
<<<<<
Betapa terkejutnya Zuy saat membacanya, tangannya nampak gemetaran, sampai-sampai kertas yang berada di tangannya terjatuh.
"Ja-jadi, Mrs Maria benar-benar Ibu kandungku?"
Deeg....
Jantung Zuy berdegup kencang, nafasnya mulai tak beraturan, kakinya pun terasa lemas seakan tak mampu menopang tubuhnya itu dan ....
Bruuugh....
Karena saking lemasnya, Zuy menjatuhkan dirinya sendiri dengan posisi duduk menunduk, wajahnya pun nampak memucat, bahkan terlihat air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya. Bunda Artiana yang melihat cucunya seperti itu pun langsung menghampiri dan memeluknya.
"Cucuku!!!"
Akan tetapi Zuy tidak membalas pelukan Bunda Artiana, ia hanya menundukkan kepalanya saja.
"Nenek tahu, ini sangat mengejutkanmu. Tapi ini lah kenyataannya, bahwa kamu adalah cucu pertama ku," ujar Bunda Artiana.
Hiks....
"Kenapa.... Kenapa...." lirih Zuy.
Sesaat kemudian Zuy mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukan Bunda Artiana.
"Cucuku!" lirih Bunda Artiana.
Pandangan Zuy kini mengarah ke Maria dengan sorot matanya yang tak biasa.
"Zoya...." ucap Maria
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini, kenapa harus anda, Mrs Maria?" sentak Zuy.
Mendengar itu, membuat hati Maria sakit. Lalu tiba-tiba Maria menjatuhkan diri dari kursi rodanya.
"Mam...." seru Archo mendekati Maria.
Saat Archo ingin menolong Maria, akan tetapi Maria malah menepis tangan Archo, membuat Archo kebingungan. Lalu kemudian dengan sekuat tenaganya Maria merangkak menghampiri Zuy, saat sudah dekat dengan Zuy, Maria langsung merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Zuy, Maafkan Mamah. Mamah sudah meninggalkan mu, bahkan Mamah berkali-kali menya ...."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Zuy mendorong tubuh Maria, sontak membuat Bunda Artiana dan Archo terkejut.
"Zoya...." lirih Maria
Lalu....
"Kenapa baru sekarang anda datang dan mengakui ku sebagai anak? Kemana saja anda selama ini?" pekik Zuy.
Seketika Maria menundukkan kepalanya, air matanya pun nampak mengalir membasahi pipinya itu.
"Maaf, Mamah...."
"Mrs Maria, anda pergi meninggalkan anak anda di saat ia masih membutuhkan kasih sayang anda. Bahkan anak yang anda tinggalkan itu, sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi punya anak. Apa anda tau itu, Hah! Dan di saat kalian berdua di pertemukan kembali, apa yang ia dapat dari ibunya itu? Bukan pelukan hangat yang ia dapatkan melainkan siksaan dari anda, Mrs Maria." cicit Zuy meluapkan emosinya.
Sehingga membuat Bunda Artiana dan lainnya terdiam.
"Dan sekarang dengan mudahnya anda meminta maaf. Apa anda tahu bagaimana perasaannya selama ini? Apa anda tahu betapa ia sangat merindukan sosok ibunya yang pergi entah kemana. Apa anda tahu betapa tersiksanya ia selama ini? Apa anda tahu ...." ungkap Zuy yang di lanjutkan dengan tangisannya.
Melihat Zuy menangis sejadi-jadinya, Maria pun kembali mendekat dan memeluknya.
"Zoya.... Maafkan Mamah," ucap Maria.
Akan tetapi Zuy tidak membalas pelukan Maria, bahkan lagi-lagi ia mendorong tubuh Maria, lalu kemudian Zuy perlahan bangkit dari posisinya.
"Zoya...."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Zoya! Aku bukan Zoya dan aku sangat membenci anda, Mrs Maria!" cetus Zuy.
"Zoya dengarkan perkataan Mamah dulu!" pinta Maria tersedu-sedu
Namun Zuy tidak memperdulikannya, ia malah melangkah keluar dari rumah itu. Karena tidak tahan, Archo segera bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya untuk mengejar Zuy, akan tetapi saat berada di ambang pintu, tiba-tiba....
"Bundaaaa...!!!" teriak Maria.
Sontak membuat Archo menghentikan langkahnya dan memutar badannya. Betapa terkejutnya Archo melihat Bunda Artiana pingsan.
"Bundaaaa...." seru Archo.
Ia pun langsung menghampiri Bunda Artiana dan Maria.
"Mam apa yang terjadi?" tanya Archo.
