
<<<<
Lalu tiba-tiba dua orang datang dan langsung masuk ke dalam ruang rawat Bi Nana sontak membuat Bi Nana menatap tajam ke arah mereka.
"Ada perlu apa kalian berdua datang kemari? Dokter Dimas, Tuan Archo Fuca."
Dan ternyata mereka berdua adalah Archo dan Dimas, mereka berjalan mendekat ke arah Bi Nana.
"Selamat pagi Nyonya, bagaimana kabar anda?" tanya Dimas tersenyum.
"Ya seperti yang anda lihat, Dokter Dimas." jawab Bi Nana.
"Oh Syukurlah kalau begitu."
Bi Nana tersenyum tipis, lalu pandangan Bi Nana beralih ke Nara.
"Nara sayang, Mamih boleh minta tolong tidak?"
"Apa Mih? pasti Nara nolongin Mamih." ujar Nara.
Kemudian Bi Nana memberikan hp beserta earphonnya pada Nara.
"Nara duduk di sana ya sambil nonton kartun, jangan lupa earphonnya di pake ya!" titah Bi Nana.
"Kenapa harus pake ipon Mih?" tanya Nara kebingungan.
"Biar gak berisik sayang, kan kalau berisik nanti Dokter datang ke sini, terus entar Mamih di suntik lagi. Nara mau kalau Mamih di suntik?" kata Bi Nana berbohong
Nara menggeleng cepat, "Nda mau Mih, yaudah kalau gitu Nara nonton kartun dulu ya."
Bi Nana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Nara pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di sana. Setelah itu....
"Sekarang katakan lah! ada apa kalian datang ke sini? pastinya bukan untuk menjenguk ku saja kan?" tanya Bi Nana menyidik.
Dimas dan Archo saling menatap satu sama lain, lalu pandangan mereka beralih ke arah Bi Nana.
"Se-sebenarnya kami datang ke sini mau bicara soal ...," ujar Archo dengan gugupnya, akan tetapi....
"Soal Maria yang sudah menampar Zuy?" sela Bi Nana membuat Archo dan Dimas terkejut.
"Ba-bagaimana anda bisa tahu Nyonya? apa jangan-jangan ...,"
"Tentu saja saya tahu, karena saya orang tuanya, bukan seperti Maria. Iya dugaanmu benar, gadis kecilku datang kesini dengan pipinya yang memar, lalu ia menceritakannya padaku sambil menangis, saya tidak menyangka Maria bisa berbuat seperti itu, waktu itu dia menggertaknya dan sekarang menamparnya," celetuk Bi Nana dengan panjangnya.
Archo menundukkan kepalanya, "Maafkan kesalahan Mam, Nyonya. Mam seperti itu karena ...,"
"Karena anak emasnya kan? Asal kalian berdua tahu saja, saya selama bertahun-tahun merawatnya, tidak pernah sekali pun tangan saya memukul atau menamparnya. Sedangkan Maria yang bertahun-tahun meninggalkannya dengan teganya menamparnya bahkan membentaknya. Hatiku sangat sakit saat mendengarnya menangis sesenggukan. Makanya waktu itu saya memberikan syarat untuk menguji ikatan batin mereka, tapi ternyata dia tidak merasakan ikatan batinnya terhadap anaknya sendiri," cecar Bi Nana.
Lalu Dimas berlutut di hadapan Bi Nana dan berkata, "Nyonya, sekarang saya baru mengerti tentang persyaratan yang Nyonya ajukan pada kami. Kami benar-benar minta maaf atas kelakuan Kak Maria, tapi kami mohon Nyonya. Tolong jangan melarang kami untuk mengakuinya, walau bagaimanapun dia juga bagian keluarga kami."
"Iya Nyonya, beri kesempatan sekali lagi pada kami, kami janji akan membuat Mam merasakan bahwa dia benar-benar anaknya tanpa perlu memberitahunya, sebelum hasil tes DNA itu keluar," sambung Archo.
Sesaat Bi Nana menghela nafasnya, "Haaa... Berikan saya waktu untuk berfikir jernih."
"Tapi Nyonya ...," hardik Archo, lalu Dimas memegang lengan Archo dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia bangkit dari posisinya.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu kami pamit dulu, maaf sudah mengganggu anda, permisi." ucap Dimas sambil mengangguk pelan. Lalu ...,
"Dokter, kapan saya di bolehkan pulang ke rumah?" tanya Bi Nana.
