Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Perintah Bos....


__ADS_3

<<<<<


"Akhirnya kami menemukan anda, Mrs Maria." ucap salah satu pria tersebut membuat Maria dan Mira menolehkan kepalanya ke arahnya.


"Ka-kalian....!!"


Seru Maria saat melihat kedua pria tersebut, seketika dahinya mengernyit, sedangkan Mira yang berada di belakang Maria pun sudah mulai ketakutan.


"Mrs Maria...." lirih Mira.


"Si-siapa kalian? Kenapa bisa tahu namaku?" tanya Maria.


"Perkenalkan nama saya Yon dan ini Fan. Tentu saja kami tau nama anda, sebab bos kami yang memberitahu kami tentang anda, Mrs Maria." ujar salah satu pria yang bernama Yon sembari menyilang kedua tangannya.


"B-bos? Siapa Bos kalian?" Maria mulai penasaran dengan Bos dari kedua orang itu.


"Maaf kami tidak bisa memberitahu anda siapa bos kami itu. Apalagi di tempat umum seperti ini," balas pria yang bernama Fan itu.


Maria menghela nafasnya. "Lalu ada perlu apa kalian berdua mendatangi ku?"


Dua pria itu pun saling memandang satu sama lain sembari menganggukkan kepalanya, Lalu pria yang bernama Fan mendekat ke arah Mira dan berdiri berada di belakang Mira.


"Jangan coba-coba berteriak! Kalau kamu tidak ingin seperti supir mu itu," gertak Fan pada Mira.


"Apa!" Mira mengarahkan pandangannya ke mobil.


Terlihat dari jendela kaca mobilnya, bahwa supirnya Bunda Artiana sedang tidak sadarkan diri akibat ulah keduanya. Sontak Mira sangat terkejut melihatnya, ia pun kembali melihat ke arah Pria di belakangnya itu dan di balas oleh tatapan tajamnya membuat Mira langsung menundukkan kepalanya karena ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan pada supir kami?" tanya Maria.


"Kami hanya membuatnya tertidur saja, habisnya dia terlihat sangat kecapean. Makanya saya membantunya untuk beristirahat sejenak," ujar pria yang bernama Fan.


Lalu kemudian pria yang bernama Yon mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.


"Barusan anda bertanya tentang keperluan kami? Tentu saja keperluan kami ialah ingin membawa anda, Mrs Maria! Sesuai perintah dari bos kami." jelas Yon.


"Kamu bilang apa! Ingin membawa ku?" lontar Maria yang terkejut.


"Iya, kami harap anda mau bekerjasama dengan kami. Jangan berteriak ataupun memberontak! Kalau anda sampai melakukannya maka kami tidak akan segan-segan menyuntikkan racun ini pada leher anda, Mrs Maria." kata Yon sekaligus mengancam Maria dengan suntikan kecil yang ia arahkan ke leher Maria.


"Kamu mengancam ku?"


"Tergantung dari anda, Mrs Maria." singkat Yon.


Membuat Maria tertunduk sambil mengepalkan tangannya, nampak jelas bahwa Maria tengah mempertimbangkan perkataan Yon.


"Bagaimana Mrs Maria?"


"Mrs Maria, anda jangan ikuti keinginan mereka! mereka ...." ucap Mira yang tiba-tiba terhenti karena Fan langsung menyuntikkan obat tidur pada Mira.


"Mira! Apa yang kamu lakukan pada Mira?" sentak Maria.


"Dia sangat berisik dan aku tidak menyukainya, makanya aku bikin dia tertidur," balas Fan sambil memegangi tubuh Mira.


"Sudah jangan banyak bicara! Cepat masukkan dia ke dalam mobil!" titah pria yang berdiri di depan Maria.


Fan mengangguk patuh dan memasukkan Mira ke dalam mobil milik Bunda Artiana.


"Kenapa anda masih diam di sini Mrs Maria? Cepat masuk ke mobil!"


Mendengar itu membuat Maria mendengus kesal dan di tatapnya wajah pria di hadapannya.


