Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Emosinya Sang Kakak....


__ADS_3

<<<<<


Satu tamparan mendarat ke pipi Kimberly, membuat Liora dan Kimberly kembali terkejut.


"Archo!!!"


Sentak Liora sembari bangkit dari posisinya. "Apa kamu sudah gila, Archo? Datang-datang bukannya menyapa atau apa! Ini malah langsung main tampar aja," sambungnya.


"Archo! Kenapa kamu tiba-tiba menampar ku?" tanya Kimberly memegangi pipinya.


Archo mencondongkan tubuhnya ke arah Kimberly.


"Memangnya kenapa kalau aku menampar mu, hah! apa kamu merasakan sakit?" bentak Archo.


"Archo! Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja ini sangat sakit." ujar Kimberly.


Archo menegakkan tubuhnya kembali dan menyeringai.


"Baguslah kalau kamu merasakan sakit." papar Archo.


Karena merasa geram melihat perlakuan Archo terhadap Kimberly, Liora yang berada di samping Archo pun langsung mendorong tubuh Archo hingga membentur dinding.


"Archo!!" teriak Kimberly.


Liora lalu mendekat ke arah Archo, kemudian ia menarik tangan Archo dan membawanya ke sofa yang berada di kamar rawat inap Kimberly.


"Duduk!" titah Liora.


Archo pun mendudukkan dirinya di atas sofa, begitu juga dengan Liora yang lebih memilih duduk di sofa lainnya.


"Sekarang jelaskan pada Aunty! Sebenarnya kamu kenapa? Datang-datang seperti orang kesetanan," cecar Liora.


Sekilas Archo menatap ke arah Kimberly dan beralih ke Liora.


"Iya Aunty benar, Archo memang lagi kesetanan, dan itu semua gara-gara ulah Kimberly," cetus Archo.


"Apa! Gara-gara ulah ku?" Kimberly terkejut sambil menunjuk ke arah hidungnya sendiri.


"Archo, apa maksudmu bicara seperti itu?" pekik Liora.


Archo lalu mengambil nafas panjangnya dan menghembusnya, ia pun mengarahkan kembali pandangannya ke Kimberly.


"Kimberly, apa kau tahu bahwa aku sudah menemukan orang yang menukar kosmetik milik mu itu," ujar Archo.


Mendengar itu, wajah Kimberly pun langsung sumringah.


"Benarkah itu Archo? Apa kamu sedang tidak berbohong?"


"Iya tentu saja benar."


"Lalu siapa orangnya, Archo?" Kimberly nampak penasaran.


"Dia asisten dari Clara," balas Archo.


Seketika wajah Kimberly yang tadinya sumringah kini berubah menjadi marah dan rahangnya pun mengeras.


"Tsk, kurang aja! Beraninya dia menggunakan cara licik untuk menjatuhkan ku. Awas saja! Kalau aku sudah sembuh akan ku buat mukanya lebih rusak dari ku!" umpat Kimberly mengepalkan tangannya.


Archo lalu bangkit dari duduknya dan kembali mendekat ke arah Kimberly, kemudian ....


Plaak....


Lagi-lagi Archo melayangkan tangannya ke pipi Kimberly dengan keras, sehingga membuat sudut bibir Kimberly terluka akibat tergigit.


"Archo!!!" sentak Liora sembari bangkit dari posisinya.


"Kenapa kamu lagi-lagi menampar ku, Archo?" pekik Kimberly menitihkan air matanya.


"Karena kamu sudah keterlaluan, Kimberly!" cicit Archo.


"Apa! Aku keterlaluan? Apa kamu buta, Archo? Harusnya yang keterlaluan itu Clara bukan aku. Karena dia sudah menyebabkan wajah ku rusak seperti ini," cecar Kimberly.


Archo menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kamu pantas mendapatkannya," cetus Archo.


"Apa kamu bilang?"


"Kamu pantas mendapatkannya, Kimberly." Archo mengulang kembali perkataannya.


"Dan asal kamu tahu, Kim. Bahwa Clara tidak ada hubungannya dengan ini. Itu semua murni perbuatan dari asistennya dan apa kamu tahu siapa asistennya itu?" sambung kata Archo.


