Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Serigala Buas...


__ADS_3

<<<<<


Linda memeluk Erlin, "Kamu memang anak pintar sayang, Tuan Ray pasti tergila-gila padamu,"


"Tentu saja, siapa sih yang tidak tergoda oleh kecantikanku. Tuan Ray tunggu Erlin!"


Lontar Erlin dengan percaya dirinya, ia berharap bahwa Ray akan terpesona melihatnya.


"Jangan membuat masalah lagi Erlinda!" pekik Pak Wildan.


Mendengar itu, Erlin dan Linda langsung melihat ke arah Pak Wildan.


"Papih kenapa bicara seperti itu? Apa salah kalau Erlin menunjukkan kecantikannya pada Tuan Ray?" tanya Linda.


"Pokoknya kau jangan membuat masalah! Kalau sampai itu terjadi, Papih akan mengambil semua fasilitas kamu, dari mobil, kartu Atm dan semua uangmu!" sergah Pak Wildan.


Erlin pun menundukkan kepalanya, sedangkan Linda menatap tajam ke arah Pak Wildan.


"Papih, kenapa Papih jadi kasar sama Erlin sih? Bukankah dulu Papih juga menginginkan Erlin menjadi pendamping Tuan Ray?"


"Memang benar Papih ingin sekali Tuan Ray jadi menantu kita. Tapi sayangnya cara kalian itu yang membuat Tuan Ray marah bahkan dia ingin memblokir Perusahaan kita," jelas Pak Wildan dengan nada tinggi.


"Iya Mamih tahu, tapi ...,"


"Sudah jangan kebanyakan tapi, ini adalah kesempatan terakhir kita, lakukan tugas kalian dengan baik, minta maaflah dengan benar, jika kalian masih berbuat ulah, maka kalian akan tau akibatnya!" gertak Pak Wildan.


Linda dan Erlin pun menundukkan kepalanya.


"Awas kau OB j*lang!" batin Erlin.


"Ayo kita ke Perusahaan dulu, setelah itu baru kita ke Perusahaan CV!"


Keduanya pun mengangguk cepat, lalu mereka bergegas pergi menuju ke Perusahaan.


***********************


Sementara itu di perjalanan, Dimas nampak tengah mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit, lalu....


Drrrrt... Drrrrt.. Drrrrt...


Mengetahui hpnya berdering, ia pun segera menjawab telponnya melalui earphon bluetoothnya.


"Iya, di sini Dokter Dimas," ucapnya.


"Dimas, ini saya Dokter Arif," ujarnya yang ternyata Dokter Arif.


"Oh, Dokter Arif ada apa Dok?"


"Begini, aku minta bantuan mu Dimas, hari ini aku keluar kota karena ada urusan mendesak, dan di rumah sakit masih ada pasien-ku. Dia terkena alergi," ujar Dokter Arif


"Jadi...,"


"Saya minta kamu ke rumah sakit HR, tolong sementara gantiin saya ya Dim! Oh iya nama pasiennya Zoey Lestari, dia berada di kamar VVIP A," jelas Dokter Arif.


"Baiklah Dok, saya akan ke rumah sakit HR sekarang."


"Terimakasih ya Dimas, maaf merepotkan mu lagi," ucap Dokter Arif


"Tidak perlu sungkan begitu Dok, kaya sama siapa aja."


Lalu Dokter Arif memutuskan telponnya. Dimas pun segera putar arah dan bergegas menuju ke arah rumah sakit HR.


*********************


Rumah Sakit HR


Ray dan Davin tengah duduk santai di sofa setelah selesai menyantap sarapannya.


"Kak Davin, apa schedule hari ini?" tanya Ray


Davin pun mengambil tab-nya di atas meja dan membukanya.


"Eummm, sepertinya untuk hari ini Schedule anda hanya menandatangani beberapa berkas...."


"Itu bisa nanti, lalu ada lagi?" tanya Ray


"Tidak ada Tuan Ray, akan tetapi ada email masuk, bahwa Pak Wildan akan datang ke Perusahaan bersama anak dan Istrinya," jelas Davin.


