Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kamu Yang Istriku....


__ADS_3

<<<<<


Lalu si Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan beralih berlutut di hadapan wanita itu.


"Nona, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?"


"Hah!!"


Wanita itu terkejut mendengar pertanyaan dari si Pria tersebut.


"A-apa maksud pertanyaan mu itu?" tanya si wanita tersebut yang masih kebingungan.


Lalu si Pria itu menghela nafasnya, kemudian menyunggingkan senyumannya ke arah wanita yang berada di hadapannya itu.


"Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu?" tanya wanita itu lagi.


Kemudian salah satu tangan pria itu menggenggam erat tangan si wanita tersebut.


"Aku ulang ya pertanyaanku tadi. Nona AYiou Fransisca Vallery, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?" tegas lelaki itu.


Seketika wanita itu langsung terperangah.


"A-apa kau serius Tuan Aries Gilfan?" tanyanya yang belum percaya.


Dan ternyata mereka berdua adalah Yiou dan Aries.


Aries pun menganggukkan kepalanya. "Iya aku serius, bahkan benar-benar serius."


"Ke-kenapa kamu memintaku untuk menjadi pendamping mu? padahal kita bukan sepasang kekasih, pacaran juga tidak, status kita hanya teman ngobrol saja," cetus Yiou.


"Hmmmm.... Apa suatu hubungan itu harus di dahului dengan status pacaran?"


Yiou pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan seperti itu hanya saja ini terlalu mengejutkanku dan lagi kenapa harus aku?"


"Maaf jika ini mengejutkan mu, tapi aku benar-benar serius Nona. Apa kamu tahu, setelah aku mengenal mu dan menjadi teman ngobrol mu selama beberapa bulan ini. Ada rasa yang tidak biasa menyerang pada diriku ini, awalnya aku pikir ini hanya perasaan nyaman antara teman mengobrol saja. Akan tetapi lama-kelamaan, perasaan ini malah semakin mendalam, bahkan di pikiranku selalu muncul wajahmu dan senyumanmu itu. Dan aku baru menyadari perasaanku ini, bahwa aku sedang jatuh cinta dengan seorang wanita, yaitu kamu Nona AYiou," ungkap Aries panjang lebar.


Seketika air mata Yiou mengalir dengan sendirinya, kemudian ia menundukkan kepalanya.


"Apa kamu benar-benar yakin memilih wanita seperti ku? Bahkan usia ku lebih tua darimu," tanya Yiou


"Hei usia kita itu sama, sama-sama 32 tahun, hanya saja kamu lahir dua bulan lebih dulu dari ku. Aku benar-benar yakin dengan pilihanku ini dan aku tidak ingin menundanya lagi. Sebab kalau aku menundanya lagi, aku akan kehilangan cintaku untuk yang kesekian kalinya dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Maka dari itu aku langsung melamarmu, Nona AYiou." ujar Aries.


Kemudian Aries kembali menyodorkan kotak tersebut pada Yiou.


"Nona AYiou Fransisca Vallery, Aku Aries Gilfan dengan tulus dan bersungguh-sungguh melamar dan meminta mu untuk menjadi pendamping hidup ku! Apakah kamu mau hidup bahagia bersamaku?"


Semua pegawai Resto dan para pengunjung Resto yang melihatnya pun ikut tegang dan penasaran dengan jawaban dari Yiou.


"Ayo dong Nona, terima Tuan Aries!"


"Terima... Terima... Terima....!"


sorak dari orang-orang yang berada di sana...


Lalu kemudian Yiou mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Aries. Aries pun terlihat gugup sehingga keringatnya mulai bercucuran membasahi pelipis dan dahinya.


"Aku ...."


"Iya," sahut Aries


Yiou pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya aku mau, aku mau hidup bahagia bersamu Tuan Aries Gilfan," ucap Yiou menerima Aries.


Deeeg...


Jantung Aries langsung berdegup kencang, senyuman bahagia pun terukir di wajahnya. Seketika ia memeluk Yiou dengan erat.


"Terimakasih sudah menerimaku...."


"Sama-sama Tuan Aries," balas Yiou. Lalu ....


Prok.... Prok... Prok....


"Horee... Akhirnya di terima..."


Suara tepukan dan sorakan bersatu seraya ikut berbahagia melihat pasangan baru ini. Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya.


