Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Sangat Sederhana....


__ADS_3

<<<<<


(Masih percakapan lewat telepon)


"Cepat katakan padaku! Informasi apa yang kamu dapatkan tentang Melan." desak Archo.


"Baiklah Mr Archo. Jadi sebenarnya gadis yang bernama Melan itu adalah ...."


Ia terdiam seraya membuang nafasnya sejenak sebelum menyambung perkataannya, sedangkan Archo nampak sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan tentang Melan dari orang suruhannya itu.


"Sebenarnya Melan ini hanya gadis biasa yang tinggal di desa Mr Archo. Nama lengkapnya Melan Adhisti Anggraeni usianya menginjak 20 tahun, dia anak pertama dari pasangan suami istri yang bernama Pak Tono dan Ibu Sri, Melan mempunyai seorang adik perempuan berusia 10 tahun namanya Risya. Pak Tono bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan Ibu Sri hanya penjual makanan keliling." jelasnya.


"Hmmmm, jadi kehidupan keluarganya memang sangat sederhana ya?"


"Iya Mr Archo. Akan tetapi sudah hampir lima bulan Pak Tono tidak bekerja di karenakan kecelakaan yang membuatnya tidak bisa apa-apa dan sampai saat Pak Tono hanya bisa duduk dan terbaring saja."


"Eeem, memangnya saat Ayahnya kecelakaan gak langsung di bawa ke Rumah sakit?" tanya Archo.


"Karena kondisi mereka yang tidak mampu Mister, maka dari itu mereka hanya bisa membawa Pak Tono ke klinik yang berada di desanya saja dan lagi atasan Pak Tono juga tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Pak Tono." jawabnya.


Seketika membuat Archo terenyuh mendengarnya dan untuk sesaat ia menghela nafasnya.


"Terus tentang Melan sendiri, apa dia benar-benar tidak bisa berbicara atau hanya pura-pura saja?" Archo kembali bertanya.


"Gadis itu memang tidak bisa berbicara Mister. Saat usianya satu tahun ia mengalami kecelakaan karena kelalaian Pak Tono dan itulah yang menyebabkannya tidak bisa berbicara sampai sekarang." ujar si penelpon (Orang suruhan Archo)


Archo sangat tertegun mendengar penjelasan tentang Melan dan ia pun merasa bersalah karena sudah mengira kalau Melan hanya pura-pura bisu.


"Lalu bagaimana Melan bisa berada di Kota ini dan apa hubungan dia dengan pria yang mengejarnya malam itu?" cecar Archo.


Sesaat terdengar suara helaan nafas panjang dari arah sebrang telponnya.


"Kalau menurut informasi yang saya dapat, beberapa hari yang lalu sepupu jauhnya yang tinggal di Kota datang ke rumah Melan. Kemudian si sepupunya itu mengajak Melan bekerja di sebuah Pabrik tas milik bos-nya dengan di iming-imingi upah besar, tentu saja Melan langsung tertarik dan menerima ajakan sepupunya karena ia juga ingin membantu keluarganya itu. Awalnya Pak Tono dan Ibu Sri sempat melarang dan meminta pada Melan agar ia menolak ajakan sepupunya untuk bekerja di Kota, sebab mereka berdua sangat khawatir kalau Melan kenapa-napa di sana, karena melihat kondisi Melan yang tidak bisa berbicara, polos dan lugu ...."


"Hmmmm, gadis lugu ya?" batin Archo seraya meneguk minuman yang di gelasnya itu.


"Akan tetapi karena Melan terus memaksa orang tuanya untuk mengizinkannya bekerja di Kota bersama sepupunya itu. Maka mau tidak mau orang tuanya mengizinkan Melan ikut dengan sepupunya. Dan baru dua hari yang lalu Melan dan sepupunya berangkat ke Kota. Lalu setelah mereka sampai di Kota, sepupunya langsung membawa Melan ke Pabrik milik bos-nya. Tapi sebenarnya itu bukanlah sebuah Pabrik tas sungguhan melainkan rumah bordil." sambung perkataan dari si penelpon.


Seketika membuat Archo tersentak kaget.


"Barusan kamu bilang apa! Rumah bordil?! Jadi maksudmu kata Pabrik itu hanya pengalihan saja begitu?"