"Nanti saya akan tanyakan pada istri saya," kata Dimas.
"Oh, yaudah kalau begitu, kalian boleh pergi!"
Dimas dan Archo pun melenggang pergi keluar dari kamar rawat Bi Nana.
"Aku harus bagaimana? apa aku harus memberikan kesempatan lagi pada mereka?" lirih Bi Nana.
Lalu ia merebahkan dirinya dan menempatkan tangannya di atas dahinya.
**************************
Perusahaan CV
Sementara itu, Rere nampak berjalan tergesa-gesa menuju ke Pantry, lalu ia pun masuk ke Pantry dan mengedarkan pandangannya. Airin yang melihat Rere pun langsung menghampirinya.
"Bu Rere..." sapa Airin
Rere pun menoleh, "Eh Airin, euum Zuy di mana?"
"Zuy sedang ke toilet, Bu Rere." jawab Airin.
"Oh, begitu ya,yaudah aku tunggu dia saja," papar Rere sambil menarik kursi dan mendudukinya.
Tak lama kemudian Zuy pun datang.
"Bu Rere, itu Zuy udah datang," seru Airin sambil menunjuk. Lalu Zuy menghampiri Airin dan Rere.
"Ada apa Rin?" tanya Zuy kebingungan.
Lalu Rere memutar badannya dan menghadap ke arah Zuy.
"Zuy, akhirnya kamu datang juga," papar Rere.
"Eh Bu Rere, ada apa ya?" tanya Zuy.
"Tadi Bu Wanda menghubungiku, kamu di suruh ke ruangannya!" titah Rere.
"Oh, baiklah Zuy ke ruangan Bu Wanda sekarang, Rin kalau mau ke Kantin duluan ya!"
Airin pun menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya. Kemudian Zuy langsung bergegas menuju ke ruangan Wanda yang berada di atas.
Wanda adalah Sekertaris sementara pengganti Friska yang sedang cuti melahirkan.
Sesaat kemudian, Zuy telah sampai di lantai atas dan bergegas menuju ke ruangan Wanda. Sesampainya Zuy segera mengetuk pintunya.
Tok Tok Tok
"Masuk!!" terdengar suara dari dalam.
Lalu Zuy mendorong pintunya hingga terbuka.
"Permisi, Bu Wanda." ucap Zuy sembari berjalan mendekat ke arah Wanda.
"Kamu yang bernama Zuy ya? Duduklah!"
Zuy mengangguk, lalu ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan meja kerjanya Wanda.
__ADS_1
"Maaf Bu Wanda, ada apa anda mencari saya?" tanya Zuy.
Lalu tiba-tiba Wanda menyodorkan kertas note pada Zuy, sontak membuat Zuy terkejut dan matanya terbelalak.
"I-ini...!"
"Iya itu milikmu kan? Aku menemukannya di ruangan Tuan Ray," jelas Wanda.
Dan ternyata kertas note itu berisi pesan penyemangat yang Zuy tulis tadi pagi. Karena Ray yang meminta pujaan hatinya untuk terus memberikan pesan semangat lewat tulisan tangannya.
"I-iya Bu Wanda, ini milik saya," jawab Zuy dengan gugupnya.
Mendengar jawaban Zuy, seketika Wanda langsung mengerutkan dahinya.
"Zuy, kenapa kamu lancang sekali memberikan tulisan seperti itu pada Tuan Ray? Apa kamu tidak takut kalau Tuan Ray tahu dan kamu pasti langsung di pecat dari kerjaanmu ini." cecar Wanda.
Zuy menundukkan kepalanya, "Maaf Bu Wanda kalau saya lancang, tapi ...,"
"Tapi apa Zuy? Apa kamu menyukai Tuan Ray? Sehingga kamu membuat pesan seperti ini?" pekik Wanda.
"Sa-saya ...,"
"Zuy, kamu belum mengenal saya, saya orangnya tegas tidak seperti Friska, untung ini cepat ketahuan oleh saya. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang terjadi padamu Zuy. Tentunya kamu tahu, kalau Tuan Ray itu orangnya sangat dingin dan tidak segan-segan memecat karyawan yang mengganggunya dan lagi apa kamu tidak melihat cincin di jari manis Tuan Ray?" tegas Wanda.
