Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kerja Sama....


__ADS_3

<<<<<


Seketika Brian menolehkan kepalanya ke arah orang yang memanggilnya.


"Hmmmm...."


Brian menukik alisnya saat matanya menangkap sosok wanita dengan motor maticnya tepat berada di sampingnya.


"Ternyata anda Bu Citra, aku kira siapa," lontar Brian. "Emm, baru pulang Bu?"


"Iya nih, harusnya sih tadi cuma gara-gara ban motor bocor, jadi harus nambal dulu." ujar Citra.


"Oh...." lirih Brian.


"Brian, apa kamu punya waktu luang?" tanya Citra.


"Tentu saja punya, memangnya ada apa Bu?"


Citra menghela nafasnya. "Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin mengobrol dengan mu, Brian."


"Oh, yaudah kalau begitu kita ke taman sana saja Bu! Bagaimana?"


Citra pun mengangguk. "Baiklah...."


Kemudian mereka berdua menyalakan motornya masing-masing lalu melajukannya menuju ke arah taman terdekat.


Sesampainya di taman dan memarkirkan kendaraannya, Citra pun langsung mendudukkan dirinya di kursi besi panjang yang berada dekat dengan air mancur, sedangkan Brian tengah membeli minuman untuk dirinya dan juga Citra.


Sesaat Brian kembali sembari membawa dua kaleng minuman bersoda, lalu ia pun menyodorkannya pada Citra.


"Ini untuk anda, Bu Citra."


"Terimakasih Brian, tapi bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan Bu Citra, panggil aku Citra saja! Kita tidak sedang di Kantor lho, jadi tidak perlu formal seperti itu!" tutur Citra mengambil minuman di tangan Brian.


"Maaf Bu Citra, habisnya saya sudah terbiasa memanggil anda dengan sebutan Bu Citra. Jadi kalau saya memanggil anda dengan nama saja rasanya agak gimana gitu," papar Brian.


"Hmmmm, coba dulu pelan-pelan, nanti lama-lama juga kamu akan terbiasa memanggilku Citra." kata Citra.


"Ya saya akan mencobanya Bu Cit eh maksudnya Citra." balas Brian yang masih kaku menyebut nama Citra.


Seketika membuat Citra terkekeh mendengarnya, lalu....


"Maaf sebelumnya Bu Citra! Kalau boleh tau, sebenarnya ada apa ya sampai Bu Citra ingin mengobrol berdua dengan saya?" tanya Brian yang penasaran.


"Tadi kan aku udah bilang tidak ada apa-apa, hanya ingin mengobrol saja, Brian." ujar Citra. "Hmmm, apa jangan-jangan kamu tidak suka mengobrol dengan ku ya?"


Brian lalu mengibaskan tangannya dan berkata, "Ma-maksud saya bukan seperti itu Bu Citra, hanya saja saya merasa canggung. Ya mungkin karena ini pertama kalinya kita mengobrol berdua di tempat lain selain di Kantor."


"Begitu ya Brian?" lirih Citra.


"Iya...." balas Brian mengangguk.


Kemudian Brian membuka minuman kaleng tersebut, setelah itu ia mengarahkan minumannya ke mulutnya dan meneguknya.


Lalu....


"Pasti sangat sakit kan Brian, melihat orang yang kita sukai mengabaikan kita dan lebih memilih bersama dengan orang lain?" lontar Citra menundukkan kepalanya.


Sontak membuat Brian terkejut bahkan hampir tersedak karena perkataan Citra.


"Ma-maksud anda apa ya Bu Citra?" tanya Brian keheranan.


Perlahan Citra mengangkat kepalanya dan menatap Brian dengan mata yang berkaca-kaca.


"Brian, sebenarnya tadi di halte kamu mencoba mengajak Airin untuk pulang bareng dengan mu kan? Akan tetapi Airin malah menolaknya, iya kan Brian?" cecar Citra.


Sehingga lagi-lagi membuat Brian terkejut mendengarnya.