"Iya anda benar, Mr Archo."


*Rumah bordil adalah sebuah tempat berkumpulnya para pria hidung belang dan wanita pelayan.


(Maaf gak bisa jelasin sedetailnya takut ketilang, hehehe.... ✌️)


Archo mengerenyit. "Hmmmm, kalau begitu berarti sepupunya Melan itu sudah membohongi Melan dan keluarganya?!"


"Iya Mister dan menurut informasi sepupunya Melan sudah lama bekerja di Rumah bordil sebagai pelayan para pria hidung belang. Beberapa waktu lalu bos-nya itu memintanya mencarikan wanita muda untuk menggantikan anak buahnya yang sudah keluar dari tempat tersebut. Akhirnya sepupunya itu langsung pulang ke desa dan mengajak Melan. Setelah di kenalkan, bos-nya pun tertarik dengan Melan karena kecantikan dan keindahan tubuhnya, meskipun ia tidak bisa berbicara."


Archo manggut-manggut.


"Iya tidak di pungkiri bahwa gadis itu memang memiliki paras yang cantik," batin Archo.


"Dan untuk laki-laki yang mengejarnya itu, sebenarnya ia adalah bodyguard bos yang bertugas mengawasi Melan saat ia di bawa ke hotel oleh seorang pria paruh baya yang sudah membayarnya untuk satu malam. Dan dia juga yang sudah membius Melan dengan obat perangsang. Setelah berada di dalam kamar bersama Pria tua itu, ia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya dan ketika pria tua memulai aksinya, Melan langsung memberontak dan melepas diri dari pria paruh baya itu, sampai akhirnya ia berlari ke arah kamar anda dan bertemu dengan anda, Mr Archo."


"Oh jadi seperti itu ya. Hmmm, sungguh gadis yang malang." lirih Archo.


"Iya Mister, gadis itu memang sangat malang apalagi setelah bertemu dengan anda," celetuknya.


"Kamu bilang apa barusan?!" sentak Archo.


"Ah ti-tidak, saya tidak bilang apa-apa. Barusan lidah saya terpleset saja Mister. Hehehe...." elaknya.


Archo mendesah. "Lalu apa ada informasi lagi tentang Melan?"


"Tidak ada Mister, hanya informasi itu saja yang dapat saya sampaikan pada anda."


"Oh yaudah kalau begitu. Tapi Aku minta tolong kamu untuk selalu mengawasi Melan! Kalau terjadi sesuatu padanya segera beritahu aku! Walau bagaimanapun aku juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padanya meskipun hanya sebuah kesalahpahaman saja." lontar Archo. "Dan satu lagi, jangan sampai Daddy Mario tahu akan hal ini, apa kamu mengerti?" sambungnya.


"Iya, saya sangat mengerti Mr Archo."


"Baguslah kalau kamu mengerti."


Sesaat Archo memutuskan telponnya dan meletakkan hpnya kembali di atas meja, kemudian ia menuangkan kembali champagne-nya ke dalam gelas.


"Kenapa setelah mendengar kisah keluarganya, aku jadi semakin penasaran dan ingin bertemu dengan mereka secara langsung. Hmmm, Melan Adhisti Anggraeni, benar-benar gadis bisu yang misterius." ucap Archo sembari menatap gelas yang di pegangnya itu.


Lalu ia meneguk minuman yang di gelasnya sampai habis.


...----------------...


Fajar menyingsing menyentuh embun pagi, langit mulai mengubah warnanya, terlihat awan yang bergelantungan di langit, burung-burung pun berkicau saling bersahutan, bahkan sang mentari sudah mulai menampakkan sinarnya.


—Pukul 06.15am


Di Villa Z&R, Zuy terlihat sudah berada di dapur, seperti biasanya setiap pagi Zuy selalu membantu pelayannya menyiapkan sarapan pagi untuk para penghuni Villanya.


Beberapa saat setelah selesai, Zuy meminta pelayan untuk makanan yang sudah siap ke meja makan, sedangkan ia langsung kembali ke kamarnya untuk membangunkan pria tampannya yang masih bergulat dengan selimutnya.