"Apa aku boleh menyematkan cincin ini ke jari manismu?" tanya Aries.


Akan tetapi Yiou menggelengkan kepalanya, sontak membuat Aries terkejut.


"Kenapa tidak mau? Bukankah kamu menerima ku?" tanya Aries.


"Aku memang menerima mu, tapi belum tentu dengan keluarga ku. Aku akan mengizinkan mu menyematkan cincin itu di jari manisku, jika kamu datang ke rumah Kak Willy bersama keluarga mu dan meminta izin pada Kak Willy. Walau bagaimanapun Kak Willy adalah wali-ku," pinta Yiou.


"Baiklah, kalau itu keinginan mu Nona, aku akan datang ke rumah Pak Willy untuk meminta restunya. Namun aku akan datang bersama Om Randy, karena di sini hanya ada Om Randy dan Tante Nana, sedangkan orang tua ku masih di Istanbul," Aries menyetujui permintaan Yiou.


Yiou pun tersenyum. "Iya gak apa-apa jika kamu datang bersama Om Randy. Lalu kapan kamu ke rumah Kak Willy? Ah maksudku biar kita menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan mu dan keluargamu."


"Aku akan diskusikan dengan Om Randy dulu, soalnya sekarang Om Randy tengah sibuk bolak-balik ke rumah sakit," ujar Aries.


"Rumah sakit? Memangnya yang sakit siapa?" tanya Yiou


"Tidak ada yang sakit, hanya saja Tante Nana habis melahirkan, jadi ya ...."


"Tante Nana? Bibinya Zuy sudah melahirkan? Ya ampun maaf aku baru tahu, soalnya dua sejoli itu tidak memberitahuku," ujar Yiou.


"Iya tidak apa-apa. Nanti juga aku akan ke rumah sakit lagi," papar Aries


"Apa aku boleh ikut?"


"Tentu boleh, bahkan aku seneng banget ada yang nemenin," kata Aries.


"Terimakasih Tuan Aries."


"Sama-sama...."


Pasangan baru itu pun melanjutkan ngobrolnya kembali.


*****************


Rumah Sakit


"Terimakasih Tuan Muda...."


Ucap Bi Nana sembari menitihkan air matanya, Pak Randy yang di samping Bi Nana pun memegangi tangan Bi Nana.


"Jangan berterimakasih seperti itu Bi, sudah kewajibanku membahagiakan, melindungi dan menjaga Zuy, meskipun nyawaku jadi taruhannya, karena Zuy adalah istri ku yang paling berharga," kata Ray bersungguh-sungguh. Lalu ....


"Istri siapa?" seru Zuy yang tiba-tiba muncul.


Sontak membuat Ray dan Bi Nana menoleh ke arahnya.


"Sayangku sudah beli ice creamnya?" tanya Ray


"Iya sudah Ray," jawab Zuy menghampiri.


Nara lalu menunjukkan kantong berisi ice cream. "Ini ice creamnya, Kakak Zuy belinya banyak banget."


"Hmmm, dasar kamu Zuy," lirih Bi Nana.


Zuy pun tersenyum. "Sekali-kali Bi, oh iya tadi Zuy dengar kata istri, memang istri siapa?" tanya Zuy.


"Istri! Ya tentu kamu yang istriku, sayangku." ujar Ray

__ADS_1


"Eiiitz kita masih calon ya," celetuk Zuy.


Kemudian Ray memberikan Rana pada Bi Nana, setelah itu ia merangkul pundak Zuy


"Iya, tapi kan ada kata istrinya, berarti ya kamu itu istriku," Ray menoel hidung Zuy.


"Hmmmm, bisa saja kamu, Ray." balas Zuy memutar bola matanya dengan malas.


Ray terkekeh, begitu pula dengan Bi Nana dan Pak Randy.


Beberapa saat kemudian....


Tak terasa waktu menunjukkan menjelang sore hari, Ray dan Zuy bersiap-siap untuk pulang.


"Bi Nana, Paman. Kita pulang dulu ya," pamit Zuy


"Iya Zuy, kalian berdua hati-hati di jalan!" ucap Bi Nana.


"Tuan Ray, terimakasih hadianya ya," sambung Pak Randy.


Ray mengangguk. "Sama-sama Pak Randy."


