha.
"Jadi...."
Dokter Margaretha mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Begini Miss Kimberly, saya menduga bahwa kosmetik yang anda pakai telah di tukar oleh kosmetik yang berbahaya ini," ujar Dokter Margaretha.
Sontak membuat Kimberly dan YanYan tersentak kaget.
"Apa anda bilang! Kosmetik saya telah di tukar?"
"Iya dugaan saya begitu, tapi saya perlu memastikannya terlebih dahulu. Jadi izinkan saya membawa kosmetik ini untuk saya periksa," kata Dokter Margaretha.
Kimberly mengangguk. "Silahkan Dok."
Dokter Margaretha langsung memasukkan kosmetik milik Kimberly ke dalam tempatnya semula.
"Dok, lalu bagaimana dengan wajah saya?" tanya Kimberly.
"Untuk sementara anda jangan menggunakan kosmetik dulu, setidaknya selama seminggu atau sampai wajah anda sembuh seperti sedia kala," ujar Dokter Margaretha.
"Apa! Seminggu? Kenapa lama Dok?" Kimberly kembali terkejut.
"Ya karena luka di wajah anda sudah seperti ini, jadi butuh waktu lama untuk bisa sembuh," jelas Dokter.
"Tapi hari ini saya ada jadwal pemotretan dan saya harus benar-benar hadir dalam pemotretan tersebut. Apa tidak ada cara lain, seperti menutupinya dengan foundation atau concealer gitu," seloroh Kimberly.
Seketika membuat raut wajah Dokter Margaretha langsung berubah menjadi kesal.
"Anda ini tuli ya? Tadi saya bilang untuk tidak memakai kosmetik setidaknya selama seminggu atau sampai wajah anda sembuh. Apa anda ingin wajah anda lebih rusak dari ini?" sentak Dokter Margaretha.
"Tapi Dok...."
Lalu tiba-tiba Dokter Margaretha bangkit dari posisinya dan mengeluarkan resep obat untuk Kimberly.
"Miss Kimberly, kalau anda ingin luka cepat sembuh. Maka turuti perkataan saya! Dan ini resep obat untuk anda, Mrs Kimberly." cetus Dokter Margaretha sambil memberikan resep obat itu pada Kimberly.
"Iya terimakasih Dokter," ucap Kimberly.
"Yaudah kalau begitu saya permisi dulu, nanti saya kabari hasil pemeriksaan kosmetik anda ini."
"Baik Dok. Yan, kamu antar Dokter Margaretha kembali dan sekalian tebus resep obat ini!" titah Kimberly.
YanYan mengangguk. "Baik Miss Kimberly, ayo Dok saya antar!"
Mereka berdua berjalan keluar meninggalkan Kimberly, sesaat setelah mereka pergi dari Apartemen Kimberly, tiba-tiba....
Praaaang....
Kimberly menjatuhkan semua benda yang berada di atas nakasnya, sehingga berserakan dimana-mana.
"Aaargh.... Sebenarnya siapa sih yang sudah menukar kosmetik milikku itu? Bener-bener sial-sial-sial...." umpat Kimberly mengacak rambutnya kembali.
Sesaat pikirannya Kimberly tertuju pada Maria, seketika ia langsung menitihkan air matanya.
"Coba kalau Mam tidak pergi, pasti Mam akan memelukku. Mam Kim benar-benar membutuhkan Mam, Kim merindukan Mam. Maaaaam......!"
********************
Rumah Dimas
__ADS_1
Sementara itu, Archo dan Maria nampak tengah menikmati makan malam. Meskipun makan malam kali ini terasa ada yang berkurang, sebab tidak ada Bunda Artiana, Eqitna dan Dimas di tengah-tengah mereka, karena mereka masih berada di rumah sakit.
Ketika tengah asik makan, Maria merasakan haus, sehingga ia langsung menyambar gelas air minum yang berada di depannya, dan saat hendak meneguknya, tiba-tiba gelas yang berada di tangannya itu jatuh dan pecah. Sontak membuat Archo terkejut.
"Mam, ada apa?" tanya Archo menghadap Maria.
"Mam gak tahu Archo, tiba-tiba perasaan Mam tidak enak begini dan Mam teringat akan Kimberly," jawab Maria memegangi dadanya.
"Mam merindukan Kimberly?" tanya Archo.
"Jujur Mam sangat merindukan Kimberly. Archo, apa Kimberly sering menghubungi mu?"
Archo menggeleng. "Tidak Mam, dia tidak pernah menghubungi ku, mungkin sedang sibuk dengan karirnya."
"Oh begitu ya," lirih Maria menundukkan kepalanya.
"Mam, udahlah Mam jangan mikirin Kimberly terus! Dia juga tidak peduli dengan Mam, mungkin sekarang ini Kimberly sedang bersenang-senang," cetus Archo.
