Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Keluarga Tuan....


__ADS_3

<<<<<


Lalu salah satu dari wanita itu pun mendekat ke arah Melan.


"Apa benar kamu yang bernama Melan Adhisti Anggraeni?"


Ia bertanya karena ingin memastikan apakah wanita yang di hadapannya itu benar-benar Melan atau bukan. Sedangkan Melan masih mengatupkan bibirnya sembari terus memandangi kedua wanita itu secara bergantian.


"Siapa mereka? Kenapa bisa tau namaku?" batin Melan yang bertanya-tanya.


Wanita itu mengerenyitkan dahinya.


"Apa gadis ini tuli ya? Di tanya gak ngejawab dan malah menatap kami seperti itu? Hhh, melihat tatapannya itu benar-benar membuatku sangat risih." batinnya.


Lalu....


"Hei kamu!"


Melan mengerjapkan matanya dan menengadah ke wanita yang berdiri di depannya.


"Aku tanya sekali lagi! Apa benar kamu yang bernama Melan Adhisti Anggraeni?"


Melan menghela nafasnya dan tanpa ragu lagi ia pun langsung membalasnya dengan anggukan kepalanya saja.


"Hmm, baguslah kalau kamu ini benar-benar Melan." ia tersenyum serta menatap sinis Melan.


Matanya memandangi Melan secara bertahap dari mulai ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Cih, kalau di lihat-lihat ternyata dia hanya wanita rendahan saja. Apa hebatnya dia coba jika di bandingkan dengan Adriene wanita pilihan kami. Dasar bocah bodoh!" sambung cicitnya di dalam hati.


Sesaat ia memalingkan wajahnya ke arah temannya yang sedang duduk di kursi roda. Seketika mereka berdua pun sama-sama saling mengangguk pelan, kemudian keduanya beralih lagi ke Melan.


"Oh iya Melan, apa kamu tahu kita ini siapa?" tanyanya.


Melan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Heh, ternyata Archo tidak memberitahu mu soal kami ya? Kalau gitu biar aku yang akan memberitahu mu sekarang! Perkenalkan aku Liora lalu yang ini Maria. Dan kami adalah Aunty and Mother ah maksudku Tante dan Ibunya Archo." jelasnya.


Yang ternyata kedua wanita tersebut adalah Liora dan Maria.


Penjelasan Liora seketika berhasil membuat Melan tercengang.


"Apa! Jadi mereka ini keluarganya Tuan? Duh aku harus bagaimana ini? Dan lagi kenapa aku mendadak deg-degan gini?" batin Melan.


Lalu Melan menyunggingkan senyumnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Liora. Akan tetapi Liora justru malah menyembunyikan tangannya ke belakang seakan enggan untuk bersentuhan tangan dengan Melan. Begitu juga saat Melan beralih ingin menjabat Maria.


"Tidak perlu bersalaman! Sebab tangan ku gampang banget alergi jika bersentuhan dengan orang lain apalagi wanita seperti mu. Dari pada bersalaman, akan lebih baik jika kamu bawa kami masuk ke dalam!" cetus Maria.


Nyut!


Dada Melan terasa nyeri dengan perkataan Maria. Ia pun mengepal tangannya seraya menurunkannya lalu Melan mempersilahkan keduanya masuk. Liora terlebih dahulu melangkah masuk ke dalam, sedangkan Maria kembali menatap tajam Melan yang masih berdiri di depan pintu.


"Kenapa hanya berdiam diri saja di sana! Cepat bawa aku masuk ke dalam!" titah Maria.


Melan kembali mengangguk dan segera mendekat ke Maria. Ketika sudah berdiri di belakang kursi roda, ia pun berjalan masuk sembari mendorong kursi roda Maria.


Saat di dalam, Melan menempatkan kursi roda Maria tepat samping sofa di mana Liora duduk. Setelah itu, Melan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman.


Sedangkan Maria dan Liora mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Liora mendesah dan berkata, "Harusnya yang cocok tinggal di Apartemen mewah ini tuh Archo bersama dengan Adriene, bukan wanita gak jelas itu."


Maria manggut-manggut.