"Hei apa mata kamu sudah tidak berfungsi lagi? Sehingga kamu tidak melihat kondisi ku seperti apa?" pekik Maria.


"Oh maaf kalau saya tidak melihatnya," ucap Yon.


Sebelum mengangkat tubuh Maria, Yon terlebih dahulu menutup mata Maria dengan kain berwarna hitam. Setelah itu barulah ia mengangkat tubuh Maria dan memasukkannya ke mobil.


"Kamu bawa mobil ini dan kita bertemu di suatu tempat!" perintah Yon pada Fan.


"Oke." balas Fan.


Kedua pria bertubuh kekar itu pun berpisah, Yon melangkah pergi, sedangkan Fan masuk ke dalam mobil milik Bunda Artiana.


Saat sudah berada di dalam mobil Bunda Artiana, ia pun langsung melajukan mobil tersebut menuju ke suatu tempat sesuai dengan perintah temannya itu.


Sebenarnya ada beberapa pasang mata yang melihatnya, akan tetapi mereka mengira bahwa Yon dan Fan adalah seorang rentenir yang sedang menagih hutang. Sehingga mereka lebih memilih tidak ikut campur dengan urusan orang.


•••••••••••••••••••••••••••


Sesampainya di tempat tujuan, Fan langsung menghentikan laju mobilnya dan turun dari mobil tersebut. Selang beberapa saat, Yon pun datang dan menghentikan mobilnya di samping mobil milik Bunda Artiana.


"Kenapa lama sekali sih?" gerutu Fan.


"Macet, sudah jangan menggerutu! Cepat pindahkan Mrs Maria ke mobil ini! Karena bos sudah menunggu kita." lagi-lagi Yon memberikan perintah pada Fan.


Fan menghela nafasnya. "Haaaa.... Bisanya cuma memerintah tanpa membantu!" gumamnya sambil membuka pintu mobil. "Mrs Maria, ayo turun!" sambungnya.


"Di mana ini? Apa kita sudah sampai?" tanya Maria.


Akan tetapi tidak ada jawaban dari Fan. lalu di angkatnya tubuh Maria oleh Fan.


"Hei kenapa kalian tidak menjawab ku? Sebenarnya kita ada di mana?" cecar Maria.


Lalu tiba-tiba Maria mencengkeram kuat bahu pria yang menggendongnya itu dengan menggunakan tangan kirinya dan menggigit bagian dadanya. Sontak Fan memekik kesakitan dan akhirnya ....


Bruuugh


Dengan refleksnya Fan menjatuhkan tubuh Maria dari gendongannya hingga pan-tat Maria menyentuh tanah dengan sangat keras.


"Aaargh...." pekik Maria yang kesakitan.


Melihat itu, Yon langsung turun dari mobilnya. "Kenapa kamu menjatuhkannya?" tanyanya.


"Habisnya dia mencengkeram bahuku dan menggigit ku," gerutu Fan memegangi bahunya yang bekas di cengkram Maria.


"Ck, begini saja tidak becus, pake ngerengek lagi gara-gara di gigit. Percuma saja punya badan besar seperti itu," sungut Yon sembari mengambil sapu tangan yang sudah di kasih obat tidur.

__ADS_1


Kemudian ia duduk berjongkok di hadapan Maria.


"Mrs Maria, terpaksa kami harus membius anda! Supaya anda tenang dan tidak memberontak lagi," lontar Yon.


"Apa! Jika kalian berani membius ku, maka aku tidak akan segan-segan untuk berteriak!" sergah Maria.


Akan tetapi Yon tidak memperdulikannya, ia malah menempelkan sapu tangan itu ke hidung dan mulut Maria, sehingga membuat Maria tak sadarkan diri. Setelah itu, Yon langsung mengangkat tubuh Maria dan memasukkannya ke dalam mobilnya itu.


"Gampang kan! Dia tidak memberontak dan bahuku juga aman," papar Yon membuat dahi Fan mengerenyit.


"Ya iyalah gampang, orang kamu pakai obat tidur. Sapi juga gak bakalan berontak kalau di kasih obat tidur," gumam Fan memicingkan matanya ke arah temannya itu.