Maria lalu mengangkat kepalanya kembali dan menatap wajah Archo.
"Archo, Mam mohon. Kamu nanti hubungi Kimberly ya! Soalnya perasaan Mam benar-benar tidak enak, Mam kepikiran Kimberly terus," pinta Maria.
Sesaat Archo menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Mam, setelah selesai makan, Archo akan menghubungi Kimberly," kata Archo. "Ayo kita lanjutkan makannya!" imbuhnya.
Maria dan Archo pun melanjutkan aktivitas makan malamnya.
**********************
Villa Z&R
โPukul 12.47Am
Tak terasa malam semakin larut, terdengar deburan ombak laut yang menyapu pantai, di tambah lagi dengan hembusan angin laut, sehingga membuat suasana malam semakin dingin.
Sementara itu, Zuy nampak terbangun dari tidurnya, bukan karena dinginnya cuaca, akan tetapi ia merasakan lapar yang menyerang. Saat nyawanya sudah terkumpul, Zuy perlahan bangkit dari posisinya menjadi duduk. Dan ketika pandangannya mengarah ke sebelahnya, Zuy tersentak sebab Ray tidak ada di sampingnya.
"Kemana dia? Apa di kamar mandi ya? Hmmm.... Yaudah deh aku langsung ke dapur aja, nanti juga Ray menyusulku ke dapur," ucap Zuy sembari beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah itu, Zuy langsung melangkah keluar dari kamarnya. Saat sudah berada di luar dan hendak menuruni tangga, tanpa sengaja Zuy melihat pintu ruang kerja milik Ray terbuka sedikit. Sehingga membuat Zuy mengurungkan niatnya dan beralih melangkah menuju ke ruang kerja.
Sesampainya di sana, Zuy mendorong pelan pintunya hingga terbuka lebar, ia pun melihat Ray yang tengah sibuk mengecek dan menandatangani dokumen yang di bawanya dari Perusahaan.
"Ray...." panggil Zuy sembari melangkah masuk.
Mendengar suara pujaan hatinya memanggil, Ray pun langsung menoleh.
"Sayangku, kok bangun? Apa karena aku tidak ada di samping mu?" tanya Ray sedikit menggoda.
Zuy tersenyum sambil duduk di kursi yang berada di sebelah Ray.
"Aku bangun karena lapar," jawab Zuy.
"Apa! Sayangku lapar?"
"Iya Ray, makanya aku terbangun. Dan waktu aku hendak ke dapur, aku melihat pintu ruang kerja mu terbuka, jadinya aku langsung kesini deh. Ternyata kamu sedang berada di sini, tadinya aku pikir kamu sedang di kamar mandi," lontar Zuy. "Sejak kapan kamu di sini, Ray?" sambung tanyanya.
"Sejak kamu tertidur sayangku," jawab Ray.
"Berarti dari tadi kamu belum istirahat?"
Ray menggelengkan kepalanya. "Belum sayangku, soalnya masih banyak dokumen yang harus aku tanda tangani, dan lagi besok libur ini, jadi aku bisa tidur sepuasnya."
"Jangan terlalu memforsir diri, Ray! Kamu juga perlu istirahat." tutur Zuy.
Ray memegang pipi Zuy. "Iya sayangku yang cantik."
"Apa kamu mau aku buatkan sesuatu?" tanya Zuy.
"Euuum, boleh deh. Apa aja terserah sayangku," balas Ray.
"Baiklah kalau begitu."
"Ray...."
Ray hanya menyunggingkan senyumannya, kemudian ia menangkup pipi Zuy dan menghujani ciuman di wajah Zuy. Dari mulai kening, mata, kedua pipi dan bibir Zuy. Sesaat setelahnya ....
"Terimakasih sayangku," ucap Ray.
"Iya sama-sama Ray, yaudah aku ke dapur dulu ya!"
Ray menganggukkan kepalanya dan membantu Zuy bangun dari posisinya. Setelah itu, Zuy melangkah keluar dari ruang kerja menuju ke arah dapur.
Saat sudah berada di dapur, Zuy langsung membuka lemari pendingin.
"Hmmmm.... Bikin apa ya?" pikir Zuy sambil melihat isi di dalam lemari pendingin itu.
Sesaat setelah selesai berfikir, Zuy langsung mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia jadikan makanan untuk mengobati rasa laparnya. Ketika Zuy tengah mencuci sayuran, tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy, sontak membuat Zuy menghentikan aktivitasnya dan melirikkan matanya ke orang tersebut yang tak lain adalah ....
"Ray, kenapa kamu ada di sini?" tanya Zuy.
"Tentu saja karena kamu ada di sini, sayangku." jawab Ray, ia pun mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy.
Zuy lalu membalikkan badannya menghadap ke Ray.