Kimberly menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu dia, Archo. Aku juga tidak pernah menyinggungnya. Tapi kenapa dia bisa berbuat seperti itu padaku?"


"Itu karena dia ingin membalaskan dendam nya padamu, Kimberly. Dan asisten itu adalah Clarissa Howard, model yang sudah kamu fitnah beberapa bulan yang lalu," balas Archo dengan nada tinggi.


Sontak membuat Kimberly sangat terkejut dan membulatkan matanya, saat mendengar balasan dari Archo.


"Apa! C-Clarissa Howard?"


Archo membalasnya dengan anggukan kepala saja.


"Kalau dia benar-benar Clarissa, kenapa wajahnya berbeda? Sampai aku tidak bisa mengenalinya."


"Wajahnya berubah juga karena ulah kamu, Kim." sentak Archo,


Lalu Archo menceritakan apa yang ia dengar dari Clarissa, sehingga membuat Kimberly dan Liora tercengang.


"Heh, jadi seperti itu ya. Pantas saja setelah kejadian itu dia menghilang bak di telan bumi, ternyata nasibnya sangat menyedihkan. Hmmmm, tapi dia pantas mendapatkannya, jadi tidak ada lagi yang bersaing dengan ku," batin Kimberly menyeringai.


Lalu ....


"Kimberly...."


Kimberly menolehkan kepalanya ke arah Archo.


"Aku sudah memutuskan! Setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku akan mengirim mu ke Paris," ujar Archo.


"Apa! Pa-Paris? Jangan-jangan ...."


Archo mengangguk. "Iya dugaan mu benar, aku akan mengirim mu ke Asrama Tante Grace. Mau tidak mau kamu harus menurut!


Akan tetapi Kimberly malah menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak mau dan aku menolaknya! Lebih baik aku tetap di sini atau tinggal bersama Mam, dari pada harus di Asrama Tante Grace," tolak Kimberly.


Archo mengerenyitkan keningnya saat mendengar penolakan Kimberly.


"Aku akan tetap mengirim mu ke sana, Kim." ujar Archo, ia pun memutar badannya dan melangkahkan kakinya menuju keluar.


"Archo, bagaimana kalau aku ingin tinggal bersama Mam?" seru Kimberly.


Archo pun menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke Kimberly.


"Pilihan mu hanya ada dua Kim. Tinggal di sini dengan hukuman atau menuruti perintah ku untuk tinggal di Asrama Tante Grace yang di Paris," cetus Archo.


Kemudian ia melangkahkan kakinya kembali keluar dari kamar rawat Kimberly.


"Dasar Archo laid!" teriak Kimberly.


Setelah Archo pergi, Liora langsung mendekat ke arah Kimberly dan memeluknya.


"Kim, kamu yang sabar ya!" tutur Liora.


"Aunty, Kim harus bagaimana? Kim gak mau tinggal di Asrama terkutuk itu, tapi Kim juga gak mau di hukum. Aunty tolongin Kim!" tangis Kimberly.


"Kamu tenang aja! Aunty pasti akan menolong kamu, Kim." balas Liora.


"Terimakasih Aunty," ucap Kimberly.


"Sama-sama dear."


**************************


Rumah Ray


—Pukul 08.15Pm


Nampaknya langit masih belum puas menurunkan mata airnya, sehingga hujan deras pun masih berlanjut hingga saat ini.


Sementara itu di dalam kamar, terlihat dua sejoli itu tengah berbaring di atas ranjangnya dengan tubuh yang tertutup selimut tebal.

__ADS_1


Zuy nampak tertidur pulas, terlihat jelas bahwa ia sangat kelelahan, sedangkan Ray masih terjaga dengan posisi menghadap ke arah Zuy sambil menopang kepalanya.


"Kasihan sayangku, pasti sangat kelelahan sampai tertidur pulas," lirih Ray merapikan anak rambut Zuy. Lalu ....


Krunyuuuuk....


Tiba-tiba suara perut Ray menggema dan itu pertanda bahwa cacing di perutnya sudah berdemo. Ray langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.