"Sudah-sudah jangan bergumam terus dan cepat masuk ke mobil!"


"Iya-iya...."


Keduanya pun langsung masuk ke mobil dan tak lama kemudian, mereka bergegas pergi meninggalkan mobil milik Bunda Artiana yang di dalamnya masih ada Mira dan salah seorang supirnya yang belum sadarkan diri akibat di bius.


**********************************


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah Villa berlantai dua. Saat mobil sudah terparkir di halaman Villa tersebut, Yon dan Fan pun langsung turun dari mobilnya.


"Kamu ambil kursi roda milik Mrs Maria!" titah Yon.


"Baiklah Tuan tukang perintah." lagi-lagi Fan menggerutu.


Sedangkan Yon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengangkat tubuh Maria yang tengah tak sadarkan diri. Setelah di ambilnya kursi roda oleh Fan, Yon pun menempatkan Maria di kursi rodanya. Kemudian Fan mendorong kursi roda itu dan mereka berdua melangkah masuk ke Villa menuju ke ruang di mana bos mereka berdua berada.


Sesampainya, Yon dan Fan langsung membungkukkan badannya di hadapan seorang pria yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela kaca sambil memegang segelas champagne.


"Bos, kami sudah membawa Mrs Maria sesuai dengan perintah anda," ucap Yon.


Mendengar ucapan Yon, Pria itu langsung menyunggingkan senyum sinisnya.


"Kerja bagus!" pujinya sembari meletakkan gelas champagne-nya.


Kemudian ia membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menghampiri Yon dan Fan. Saat sudah berada di hadapan mereka, pria itu pun mengarahkan pandangannya ke arah Maria yang masih tak sadarkan diri di atas kursi rodanya.


"Apa yang terjadi padanya? Apa kalian membiusnya? tanya pria itu.


Yon mengangguk. "Iya bos, kam ah maksudnya saya yang telah membiusnya."


Mendengar itu, sontak pria tersebut langsung mencengkeram kerah Yon.


"B-bos!" lirih Fan.


"Bodoh! Sebelumnya aku sudah bilang kan untuk membawa Maria dalam keadaan sadar. Tapi kenapa kamu malah membiusnya?" sungut pria itu.


"Maaf bos, saya terpaksa membiusnya karena Mrs Maria memberontak bahkan Fan sampai di gigit olehnya." jelas Yon.


Pandangan pria itu pun mengarah ke Fan. "Fan, apa benar yang dikatakan oleh Yon?"


Fan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Apa yang di katakan oleh Yon itu benar, Bos. Mrs Maria telah menggigit saya dan juga mencengkeram bahu saya sampai meninggalkan luka," jelas Fan sambil menunjukkan bahunya yang bekas di cengkram Maria.


Melihat itu, seketika ia langsung melepaskan cengkeramannya dari Yon.


"Terimakasih banyak bos," ucap Yon menunduk.


"Hmmmm, sekarang kalian bawa Maria ke kamar belakang dan ikat dia!" titah pria itu pada Yon dan Fan.


Mereka berdua pun langsung mematuhi perintah dari pria itu. Sesaat setelah mereka pergi, pria itu kembali menuangkan Champagne-nya dan meneguknya.


"Mommy Evelyn, aku berjanji akan segera membebaskan Mommy dan juga semua sodara Mommy," ucapnya.


(Nama Evelyn pernah di sebutkan oleh Maria di chapter 125 Rencana Yang Gagal.)


**********************************


Rumah Sakit


Sementara itu, Zuy nampak berada di dalam ruang UGD dan tengah duduk di samping Bi Nana sambil memegang tangan Bi Nana yang masih belum sadarkan diri, nampak air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


......................


Beberapa saat sebelumnya....


Lalu perlahan Aries mengangkat kepalanya kembali sembari menghela nafasnya dan di lirikan matanya ke arah yang lainnya.


"Om Randy, dia ...."


"Kenapa Kak?" sela Zuy.


