
<<<<<
Masih dalam percakapan lewat telepon.
Seketika Dimas langsung bangkit dari posisinya karena terkejut mendengar perkataan Archo.
"Hah! Ka-kalian mau kesini?"
Bukan hanya Dimas saja, Eqitna yang berada di sampingnya pun ikut terkejut mendengarnya.
"Dim...." Eqitna menyentuh pundak Dimas
Dimas menoleh, akan tetapi ia malah menempatkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Eqitna langsung mengerti apa yang di maksud Dimas, ia pun menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi menuju ke kamarnya kembali.
Lalu....
"Dokter Dimas! Apa anda masih ada di sana?" tanya Archo
"Ah iya saya masih disini, Tuan Archo." jawab Dimas.
"Oh, Syukurlah. Tapi nampaknya anda sangat terkejut pas saya bilang Mam ingin tinggal di sana?" tanya Archo menyidik.
"Si-siapa yang terkejut, saya biasa aja kok," ujar Dimas yang berbohong.
"Hmmm.... Ah saya tahu, pasti anda khawatir kalau Mam akan melakukan sesuatu lagi, terutama pada Zuy. Apa tebakan saya benar, Dokter Dimas?" duga Archo.
"Jujur saja, tebakan anda benar Tuan Archo. Iya saya khawatir kalau Kak Maria akan seperti itu lagi," jelas Dimas.
Sesaat Archo menghela nafasnya. "Haaa.... Awalnya saya juga khawatir Dok, tapi Mam bilang bahwa dia hanya ingin tinggal bersama Bunda saja, Mam tidak akan melakukan sesuatu buruk lagi terutama pada Zuy. Dan lagi saya pernah mendengar saat Mam sedang berbicara sendiri di kamarnya, kalau Mam sangat ingin sekali melihat Zuy yang tengah hamil besar, bahkan Mam punya keinginan untuk menemani Zuy, saat Zuy lahiran nanti," ungkapnya.
"Oh jadi seperti itu ya, Syukurlah kalau Kak Maria sudah berubah," ucap Dimas.
"Jadi bagaimana Dok, apa anda mau menjemput kami? Dan menerima Mam tinggal di sana?" tanya Archo.
"Tentu, dengan senang hati. Bunda juga sangat merindukan Kak Maria, Beliau pasti bahagia mendengar kabar ini," kata Dimas.
"Syukurlah kalau begitu Dok. Nanti saya kabari lagi kalau saya dan Mam sudah berada di Airport," ujar Archo.
"Ya, saya tunggu kabarnya dari anda!"
"Udah dulu ya Dok, saya masih ada urusan. Titip salam buat Bunda dan Dokter Eqi," ucap Archo.
"Nanti akan saya sampaikan salam anda, Tuan Archo." balas Dimas.
Mereka pun segera memutuskan telponnya.
"Kamu habis telponan dengan siapa Nak?" tanya seseorang yang tak lain adalah Bunda Artiana.
Dimas pun menoleh. "Eh Bunda. Ini Dimas habis ngobrol dengan Archo."
"Nak Archo! Apa katanya? Terus bagaimana dengan Maria, apa dia baik-baik saja?" lontar pertanyaan Bunda Artiana yang penasaran.
"Bunda kita ngobrolnya sambil duduk yuk!" ajak Dimas.
Bunda Artiana mengangguk. Kemudian mereka duduk di atas sofa.
"Bunda, tadi Tuan Archo bilang kalau Kak Maria baik-baik saja," ujar Dimas.
"Syukurlah kalau Maria baik-baik saja," ucap Bunda Artiana.
"Dan lagi ...." Dimas menghentikan perkataannya.
"Dan lagi apa Dimas?"
Dimas lalu menggenggam tangan Bunda Artiana.
"Dan lagi kata Tuan Archo, kalau Kak Maria ingin tinggal bersama kita di sini," jelas Dimas.
Seketika Bunda Artiana terperangah ketika mendengar penjelasan dari Dimas.