Tiba-tiba Ray menyunggingkan senyum sinisnya. "Oh seperti itu ya."


"Apa anda ingin menemui mereka?" tanya Davin. Lalu pandangan Ray mengarah ke Zuy.


"Sayangku...."


Zuy menoleh, "Ada apa Ray?"


"Apa kamu ingin menemui wanita jahat itu?" tanya Ray.


Zuy pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Ray, untuk saat ini Zuy tidak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk orang-orang jahat."


Mendengar perkataan Zuy, Ray menyunggingkan senyuman bahagia, pandangannya pun beralih ke arah Davin.


"Apa Kak Davin mendengarnya?"


"Iya Tuan Ray, saya mendengarnya." jawab Davin.


"Untuk masalah ini, Kak Davin pasti tau kan apa yang harus Kak Davin lakukan!"


Davin mengangguk cepat, ia pun tersenyum sinis. "Tentu saja saya sangat mengerti Tuan Ray."


"Bagus...." ucap Ray.


"Tuan Ray, bisakah saya terlebih dahulu pergi ke suatu tempat, sebelum ke Perusahaan?" tanya Davin


"Memangnya Kak Davin mau kemana?"


Tiba-tiba Davin menundukkan kepalanya, nampak air matanya mengalir dan jatuh ke bawah.


"Kak, ada apa?"


Seketika Davin mengangkat kepalanya dan berkata, "Saya dapat kabar bahwa Shaka meninggal, Tuan."


"Apa!! Shaka Asistennya Tuan Stevano?" tanya Ray terkejut.


Davin mengangguk pelan, "Iya Tuan Ray."


Zuy yang mendengarnya pun ikut terkejut, lalu kemudian Ray menggeserkan badannya dan memegang pundak Davin.


"Kak, jika Kak Davin ingin pergi ke sana, maka pergilah! Dia juga sahabat Kak Davin kan? Beri penghormatan terakhir untuknya!"


"Iya Tuan Ray terimakasih," ucap Davin sambil bangkit dari posisinya, "Tuan Ray, kalau gitu saya permisi dulu!"


"Iya, salam buat Tuan dan Nyonya Stevano!"


Davin menganggukkan kepalanya, lalu pandangannya beralih pada Zuy. Zuy pun mengangguk, kemudian Davin berjalan keluar dari kamar tersebut. Ray beranjak dari posisinya dan menghampiri Zuy.


"Sayangku, apa masih enek perutnya?" tanya Ray sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang samping Zuy.


"Sedikit Ray, ini efek dari obat alergi itu, dan lagi mungkin magh Zuy kumat," jelas Zuy.


Ray seketika memicingkan matanya ke arah Zuy saat mendengar penjelasan dari Zuy.


"Tadi sayangku bilang apa? Magh kambuh? Apa sayangku sering telat sarapan?" tanya Ray menyidik.


"Ahahaha, sebenarnya setiap berangkat kerja Zuy gak sarapan dulu, ta-tapi Zuy bawa bekal sarapannya ke kerjaan," ujar Zuy dengan gugup.


"Berarti sayangku selalu bohong padaku?"


Zuy menundukkan kepalanya, "I-iya Ray, ma-maaf," ucapnya.


Sesaat Ray menghela nafasnya, ia pun mencubit pipi Zuy.


"Dasar sayangku ini, benar-benar tidak penurut," pekik Ray.


"Awww, iya maaf Ray, tapi Zuy janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Janji?!"


Zuy mengangguk cepat dan mengangkat dua jarinya.


"Iya janji.." ucap Zuy sambil tersenyum.


Ray melepaskan tangannya dari pipi Zuy dan beralih memegang kepala Zuy.


"Ray pegang janji sayangku, tapi kalau sayangku mengulanginya maka ...," Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Ray akan buat sayangku kelelahan sampai tidak bisa berjalan," bisiknya membuat Zuy membulatkan matanya.


"Ray, apa kau serigala buas?"


Ray terkekeh sambil menjauhkan wajahnya dari telinga Zuy dan memandang Zuy.


"Iya, Ray memang serigala buas yang akan melahap sayangku yang cantik ini..., Rasakan!" papar Ray sambil menggelitik pinggang Zuy.