"Ke-kenapa Bu Citra bisa tau kalau tadi saya mengajak Airin untuk pulang bareng?"


"Aku tau karena aku juga berada tidak jauh dari posisi kalian berdua, cuma kalian saja tidak menyadarinya, bahkan sampai kamu pergi dan Pak Davin datang menjemput Airin pun aku masih berada di sana, lalu saat mobil Pak Davin sudah pergi, aku melihat kamu berada beberapa jarak dari halte itu, makanya aku langsung samperin kamu dan mengajak mu untuk berbincang," papar Citra.


Brian manggut-manggut.


"Oh ternyata begitu ya? Sekarang aku paham kenapa Bu Citra mengajak ngobrol saya. Kalau Bu Citra ingin tahu, sebenarnya perasaan saya sama seperti apa yang Bu Citra rasakan saat ini. Ya itu karena saya dari dulu memang sudah menyukainya tapi tidak mampu untuk mengungkapkannya." ujar Brian.


"Lalu kenapa kamu tidak berani mengungkapkan perasaan mu pada Airin?" tanya Citra.


Sebelum menjawabnya, Brian menyandarkan kepalanya di dinding kursi tersebut sambil menghela nafasnya dan memandangi langit senja.


"Karena ada alasan tertentu, jadi saya masih enggan mengungkapkan perasaan saya terhadapnya," jawab Brian.


"Alasan?"


"Iya Bu Citra, dan alasan saya adalah saya ingin menabung terlebih dahulu untuk masa depan nanti. Tentunya Bu Citra tau kan kalau saya hanyalah seorang Office boy di Perusahaan CV. Maka dari itu saya harus pandai-pandai mengatur segalanya. Dan jika semuanya telah terkumpul sesuai apa yang saya targetkan, barulah saya mengungkapkan perasaan saya dengan cara melamarnya langsung," jelas Brian.


"Lalu bagaimana jika apa yang kamu targetkan belum terpenuhi dan secara bersamaan pula Airin sudah ada yang melamar bahkan menikah. Lantas apa yang akan kamu lakukan Brian? Apa kamu akan menyerah atau maju?" cecar Citra.


"Kalau itu terjadi maka aku akan menyerah dan mengikhlaskannya. Karena mungkin aku dan Airin memang tidak berjodoh," kata Brian.


Mendengar perkataan Brian, seketika membuat Citra merasa kesal.


"Kamu benar-benar bodoh ya Brian!" lontar Citra.


"Heung, apa maksud anda mengatai saya bodoh?"


"Ya karena kamu lemah dan gampang menyerah begitu saja. Padahal kamu masih bisa merebutnya kembali, Brian." papar Citra.


Brian mengerenyit. "Jadi ...."


Citra lalu mengambil nafasnya terlebih dahulu sebelum membuangnya.


"Begini Brian, bagaimana kalau kita sekarang bekerja sama untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." tawar Citra


"Bekerja sama?" Brian kembali di buat bingung oleh Citra.


"Iya bekerja sama untuk memisahkan hubungan antara Airin dan Pak Davin. Brian, tentunya kamu tau kan kalau aku sangat menyukai Pak Davin dan kamu juga menyukai Airin, jadi ya apa salahnya kalau kita bekerja sama untuk mendapatkan mereka berdua," jelas Citra.


Sejenak Brian terdiam dan menundukkan kepalanya, lalu....


"Bagaimana Brian, apa kamu setuju bekerja sama dengan ku?"


Brian pun menghela nafasnya dan kembali mengangkat kepalanya.


"Beri saya waktu untuk berpikir Bu Citra!"


"Hmmmm, baiklah kalau begitu, aku akan menunggunya!"


Mereka berdua pun kembali terdiam sambil minuman yang berada di tangan mereka.


...----------------...


Beberapa saat sebelumnya....


Setelah meninggalkan halte tersebut, Davin pun terus melajukan mobilnya menuju ke arah Villa. Namun ada pemandangan sedikit berbeda dari Davin, pasalnya ia sedari tadi hanya terdiam tanpa berkata apa-apa, nampak jelas dari raut wajah dan sorot matanya kalau saat ini ia tengah kesal.