Lalu Ray dan Zuy mencium punggung tangan Pak Randy dan Bi Nana secara bergantian, setelah selesai, mereka pun melangkah keluar dari kamar Bi Nana menuju parkiran. Sesampainya di parkiran mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Ray, Zuy mau ke pantai," pinta Zuy


"Sayangku mau ke pantai? Baiklah kita pergi sekarang!" Ray langsung menuruti keinginan pujaan hatinya.


"Terimakasih banyak Ray," ucap Zuy.


"Masa terimakasih aja, gak ada yang lain?"


"Hmmmm... Memang yang lain apa?" tanya Zuy


Ray lalu menunjuk ke arah pipinya sendiri seraya memberikan kode pada Zuy.


"Gak, tuh ada orang, nanti di lihat lagi," tolak Zuy.


"Sayangku tenang saja! Kaca mobil ini khusus kok, jadi dari luar mereka tidak akan lihat kita," ujar Ray.


"Huuu.... Dasar kamu Ray," lirih Zuy


"Bagaimana? Apa mau?" tanya Ray


Sesaat Zuy menghela nafasnya, kemudian ia mendekatkan wajahnya.


Cup....


Zuy mendaratkan bibirnya ke pipi Ray, membuat wajah Ray merona, sesaat setelahnya, ia pun menjauhkan wajahnya kembali.


"Udah ya! Sekarang kita pergi ke pantai!" titah Zuy.


"Oke siap Nyonya Rayyan," patuh Ray.


Ray menyalakan mobilnya, sesaat kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan menuju ke pantai.


*********************


Pantai


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka pun sampai di tempat tujuan, Ray langsung bergegas menuju ke tempat parkiran yang berada di sana. Sesampainya Ray langsung memarkirkan mobilnya, sesaat setelahnya, mereka turun dari mobilnya.


"Akhirnya bisa kesini lagi," Zuy meregangkan otot-otot tangannya.


"Terakhir waktu kita sini tuh kalau gak salah sebelum kita ke Swedia ya sayangku?"


"Iya Ray, dan waktu itu juga kamu ngasih kejutan yang tak terduga untukku," balas Zuy. (Bab.103 Pantai)


Ray tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Ayo kita kesana!" ajaknya


"Sebentar Ray!" Zuy menghentikan langkahnya.


"Ada apa sayangku?" tanya Ray


"Mau buka sepatu dulu biar gak kena pasir," ujar Zuy sambil membungkukkan badannya.


Akan tetapi karena terganjal perutnya, ia pun kesusahan melepaskan sepatunya.


"Kenapa sayangku?"


"Susah, gak sampai Ray," jawab Zuy.


"Yaudah, kamu duduk dulu di sini!" titah Ray


Zuy pun mendudukkan dirinya di kursi panjang di dekatnya, kemudian Ray berjongkok di hadapan Zuy dan melepaskan sepatu yang terpasang di kaki Zuy.


"Terimakasih Ray," ucap Zuy


"Sama-sama sayangku, apapun untuk sayangku," balas Ray mengecup pipi Zuy.


Setelah selesai melepaskan sepatu masing-masing, mereka pun langsung ke tepi pantai.


"Haaaa... Suka ada perasaan tenang jika sudah berada di pantai, apalagi pas sore hari begini," ujar Zuy sembari merentangkan tangannya.


Kemudian Zuy menarik nafas dan menghembuskannya. Angin pantai berhembus kencang, membuat Zuy semakin merasa tenang.


"Bagaimana sayang, apa kamu menyukai pantai?" ucap Zuy pada calon anaknya, ia pun mengelus perutnya itu.


Ray terpukau melihat pujaan hatinya tengah mengelus perutnya, ia pun mengambil hpnya dari saku celananya, setelah itu Ray membuka camera hpnya dan mengarahkannya ke Zuy yang masih mengelus perutnya.


Cekreek...


Ray langsung mengambil kesempatan memotret Zuy dengan hpnya itu. Mendengar bunyi suara dari kamera, Zuy pun menoleh ke arah Ray.


"Ray...."


"Iya sayangku yang cantik," sahut Ray sembari menaroh kembali hpnya itu.


"Barusan, apa yang kamu lakukan?" tanya Zuy.


Ray menyunggingkan senyumannya dan mengelus pipi Zuy.