Mendapat serangan dari Ray, Zuy pun merasa kegelian.


"Ray cukup! ini membuatku sangat geli, hahaha..."


"Ray akan berhenti, asal ada syaratnya!" kata Ray

__ADS_1


"A-apa syaratnya?"


"Bilang seperti ini, Tampan-ku Ray, aku sayang kamu!"


Zuy mengangguk cepat, "Iya-iya... Tampan-ku Ray, aku sayang kamu!"


"Selamanya..."


"Iya selamanya...."


Ray menghentikan aksinya, lalu ia mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy, sesaat setelahnya..


"Aku juga sayang kamu, sayangku." ucap Ray.


Seketika senyuman Zuy langsung mengembang, Ray lalu beranjak dari posisinya.


"Ray mau kemana?" tanya Zuy


"Mau mandi, badan Ray lengket, hmmm... apa sayangku mau ikut?" goda Ray


Zuy mengibas tangannya. "Tidak terimakasih."


Ray terkekeh, ia pun berjalan menuju ke arah kamar mandi.


"Terimakasih Ray, kau benar-benar membuat perasaanku membaik dari sebelumnya," lirih Zuy.


Lalu kemudian seseorang masuk ke kamar rawat Zuy dan ternyata dia Dokter Dimas.


"Selamat pagi, saya Dok ..., lho Zuy!!"


Zuy menoleh ke arah Dimas, "Tuan Dimas!!"


Dimas segera menghampiri Zuy.


"Tuan Dimas, kenapa bisa di sini?" tanya Zuy


"Saya di sini untuk menggantikan Dokter Arif, dan lagi kenapa kamu bisa di rawat? Ah tunggu sebentar, tadi Dokter Arif bilang pasien terkena alergi. Jangan-jangan kamu masuk ke rumah sakit karena alergi? Apa benar?" tanya Dimas yang curiga.


Zuy menganggukkan kepalanya, "Iya Dokter, sebenarnya saya memiliki alergi terhadap seafood."


"Berarti ini gara-gara ..., Zuy maaf kami tidak tahu kalau kamu punya alergi seafood," ucap Dimas menunduk


"Tidak apa-apa Dokter, Zuy paham kok, Zuy juga minta maaf karena pergi mendadak," kata Zuy.


"Iya, oh iya nanti saya akan kasih tahu Bunda bahwa kamu di rawat di sini," ujar Dimas.


Akan tetapi Zuy malah menggelengkan kepalanya, "Jangan beritahu Nyonya! Zuy gak mau nantinya Nyonya kepikiran dan merasa bersalah. Zuy kasihan sama Nyonya dan lagi Zuy gak mau Mrs Maria juga mengetahuinya," pinta Zuy


"Apa kamu takut bertemu dengan Kak Maria?"


Zuy menundukkan kepalanya, "Iya saya takut Dok, saya masih trauma dengan kejadian itu, jadi saya mohon biar Dokter Dimas saja yang tahu."


"Kasihan Dia sampai trauma gitu, gara-gara Kak Maria," batin Dimas.


"Baiklah, saya tidak akan bilang pada mereka, yaudah saya periksa dulu ya!"


Zuy mengangguk, Dimas pun mulai memeriksa Zuy, lalu Ray keluar dari kamar mandi.


"Sayangku ada siapa?" tanya Ray membuat Zuy dan Dimas menoleh ke arahnya.


"Ray sudah mandinya?" tanya Zuy


Ray mengangguk, "Sudah sayangku, hmmm.. Bukankah anda Dokter Dimas, Dokternya Om Willy?" tanya Ray pada Dimas.


"Iya anda benar sekali Tuan, sebentar ya Tuan!" ujar Dimas, sesaat setelahnya, Dimas selesai memeriksa Zuy.


"Bagaimana Dok?" tanya Ray


"Syukurlah sudah mendingan, hanya saja dia harus banyak istirahat," jelas Dimas.


Mendengar penjelasan dari Dimas, Ray menghela nafas leganya.


"Syukurlah, terimakasih Dokter," ucap Ray.