"Apa! Benarkah itu Dimas?" tanya Bunda Artiana.
Dimas pun mengangguk cepat. "Iya, tentu saja benar. Bahkan Dimas di suruh menjemput mereka."
"Syukurlah.... Akhirnya Maria kembali lagi ke sini. Bunda benar-benar sangat bahagia, Dimas." ucap Bunda Artiana.
"Iya Bunda, Dimas juga bahagia," balas Dimas.
"Yaudah kalau begitu, Bunda akan menyuruh Mira membersihkan kamar Maria," kata Bunda Artiana dengan senangnya.
Dimas tersenyum bahagia melihat Bunda Artiana bahagia.
"Eummm Bunda," tegur Dimas
"Ada apa Nak?" sahut Bunda Artiana.
"Apa Bunda sudah minum obat?" tanya Dimas.
Bunda Artiana menepuk jidatnya. "Aduh, Bunda lupa Nak."
"Haaa.... Sudah Dimas duga," desah Dimas.
Bunda Artiana terkekeh. "Maaf Dim, maklum Bunda kan udah tua," ucapnya.
"Yaudah Bunda tunggu di sini! Biar Dimas yang ambil obatnya." titah Dimas.
Bunda hanya mengangguk patuh. Lalu Dimas melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bunda Artiana.
****************
Villa Yiou
Sesuai dengan janjinya, setelah selesai menikmati makan malam, Zuy dan Ray pun mampir ke Villa milik Yiou yang berada di samping Villa mereka.
"Mrs Yiou...." seru Zuy
Yiou yang tengah duduk pun segera bangkit dan menghadap ke arah Ray dan Zuy.
"Akhirnya kamu datang juga, Baby." sambut Yiou.
"Maaf Mrs Yiou, tadi Zuy beberes dulu jadi ya baru datang," ujar Zuy.
Pandangan Yiou mengarah ke Ray yang berada di belakang Zuy.
"Kamu juga datang Tuan dingin?" tanya Yiou.
"Tentu saja, karena nemenin sayangku ini," jawab Ray.
Yiou pun menyilangkan kedua tangannya di dada. "Bilang aja kamu takut kalau di Villa sendirian," ledeknya.
"Si-siapa yang takut, ada-ada saja Kak Yiou ini," pekik Ray memalingkan wajahnya.
Pffft....
Zuy tiba-tiba terkekeh kecil membuat pandangan Ray dan Yiou beralih ke arah Zuy.
"Kenapa kamu terkekeh seperti itu, sayangku?" Ray bertanya pada Zuy karena penasaran.
Zuy mengibaskan tangannya. "Zuy gak kenapa-napa Ray, hanya saja Zuy ingat rumah hantu yang ada di taman hiburan," katanya.
"Rumah hantu!!" lontar Ray.
Seketika Ray langsung mengingat di mana ia pernah di bawa ke rumah hantu oleh Zuy dan Airin.
"Sayangku...." lirih Ray.
"Hmmm.... Memangnya ada kejadian apa di rumah hantu?" tanya Yiou penasaran.
"Tidak ada apa-apa, iya kan sayangku...." jawab Ray sambil tersenyum pada Zuy.
"Iya Mrs Yiou, tidak ada apa-apa di sana, hanya saja ada hantu palsu," jelas Zuy.
Yiou memanggut. "Oh.... Yaudah ayo duduk!"
"Iya, terimakasih Mrs Yiou," balas Zuy sambil mendaratkan pan-tatnya di sofa.
Begitu juga dengan Ray, yang duduk di samping pujaan hatinya itu. Ya karena ia tidak mau jauh-jauh dari Zuy.
"Kalian mau minum apa?" tanya Yiou.
"Gak usah repot-repot Kak," jawab Ray.
"Oh, yaudah kalau begitu," lirih Yiou sambil menutup laptopnya.
"Besok weekend Kak, masih sibuk aja," lontar Ray.
