Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Anything For You...


__ADS_3

<<<<<


"Rin, sepertinya kamu sangat bahagia jika bersama dengan Pak Davin ketimbang denganku, apa karena Pak Davin orang kaya banyak uangnya sedangkan aku hanya seorang OB saja.."


Lalu seseorang datang menghampiri Brian, "Kak Brian.."


Brian pun menoleh, "Eh kamu Sa, aku pikir siapa, belum pulang Sa?" tanya Brian, ternyata dia Salsa.


Salsa pun menggelengkan kepalanya, "Belum Kak, ini baru mau pulang," jawabnya, "Kita pulang bareng yuk Kak Brian..!!"


"Baiklah Sa.." balas Brian


Salsa langsung tersenyum bahagia, lalu ia merangkul lengan Brian, akan tetapi Brian malah menepis tangan Salsa.


"Maaf Sa, aku gak bermaksud ...,"


"Tidak apa-apa Kak Brian.." balas Salsa sambil tersenyum, akan tetapi ada rasa kecewa dalam hatinya, "Tsk, Kak Brian selalu saja seperti ini, kapan sih Kak Brian bisa ngertiin perasaan Salsa," batinnya.


Mereka pun bergegas pergi.


**********


Mall CCV


Hanya butuh waktu perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Davin dan Airin sampai di tempat tujuan yaitu Mall CCV, Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berdua pun langsung turun dari mobil dan bergegas menuju ke arah pintu masuk Mall.


Sesampainya di dalam Mall, mereka berdua langsung singgah ke toko perlengkapan bayi yang berada di dalam Mall tersebut. Setelah berada di toko..


"Rin, kira-kira apa ya kado yang cocok buat Bu Friska dan anaknya?" tanya Davin sambil melihat-lihat.


"Aku pun bingung Pak Davin, apa lebih baik kita beli pakaian saja ya.." ujar Airin.


Lalu tiba-tiba seorang wanita hamil datang menghampiri Davin.


"Permisi Tuan.."


Davin pun menoleh ke arah wanita itu, "Hmmmm, iya ada apa?" tanyanya.


"Bo-bolehkah saya memegang wajah anda?"


"Hah..!!" Davin terkejut mendengar pertanyaan wanita itu, sedangkan Airin hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Boleh ya Tuan..!! demi anak saya biar wajahnya mulus seperti anda.." ujarnya.


Sesaat Davin menghela nafasnya, "Huu, baiklah Bu.."


Davin langsung menyodorkan wajahnya ke arah wanita hamil tersebut. Akan tetapi wanita itu malah memanggil teman-temannya yang lagi hamil juga untuk datang dan mengerumuni Davin, sontak membuat Davin terkejut dan terbelalak.


"Mana, aku duluan dong yang pegang.."


"Eh aku juga mau duluan, biar anakku juga seperti dia.."


"Aku yang duluan pegang wajahnya.."


Lontaran demi lontaran dari wanita-wanita hamil itu sembari rebutan ingin memegang wajah Davin.


"Ke-kenapa malah begini sih.." pekik Davin, kemudian ia melihat ke arah Airin, "Rin, tolongin dong..!!"


"Udah turutin aja kemauan mereka Pak, hitung-hitung amal Pak, hahaha..."


"Riiin, tega kamu.." pekik Davin


Lalu para wanita hamil itu satu-persatu memegang wajah Davin, bahkan sampai ada yang mencubit pipinya. Sesaat kemudian, wanita-wanita hamil itu pun pergi.


"Akhirnyaaa..." ucap Davin, lalu ia menghampiri Airin yang tengah memilih baju bayi.


"Udah selesai dengan wanita hamil Pak? hihihi" tanya Airin meledek.


"Seneng ya kalau lihat aku menderita," gerutu Davin memicingkan matanya ke arah Airin.


"Hahaha.. maaf Pak Davin, yaudah ayo kita pilih hadiah untuk Bu Friska.." ajak Airin


Davin pun menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian akhirnya mereka selesai memilih hadiah untuk Friska. Lalu mereka keluar dari toko tersebut.


"Ayo, kita langsung ke rumah sakit..!!" ajak Davin


"Tunggu Pak Davin, Airin mau ke toko itu sebentar," Airin melangkahkan kakinya menuju ke toko tas, Davin pun mengikuti Airin dari belakang.


Setelah itu Airin dan Davin masuk ke dalam toko tas tersebut.


"Rin, apa kamu mau membeli tas?" tanya Davin


"Iya Pak Davin, tapi aku membelinya bukan untukku," ujar Airin.


"Lalu buat siapa?" tanya Davin kebingungan.


Airin tersenyum ke arah Davin dan berkata, "Ini untuk Zuy Pak Davin."