"Iya sama-sama, ngomong-ngomong anda bukannya keponakan Pak Willy dan anda juga Ceo dari CV kan?"


Ray mengangguk sambil mengulurkan tangannya. "Iya anda benar Dokter, perkenalkan saya Rayyan G Michael."


"Saya Dimas," ucapnya sambil menjabat tangan Ray. Sesaat kemudian mereka melepaskan tangannya.


"Oh iya, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dimas.


"Euum Dok, apa hari ini Zuy boleh pulang?" tanya Zuy


"Iya, sore ini kamu bisa pulang ke rumah," jawab Dimas.


"Sama-sama Zuy," ia pun melangkahkan kakinya menuju ke luar.


Kemudian Ray mendudukan dirinya di samping Zuy.


"Sayangku, kamu mau buah?" tawar Ray.


"Boleh, Zuy mau apel Ray," kata Zuy.


Ray lalu mengambil satu buah apel di ranjang buah, ia pun mengupaskannya untuk Zuy.


************************


Sementara itu di tempat lain...


Tak terasa hari semakin siang, matahari pun sudah hampir di atas kepala. Dan nampak seorang wanita tengah berdiri sambil memandangi sebuah rumah dan tak lain adalah Maria, dan rumah yang sedang ia pandangi adalah rumah Zuy.


"Hmmm, ternyata rumahnya kecil juga, tapi berani-beraninya melawan burung Phoenix," pekik Maria. Lalu tiba-tiba ...,


"Maaf, anda sedang apa berdiri di sini? Dan lagi kenapa anda melihat ke arah rumah Zuy?" tanyanya.


"Maria pun menoleh, " Anda siapa ya?" tanyanya.


"Perkenalkan saya Ida, tetangga yang punya rumah itu," jawabnya yang ternyata Ibu Ida.


"Maria.. Maria Fuca," ujar Maria, "Anda katanya tetangganya ya?"


"Iya saya tetangga Zuy, ada apa?"


"Begini, saya mau nanya yang punya rumah itu biasa pulang kerja jam berapa ya?" tanya Maria.


Lalu Bu Ida menyunggingkan senyuman liciknya.


"Dia kalau pulang kerja suka Malam, tapi selama ini dia tidak pernah pulang ke rumah," ujar Bu Ida.


"Dia tidak pulang?!"


Bu Ida menganggukkan kepalanya, "Iya, kan dia wanita gak benar, suka bawa-bawa pria dan perebut milik orang, pokoknya wanita gak benar," kata Bu Ida berbohong


"Apa! Ternyata dia memang gak baik dan gak benar, suka mengambil milik orang lain, dasar j*lang," umpat Maria, ia pun melihat ke arah Bu Ida.


"Terimakasih banyak, sudah memberi tahu ku," ucap Maria


"Sama-sama, yaudah kalau gitu saya permisi dulu," pamit Bu Ida.


Bu Ida pun melenggang pergi meninggalkan Maria. Sesaat setelahnya Maria mengambil hpnya yang berada di dalam tas. Kemudian ia menghubungi seseorang.


"Aku ada tugas untuk kalian!"


**********************


Di lain tempat, Pak Wildan, Linda dan Erlin tengah siap-siap berangkat menuju ke Perusahaan CV. Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Pak Wildan mendapat email dari Davin, kemudian Pak Wildan langsung membukanya dan membacanya.


"Kita tidak jadi pergi, Tuan Ray sedang pergi bersama wanita itu," ujar Pak Wildan sambil mengerutkan dahinya


"Hah! Tuan Ray pergi dengan OB j*lang itu?" lontar Erlin terkejut.


"Tsk, kenapa malah tidak jadi sih, apa Tuan Ray sengaja mengulur waktu?" lirih Pak Wildan


"Sepertinya bukan Tuan Ray Pih, Erlin menduga ini pasti OB j*lang itu yang ngajak Tuan Ray pergi," seru Erlin. Lalu tiba-tiba...


Plaaak


"Papih!!" seru Linda, ia pun memeluk Erlin.


"Kenapa Erlin di tampar Pih?"


