Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Adegan Menarik....


__ADS_3

<<<<<


Brugh!


Mendengar suara seperti benda jatuh. Sontak membuat Davin tersentak kaget, sehingga ia mengurungkan niatnya itu dan berbalik menoleh ke arah pintu kamar.


"Kalian!"


Sesaat sebelumnya....


Setelah keluar dari kamarnya, Ray dan Zuy bergegas menuju ke arah tangga. Zuy terlebih dahulu melangkah menuruni anak tangga tersebut kemudian di susul Ray di belakangnya. Saat sudah tinggal pijakan anak tangga terakhir, tiba-tiba Ray menahan tangan Zuy.


"Tunggu sebentar sayangku!" lirih Ray.


Sehingga membuat langkah Zuy terhenti dan menolehkan kepalanya ke lelaki tampannya.


"Ada apa Ray? Kenapa menahan ku? Aku kan mau lihat Airin takutnya dia kenapa-napa." cecar Zuy.


"Iya aku tahu sayangku, tapi tunggu dulu sampai Kak Davin masuk ke kamar Airin, setelah itu baru kita kesana melihatnya ya!" tutur Ray.


Zuy menganggukkan kepalanya. "Baiklah...."


Mereka berdua pun berdiri di tangga seraya melihat ke arah Davin yang kala itu sedang berjalan menuju ke kamar Airin. Ketika Davin sudah sampai di depan kamar dan membuka pintu kamar Airin kemudian melangkah masuk kedalam, Ray dan Zuy kembali menjejakkan kakinya menuruni anak tangga yang tersisa.


Setelah itu mereka berdua bergegas menuju ke arah kamar Airin. Dan ketika sudah berada di depan kamar, Ray kembali menghentikan langkahnya seraya berdiri di samping tak jauh dari pintu kamar Airin.


"Kenapa berhenti Ray?" tanya Zuy keheranan.


Ray menoleh ke arah pujaan hatinya yang berada di belakangnya sembari menempatkan jari telunjuknya di mulutnya sendiri.


"Ssssht! Kita masuknya nanti aja ya sayangku!"


"Memangnya kenapa lagi sih?"


Ray lalu menghela nafasnya sejenak.


"Soalnya aku ingin melihat adegan menarik dulu, sayangku." kata Ray sembari menyentuh caping hidung Zuy dengan jari telunjuknya.


Zuy pun mengerenyit. "Hmmm, adegan menarik? Maksudmu?"


Ray tersenyum, kemudian ia menarik pelan lengan Zuy dan memindahkan posisi Zuy yang awalnya berdiri di belakang Ray kini menjadi di depannya.


"Tuh, kamu lihatlah sendiri sayangku!" Ray menunjuk ke arah Davin dengan menggunakan dagunya.


Sehingga Zuy mengalihkan pandangannya ke arah Ray menunjuk, seketika senyumnya mengembang saat melihat Davin yang sedang membaringkan tubuh Airin.


"Hmmm, benar juga apa kata kamu, Ray. Ini memang adegan menarik yang aku nanti-nantikan, hihihi...."


"Nah iya kan, makanya kita di sini aja dulu sampai adegannya selesai ya sayangku!" tutur Ray.


"Oke," balas Zuy mengangguk. "Haaa, sayang sekali hp ku ada di kamar, coba kalau aku membawanya, mungkin aku bisa merekam dan menunjukkannya pada Airin. Pasti dia bakalan terkejut saat melihatnya," sambung batinnya.


Mereka berdua pun terus fokus mengintip Davin yang kini sudah memegang kepala Airin. Dan karena saking fokusnya mengintip, mereka tidak sadar bahwa di belakang Ray ada seseorang yang berdiri di belakang tubuh Ray, kemudian seorang itu pun menepuk keras punggung Ray.


"Aduuuh!" Ray memekik. "Sayangku kenapa memukul punggung ku?"


"Hmmm, aku? Memukul punggung mu? Mana bisa Rayyan, dari tadi aku di depan kamu lho." balas Zuy dengan suara lirih, akan tetapi pandangannya masih tertuju pada Davin.


"Oh iya ya. Kalau bukan kamu terus siapa?"


"Coba aja kamu tengok ke belakang! Mungkin aja pengawal kamu mau laporan."


Ray berdecak. "Ck, padahal lagi seru-serunya."


Sebelum menengok, Ray terlebih dahulu membuang nafasnya lalu ia langsung menolehkan kepalanya ke arah belakang.


"Ada perlu apa? Mengganggu orang lagi ngin ...."


