
<<<<<
Sesampainya di depan pintu, Zuy langsung membukakan pintunya, betapa terkejutnya Zuy saat mengetahui bahwa yang datang itu adalah ....
"Bi Nana!!"
Lontar Zuy, ia pun langsung mencium tangan Bi Nana dan Pak Randy secara bergantian. Sesaat setelahnya....
"Bagaimana kabarmu, gadis kecilku?" tanya Bi Nana sembari memegang pipi Zuy.
"Ka-kabar Zuy baik-baik saja, Bi." jawab Zuy.
Lalu tiba-tiba Nara memeluk Zuy dengan erat.
"Kakak, Nara kangen sama Kakak," ucap Nara.
"Kakak juga kangen sama Nara," balas Zuy mengelus rambut Nara. "Paman, Bi Nana. Ayo masuk!"
Pak Randy dan Bi Nana menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka melangkah masuk.
"Pih, bukannya kita pernah ke sini ya?" tanya Bi Nana ke Pak Randy.
"Ya, kita memang pernah ke sini waktu pernikahan Aries dan Yiou, masa kamu lupa sih." ujar pak Randy.
"Bukannya lupa Pih, hanya bingung saja. Padahal kan kita sudah tau Villa mereka yang ini, kenapa Ray pakai ngirim lokasi segala. Jadi ya aku sempat mengira kalau Zuy berada di Villa yang lainnya," cetus Bi Nana.
Mendengar itu, Pak Randy menyunggingkan senyumnya.
"Hmmm.... Mungkin Ray hanya takut kalau kita lupa akan jalan menuju Villa-nya ini. Kan kita datang kesini hanya sekali, itu pun waktu pernikahan Aries dan Yiou. Ya jujur sih, sebenarnya aku juga sedikit lupa jalan menuju Villa ini," jelas Pak Randy.
"Begitu ya Pih," lirih Bi Nana.
Lalu....
"Paman, Bi Nana. Silahkan duduk!"
"Terimakasih Zuy...." ucap Pak Randy.
Mereka segera mendudukkan diri mereka di atas sofa.
"Sebentar ya! Zuy mau buatkan minuman untuk Paman dan Bibi," ucap Zuy, ia pun melangkah menuju ke arah dapur.
"Nana, cepat susul Zuy!" titah Pak Randy
Akan tetapi Bi Nana malah menundukkan kepalanya.
"Tapi aku takut kalau Zuy ...."
Pak Randy lalu memegang pundak Bi Nana dan berkata, "Na, jangan takut! Semuanya akan baik-baik saja. Dan aku sangat yakin bahwa Zuy tidak akan membenci mu, karena kamu adalah Ibunya."
Mendengar perkataan Pak Randy, Bi Nana langsung mengangkat kepalanya kembali.
"Benar juga apa kata Papih, baiklah aku akan bicara pada gadis kecilku itu," ucap Bi Nana.
"Nah gitu dong. Yaudah sana samperin Zuy dan bicara baik-baik dengannya! Biar anak-anak aku yang jaga." desak Pak Randy.
Bi Nana mengangguk. "Iya Pih, terimakasih banyak."
Lalu Bi Nana segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Setibanya di dapur, sesaat Bi Nana menghela nafasnya, kemudian ia menghampiri Zuy.
"Zuy...."
Zuy pun menoleh. "Eh Bi Nana, maaf ya Bi kalau lama. Soalnya airnya baru mat ...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Bi Nana memeluk erat Zuy sambil menangis, sontak membuat Zuy tersentak.
"Bi Nana...."
"Zuy, maafkan Bi Nana! Bi Nana benar-benar sangat bersalah padamu, Zuy. Karena Bi Nana tidak berterus terang padamu tentang Ibu kandungmu yang sebenarnya," ucap Bi Nana tersedu-sedu.
"Jadi, dari awal Bi Nana memang sudah tahu siapa Mamah sebenarnya?"
Bi Nana mengangguk. "Iya Zuy, Bi Nana tahu Mamah kamu, bahkan kami tinggal bersama. Bibi juga menyaksikan bagaimana Maria pergi meninggalkan kamu dan juga Papah kamu, Zuy." ungkapnya.
Seketika air mata Zuy mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa? Kenapa Bi Nana tidak mengatakannya padaku, kalau Bi Nana tahu siapa Mamah. Kenapa Bi Nana bersikeras untuk menyembunyikan kebenaran tentang Mamah?" sentak Zuy.
