
<<<<<
Tanpa ragu Fan langsung menarik pelatuk pistolnya seraya melepaskan tembakannya.
DOR!
Satu peluru pun melesat ke arah Maria.
"Mam > Kak Maria!"
...****************...
Sementara itu....
Kala itu, Zuy terlihat berada di dapur dan sedang menuangkan air minum ke dalam gelasnya. Namun di saat ia hendak meneguk air di gelasnya itu, tiba-tiba....
Pyaaar!
Gelas yang di genggamnya pun terjatuh dan pecah berserakan di lantai, seketika membuat Zuy tersentak bahkan jantungnya sampai berdegup sangat kencang.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku gak enak begini? Apakah terjadi sesuatu?" lirih Zuy sembari memegangi dadanya dan nampak air matanya yang mengalir dengan sendirinya.
......................
Kembali ke tempat Noel...
Mata Dimas dan Archo terbelalak saat melihat darah segar yang keluar menembus baju yang di kenakan Maria akibat peluru yang di tembakkan oleh Fan tertanam di bahu kirinya membuat Maria memekik keras.
Keduanya pun langsung mendekat ke arah Maria.
"Kak Maria!"
"Sa-sakit Dimas, Archo." rintih Maria dan nampak wajahnya yang mulai memucat.
Dimas segera memberikan pertolongan pertama pada Maria dengan mengangkat tubuhnya dari kursi roda dan memindahkannya ke sofa.
"Tahan sebentar Kak!" tutur Dimas seraya memeriksa luka tembak tersebut.
Berbeda dengan Archo yang terlihat sangat marah, ia pun memutar badannya dan berjalan mendekat ke arah Fan yang kini sudah di tahan oleh dua pengawal yang di bawa Archo.
"Tuan Archo!" lirih Dimas.
Dan saat sudah berdiri di hadapan Fan, Archo pun mencengkram kuat kerah baju Fan.
"Brengs*k! Beraninya kamu melukai Mam, apa kamu sudah bosan hidup? Hah!" sergah Archo.
Bukannya takut Fan malah tersenyum smirk.
"Heh, memangnya kenapa kalau saya berani melukainya? Apa anda tidak terima dan ingin membunuh saya? Silahkan Tuan saya gak takut! Dan lagi saya melakukan itu, sebab wanita cacat itu memang pantas mendapatkannya," cicit Fan.
"Kamu barusan bilang apa? Wanita cacat?"
"Iya wanita cacat, dan memang kenyataannya kalau Mrs Maria itu wanita cacat yang hidupnya hanya menyusahkan orang saja! Dan wanita cacat seperti Mrs Maria itu harusnya sudah mati lebih awal supaya tidak jadi beban semua orang." lontarnya dengan lantang sehingga membuat Archo semakin geram.
"Dasar b*stard!"
Dengan amarahnya yang sudah memuncak ia pun mengangkat tangannya dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Fan. Akan tetapi ....
"Tuan Archo, sudah jangan pedulikan dia!" seru Dimas.
Seketika membuat Archo mengurungkan niatnya dan memalingkan wajahnya ke arah Dimas.
"Tapi Dok, dia ...."
"Tuan Archo, saya tahu anda sangat marah terhadapnya. Dari pada anda meladeni penjahat itu, lebih baik sekarang kita fokus ke Kak Maria. Untuk mereka-mereka, kita serahkan saja semuanya pada Polisi!" tutur Dimas.
Salah satu polisi mendekat ke arah Archo.
"Benar apa yang di katakan oleh Tuan Dimas. Untuk para penculik ini serahkan saja pada kami, Tuan!" ujarnya sembari menepuk-nepuk punggung Archo.
Dengan helaan nafas panjangnya, Archo pun menganggukkan kepalanya dan melepaskan cengkeramannya.
"Oke saya serahkan mereka-mereka ini pada anda, Pak! Dan saya mohon berikan hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan pada Ibu saya!" kata Archo seraya menatap sinis Yon, Fan, Desi dan utusan Noel lainnya secara bergantian.
"Siap Tuan." Pak Polisi itu menganggukkan kepalanya.
Archo tersenyum, kemudian ia beralih mendekat pada Dimas.
"Bagaimana dengan Mam, Dok?" Archo melihat ke arah Maria yang terbaring di sofa.
