
<<<<<
(Masih percakapan lewat telepon)
Sontak membuat Maria terkejut mendengarnya, ia pun menghela nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum membuka suaranya.
"Sebenarnya itu ...."
"Sebenarnya apa Maria? Jangan-jangan benar kalau Ray memang sudah menikah dan mempunyai anak," sela Liora yang tidak sabar mendengar jawaban dari Maria.
"Euuum, sebenarnya aku tidak tahu apa-apa soal Ray, Li." jawab Maria berbohong.
Entah apa yang di pikirkan oleh Maria sehingga ia membohongi Liora dari kenyataan yang sebenarnya tentang Ray yang sudah menikah dengan anak pertamanya dan mempunyai anak.
"Kamu bilang apa Maria? Kamu tidak tahu apa-apa soal Ray? Bukannya kamu sekarang ada di kota di mana Ray berada."
Liora pun terkejut mendengar jawaban Maria.
"Ya aku memang ada di Kota yang sama dengan Ray, akan tetapi selama aku berada di sini, Aku hanya tinggal di rumah saja dan tidak pernah kemana-mana. Tentunya kamu tahu akan kondisi ku sekarang ini seperti apa, jadi ya aku tidak tahu apa-apa soal kabar Ray yang sudah menikah dan punya anak. Tapi kalau menurut ku kabar tersebut hanya rumor saja, Liora." ujar Maria.
"Oh jadi seperti itu ya Maria, tapi aku tetap penasaran dengan foto bayi yang ada di hpnya Michael. Soalnya wajah mereka mirip dengan Rayyan," papar Liora.
"Ya siapa tau aja itu foto yang Michael ambil dari web, mungkin karena wajah mereka mirip dengan Ray, makanya ia jadikan foto bayi itu sebagai wallpaper di hpnya. Dan kamu pastinya tahu Li kalau Michael itu sangat menyayangi Ray," ujar Maria. "Tapi kalau kamu benar-benar penasaran dengan foto itu, lebih baik kamu tanyakan saja langsung pada Michael, siapa mereka sebenarnya," sambungnya.
"Penginnya sih begitu, cuma aku takut kalau Michael akan marah padaku, Maria. Dan lagi aku sempat curiga kalau Michael diam-diam selingkuh di belakang ku, terus mereka adalah anak-anaknya Michael bersama selingkuhannya," kata Liora.
Lalu....
"Hahaha.... Ya ampun Liora, kamu sampai mencurigai Michael seperti itu hanya karena foto. Kamu benar-benar deh Liora."
"Jangan ngetawain aku Maria! Aku begini juga karena aku tidak ingin ada orang lain selain dari keluarga FUCA yang masuk di keluarga MICHAEL." tegas Liora.
"Iya aku tahu Li. Begitu juga dengan aku yang tidak ingin Ray jatuh ke tangan orang lain selain Kimberly," balas Maria.
"Nah maka dari itu aku ingin menyuruh orang untuk menyelidikinya dan kalau benar foto bayi itu ada hubungannya dengan Michael ataupun Ray, maka aku tidak akan segan-segan untuk melakukan sesuatu terhadap mereka termasuk wanita yang telah melahirkannya."
Deeeg....
Seketika jantung Maria berdegup kencang, dadanya pun tiba-tiba terasa nyeri saat mendengar perkataan dari Liora.
"Li, apa kamu serius akan melakukan hal itu?"
"Tentu saja...."
"Li, kalau menurut ku lebih baik kamu bicara sama Michael, siapa mereka sebenarnya," tutur Maria.
"Ya, nanti aku coba bicara sama Michael setelah ia pulang dari Inggris nanti," balas Liora.
"Jadi Michael mau ke Inggris?"
"Iya, dia bilang ada kerjaan sama Willy di sana."
"Oh...."
"Udah dulu Maria, sepertinya Michael sudah memanggil ku."
"Baiklah Li, aku titip Kimberly ya!"
"Serahkan Kimberly padaku. Nanti aku juga akan coba bujuk Michael supaya dia mau membantu membebaskan Kimberly dari hukumannya," kata Liora.
"Terimakasih banyak Liora," ucap Maria.
"Sama-sama...."