"Hmmmm.... Bukannya kamu sedang sibuk?"
"Sudah hampir selesai sayangku, besok aku lanjutin lagi dan sekarang aku ingin membantu sayangku," ujar Ray.
"Oh...."
Zuy membalikkan badannya kembali ke arah wastafel dapur dan melanjutkan aktivitasnya yaitu mencuci sayuran.
"Sayangku, memangnya kamu mau bikin apa?" tanya Ray.
"Panini sandwich, Ray."
"Asik, aku bantu ya sayangku!" tawar Ray.
"Boleh, dengan senang hati." balas Zuy.
Seketika senyum Ray langsung mengembang, karena pujaan hatinya memperbolehkan Ray untuk membantunya. Dan mereka berdua pun langsung memulai aktivitasnya di dapur.
Tak lama kemudian, panini sandwich yang mereka buat sudah jadi, Ray segera membawanya ke meja makan, sedangkan Zuy menyiapkan minumannya. Sesudah itu, ia pun menyusul Ray yang berada di meja makan sembari membawa minumannya. Setibanya, Zuy meletakkan minuman di atas meja dan ia langsung duduk di samping Ray.
Ray lalu memberikan panini sandwich yang sudah di potongnya ke arah Zuy.
"Nih punya kamu, sayangku." kata Ray.
"Terimakasih tampan-ku," ucap Zuy.
Ray membalasnya dengan senyuman tampannya, kemudian mereka mulai menyantap panini sandwich yang mereka buat itu.
"Sayangku...."
"Iya...."
"Besok kita jalan yuk!" ajak Ray.
"Hmmmm.... Boleh juga," balas Zuy.
Ray kembali tersenyum, kemudian mereka kembali menyantap panini sandwichnya hingga habis.
...----------------...
โPukul 06.15Am
Malam yang panjang kini sudah berubah menjadi pagi dengan matahari yang sudah mulai nampak cahayanya.
Sementara itu, Airin sudah berada di dapur dan tengah sibuk dengan peralatan dapurnya.
Lalu....
__ADS_1
"Airin...."
Airin menoleh, seketika Airin langsung menyipitkan matanya, sebab ia merasakan silaunya wajah orang yang tengah berdiri di hadapannya itu, siapa lagi kalau bukan Davino Roveis.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Davin yang kebingungan melihat gelagat Airin.
"Ah, tidak apa-apa Pak, hanya saja aku merasakan silau karena sinar yang terpantul di wajah anda," ledek Airin sambil terkekeh.
"Hummmpt, kurang ajar. Sudah berani kamu ya meledek atasan mu ini," dengus Davin.
Seketika Airin menyemburkan tawanya.
"Hahaha.... Maaf Pak Davin, tapi memang benar lho, wajah Pak Davin sangat menyilaukan bahkan mengalahkan terangnya cahaya lampu," lagi-lagi Airin meledek Davin.
Sehingga membuat Davin sedikit kesal, ia pun segera menghampiri Airin dan mengusap kasar kepalanya Airin.
"Pak Davin! Rambut ku jadi berantakan ini," pekik Airin.
"Habisnya kamu ledekin aku terus, kan kena akibatnya, hahaha.... Rambut mu jadi mirip singa Rin," ujar Davin sambil tertawa.
"Apa!"
Airin segera mengarahkan pandangannya ke arah cermin yang tak jauh darinya dan betapa terkejutnya ia melihat rambutnya yang berantakan mirip singa.
"Pak Davin! Anda benar-benar ya!" pekik Airin sambil mengambil sendok sayur di sebelahnya.
"Waduh singa betina mengamuk, kabuuuuur...."
Davin langsung mengambil langkah seribu dan menjauh dari Airin.
"Pak Davin...." seru Airin mengejar Davin.
Karena ruang Villa Z&R sangat luas, jadi mereka bisa leluasa berlarian di sana.
Dari lantai atas, Zuy nampak tengah berdiri sambil melihat kekonyolan Airin dan Davin. Awalnya ia ingin turun ke bawah, namun saat melihat Airin dan Davin, Zuy langsung mengurungkan niatnya itu.
"Dasar kalian berdua ini," lirih Zuy.
Lalu kemudian Ray datang menghampiri Zuy.
"Sayangku, sedang apa kamu disini?" tanya Ray.
"Itu, sedang menyaksikan tontonan menarik," jawab Zuy sambil menunjuk.
"Tontonan menarik?"
Pandangan Ray langsung mengarah di mana Zuy menunjuk, sontak membuatnya terperangah.
"Ck, bener-bener mereka berdua, kalau akur aja seperti suami istri, sedangkan kalau udah ribut kaya Tom and Jerry," ujar Ray terkekeh.