Lalu....


"Pak Davin...." Airin memberanikan diri untuk menegur Davin.


Sekilas Davin menoleh ke arah Airin dan kembali fokus ke jalanan.


"Iya, ada apa Rin?" sahut Davin.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, cuma ingin menegur Pak Davin saja." ujar Airin.


"Oh, mungkin karena aku sekarang banyak diam ya Rin, makanya kamu menegurku? Maaf ya Rin, soalnya aku sedang kesal, makanya dari tadi aku diam. Tapi berbeda dengan hatiku yang sedang mengumpat, hahaha ...." papar Davin di susul tawanya.


"Hmmm, pantas saja wajah Pak Davin terlihat berkerut seperti itu, ternyata memang sedang kesal ya. Pasti karena pekerjaan Pak Davin yang menambah," lontar Airin.


"Apa! Jadi wajahku berkerut ya?"


Airin mengangguk. "I-iya Pak."


"Gak apa-apalah besok juga wajahku mulus lagi. Ya sebenarnya aku kesal bukan karena pekerjaan yang bertambah, akan tetapi aku kesal dengan dua orang yang tadi datang ke Perusahaan," papar Davin.


"Maksud Pak Davin laki-laki tua sama wanita cantik yang bicaranya pake bahasa asing itu?" tanya Airin.


"Iya mereka berdua Rin."


Airin menyandarkan kepalanya di dinding jok.


"Maaf sebelumnya Pak! Memangnya mereka berdua siapa Pak? Sampai-sampai bikin Pak Davin kesal?"


"Mereka adalah Ayah dan Kakak Ipar dari Kimbery dan bisa di bilang juga kalau mereka itu suami dan menantu dari Mrs Maria, Ayah tiri dari Zuy," jelas Davin.


Seketika Airin membelalakkan matanya karena terkejut. "Hah! Jadi laki-laki menginjak tua itu Ayah tirinya Zuy? Tapi kenapa dia datang ke Indonesia?"


"Ya karena Mr Mario mendengar kabar tentang Maria yang hilang, jadi dia langsung datang ke Indonesia."


Airin manggut-manggut.


"Oh.... Tapi awalnya aku sempat mengira lho Pak, kalau perempuan cantik itu Gracia dan laki-laki tua sebelahnya adalah Ayahnya," ujar Airin.


Lalu tiba-tiba....


Ciiiiit....


Davin menghentikan laju mobilnya secara mendadak, sontak membuat Airin tersentak kaget dan hampir terbentur, namun untungnya ia menggunakan sealtbeat jadi aman dari benturan.


"Pak Davin, kenapa berhenti mendadak sih?" pekik Airin.


Namun Davin tidak berkata, ia malah mendekatkan tubuhnya ke arah Airin dan menatapnya, sehingga membuat Airin merasa tidak nyaman.


"Pa-Pak Davin, anda mau apa?" tanya Airin gemetar.


"Rin, kamu tahu nama Gracia dari mana?" bukannya menjawab ia malah bertanya kembali.


"Sebenarnya aku tahu sejak lama Pak. Saat aku hendak ke kamar memanggil Pak Davin untuk makan, tanpa sengaja aku mendengar Pak Davin menyebut nama Gracia. Bukan hanya itu saja, waktu aku ketiduran di kursi santai, Pak Davin juga menyebutnya lagi," jawab Airin.


"Lantas kenapa kamu tidak penasaran dan bertanya padaku siapa Gracia itu?" cecar Davin.


"Ya sebenarnya aku penasaran dan ingin bertanya, tapi itu kan privasinya Pak Davin dan lagi aku juga tidak berani Pak," ujar Airin.


Sesaat Davin menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk di posisi semula.


"Rin, kalau memang kamu penasaran dengan Gracia, sekarang juga aku beritahu kamu siapa dia sebenarnya!" lontar Davin di selingi helaan nafasnya. "Sebenarnya Gracia itu adalah calon istriku, Rin." sambung ungkapnya.