Bi Nana lalu melepaskan pelukannya.
"Zuy, kita bicara di kamar mu saja ya! Bi Nana akan menceritakan semuanya padamu." pinta Bi Nana.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia membawa Bi Nana ke kamarnya.
Kamar Z&R
Setibanya di kamar, Zuy dan Bi Nana duduk di atas sofa yang berada di kamar Zuy.
"Zuy...."
"Sekarang Bi Nana jelaskan padaku! Kenapa selama ini Bi Nana tidak memberi tahu ku siapa Mamah sebenarnya? Apa Bi Nana takut kalau aku akan pergi meninggalkan Bi Nana?" Zuy pun mulai meminta penjelasan dari Bi Nana.
"Iya Zuy, Bi Nana takut kamu akan memilih Ibumu dan pergi meninggalkan Bibi," ujar Bi Nana.
"Bi! Berapa kali Zuy pernah bilang ke Bi Nana. Bahwa sampai kapanpun Zuy akan tetap bersama Bi Nana dan memilih Bi Nana. Karena Bi Nana sudah merawat Zuy dari kecil sampai sekarang. Dan kenapa Zuy sering menanyakan Mamah ke Bi Nana, sebab Zuy ingin tahu siapa Mamah sebenarnya. Selain itu, Zuy juga ingin tahu kenapa Mamah pergi meninggalkan ku dan Papah, sampai bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi setiap aku bertanya pada Bibi, pasti Bibi selalu menghindar dan jawabannya selalu tidak tahu," ungkap Zuy meluapkan semua isi hatinya.
Bi Nana lalu memegang kedua tangan Zuy dengan erat.
"Maafkan Bi Nana. Bukan maksud Bibi menghindar, Zuy. Hanya saja setiap kamu menanyakan soal Ibumu, ada rasa sakit dalam hati Bibi dan tenggorokan Bibi pun terasa tercekat saat ingin mengatakannya padamu. Zuy, asal kamu tahu, selain rasa takut Bi Nana akan kehilangan kamu, Bibi juga sudah berjanji pada Papah kamu," jelas Bi Nana.
"Berjanji pada Papah?"
"Iya, sebelum Papah kamu meninggal, Papah kamu berpesan pada Bibi agar tidak memberitahu siapa Ibumu sebenarnya, dan beliau meminta Bibi untuk berjanji di hadapannya, Zuy. Makanya sampai sekarang Bibi tidak memberitahu kamu tentang siapa Ibumu yang sebenarnya," ungkap Bi Nana.
Seketika air mata Zuy kembali mengalir membasahi pipinya.
"Papah! Kenapa Papah tidak ingin Zuy tahu tentang Mamah?" ucap Zuy sembari menangis.
"Itu karena rasa sakit Papahmu yang terlalu dalam terhadap Maria. Selain itu, Papah kamu sangat menyayangi mu, bahkan sangat-sangat menyayangimu. Apa kamu tahu, Zuy? Saat kamu belum lahir, Papah kamu selalu bilang ke Bibi, bahwa ia sangat menginginkan anak pertamanya adalah perempuan dan Papahmu pernah berkata bahwa anak perempuan pertama itu ...."
Bi Nana menceritakan kisah masa lalu saat Zuy masih di dalam kandungan Maria.
......................
Flashback 29 tahun sebelumnya....
Kala itu Bi Nana tengah berada di rumah sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya. Sedangkan Maria berada di dapur sedang memasak untuk makan malam.
Lalu....
"Aku pulang...." seru seorang lelaki yang tak lain adalah Papah Jordhan (Papahnya Zuy).
"Kakak selamat datang," sambut Bi Nana.
Kemudian Papah Jordhan melangkah menghampiri Bi Nana dan duduk di samping Bi Nana.
"Sedang apa kamu, Na?" tanya Papah Jordhan.
"Nana sedang belajar Kak, banyak tugas sekolah yang belum sempat Nana kerjakan," jawab Bi Nana.
"Maria?"
"Kak Maria sedang di dapur, Kak."
__ADS_1
Papah Jordhan lalu menyandarkan kepalanya di dinding sofa.
"Nana, apa menurutmu anak Kakak itu perempuan?" tanya Papah Jordhan.
"Entahlah, Nana gak tahu."
Mendengar itu, Papah Jordhan menegakkan duduknya kembali dan mendaratkan tangannya di atas kepala Bi Nana.
"Huuu.... Kamu ya, kalau di tanya selalu jawabnya gak tau terus," gumam Papah Jordhan.