"Untuk Zuy?"


Airin pun menganggukkan kepalanya, "Iya Pak Davin, karena besok adalah hari ulang tahunnya," jelasnya.


"Hah..!! Tuan Ray juga besok ulang tahun," balas Davin.


"Berarti ulang tahun mereka sama dong, waah mereka berdua memang benar-benar berjodoh ya Pak Davin," ucap Airin.


Davin pun tersenyum, "Ya kamu benar Rin, akhirnya Tuan Ray mendapatkan orang yang tepat."


"Begitu pula dengan Zuy Pak, aku benar-benar bahagia untuknya, karena mendapatkan laki-laki seperti Tuan Ray yang tulus menerima Zuy," kata Airin, tak terasa ia menitihkan air matanya.


Lalu Davin menyentuh kepala Airin dan mengusap-usap rambutnya, "Sudah jangan menangis, ayo kita pilih hadiah untuknya.."


"Baiklah Pak Davin, tapi ...,"


"Tapi apa?!"


"Tapi turunkan dulu tangan anda Pak Daviiin..!!" pekik Airin


"Ahahaha, maaf Rin.." Davin pun langsung menurunkan tangannya dari kepala Airin.


"Aduuh berantakan deh rambutku..." gumam Airin merapihkan rambutnya.


Davin pun terkekeh, lalu Airin langsung memilih tas untuk di berikan pada Zuy. Beberapa saat kemudian, setelah selesai dengan urusannya di Mall, Airin dan Davin bergegas menuju ke rumah sakit, tempat di mana Friska berada.


******************


Rumah Sakit

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka pun sampai di rumah sakit. Sesaat setelah memarkirkan mobilnya, Davin dan Airin bergegas masuk dan langsung ke Resepsionis. Setelah mendapatkan informasi dari petugas Resepsionis, mereka pun langsung menuju ke ruang Ibu dan anak. Sesampainya, Davin dan Airin masuk ke ruang rawat Friska.


"Permisi.."


Friska dan keluarganya langsung menoleh ke arah pintu.


"Pak Davin, Airin.."


Airin dan Davin menghampiri Friska yang tengah duduk di ranjangnya.


"Bu Friska, selamat atas kelahiran anak anda.."


"Terimakasih Pak Davin, Airin" ucap Friska.


"Oh iya Bu Friska, ini hadiah dari kami," Davin memberikan hadiah untuk Friska.


"Aduuh, terimakasih banyak Pak Davin, Airin, maaf merepotkan kalian," ucap Friska.


"Sama-sama Bu Friska," balas Airin dan Davin.


Lalu Davin dan Airin melihat ke arah bayi-nya Bu Friska.


"Aiiih lucunya, lihat wajahnya putih mulus seperti anda Pak Davin," ujar Airin, "Apa mungkin karena Bu Friska setiap harinya berhadapan dengan Pak Davin terus, makanya wajahnya mulus seperti Pak Davin," sambung kata Airin.


Friska pun terkekeh, "Hihihi, kamu benar Rin, apalagi terakhir kali Pak Davin pegang perutku, jadi ya seperti itu wajah anakku."


"Ya bersyukur dong kalau mirip denganku, tampan, mulus, glowing, coba kalau mirip Tuan Ray, mungkin wajah anak anda akan sedingin es, Hahaha," ledek Davin


"Pak Davin ada-ada saja, tapi benar juga sih, secara wajah Tuan Bos walau tampan tapi dingin, hihihi" Airin pun ikutan tertawa..


Friska pun kembali terkekeh dengan perkataan Airin dan Davin, "Dasar kalian berdua, kompak ya kalau udah ngomongin atasan."


"Hehehe..."


******************


STOCKHOLM, SWEDIA


Β°Hotel


Ray dan Zuy sudah kembali ke hotel, setelah puas jalan-jalan di Gamla Stan, lalu mereka pun bergegas masuk ke dalam kamar hotelnya. Setelah berada di dalam tiba-tiba..


Hatchuuuuu


Suara bersin dari Ray menggema, membuat Zuy terkejut dan menoleh ke Ray.


"Tuan Muda, apa anda masuk angin?" tanya Zuy


"Entahlah, ini mungkin ada yang mengutukku, makanya Ray tiba-tiba bersin begini," ujar Ray sambil membuka sweaternya.


Saat sweater Ray sudah terlepas dari tubuhnya, mata Zuy terbelalak karena melihat darah yang menempel di lengan baju Ray.


"Tu-Tuan Muda, siku anda berdarah..!!" seru Zuy


"Oh iya kah?" Ray lalu melihat ke arah sikunya, "Hah..!! pantas saja agak sedikit sakit, ternyata ada lukanya," sambung kata Ray.