Sontak membuat Airin terkejut sampai-sampai matanya terbelalak kembali.


"A-apa! Calon istri Pak Davin?" lirih Airin.


Nyuuut...!


Deeg...!


Tiba-tiba Airin merasakan nyeri pada dadanya dan jantungnya pun berdegup kencang.


"Tapi itu dulu Rin, sebelum dia pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya," Davin pun kembali bersuara.


"Pergi untuk selama-lamanya? Maksud Pak Davin?"


Davin mendesah. "Dia meninggal karena kecelakaan maut di hari yang sama saat kami hendak melangsungkan upacara pernikahan kami."


Davin menganggukkan kepalanya.


......................


Flashback....


AMERIKA


°Kediaman Keluarga Daddy Michael


Semua keluarga terlihat sedang berkumpul dan tengah bersiap-siap berangkat ke gedung pernikahan, bukan hanya dari keluarga saja, Maria dan keluarganya juga berada di sana tengah mengobrol dengan Daddy Michael dan Liora.


Sedangkan Ray sedang berada di kamar Davin dan sedang menunggu Davin yang kala itu tengah berdandan.


"Aku tidak menyangka akhirnya Kak Davin menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintai Kakak, bahkan Kakak sampai mengajaknya menikah." ucap Ray.


"Hehehe.... Iya Tuan Ray, aku juga sangat bersyukur karena menemukan wanita seperti Gracia, makanya aku langsung memintanya untuk menikah dengan ku, tidak seperti si b*tch Monic mantanku itu." ujar Davin sambil memakai jas-nya.


Lalu....


"Kak, apa setelah menikah Kakak akan berubah? Tidak lagi menemani ku?" tanya Ray dengan raut wajahnya yang sendu.


Melihat itu, Davin langsung mendekat ke arah Ray dan duduk di sampingnya sembari merangkul pundak Ray.


"Tuan Ray, meskipun aku sudah menikah. Aku tetap akan selalu menemani Tuan Ray, dimana pun Tuan Ray berada karena itu janjiku pada Mom Candika." ucap Davin.


Seketika senyum Ray langsung mengembang setelah mendengar ucapan dari Davin.


"Terimakasih Kak. Dan kalau bisa, Kakak jangan selalu memanggilku dengan sebutan Tuan! Itu benar-benar membuatku ingin muntah." papar Ray.


"Maaf Tuan Ray, aku tidak bisa melakukannya, karena bagiku Tuan Ray tetaplah Tuan Ray," balas Davin.


"Huuumph, selalu saja berkata seperti itu." gumam Ray, sehingga membuat Davin terkekeh geli.


Lalu kemudian Davin bangkit dari posisinya.


"Ayo kita keluar Tuan Ray!" ajak Davin.


"Iya Kak."


Mereka berdua melangkah keluar dari kamar tersebut dan sesaat kemudian Davin dan lainnya segera berangkat menuju ke arah tempat di mana pernikahan akan di langsungkan.


...----------------...


Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju yaitu sebuah gedung tinggi nan mewah dengan hiasan indah di sekelilingnya. Tempat ini yang akan menjadi saksi tempat dimana Davin akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang wanita cantik bernama Gracia Florenzi.


Nampak semua tamu undangan juga sudah berkumpul di sana, karena mereka akan menyaksikan ikrar sumpah dan janji pernikahan antara dua insan yang saling mencintai.


Davin dan keluarga Daddy Michael duduk di tempat khusus yang sudah di sediakan untuk keluarga Daddy Michael.


Dan kini tinggal menunggu kehadiran dari mempelai wanita beserta keluarganya.


"Dav, apa kau merasa gugup?" tanya Daddy Michael.


"Ti-tidak Dad, Davin biasa saja." jawab Davin.


"Oh, baguslah kalau kamu tidak gugup," ucap Daddy Michael.


Beberapa saat kemudian....


Sudah hampir menjelang siang, acara pun belum di mulai, sebab mempelai wanita masih belum tiba di tempat juga.