Namun sebelum itu, Zuy terlebih dahulu memasuki kamar Baby R dan Baby Z. Untuk sesaat ia memandangi kedua anak gembulnya yang masih tertidur dengan posisi berhadapan, senyumnya pun mengembang.


"Kebahagiaannya Mamah," ucap Zuy mengelus kepala keduanya di susul ciumannya.


Setelah selesai dengan anaknya, ia pun melangkah ke arah kamarnya. Setibanya, Zuy langsung mendaratkan bokongnya di atas kasur seraya melihat Ray yang masih terlelap dengan posisi terlentang dan telanjang dada.


"Tampan-ku...." Zuy mengelus rambut Ray.


"Heung," Ray mengerang.


"Bangun yuk Daddy tampannya anak-anakku! Udah siang nih."


Ray menolehkan kepalanya ke arah Zuy seraya membuka matanya yang sayu, senyumnya terukir di wajah tampannya saat melihat pujaan hatinya. Lalu di tariknya tangan Zuy hingga tubuh Zuy mendarat tepat di atas dadanya yang bidang itu.


"Pagi sayangku," lirih Ray mengelus rambut Zuy.


"Pagi juga tampannya anak-anakku," balas Zuy di susul senyumnya. "Yuk bangun, mandi habis itu sarapan bareng."


"Aku-nya lemes, kasih morning kiss dulu dong sayangku! Biar aku semangat bangunnya," Ray mengetuk-ngetuk pipi kanannya menggunakan jari telunjuknya.


Zuy membuang nafasnya. "Baiklah Rayyan."


Kemudian ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman di pipi kanan Ray.

__ADS_1


"Apa itu cukup?"


"Euum, sepertinya masih kurang sayangku, soalnya aku masih lemas nih." Ray mengedipkan sebelah matanya.


"Hummmph. Kamu ini benar-benar ya!" gumam Zuy.


Ray tersenyum menampilkan baris giginya, lalu Zuy kembali mendaratkan bibirnya ke wajah Ray tanpa terlewatkan. Setelahnya mendapatkan beberapa ciuman dari pujaan hatinya, Ray seketika langsung membangunkan tubuhnya itu dengan posisi duduk.


"Terimakasih sayangku yang cantik," ucap Ray memeluk gemas Zuy.


"Iya, yaudah mandi dulu sana! Nanti kita sarapan bareng."


"Siap Nyonya Rayyan." balas Ray melepaskan pelukannya, lalu di ciumnya pipi kiri pujaan hatinya itu. "Oh iya sayangku, hari ini mungkin aku akan pulang cepat, jadi kamu mau di bawain apa? Hm!"


Zuy mengangkat satu alisnya karena pertanyaan Ray.


"Hah! Bukannya hari ini tanggal merah ya Ray?"


"Tanggal merah?"


Ray melirikkan matanya ke arah kalender yang terpampang di dinding, seketika pupil matanya membesar.


"Oh iya sekarang tanggal merah ya. Duh! Aku benar-benar lupa sayangku." lontar Ray seraya menepuk jidatnya sendiri.


Zuy tersenyum dan menempatkan tangannya ke pipi Ray. "Tidak apa Ray, wajar namanya orang pasti ada lupanya."


Ray manggut-manggut.


"Iya kamu benar sayangku, yaudah aku ke kamar mandi dulu ya!" kata Ray dan di balas anggukan oleh Zuy.


Ray lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi, namun saat di depan pintu kamar mandi ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Zuy.


"Sayangku...."


"Iya."


"Kesini sebentar!" pinta Ray.


Zuy mengangguk, lalu menghampiri Ray.


"Kenapa Ray?" tanya Zuy.


"Tadi perasaan ada sesuatu yang menempel di leher kamu deh." ujar Ray.


"Apa! Sesuatu menempel? Sebelah mana?" cecar Zuy memegang lehernya.


"Di situ...." tunjuk Ray seraya mendekatkan wajahnya ke leher Zuy.


Ketika bibirnya menempel di leher Zuy, ia pun langsung menggigitnya membuat Zuy tersentak dan meringis.


"Awww! Kenapa kamu menggigit leherku, Rayyan?" pekik Zuy memegangi lehernya yang bekas di gigit Ray.