Sesaat setelah selesai, Ray kembali ke arah pujaan hatinya dan memakaikan baju tidurnya pada Zuy, supaya Zuy tidak kedinginan. Sesudah itu, Ray mencium kening Zuy, kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya.


Setelah menuruni anak tangga terakhir, Ray berjalan menuju ke meja makan. Setibanya ia melihat Davin tengah menikmati makan malamnya.


"Kak Davin...." tegur Ray,


Davin menoleh. "Tuan Ray, maaf aku makan duluan."


"Iya tidak apa-apa Kak." Ray menarik kursi dan mendudukinya.


Davin lalu mengedarkan pandangannya. "Zuy mana? Apa dia tidak ikut makan malam?"


"Dia sedang istirahat Kak," balas Ray sembari menempatkan makanannya di piring.


Davin hanya memanggut, kemudian mereka berdua pun langsung menyantap makanannya. Dan di saat mereka tengah menikmati makanannya, tiba-tiba ....


Ting Tong....


Suara bel pintu berbunyi, Bu Ima yang kala itu berada di dapur pun segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.


"Siapa yang datang ya?" tanya Davin.


"Palingan juga si Tante dan suaminya," jawab Ray menduga-duga.


Lalu kemudian .....


"Hai dua keponakan ku yang gantengnya ngeselin," seru Yiou menghampiri dan di susul Aries di belakangnya.


Sehingga membuat Davin dan Ray menolehkan kepalanya ke arah mereka.


"Selamat malam Mrs Yiou, Tuan Aries." sapa Davin.


"Malam juga Vin. Wah sepertinya enak nih," balas Yiou memandangi makanan yang berada di meja makan.


"Tentu enak dong. Kak Yiou, Kak Aries mau makan bareng?" tawar Ray.


Yiou dan Aries langsung duduk bersebelahan dengan Davin.


"Terimakasih tawarannya Ray, tapi sebelum kesini kami udah makan di rumah Tante Nana, oh iya Tante Nana juga nitip ini," jelas Aries sambil memberikan kantong berisi kotak makan pada Ray.


"Apa ini?" tanya Ray.


"Itu kroket buatan Bi Nana," jawab Yiou.


Mendengar kata kroket, mata Ray langsung berbinar, ia pun langsung mengambil kotak makan tersebut dan membukanya.


"Sepertinya enak nih," ucap Ray, ia pun langsung mengambil satu kroket itu dan menyantapnya dengan lahap.


Yiou dan lainnya terkekeh geli melihat gelagat Ray. Lalu ....


"Oh iya, dimana Baby?" tanya Yiou.


"Dia sedang tidur Kak," jawab Ray.


"Tapi dia gak kenapa-napa kan? Tidak menangis ataupun melamun kan?" cecar Yiou.


Ray menggeleng. "Tidak, memang ada apa? Apa terjadi sesuatu padanya?"


"Sebenarnya tadi pagi pas di rumah Tante Nana ...."


"Ehemm...."


Aries tiba-tiba berdehem membuat Yiou menghentikan perkataannya. Lalu Ray memicingkan matanya ke arah Yiou.


"Kak Yiou, sebenarnya apa yang terjadi saat sayangku di rumah Bi Nana?" tanya Ray menyidik.


"Euuum, lebih baik kamu habiskan dulu makanannya ya! Setelah itu aku ceritakan padamu tentang apa yang terjadi," titah Yiou.


Ray mengangguk. "Baiklah...."


Aries pun ikut bangkit, kemudian Yiou dan Aries melangkah ke arah ruang keluarga, begitu juga dengan Davin yang sudah menghabiskan makanannya.


Tak lama setelah menghabiskan makan malamnya, Ray segera menyusul yang lainnya di ruang keluarga. Setibanya di sana, Ray langsung mendudukkan dirinya tepat di sebelah Davin.


"Cepat jelaskan padaku! Tentang apa yang terjadi sebenarnya?" Ray meminta penjelasan.


Yiou lalu melihat ke arah Aries dan di balas anggukan kecil oleh Aries. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Ray sambil menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Begini Rayyan, sebenarnya tadi pagi itu ...."