"Gak tau, tiba-tiba Bunda pingsan," jawab Maria.
Archo lalu mengambil hpnya dan menghubungi Dimas.
Tuuut...
"Iya Tuan Archo, ada apa?" tanya Dimas dari sebrang telponnya.
"Dokter Dimas, Bunda pingsan," jawab Archo.
"Apa! Bunda pingsan?" Dimas terkejut mendengar jawaban Archo.
"Iya Dokter, bisakah anda pulang sekarang!" pinta Archo.
"Baiklah saya akan pulang sekarang!"
Lalu Dimas menutup telponnya.
Setelah itu, Archo langsung mengangkat tubuh Bunda Artiana.
"Mam, tunggu sebentar! Archo bawa Bunda dulu ke kamar," kata Archo.
Maria mengangguk. "Iya Archo."
Archo pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bunda Artiana.
"Semoga Bunda tidak apa-apa," ucap Maria.
...----------------...
Setelah keluar dari rumah Dimas, Zuy terus melangkahkan kakinya meskipun terasa lemas. Perasaannya saat ini benar-benar tercampur aduk. Lalu saat sudah menjauh dari rumah Dimas, Zuy menghentikan langkahnya dan berdiri di sisi jalan sembari menunggu taksi, lagi-lagi air matanya lolos membasahi pipinya.
"Aku harus bagaimana, Ray?" lirih Zuy.
*******************
Perusahaan CV
Sementara itu, Ray tengah mengadakan rapat di Perusahaannya. Lalu....
Deeg....
Tiba-tiba jantung Ray berdegup dengan kencang, ia merasakan sesuatu yang menyerang hatinya.
"Sayangku...." lirih Ray memegangi dadanya.
"Tuan Ray," tegur Davin yang tengah berdiri di samping Ray.
Ray lalu menoleh ke arah Davin. "Ada apa Kak Davin?"
"Maaf mengganggu lamunan anda, Tuan. Tapi saat ini kita sedang rapat, lihat tuh semua pada liatin anda," bisik Davin.
Pandangan Ray seketika mengarah ke semua karyawan dan dewan direksi yang hadir pada rapat tersebut.
"Maaf semuanya, ayo kita lanjutkan lagi rapatnya!" ucap Ray.
Rapat pun di lanjutkan kembali.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai dengan rapat Perusahaannya, semuanya pun kembali ke tempatnya masing-masing, begitu juga dengan Ray. Ia langsung ke ruangannya dan tengah duduk di kursi kebesarannya itu.
"Kenapa dari tadi perasaanku tidak enak, apa terjadi sesuatu pada sayangku?" ucap Ray
__ADS_1
Lalu ia mengambil hpnya yang berada di atas meja dan menghubungi pujaan hatinya itu. Akan tetapi hp Zuy malah tidak aktif.
"Sayangku, kenapa hp kamu tidak aktif?" ucap Ray.
Davin lalu masuk ke dalam ruangan Ray.
"Tuan Ray...."
Ray hanya melihatnya sekilas, lalu pandangannya beralih pada hpnya lagi.
"Tuan Ray, kenapa anda nampak gelisah seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Davin sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Entahlah," singkat Ray.
"Hmmm.... Paling juga gelisah anda ini karena merindukan Zuy," celetuk Davin.
"Iya itu salah satunya," seloroh Ray.
Seketika Davin langsung memutar bola matanya dengan malas.
"Sudah ku duga," gumam Davin.
"Tapi aku serius Kak, aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya," papar Ray.
"Tuan Ray, kalau anda merasakan perasaan seperti itu, coba anda hubungi Zuy!"
"Ini juga lagi ngehubungi dia, tapi hpnya gak aktif," jelas Ray.
"Mungkin sedang di cas, sabar Tuan Ray! Bentar lagi kita pulang," tutur Davin.
Lalu kemudian....
Drrrrrt... Drrrrrt.... Drrrrrt....
Hp Davin berdering, seketika ia langsung mengambil hpnya dari saku celananya, lalu Davin menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Davin.
"Pak, kami minta maaf," ucap si penelpon yang tak lain adalah pengawalnya.
"Minta maaf? Memang ada apa? Bicara dengan jelas!" pekik Davin.
"Begini Pak, kami kehilangan jejak Nyonya," ujar pengawalnya.
Sontak membuat Davin terkejut. "Apa! Kehilangan jejak Nyonya?"
Mendengar itu, Ray langsung bangkit dari posisinya dan merampas hp Davin.
"Apa yang kalian maksud kehilangan jejak Nyonya?" sentak Ray.