"Baby jangan menyelanya! Biarkan Aries menyelesaikan perkataannya ya!" tutur Yiou. "Ayo lanjutkan Yank!"


"Om Randy kritis," ujar Aries.


"Kakak bilang apa! Paman kritis?" lontar Zuy yang terkejut.


Bukan hanya Zuy saja, semua yang berada di sana pun ikut terkejut juga.


"Iya Zuy, dan sekarang beliau sudah di pindahkan ke ruang ICU. Dokter juga mengatakan bahwa akibat hantaman keras dari kecelakaan itu yang mengenai kepala dan dada Om Randy. Sehingga Om mengalami gegar otak parah, pembuluh darahnya pun pecah. Selain itu, ternyata Om Randy mempunyai riwayat penyakit kanker pada paru-parunya," jelas Aries di barengi dengan aliran air matanya.


"Tidak! Kakak pasti bohong kan? Yang Kakak katakan itu tidak benar kan?" cecar Zuy yang tidak percaya dengan penjelasan Aries.


"Kakak tidak berbohong, yang semua Kakak katakan itu benar adanya, bahkan Kakak juga mendonorkan darah Kakak untuk Om. Sebab kecelakaan itu juga, Om Randy jadi kehilangan banyak darah, untung saja golongan darah Om sama dengan Kakak. Jadi Kakak secepatnya donorkan darah Kakak untuk Om Randy," kata Aries sambil menunjukkan tangannya yang di perban.


Sontak membuat tangis Zuy kembali pecah, dadanya pun terasa sakit saat mendengar perkataan Aries tentang kondisi Pak Randy. Ray yang berada di sampingnya pun langsung memeluk Zuy seraya menenangkannya.


Hiks....


"Paman...."


"Sayangku yang sabar ya! Kita doakan saja semoga Om Randy bisa melewati masa kritisnya," tutur Ray mengelus punggung Zuy.


"Benar apa yang di katakan oleh Ray, Zuy. Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan Om Randy, supaya Om Randy cepat sembuh dan sehat seperti sedia kala," sambung Aries.

__ADS_1


Ya meskipun status Pak Randy hanyalah seorang Paman (suami dari Bi Nana) akan tetapi kasih sayang yang di berikan Pak Randy pada Zuy, layaknya seorang Ayah terhadap anaknya.


"Kak Aries, Kakak Zuy kenapa menangis? Apa yang terjadi pada Papih? Terus kenapa tangan Kak Aries di pakein plester?" lontar beberapa pertanyaan dari Nara.


Seketika membuat beberapa pasang mata mengalihkan pandangannya ke Nara.


"Sayangku, berhentilah menangis! Lihat Nara jadi bertanya kan gara-gara melihat kamu menangis seperti ini," lirih Ray.


Zuy pun langsung melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Maaf, aku lupa kalau Nara ada di sini," ucap Zuy dengan nada pelan.


Aries yang berada di dekat Nara pun langsung mengangkat tubuh Nara dan menggendongnya.


"Kak, Papih...."


Aries tersenyum dan berkata, "Nara tenang ya! Papih baik-baik aja kok."


Aries terpaksa membohongi Nara supaya Nara tidak bersedih karena kondisi Pak Randy.


Pandangan Nara mengarah ke Zuy. "Terus Kakak Zuy kenapa nangis?"


"Kakak gak kenapa-napa Nara, mata Kakak hanya kelilipan saja," Zuy pun ikut serta membohongi Nara.


"Kakak bohong ya sama Nara? Kakak sebenarnya nangis kan? Makanya di peluk Om ganteng." lontar Nara yang curiga pada Zuy.


"Euuum maaf Nara! Kakak ...."


Lalu tiba-tiba Ray menepuk pelan bahu Zuy membuat Zuy menghentikan perkataannya dan menoleh ke Ray.


"Ray...."


Ray hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian ia mendekat ke arah Nara yang sedang di gendong Aries, lalu di daratkan tangannya di atas kepala Nara.


"Nara ganteng, apa yang Kakak Zuy katakan itu benar. Mata Kakak Zuy memang kelilipan, makanya tadi Om memeluknya sambil meniup mata Kakak biar gak sakit," ujar Ray.