Dimas membuang nafasnya terlebih dahulu sebelum berkata.
"Setelah saya periksa, ternyata peluru yang tertanam di bahu Kakak cukup dalam sehingga saya tidak bisa mengeluarkannya begitu saja dan butuh peralatan medis lainnya. Tapi untuk sementara ini saya hanya bisa menghentikan pendarahannya serta memberikan obat pereda nyeri saja. Untuk selebihnya Kak Maria harus di bawa ke Rumah sakit terdekat! Agar secepatnya mendapatkan perawatan intensif." jelas Dimas.
Penjelasan Dimas berhasil membuat Archo terpaku bahkan matanya pun sudah mulai menggenang. Lalu seketika ia langsung mengangkat tubuh Maria dan menggendongnya ala bridal style.
"Ayo, kita berangkat sekarang Dok!" ajak Archo.
Dimas menganggukkan kepalanya. "Iya."
Saat keduanya hendak melangkah keluar, tiba-tiba...
"Archo...." lirih Maria seraya menggerakkan kaki kirinya.
Sehingga membuat Dimas dan Archo menoleh ke arahnya.
"Iya, kenapa Mam? Ada yang sakit?" cecar Archo.
"De-Desi...."
"Hmmm, Desi?" Archo menaikkan satu alisnya.
Maria lalu melihat ke arah Desi yang tengah berada di samping Yon.
"Dia...." Maria perlahan mengarahkan jari telunjuknya membuat Archo dan Dimas mengalihkan pandangannya di mana Maria menunjuk.
"Kenapa dengan wanita itu Kak?" tanya Dimas.
"Tolong kalian bebaskan Desi, jangan biarkan dia di bawa kantor polisi dan di penjara di sana! Sebab Desi tidak bersalah, dia anak yang sangat baik dan selalu membantu ku Archo, Dimas." pinta Maria dengan nada terbata-bata.
Untuk sesaat Dimas dan Archo saling menatap satu sama lain, kemudian beralih lagi ke Maria.
"Mam tenang aja ya! Wanita yang bernama Desi itu memang akan di bawa ke Kantor polisi, tapi tidak untuk di penjara melainkan jadi saksi." kata Archo.
Sontak membuat Yon, Fan serta lainnya tercengang dan menatap Desi. Berbeda dengan Desi, ia nampak tersenyum bahagia mendengar perkataan Archo.
"Heh, ternyata ada untungnya juga aku berpura-pura baik pada wanita stroke itu. Kalau sudah begini, maka aku harus melanjutkannya sampai tujuan utama ku tercapai." batin Desi.
Lalu....
"Terimakasih Nak," ucap Maria di susul dengan senyumannya yang terpampang di wajahnya.
"Iya Mam. Yaudah sekarang kita ke rumah sakit ya!"
Maria hanya mengangguk pelan kemudian menyandarkan kepalanya di dada anaknya dan perlahan menutup matanya.
Archo, Dimas dan Cole langsung membawa Maria ke Rumah sakit terdekat, sedangkan petugas Kepolisian kembali ke tempatnya dengan membawa para penjahat itu.
...----------------...
Rumah Sakit....
Hanya butuh kurang dari lima belas menit dari tempat tersebut, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu Rumah sakit. Dimas terlebih dahulu keluar dari mobilnya dan meminta tolong kepada para petugas di sana.
Lalu dua orang petugas Rumah sakit mendekat ke arah mobil Dimas dengan membawa brankar pasien. Kemudian Dimas perlahan mengangkat tubuh Maria dan membaringkannya di atas brankar pasien. Setelah itu, mereka bergegas menuju ke ruang UGD untuk pemeriksaan awal sebelum melakukan tindakan selanjutnya.
Setibanya di UGD....
"Maaf, hanya pasien saja yang masuk! Yang lainnya bisa menunggu di luar!" kata Dokter jaga di UGD.
"Tapi saya juga Dokter dan pasien ini adalah Kakak saya, Dok. Jadi izinkan saya ikut masuk ke dalam dan menemaninya!" pinta Dimas.
Dokter menghela nafasnya sejenak.
"Baiklah, tapi hanya anda saja yang masuk. Untuk yang lainnya tetap tunggu di luar!"
Dimas mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya, terimakasih banyak Dok."
