Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Sahabat Terbaik...


__ADS_3

<<<<<


Mendengar penjelasan dari Yiou, wajah Erlin pun terkejut dan pipinya pun merona, senyuman muncul di bibirnya.


"Tuan Ray, apa dia membeli Gaun itu untuk hadiah ulang tahunku?" batin Erlin..


Melihat gelagat Erlin yang seperti itu membuat orang yang ada di situ jadi kebingungan, lalu...


"Nona Erlin.. Nona Erlin..." tegur Yiou


Linda lalu menepuk pundak Erlin, sehingga membuat Erlin terkejut.


"Eeh.. ada apa Mami?" tanya Erlin melihat ke Linda


"Hmmm, Mami apa yang kamu pikirkan, tapi kamu juga jangan sampai seperti itu, lihat semuanya pada kebingungan melihat kamu senyum-senyum sendiri gitu," ujar Linda, ia mengelus pundak Erlin.


"Ah maaf semuanya," ucap Erlin, "Oh iya, tapi kenapa Pak Davin tidak membawa apa-apa Manager Yiou?" imbuhnya.


"Oh itu, katanya sih besok sekalian mau ba ...," jelas Yiou, namun belum selesai menjelaskan malah terpotong oleh Erlin.


"Kalau gak di bawa, berarti masih ada di sini dong, apa aku boleh melihatnya?" tanya Erlin dengan nada penuh semangat.


Yiou menggelengkan kepalanya, "Maaf Nona Erlin, kata Pak Davin ini rahasia," jelasnya


"Oh begitu ya," lirih Erlin, ia pun merasa kecewa.


"Iya Nona, jadi saya minta maaf.." ucap Yiou.


"Hei sayang, mungkin ini buat kejutan kamu, jadi kamu gak boleh tahu dulu," ujar Linda


"Oh begitu ya Mami, yaudah Manager Yiou, bisakah anda membantu saya memilih Gaun yang paling cantik, karena besok malam adalah hari ulang tahun saya," pinta Erlin


"Baiklah, saya akan pilihkan yang bagus dan indah untuk Nona Erlin yang cantik," jelas Yiou, "Mari ikut dengan saya..!!" ajaknya.


Linda dan Erlin pun langsung mengikuti Yiou.


******


Sementara itu, Davin dan Airin sudah berada di jalan menuju ke Perusahaan, namun di perjalanan, Airin tetap saja memasang wajah kesal sambil terus mengepalkan tangannya. Davin pun yang sedang menyetir mobil, sesekali melirik ke arah Airin.


"Rin, sampai kapan kamu akan seperti itu terus?" tanya Davin.


"Habisnya, saya kesal banget Pak, dia dengan seenaknya sendiri menghina Zuy, dan mengatai Zuy itu j*lang, aah rasanya ingin merobek mulutnya itu," sergah Airin sambil memukul pahanya sendiri.


"Dia bilang seperti itu Rin?" tanya Davin


Airin pun menganggukkan kepalanya, "Iya Pak, makanya tadi aku menarik bajunya, tapi malah aku yang di serbu Karyawan sana."


"Hmmm, ternyata Erlin orangnya seperti itu ya," batin Davin.


"Pak Davin.."


"........" Davin pun menoleh ke arah Airin.


Airin lalu menundukkan kepalanya dan berkata, "Pak Davin, maaf atas kelakuan saya tadi, pasti sudah bikin Pak Davin malu, padahal Pak Davin sudah mempercayakan saya untuk menemani. akan tetapi saya seperti itu juga karena saya punya alasan Pak."


Davin lalu tersenyum, ia pun langsung memegang kepala Airin.


"Tidak apa-apa Rin, aku paham kok, kamu memang sahabat terbaiknya Zuy, aku juga pasti sama sepertimu Rin," ujar Davin, "Hah, apalagi kalau Tuan Ray tahu, bisa-bisa gunung Fuji yang berada di Jepang itu langsung meletus."


Mendengar itu, Airin pun langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha..., Pak Davin ada-ada saja.." tawa Airin


"Hahaha..., memang benar seperti itu kan kalau Tuan Ray udah marah.." kekeh Davin.


Sementara itu...