"Aku sedang mengambil potret sayangku yang cantik ini," ujar Ray


"Hmmm... Gak dimana, gak dimana, kamu selalu saja ngegombal ya Ray," celetuk Zuy


Ray lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy.


"Aku gak ngegombal sayangku, aku benar-benar serius, kalau sayangku ini memang cantik dan sangat cantik," ungkap Ray, ia pun mencium puncak kepala Zuy.


Blush....


Seketika wajah Zuy memerah bak kepiting rebus, Ray melihatnya pun hanya terkekeh saja, lalu tiba-tiba ....


Cekreek....


Suara dari kamera kembali terdengar, membuat mereka melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangannya, lalu saat pandangannya mengarah ke samping tak jauh, mereka pun terkejut melihat sosok pria dengan wajahnya yang bersinar dan ia adalah ....


"Kak Davin..!!"


"Hai jangan lupakan aku," kata Airin yang keluar dari belakang tubuh Davin. Tentu saja karena ia bersembunyi di balik tubuh Davin.


"Airin...." seru Zuy.


Airin pun langsung menghampiri Zuy, saat mereka berdua saling berhadapan, mereka langsung berpelukan.

__ADS_1


"Zuy, tadi aku ke rumah nganter mangga dan susu lho, tapi kamunya gak ada," ujar Airin.


"Oh iya, terimakasih banyak Airin. Maaf ya Rin, tadi itu aku ke rumah sakit, jenguk Bi Nana lagi," balas Zuy.


Lalu Airin melepaskan pelukannya. "Iya Zuy gak apa-apa, tadi Pak Davin udah cerita kok."


"Terus kalian berdua kenapa ada di sini? Apa jangan-jangan ...." Zuy mulai menggoda Airin.


"Jangan berfikiran yang macem-macem, Zuy." gumam Airin.


"Aku gak berfikiran macem-macem, cuma satu macam saja, hihihi..."


"Zuy, berhenti menggodaku!" seru Airin, membuat Zuy terkekeh.


Davin dan Ray yang melihatnya pun tersenyum bahagia. Lalu ....


"Ehemmm.... Kapan Kak Davin mau ngungkapin perasaan Kak Davin?"


"Maksud anda Tuan?" tanya Davin kebingungan.


"Tidak maksud apa-apa, hanya saja jangan sampai terlambat ngungkapin perasaan, takutnya nanti Kak Davin menyesal," tutur Ray.


"Hmmmm.... Tunggu! Aku masih belum paham nih maksud Tuan Ray," kata Davin menggaruk kepalanya.


Sesaat Ray menghela nafasnya dan berkata, "Haaa.... Nanti Kak Davin juga akan tahu maksudku ini."


Sepertinya biasa, Davin masih mencerna perkataan Ray. Sesaat kemudian, Ray dan Davin lalu berjalan mendekat ke Zuy dan Airin.


"Mumpung kalian berdua di sini juga, ayo kita nikmati liburan kita di sini!" kata Ray merangkul pundak Zuy.


"Oke, Tuan Bos," ucap Airin yang bahagia sembari mengacungkan ibu jarinya.


Mereka pun menikmati liburan mereka di Pantai.


...----------------...


Tak terasa waktu cepat berlalu, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 12.38Am.


Kamar Ray...


Zuy nampak terbangun dari tidurnya sambil mengusap matanya.


"Lapar...." lirih Zuy.


Setelah mengumpulkan nyawa, Zuy langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamar Ray menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, Zuy langsung membuka kulkas untuk mengambil makanan. Ia mengambil roti dan selai yang berada di kulkas. Setelah itu Zuy berjalan menuju ke meja makan.


"Hmmmm... Kamu kalau setiap malam pasti minta makan, tapi gak apa-apa yang penting kamu sehat ya sayang," ucap Zuy pada perutnya.


Zuy langsung mengambil dua lembar roti dan meletakkannya di atas piring, kemudian ia mengoleskan selai coklat, setelah itu Zuy menumpuk roti tersebut dan menyantapnya. Saat Zuy tengah asik menyantap roti, seseorang datang menghampiri, siapa lagi kalau bukan Ray.


"Sayangku ternyata kamu di sini?" seru Ray


"Ray! Kenapa kamu bangun?" tanya Zuy.


Ray mendudukkan dirinya di samping Zuy. "Habisnya sayangku gak ada di samping ku, jadi aku terbangun deh."