Dokter itu pun terlebih dahulu masuk ke dalam dan di susul oleh Dimas. Sedangkan Archo dan lainnya duduk di kursi depan ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, Dimas dan Dokter yang bertugas pun keluar dari ruang UGD lalu di susul tiga orang perawat dengan mendorong brankar yang di tempati Maria.
Melihat itu, Archo segera bangkit dari posisinya dan menghampiri.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ibu saya, Dok?" tanya Archo.
Dokter terlebih dahulu melihat ke arah Dimas dan di balas anggukkan pelan oleh Dimas. Lalu ia kembali ke Archo, kemudian Dokter menjelaskan padanya seperti apa yang di jelaskan oleh Dimas sebelumnya bahwa peluru yang bersarang di bahu Maria lumayan dalam dan harus di keluarkan melalui jalan operasi.
Sontak membuat Archo benar-benar sangat terkejut dan terpukul saat mendengarnya. Dengan berat hati, ia pun menyetujui tindakan Dokter untuk melakukan operasi terhadap Maria, begitu pula dengan Dimas yang sudah terlebih dahulu menandatangani surat persetujuan.
Sesaat setelah Maria di dalam ruang operasi, Archo, Dimas serta lainnya menunggu di luar.
"Mudah-mudahan Mam gak kenapa-napa dan operasinya juga berjalan dengan lancar." ucap Archo seraya menautkan jari jemarinya.
"Yang sabar ya Mister!" Cole menenangkan Archo dengan mengelus punggungnya.
"Iya, terimakasih Cole."
Lalu....
Drrrrrt.... Drrrrrt....
Archo merogoh saku jaketnya karena mendengar benda pintar miliknya berdering. Setelah di ambilnya, ia pun melihat ke layar hpnya itu.
"Daddy!" ucapnya saat mengetahui bahwa yang menghubunginya itu ternyata Daddy Mario.
Ia pun segera menggeser icon hijau untuk menjawabnya.
"Archo! Kenapa kamu baru menjawab telepon Daddy?" pekik Daddy Mario dari sebrang telponnya.
"Maaf Dad! Archo benar-benar gak tau kalau Daddy menelpon, soalnya posisi Archo sedang di jalan." ucap Archo.
"Di jalan? Apa kalian sudah berhasil menemukan Maria dan membebaskanya?"
"Iya kami berhasil menemukan Mam dan membebaskannya dari para penculik itu."
"Syukurlah kalau kalau kalian berhasil, Daddy sangat senang mendengarnya. Lalu sekarang ini posisi kalian di mana? Apa masih di perjalanan menuju arah pulang?"
Archo membuang nafasnya sejenak.
"Dad, sekarang ini kita sedang berada di Rumah sakit."
"Rumah sakit? Apa yang terjadi, kenapa kalian bisa ada di sana?" cecar Daddy Mario.
"Itu karena Mam di tembak oleh si penculik itu Dad, dan sekarang Mam sedang menjalani operasi," jelas Archo. Tiba-tiba....
Praaaang....
Terdengar suara benda jatuh dari sebrang telponnya.
"Dad! Est-ce que Daddy va bien? (Dad, apa Daddy baik-baik saja?)" seru Archo.
"Oui Daddy va bien, Arc. (Ya Daddy baik-baik saja)" jawab Daddy Mario membuat Archo menghela nafas leganya.
"Syukurlah...."
"Archo, sekarang kamu kirim orang kamu untuk menjemput Daddy! Karena Daddy ingin melihat keadaan Mam kamu itu." pinta Daddy Mario.
"Tapi Dad ...."
"Tidak ada kata tapi, pokoknya kamu harus kirim seseorang untuk menjemput Daddy sekarang juga!" Daddy Mario mengulangi perkataannya dengan nada tinggi.
"Iya, sekarang Archo akan mengirim seseorang untuk menjemput Daddy."
"Yaudah kalau gitu Daddy siap-siap dulu. Kamu hati-hati di sana! Jika terjadi sesuatu, segera hubungi Daddy!"
"Iya Dad."
Telpon pun langsung terputus. Setelah itu, Archo meminta dua orang suruhannya untuk menjemput Daddy Mario.
Satu setengah jam pun berlalu dan terlihat Dokter serta salah satu suster keluar dari ruang operasi tersebut seraya berdiri di depan pintu.
"Keluarga Nyonya Maria...."