__ADS_1
Yiou menghela nafasnya. "Aku gak sibuk Ray, cuma lagi ngecek gaun-gaun saja."
"Oh, tapi kenapa ada alat-alat untuk menggambar?" tanya Ray menunjuk ke alat-alat tersebut.
"Hmmm.... Cuma iseng aja, daripada nganggur," jawab Yiou. "Oh iya, bagaimana keadaan Wawan?" imbuhnya.
Ray menyandarkan kepalanya di dinding sofa sambil menghela nafas panjangnya.
"Wawan sudah sadar, hanya saja kata Dokter, Wawan belum bisa di jenguk," ujar Ray
"Oh ya, Syukurlah kalau Wawan sudah sadar, coba besok kamu ke sana lagi! Siapa tahu besok Wawan udah bisa di jenguk," tutur Yiou.
"Iya Kak, besok Ray akan ke rumah sakit lagi bersama Kak Davin dan Pak Ardan," ujar Ray.
"Bagus, tapi kamu juga harus waspada! Takutnya dia juga ada di sana jenguk Wawan, karena dia menganggap Wawan itu kamu, Ray. Dan jangan sampai rencana mu gagal!" tutur Yiou.
Ray mengangguk. "Pasti Kak. Ngomong-ngomong Ray boleh ikut ke kamar mandi ya Kak!"
"Hmmm, pasti udah kebelet tuh. Buruan sana! Tar keburu ngompol di sofaku," pekik Yiou.
"Iya-iya...." pandangan Ray mengarah ke Zuy. "Sayangku, aku tinggal bentar ya!" imbuh Ray sembari bangkit dari posisinya.
Zuy pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Ray bergegas menuju ke kamar mandi. Sesaat setelah Ray pergi, Yiou langsung menghampiri Zuy dan duduk di sampingnya.
"Baby...."
"Iya Mrs Yiou...." Sahut Zuy.
"Sebenarnya, aku menyuruh mu kesini juga karena ingin minta tolong," ujar Yiou.
"Mau minta tolong apa Mrs? Siapa tahu Zuy bisa menolong," tanya Zuy.
"Iya, kamu pasti bisa nolongin aku, Baby. Sebenarnya ...."
Yiou lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy dan membisikkan sesuatu, Zuy pun seketika langsung tersenyum. Setelah selesai berbisik, Yiou menjauhkan kembali wajahnya.
"Bagaimana Baby? Apa kamu mau membantuku?" tanya Yiou dengan penuh harap.
Zuy mengangguk. "Tentu Mrs Yiou, Zuy akan membantu anda. Besok pagi datanglah!" ujarnya.
"Oke, besok pagi aku akan ke sebelah. Terimakasih Baby," ucap Yiou.
"Sama-sama Mrs Yiou," balas Zuy.
Yiou pun bangkit dari posisinya dan beralih ke tempatnya semula. Tak lama Ray datang menghampiri dan duduk kembali di samping pujaan hatinya.
"Oh iya Ray, besok malam kita bikin acara pesta barbeque yuk! Ya hanya kita-kita aja, Bagaimana?" ajak Yiou.
"Hmmm, boleh juga. Menurut mu bagaimana sayangku?" tanya Ray pada Zuy.
"Kalau Zuy sih ikut kalian aja," balas Zuy.
"Oke, nanti aku dan Baby yang akan belanja bahan-bahannya," kata Yiou.
Ray dan Zuy mengangguk serempak. Mereka melanjutkan ngobrolnya.
**********************
Villa Z&R
Zuy nampak tengah duduk bersama dengan Ray sambil membersihkan luka yang ada tangan Ray. Setelah beberapa saat mereka kembali dari Villa Yiou.
"Pelan-pelan sayangku!" pinta Ray sambil meringis.
"Memang masih sakit?" tanya Zuy.
Ray menggeleng. "Tidak sakit, hanya sedikit perih saja."
Mendengar itu seketika Zuy menundukkan kepalanya.