"Hatchuuuuu... siapa yang sedang mengutukku?" gumam Ray sambil menggosok-gosok bawah hidungnya.


β€’Balik ke Airin dan Davin..


"Euuuum Pak Davin.."


"Ada apa Rin?" tanya Davin


Airin pun memicingkan matanya ke arah Davin, "Sampai kapan Pak Davin terus memegang kepalaku?"


Mendengar pertanyaan Airin, sontak membuat Davin tersadar dan ia langsung menurunkan tangannya dari kepala Airin.


"Maaf, maaf Rin.." ucap Davin.


"Hmmmm, oh iya Pak mana gaun yang anda beli itu?" tanya Airin


"Masih di sana, biar besok Tuan Ray dan Zuy yang kesana untuk mengambilnya," jawab Davin.


"Oh begitu..."


"Ya, oh iya Airin, sebelum kita sampai di Perusahaan, bagaimana kalau kita makan dulu, aku yang traktir, ya sebagai tanda ucapan terimakasih karena sudah menemaniku," ujar Davin


"Waah asik, ayo Pak Davin, kapan lagi bisa di traktir makan oleh Pak Davin, hihihi.." kata Airin


"Yaudah kalau begitu, ayo kita pergi ke tempat makan.." seru Davin..


"Iya Ayo....!!!"


Davin pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


******


Rumah Ray

__ADS_1


Tak terasa waktu cepat berlalu, sore menjelang malam pun tiba, Zuy nampak sedang sibuk di dapur membuatkan makanan untuk Ray dan Davin saat mereka pulang nanti. Bi Nana yang saat ini masih berada di rumah Ray juga ikut membantu Zuy.


"Zuy, mana kentang yang sudah kamu haluskan tadi?" tanya Bi Nana


Lalu Zuy memberikan wadah yang berisi kentang tersebut, "Ini Bi Nana."


"Terimakasih Zuy, ini biar Bibi yang buat Kroketnya, kamu lebih baik bawa makanan yang sudah matang ini ke meja makan ya..!!" suruh Bi Nana


"Baik Bi Nana.."


Lalu Zuy membawa makanan tersebut dan meletakannya di atas meja, ia juga menyiapkan beberapa piring dan lainnya. Lalu Nara menghampiri Zuy


"Kakak, Nara mau bantuin Kakak ya," ujar Nara


"Sayang, kamu main aja ya sayang, biar Kakak aja ya..!!" suruh Zuy sambil memegang kepala Nara.


"Uuh, Nara maunya bantuin Kakak," celoteh Nara sambil memanyunkan bibirnya. Lalu kemudian...


Ting Tong... (Bel Pintu rumah Ray)


"Nah itu ada yang datang, Kakak bukain pintu dulu ya.." kata Zuy.


"Biar Nara aja yang bukain ya, Kakak tunggu aja di sini," pinta Nara.


Lalu Nara langsung berlari menuju ke arah pintu masuk, saat sudah berada di depan pintu, lalu dengan susah payah Nara membukakan pintunya.


Cekleeek


Pintu pun langsung terbuka, Davin yang berada di depan sontak terkejut melihat Nara.


"Ke-kenapa ada anak kecil disini, Waah Tuan Ray jangan-jangan anda dan Zuy semalam itu, lalu sekarang Zuy melahirkan seorang anak kecil ini," papar Davin sambil mencubit pipi Nara


"Jangan panggil aku anak kecil paman," gerutu Nara


"Pa-paman..!!" lirih Davin, lalu...


Paaaaak...


Ray tiba-tiba menepuk keras pundak Davin, membuat Davin meringis kesakitan.


"Aduuuh..." rintih Davin sambil menoleh ke arah Ray


Ray pun menatap tajam Davin, "Kak Davin...!!"


"Hahaha, iya Tuan Ray, hanya becanda saja," papar Davin.


Lalu Ray menghampiri Nara, "Hei boy, Kakak sama Mami kamu mana?" tanya Ray


"Kakak sama Mami lagi di belakang, Om ganteng Nara mau gendong," ujar Nara sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oh sini Om gendong.." Ray pun langsung menggendong Nara.


"Pasti begini ya rasanya kalau nanti menikah dengan Kakak, pulang kerja di siapin makanan oleh Kakak," batin Ray sambil membayangkan masa depannya.