"Hahaha.... Mana Airin pakai bawa sendok sayur lagi, pasti habis tuh kepala Pak Davin kalau kena sendok sayur," tawa Zuy.
Mendengar kata sendok sayur, Ray jadi mengingat di mana ia pernah di pukul kepalanya oleh Zuy pakai sendok sayur. (Bab.17 Menginap)
Kemudian Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Ngomong-ngomong soal sendok sayur. Sayangku, apa kamu mengingat kejadian sendok sayur yang melayang di kepalaku?" bisik Ray.
"Hah! Memangnya pernah ada kejadian seperti itu?" tanya Zuy kebingungan.
"Pernah sayangku, saat beberapa hari aku kembali dari Amerika, terus pas pertama kalinya kamu menginap di rumah ku. Kamu melayangkan sendok sayur itu ke kepala ku, apa kamu sudah melupakan itu, sayangku?" kata Ray memicingkan matanya ke arah Zuy.
Zuy pun mulai mengingat dengan perkataan Ray, sesaat kemudian ....
"Oh yang waktu itu ya, yang kepala kamu sampai lebam itu?"
Ray mengangguk. "Iya yang waktu itu sayangku."
"Ahahaha.... Maaf Ray, waktu itu aku gak sengaja, habisnya kamu isengin aku. Jadi ya aku refleks melayangkan sendok sayur ke kepalamu itu," ujar Zuy sembari tersenyum.
Lalu tiba-tiba Ray mengangkat tubuh Zuy, membuat Zuy tercengang.
"Ray, apa yang kamu lakukan?" tanya Zuy.
"Sayangku, temani aku mandi!" pinta Ray sambil mengedipkan satu matanya.
"Apa! Tapi aku udah mandi Ray dan aku mau menyiapkan sarapan untuk kalian," cetus Zuy.
Akan tetapi Ray pura-pura tidak mendengar perkataan Zuy, ia malah tersenyum dan terus membawa Zuy ke kamarnya kembali.
"Rayyan....!!"
**********************
Rumah Sakit
ยฐRuang ICCU
Dimas nampak berada di ruang di mana Bunda Artiana di rawat, ia sesekali mengusap dan mencium tangan Bunda Artiana.
"Bunda, cepatlah sembuh! Rumah terasa sepi tanpa adanya Bunda di sana," ucap Dimas menunduk dengan air matanya yang lolos membasahi pipinya.
Lalu tiba-tiba....
"Cu-cuku...." lirih Bunda Artiana yang terbangun.
Sontak membuat Dimas terkejut dan mengarahkan pandangannya ke arah Bunda Artiana.
"Bunda...."
Bunda Artiana lalu melirikkan matanya ke arah Dimas.
"Dimas, apa itu kamu Nak?" tanya Bunda Artiana.
"Iya Bunda, ini Dimas. Syukurlah Bunda akhirnya sadar," ucap Dimas.
"Dimas, di mana cucu pertama Bunda?"
"Zuy sedang berada di rumahnya, dari kemaren dia sudah di sini menunggu Bunda," ujar Dimas yang berbohong.
Bunda Artiana lalu menitihkan air matanya.
"Bunda, kenapa Bunda menangis? Apa ada yang sakit? Dimas panggilkan Dokter ya?" lontar Dimas.
Bunda Artiana menggeleng pelan. "Bunda tidak sakit Dimas, hanya saja Bunda ingat dengan Ayah kamu."
"Ayah?"
"Iya, Ayah kamu datang menemui Bunda sambil mengulurkan tangannya ke arah Bunda. Sepertinya Ayahmu ingin menjemput Bunda, Dimas." jelas Bunda Artiana.
Seketika tangis Dimas langsung pecah.
"Bunda jangan bicara seperti itu, Dimas yakin bahwa Bunda akan segera sembuh. Dimas akan melakukan apa saja demi kesembuhan Bunda. Dan lagi apa Bunda tidak ingin melihat cicit Bunda yang sebentar lagi akan lahir," ucap Dimas.
"Tentu Bunda sangat ingin melihat cicit pertama Bunda, tapi ...."
"Bunda sudah jangan bicara apa-apa lagi!" tutur Dimas.
Kemudian tangan Bunda Artiana menggenggam erat tangan Dimas.
"Dimas, Bunda mohon sama kamu! Tolong bawa Zuy kemari, Bunda ingin melihatnya Dimas!" pinta Bunda Artiana.
Dimas mengangguk cepat. "Iya Bunda, Dimas akan membawanya ke Bunda, Dimas janji Bunda."
Bunda Artiana tersenyum, sesaat kemudian perlahan Bunda Artiana menutup matanya kembali.
"Bunda.... Sesuai permintaan Bunda, Dimas berjanji akan membawanya ke hadapan Bunda."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" ๐๐๐
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. ๐๐๐
__ADS_1
Salam Author... ๐โ๐โ