"Maaf Ray, gara-gara Zuy kamu ...." ucap Zuy.
"Lagi-lagi kamu merasa bersalah. Sayangku, ini tuh udah jadi kewajiban aku untuk melindungi kamu dan anak-anak kita. Dan lagi ini bukan salahmu, tapi salah wanita gila dan obsesinya itu," cetus Ray.
Zuy mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ray.
"Kamu benar juga ya Ray."
"Ya aku memang benar, maka dari itu kamu jangan merasa bersalah lagi," tutur Ray.
"Penasaran? Penasaran dengan siapa?" tanya Ray.
"Ya tentu saja dengan Kamu. Sebenarnya selain wanita yang di Swedia waktu itu (Feli) dan Nona Erlin, ada berapa banyak lagi wanita yang terobsesi dengan mu, Ray?" tanya Zuy menyidik.
"Oh jadi sayangku sangat penasaran dengan wanita-wanita yang terobsesi dengan ku itu. Ya sebenarnya banyak, dari mulai sekolah menengah pertama, menengah atas, waktu kuliah di Inggris dan Amerika, bahkan sampai sekarang," jawab Ray.
Sontak membuat Zuy tercengang mendengarnya.
"Woaa.... Ternyata banyak juga ya! Tapi dari semua wanita itu, ada yang buat kamu tertarik dan jatuh cinta?" Zuy semakin penasaran.
Ray lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada," singkat Ray.
"Kenapa? Bukankah wanita luar Negeri itu cantik-cantik, bahkan tinggi-tinggi," papar Zuy.
Ray menyunggingkan senyumannya dan mendekatkan wajahnya ke arah Zuy.
"Tentu saja karena kamu sayangku, bagiku tidak ada wanita cantik dan menarik hatiku selain si cantik yang berada di sampingku, ibu dari anak-anakku ini," ungkap Ray.
Blush....
Wajah Zuy seketika merona dan hatinya berbunga-bunga saat mendengar ungkapan Ray. Kemudian Ray menempatkan tangannya di dagu Zuy dan mendongakkannya sedikit. Lalu dengan cepat Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy, ia pun mengecup dan menyesapnya bagaikan serigala buas.
Sesaat setelah puas dengan aksinya, mereka kembali ke posisi semula dan Zuy melanjutkan aktivitasnya yaitu membersihkan luka di tangan Ray.
...----------------...
–Pukul 06.50Am
Tak terasa malam yang panjang sudah berganti pagi, semua orang melakukan aktivitas paginya masing-masing. Ya tidak semua orang sih, contohnya seperti Ray yang masih terlelap.
Ya mentang-mentang libur, jadi CEO tampan itu bisa tidur sepuasnya.
Berbeda dengan Zuy, ia sedari tadi sudah berada di dapur bersama dengan Yiou. Ya karena permintaan Yiou, bahwa ia ingin belajar masak dengan Zuy.
"Baby, sejak kapan kamu bisa masak?" tanya Yiou penasaran.
"Sejak masih duduk di bangku SMP, aku sering melihat Bi Nana masak. Ya cuma waktu itu kita masih bekerja dengan Mr Michael, jadi Bi Nana melarangku masak dengan alasan takut nanti Zuy terluka. Terus pas Zuy SMA baru Bi Nana ngebolehin Zuy masak," jelas Zuy.
"Waah.... Udah lama banget ya, aku jadi iri sama kamu deh. Huh! Pokoknya aku harus berusaha keras supaya aku bisa masak sama seperti mu, Baby." ucap Yiou dengan penuh semangat.
"Maka dari itu, aku minta tolong padamu Baby, untuk mengajariku memasak," sambung kata Yiou.
"Iya Zuy mengerti dan Zuy akan mengajari anda memasak sampai anda bisa, Mrs Yiou." balas Zuy.
"Yeaaa.... Terimakasih Baby."