"Iya benar apa yang kamu katakan Li. Entah apa yang di pikirkan anak itu sampai-sampai ia menyia-nyiakan wanita sempurna seperti Adriene dan malah menikahi wanita gak jelas seperti dia."


"Huh, namanya juga anak bodoh yang gak tau di untung, pikirannya selalu pendek sama seperti mendiang Ibunya itu." cebik Liora. "Oh iya Mar, apa kamu merasa ada yang aneh dengan gadis itu?" sambung tanyanya.


"Hm, aneh?! Aneh bagaimana maksudmu, Li?" bukannya menjawab justru Maria malah bertanya kembali.


"Maksudku, kenapa dari tadi dia diam aja dan tidak bicara apa-apa, minimal ya nanya siapa kita sebenarnya. Tapi ini malah ngeliatin kita terus, benar-benar membuatku sangat risih." papar Liora.


"Mungkin ada masalah dengan lidahnya atau canggung dengan kita kali, makanya dia gak bicara apa-apa seperti orang bisu." celetuk Maria.


"Hhh, kayaknya sih. Tapi dari pada itu, aku sangat berharap kalau gadis gak jelas itu mau menuruti keinginan kita untuk menggugurkan kandungannya dan pergi jauh dari kehidupannya Archo."


"Ya semoga aja dia mau menuruti keinginan kita, Li. Tidak seperti anak durhaka itu!" cetus Maria.


Liora menatap Maria dengan menaikkan satu alisnya.


"Anak durhaka siapa Mar?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja anak yang sudah—"


Mendadak Maria menghentikan perkataannya karena Melan keluar dari dapur dan berjalan ke arah mereka dengan membawa nampan berisi minuman, kemudian ia meletakkannya di atas meja.


"Oh iya, di mana Archo? Kenapa dari tadi gak keliatan? Apa dia masih tidur?" tanya Maria.


Melan terlebih dahulu meletakkan nampannya di atas nakas, lalu mengambil tab-nya dan menuliskan sesuatu. Setelah itu, ia pun mengarahkan layar Tab-nya ke arah Liora dan Maria. Keduanya pun membaca tulisan yang ada di tab tersebut.


"Tuan Archo sedang berada di luar katanya ada urusan penting!"


Maria dan Liora kembali menengadah menatap Melan dengan dahi yang mengerenyit.


Lalu....


"Kenapa kamu bicaranya pakai tulisan seperti itu? Apa kamu tidak punya mulut untuk bicara? Dasar tidak sopan! Apa kamu menganggap bahwa kami ini tuli? Hah!" lontar Maria yang belum tahu bahwa Melan memang tidak bisa berbicara.


Melan tersentak dengan kata yang di lontarkan oleh Maria, ia pun geleng-geleng kepala di sertai lambaian tangannya, kemudian kembali menulis di tab-nya.


"Maaf bukan maksud saya tidak sopan karena berbicara seperti ini! Hanya saja saya orang bisu. Jadi saya cuma bisa mengatakan apa yang saya katakan melalui tulisan dan bahasa isyarat saja."


"Apa! Bisu?!" ucap Liora dan Maria secara bersamaan.


Mata keduanya pun membelalak dan mulutnya ternganga karena mereka benar-benar sangat terkejut saat mengetahui bahwa gadis yang di nikahi Archo itu ternyata seorang gadis bisu.


"Jadi wanita yang Archo nikahi ini bukan hanya orang kampung saja tapi juga seorang wanita bisu! Astaga, apa sih yang di pikiran anak itu sehingga menikahi gadis cacat seperti ini!" batin Liora yang kembali menatap sinis Melan.


"Kamu beneran gak bisa bicara? Atau hanya pura-pura saja?" tanya Maria memastikannya.


Dengan cepat Melan menganggukkan kepalanya dan menulis kembali.


"Saya tidak pura-pura dan saya benar-benar bisu, Ibu!"


Maria lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya


"Duduk!" suruh Maria.


Melan memiringkan kepalanya sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Ya kamu lah! Memangnya siapa lagi yang berdiri di sini selain kamu." pekik Maria.