"Itu karena kesalahan mu, coba kalau kamu tidak cari gara-gara, pasti tidak akan seperti ini!" bentak Pak Wildan.


"Maaf Pih, Erlin gak sengaja, benar-benar gak sengaja," ucap Erlin tersedu-sedu.


"Lebih baik kalian pulang, biarkan aku sendirian!" pekik Pak Wildan.


Erlin dan Ibunya pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka bergegas pergi, sedangkan Pak Wildan mendudukkan dirinya di atas sofa karena memikirkan Perusahaannya yang hampir bangkrut.


******************


Rumah Sakit HR


Sore menjelang malam...


Zuy nampak sudah berganti pakaian, jarum infus pun sudah tidak menempel lagi di tangannya, itu pertanda bahwa Zuy akan kembali ke rumahnya. Tak lama Ray masuk bersama Henri.


"Sayangku, apa kamu sudah siap?" tanya Ray

__ADS_1


"Sudah Ray," singkat Zuy.


"Yaudah kalau gitu ayo kita pulang! Henri, tolong bawakan tas milik Nyonya!"


Henri pun mengangguk patuh, "Baik Tuan Ray."


Lalu Ray menggandeng tangan Zuy, kemudian mereka berjalan menuju keluar dari kamar inap.


******************


Rumah Ray


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka akhirnya sampai di rumah. Ray terlebih dahulu turun dari mobilnya, kemudian di susul dengan Zuy. Lalu mereka berjalan menuju ke arah pintu. Sesampainya Ray menekan kode pintu rumahnya, karena Bu Ima belum kembali juga.


Sesaat setelah pintu di buka, mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, Zuy mendudukan dirinya di atas sofa, begitu pula dengan Ray.


"Sayangku, malam ini tidur di kamarku ya! Soalnya biar Ray bisa jagain sayangku, mau ya!"


"Baiklah Ray, tapi hanya untuk tidur saja, bukan yang lainnya," pinta Ray.


"Oke, sayangku tenang aja," ucap Ray


Zuy menyunggingkan senyuman manisnya membuat Ray terpukau.


"Sayangku, senyuman mu bikin aku diabet, karena begitu manisnya," goda Ray


"Dasar kamu Ray, pintar banget ngegombal sih!" pekik Zuy.


Ray menyandarkan kepalanya di pundak Zuy.


"Tapi Ray gak ngegombal sayangku, Ray lagi memuji mu, sayangku." ucap Ray.


Sontak membuat wajah Zuy memerah, jantungnya pun berdegup kencang, Ray tersenyum saat mendengar degupan jantung Zuy.


...----------------...


Kamar Ray


Malam semakin larut, waktu menunjukan pukul 01.47Am. Ray dan Zuy nampak tengah tertidur, lalu tiba-tiba...


Tok.. Tok.. Tok...


"Tuan Ray.. Tuan Ray..." seru Davin.


Mendengar suara Davin, sontak membuat Zuy terbangun, lalu ia pun membangunkan Ray.


"Ray.. Ray.."


Ray perlahan membuka matanya dan melihat ke arah Zuy.


"Ada apa sayangku? Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Ray.


"Tidak, tapi di luar Pak Davin memanggil," jawab Zuy


"Hah! Ada apa sih adonan moci, sebentar ya sayangku!"


Zuy mengangguk, lalu Ray beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke pintu. Sesampainya Ray membuka pintu kamarnya.


Ceklek..


"Ada apa malam-malam teriak, mengganggu orang tidur saja," umpat Ray.


"Maaf Tuan Ray, tapi ini darurat."


"Darurat apa?!" tanya Ray.


"Barusan Bu Ima menghubungiku, katanya rumah Zuy kebakaran!" jelas Davin.


Mendengar penjelasan Davin sontak membuat Ray terkejut, begitu pula dengan Zuy yang sedari tadi berdiri di belakang Ray, akan tetapi Ray dan Davin tidak menyadarinya.


"Apa!! ru-rumahku kebakaran?" Zuy pun langsung menjatuhkan dirinya.


Mendengar suara Zuy, Ray dan Davin menoleh ke arah Zuy.