"Pasti gara-gara tadi ya, euum Tuan Muda duduklah dulu, Zuy ambilkan kotak P3k," pinta Zuy


Ray menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun mendudukan dirinya di atas sofa, sedangkan Zuy mengambil kotak P3k yang berada di dalam kopernya, setelah itu ia pun mendekat ke arah Ray dan duduk di sampingnya.


"Maaf Tuan Muda."


"Ssshhh, pelan-pelan sayangku," desah Ray menahan perih lukanya.


"Tahan ya..!!"


Setelah selesai megoleskan obat luka, Zuy pun membalut lukanya. Sesaat setelahnya..


"Nah udah selesai.."


"Terimakasih sayangku," ucap Ray, ia pun mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy.


"Maaf ya Tuan Muda, gara-gara menangkap Zuy, tangan anda jadi terluka," ucap Zuy sembari memasukan obat luka dan perban ke dalam kotak P3k.


Ray menggeserkan badannya sedekat mungkin dengan Zuy, kemudian ia memeluk Zuy dan mencium ke tengkuk leher Zuy.


"Tuan Muda, ngapain sih? geli tau.." pekik Zuy


Ray menghentikan aktivitasnya, kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Zuy


"Lagian sayangku selalu saja minta maaf," gerutu Ray


"Ta-tapi...,"


Lalu Ray mengangkat kepalanya, kemudian ia menangkup kedua pipi Zuy.


"Sayangku, jangan sering menyalahkan diri sendiri, lagian juga sudah kewajibanku melindungi sayangku, dan untuk luka segini mah tidak ada apa-apanya sayangku," ujar Ray.


"Iya Tuan Muda, pokoknya Zuy sangat berterimakasih pada Tuan Muda, karena sudah menolong Zuy sampai tangan anda jadi korban."


"Sama-sama sayangku," balas Ray, sekilas ia mengecup bibir Zuy.


Sesaat kemudian, Ray melepaskan tangannya dari pipi Zuy, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.


"Sayangku, Ray keluar sebentar ya.."


"Memangnya mau kemana Tuan Muda?"


"Ada urusan sebentar sayang," jawab Ray


"Oh, baiklah Tuan Muda.."


Lalu Ray melenggang keluar dari kamar hotelnya.


"Haaa.. mumpung Tuan Muda pergi, aku lebih baik segera bebersih," Zuy pun bangkit dari posisinya, kemudian ia bergegas menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai dengan aktivitasnya, Zuy langsung keluar dari kamar mandi dan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, lalu ia menyalakan pengering rambutnya dan langsung memakainya, tak lama Ray pun kembali.


"Sayangku sudah mandi?" tanya Ray sembari berjalan menghampiri Zuy.


"Sudah Tuan Muda," jawab Zuy


"Kenapa sayangku tidak menungguku?" tanya Ray menggoda.


Mendengar itu, Zuy langsung memicingkan matanya ke arah Ray, "Tuan Muda, kebiasaan ya, gak enak apa ya kalau gak godain Zuy," pekiknya.


"Hahaha, habisnya ekspresi sayangku lucu kalau lagi di godain gitu.."

__ADS_1


"Rayyaaaan..!!"


Ray pun terkekeh, kemudian ia mengambil pengering rambut yang berada di tangan Zuy.


"Tuan Muda, kenapa di ambil? Zuy lagi pakai nih.."


"Sayangku, biarkan Ray yang mengeringkan rambut sayangku, sayangku diam ya..!!" pinta Ray


"Baiklah Tuan Muda," balas Zuy.


Ray mengarahkan pengering rambut ke arah rambutnya Zuy sambil mengusap-usap rambut Zuy.


"Oh iya, sayangku kabarnya Bu Friska sudah melahirkan lho,"


"Apa..!! Tuan Muda tahu dari siapa?" tanya Zuy


"Tahu dari grup Chat sayang," jawab Ray.


"Zuy belum buka Chat, gara-gara gak ada sinyal di sini," lirih Zuy.


Kemudian Ray mematikan pengering rambut itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Tuan Muda, kenapa di matiin pengeringnya, apa rambutku sudah benar-benar kering?" tanya Zuy menatap Ray.


Bukannya menjawab, Ray malah tersenyum, lalu ia mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, setelah di ambil, Ray langsung memberikannya pada Zuy.


"Ini untuk sayangku.."


"Hah..!! apa ini Tuan Muda?"


"Buka saja sayangku..!!" titah Ray


Zuy segera membukanya, setelah di buka Zuy pun terkejut dan matanya membulat sempurna.


"Tuan Muda, I-ini..!!"