Archo dan Dimas yang tadinya sama-sama sedang sibuk dengan gawainya masing-masing pun langsung bangkit dari posisinya dan menghampiri perawat tersebut.
"Ada apa Dok? Apa operasinya sudah selesai?" tanya Dimas.
"Operasi masih berjalan, tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Tuan dan Dokter. Tapi maaf sebelumnya saya ingin bertanya pada kalian. Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah Rh-positif type O?" tanya Dokter.
"Kenapa anda menanyakan golongan darah kami? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ibu saya?" cecar Archo.
"Maaf Tuan-Tuan, tadi saat peluru sudah di keluarkan, tiba-tiba pasien mengeluarkan banyak darah sehingga beliau butuh transfusi darah. Sedangkan di rumah sakit ini stock golongan darah Rh-positif (Rhesus) type O hanya tinggal beberapa saja dan itu masih belum cukup." jelas Dokter.
"Tuan Archo," Dimas menepuk pundak Archo. "Golongan darah anda tidak bisa di donorkan pada Kak Maria sebab darah kalian berdua berbeda meskipun sama-sama type O. Dan yang bisa mendonorkan darah untuk Kak Maria ialah orang yang memiliki golongan darah yang sama yaitu O+ atau paling tidak O- itu pun tergantung kecocokannya." lanjut jelasnya.
"Benar apa yang di katakan oleh anda, Dok. Pasien hanya bisa menerima transfusi darah dengan golongan yang sama yaitu Rh-positif type O atau bisa juga Rh-negative type O." sambung Dokter.
Archo memampang ekspresi raut wajahnya yang sendu.
"Oh begitu ya, lalu bagaimana dengan anda, Dokter Dimas? Apa anda memiliki golongan darah yang sama dengan Mam?" tanya Archo pada Dimas.
Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Golongan darah saya berbeda dengan Kak Maria begitu juga dengan Bunda. Setahu saya di keluarga yang memiliki darah O+ itu mendiang ayah. Tapi kalau gak salah Zuy juga memiliki golongan darah yang sama dengan Kak Maria."
"Hah! Jadi golongan darah Zuy juga sama dengan Mam?"
"Ya, itu juga kalau saya gak salah ingat Tuan Archo."
"Lalu sekarang bagaimana Dok? Apa kita harus menghubungi Zuy dan memintanya untuk mendonorkan darahnya itu?" cecarnya kembali.
Dimas mendesah. "Sepertinya kita tidak akan meminta Zuy mendonorkan darahnya untuk Kak Maria."
"Lho memangnya kenapa?"
"Itu karena Zuy masih memberikan Asi eksklusif pada kedua anaknya, kecuali kalau si kembar sudah mendapatkan makanan pendamping ASI, baru ia bisa mendonorkan darahnya itu. Dan lagi jika kita menghubunginya dan tiba-tiba memintanya untuk mendonorkan darahnya itu, otomatis ia akan bertanya dan meminta kejelasannya pada kita. Lalu apakah kita harus memberitahu Zuy yang sebenarnya tentang keadaan Mamahnya? Tapi kita sudah berjanji pada Tuan Muda untuk menyembunyikan kejadian ini dari Zuy." lontar Dimas dengan panjangnya.
"Lantas apa yang harus kita lakukan, Dok?"
"Sebentar!" Dimas lalu beralih ke Dokter. "Maaf Dok! Bisakah menunggu sebentar! Soalnya saya harus menghubungi dulu pihak Rumah sakit tempat saya bekerja. Siapa tau di sana menyimpan banyak stock golongan darah Rh-positif type O." sambungnya.
"Iya bisa, tapi jangan terlalu lama Dok! Sebab pasien sangat membutuhkan transfusi darah tersebut." tutur Dokter.
Dimas mengangguk, dan saat Dimas akan menghubungi pihak Rumah sakit di mana ia bekerja, namun tiba-tiba....
"Tunggu! Biar saya saja yang mendonorkan darah saya untuk Mrs Maria." seru seorang wanita berjalan ke arah mereka.
Dimas, Archo dan Dokter pun mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah....
"Adriene!" lirih Archo dengan matanya yang terbelalak karena melihat Adriene datang bersama dengan Daddy Mario.
Berbeda dengan Dimas yang berkerut kening ketika melihat Daddy Mario datang. Saat sudah di dekat Archo dan lainnya, Adriene bersalaman dengan mereka secara bergantian.