Istri Archo pun langsung menurut kemudian mendudukkan dirinya di sofa lainnya berhadapan dengan Maria serta Liora. Lalu Liora merogoh tasnya untuk mengeluarkan sesuatu dari dalamnya yang ternyata sebuah debit card beserta satu botol berukuran sedang berisi obat.


Setelah selesai mengeluarkannya dari dalam tasnya, ia pun menyodorkan barang-barang tersebut ke arah Melan yang tengah duduk di depannya itu membuat Melan keheranan dan bertanya pada Liora dengan menggunakan bahasa isyarat tubuh.


Akan tetapi....


"Apa yang kamu katakan itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan bahasa primitif seperti itu!" cecar Liora.


Melan beralih ke tab-nya.


"Maaf Bibi! Melan barusan nanya, apa maksud dengan semua ini? Kenapa Bibi tiba-tiba memberikan ini ke Melan? Melan beneran bingung dan gak ngerti!"


"What! Bibi? Kamu sudah lancang ya memanggil ku dengan sebutan seperti itu. Don't call me Auntie! Dan lagi mengenai barang-barang ini, tentu saja aku punya maksud tertentu yaitu menyuruh mu untuk menggugurkan kandungan mu dengan obat ini, setelah itu kamu harus pergi sejauh mungkin dari sini dengan menggunakan uang yang ada di kartu ini!" kata Liora.


"Apa! Menggugurkan kandungan ku dan pergi dari sini?!" batin Melan yang sangat terkejut hingga pupil matanya membesar karena mendengar perkataan Liora. Ia menggigit bibir bawahnya sembari meremas ujung bajunya.


Liora tersenyum sinis.

__ADS_1


"Terkejut! Memangnya kamu pikir kami datang kesini untuk menyapa dan berbaik hati denganmu layaknya keluarga? Tidak, justru kedatangan kami kesini hanya untuk memperingatkan mu, gadis bisu. Supaya kamu secepatnya pergi dari kehidupan Archo!"


"Iya. Harusnya kamu sadar diri bahwa kamu itu hanyalah seorang wanita kampung di tambah lagi seorang yang tidak bisa berbicara alias cacat. Asal kamu tahu aja, kami tidak akan pernah menerima wanita gak jelas, cacat dan miskin sepertimu yang nantinya hanya akan menjadi benalu di keluarga kami." sambung perkataan Maria.


Melan menurunkan pandangannya ke bawah dan menunduk. Dadanya benar-benar terasa sangat sakit mendengar perkataannya.


"Ternyata Tuan berbohong padaku! Katanya keluarga Tuan baik dan akan menerima kekurangan ku. Tapi nyatanya malah mereka menghina ku seperti ini!" batin Melan di barengi aliran air matanya.


Lalu....


"Hei gadis bisu! Apa kamu tahu kalau Archo sudah mempunyai calon istri yang sebentar lagi mereka akan menikah?" pekik Maria.


Melan kembali mengangguk-angguk dengan tatapannya yang masih mengarah ke bawah.


"Kalau kamu tahu, lantas kenapa kamu tidak meninggalkannya dan malah masih bersama dengannya? Bukankah itu berarti kamu wanita tidak tahu diri yang merampas kebahagiaan orang lain, hah!" sentak Liora. "Dan demi mempertahankan kamu, Archo sampai rela melawan kami bahkan ia sampai menggagalkan pernikahannya dengan Adriene dan itu semua karena kamu, gadis bisu!" lanjutnya.


Mendengar itu, Melan tercengang dan mengangkat kepalanya.


"Apa! Jadi Tuan membatalkan pernikahannya dengan Kakak cantik itu demi mempertahankan pernikahan kami?" kata hati Melan.


Liora bangkit dari posisinya dan beralih duduk di samping Melan, kemudian ia menjambak rambutnya sehingga Melan meringis kesakitan.


"Sekarang katakan padaku! Apa yang sudah kamu lakukan pada keponakan ku? Sampai-sampai ia menikahi gadis cacat seperti kamu ini!" cecar Liora.


Melan menulis kembali di tab-nya.