Zuy lalu mengangkat kepalanya menghadap ke arah Wanda dan mengangguk cepat.
"Saya tahu Bu Wanda, saya juga lihat kalau Tuan Muda memakai cincin di jari manisnya," ujar Zuy, "Padahal cincin yang Ray pakai adalah cincin waktu ulang tahun kita dan aku juga memakainya," batin Zuy.
"Berarti kamu sudah tahu kan kalau Tuan Ray sudah mempunyai seorang pendamping, jadi jangan macam-macam Zuy! Haaa.... Yaudah kau boleh pergi! Tapi ingat lain kali jangan membuat kesalahan lagi. Kalau sampai kamu mengulanginya lagi, saya tidak akan membantumu!" pekiknya.
Zuy kembali menganggukkan kepalanya, ia pun beranjak dari tempat duduknya, dan melenggang pergi dari ruangan Wanda.
"Hmmmm, ada aja orang seperti itu," lirih Wanda.
Selang beberapa saat, Davin masuk dan menghampiri Wanda.
"Bu Wanda, mana berkas yang sa..., Lho, ada apa Bu Wanda? kenapa anda berkerut kening seperti itu?" tanya Davin
Lalu Wanda melihat ke arah Davin, "Oh Pak Davin, ini lho Pak Davin, ada karyawan OB yang menuliskan ini pada Tuan Ray," jawabnya sambil menunjukkan kertas note pada Davin.
Davin langsung mengambil kertas note itu dan membacanya.
"Bukankah ini dari Zuy?" batin Davin, lalu pandangannya beralih ke Wanda.
"Bu Wanda, anda dapat ini dari mana?" tanya Davin.
"Tentu saja dari meja Tuan Ray, pas saya meletakkan berkas di mejanya. Ya tapi Pak Davin tenang saja, saya sudah menegur orangnya," ujar Wanda.
"Apa!!" Davin terkejut mendengar ujaran Bu Wanda.
Sesaat ia menghela nafasnya dan mendudukkan dirinya di kursi.
"Bu Wanda, sepertinya ada yang anda tidak ketahui tentang peraturan kerja dari Tuan Ray," jelas Davin.
"Maksudnya Pak?" tanya Wanda
"Begini lho Bu Wanda, Tuan Ray sangat tidak suka dengan orang yang suka mengusik meja kerjanya, ya seperti apa yang Bu Wanda lakukan sekarang. Bu Wanda anda di sini hanya sekertaris pengganti saja, setelah itu anda akan kembali ke anak Perusahaan CV, jadi saya harap anda tahu batasan anda. Kalau anda sampai mengulanginya lagi, anda bisa-bisa beneran di pecat dari CV," tegas Davin.
Wanda pun menundukkan kepalanya, "Maafkan saya Pak Davin, saya tidak tahu."
Wanda pun mengangguk cepat dan memberikan berkas pada Davin, kemudian Davin pergi dari ruangan Wanda.
"Hah! Kenapa malah aku yang kena?" lirih Wanda.
Setelah dari ruangan Wanda, Zuy pun bergegas menuju ke Pantry.
Pantry
Sesampainya, Zuy mengambil gelas, lalu menuangkan air ke dalam gelas tersebut dan meneguknya. Sesaat setelahnya....
"Huuuft, kenapa bisa ketahuan sama Bu Wanda sih, padahal aku udah di letakkan di tempat biasa," lirih Zuy. Lalu kemudian ...
Paak...
Lalu seseorang menepuk punggung Zuy, membuat Zuy terkejut dan menoleh ke belakang.
"Ya ampun Airin! Bikin kaget saja," papar Zuy mengelus dadanya.
"Hehehe... maaf Zuy, oh iya ayo kita ke kantin Zuy, soalnya sudah waktu istirahat ini dan cacing di perutku juga udah nendang-nendang ini," ujar Airin mengelus-ngelus perutnya.
"Cara bicara mu seperti Pak Davin aja, apa jangan-jangan ..., ehemmm," goda Zuy.
"Hayo mulai deh, jangan menggodaku terus. ayo buruan Zuy!"