"Oh gitu ya Om ganteng, maafin Nara ya Kak Zuy! Karena udah bilang Kakak bohong," ucap Nara.


"Iya Nara, Kakak udah maafin Nara." balas Zuy. "Maafin Kakak ya Nara, karena sudah membohongi mu," sambung kata hatinya.


Sesaat kemudian Dokter keluar dari ruang UGD. Zuy dan Ray pun langsung menghampirinya, sedangkan Aries dan lainnya menjauh beberapa jarak karena mereka tidak ingin Nara mendengar kondisi Mamihnya itu.


"Dok, bagaimana keadaan Bibi saya?" tanya Zuy.


"Keadaan Nyonya Nana sudah sedikit membaik, lukanya juga tidak terlalu parah, hanya saja saat beliau belum sadarkan diri." jelas Dokter.


"Lalu kapan Bi Nana akan di pindahkan?" tanya Ray.


"Tunggu beliau sadar dulu, baru kami akan memindahkannya ke ruang rawat," ujar Dokter.


"Kalau begitu, berikan kamar VVIP untuk Bi Nana!" pinta Ray.


Dokter pun mengangguk. "Baiklah Tuan, kami akan menyiapkan kamar VVIP untuk Nyonya Nana."


"Terimakasih...." ucap Ray.


"Euuum maaf Dok, apa saya boleh melihat Bi Nana?" tanya Zuy.


"Boleh, tapi hanya satu orang saja!"


Mendengar itu, Zuy dan Ray saling menatap satu sama lain. Lalu....


"Kalau begitu biar saya saja yang melihatnya," kata Zuy.


"Silahkan Nona! Tapi pesan saya, jika nanti Nyonya Nana sadar, jangan beritahukan tentang kondisi suaminya! Saya khawatir Nyonya Nana akan shock bila mendengar keadaan suaminya itu," pinta Dokter.


Zuy menganggukkan kepalanya. "Baik Dok. Saya tidak akan memberitahu Bi Nana soal keadaan Paman."


Dokter pun tersenyum. "Yaudah kalau begitu saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa dengan pasien, anda langsung hubungi saya!"


"Iya Dok."


Dokter itu langsung melenggang pergi meninggalkan Ray dan Zuy.


"Sayangku, apa kamu yakin ingin melihat Bi Nana sendirian?"


"Iya Ray. Barusan Dokter bilang hanya satu orang saja yang boleh melihat Bi Nana."


"Tapi sayangku, apa kamu akan baik-baik saja saat melihat kondisi Bi Nana?" tanya Ray khawatir.


Zuy menghela nafasnya, kemudian ia mencium kilat bibir si pria tampan yang berada di hadapannya itu.


"Ray, kamu tenang aja ya! Aku pasti baik-baik saja," kata Zuy meyakinkan Ray.


"Baiklah, kalau sayangku sudah bicara seperti itu. Aku akan menunggumu di luar bersama si kembar," balas Ray.


"Terimakasih tampan-ku, yaudah kalau begitu aku masuk dulu ya!" ucap Zuy sekaligus pamit.


Kemudian Zuy melangkah masuk ke dalam ruang UGD itu, sedangkan Ray berkumpul bersama yang lainnya.


Kilas balik end.


......................


"Bi Nana, Zuy mohon bangunlah! Jangan lama-lama tidurnya, kasihan anak-anak Bibi. Terutama Rana, ia masih sangat membutuhkan Bi Nana. Bi, Zuy benar-benar sangat sedih melihat keadaan Bi Nana seperti ini. Andai saja bisa di gantikan, pasti Zuy mau menggantikan rasa sakit yang Bi Nana alami saat ini." ucap Zuy yang menangis sembari menangkupkan wajahnya di samping Bi Nana.


Lalu tiba-tiba tangan Bi Nana bergerak dan membalas genggaman Zuy.


"Na...ra." lirih Bi Nana.


Sontak membuat Zuy langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bi Nana.


"Bi Nana!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2