"Om ganteng, kenapa diam?" tanya Nara sambil memukul punggung Ray.


Ray pun langsung tersadar, "Ah maaf Nara, tadi Om lagi ...,"


"Ya.. ya gak usah di jelasin Tuan Ray, aku tau apa yang ada di pikiran anda," celetuk Davin, lalu ia menghampiri Zuy.


"Hai Zuy... waah sepertinya enak, perutku jadi lapar ini," ujar Davin sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan. Akan tetapi Zuy memukul tangan Davin.


"Awww, perasaan aku selalu kena pukul ya," gumam Davin sambil memegang tangannya.


"Ehh, maaf Pak Davin, habisnya anda baru pulang, bukannya bebersih dulu, malah langsung main nyomot makanan," celetuk Zuy.


"Hahaha.. kena marah dia.." Tawa Ray, Nara pun ikutan tertawa juga.


Davin lalu memanyunkan bibirnya, "Huuu dasar kalian, kalau urusan begini aja kompak," gerutunya


"Kak Zuy.." lirih Ray


Zuy lalu menoleh, "Selamat datang Tuan Muda, lho Nara kenapa kamu gendong Om, ayo turun..!! Kasihan Om Ray baru pulang kerja pasti cape," tutur Zuy. Lalu Nara langsung turun dan menghampiri Zuy.


"Tidak apa-apa Kak, aku seneng kok.." ujar Ray.


"Maaf ya Tuan Muda."


Lalu Bi Nana pun keluar dari dapur sambil membawa Kroket yang sudah matang.


"Ada apa ini, kenapa pada ribut?" tanya Bi Nana, "Eh Tuan Muda, Tuan Davin, selamat datang," sambut Bi Nana


"Eh iya Bi, ngomong-ngomong itu apa Bi? baunya bikin Ray lapar ingin makan." ujar Ray.


"Oh ini, ini Kroket kesukaan anda Tuan," jelas Bi Nana


Mendengar itu, Ray pun langsung bergegas menuju ke meja makan.


"Waah asiiik, Ray kangen makanan ini," kata Ray, lalu ia pun langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil Kroket tersebut, lalu kemudian...


Paaak...


"Tuan Muda, Pak Davin, kalian cepat bebersih dulu sana..!!" omel Zuy menatap tajam keduanya.


Ray dan Davin pun langsung menciut, lalu mereka bergegas menuju kamarnya masing-masing.


Tak berapa lama kemudian, Ray dan Davin selesai bebersih dan mereka langsung menghampiri ke meja makannya. Ray lalu dengan sengajanya duduk di samping Zuy. Bi Nana pun lalu mengambilkan nasi dan memberikannya kepada mereka.


"Selamat makan...!!!" ucap semuanya


Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya selesai makan. Namun ada salah satu Kroket yang tersisa membuat Ray ingin mengambilnya, akan tetapi Zuy juga sama ingin Kroket itu, mereka langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil Kroket tersebut. alhasil membuat tangan mereka saling berpegang, lalu mereka menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Ehemmm..." Davin lalu berdehem dengan sengaja, membuat Zuy dan Ray melepaskan tangannya.


"Kalian, kalau udah liat Kroket udah kaya lihat emas jatuh, gak bisa di tahan," celetuk Bi Nana.


"Maaf Bi Nana.." ucap Zuy dan Ray bersama.


"Hah, Oh iya Tuan Muda, bukankah anda sebentar lagi Ulang tahun ya?" tanya Bi Nana


"Iya Bi, Bi Nana masih ingat aja Ulang tahun Ray," jelas Ray.


"Tentu Bi Nana ingat, soalnya tanggal dan bulannya kan sama dengan Zuy, jadi ingat dulu saat kalian masih kecil, Mrs Candika yang selalu membuat kejutan pesta Ulang tahun untuk kalian berdua," ujar Bi Nana.


Ray pun langsung menundukkan kepalanya, "Iya Bi Ray juga ingat itu."


"Tuan Muda.." lirih Zuy sambil melihat Ray.