"Ngomong-ngomong dimana keluarga dari mempelai wanita, kenapa belum datang juga? Hari sudah hampir siang gini, jangan sampai semua para tamu undangan menggerutu lho, Vin." celetuk Liora.

__ADS_1


Seketika Daddy Michael langsung menepuk pundak Liora dan menatapnya, membuat Liora tertunduk diam.


"Sabar Kak! Jangan dengarkan omongan wanita gila itu," bisik Ray pada Davin.


"Iya Tuan Ray."


Lalu seorang pria datang bersama dua petugas dari kepolisian, kemudian mereka menghampiri Davin beserta keluarga Daddy Michael.


"Roveis...." panggilnya terhadap Davin.


Davin langsung menoleh dan bangkit dari posisinya.


"Uncle James! Syukurlah Uncle datang." ucap Davin dengan senangnya. "Lalu dimana Gracia dan lainnya, apa masih di mobil? Dan lagi kenapa Uncle membawa Polisi kesini?" sambungnya.


"Roveis, sebenarnya Uncle datang bersama mereka karena Uncle ingin menyampaikan berita duka untukmu, dan Uncle berharap kamu bersabar ya dan menerima semua ini!" ujar pria yang bernama James itu.


Seketika membuat Daddy Michael dan lainnya ikut bangkit dari posisinya.


"Berita duka? Memangnya berita duka apa yang ingin Uncle sampaikan ke saya, sampai Uncle berkata seperti itu?" cecar Davin.


Sesaat Uncle James mengambil nafasnya dan menghembuskannya perlahan, kemudian ia menempatkan tangannya di atas pundak Davin.


"Roveis, sebenarnya Gracia ...."


"Gracia! Apa yang terjadi pada Gracia, Uncle?" pekik Davin membuat semua tamu undangan tersentak kaget.


"Sabar Kak, kita dengarkan dulu apa yang ingin Uncle James sampaikan ya!" tutur Ray mengelus punggung Davin. "Lanjutkan Uncle!"


"Roveis, sebenarnya mobil yang di tumpangi Gracia mengalami kecelakaan saat menuju ke tempat ini dan Gracia meninggal dunia di tempat kejadian," ungkap Uncle James.


Sontak membuat Davin dan lainnya kembali terkejut.


"Uncle bilang apa? Gracia kecelakaan dan meninggal?" lirih Davin. "Uncle pasti bohong kan, Uncle pasti becanda kan?" cecarnya yang tidak percaya.


"Uncle tidak becanda Roveis, yang Uncle katakan barusan itu benar adanya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada mereka!" lontar Uncle James menunjuk ke arah Polisi yang berada di belakangnya.


"Yang di katakan Mr James memang benar adanya, Mr Roveis. Miss Gracia memang mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat!" ujar salah satu Polisi tersebut.


Seketika Davin langsung terjatuh dalam posisi duduk karena kakinya terasa lemas dan tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Hari bahagia yang di nantikan olehnya kini telah berubah menjadi hari yang berduka untuk Davin dan keluarga.


"Kak Davin, Kakak yang sabar ya!"


Ray memeluk erat Davin, sontak membuat tangis Davin pecah di pelukan Ray.


"Lalu dimana Jenazah Gracia sekarang? Apa masih di tempat kejadian atau sudah di bawa ke rumah sakit?" tanya Daddy Michael.


"Jenazahnya sekarang sudah berada di Rumah sakit, Mr Michael." jawab Uncle James.


Mendengar itu, Davin melepaskan pelukan Ray dan melihat ke arah Uncle James.


"Bawa aku ke sana Uncle!" pinta Davin.


Uncle James menuruti permintaan Davin, sesaat Uncle James, Davin, Daddy Michael, Ray dan Petugas kepolisian langsung bergegas menuju ke rumah sakit.


***************************


Rumah Sakit


Setelah sampai di Rumah Sakit, Davin dan lainnya langsung bergegas menuju ke arah kamar jenazah. Setibanya di depan kamar jenazah....