Ray tersenyum dan berkata, "Karena aku gemas dan lagi sebenarnya di leher sayangku tidak ada sesuatu yang menempel."


"Apa kamu bilang? Jadi kamu membohongiku ya Ray?" Zuy pun mengerutkan dahinya sembari mendengus kesal.


"Waduh, sepertinya panda kesayangan ku marah nih. Cari aman dulu ah...." Ray melesat ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


"Rayyan! Bener-bener deh orang satu ini." gumam Zuy.


Sementara itu....


Daddy Michael terlihat berada di halaman Villa milik anaknya itu, ia meregangkan otot-otot tangannya sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Benar-benar pemandangan yang sangat indah," ucap Daddy Michael sembari matanya berkeliling ke sekitarnya.


Lalu....


"Kak Michael...." seru seseorang berjalan mendekat ke arah Daddy Michael.


Mendengar suara yang memanggilnya, Daddy Michael pun langsung memutar badannya menghadap ke sumber suara tersebut.


"Yiou!" lirih Daddy Michael menyebut nama orang memanggilnya yang ternyata adalah Yiou.


Saat sudah saling berhadapan, keduanya pun langsung berjabat tangan.


"Kak Michael apa kabar? Kapan datang?" tanya Yiou.


"Kabar Kakak baik dan semalam Kakak datangnya, Yi." jawab Daddy Michael. "Lalu bagaimana kabar kamu dan suami mu?" sambung tanyanya.


"Kabar Yi dan suami juga baik Kak." ujar Yiou.


"Syukurlah kalau begitu. Hmmm, udah terlihat besar ya Yi, udah berapa bulan sekarang?" Daddy Michael memegang perut besar Yiou.


"Iya Kak, udah menginjak tujuh bulan."


"Gak kerasa bentar lagi kamu juga akan menjadi orang tua ya Yi sama seperti Rayyan."


"Iya Kak, padahal kaya baru kemaren Yi menikah eh tau-tau perut Yi udah gede seperti ini," papar Yiou.


Daddy Michael terkekeh. "Oh iya, ngomong-ngomong jenis kelamin anak kamu apa Yi?"


"Kalau itu rahasia Kak, hihihi...."


"Humph, dasar kamu ini ya bikin Kakak penasaran aja." Daddy Michael menempatkan tangannya di kepala Yiou dan menekannya.


"Maaf Kak," ucap Yiou di selingi tawa kecilnya.


"Yaudah kita masuk yuk!" ajak Daddy Michael.


Yiou mengangguk. "Iya Kak."


Keduanya pun berjalan menuju ke arah Villa milik anaknya lalu masuk ke dalam.


Beberapa saat kemudian....


Kini Daddy Michael, Ray, Zuy, Davin, Airin serta Aries dan Yi sudah berada di meja makan tengah menikmati waktu sarapannya bersama.


Sesaat setelah selesai menikmati sarapannya, mereka semua masih tetap berada di tempat, Daddy Michael menghela nafasnya sejenak.


"Daddy benar-benar kangen kumpul dan makan bersama seperti ini." Daddy Michael mulai membuka suaranya.


"Iya Dad, Davin juga kangen makan bersama Daddy." Davin manggut-manggut.


Lalu pandangan Daddy Michael mengarah ke Airin.

__ADS_1


"Airin...."


Airin menengadah melihat Daddy Michael.


"Iya Mr Michael." sahut Airin.


"Bagaimana kabar Ibu dan adik kamu?" tanya Daddy Michael.


"Kabar keduanya baik-baik aja Mister." jawab Airin.


"Oh syukurlah kalau begitu. Lalu kenapa mereka gak main kesini lagi?"


"Eum, sebenarnya Mamah pengin kesini, kangen sama cucu-cucunya. Tapi sayangnya Rion belum libur sekolahnya, jadi ya kemungkinan Mamah kesini pas Rion libur sekolah," jelas Airin.


Daddy Michael mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh begitu ya. Hmmm, sayang sekali, padahal Daddy ingin mengobrol dengan Ibu kamu, Rin." ujar Daddy Michael.