"Ah maaf jadi sedih gini, oh iya Tuan Muda, apa anda sudah punya pacar, kenalin dong ke Bi Nana.." kata Bi Nana


Mendengar itu Ray pun langsung mengangkat kepalanya.


"Pacar ya, Ray belum punya pacar Bi, tapi Ray sudah punya Wanita yang sangat Ray harapkan," ungkap Ray sambil menatap ke arah Zuy.


"Wanita yang di harapkan?" tanya Bi Nana.


"Iya Bi Nana, bahkan Ray sudah mengajaknya menikah," jelas Ray. sontak membuat Bi Nana terkejut, Lalu..


Uhuk.. Uhuk...


Zuy tiba-tiba batuk, semuanya jadi melihat ke Zuy.


"Zuy kamu gak apa-apa?" tanya Bi Nana


Lalu Ray mengambilkan menuangkan air minum ke dalam gelas, dan langsung memberikannya pada Zuy, "Ini Kakak minum dulu..!!"


"Iya terimakasih," ucap Zuy, ia langsung meminumnya.


"Tuttututtu, ada yang kaget sepertinya, fufufuh," ledek Davin sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Pak Davin.." lirih Zuy sambil memicingkan matanya ke arah Davin.


"Hehehe, Tante dan semuanya aku duluan ya, tuttututtu," kata Davin sambil berjalan menuju ke kamarnya.


"Hmmm, Zuy juga mau ke belakang naroh piring kotor ini dulu," ujar Zuy sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dapur sambil membawa piring kotor itu.


Setelah berada di dapur, Zuy langsung memasukam piring-piring kotor itu ke mesin pencuci piring otomatis.


Ia lalu berdiam sejenak sambil memegangi dadanya karena degupan jantungnya.


"Duh lagi-lagi seperti ini, degupannya semakin kencang, aah dasar Tuan Muda bodoh, kenapa bicara seperti itu sih sama Bi Nana," gumam Zuy.


"Siapa yang Kakak sebut bodoh?" tiba-tiba seseorang sudah berada di belakang Zuy.


Zuy lalu menoleh ke belakang, "Tu-Tuan Muda..!!"


******


Paris


Beberapa jam yang lalu, Maria dan yang lainnya telah berada di Paris, mereka pun sekarang sedang berada di rumah sakit untuk melihat Mario yang tengah sakit, Kimberly tak henti-hentinya menangis, Maria terus menenangkan Kimberly.


Mario saat ini lagi di periksa oleh Dokter, semuanya pun terus menunggu, lalu Dokter pun langsung keluar dari kamar rawat Mario.


"Di sini siapa yang namanya Maria dan Archo?" tanya Dokter


Lalu Maria dan Archo langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Saya Maria dan ini Archo," ujar Maria.


"Mr. Mario ingin bertemu dengan kalian," kata Dokter.


"Lalu gimana Keadaannya Dok?" tanya Maria


"Sekarang dia sudah sedikit membaik, ya walau kemaren sempat kritis, tapi dia berhasil melewatinya, dan sekarang dia sudah sadar," jelas Dokter.


"Kemaren katanya Mario sedang sekarat?" tanya Maria


"Hah, itu hanya kesalah pahaman saja, Nah silahkan masuk..!!" suruh Dokter


Lalu Maria dan Archo langsung masuk ke dalam. Maria merasa sedih melihat keadaan suaminya, Maria dan Archo langsung menghampiri Mario dan duduk di sampingnya.


"Mario, kenapa bisa seperti ini," tangis Maria sambil mencium tangan Mario.


Mario pun langsung menoleh ke arah Maria, "Hmmm Maria, apa itu kamu?" tanya Mario dengan nada lemas.


"Iya ini aku Maria, dan Archo udah ada di sini," ujar Maria.


"Kamu dan Kimberly sudah kembali ya, bagaimana keadaan kota asalmu Maria?" tanya Mario.


"Ya banyak yang berubah disana," jawab Maria.


"Hmmm, lalu apa kamu sudah menemukan putri kandungmu itu Maria?" Mario pun bertanya kembali.


Mendengar pertanyaan Mario, sontak membuat Archo terkejut.


"Apa Putri Kandung?"


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... βœŒπŸ˜‰πŸ˜‰βœŒ

__ADS_1


__ADS_2