"Iih, Nana memang gak tahu Kakak. Nana kan bukan Dokter kandungan," celetuk Bi Nana sembari menurunkan tangan Papah Jordhan.
Kemudian Bi Nana melihat ke arah Papah Jordhan.
"Sekarang Nana tanya ke Kakak. Kenapa Kakak selalu bertanya tentang anak Kakak perempuan atau bukan?" tanya Bi Nana menyidik.
"Ya sebab Kakak sangat menginginkan anak pertama Kakak itu perempuan," ujar Papah Jordhan.
"Alasannya?"
"Ya karena anak perempuan pertama itu bahunya sekuat baja dan hatinya setegar karang. Dan Kakak ingin anak Kakak seperti itu. Apapun yang terjadi padanya, ia harus kuat dan mampu menghadapinya. Tidak menjadi gadis yang lemah dan tidak gampang menyerah," ucap Papah Jordhan.
"Hmmmm.... Alasan mu sangat konyol Kak," celetuk Bi Nana.
Sehingga membuat Papah Jordhan mendengus kesal, ia pun kembali mendaratkan tangannya ke kepala Bi Nana sambil mengusap kasar rambut Bi Nana.
"Kak Jordhan! Kebiasaan banget suka ngacak rambut ku," pekik Bi Nana.
"Habisnya kamu bilang kalau alasan Kakak ini adalah alasan konyol," gerutu Papah Jordhan.
Lalu kemudian Maria datang sembari membawa nampan berisi segelas susu dan segelas air minum.
"Huh! Kalian ini kalau sudah ngumpul pasti ribut," pekik Maria.
"Habisnya Kak Jordhan gangguin aku yang lagi belajar," gumam Bi Nana.
Pandangan Maria pun langsung mengarah ke Papah Jordhan.
"Pasti gara-gara anak perempuan lagi," cetus Maria.
Papah Jordhan terkekeh sambil menggaruk kepalanya. Kemudian Maria duduk di samping Papah Jordhan.
"Memangnya kamu benar-benar mengharapkan jika anak yang aku kandung ini perempuan?"
Papah Jordhan mengangguk cepat. "Iya, sangat-sangat mengharapkan."
"Terus kalau misalnya yang lahir laki-laki bagaimana?" tanya Maria.
"Ya tidak apa-apa. Tapi aku sangat berharap kalau dia itu perempuan," ujar Papah Jordhan sambil mengelus perut besar Maria.
"Yaudah kita berdoa saja, semoga anak yang aku kandung ini adalah perempuan, sesuai keinginan mu," ucap Maria.
Papah Jordhan menyunggingkan senyumannya.
"Aku selalu berdoa untuk kalian semua, orang-orang yang aku sayangi," kata Papah Jordhan sambil memeluk istri dan adiknya itu.
Flashback End.
......................
"Begitu lah Zuy, dan semakin bahagianya Papah kamu, saat kamu lahir di dunia ini, impian Papahmu untuk memiliki anak pertama perempuan akhirnya terwujud. Akan tetapi kebahagiaan itu hanya sesaat dan berubah menjadi duka. Di saat Maria meninggalkan kalian, Papah kamu yang tadinya orangnya sangat ceria, suka becanda. Seketika ia berubah menjadi pendiam, depresi dan bahkan sampai mengidap penyakit parah. Awalnya Bi Nana berharap bahwa Papahmu bisa bertahan dengan keadaannya dan melihat mu tumbuh menjadi gadis cantik. Namun takdir berkata lain, Papahmu pergi meninggalkan kami, dan sehari setelah kepergian Papahmu. Kamu malah di bawa pergi oleh orang-orang panti asuhan. Itu membuat Bi Nana benar-benar sangat terpukul dan dari situ Bi Nana sangat membenci Mamah kamu, Zuy." ungkap Bi Nana.
Tangis Zuy pun pecah saat mendengar cerita yang sebenarnya dari Bi Nana.
Hiks....
"Papah...."
Melihat Zuy menangis seperti itu, Bi Nana langsung memeluknya.
"Maaf...."
"Tidak apa-apa, Bibi sudah memaafkan mu. Dan Bibi juga minta maaf, karena selama ini Bibi telah membohongi mu, Zuy." ucap Bi Nana mengusap air mata Zuy.
Sesaat setelah perasaan keduanya tenang, mereka segera melepaskan pelukannya.