Sesaat....
"Dok, biarkan saya saja yang mendonorkan darah saya untuk Mrs Maria! Karena golongan darah saya juga Rh-positif type O sama sepertinya." Adriene menawarkan dirinya untuk mendonorkan darahnya itu.
"Syukurlah.... Yaudah kalau gitu anda bisa ikut perawat kami untuk melakukan pemeriksaan!" Dokter mengalihkan pandangannya ke arah Suster yang ada di sebelahnya. "Tolong ya Sus!"
Suster pun mengangguk patuh.
"Iya Dok. Ayo ikut saya Nona!" ajaknya pada Adriene.
"Baik Sus." balas Adriene.
Namun tiba-tiba Archo menarik tangan Adriene dan membawanya menjauh beberapa jarak dari Dimas dan lainnya.
"Adriene, apa kamu benar-benar serius ingin mendonorkan darah kamu untuk Mam?" tanya Archo.
Adriene tersenyum dan berkata, "Tentu saja aku serius, dan lagi hanya mendonorkan darah saja gak akan membuat ku meninggal muda, Arc."
"Huh! Kamu ini tidak pernah berubah dan selalu berbuat semau mu sendiri." cetus Archo.
"Iya memang dari dulu aku begini. Yaudah aku kesana dulu ya! Kasihan susternya sudah menunggu ku." ujar Adriene.
"Oke, terimakasih ya Driene."
"Anytime."
Adriene dan Archo kembali ke arah Dokter, lalu ia dan suster pergi menuju salah satu ruang yang ada di Rumah sakit.
"Benar-benar menantu kesayangannya Daddy." ucap Daddy Mario yang bangga dengan Adriene.
Sedangkan Dimas dan Archo hanya bisa terdiam dan saling menatap satu sama lain.
Setelah melakukan pemeriksaan dan ternyata hasilnya cocok, Adriene pun menjadi pendonor darah untuk Maria dan akhirnya operasi berjalan dengan lancar.
************************
__ADS_1
Menjelang waktu siang hari....
Villa Z&R
Di dalam kamar si kembar, Zuy sedang melakukan panggilan video dengan Ray melalui laptopnya.
Karena sejak kemarin Ray berada di luar Kota melakukan perjalanan bisnis.
Lalu....
"Siang sayangku...."
"Siang juga Daddy tampannya anak-anakku." sahut Zuy.
"Kamu lagi apa sayangku?"
"Biasa, lagi bersama dengan anak ganteng dan cantiknya kita," jawab Zuy sembari meletakkan laptopnya di depan anak-anaknya.
"Hai ganteng dan cantiknya Daddy," Ray menyapa keduanya seraya melambaikan tangannya.
Seketika si kembar langsung melihat ke layar hpnya saat mendengar suara dari Daddy-nya itu.
"Da..Da..." suara celotehan dari Baby Z.
"Iya cantiknya Daddy. Huh, Daddy benar-benar kangen sama kalian berdua anak-anak Daddy terutama Mamahnya," ucap Ray mengedipkan sebelah matanya.
"Ya, kami juga kangen sama Daddy, kapan Daddy pulang?"
"Nanti sore Daddy pulang." jawab Ray.
"Oh, syukurlah kalau begitu."
Lalu tiba-tiba mata Ray terbelalak saat melihat jari tangan Zuy di balut dengan plester.
"Sayangku, kenapa dengan jari tangan kamu?" tanya Ray.
"Oh ini, semalam aku tidak sengaja mecahin gelas pas mau bersihin jariku tergores oleh pecahan gelasnya." jawab Zuy.
"Ya ampun sayangku, kenapa selalu ceroboh sih!"
"Ya maaf kalau aku ceroboh, tampan-ku."
Ray menghela nafasnya.
"Baiklah aku memaafkan mu, sayangku. Tapi lain kali kamu harus hati-hati, jangan ceroboh lagi. Terus kalau ada apa-apa minta sama pelayan kita, sayangku. Jadi kamu tidak harus terluka seperti itu!" tutur Ray.
"Oke, lain kali aku akan hati-hati."
"Nah gitu baru sayangku yang cantik. Udah dulu ya sayangku, soalnya aku mau makan siang. Kamu juga jangan lupa makan ya sayangku! Terus nanti malam ...."