"Tu-Tuan Ray, kami minta maaf. Begini Tuan, tadi kami mengikuti Nyonya tanpa sepengetahuannya, awalnya pas sampai di tempat tujuan yaitu rumah yang biasa Nyonya datangin, wajah Nyonya nampak senang, tapi tak lama Nyonya keluar dari rumah itu, Nyonya nangis-nangis Tuan Ray," jelas pengawalnya.
"Apa! Nyonya nangis-nangis?"
"Iya Tuan Ray, lalu Nyonya naik taksi, kami pikir Nyonya pulang ke rumah. Karena itu kami tidak mengikuti Nyonya, selain itu juga ban motor kami bocor. Setelah selesai menambal, kami langsung pulang ke rumah, tapi Bu Ima bilang Nyonya belum pulang sampai sekarang," ujar pengawalnya.
Sontak membuat Ray tersentak, ia pun mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kalian! Cepat cari Nyonya sampai ketemu! Sekarang!" perintah Ray dengan nada lantang.
"I-iya Tuan Ray, kami akan segera mencari Nyonya," patuhnya.
Lalu telpon di tutup.
"Tuan Ray...." tegur Davin.
"Ternyata ini penyebabnya, makanya dari tadi perasaanku tidak enak," lirih Ray. "Kak Davin!"
"Iya Tuan Ray."
"Aku akan pergi mencari sayangku, Kakak tetaplah disini sampai pulang kerja nanti!" titah Ray sambil memberikan hp milik Davin.
Davin menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan Ray. Hati-hati Tuan Ray! Nanti setelah pulang, saya akan membantu anda mencari Zuy," tutur Davin.
Lalu kemudian Ray melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
Sesaat setelah berada di luar Perusahaannya, Ray segera masuk ke dalam mobilnya, lalu kemudian ia melajukan mobilnya pergi untuk mencari Zuy.
********************
Kota M
Saat yang lain tengah mencari keberadaan Zuy, dan ternyata orang yang mereka cari kini tengah berada di kota M dengan menggunakan taksi. Sesaat setelah sampai di di tempat tujuannya, yaitu makam di Kota M, Zuy langsung turun dari taksi tersebut.
Kemudian ia berjalan masuk ke pemakaman itu, setelah melewati beberapa makam, Zuy akhirnya sampai di makam milik Papahnya, ia pun langsung bersimpuh di depan makam Papahnya itu.
"Papah, Zuy datang! Maaf kalau selama beberapa bulan Zuy gak datang menemui Papah, bukan karena Zuy gak kangen sama Papah, tapi karena kondisi Zuy yang sekarang tengah mengandung cucu Papah, ya sebentar lagi Papah akan punya cucu. Apa Papah senang mendengarnya? Selain itu juga, Zuy datang karena Zuy sudah tahu siapa Mamah sebenarnya. Harusnya Zuy senang dan bahagia kan Pah, mengetahui siapa Mamah yang sebenarnya, tapi kenapa justru berbalik. Zuy malah sedih, bahkan tidak menyukainya. Papah, Zuy harus bagaimana?" ungkap Zuy meluapkan semua isi hatinya.
Ia pun menangkupkan wajahnya di atas pusara Papahnya itu, isak tangisnya kini terdengar dari mulutnya lagi. Sesaat kemudian Zuy kembali mengangkat kepalanya.
"Papah, untuk hari ini saja izinkan Zuy tidur di atas makam Papah. Zuy cape Pah, kepala Zuy juga terasa berat, bahkan kaki Zuy terasa lemas dan tidak sanggup untuk berja ...."
Belum selesai dengan perkataannya, tubuh Zuy tiba-tiba ambruk dan pingsan di atas makam Papahnya itu.
...----------------...
—Pukul 06.15Pm.
Sementara itu, Ray terus mencari keberadaan pujaan hatinya yang pergi entah kemana, rasa sedih, khawatir dan takutnya pun terus menyerangnya. Sebenarnya Ray sudah menghubungi Bi Nana, akan tetapi Zuy tidak ada di sana.
"Sayangku, kamu dimana?" ucap Ray yang terus mengedarkan pandangannya sambil mengemudikan mobilnya itu.
Lalu tiba-tiba....
Tiiiin....
Suara klakson mobil lainnya terdengar nyaring, sehingga membuat Ray mengerutkan dahinya, ia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Akan tetapi, mobil tersebut terus menyalip mobil Ray dan menghadangnya, sontak membuat Ray menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Tsk, kurang ajar! Siapa yang berani menghalangiku!" umpat Ray dengan raut wajahnya yang marah.
Lalu kemudian seseorang turun dari mobil tersebut, yang ternyata adalah Davin. Ray pun langsung turun dari mobilnya itu.
