
<<<<<
Sebelum menjawab, Ray menghela nafas panjangnya terlebih dahulu.
"Itu peti jenazah milik Om Randy, sayangku." jawab Ray.
"Hah! Mi-milik Paman?"
Zuy terperangah dengan jawaban Ray tentang peti jenazah yang berada di sana yang ternyata milik Pak Randy. Sejenak Zuy terdiam dengan mulut yang menganga dan mata yang membulat sempurna.
Lalu sesaat ia kembali menggerakkan bibirnya dan berkata, "Ka-kamu pasti bohong kan Ray? Kamu pasti sedang becanda kan? Itu pasti bukan milik Paman Randy, melainkan milik orang lain yang nyasar ke rumah Paman iya kan Ray?"
Zuy tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Ray tentang Pamannya itu, namun tidak untuk matanya yang sudah berkaca-kaca.
Ray memegang kedua bahu Zuy. .
"Sayangku, tolong dengarkan aku! Saat ini aku tidak sedang berbohong ataupun becanda, apa yang aku katakan barusan itu benar bahwa peti jenazah itu milik Om Randy bukan milik orang lain. Dan Om Randy sudah pergi meninggalkan kita, sayangku." jelas Ray.
"Nggak! Zuy gak percaya Rayyan," hardik Zuy menggelengkan kepalanya.
"Sayangku...." lirih Ray.
Lalu Yiou pun mendekat ke arah Zuy. "Baby, apa yang Ray katakan itu memang benar adanya bahwa Om Randy sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya," paparnya terisak.
"Tidak! Kalian semua pasti bohong, Paman tidak mungkin pergi, Paman masih ada di rumah sakit dan dia masih tidur di sana." Zuy masih tetap saja tidak percaya.
"Sayangku, kalau kamu tidak percaya, ayo kita lihat dari dekat!"
Ray beralih menggenggam tangan Zuy lalu berjalan mendekat ke arah peti jenazah dan di susul lainnya. Kemudian mereka menghentikan langkahnya dan berdiri dengan jarak beberapa inci dari peti jenazah.
"Sayangku, lihatlah yang ada di dalam peti jenazah itu!" ucap Ray mengarahkan satu tangannya ke peti jenazah tersebut, sedangkan tangan satunya merangkul erat pundak Zuy.
Sontak Zuy membelalakkan matanya melihat tubuh Pak Randy yang terbaring lelap di dalam peti jenazah itu.
"Pa-Paman!" lirih Zuy, air matanya yang sudah ia tahan pun kini lolos dan mengalir membasahi pipinya.
Zuy tiba-tiba merasakan pening di kepalanya, dadanya pun kini benar-benar terasa nyeri, nafasnya tersengal-sengal seakan paru-paru tidak berfungsi normal, tubuhnya bergetar hebat bahkan kakinya sudah terasa lemas dan tak mampu menopang berat tubuhnya sehingga membuatnya hampir terjatuh.
Namun dengan sigap Ray menahan tubuh Zuy dan menariknya ke pelukannya. Zuy pun langsung menangis kencang di pelukan Daddy dari anak-anaknya.
"Sayangku yang sabar ya! Mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan dan takdir Om Randy berpisah dengan kita," ucap Ray mengelus punggung pujaan hatinya itu.
Zuy tidak berkata hanya isak tangisnya saja yang kencang membuat Ray semakin terenyuh. Dimas yang kala itu berada tak jauh dari mereka pun langsung mendekat ke arah Ray.
"Tuan Muda, lebih baik anda bawa Zuy ke kamar! Kasihan Zuy pasti dia sangat shock melihat Tuan Randy seperti ini, apalagi kondisi Zuy masih belum membaik," tutur Dimas.
Ray menganggukkan kepalanya.
"Iya Dokter Dimas," balas Ray kemudian beralih ke Zuy. "Ayo sayangku kita ke kamar dulu!" sambung ajaknya ke Zuy.
Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya sembari melepaskan pelukan Ray, lalu ia mendekat ke peti jenazah Pak Randy dan memandangi jasad Pak Randy.
"Paman! Kenapa Paman malah pergi ninggalin Bi Nana dan kami semua? Paman, bukankah Paman sudah berjanji akan selalu menemani Bi Nana, menjaga serta melindungi Bi Nana dan anak-anak Paman? Paman juga sudah berjanji akan menggantikan posisi Papah mengantar Zuy nanti. Zuy masih ingat tentang janji Paman itu ...."
......................
Flashback.
Β°Resto Nara
Kala itu di hari minggu, seperti biasanya Zuy selalu berada di resto menjadi waitress di sana. Ya bukan hanya di hari libur saja, setiap Pamannya minta bantuan, Zuy pasti langsung datang ke Resto untuk membantu.
Sebab saat itu Zuy masih bebas sendiri dan belum bertemu dengan Ray, karena Ray masih berada di Amerika.
Saat menjelang sore hari, Zuy terlihat sedang istirahat bersama dengan waitress yang bernama Rezna. Nampak jelas dari raut wajah mereka berdua yang kelelahan, sebab sedari tadi Resto sangat ramai pengunjung.
"Capeknya...." lirih Rezna seraya menghela nafasnya.
"Iya nih capek banget, mungkin karena hari minggu kali ya jadi banyak sekali pengunjung yang datang ke Resto, kita jadi sedikit kewalahan," ucap Zuy sambil mengarahkan kipas kecil ke wajah.
"Tapi kalau menurutku bukan hanya karena hari minggu deh Kak, tapi juga karena ada Kakak Zuy yang cantik," papar Rezna.
"Hmmm, kamu ini bisa aja Rez." gumam Zuy membuat Rezna terkekeh.
Sesaat....
"Kasihan para girls ini jadi kecapean gara-gara ramai pengunjung," seru seseorang menghampiri mereka.
Seketika Zuy dan Rezna langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut yang ternyata adalah....
"Paman Randy > Pak Bos!" ucap mereka berdua serempak.
Pak Randy pun menyunggingkan senyumnya pada Zuy dan Rezna. Lalu....
"Zuy, bisa ke ruangan Paman sebentar!" pinta Pak Randy.
"Iya Paman," balas Zuy mengangguk. "Aku tinggal bentar ya Rez!" sambung pamitnya pada Rezna sambil bangkit dari duduknya.
"Iya Kak."
Pak Randy melangkahkan kakinya terlebih dahulu, kemudian di susul Zuy di belakangnya. Sesampainya di ruangan milik Pak Randy, Zuy pun duduk di kursi dekat meja kerja Pamannya itu.
"Emmm, maaf Paman! Sebenarnya ada apa ya Paman menyuruh Zuy ke sini?" tanya Zuy.
"Tidak ada apa-apa, Paman hanya ingin mengobrol saja," jawab Pak Randy.
__ADS_1
"Oh...." lirih Zuy.
Lalu tiba-tiba saja Pak Randy menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Zuy, sontak membuat Zuy terperangah dan kebingungan.
"I-ini apa ya Paman?" tanya Zuy.
Pak Randy tersenyum dan berkata, "Itu uang untuk kamu, Zuy."
"Hah! Uang untuk Zuy?" Zuy tersentak dengan perkataan Pak Randy.
"Iya Zuy, uang itu untuk kamu. Kan Paman ngasihnya ke kamu," ujar Pak Randy.
Zuy mengerenyit. "Tapi kenapa Paman tiba-tiba ngasih uang ini ke Zuy? Apa ini bonus untuk Zuy karena Zuy bantuin Paman di Resto?"
"Ya kamu bisa anggap seperti itu, dan lagi sebenarnya Paman dengar dari Bibi kamu kalau tabungan untuk kuliah kamu di pakai buat nolongin keluarga teman kamu, apa itu benar?" ujar Pak Randy sekaligus bertanya.