Zuy tersenyum sambil mengangguk. Kemudian mereka melanjutkan aktivitas memasaknya.
Beberapa saat kemudian....
Masakan mereka pun matang, Yiou lalu membawa masakan yang sudah matang ke meja makan, sedangkan Zuy membersihkan bekas ia masak.
"Hoaaam... Selamat pagi sayangku," sapa Ray berjalan menuju ke arah dapur, nampak Ray baru bangun dari tidurnya.
"Baru bangun Ray?" seru Yiou
Sontak membuat Ray membulatkan matanya karena terkaget saat melihat Yiou yang ada di depannya.
"Kak Yiou! Sejak kapan Kak Yiou ada di sini?" tanya Ray
"Dari tadi aku udah di sini, Tuan dingin." jawab Yiou.
Lalu Zuy datang sambil membawa tempat berisi buah-buahan.
"Lho Ray, kamu udah bangun?" tanya Zuy sambil meletakkannya.
"Iya sudah, sayangku!" jawab Ray
"Yaudah ayo kita nyarap bareng!" ajak Zuy.
Ray mengangguk. "Oke sayangku."
Ray mendudukkan dirinya di atas kursi, di susul Zuy yang duduk di sampingnya. Kemudian mereka mengambil makanan yang sudah di siapkan dan menyantapnya. Saat tengah asik menikmati sarapannya, lalu tiba-tiba....
__ADS_1
"Aku datang...." seseorang datang menghampiri.
Sontak membuat pandangan mereka mengarah ke suara tersebut yang tak lain adalah Davin.
"Vin, darimana saja kamu, kok telat?" tanya Yiou.
"Aku jemput seseorang dulu," jawab Davin. "Rin.... Masuklah!"
Airin pun berjalan masuk. "Selamat pagi semua...."
"Rin, kamu datang!" seru Zuy
"Zuuuy....." Airin langsung berlari menuju ke arah Zuy dan memeluknya.
"Aku kangen kamu!"
"Hmmm.... Iya aku juga Rin," balas Zuy.
"Kebetulan kamu juga ada di sini Rin, nanti kamu ikut kita belanja ya!" ajak Yiou
Airin langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Waah boleh boleh boleh, dengan senang hati Mrs Yiou."
"Kenapa kamu jadi seperti kartun si botak kembar itu sih Rin?" celetuk Davin.
"Aiya.... sebab saya suka tengok si botak kembar itu ma," ujar Airin menirukan suara perempuan di film tersebut.
Pffft....
"Hahaha.... Hahaha....."
Ray dan lainnya langsung menyemburkan tawanya bersama. Lalu....
"Yaudah kalian berdua sarapan dulu! Mumpung aku dan Mrs Yiou masak banyak," ajak Zuy.
"Oke...." ucap Davin dan Airin serempak.
Mereka berdua pun ikut sarapan bersama dengan lainnya.
–Pukul 09.30Am
Ray dan Davin tengah siap-siap berangkat ke rumah sakit.
"Tuan, apa anda sudah siap? Pak Ardan sudah berada di sana," ujar Davin
"Oh, yaudah ayo kita berangkat!" balas Ray.
Davin mengangguk patuh. "Baik Tuan Ray."
"Sayangku, aku ke rumah sakit dulu, pegang ini untuk berjaga-jaga," pamit Ray sambil memberikan benda tipis berwarna hitam pada Zuy.
"Ta-tapi Ray...."
"Sayangku...."
Zuy lalu mengambil benda tipis itu dari tangan Ray.
"Terimakasih Ray...."
"Sama-sama sayangku. Kak Yiou, Airin, aku titip sayangku pada kalian!" titah Ray.
"Ya, tenang aja, Baby aman bersama kami," balas Yiou.
Lalu Ray dan Davin bergegas keluar dari Villa tersebut.
"Airin, Baby. Aku pulang dulu ya, soalnya mau ambil tasku di sana!"
"Iya Mrs Yiou," balas Zuy dan Airin serempak.