Ray tiba-tiba menghentikan perkataannya seraya membelalakkan matanya karena terkejut melihat sosok wanita memakai dress tidur berwarna putih polos dengan rambut terurai serta wajah bermasker seraya menyunggingkan senyumnya.


"Ha-hantu!" seru Ray sehingga membuat orang itu mendengus kesal karena Ray mengatainya hantu.


"Dasar keponakan gak ada akhlak! Ini aku Yiou bukannya hantu." ujarnya yang ternyata Yiou.


Ray mendesah. "Huh! Ternyata Kakak, aku kira hantu adonan moci."


"Humph! Lalu apa yang kalian lakukan di depan kamar Airin?" tanya Yiou.


"Itu, kami sedang mengintip Kak Davin." jawab Ray.


Yiou tercengang. "Hah! Mengintip Davin?"


Lalu....


"Ssssht, kalian jangan berisik! Nanti ketahuan Pak Davin. Soalnya ini adegan serunya nih, Pak Davin lagi ngucapin kata romantis pengantar tidur untuk Airin." jelas Zuy.


"Serius?" ucap Ray dan Yiou serempak.


"Iya...."


"Benarkah? Mana aku juga ingin melihatnya," lontar Yiou yang juga penasaran.


"Kak, jangan mendorong ku! Posisi ku lagi gak seimbang nih," pekik Ray.


"Heh, lagian badan kamu kegedean sih. Harusnya kamu berdiri di belakang biar aku yang di depan!"


"Enak aja, Kak Yi aja yang di belakang!" Ray menolak sehingga membuat Yiou menautkan kedua alisnya karena kesal.


Dan dengan sengaja Yiou pun mendorong tubuh Ray sampai ia terjatuh bersamaan dengan Zuy.


•••


Mata Davin membulat sempurna karena melihat Yiou sedang berdiri di samping Ray dan Zuy yang tengah tersungkur di lantai dengan posisi Ray di atas tubuh Zuy.


Mendengar suara Davin, ketiganya langsung memalingkan wajahnya ke arah Davin.


"Hai Vin," Yiou melambaikan tangannya.


"Eum, malam Pak Davin!" sambung Zuy di susul dengan senyum yang menampilkan baris giginya.


Sesaat Davin menghela nafasnya dan berjalan mendekat ke mereka. Sedangkan Ray dan Zuy langsung bangkit dari posisinya itu.

__ADS_1


"Kamu sih pake jatuh segala jadi ketahuan Pak Davin kan. Hmm, padahal lagi adegan seru Pak Davin mau nyium Airin," Zuy menggerutu.


"Maaf sayangku! Tapi Kak Yiou tuh yang mendorong ku sampai aku terjatuh dan menimpa kamu," jelas Ray.


"Maaf Baby! Aku juga gak sengaja, habisnya si Tuan dingin ini gak mau ngalah sih," sambung ucap Yiou.


Zuy mendesah. "Kalian berdua ini!"


Lalu....


"Apa yang kalian bertiga lakukan di sini?" tanya Davin yang sudah di dekat mereka.


"Kalau aku sih, tentu saja ingin mengambil pesanan martabak ku, hanya saja aku melihat mereka berdua sedang berada di depan kamar Airin. Karena penasaran jadi aku samperin aja mereka, terus pas aku tanya, malah katanya lagi liat adegan seru," kata Yiou di susul tawa kecilnya.


"Kak Yiou...." pekik Ray.


"Hmmm, liat adegan seru?" Davin pun kembali melihat ke arah Ray dan Zuy. "Apa benar itu Tuan Ray, Zuy?"


Zuy pun mengibaskan tangannya.


"Tidak, bukan begitu Pak. Sebenarnya kami kesini juga karena kami khawatir," ujar Zuy.


"Khawatir?" lirih Davin menaikkan satu alisnya.


"Iya, soalnya tadi pas lagi di balkon aku gak sengaja liat Pak Davin menggendong Airin. Jadi aku khawatir takutnya Airin kenapa-napa, makanya aku sama Ray langsung kesini, Pak." jelas Zuy. "Iya kan Ray?"


Ray mengangguk. "Iya benar apa yang di katakan oleh sayangku ini."


Davin manggut-manggut.


"Oh begitu ya, aku pikir kalian berdua sedang melakukan misteri lantai berdecit." ujar Davin.


Ray mendengus seraya memutar bola matanya dengan malas.


"Huh! Orang satu ini pikirannya misteri terus."


"Ya namanya juga si Davino Roveis, Ray. Dia kan gak jauh dari yang namanya kata misteri," cetus Yiou, Davin pun terkekeh.


Kemudian....