"Ternyata Bi Nana cerita ke Paman ya!" batin Zuy.
Sesaat Zuy menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Iya itu benar Paman, Zuy memang memakai tabungan Zuy untuk bantu teman. Habisnya Zuy gak tega liat teman Zuy kesusahan dan sedih Paman." jelas Zuy.
"Oh jadi seperti itu ya? Hmmmm, kamu memang baik Zuy." ucap Pak Randy.
"Terimakasih Paman. Tapi yang paling baik itu Bi Nana, karena beliau lah Zuy bisa jadi seperti ini," ujar Zuy menyanjung Bi Nana.
"Hmmm, kalau itu gak usah di tanya lagi Zuy, Bibi kamu memang paling baik. Makanya Paman jatuh cinta pada Bibi kamu dan menikahinya langsung," lontar Pak Randy.
"Iya Paman. Zuy benar-benar sangat bersyukur karena Paman mau menerima Bi Nana menjadi istri Paman. Terimakasih ya Paman," ucap Zuy.
"Sama-sama Zuy." balas Pak Randy. "Ehemm, ngomong-ngomong soal menikah, gimana nih apa kamu sudah ada niatan ke sana? Lalu siapa calonnya?" sambung tanyanya.
Zuy kembali menghela nafasnya. "Kalau soal itu, Zuy belum ada niatan ke sana Paman."
"Memangnya kenapa Zuy? Padahal usia kamu sudah hampir menginjak 28 tahun lho. Sudah sepantasnya kamu untuk menikah," lontar Pak Randy.
"Ya karena ada sesuatu Paman," ujar Zuy.
"Sesuatu? Hmmm, apa jangan-jangan kamu masih nungguin dia ya?"
Zuy mengerenyit. "Nungguin dia? Maksud Paman?"
Seketika Pak Randy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, bukan apa-apa."
"Hummmph," Zuy mendengus.
Pak Randy terkekeh, lalu ia mendekat ke arah Zuy.
"Zuy...."
"Kalau kamu menikah nanti, izinkan Paman menggantikan posisi Papah Kamu ya, menjadi saksi dan pengantar untuk kamu nanti," kata Pak Randy.
Sontak Zuy kembali terperangah sampai membelalakkan matanya karena perkataan Pak Randy membuat Pak Randy keheranan.
"Lho kenapa ekspresi kamu seperti itu Zuy? Apa kamu tidak senang dengan apa yang Paman katakan barusan?" tanya Pak Randy.
Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa yang gak senang Paman, justru Zuy bahagia kalau Paman yang nanti akan menggantikan posisi Papah. Hanya saja Zuy kaget dan ingin memastikan bahwa perkataan Paman itu beneran atau hanya ingin mendesak Zuy saja supaya Zuy segera menikah," papar Zuy. Lalu....
Bletaak....
Tiba-tiba Pak Randy menyentil dahi membuat Zuy meringis.
"Paman...." pekik Zuy memegangi dahinya.
"Habisnya kamu bicara seperti itu sih, padahal yang Paman katakan itu benar Zuy. Kalau Paman ingin menggantikan posisi Papah kamu saat kamu menikah nanti," ujar Pak Randy.
"Syukurlah kalau begitu, tapi beneran janji ya Paman tidak boleh ingkar!"
Pak Randy pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Zuy Paman janji dan Paman tidak akan pernah mengingkarinya." tegas Pak Randy.
Seketika membuat Zuy tertegun dan langsung mengembangkan senyumnya.
"Terimakasih banyak Paman," ucap Zuy.
"Sama-sama gadis kecil."
Flashback end.
......................
"Paman bilang kalau Paman tidak akan mengingkari janji Paman, tapi nyatanya Paman sekarang malah ninggalin kami semua dan mengingkari janji Paman pada Zuy. Paman...." ucap Zuy terisak-isak.
"Ternyata kasih sayang Tuan Randy terhadap Zuy begitu besar ya, sampai Zuy seperti itu. Aku benar-benar iri terhadapnya," batin Dimas.