"Kak Davin, kenapa Kakak menghalangi jalanku?" pekik Ray.
"Tuan Ray, maaf kalau saya mengganggu jalan anda, tapi akan lebih baik jika kita mencari Zuy bersama-sama. Apa anda tidak merasa bahwa wajah anda sudah pucat seperti itu," ujar Davin.
"Tidak, aku tidak merasakannya dan aku tidak peduli dengan hal itu, yang aku pedulikan saat ini adalah takut dan khawatir jika terjadi sesuatu pada sayangku," sergah Ray.
"Iya Tuan, saya tahu itu. Tapi biarkan saya dan Airin menemani anda untuk mencari Zuy," seloroh Davin.
"Airin?"
Davin mengangguk. "Iya Tuan. Saya yang memberitahunya dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut mencari. Dia juga seperti anda, bahkan selama di perjalanan ia terus saja menangis."
Seketika Ray menundukkan kepalanya, lalu tiba-tiba....
Triiiiing.... Triiiiing.... Triiiiing....
"Tuan Ray, sepertinya hp milik Tuan berbunyi, cepat jawab! Siapa tahu penting," tutur Davin.
Ray menganggukkan kepalanya dan ia pun mengambil hpnya dari dalam mobilnya. Mata Ray langsung terbelalak saat mengetahui bahwa yang menelponnya adalah....
"Sayangku...."
"Benarkah itu? Syukurlah...." ucap Davin yang bahagia.
Ray segera menjawab panggilan dari telponnya.
"Sayangku...."
"Maaf Tuan, apa ini suami dari pemilik hp ini?" tanya seseorang dari sebrang telponnya.
Ray tersentak saat mendengar suara orang lain yang menghubunginya lewat hpnya Zuy.
__ADS_1
"Anda siapa? Kenapa hp istri saya berada di anda?" tanya Ray
"Saya Toto Tuan, saya ingin memberitahukan pada anda, Tuan. Bahwa Nona Zoey pingsan di atas kuburan Ayahnya dan sekarang ia sedang berada di Puskesmas," ujar Pak Toto.
"Apa! Pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sampai sekarang dia belum sadarkan diri, Tuan." jawab Pak Toto.
Seketika kaki Ray mendadak lemas saat mendengar keadaan pujaan hatinya itu.
Taaak....
Bahkan benda pipih yang berada di tangannya pun terjatuh. Sehingga membuat Davin terkejut melihatnya.
"Tuan Ray, apa yang terjadi?" tanya Davin.
Ray menoleh ke arah Davin, ia langsung memegang pundak Davin.
"Kak Davin, kita ke Kota M sekarang!" perintah Ray.
"Kota M? Memang Zuy di sana?"
"Sudah jangan banyak tanya, cepat kita kesana sekarang!"
Davin mengangguk dengan cepat, kemudian Ray mengambil jasnya yang berada di dalam mobil.
"Kau pulang bawa mobil ku! Aku akan pergi bersama Kak Davin," perintah Ray pada salah satu pengawalnya sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Siap Tuan Ray, hati-hati di jalan!" ucap pengawalnya.
Ray dan Davin segera masuk ke dalam mobilnya yang di bawa Davin, di sana juga ada Airin. Sesaat kemudian Davin melajukan mobilnya menuju ke Kota M.
*********************
Puskesmas di Kota M
Setelah selesai memberitahu Ray tentang keadaan Zuy, Pak Toto langsung masuk ke dalam kamar rawat yang berada di Puskesmas itu dan di sana juga ada Bu Sarmi istri Pak Toto.
"Apa dia sudah sadar Bu?" tanya Pak Toto
"Belum Pak, dan lagi panasnya belum turun juga," jawab Bu Sarmi. "Terus apa Bapak sudah menghubungi keluarganya?" sambung tanyanya.
"Sudah, suaminya sedang dalam perjalanan kemari," ujar Pak Toto.
Kemudian Bu Sarmi memandang ke arah Zuy sembari kembali mengompresnya.
"Pak, jadi dia benar-benar keponakan dari Nana?" tanya Bu Sarmi penasaran.
Pak Toto mengangguk. "Iya Bu, dia keponakan Nana."
"Gak di sangka dia sudah besar seperti ini, bahkan dia menjadi gadis yang cantik. Padahal dulu Ibu sering sekali menggendongnya saat Nana tengah merawat Kakaknya itu," ujar Bu Sarmi.
"Iya maka dari itu, Nana memberikan rumahnya untuk kita, dan bahkan setiap bulannya Nana mentransfer uang buat Bapak," kata Pak Toto.