Yiou pun langsung menjelaskan tentang kejadian di rumah Bi Nana, tentu saja Aries juga ikut membantu Yiou. Sesaat setelah selesai menjelaskan, Ray langsung bangkit dari posisinya, dan ....


Braaaak...


Ray menggebrak meja yang berada di depannya, sontak membuat Yiou, Davin dan Aries tersentak kaget.


"Tuan Ray!"


"Tsk, kurang ajar! Maunya apa sih orang tua satu itu? Selalu saja membuat sayangku menderita," sergah Ray meluapkan emosinya.


"Sabar Ray! Kendalikan emosi mu!" tutur Yiou.


"Tapi Kak, ini sudah ke berapa kalinya dia membuat sayangku menderita, dan ini benar-benar membuatku sangat marah."


"Iya aku tahu, Ray. Tapi bukan cuma kamu saja yang marah, aku juga sama seperti mu. Bahkan aku tidak menyangka bahwa ada seorang Ibu kandung yang begitu tega terhadap anaknya sendiri. Aku benar-benar kasihan pada Baby," Yiou menitihkan air matanya.


Aries yang melihat istrinya menangis pun langsung memeluknya.


"Sssht, jangan menangis my love!" tutur Aries.


Ray kembali mendudukkan dirinya, lalu ia memijat kedua pelipisnya itu.


"Sabar Tuan Ray," Davin menepuk-nepuk punggung Ray seraya menenangkannya.


"Kenapa sayangku tidak bilang apa-apa padaku?" lirih Ray.


"Mungkin ada alasan kenapa dia tidak bilang padamu, Ray. Lebih baik kamu tanyakan langsung pada Zuy, tapi jangan terlalu memaksanya!" tutur Aries.


Ray mengangguk. "Iya nanti aku akan bertanya langsung pada sayangku."


Aries tersenyum, kemudian mereka melanjutkan ngobrolnya.


Di tempat yang sama, Bu Ima yang kala itu tengah membereskan meja makannya pun tak sengaja mendengar perbincangan mereka. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Ya ampun Nak Zuy, pantas saja seharian ini kamu lebih banyak melamunnya, ternyata ini semua gara-gara Ibu kandung mu itu," lirih Bu Ima.


Beberapa saat kemudian....


Setelah Aries dan Yiou berpamitan untuk pulang ke Villanya, Ray bergegas ke kamarnya sambil membawa makanan untuk pujaan hatinya. Saat sudah berada di dalam kamarnya, Ray meletakkan apa yang ia bawa di atas nakas. Ia lalu duduk di tepi ranjang sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy yang terlelap, kemudian ....


Cup....


Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dan menyesapnya, sontak membuat Zuy terusik dan langsung terbangun dari tidurnya akibat ulahnya itu. Melihat mata pujaan hatinya terbuka, Ray langsung menghentikan aksinya.


"Sayangku...."


Zuy tersenyum dan perlahan bangkit dari posisinya menjadi duduk menyandar, lagi-lagi Ray menyambar bibir Zuy dengan buasnya membuat Zuy terbelalak, karena kesulitan bernapas, Zuy mendorong pelan tubuh Ray.


"Ray...."


"Sayangku, kenapa kamu tidak bilang pada ku tentang apa yang terjadi di rumah Bi Nana? Kenapa kamu menyembunyikannya dari ku?" cecar Ray.


Mendengar itu, seketika Zuy menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Ray, bukan maksud ku menyembunyikannya dari mu, hanya saja ...."


"Hanya saja apa sayangku?" tanya Ray.


Zuy mengambil nafasnya dan menghembuskannya, lalu perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Ray.


"Hanya saja aku takut kalau kamu akan menemui Mrs Maria."


"Hah! Kenapa kamu mesti takut sayangku?"

__ADS_1


"Sebab kalau kamu sudah bertemu dengannya, pasti Mrs Maria ngomong sesuatu tentang Kimberly. Aku takut kalau nantinya kamu terpancing omongannya, terus kamu jadi perhatian dengan Kimberly, aku tidak mau kalau sampai itu terjadi, Rayyan." ungkap Zuy.