Mereka pun memutuskan telponnya.
Setelah selesai berbincang dengan Liora, Maria pun langsung menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku malah berbohong sama Liora tentang Ray yang menikah dengan anak durhaka itu, harusnya kan aku dukung Liora, supaya Ray bisa bersatu dengan Kimberly," rutuk Maria.
Lalu ....
"Kak Maria...." panggil Dimas menghampiri
Mendengar suara Dimas, Maria mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Dimas, lalu Dimas mendudukkan dirinya di sofa sambil memandangi layar hpnya.
"Mereka lucu-lucu," ucap Dimas yang sengaja.
"Siapa yang lucu-lucu, Dim?" tanya Maria penasaran.
"Tentu saja cucu-cucu Dimas, Kak."
"Cucu-cucu kamu?"
Maria penasaran dengan perkataan Dimas membuat senyum Dimas mengembang. Kemudian ia mengarahkan hpnya ke arah Maria, sontak Maria langsung terpaku melihat foto bayi yang di tunjukkan oleh Dimas dan ternyata foto itu adalah foto Baby R dan Baby Z.
"I-ini siapa Dimas?"
"Tentu saja cucu-cucu Dimas, Kak."
"Maksudmu?"
Dimas menghela nafasnya. "Haaa.... Mereka kan anak dari keponakan Dimas, jadi mereka berdua itu adalah cucu Dimas."
"Ja-jadi mereka anaknya si anak durhaka itu?"
"Mereka anaknya Zuy Kak, bukan anak dari si anak durhaka," cetus Dimas.
"Ya terserah kamu, Dim. Bagiku dia adalah si anak durhaka." balas Maria.
"Huuu.... Gimana Kak? Mereka lucu-lucu kan?" tanya Dimas.
Maria mengangguk. "Iya mereka luc ah maksud ku biasa aja."
Maria langsung membuang wajahnya ke arah yang lain, akan tetapi nampak wajahnya yang merona dan senyum kecil terukir di bibirnya itu.
"Kak...."
"Udahlah Dimas, Kakak mau ke kamar dulu," ujar Maria.
"Mau Dimas antar?" tawar Dimas.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Maria dengan ketusnya.
Lalu Maria bergegas menuju ke kamarnya.
"Bisa di lihat dari wajah Kak Maria, kalau dia terlihat senang saat melihat kedua cucunya itu," lirih Dimas.
Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, Maria berhenti di depan meja rias yang berada di kamarnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah cermin meja riasnya itu.
"Ada apa dengan ku ini? Kenapa saat aku melihat foto kedua anaknya itu membuat perasaan ku berbeda, rasanya ada rasa bahagia dia hatiku ini." ucap Maria, lalu ....
Plaak
Tiba-tiba Maria menampar pipi kirinya dengan menggunakan tangan kirinya itu.
"Maria apa yang kamu katakan? Sadarlah mereka berdua terlahir dari si anak durhaka bukan dari Kimberly. Harusnya kamu membenci mereka, karena mereka sudah mengambil kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik Kimberly," sambung kata Maria.
***************************
__ADS_1
Rumah Sakit
Setelah lama berada di luar kamar rawat Zuy dan Baby R nampak tertidur, Ray pun bergegas masuk ke dalam kamar rawat tersebut dan menghampiri Zuy.
"Sayangku...."
Zuy menoleh. "Iya Ray, hmmmm.... Baby R sudah tidur?"
"Sudah sayangku...." Ray perlahan meletakkan Baby R ke Box bayi-nya.
Kemudian pandangannya mengarah ke Baby Z yang masih menyusu.
"Cantiknya Daddy, lahap banget minumnya. Daddy juga mau dong," ucap Ray mengelus pipi Baby Z.
Mendengar itu, Zuy pun melotot kan matanya ke arah Ray.
"Ray, jangan bicara macam-macam di depan anak ku!" pekik Zuy.
"Anak kita sayangku," Ray menoel caping hidung Zuy.
"Iya maksudnya anak kita."
Ray lalu mendudukkan dirinya di samping Zuy.
"Sayangku, nanti aku mau keluar sebentar ya sama Kak Davin," ujar Ray.