"Hmmm, memangnya Daddy mau ngobrol apa sama Mamahnya si singa betina ah maksudku Rin-Rin ini?" karena penasaran Davin pun bertanya.


Daddy Michael tersenyum dan berkata, "Euuum, ngobrol rahasia dong Dav."


Mendengar itu Davin langsung mendengus sembari mengerucutkan bibirnya, sehingga Daddy Michael menyemburkan tawanya begitu pula dengan lainnya.


Lalu....


"Oh iya mumpung hari ini libur, bagaimana kalau nanti sore Daddy ajak kalian makan di luar bersama. Daddy traktir kalian semua," kata Daddy Michael.


Mata Davin langsung berbinar-binar saat mendengar ajakan Daddy Michael.


"Serius Dad?"


"Tentu saja Daddy serius, mana pernah Daddy berbohong sama anak-anak Daddy," Daddy Michael melirik ke arah Ray.


Melihat lirikan Daddy-nya membuat Ray mengalihkan pandangannya ke arah lainnya.


"Kak...." Yiou memanggil Daddy Michael.


"Iya Yi." sahut Daddy Michael.


"Kalau Yi boleh usul. Dari pada kita makan di luar, mending kita bikin pesta barbeque di sini! Jadi semuanya bisa ngumpul bareng di sini tanpa perlu keluar." Yiou memberikan usulan pada Daddy Michael.


Daddy Michael pun berfikir sejenak, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hmmm bener juga apa kata kamu Yi. Bagaimana menurut kalian semua? Apa ada yang setuju dengan usulan Yiou?" tanya Daddy Michael.


Semuanya pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang di usulkan oleh Yiou.


"Baiklah kalau semuanya setuju, maka nanti malam kita adain pesta barbeque di sini."


"Horeee," sorak Davin dengan kencangnya.


"Lalu siapa yang akan belanja bahan-bahan untuk pesta barbeque-nya?" tanya Daddy Michael.


Airin mengangkat tangannya. "Biar Airin yang belanja Mister. Lagi pula ada sesuatu yang mau Airin beli di luar, jadi sekalian aja."


"Oh yaudah kalau begitu, Dav kamu yang temani Airin belanja ya! Nanti Daddy kasih uang untuk membeli bahan-bahan barbeque."


Davin pun langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Oke, siap Dad."


"Rin, nanti pulangnya beli asinan sayur ya!" pinta Zuy.


"Asinan? Aku juga mau dong, tapi yang buah ya Rin!" timpal Yiou.


"Oke, siap Nyonya-Nyonya."


Lalu Daddy Michael mengalihkan pandangannya ke arah Aries.


"Aries...."


Aries menoleh. "Iya Kak Michael."


"Nanti kamu yang hubungi Nana, Ayah sama Kakak kamu ya!" pinta Daddy Michael.


"Iya Kak, nanti setelah ini Aries akan hubungi mereka untuk datang kesini," kata Aries.


"Terimakasih Ries."


"Sama-sama Kak."


****************************


—Pukul 10.20am


Supermarket


Davin dan Airin sekarang sudah berada di Supermarket yang terletak lumayan jauh dari Villanya. Dan mereka berdua kini tengah memilih bahan-bahan yang akan di gunakan untuk pesta barbeque nanti.


"Rin, nanti setelah selesai belanja kita mampir dulu ke kedai ice cream yang di sebrang Supermarket ini yuk, aku yang traktir!" ajak Davin.


"Wow, boleh juga nih. Kapan lagi bisa di traktir sama Oppa-Oppa saranghae. Hahaha...." papar Airin.


Davin pun langsung mengerenyitkan keningnya dan mendengus kesal.


"Huuu, dasar anak ini, suka banget ya kalau udah menyebutku Oppa-Oppa saranghae." gumam Davin membuat Airin terkekeh geli.


Sesaat mereka berdua pun melanjutkan aktivitas belanjanya lagi. Lalu....


"Permisi...."


"Iya...."


***Bersambung....


Author: "Ya episode ini aku ceritain sedikit tentang Melan, supaya gak bingung dan penasaran dengan Melan tiba-tiba muncul. Lalu untuk kisah mereka, entah berlanjut atau bagaimana, gimana nanti ya... 😁✌️"


See You Next Time...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2