"Melan tidak melakukan apa-apa, Tuan Archo sendiri yang ingin menikahi Melan karena Tuan ingin bertanggung jawab saja."


Liora mengerenyit. "Bertanggung jawab! Katakan apa yang sudah ia lakukan terhadap mu, gadis bisu?!"


Melan pun menceritakan kejadian waktu itu melalui tulisannya.


(Kisahnya sudah ada di Bab. 254 Wanita Asing.)


Liora melepaskan tangannya seraya tersenyum smirk.


"Oh, ternyata kejadiannya seperti itu sampai ia menikahimu. Yaudah kalau begitu sekarang kamu tinggalkan Archo! Bukankah dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya! Jadi anggap saja semuanya sudah impas."


Melan kembali menulis.


"Maaf Nyonya kalau saya lancang! Tapi saya menolak dan saya tidak akan meninggalkan Tuan sebelum Tuan meninggalkan saya terlebih dahulu! Dan saya juga tidak bisa menggugurkan kandungan saya, sebab ini adalah anak saya, Nyonya!"


Liora dan Maria tersentak membaca tulisan dari Melan.


"Kenapa dia sama seperti anak durhaka itu? Hah, benar-benar gadis bisu tidak tahu diri!" batin Maria.


Sedangkan Liora langsung mengangkat tangannya dan ....


Plak!


Tamparan keras pun mendarat di wajah Melan.


"Dasar gadis bisu tidak tahu diri! Beraninya kamu menolak permintaan kami ini. Sudah bosan hidup bahagia rupanya!" sergah Liora.


Amarahnya pun kini memuncak sampai ia kembali mendaratkan beberapa tamparannya itu.


Bukannya melerai, justru Maria malah tersenyum sumringah melihat aksi Liora itu. Setelah puas, Liora bangkit dari posisinya.


"Ini terakhir kalinya aku peringatkan padamu, gadis bisu. Cepat tinggalkan Archo! Dan aku beri waktu selama beberapa hari. Kalau sampai waktunya tiba kamu tetap tidak mau meninggalkannya, maka jangan salahkan aku jika suatu saat nanti terjadi sesuatu pada keluarga mu itu." gertak Liora.


"Apa! Ke-keluarga ku!"


Melan terkejut dengan gertakan dari Liora, lalu ia pun menarik baju Liora.


"Tolong jangan apa-apakan keluarga saya!" pinta Melan dalam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Akan tetapi Liora dan Maria hanya mendengar Melan meraung saja. Lalu....


"Lepaskan bajuku dari tangan kotor mu itu, sialan!"


Bukannya melepas, Melan justru semakin mengeratkan genggamannya membuat Liora kesal. Ia pun melepas paksa tangan Melan dari bajunya dan menghempasnya sehingga kepalanya Melan terbentur.


"Kalau kamu tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka, maka turuti permintaan kami ini! Dan satu lagi, jangan beritahu Archo tentang masalah ini, mengerti!"


Melan mengangguk pelan, kemudian Liora tersenyum dan melepaskan tangannya dari dagu Melan, lalu ia berjalan mendekat ke arah Maria.


"Ayo Mar, kita pergi dari sini!"


"Iya Li."


Liora melangkahkan kakinya keluar dengan mendorong kursi roda Maria meninggalkan Melan sendirian.


Braak.


"Bapak, Ibu, Risya!" tangis Melan.


******************************


Villa Z&R


Sementara itu, Bi Nana dan Zuy tengah berada di ruang keluarga menemani anak-anaknya yang sedang bermain dengan mainannya masing-masing. Lalu kemudian Nara mendekat ke arah Bi Nana seraya duduk di sampingnya.


"Mamih...."


Bi Nana menoleh. "Iya Nara."


"Lihat deh gambar Nara!"


"Gambar Nara?"


Nara mengangguk, kemudian ia memberikan buku gambarnya pada Mamihnya itu. Bi Nana pun mengambil dan membuka satu persatu buku gambar milik Nara lalu melihat gambar yang di buat oleh anak laki-lakinya itu. Begitu juga dengan Zuy yang ikut melihatnya juga.