"Memangnya mau kemana Ray?" tanya Zuy penasaran.
"Aku mau menghadiri acara Farewell party-nya Bryllian Hyeong."
"Bryllian Hyeong?" Zuy berfikir sejenak. "Oh maksudmu Tuan Bryllian yang waktu itu mengundang kita ke acara Wedding Anniversary-nya yang di Swedia itu ya?" sambung tanyanya.
Ray mengangguk. "Iya sayangku. Dan sekarang dia mengadakan pesta perpisahan karena beberapa hari lagi dia akan pindah ke Inggris."
"Yaudah kalau begitu pergilah! Tapi hati-hati ya! Oh iya, Jangan lupa titip salam ku untuk Tuan Bryllian dan Nona Zivara." kata Zuy.
"Baik sayangku nanti akan aku sampaikan pada Bryllian Hyeong dan Nona Zivara. Terimakasih sayangku," ucap Ray, ia pun mengelus pipi Zuy.
Tak lama kemudian, Davin dan Airin datang.
"Hai anak-anak kesayangan Daddy. Daddy kalian sudah datang," seru Davin menghampiri.
Mendengar itu, Ray langsung mengerenyitkan keningnya.
"Kak Davin! Mereka berdua anak-anak ku." sungut Ray.
Sehingga membuat Zuy, Airin dan Davin terkekeh geli.
"Pak Davin, seneng banget ya godain Ray," papar Zuy.
"Habisnya aku senang kalau udah ngeledekin si bayi gede ini," ujar Davin.
"Ck, bener-bener manusia adonan moci ini," gerutu Ray. "Mumpung Kak Davin udah datang, jadi aku mau siap-siap dulu," sambungnya.
"Iya Ray," balas Zuy.
Ray lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
"Aah.... Cantiknya keponakan Tante," seru Airin memandangi Baby Z.
"Halo Tante Airin," ucap Zuy mewakili Baby Z.
"Aiiih, gemesin banget sih. Zuy aku mau menggendongnya!" pinta Airin.
Zuy pun mengangguk, lalu ia memberikan Baby Z pada Airin, perlahan Airin mengambil Baby Z dari tangan Zuy dan menggenggamnya.
"Ini bakalan nangis gak Zuy?" tanya Airin.
Airin memanggut, Davin lalu memberikan paper bag untuk Zuy.
"Oh iya Zuy, ini untuk kedua keponakan ku."
"Terimakasih banyak Pak Davin, Airin." ucap Zuy.
"Sama-sama Zuy," balas Davin dan Airin serempak.
Sesaat kemudian, Ray keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri Zuy.
"Bagaimana sayangku? Apa aku sudah tampan?" tanya Ray pada Zuy.
"Euuuum...." Zuy memandangi Ray dari atas sampai bawah. "Sangat tampan," sambung ucapnya.
Seketika membuat pipi Ray merona, sedangkan Davin dan Airin hanya menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Yaudah kalau begitu, aku berangkat dulu ya sayangku," pamit Ray.
"Iya Ray."
Ray lalu menatap ke Airin dan Davin, seakan tahu apa maksud tatapan Ray, Airin dan Davin segera membalikkan badannya. Kemudian Ray menangkup pipi Zuy dan menghujani ciuman di wajah Zuy. Sesaat setelahnya ....
"Sayangku, beneran gak apa-apa kalau aku tinggal bentar?" tanya Ray mengelus rambut Zuy.
"Iya tidak apa-apa Ray, kamu hati-hati ya!" balas Zuy.
Ray tersenyum, lalu ia mendekat ke arah Davin.
"Kak Davin," Ray menepuk pundak Davin.
"Oh Tuan Ray, apa sudah selesai misteri cup-cupannya?"
"Hmmmm, iya udah selesai. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Ray.
Davin mengangguk. "Oke Tuan Ray."
Ray lalu melihat ke arah Baby Z yang berada di gendongan Airin.
"Baby Z, Daddy pergi sebentar ya! Euuum, Rin aku titip mereka ya!" pinta Ray.
"Siap Tuan bos."
Ray dan Davin segera melangkah keluar dari kamar rawat Zuy, saat berada di depan mereka berpapasan dengan Bu Ima.