"Hmmmm.... Dasar kamu Ray. Ya aku terbangun juga karena aku lapar, makanya aku langsung ke dapur dan makan," ujar Zuy, lalu ia kembali memasukan roti tersebut ke dalam mulutnya.


Kemudian Ray mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zuy, ia pun menempelkan ibu jarinya di sudut bibir Zuy.


"Pelan-pelan sayangku!," tutur Ray mengusap bibir Zuy yang penuh coklat.


"Terimakasih Ray, oh iya apa kamu mau juga?" tanya Zuy.


"Boleh sayangku," jawab Ray


Zuy mengambilkan rotinya kembali untuk Ray, kemudian mereka menyantap roti bersama-sama.


***********************


Amerika..


Β°Kediaman Maria


Di Kediaman Maria, Kimberly nampak tengah duduk sambil menikmati semangkuk oatmeal, karena sebagai seorang model, ia harus menjaga postur tubuhnya agar tetap kurus. Lalu kemudian Maria datang dengan kursi rodanya menghampiri Kimberly.


"Kimberly...." panggil Maria.


Kimberly pun langsung menoleh. "Hmmmm...."


"Kamu sedang apa sayang?"


"Mam gak lihat, aku sedang makan," jawab Kimberly dengan nada dingin.


"Oh, euum Kimberly, hari ini apa kamu tetap di rumah atau pergi lagi?" tanya Maria yang berharap bahwa Kimberly tetap di rumah saja.


"Kim gak tahu Mam, kalau ada panggilan ya Kim berangkat, kalau gak ada ya Kim di rumah," ujar Kimberly. "Memangnya ada apa Mam?"


"Tidak ada apa-apa, sebenarnya Mam hanya kangen sama kamu Kim, biasanya kamu sering nemenin Mam, tapi sekarang kamu jarang nemenin Mam dan malah sibuk dengan karirmu," kata Maria. Lalu tiba-tiba ....


Praaaang...


Kimberly menjatuhkan mangkuk yang ia pegang, sontak membuat Maria tersentak.


"Kimberly...."


"Oh jadi Mam kecewa sama Kim yang lebih mentingin karir Kim?"


"Bu-bukan seperti itu Kimberly, hanya saja Mam kangen kamu yang dulu," ujar Maria.


Lalu Kimberly bangkit dari posisinya.


"Mam, bukannya Mam pernah bilang kalau Kimberly harus fokus sama karir Kim ini," cetus Kimberly.


Seketika Maria langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf Mam ...." lirih Maria.


"Please Mam, jangan seperti ini! Kimberly begini juga karena ingin membuat Mam senang dan Kimberly juga ingin mendapatkan apa yang Kimberly inginkan Mam. Apa Kim salah jika Kim lebih mentingin karir Kim ketimbang Mam dan lagi sekarang Mam tidak bisa di andalkan!" jelas Kimberly.


Seketika Maria langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kimberly.


"Kimberly, kamu!"


"Kamu apa Mam? Apa Mam marah pada Kim karena ucapan Kim barusan? Mam seharusnya aku yang marah sama Mam, karena Mam membohongi ku, Mam bilang kalau Mam tidak punya keluarga, tapi ternyata Mam masih ada Grandma dan Uncle yang masih hidup di sana!" pekik Kimberly.


"Maaf Kimberly, Mam ...."


"Dan lagi Kimberly juga sangat kecewa sama Mam, karena Mam tidak berhasil menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Ay, sekarang malah Mam terkena penyakit stroke. Lalu apa yang bisa Mam perbuat sekarang, selain duduk di kursi roda," bentak Kimberly.


Nyuuut...


Dada Maria langsung terasa sakit mendengar perkataan Kimberly, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Mam, maaf bukan maksud Kimberly buat Mam sedih. Tapi Kim hanya ingin Mam tahu, Kim begini juga karena Mam yang sekarang tidak bisa apa-apa. Makanya Kim sekarang berusaha keras, supaya Kim bisa merebut Ay kembali dari tangan wanita j*lang itu, meskipun Kimberly harus menggunakan cara jahat, yaitu membuat si j*lang tidak bisa kembali lagi selamanya," tegas Kimberly.


Mendengar itu, sontak membuat Maria tersentak kaget, Maria pun perlahan membuka mulutnya.


"Kimberly! Apa kamu serius?"


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ


__ADS_2