Ray lalu mendekat ke Zuy dan mendekapnya dengan erat.
"Sudah sayangku! Ikhlaskan Om Randy, biarkan Om pergi dengan tenang dan damai." tutur Ray mencium puncak rambut Zuy.
"Tapi dia Pamanku Ray, dia su..dah...."
"Iya sayangku aku tahu, Om Randy sudah seperti Papah untuk sayangku, tapi sayangku tidak boleh seperti ini, sayangku harus sabar dan ikhlas menerima kepergian Om. Masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu termasuk aku, sayangku."
__ADS_1
Zuy mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Lalu kenapa semalam kamu tidak bilang padaku tentang meninggalnya Paman? Kenapa kamu malah berbohong padaku? Kamu jahat Rayyan!" sentak Zuy.
"Maafkan aku yang jahat karena sudah membohongi mu, tapi aku lakukan ini karena terpaksa. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa saat mendengar kabar meninggalnya Om Randy. Apalagi kondisi kamu yang masih belum membaik, sayangku." ucap Ray yang terus mendekap pujaan hatinya itu.
Lalu....
"Zuy...." seseorang memanggil Zuy.
Zuy yang berada di dekapan Ray pun langsung menoleh ke arah orang tersebut, begitu pula dengan Ray.
"Bi Nana!" lirih Zuy.
Zuy langsung melepaskan dekapan Ray dan beralih ke Bi Nana yang berada di kursi roda seraya menggenggam erat tangannya.
"Bi, Paman...."
"Sudah! Kamu jangan menangisi kepergian Paman kamu itu! Dia sudah pergi dan tidak akan pernah pulang lagi untuk selamanya, dia sudah meninggalkan kita, Zuy. Dia mungkin sudah lelah menemani Bibi dan anak-anak, dia ...." ucap Bi Nana di barengi dengan air matanya.
Mendengar ucapan Bi Nana, Zuy langsung memeluk erat Bi Nana, seketika tangis keduanya kembali pecah. Semua yang berada di sana pun ikut merasakan kesedihan yang mendalam dari keluarga Bi Nana.
Beberapa jam kemudian....
Setelah selesai dengan semua proses persiapan, kini jenazah Pak Randy pun segera di berangkatkan ke lokasi pemakaman.
Setibanya di lokasi, peti jenazah Pak Randy di letakkan di samping liang lahat yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk Pak Randy. Semua keluarga yang ikut ke pemakaman pun berkumpul dan duduk di tempat yang sudah tersedia, karena mereka akan menyaksikan jalannya proses pemakaman Pak Randy.
Tak lama kemudian, prosesi pemakaman Pak Randy pun selesai dan berjalan dengan lancar. Meskipun tangis dari seluruh keluarga pecah saat menyaksikan jalannya proses pemakaman Pak Randy.
Sesaat satu-persatu para pelayat pun pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Hanya tersisa keluarga Pak Randy yang masih berada di sana. Bi Nana terus memandangi pusara dengan nisan yang bertuliskan nama RANDY ANKA WIJAYA. Buliran air matanya terus saja mengalir tak ada hentinya mengenang masa-masa indah bersama dengan Pak Randy.
"Papih! Terimakasih atas cinta yang telah Papih berikan selama ini, aku benar-benar bahagia menemukan seorang yang sangat mencintai ku bahkan mau menerima kekurangan ku. Aku sangat beruntung memiliki kamu di sisiku, seorang suami yang selalu mempermanja istri dan anak-anak." Bi Nana menyeka air matanya. "Sekarang tidak ada lagi senyuman Papih, suara lembut Papih saat memanggil namaku dan anak-anak, tidak ada lagi candaan Papih ketika kita sedang berkumpul bersama. Kini semua hanya tinggal kenangan saja karena sekarang Papih sudah benar-benar pergi jauh dan tidak akan pernah pulang ke rumah lagi. Maafkan aku Pih, jika selama ini aku masih banyak kekurangan saat mengurus Papih, maafkan aku jika aku banyak melakukan kesalahan terhadap Papih, maafkan aku...." sambung ucap dan tangis Bi Nana.