"Bu Ima, Ray titip Zuy dan si kembar ya!"
"Baiklah Tuan Ray," balas Bu Ima mengangguk.
Ray dan Davin kembali melangkahkan kakinya, sedangkan Bu Ima bergegas masuk ke dalam. Setibanya ....
"Eh Nak Airin, kapan datang?" tanya Bu Ima
"Barusan Bu, euuum Bu Ima dari mana?"
"Oh, ibu beli bubur kacang di depan, soalnya Nak Zuy ingin makan bubur kacang," ujar Bu Ima.
Airin mengalihkan pandangannya ke arah Zuy dan bertanya, "Benarkah itu Zuy?"
"Iya Rin, aku memang lagi pengin bubur kacang," jawab Zuy.
Airin pun mengangguk-angguk kepalanya saja.
__ADS_1
"Yaudah Ibu siapin buburnya dulu ya Nak Zuy," kata Bu Ima.
"Terimakasih Bu Ima, maaf ya ngerepotin Ibu," ucap Zuy.
"Sama-sama Nak, kamu tidak ngerepotin Ibu kok," ujar Bu Ima.
Bu Ima lalu menempatkan bubur kacangnya ke dalam mangkuk. Setelah itu, Bu Ima memberikannya pada Zuy.
"Nak Airin apa mau sesuatu?" tanya Bu Ima.
Airin lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu, soalnya Airin udah kenyang, tadi makan sama Pak Davin."
"Cieee, makin lengket aja kalian berdua," ledek Zuy.
"Buuuu.... Memangnya kita perangko apa. Dasar kamu ya suka banget godain orang," gumam Airin.
Zuy pun terkekeh. "Hihihi.... Habisnya aku gemes sih sama kalian berdua."
"Hmmmm, tapi lebih gemesin si kembar Zuy."
"Kalau itu mah jangan di tanya Rin, hahaha...."
Senyum Airin langsung mengembang saat melihat sahabatnya bahagia.
"Syukurlah.... Semoga kamu selalu bahagia ya Zuy. Pokoknya apapun yang terjadi, aku akan selalu di samping mu, Kakak." batin Airin.
...----------------...
Tak terasa malam hari telah tiba, semua orang pun masih berada di alam mimpi sambil memeluk guling dan bersembunyi di balik selimutnya.
Akan tetapi berbeda dengan Zuy yang nampak masih terjaga sembari menimang Baby Z. Karena sesaat yang lalu, Baby Z terbangun dari tidurnya dan menangis. Sedangkan Airin masih tertidur bersama dengan Bu Ima.
"Duh cantiknya Mamah, mau ngajak begadang Mamah ya? Makanya malam-malam begini kamu udah bangun," ucap Zuy pada Baby Z.
Lalu Ray datang dengan langkah besarnya masuk ke kamar rawat dan mendekat ke arah Zuy.
"Sayangku, kenapa kamu belum tidur?" tanya Ray.
Mendengar suara Ray, Zuy langsung membalikkan badannya.
"Ray kok udah pulang? Apa pestanya sudah selesai? Terus Pak Davin-nya mana?" tanya Zuy.
"Waktu aku minta izin pulang ke Bryllian Hyeong, sebenarnya acara puncaknya belum di mulai sayangku. Cuma saat di pesta aku kepikiran kamu dan si kembar, makanya aku buru-buru pulang. Kalau Kak Davin, dia lagi markirin mobil dulu, bentar lagi juga datang." ujar Ray. "Terus sayangku kenapa belum tidur? Apa sedang menunggu ku?" sambung tanyanya.
"Sebenarnya tadi aku udah tidur, Ray. Tapi Baby Z tiba-tiba menangis, makanya aku terbangun," jawab Zuy.
Ray memandangi Baby Z. "Oh, si cantiknya Daddy bangun ya! Sini Daddy gendong pasti langsung tidur."
Saat Ray hendak mengangkat tubuh Baby Z, tiba-tiba Zuy menjauh beberapa jarak dari Ray.
"Sayangku...."
"Kamu ke kamar mandi dulu sana! Sebelum menyentuh Baby Z." titah Zuy.
"Siap sayangku...."