"Jadi itu yang kamu takutkan sayangku?"


Zuy mengangguk dan berkata, " Iya Ray, tentunya kamu tahu kan aku selalu mengalah dengannya, dia mendapatkan banyak kasih sayang lebih dari Mrs Maria, sedangkan aku? Apa yang aku dapat darinya? Jadi untuk yang satu ini, biarkan aku egois, biarkan aku mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku ini, dan aku tidak ingin mengalah lagi darinya, Rayyan."


Ray tertegun mendengar perkataan Zuy, ia lalu merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya dengan erat.


"Sayangku, terimakasih karena mempertahankan ku, aku benar-benar bahagia. Sayangku, aku sudah berapa kali bilang padamu, bahwa aku akan selalu setia padamu, melindungi mu dan membuatmu bahagia selalu. Jadi kamu tenang aja ya sayangku! Sampai kapanpun aku tidak akan berpaling dari mu, apalagi sekarang kamu sudah mengandung kedua anakku ini," ungkap Ray bersungguh-sungguh.


Zuy mendongak. "Serius, kamu tidak akan berpaling dari ku?"


"Iya, aku serius bahkan sangat-sangat serius, sayangku. Sampai kapanpun aku tidak akan berpaling dari mu, karena aku hanya ingin hidup bahagia bersama mu dan juga anak-anak kita."


Seketika Zuy menyunggingkan senyuman manisnya, sehingga membuat Ray merona, ia pun kembali menyambar bibir Zuy dengan buasnya dan tanpa ampun.


Sepertinya malam akan semakin panjang, gara-gara ulah dua sejoli yang selalu bikin baper ini....


...----------------...


Setelah melewati malam panjang, di tambah derasnya hujan. Kini pagi yang cerah pun menyapa kembali.


Rumah Dimas


Di pagi itu nampak sebuah mobil yang memasuki halaman dan berhenti di depan rumah Dimas. Seseorang pun turun dari mobilnya itu, dan ternyata ia adalah Ray. Sedangkan Davin masih di mobilnya.


Ray lalu menghentakkan kakinya menuju ke arah pintu rumah Dimas yang kala itu terbuka. Sesampainya, Ray melihat Maria sedang duduk sendirian, sedangkan lainnya sudah berada di rumah sakit. Lalu ....


"Permisi...." seru Ray.


Sehingga membuat Maria menoleh ke arahnya.


"Rayyan!"


Maria lalu menjalankan kursi rodanya menuju ke arah Ray.


"Rayyan bagaimana kabarmu?" tanya Maria.


"Sepertinya yang anda lihat, Mrs Maria." jawab Ray dengan ketusnya.


"Syukurlah, ayo masuk!" ajak Maria.


"Tidak usah, karena saya tidak lama di sini," ujar Ray.


"Oh, terus ada keperluan apa kamu datang ke sini?" tanya Maria.


Sebelum menjawab, Ray terlebih dahulu menghela nafasnya.


"Mrs Maria, sebenarnya keperluan saya datang ke sini, ingin memperingatkan anda!" tegas Ray.


"Memperingatkan ku? Apa maksudmu?" tanya Maria.


Ray lalu mencondongkan tubuhnya. "Mrs Maria, saya peringatkan pada anda! Jika anda membuat Istri kesayangan saya menangis dan terluka lagi, maka saya akan berbuat sesuatu yang nantinya akan merugikan anda, Mrs Maria." gertaknya.


"Kamu berani menggertak ku? Apa kamu lupa bahwa Zuy itu anakku. Aku bisa saja memintanya untuk meninggalkan mu, Rayyan." sergah Maria.


Ray menyeringai. "Heh, itu tidak pernah akan terjadi, Mrs Maria."


"Kenapa tidak bisa? Dia anakku jadi dia harus menuruti semua keinginan ku."


"Tapi saya suaminya dan hak Zuy sepenuhnya ada pada saya, jadi anda tidak bisa berbuat semaunya anda, Mrs Maria. Dan lagi ...."


Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Ray.


"Saya masih mempunyai kartu mati anda, Mrs Maria. Tentang apa yang anda lakukan selama ini. Dan saya bisa menggunakannya kapan saja yang saya mau," bisik Ray sehingga membuat Maria tersentak.


"Kamu!!"


Ray menegakkan tubuhnya kembali. "Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, jangan lupa untuk mengingat perkataan saya barusan!"


Ray melangkah menuju ke mobil dan masuk ke dalam mobilnya itu. Davin segera melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Dimas.


Setelah mereka pergi, Maria tertunduk diam dan nampak aliran bening mengalir membasahi pipinya itu.


...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


Waktu terus berputar begitu cepat, dari detik, menit, jam, hari, minggu bahkan bulan. Dan tak terasa kehamilan Zuy sudah memasuki trimester terakhir. Usia kandungannya kini sudah menginjak 38 minggu atau sekitar 8 bulan menuju ke 9 bulan. Perutnya pun kini sudah semakin membesar.


****************************


Villa Z&R


Di siang hari yang panas, matahari pun sudah berada di atas kepala.


Sementara itu, Zuy nampak tengah berada di ruang tengah bersama dengan Bi Nana yang kala itu sedang bermain di Villa bersama kedua anaknya yaitu Nara dan Rana. Sedangkan yang lainnya masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lalu ....


"Zuy, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu pada perut mu?" tanya Bi Nana, karena ia melihat Zuy tengah meringis sambil mengusap perutnya.


"Perut Zuy kencang Bi," jawab Zuy.


"Oh, itu wajar sayang. Dulu Bi Nana juga sering ngalamin. Coba kamu ganti posisi duduknya, jangan seperti itu!" tutur Bi Nana.


Zuy mengangguk patuh, ia lalu mengganti posisi sebelumnya dengan duduk menyandar sambil meluruskan kakinya. Kemudian Zuy mengambil nafas dan menghembusnya perlahan-lahan.


"Bagaimana?" tanya Bi Nana.


"Mendingan Bi, udah gak kaya tadi," jawab Zuy.


Bi Nana pun tersenyum dan mengelus perut besar Zuy.


"Syukurlah kalau begitu, mungkin cucu-cucu Nenek ini udah gak sabar ingin cepat keluar dan bertemu dengan Neneknya ya?" ucap Bi Nana.


Zuy yang mendengarnya pun hanya terkekeh geli, lalu tiba-tiba terdengar suara Rana menangis, membuat pandangan Bi Nana dan Zuy mengarah ke kamar.


"Sepertinya Rana bangun Bi," kata Zuy.


"Iya, sebentar ya! Bibi ke Rana dulu."


"Iya Bi Nana."


Bi Nana lalu bangkit dari posisinya dan bergegas menuju ke kamarnya.


"Huuft... Gerah banget sih, masa iya aku harus mandi lagi," gumam Zuy sambil perlahan bangkit dari posisinya.


Dan saat Zuy hendak melangkah ke arah kamar mandi, tiba-tiba ....


"Permisi...." seru seseorang


Zuy pun mengurungkan niatnya itu dan beralih melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk. Setibanya, Zuy melihat seorang pria bertopi tengah berdiri di depan pintu, ia pun langsung menghampirinya.


"Cari siapa ya Bang?" tanya Zuy.


"Maaf Nona, apa benar di sini Villa Tuan Rayyan G Michael?" tanya pria tersebut.


Zuy mengangguk. "Iya benar. Euuum anda siapa ya? Dan ada keperluan apa anda mencari Ray?"


"Saya kurir Nona dan saya ingin mengantar paket untuk Tuan Rayyan," ujar Abang kurir tersebut.


"Paket? Paket apa?" tanya Zuy kebingungan, pasalnya ia tidak memesan apa-apa.


"Maaf saya tidak tahu, Nona."


"Oh, terus mana paketnya Bang?"


Abang kurir itu pun menunjuk ke arah paket yang ia antar. "Itu paketnya, Nona." ujarnya.


"Hah!"


***Bersambung....


Bonus.... 😉



Pict: Sumber Google...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2