"Sudah kamu jangan menangis lagi ya! Kasihan anak-anak mu ini." tutur Bi Nana.
"Iya Bi Nana," balas Zuy.
"Yaudah kalau gitu kita keluar yuk! Kasihan Paman kamu, pasti kerepotan karena Nara dan Rana," ajak Bi Nana.
Zuy kembali menganggukkan kepalanya, kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kamar tersebut. Setibanya di ruang tamu, Bi Nana dan Zuy langsung menghampiri Pak Randy yang tengah berada di sana, begitu pula Airin yang sedang bermain dengan Nara.
"Pih, maaf sudah menunggu lama," ucap Bi Nana.
"Tidak apa-apa Na, terus bagaimana dengan kalian? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Pak Randy.
Bi Nana tersenyum dan berkata, "Semuanya baik-baik saja, terimakasih banyak Pih."
"Iya, terimakasih ya Paman," sambung ucap Zuy.
"Sama-sama...." balas Pak Randy
"Oh iya, Zuy lupa air minum buat Paman dan Bibi," seloroh Zuy sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Tidak usah Zuy," kata Pak Randy.
"Kenapa Paman?" tanya Zuy.
"Sebab aku yang sudah buatin minumannya, Zuy." sela Airin
"Oh, terimakasih banyak Rin," ucap Zuy.
Airin pun tersenyum, kemudian Nara menghampiri Zuy.
"Kakak Zuy, kita main di pasir di pantai yuk!" ajak Nara.
"Baiklah, Kakak temani kamu main pasir," balas Zuy.
"Aku ikut!!" seru Airin mengacungkan tangannya.
Nara lalu menghampiri kedua orang tuanya.
"Mamih, Papih. Boleh ya kalau Nara main ke pasir."
"Iya boleh, tapi jangan ke tengah laut ya! Airin, Zuy. Kalian jaga Nara dengan baik!" tutur Bi Nana.
"Iya Bi Nana," ucap Airin dan Zuy serempak.
"Oh iya Zuy, Bi Nana pinjam dapurmu ya!"
Zuy mengangguk. "Iya Bi, pakai aja. Yaudah kita ke depan dulu ya Bi Nana."
Lalu kemudian Zuy, Nara dan Airin melangkah keluar menuju ke tepi pantai.
"Semoga setelah ini, gadis kecil mu tidak bersedih lagi ya Na."
"Iya Pih, semoga saja."
...----------------...
Menjelang Senja....
__ADS_1
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, langit pun sudah mulai mengubah warnanya.
Setelah lama berada di Villa, kini saatnya Pak Randy dan Bi Nana pamit pulang ke rumah.
"Paman, Bibi. Gak nginap di sini? Atau setidaknya nunggu sampai Ray pulang?" tanya Zuy dengan raut wajah yang sedih.
Kemudian Bi Nana memeluk erat tubuh Zuy.
"Tidak sayang, takutnya sampai rumah kemalaman. Kasihan kan Rana sama Nara," ucap Bi Nana.
Sesaat mereka melepaskan pelukannya, Bi Nana lalu memegang kedua pundak Zuy.
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang! Jangan banyak pikiran, makan yang teratur. Ingat apapun yang terjadi, kami akan selalu berada di sampingmu, Zuy. Jadi kamu tidak perlu bersedih lagi ya!" tutur Bi Nana.
"Iya Bi, terimakasih."
Bi Nana melepaskan tangannya dan beralih pandangan ke arah Airin.
"Airin, Tante titip Zuy ya!" pinta Bi Nana pada Airin.
"Iya Tante," balas Airin.
Zuy dan Airin langsung menyium tangan Pak Randy dan Bi Nana secara bergantian. Sesaat setelahnya, Bi Nana dan Pak Randy pun pergi.
"Rin, aku duduk di sana dulu ya! Soalnya mau lihat sunset," ujar Zuy.
"Ayo aku temani, aku juga ingin melihatnya."
Mereka berdua pun melangkah beberapa jarak dari Villa. Setelah itu Airin dan Zuy duduk di kursi santa yang berada di sana sambil melihat pemandangan laut senja dan penampakan terakhir dari matahari.
"Selalu ada perasaan tenang setelah melihat keindahan alam di senja hari," ucap Zuy.
"Iya kamu benar Zuy, saat kita melihat matahari terbenam, seakan ada sebagian dari diri kita yang ikut pergi bersamanya, entah itu rasa sedih, capek atau hal lainnya."
Beberapa saat kemudian....