Sebelum melangkah ke kamar mandi, Ray terlebih dahulu membuka sepatu, jas serta dasinya. Setelah itu, ia pun bergegas menuju ke kamar mandi.
Sesaat setelah beres aktivitas bebersihnya, Ray kembali mendekat ke arah Zuy.
"Udah bebersihnya?" tanya Zuy.
"Udah sayangku, sini berikan Baby Z padaku! Soalnya aku sudah kangen sama mereka," ujar Ray.
Zuy menganggukkan kepalanya, kemudian Ray mengangkat Baby Z dari tangan Zuy dan menggendongnya.
"Anak cantik, Daddy udah pulang nih, sekarang kamu bobo ya!" Ray mengajak ngobrol Baby Z sembari menimangnya.
Tak butuh waktu lama, Baby Z pun terlelap dalam gendongan Ray, lalu dengan perlahan Ray meletakkan Baby Z di sebelah Baby R.
"Hari ini Baby R malah lebih anteng dari biasanya," lirih Ray memandangi kedua anaknya itu.
"Ya sebenarnya beberapa jam yang lalu, Baby R juga terbangun karena lapar dan setelah kenyang ia langsung tertidur nyenyak," lontar Zuy.
"Kasihan sayangku, pasti sangat kelelahan ya?"
Zuy menggeleng. "Tidak, Zuy gak kelelahan Ray."
Mendengar perkataan Zuy, Ray menyunggingkan senyumannya, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Zuy dan ....
"Ehemm, ehem.... Ini sebenarnya kamar rawat atau kamar romantis ya?" seru Davin dari ambang pintu.
Seketika membuat Ray mengurungkan niatnya dan beralih ke arah Davin dengan tatapan tajamnya.
"Ahahaha maaf Tuan Ray, Zuy. Aku datang di saat yang tidak tepat," ucap Davin menggaruk kepala belakangnya.
"Ck, dasar adonan moci," umpat Ray.
"Haaa.... Mulai lagi deh...." lirih Zuy memutar bola matanya dengan malas.
**********************
Dua hari kemudian....
Villa Z&R
Di pagi hari yang cerah dan di tambah hari libur, membuat suasana di Villa semakin ramai, karena banyak orang yang berkumpul di Villa Z&R.
Sementara itu, setelah selesai memandikan si kembar, Zuy langsung membawa si kembar ke halaman Villanya untuk sunbathing alias berjemur, begitu pula dengan Rana yang kala itu ikut berjemur juga.
Setelah pulang dari rumah sakit, Ray langsung membawa Zuy dan kedua anaknya ke Villa mereka. Alasannya karena rumah masih belum selesai di renovasi dan lagi kalau di Villa lebih banyak kamarnya. Jadi jika ada yang datang dan menginap maka mereka bisa memilih kamarnya sendiri.
"Zuy titip Rana bentar ya! Soalnya Bibi mau ke kamar mandi dulu, udah gak tahan," kata Bi Nana.
"Oke Bi," balas Zuy mengangguk.
Kemudian Bi Nana langsung buru-buru masuk ke dalam Villa menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Zuy bersama dengan anak-anak.
Sesaat setelah Bi Nana ke dalam, lalu tiba-tiba ada dua orang lelaki yang datang ke Villa dan menghampiri Zuy.
"Anakku!" serunya.
Seketika Zuy langsung memalingkan pandangannya ke arah suara tersebut dan betapa terkejutnya Zuy saat melihat kedua laki-laki tersebut yang tak lain adalah....
"Mr Michael, Pak Willy!"
***Bersambung....
Author: "Hai Kakak2 kesayanganku, maaf ya baru sempat updet, soalnya Author sedang di rumah sakit. Setelah di periksa ternyata tifus dan terpaksa harus tinggal. 🙏🙏🙏
Oh iya bagi yang ingin tahu tentang kedatangan Ray dan Davin ke Farewell Party-nya Bryllian. Kalian bisa cus ke Novel kerennya Kak ZasNov yang berjudul The killer knight vs the Mafia Queen. Di jamin kalian bisa kesemsem sama suami orang, Eeh salah maksud ku para karakternya... 😁✌️✌️
See You Next Time.... 😘😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