"Pak Davin." Zuy memanggil Davin.


"Hmmm, kenapa Zuy?" sahut Davin.


"Euh, sebenarnya apa yang terjadi pada Airin? Apa dia pingsan? Makanya anda menggendongnya sampai ke kamar." cecar Zuy karena khawatir.


Sekilas Davin melihat ke arah Airin yang tengah tertidur, kemudian beralih kembali ke Zuy.


"Airin baik-baik aja Zuy, dia gak pingsan hanya tertidur saja. Ya memang sih keliatannya kaya pingsan, orang tadi waktu di parkiran juga aku udah coba bangunin dia eh bukannya bangun malah nambah ngoroknya, yaudah aku gendong aja dia sampai sini." jelas Davin.


Zuy pun langsung menghela nafas leganya setelah mendengar penjelasan dari Davin.


"Huft, syukurlah kalau Airin baik-baik aja." ucap Zuy.


Lalu kemudian Yiou menyilangkan kedua tangannya seraya menatap Davin.


"Oh jadi gitu ya Vin. Pantas saja kamu mengambil kesempatan untuk menciumnya," celetuk Yiou.


Sontak membuat Davin tercengang serta membulatkan matanya dengan sempurna dan bukan hanya itu saja bahkan pipinya memerah karena celetukan dari Yiou.


"Siapa yang mengada-ada Vin, nih saksinya mereka berdua yang ngeliat kamu dari awal sampai kamu mau mencium Airin. Tapi sayangnya gagal ya Vin gara-gara mereka berdua jatuh, hihihi...." ujar Yiou seraya meledeknya.


"Kasihan, baru mulai udah gagal. Hahaha...." timpal Ray di selingi tawanya.


"Maaf ya Pak Davin! Sudah membuat anda kecewa karena gagal mencium Airin." sambung ucap Zuy sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk V.


Mendengar itu Davin pun mendengus kesal.


"Dasar kalian bertiga ini selalu kompak ya kalau udah ngeledekin aku, huuumph!" gumam Davin sembari membuang wajahnya ke arah lainnya.


Ketiganya pun kembali menyemburkan tawanya.


Lalu....


Kruyuuuuuk....


Suara misterius tiba-tiba keluar dari perut Zuy, membuat mereka mengehentikan tawanya dan menoleh ke arah Zuy.


"Sayangku apa kamu lapar lagi?" tanya Ray mengelus pipi Zuy.


Zuy pun mengangguk. "Sepertinya sih iya, Ray."


"Kebanyakan ketawa sih jadi bunyi tuh perut." celetuk Davin. "Eh tapi sebenarnya dari tadi aku juga lapar sih, hehehe...."


"Hmmm, gara-gara kalian berdua aku juga ikutan lapar."


"Yaudah kalau begitu kita makan bersama!" ajak Ray.


Ketiganya pun menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Ray. Lalu kemudian Ray, Zuy dan Yiou melangkahkan kakinya menuju ke meja makan. Sebelum menyusul ketiganya Davin terlebih melihat ke arah Airin yang tertidur pulas seraya menyunggingkan senyumnya.


"Singa betina yang manis," lirih Davin.


Setelah itu, ia pun menutup pintu kamar Airin dan bergegas menuju ke meja makan.


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai menikmati makan malam tambahan, mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing dan beristirahat.


Di dalam kamarnya, Ray nampak tengah memijat punggung pujaan hatinya itu, karena Zuy mengeluh sakit di punggungnya akibat tertimpa lelaki tampannya tadi.


"Bagaimana sayangku, apa sudah enakkan?" tanya Ray.


"Ya, setelah di pijat mendingan sih gak kaya tadi," jawab Zuy.


Kemudian Ray melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy dan menyusupkan wajahnya ke ceruk leher pujaan hatinya seraya menciuminya dengan lembut.


"Sayangku...."


"Iya tampan-ku."


"Maaf ya sayangku, gara-gara aku menindih mu tadi, punggung kamu jadi sakit seperti ini," ucap Ray.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Ray, Zuy menolehkan kepalanya dan menempatkan tangannya ke pipi Ray.


"Iya tidak apa-apa. Lagian juga punggung ku udah sakit dari kemaren, jadi ya kamu jangan merasa bersalah seperti itu ya Daddy tampannya anak-anakku!" tutur Zuy.


"Baiklah sayangku."


Zuy pun tersenyum, lalu tiba-tiba Ray mengangkat tubuh Zuy dan menempatkannya di pangkuannya. Setelah itu, ia pun mulai memainkan kembali bibirnya menelusuri leher serta tubuh pujaan hatinya itu dengan buasnya bak serigala yang tengah lapar.