"Bagaimana Mi, Kak? Bagus gak gambar Nara?" tanya Nara.


"Bagus kok sayang dan Mamih sangat menyukainya." ucap Bi Nana.


"Iya, Kakak juga suka dengan gambar yang di buat Nara." sambung Zuy.


Senyum Nara pun mengembang saat mendengar ucapan dari Mamih sama Kakaknya itu. Dan ketika Bi Nana membuka kembali lembar buku gambarnya, namun tiba-tiba Bi Nana dan Zuy terperangah melihat gambar tersebut yang ternyata seorang laki-laki yang tengah duduk sambil menopang dagunya dan tersenyum.


Bi Nana menengadah melihat Nara.


"Nara!"


"Iya Mamih."


"Ini gambar siapa sayang?" Bi Nana menunjuk ke arah gambar tersebut.


Sehingga pandangan Nara beralih ke arah Bi Nana menunjuk.


"Oh, itu gambar Papih, Mih."


"Papih?!"


Nara mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa Nara gambar Papih?" karena penasaran, Bi Nana bertanya kembali.


"Tadi di sekolah, ada Bu guru ngasih PR menggambar tentang sesuatu yang paling di kangenin Mih. Jadi ya akhirnya Nara milih gambar Papih deh." jelas Nara membuat Bi Nana dan Zuy tertegun.


Lalu....


"Mamih...."


"Iya."


"Emm, kapan kita ke rumah Papih lagi? Soalnya Nara kangen banget sama Papih, Mih. Sekalian Nara juga mau nunjukin gambar Nara ini ke Papih."


Bi Nana menghela nafasnya, kemudian mengelus rambut Nara.

__ADS_1


"Oh, jadi Nara kangen ya sama Papih? Yaudah kalau gitu besok pulang sekolah, kita ke rumah Papih ya! Sekalian besok Mamih juga mau ke Resto." kata Bi Nana.


"Serius Mih, besok kita ke rumah Papih sama ke Resto?" tanya Nara.


Bi Nana mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya sayang."


Seketika Nara menunjukkan wajah bahagianya seraya memeluk Mamihnya.


"Terimakasih ya Mih, Nara seneng banget akhirnya bisa datang lagi ke rumah baru Papih."


"Sama-sama sayang."


Nara mengalihkan pandangannya ke arah Rana yang sedang bermain dengan si kembar.


"Hmm, coba aja kalau waktu itu Nara gak bikin Papih marah, pasti Papih sekarang masih ada dan gak pergi ninggalin kita. Terus Papih bakalan seneng liat adik Rana yang sekarang ini sudah gede sama bisa jalan."


Mendengar kata yang di lontarkan oleh Nara, seketika membuat Bi Nana menurunkan pandangannya ke arah anak laki-lakinya itu.


"Nara, kenapa kamu bicara seperti itu lagi sayang?"


Nara mendongakkan kepalanya menatap Bi Nana.


"Maaf Mih! Habisnya Nara kasihan sama adik Rana. Gara-gara Nara, dia jadi gak ngerasain kasih sayang yang lebih dari Papih," papar Nara sehingga hati Bi Nana dan Zuy terenyuh.


Untuk sesaat Bi Nana mengalihkan pandangannya ke langit-langit menahan air matanya agar tidak mengalir, begitu pula dengan Zuy yang memalingkan wajahnya ke arah lainnya sembari mengusap air matanya.


Kemudian Bi Nana kembali menatap wajah anaknya dan memegang kedua bahunya.


"Nara, dengarkan Mamih! Papih pergi itu bukan karena kamu, sayang. Tapi karena sudah takdir dan memang sudah waktunya Papih. Papih sekarang sudah bahagia dan gak sakit lagi, jadi Mamih minta Nara berhenti menyalahkan diri Nara ya sayang!" tutur Bi Nana. "Sekarang Mamih tanya sama Nara. Selain kasihan, apa Nara juga sayang sama adik Rana? Hm!" lanjutnya.


"Tentu saja Mih, Nara sayang banget sama adik Rana."


"Kalau Nara sayang sama adik, maka Nara harus jadi Kakak yang baik dan hebat supaya bisa menjaga serta melindungi adik Rana, ya sayang!"