Semua yang mendengarnya pun ikut terenyuh dengan ucapan Bi Nana untuk suaminya itu. Bahkan Zuy terus saja meraung di pelukan Ray.
Lalu....
"Mamih, Kakak Zuy, Papih udah beneran pergi ninggalin Nara ya? Nara udah gak bisa ngeliat Papih lagi ya?" tanya Nara pada Zuy dan Bi Nana.
Namun bukannya menjawab, Bi Nana dan Zuy malah kembali terisak.
"Mamih, Kakak, kenapa menangis lagi?" Nara bertanya kembali sambil mengguncang tangan Bi Nana.
Melihat itu Aries langsung mendekat ke Nara dan menggendongnya.
"Kak Aries...."
"Nara jangan ganggu Mamih sama Kak Zuy dulu ya!" tutur Aries.
"Tapi Kak Aries, Papih...."
"Iya Nara, Papih memang sudah pergi ninggalin kita. Tapi walaupun begitu Papih Nara tetap ada dalam hati kita. Nara jangan sedih ya, Nara harus jadi anak yang kuat supaya nanti Nara bisa melindungi Mamih dan adik Rana ya Nara!" Aries memberikan nasihat pada Nara.
Nara langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Kakak, Nara tidak akan sedih. Nara akan jadi pelindung buat Mamih sama adik Rana."
"Nah gitu dong baru adiknya Kak Aries."
Beberapa saat kemudian mereka semua pun pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut dan kembali ke rumah Pak Randy.
...----------------...
Menjelang malam hari....
βPukul 07.15pm.
Nampaknya para tamu masih berdatangan ke rumah Pak Randy, memberikan rasa belasungkawa kepada keluarga Pak Randy, entah dari kerabat dekat Pak Randy maupun kerabat jauh, bahkan Dokter Arif terlihat ada di sana bersama dengan Pak Willy.
Sedangkan di dalam kamarnya, Bi Nana terus saja menangis meratapi kepergian Pak Randy, nampaknya ia masih belum bisa menerima takdir yang Tuhan berikan untuknya.
"Hala, sudah ya jangan menangis lagi! Kasihan Randy amca, nanti dia ikutan sedih ngeliat Hala seperti ini!" tutur Beyza yang saat itu sedang menemani Bi Nana.
"Tapi Beyza...." lirih Bi Nana.
"Iya Bey ngerti perasaan Hala saat ini seperti apa, karena Bey juga pernah merasakan orang yang Bey sayangi." ucap Bey. "Hala, kita boleh bersedih tapi jangan sampai berlarut-larut. Apalagi Hala masih ada anak-anak yang masih membutuhkan Hala. Lihatlah mereka berdua Hala!" sambungnya.
Seketika Bi Nana langsung memalingkan wajahnya ke arah Rana dan Nara yang kala itu sedang tidur di samping Bi Nana, air matanya pun kembali mengalir membasahi pipinya.
"Nara, Rana.... Maafkan kesalahan Mamih yang masih belum bisa menerima kenyataan ini. Sampai Mamih hampir melupakan kalian berdua," ucap Bi Nana di sambung tangisannya.
Beyza pun langsung memeluk Bi Nana dan kembali menenangkannya.
***************************
Sementara di tempat lainnya....
Setelah mendapatkan informasi dari orang-orang suruhannya tentang tempat di mana Maria di sekap, Archo, Dimas beserta para pengawal dan petugas kepolisian pun langsung bergegas menuju ke tempat tersebut yang tak lain adalah Villa Noel Gallagher.
"Sabar ya Mam, sebentar lagi Mam akan terbebas dari tikus-tikus itu."
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
__ADS_1
Salam Author... πβπβ