Kenapa Bi Nana mentransfer uang ke Pak Toto, karena ia menitipkan makam Papahnya Zuy pada Pak Toto dan hitung-hitung membantu Pak Toto juga.
Bu Sarmi memanggut. "Iya Pak, berkatnya juga hidup kita gak kekurangan lagi. Ternyata Nana orangnya sangat dermawan."
Lalu tiba-tiba Zuy tersadar dari pingsannya, ia pun mulai membuka matanya.
"Aku dimana?" lirih Zuy.
Mendengar suara Zuy, membuat kedua orang tua itu terkejut, mereka segera melihat ke arah Zuy.
"Nak, akhirnya kamu sadar," ucap Bu Sarmi.
"Ibu siapa? Saya lagi dimana?" tanya Zuy
"Saya Bu Sarmi dan kamu sedang berada di Puskesmas karena pingsan," jawab Bu Sarmi.
"Apa! Saya pingsan?"
Zuy mencoba membangunkan tubuhnya, akan tetapi di tahan oleh Bu Sarmi.
"Nak, kamu jangan bangun dulu! Tubuhmu masih lemah," tutur Bu Sarmi, kemudian pandangannya mengarah ke Pak Toto.
"Pak, panggil Dokter sekarang!" titah Bu Sarmi pada Pak Toto.
Pak Toto mengangguk dan langsung melangkah keluar untuk memanggil Dokter.
"Sekarang jam berapa Bu?" tanya Zuy.
"Sudah mau jam 7 malam Nak," jawab Bu Sarmi.
"Apa! Sudah berapa lama aku pingsan, pasti Ray sedang mengkhawatirkan ku. Aku harus pulang sekarang!" Ucap Zuy sambil mencoba melepaskan jarum infus yang terpasang di tangannya.
Namun lagi-lagi Bu Sarmi menahannya. Lalu kemudian Pak Toto datang bersama Dokter.
"Akhirnya kamu sadar juga, padahal kalau kamu belum sadar, kami akan membuat surat rujukan ke rumah sakit," ujar Dokter.
"Dok, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa saya bisa pingsan begitu lama?" tanya Zuy.
"Kamu hanya kelelahan saja dan lagi kalau aku menebak, apa kamu sedang banyak pikiran?"
"Euuum itu...." Zuy menundukkan kepalanya.
"Gak di jawab juga gak apa-apa Nona, saya hanya menebak saja, tapi saya sarankan lebih baik anda jangan terlalu banyak pikiran! Bukan apa-apa sih, tapi posisi anda sekarang tengah hamil, nanti bisa-bisa akan berdampak buruk pada kandungan anda itu," tutur Dokter.
"Iya Dok maaf, lalu bagaimana dengan kandungan saya?" tanya Zuy.
Dokter tersenyum dan memegang pundak Zuy.
"Kamu tenang saja! Kandungan kamu baik-baik aja kok, dan lagi mereka juga sangat kuat," jawab Dokter.
Zuy pun tersenyum bahagia saat mendengar jawaban dari Dokter, ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Dokter itu.
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih banyak Dok." ucap Zuy
"Sama-sama, yaudah nih aku bawakan bubur untukmu, makanlah!" titah Dokter.
Zuy mengangguk. "Iya Dokter."
Lalu Dokter melangkah keluar dari ruangan Zuy.
"Biar Ibu yang nyuapi kamu ya!" kata Bu Sarmi
"Iya Bu, terimakasih banyak dan maaf merepotkan Ibu," ucap Zuy
Bu Sarmi tersenyum, lalu ia menempatkan bubur itu ke mangkuk dan mulai menyuapi Zuy.
**********************
Rumah Dimas
Sementara itu, Maria tengah berada di kamar Bunda Artiana sambil menunggu Bunda Artiana yang tertidur.
Beberapa jam yang lalu Bunda Artiana sudah tersadar dari pingsannya, saat Dimas menawarkan Bunda Artiana untuk di bawa ke rumah sakit, Bunda Artiana menolaknya. Ia lebih memilih untuk di rawat di rumah saja.
Lalu tiba-tiba Bunda Artiana mengalami sesak nafas, sehingga membuat Maria tersentak.
"Bunda.... Bunda apa yang terjadi? Dimaaas... Archoo...!" teriak Maria dari dalam kamarnya.
Sontak membuat Dimas dan Archo bergegas ke kamar Bunda Artiana.
"Kak ada apa?" tanya Dimas.
"Mam, apa yang terjadi?" timpal Archo.
"Bunda Dimas," Maria menunjuk ke arah Bunda Artiana.
Pandangan Dimas dan Archo pun beralih ke arah Bukan Artiana.
"Bundaaaa...."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