"Sayangku..!!" seru Ray menghampiri Zuy.


"Ray, apa benar rumah ku kebakaran?" tanya Zuy


"Zuy, kamu tenang ya!" tutur Davin.


"Pak Davin, Ray, bisakah kita kesana? Zuy ingin melihatnya," pinta Zuy


"Tapi sayangku ..., haaa.. Baiklah, Kak Davin siapkan mobil!"


"Baik Tuan Ray," patuhnya, Davin pun bergegas menuju keluar rumah, begitu pula dengan Ray dan Zuy.


Setelah berada di luar, Ray menutup pintunya, setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, Davin pun langsung menancapkan gas mobilnya menuju ke rumah Zuy.


Selama di perjalanan, Zuy tak henti-hentinya menangis, Ray terus menenangkannya.


"Sayangku sabar ya!" tutur Ray.


*************************


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di tempat, dan ternyata memang benar, rumah Zuy terbakar. Zuy segera turun dari mobilnya dan bergegas menghampiri kerumunan. Ya untungnya pemadam cepat datang, jadi api cepat di padamkan, walau sebagian sudah menjadi abu.


"Apa yang terjadi dengan rumah ku?" tanya Zuy


"Zuy, kamu sabar ya, mungkin karena korsleting listrik," ucap Bu Ima, lalu tiba-tiba..


"Makanya punya rumah jangan di tinggal, untungnya cuma rumahmu saja yang kebakaran," seru Bu Ida, membuat semuanya menoleh ke arah Bu Ida.


"Ida, jaga bicara mu! bukannya prihatin, kamu malah bikin rusuh!" pekik Bu Ima


"Ya memang benar kan kalau ...,"


"Kalau apa?!" sela Ray menatap tajam Bu Ida,


Bu Ida pun terkejut melihat Ray yang tengah berdiri di depannya dengan tatapan tajamnya.


"Ka-kamu kenapa di sini?"


"Tentu saja karena itu rumah istriku, dan lagi ternyata anda belum kapok juga ya, ah sepertinya aku harus mengunci mulut busuk anda itu, baru anda bisa berhenti bicara," gertak Ray membuat Bu Ida menciut, ia pun langsung lari terbirit-birit.


"Benar-benar orang satu ini," umpat Davin.


Kemudian mereka pun langsung menghampiri Zuy.


"Sayangku.."


Hiks...


"Ray, rumahku.." tangis Zuy.


"Iya sayangku, kamu sabar ya, nanti kita perbaiki lagi rumahnya," ujar Ray memeluk tubuh Zuy.


Lalu Petugas pemadam menghampiri Ray.


"Apa itu rumah anda?"


Ray mengangguk, "Iya itu rumah istri saya, ada apa?"


"Begini, sepertinya rumah ini kebakaran bukan karena korsleting listrik, namun ada yang sengaja membakarnya. Soalnya saya mencium bau bensin di sekitar rumah itu," jelas Petugas itu, membuat Zuy dan lainnya terkejut.


"Apa! Sengaja di bakar?!!"


***************************


Sementara itu di tempat lain, seseorang tengah berada di kamar sambil mengobrol lewat telponnya.


"Kerja bagus! Tapi apa ada seseorang yang mengetahui hal ini?" tanyanya.


"Semuanya beres Mrs, tidak ada siapapun yang tahu dan rumah itu pasti sudah hangus terbakar."


"Hmmm, yaudah kalau begitu, uangnya sudah saya transfer, pokoknya kalian berdua harus tinggalkan tempat kalian, agar tidak ketahuan!" perintahnya


"Baik Mrs, terimakasih banyak."


Telpon pun terputus.


"Ini lah akibatnya, jika berani melawan burung Phoenix. Kimberly sedikit demi sedikit Mam sudah balaskan rasa sakitmu itu. Heh, mau sampai mana dia akan bertahan!"


***Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Kabuur aaah..." 🏃🏃🏃


Ray: "Hoe jangan lari.. 💢💢 Kak Davin kejar dia..!!" 🏃🏃💣


Davin: "Baik Tuan Ray.."🏃🏃🏃💣💣


......................


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2