"Kak, apa Kakak yakin ingin melihatnya?" tanya Ray.


"Tentu saja Tuan," jawab Davin.


"Baiklah kalau begitu, tapi Kak Davin harus kuat ya!" tutur Ray di balas anggukan Davin.


Setelah pintu terbuka, Uncle James mengantar Davin ke dalam kamar jenazah tersebut sedangkan Ray dan Daddy Michael menunggu di luar. Lalu Uncle James meminta seseorang untuk membuka kain yang menutupi tubuh Gracia,


Saat kain penutupnya di buka, sontak tangis Davin kembali pecah bahkan ia hampir terjatuh, untungnya saja Uncle James segera menahannya, karena ia melihat Gracia yang masih mengenakan gaun pengantin terbaring tak berdaya dengan banyak darah yang menempel di tubuhnya, bahkan gaun pengantin yang harusnya berwarna putih kini berubah menjadi merah karena darah.


Perlahan Davin berjalan mendekat ke arah brankar dimana Gracia terbaring dan di pegang tangan Gracia oleh Davin seraya mengelus rambutnya.


"Gracia, kamu hanya sedang tidur kan? Kamu tidak pergi meninggalkan ku kan? Hari ini adalah hari bahagia kita honey, sebentar lagi kita akan menjadi suami istri yang paling bahagia. Tapi kenapa kamu malah seperti ini? Bangunlah Gracia! Ayo kita pergi dari sini dan kita lanjutkan upacara pernikahan kita. Gracia, aku mohon.... Graciaaaaaaa...." tangis Davin di selingi teriakannya.


Dan sejak saat itu Davin memutuskan untuk tidak ingin mempunyai pasangan sampai ia benar-benar menemukan sosok wanita yang benar-benar tulus seperti Gracia.


(Di Bab.122 Ray sudah pernah menceritakan kisah Davin pada Zuy)


Flashback end.


......................


Mendengar cerita Davin, Airin pun tak henti-hentinya menangis sampai sesenggukan, bahkan sudah banyak tisu yang ia gunakan sampai penuh tempat sampah yang berada di mobil Davin.


"Rin, berhentilah menangis! Nanti mata kamu sembab lho." tutur Davin.


"Ma...afin aku Pak, gara-gara aku Pak Davin jadi teringat masa lalu Pak Davin lagi," ucap Airin dengan nada sesenggukan.


"Udah gak apa-apa, lagian memang aku juga ingin cerita ke kamu, Rin. Cuma belum sempat aja," ujar Davin menyentuh kepala Airin.


Lalu....


Kruyuuuuuk....


Tiba-tiba perut Davin berbunyi nyaring, sehingga membuat Airin langsung mengarahkan pandangannya ke perut Davin.


"Pak Davin lapar?" tanya Airin.


"Iya Rin. Euuum, kita makan dulu yuk!" ajak Davin.


"Baiklah Pak, cacing di perutku juga sudah mulai berdemo," papar Airin.


Airin dan Davin pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke arah tempat makan tak jauh dari mereka. Lalu kemudian....


"Permisi Om, Tante...." ucap seseorang.


Sehingga membuat Davin dan Airin menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah suara tersebut.


"Hwaaaaa....!!"


***Bersambung....


×Drama kecil×


Author: "Ray, Zuy. Maaf ya untuk episode ini kalian libur dulu mesra-mesraannya, soalnya aku udah janji sama Davin."


Ray: "Tidak apa-apa kok, kami juga ingin libur dulu. Oh iya mumpung Author ada di sini, aku boleh minta tolong gak?"


Author: "Minta tolong apa?"


Ray: "Tolong jaga anak-anak sebentar! Soalnya aku dan sayangku mau bikin adeknya si kembar dulu, gak lama cuma dua jam. Ayo sayangku!"


Zuy: "Ta-tapi Ray...."


Tanpa peduli Ray langsung mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke kamar.


Author: "Woy... Woy.... Dasar anak gak ada akhlak! Emaknya datang malah di tinggal pergi bikin Misteri.😤😤"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2