Setelah puas menikmati pemandangan alam, Airin langsung bangkit dari posisinya.
"Zuy kita masuk yuk!" ajak Airin.
"Kamu duluan aja Rin, aku masih ingin tetap di sini," ujar Zuy.
"Yaudah kalau begitu, tapi jangan lama-lama ya! Nanti kamu masuk angin," tutur Airin.
Zuy mengangguk, kemudian Airin melangkahkan kakinya menuju ke Villa meninggalkan Zuy sendirian. Selang beberapa saat setelah Airin pergi, tiba-tiba seseorang datang dan menutupi mata Zuy dengan tangannya, sontak membuat Zuy terkejut.
"Ray...."
"Iya sayangku, ini aku." sahutnya yang ternyata Ray.
Kemudian Ray menurunkan tangannya dan beralih duduk di samping pujaan hatinya itu.
"Sedang apa kamu di sini sayangku? Di mana Airin?" tanya Ray.
"Sedang menikmati angin laut saja Ray, Airin udah masuk ke dalam," jawab Zuy.
Ray lalu menangkup kedua pipi Zuy.
"Sayangku, apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu aku baik-baik saja, tampanku."
"Syukurlah kalau begitu, ayo masuk ke dalam! Aku sudah belikan martabak sesuai pesanan sayangku," kata Ray.
"Waaah.... Terimakasih banyak Ray."
Zuy dan Ray segera bangkit dari posisinya, kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke Villa-nya. Sesampainya mereka di dalam Villa, nampak Airin dan Davin tengah duduk sambil menikmati kebab yang di beli oleh Davin.
"Dasar kalian berdua, kalau udah akur aja kaya suami istri," celetuk Ray.
Uhuuk....
Airin tersedak mendengar celetukan dari Ray itu.
"Tuan bos, bicaranya suka ngasal nih," gerutu Airin.
"Tau nih Tuan Ray," sambung Davin.
Sehingga membuat Ray dan Zuy terkekeh.
"Yaudah kalian lanjutin kencan berduanya, kita mau ke kamar dulu," kata Ray.
"Iya, paling mau misteri kriet-kriet atau cuplak-cuplak air lagi," celetuk Davin.
Mendengar itu, Ray langsung melemparkan jas-nya ke arah Davin. Kemudian mereka melangkah menuju ke arah kamar.
"Bener-bener Tuan satu ini," gerutu Davin.
"Hahaha...." tawa Airin menggema.
Kamar Z&R
Setelah sampai di kamar, Zuy langsung membantu Ray melepaskan kemejanya.
"Ray terimakasih ya," ucap Zuy.
"Terimakasih untuk apa sayangku?" tanya Ray kebingungan.
Zuy mendongakkan kepalanya dan menatap lekat wajah Ray.
"Terimakasih untuk semua yang sudah kamu berikan padaku," ungkap Zuy.
"Sayangku, aku sudah pernah bilang padamu. Bahwa aku akan melakukan apapun demi kamu, walaupun nyawaku taruhannya."
"Ray jangan bicara tentang nyawa kamu taruhannya! Sebab aku tidak ingin kamu pergi dan meninggalkan ku lagi," lirih Zuy.
"Sayangku, aku tidak akan meninggalkan mu. Aku akan selalu berada di sampingmu selamanya," ucap Ray dengan sungguh-sungguh.
Zuy tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Ray, melihat pujaan hatinya tersenyum, Ray pun ikut bahagia. Dengan sigap, ia langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dan menyesapnya dengan lembut sampai keduanya tenggelam dalam nafsu yang menggelora di jiwa.
Ya malam akan semakin panjang dengan keromantisan dua sejoli ini.
*********************
Amerika
Β°Apartemen Kimberly
Sementara itu, Kimberly nampak terbangun dari tidurnya, tangannya pun meraba-raba ke atas nakas untuk mengambil hpnya. Setelah dapat ia pun langsung melihat ke arah layar hpnya sambil bangkit dari posisinya menjadi duduk.
"Ternyata sudah pagi, padahal ingin istirahat lama. Tapi sayangnya jadwal ku padat," lirih Kimberly sambil mengusap matanya.
Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju ke kamar mandi. Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Kimberly berdiri di depan wastafel dan menyalakan kerannya. Ia pun segera membasuh wajahnya.
Ketika pandangannya mengarah ke kaca besar yang berada di depannya, tiba-tiba.....
Aaaaaah....
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
__ADS_1
Salam Author... πβπβ