Zuy mengerenyit. "Hmmm, nanti malam? Maksud mu?"
"Jatah adik kecilku, sayangku." Ray mengadukan kedua jari telunjuknya.
Zuy pun mengerti maksud dari pria tampannya itu sehingga ia memutar bola matanya dengan malas seraya mendengus.
"Huh, dasar si tampan-ku ini!" gumam Zuy membuat Ray terkekeh.
"Yaudah aku tutup ya sayangku, I Love you." ucap Ray di susul kiss mesra dari jauh.
"I Love you too, Daddy tampannya anak-anakku."
Panggilan Video pun berakhir.
"Um,mama...." Baby R menarik-narik baju Zuy.
Mengerti akan maksud anak laki-lakinya itu, Zuy lalu membaringkan tubuh Baby R seraya memberikan ASI-nya.
"Cantik pakai DOT dulu ya! Nanti gantian sama Kakak Rayn." ucap Zuy mengelus rambut Baby Z.
*****************************
Di tempat lainnya....
Sesaat setelah mengobrol dengan pujaan hatinya, Ray kini sudah berada di Restoran untuk menikmati makan siangnya. Tak lama waiters pun datang dengan membawa makanan yang di pesan oleh Ray.
"Silahkan Tuan!"
"Terimakasih...."
Waiters pun pergi, kemudian Ray mulai menyantap makanan yang di pesannya itu.
"Kangen masakan sayangku," batin Ray sembari mengunyah makanannya.
Dan ketika ia tengah menikmati makanannya, seorang pria beranjak tua datang menghampiri Ray.
"Permisi, apa saya boleh gabung di sini bersama dengan anda, Tuan Ray?" ucap si pria.
Sehingga membuat Ray menghentikan aktivitas makannya dan menengadah ke arah pria tersebut.
"Tuan Bob!" lirih Ray pada pria tersebut yang ternyata pemimpin dari Perusahaan DK.
"Duh maaf, sepertinya saya menganggu Tuan Ray yang sedang menikmati makan siang."
Ray tersenyum simpul dan berkata, "Tidak mengganggu Tuan."
Akan tetapi berbeda dengan hatinya yang sebenarnya sangat risih dengan kehadiran Tuan Bob, apalagi saat mengingat kelakuan Sekretarisnya itu.
"Syukurlah kalau begitu! Lalu apa saya boleh duduk di sini?" tanya Tuan Bob.
"Tentu, silahkan Tuan!"
Tuan Bob tersenyum seraya mendudukkan dirinya di samping Ray.
"Apa anda sudah makan siang, Tuan Bob?" tanya Ray.
"Belum, tapi saya sudah memesannya." jawab Tuan Bob.
"Oh...." Ray manggut-manggut.
Sesaat makanan yang di pesan Tuan Bob pun datang. Setelah itu, Ray melanjutkan aktivitas makannya begitu juga dengan Tuan Bob.
Dan di antara Perusahaan keduanya belum ada keterikatan kerja sama. Karena Ray masih belum memutuskan untuk menyetujui permintaan kerja sama dari Perusahaan DK.
...----------------...
Hari yang cerah kini sudah beranjak pergi dan langit pun telah mengubah tampilannya menjadi langit malam.
—Pukul 11.35pm
Saat ini mobil Ray sudah berada di perjalanan menuju ke arah Villanya yang tinggal beberapa kilometer saja.
Terlihat dari raut wajahnya yang lelah dan matanya mulai sayu karena menempuh perjalanan hampir empat jam.
Hoaaam
"Wan, aku tidur bentar ya! Jangan lupa bangunkan aku jika sudah sampai Villa!" titah Ray pada supirnya yang bernama Wawan.
"Iya Tuan Ray." balas Wawan.
Ray menyandarkan kepalanya seraya memejamkan matanya, akan tetapi....
Ciiit....
Tiba-tiba saja Wawan menghentikan laju mobilnya membuat Ray tersentak dan langsung membuka matanya.
"Ada apa Wan? Kenapa kamu berhenti mendadak?" pekik Ray.
"Maaf Tuan! Ta-tapi itu ada sekelompok orang menghadang jalan kita." ujar Wawan.
"Apa!"
***Bersambung....
•Hmmm, kira-kira siapa yang menghadang Ray ya? 🤔
See You Next Time.... 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1