Ya malam ini bakalan memanas lagi gara-gara dua sejoli ini....


******************************


Di kediaman Noel Gallagher.


Sementara itu....


Desi nampak berada di dalam kamar Maria dan tengah mengompres Maria yang kala itu sedang sakit. Bukan hanya Desi saja, Noel juga terlihat ada di kamar tersebut.


Lalu....


"Bagaimana Des, apa panasnya sudah turun?" tanya Noel.


Desi pun menggelengkan kepalanya.


"Belum bos, panasnya malah tambah naik." jawab Desi.


"Apa! Dari tadi siang panasnya belum turun juga?"


"Iya Bos. Emmm, apa sebaiknya kita bawa aja ke rumah sakit ya? Takutnya Mrs Maria kenapa-napa bos." ujar Desi.


"Gak usah! Buang-buang uang aja."


"Tapi bos...."


Lalu tiba-tiba Noel mencondongkan tubuhnya ke arah Desi.


"Apa kamu masih ingin bekerja dengan ku, Des?" tanya Noel.


Desi mengangguk cepat. "Tentu bos, aku masih ingin bekerja dengan bos."


"Yaudah kalau kamu masih ingin bekerja dengan ku, maka kamu jangan pernah membantah perkataan ku! Mengerti?" sentak Noel.


Seketika Desi langsung menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya bos."


"Untuk kali ini aku memaafkan mu tapi tidak untuk lain kali Des." cicit Noel. "Dan besok aku akan menyuruh Fan untuk mencari Dokter terdekat di Kota ini," sambungnya.


"Iya Bos."


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Noel.


Desi hanya membalasnya dengan anggukan kecil saja, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.


Setelah mereka berdua keluar, Maria pun membuka matanya di barengi aliran bening yang keluar dari sudut matanya.


"Kapan penderitaan ini akan berakhir? Aku sudah benar-benar sudah tidak tahan lagi, rasanya aku ingin cepat-cepat terbebas dari sini. Setelah itu aku akan mencari si anak durhaka itu dan membuatnya membayar semua penderitaan yang aku alami sekarang ini!" ucap Maria di selingi umpatannya.


...----------------...


Keesokan harinya....


Fan baru saja tiba di kediaman Noel dengan membawa seorang Dokter seperti apa yang Noel katakan semalam. Dan setelah di bawa ke kamar Maria, Dokter pun langsung memeriksanya.


Sesaat setelah selesai memeriksa....


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu saya Dok? Apa penyakitnya serius?" cecar Noel yang pura-pura mengatakan bahwa Maria adalah Ibunya.


Dokter tersenyum dan berkata, "Anda tenang saja Tuan! Ibu anda hanya demam biasa aja dan tidak ada penyakit serius lainnya."


"Berarti Ibu saya gak perlu di rawat di rumah sakit kan Dok?"


"Iya, cukup di rawat di rumah aja," ujar Dokter


"Syukurlah...." ucap Noel.


Dokter lalu memberikan kertas resep obat pada Noel.


"Terimakasih Dok," ucap Noel mengambil kertas tersebut dari tangan Dokter.


"Sama-sama, yaudah kalau begitu saya pamit Tuan."


"Iya Dok, sekali lagi terimakasih." ucap Noel.


Dokter pun melenggang pergi.


"Ck, bener-bener wanita lumpuh merepotkan!" umpat Noel.


Lalu Noel memanggil Desi dan memintanya pergi ke apotik untuk menebus obat milik Maria.


*********************


Hotel


Di kamar hotel, Archo nampak masih terbaring di atas ranjangnya dengan tubuh masih tertutupi selimut. Dan saat mengganti posisinya, tiba-tiba Archo merasakan sesuatu yang berbeda sehingga membuatnya terbangun dan perlahan membuka matanya.


Lalu ketika matanya sudah terbuka, ia pun sangat terkejut melihat sosok wanita asing tengah tidur di sampingnya tanpa sehelai benang yang ada hanya selimut yang menutupi tubuhnya itu, begitu pula saat Archo melihat ke arah tubuhnya sendiri.


Sontak membuatnya langsung bangkit dari posisinya menjadi duduk.


"A-apa yang terjadi? Kenapa ada wanita asing di kamarku dan sebenarnya apa yang aku lakukan semalam?" lirih Archo mencoba mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Lalu tiba-tiba....


Praaaang....


Terdengar suara gaduh dari arah pintu kamarnya, seketika berhasil membuat Archo langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.


"A-Adriene!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2