Yiou berjalan menuju ke Villa-nya, sedangkan Zuy dan Airin melanjutkan ngobrolnya.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Davin dan Ray sudah berada di jalan menuju ke rumah sakit.
"Kak Davin...."
"Iya Tuan Ray, kenapa?" sahut Davin.
"Ada kabar apa tentang orang itu?" tanya Ray
"Maksud anda si pelaku, dia mengirim email turut berdukacita," jawab Davin
"Oh, masih bisa ngirim email seperti itu dia," pekik Ray.
"Ya kalau otaknya ketuker sama kambing memang seperti itu Tuan. Oh iya, senin depan dia akan mengadakan rapat besar dengan dewan direksi dan aku juga ikut serta dalam rapat tersebut."
Seketika Ray langsung menyunggingkan senyuman jahatnya.
"Kebetulan sekali, nanti di Rapat itu kita akan bikin kejutan besar untuk nya!" cicit Ray.
"Tuan Ray, seperti biasa anda selalu kejam pada seseorang yang sudah menyinggung anda, tapi aku menyukainya," ucap Davin sambil menyeringai.
***************
Rumah Sakit
Sesaat kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah mobil terparkir, Ray dan Davin bergegas masuk dan menuju ruang rawat inap di mana Wawan berada. Sesampainya di tempat, ternyata Ardan sudah menunggu di sana.
"Maaf kami terlambat," ucap Ray sambil menjabat tangan Ardan.
"Iya tidak apa-apa, Tuan Ray." balas Ardan.
"Yaudah ayo kita masuk!"
Ardan dan Davin mengangguk, kemudian mereka masuk ke kamar rawat Ardan.
Ya sebelumnya Dokter sudah memberi kabar pada Ray, kalau Wawan sudah bisa di jenguk.
"Permisi...."
Mendengar suara Tuannya, Wawan perlahan menolehkan kepalanya ke arah Ray.
"Tuan Ray," lirihnya, saat ia membangunkan tubuhnya, Ray langsung menahannya.
"Jangan banyak gerak! Nanti luka di tubuh mu terbuka lagi!" tutur Ray.
Wawan pun mengangguk patuh dan merebahkan tubuhnya kembali.
"Tuan Ray...."
"Iya Wan, ada apa?"
"Maafkan saya, karena saya sudah membuat mobil anda hancur, saya mengantuk jadi saya tidak mengemudikannya dengan benar," ucap Wawan.
"Hei, kenapa kamu malah memikirkan mobilku yang hancur itu? Harusnya yang kamu pikirkan keadaanmu itu. Lihatlah banyak perban yang menempel di tubuh dan wajahmu itu. Kalau soal mobil bisa di ganti lagi, tapi tidak untuk nyawamu itu. Bersyukurlah karena kamu bisa selamat dari kecelakaan itu," ujar Ray.
"Tapi..., maaf Tuan Ray."
"Sudah! Lagian itu bukan salahmu, kamu hanya di bius lewat minuman yang kamu minum waktu itu," jelas Ray.
Wawan pun terkejut mendengarnya. "A-apa! Jadi saya di bius?" tanyanya.
"Iya Tuan Wawan, saya yang menemukan botol yang anda minum mengandung obat tidur," Ardan ikut membuka suaranya.
"Obat tidur? Tapi saya tidak menggunakan obat tidur," ujar Wawan.
"Sudah kami duga sebelumnya. Euuum bisakah anda menceritakan yang sebenarnya sebelum kecelakaan itu terjadi?" pinta Ardan. "Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu!"
Wawan pun menganggukkan kepalanya dan perlahan membuka mulutnya.
"Iya, saya akan menceritakannya, sebenarnya waktu itu ...."
***Bersambung....
Author: "Maaf baru bisa Update sekarang, karena kesibukan, terimakasih sudah menunggu dan mendukung cerita CUP ini, jaga kesehatan dan sukses selalu... tetap semangat... semangat... semangat...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1