Zuy mengangguk, "Iya, Oke Nyonya Roveis."
Lalu mereka pun bergegas menuju ke kantin.
...----------------...
Tak terasa hari berlalu begitu cepat dan saatnya bagi para karyawan menghentikan aktivitasnya. Satu-persatu semua karyawan meninggalkan pekerjaan, begitu juga dengan Airin dan Zuy yang sudah berada di parkiran.
"Zuy, aku duluan ya...." kata Airin sambil menyalakan motornya.
"Iya Rin... hati-hati! Jangan ngebut ya!" ucap Zuy.
"Siaaaaap Nyonya bos," balas Airin.
"Apa sih Rin," pekik Zuy
Airin pun terkekeh, lalu ia menarik gas motornya dan pergi meninggalkan Zuy. Lalu tiba-tiba ...,
Cup...!!
Seseorang mencium pipi Zuy, membuat Zuy langsung melirikkan matanya ke arah samping.
"Ray..!"
"Iya sayangku," sahut Ray tersenyum.
"Kamu kebiasaan suka cium mendadak, bikin Zuy kaget saja, dan lagi untungnya gak ada yang lihat," papar Zuy
Ray lalu mencubit pipi Zuy, "Kalau ada yang lihat juga gak apa-apa sayangku, kan kamu milikku."
"Awww.. kamu ya! yaudah ayo kita berangkat!"
"Siap sayangku yang cantik," kata Ray.
__ADS_1
Mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju ke arah mobilnya Ray. Lalu nampak dari kejauhan sepasang mata sedang memperhatikan mereka, dan ternyata dia Wanda.
"Hmmm, ternyata benar mereka mempunyai hubungan khusus, apa Zuy itu selingkuhan Tuan Ray? Atau jangan-jangan dia yang istrinya Tuan Ray? Terus di Perusahaan mereka pura-pura bukan pasangan. Kalau itu benar, wah bisa gawat aku, karena sudah menyinggung Zuy, tapi masa sih Tuan Ray nikah dengan OB seperti dia? Kaya gak ada wanita lain saja. Ah lebih baik aku pulang saja deh, pasti anak dan suamiku sudah menungguku di rumah," lirihnya.
••••••••••••••••••
Selama di perjalanan, Ray mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar sambil terus mencuri pandang pujaan hatinya yang berada di sampingnya.
"Aaaah, badan ku benar-benar pegal," lirih Zuy meregangkan otot-otot tangannya.
"Kasihan sayangku, pasti kecapean makanya badannya pada pegal," kata Ray
Lalu Zuy menyandarkan kepalanya di jok mobil yang ia duduki.
"Ya begitu lah.."
"Yaudah, nanti sepulang dari supermaket, Ray pijitin ya sayangku," ujar Ray.
"Aah paling juga mijitin terus ujung-ujungnya minta jatah bikin telinga," pekik Zuy.
"Aduh sayangku tahu aja ya, hahaha...."
Zuy pun memutar bola matanya dengan malas, "Haaa.. Dasar kamu Ray." "Oh iya Ray, ngomong-ngomong Zuy kangen sama Bu Friska lho, dan lagi kita juga belum menjenguknya," sambung kata Zuy.
"Oh iya kita belum jenguk Bu Friska ya? Yaudah sekalian aja kita beli kado buat Bu Friska, habis itu kita langsung ke rumahnya."
Zuy mengangguk, lalu salah satu tangan Ray memegang tangan Zuy dan mengangkatnya, kemudian Ray mencium tangan Zuy sambil mengemudikan mobilnya.
********************
Supermaket
Hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka sampai di tempat, Ray segera memarkirkan mobilnya, Setelah itu mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk Supermaket, Ray terus saja menggandeng tangan Zuy dengan erat.
Setelah berada di dalam Supermaket, Zuy mengambil kereta dorong dan ketika ia hendak mendorongnya, Ray malah menahannya.
"Biar aku saja yang mendorongnya!" tawar Ray.
"Baiklah Ray."
Lalu mereka berjalan sambil mengambil barang yang mereka perlukan, seperti sayuran, buah-buahan, daging dan kebutuhan lainnya.
"Semuanya sudah lengkap, apalagi yang kurang ya?" lirih Zuy mengecek semua barang-barang yang ada di kereta dorongnya.