Nara langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Mih, pasti Nara akan menjadi Kakak yang baik serta Kakak pelindung untuk adik Rana dan dede kembar."


Bi Nana menyunggingkan senyumnya dan kembali memeluk erat anak laki-lakinya, begitu pun dengan Zuy.


Lalu kemudian Rana dengan langkah kecilnya menghampiri mereka dan di susul si kembar yang merangkak.


"Mih, Aya." oceh Rana.


"Ma,ma." sambung Baby Z.


Seketika ketiganya menoleh ke arah Rana dan si kembar kemudian melepaskan pelukannya.


"Ada apa Rana?"


"Aus, mimi." jawab Rana.


Bi Nana manggut-manggut.


"Oh, Rana haus ya? Yaudah sini mimi dulu!"


Rana mendekat dan duduk di pangkuan Bi Nana. Sedangkan si kembar langsung berebut pelukan Zuy.


°°°°°


Senja Hari....


Zuy kini berada di balkon kamarnya sembari mengarahkan pandangannya ke arah langit senja yang sangat indah.


"Hmmm, selalu indah dan membuatku merasa tenang." lirih Zuy.


Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah kotak yang di bungkus dengan menggunakan goodie bag, sontak membuat Zuy terperangah dan memalingkan wajahnya.


"Rayyan! Kamu sudah pulang?"


Ray mengangguk. "Sudah sayangku, makanya aku ada di sini."


"Lalu ini apa?" Zuy menunjuk ke arah goodie bag tersebut.


"Martabak cokelat keju kesukaan sayangku." balas Ray.


Mata Zuy pun berbinar saat mengetahui isi dari goodie bag tersebut adalah martabak kesukaannya.


"Wah, terimakasih Ray." ucap Zuy mengambil goodie bag itu dari tangan pria tampannya.


"Sama-sama sayangku."


Ray mencondongkan tubuhnya sembari mengarahkan pipinya ke pujaan hatinya. Zuy mengerti apa maksud dari Ray, ia pun langsung mendekatkan bibirnya ke pipi pria tampannya.


Akan tetapi Ray dengan sengaja memutar kepalanya sehingga yang di cium Zuy bukan pipinya melainkan bibir Ray.


Lalu....


"Hoe kalian berdua! Kalau mau misteri cup-cupan di jangan di situ, keliatan dari bawah tau!" seru seseorang dari arah bawah.


Seketika keduanya melepaskan tautannya dan mengarahkan pandangannya ke bawah.


"Pak Davin!"


Ternyata suara tersebut berasal dari Davin yang baru saja sampai di Villa karena ia terlebih dahulu memarkirkan mobilnya.


Davin melambaikan tangannya.


"Hai Zuy! Emm, maaf ya kalau aku udah ganggu kalian berdua yang lagi misteri cup-cupan."


"Kak Davin...." Ray menatap tajam Davin membuat Davin tercengang.


"Ahahaha maaf Tuan Ray. Silahkan kalau kalian mau lanjut lagi misteri cup-cupannya! Aku mau masuk dulu, bye."


Davin langsung melesat masuk ke dalam.


"Ck, bener-bener adonan moci itu! Selalu saja muncul tiba-tiba dan mengganggu," decak Ray menepuk jidatnya sembari menggelengkan kepalanya.


Zuy pun terkekeh geli.


"Namanya juga Pak Davin, Ray. Yaudah sekarang kita masuk yuk! Aku akan memberikan sesuatu yang sangat spesial untuk mu."


"Sesuatu yang sangat spesial! Apa itu sayangku?!" tanya Ray penasaran.


Zuy hanya membalasnya dengan senyuman, lalu ia terlebih dahulu melangkah masuk ke kamarnya.


"Sayangku...."


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai menikmati makan malamnya. Seperti biasa semuanya berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi.


"Bi Nana...." tegur Ray.


"Iya, ada apa Ray?"


Ray membuang nafasnya terlebih dahulu sebelum membuka suaranya.


"Begini Bi Nana, sebenarnya Ray ingin ...."


*** Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2