"Iya sayangku, itu I phone untuk menggantikan hp sayangku yang rusak," ujar Ray, ternyata ia memberikan Iphone untuk Zuy.


"Ta-tapi Tuan Muda ini kan..."


"Terima ya sayangku..!!" pinta Ray


Sesaat Zuy menghela nafasnya, "Haaa.. Baiklah Tuan Muda, nanti Zuy ganti ya Tuan, bila perlu potong gaji Zuy juga gak apa-apa," kata Zuy


Mendengar perkataan Zuy, Ray langsung mengerutkan dahinya dan menatap lekat wajah Zuy.


"Sayangku, Ray membelikan ini untuk sayangku, jadi sayangku tidak perlu menggantinya," ujar Ray sembari mencubit hidung Zuy.


Zuy pun terdiam dan menundukkan kepalanya, melihat Zuy seperti itu, Ray langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Untuk sayangku, Ray akan lakukan apapun, walaupun nyawa Ray taruhannya," lirih Ray membuat Zuy tertegun mendengarnya.


"Tuan Muda, terimakasih banyak.." Zuy langsung memeluk erat Ray.


Ray langsung membalas pelukan Zuy, "Iya sayangku.." balas Ray, "Anything for you my beloved wife," batin Ray


Lalu Zuy melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya, "Tuan Muda, kita makan kue yang kita beli yuk..!!"


"Oke sayangku, asal di suapin sayangku..!!" pinta Ray dengan nada manja


Zuy pun memutar bola matanya, "Dasar manja.."


"Manjaku hanya pada sayangku," kata Ray mengecup pipi Zuy.


"Tuan Muda, kebiasaan deh.." pekik Zuy


Ray kembali terkekeh, lalu mereka berjalan menuju ke arah meja makan yang berada di dalam kamar hotelnya.


******************


Teng.. Teng.. Teng...


Lonceng jam sudah berbunyi, menandakan pukul 12.00Am, ini hari yang sangat di nantikan untuk Ray dan Zuy. Di tempat tidur nampak Zuy yang tengah tertidur lelap, sedangkan Ray sedari tadi ia sibuk menyiapkan kejutan untuk pujaan hatinya, tentunya di bantu pengawal dan beberapa pegawai hotel. Sesaat kemudian setelah semuanya selesai, pengawal dan para pegawai hotel pun keluar dari kamar Ray.


Lalu Ray berjalan menghampiri Zuy yang tengah tertidur lelap dan duduk di tepi ranjang, kemudian ia mengelus lembut pipi Zuy dan membangunkan Zuy.


"Sayangku, Sayangku, bangun yuk..!!"


"Heeeeuung..." erang Zuy.


Sesaat kemudian Zuy mengejapkan matanya, perlahan ia membuka matanya yang sayu, setelah matanya terbuka, pandangan pertama tertuju pada Ray.


"Si Tampan-ku Rayyan," lirih Zuy sembari menyunggingkan senyuman, ia pun perlahan mengganti posisinya menjadi duduk menyandar.


"Ada apa Tuan Muda, kenapa membangunkan Zuy?" tanya Zuy lirih.


Lalu Ray mengambil kain kecil panjang, "Sayangku, maaf ya mata sayangku Ray tutup sebentar..!!" titah Ray,


Tanpa aba-aba dari Zuy, Ray pun menutup mata Zuy menggunakan kain tersebut.


"Tu-Tuan Muda kenapa mata Zuy di tutup?" tanya Zuy keheranan.


"Nanti sayangku akan tahu sendiri," jawab Ray.


Ray langsung menurunkan Zuy dari tempat tidurnya, kemudian ia menuntun Zuy ke arah Balkon, sesampainya Ray melepaskan tangan Zuy.


"Tu-Tuan Muda, apa Zuy boleh melepaskan kain ini?" tanya Zuy.


"Bentar lagi sayangku," seru Ray sembari mengangkat kue ulang tahun dengan lilin berbentuk ZR dan beberapa lilin-lilin kecil melingkar, lalu kemudian Ray menghampiri Zuy.


"Sayangku, sekarang sayangku boleh membuka kain penutup matanya..!!" titah Ray


Perlahan Zuy membuka pengikat tutup matanya, setelah itu ia pun membuka matanya. Zuy langsung terkejut sambil menutup mulutnya saat melihat Ray berdiri sambil membawa kue ulang tahun, air matanya tak dapat di bendung lagi.


"Tuan Muda..."


"Happy Birthday My dear.." ucap Ray


Lalu Zuy mendekat ke arah Ray, kemudian ia mendaratkan bibirnya ke pipi Ray, setelah itu Zuy ikut memegang kue ulang tahun tersebut.


"Happy Birthday too My Love.."


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ


__ADS_2