"Masih ada yang kurang sayangku?"
"Ya sepertinya begitu," jawab Zuy mengedarkan pandangannya.
Mata Zuy tiba-tiba berbinar saat melihat cookies coklat yang berada di depannya, lantas ia langsung mendekat ke rak dan mencoba mengambilnya, namun posisinya berada di rak paling atas.
"Iish, kenapa tinggi banget sih, gak sampai-sampai, padahal udah berjinjit juga," pekik Zuy. Lalu kemudian...
"Kasihan sayangku," ucap Ray sambil mengangkat tubuh Zuy.
Sontak membuat Zuy terkejut, tapi bukan hanya Zuy saja yang lainnya pun ikut terkejut dan tercengang.
"Waah lihat itu, pacarnya perhatian banget sampai di angkat segala, jadi iri deh."
"Iya bener, pacar kita boro-boro seperti itu, jadi pengin punya pacar kaya laki-laki itu."
"Kayaknya mereka bukan pacaran deh, lihatlah mereka masing-masing menggunakan cincin di jari manis, berarti mereka adalah pasangan suami istri."
"Ya, gak jadi deh deketin dia."
Begitulah beberapa lontaran dari orang-orang yang berada di supermaket tersebut.
"Ray, apa yang kamu lakukan? tuh banyak orang yang liatin, ayo turunin Zuy!" pinta Zuy.
"Sayangku, jangan pedulikan orang lain, ayo ambil barang yang kamu mau!" titah Ray.
Zuy pun segera mengambil beberapa kotak cookies, setelah itu Ray menurunkan tubuh Zuy.
"Bagaimana sayangku, apa udah semuanya?"
"Ya sepertinya sudah semuanya. Oh iya Ray, kita mau kasih kado Bu Friska apa ya?" tanya Zuy.
"Hmmm, lebih baik kita ke sana yuk! Sepertinya banyak kebutuhan dan perlengkapan untuk bayi," ajak Ray
Zuy mengangguk, mereka segera pergi ke tempat di mana banyak kebutuhan untuk Ibu dan anak. Sesampainya Ray dan Zuy segera memilih barang yang akan di berikan pada Friska. Setelah selesai, mereka segera ke tempat kasir untuk melakukan pembayaran. Lalu kemudian ...,
Triiiiiing... Triiiiiing...
Bunyi bising dari hp milik Ray, membuat semua yang ada di sana langsung melirik ke arah Ray. Melihat itu, Ray segera mengambil hpnya di saku jasnya, kemudian ia melihat ke arah layar hpnya.
"Daddy!!"
"Siapa yang menelpon Ray?" tanya Zuy
Pandangan Ray beralih ke arah Zuy, "Daddy sayangku, yaudah Ray jawab telponnya dulu. Oh iya sayangku, pakai ini buat bayar barang belanjaannya!" titah Ray memberikan kartu debit miliknya pada Zuy.
"Tapi Ray, Zuy kan ada ..,"
"Gak pake tapi, terima aja ya sayangku!" titah Ray
"Baiklah Ray, terimakasih." balas Zuy
Ray memegang pipi Zuy, "Yaudah Ray ke sana dulu, setelah selesai membayar, sayangku tunggu di tempat bermain ya!"
Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ray lalu melenggang pergi. Sekarang giliran Zuy untuk menyerahkan semua barang-barang yang sudah ia pilih pada petugas kasir. Tak butuh waktu lama, ia pun selesai membayarnya, kemudian Zuy meletakkan kembali barang belanjaannya ke kereta dorong dan berjalan menuju ke permainan anak, setelah sampai Zuy langsung duduk di kursi yang berada di sana.
"Hmmmm, semoga Ray tahu ya kalau Zuy duduk di sini, soalnya selain dekat sama anak-anak yang sedang bermain mandi bola, juga dekat dengan pintu masuk arena game, dari arah luar juga pasti kelihatan," lirih Zuy sambil meluruskan kakinya dan memijatnya.
Lalu kemudian seseorang datang menghampiri Zuy.
"Akhirnya saya bertemu lagi dengan mu, cucuku." ujarnya.
Melihat seseorang berdiri di depannya, membuat Zuy langsung menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya ke arah orang tersebut.
"Hmmmm, Nyonya!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1