
<<<<<
Maria lalu mengambil nafasnya dan perlahan menghembuskannya. Kemudian Maria menatap lekat wajah pria berkacamata itu.
"Mam ingin kamu membawa Kimberly kesini!"
"Apa! Bawa Kimberly kesini?"
Archo nampak terkejut dengan permintaan Maria, ia pun melepaskan genggaman tangan Maria dan beralih memegang pundak Maria.
"Apa Mam serius dengan permintaan Mam ini?"
Maria mengangguk. "Iya Archo, Mam sangat serius."
"Lalu apa alasan Mam, meminta Archo untuk membawa Kimberly kesini?" tanya Archo.
Maria lalu kembali menghela nafas panjangnya.
"Begini Archo. Kamu kan tahu selama 25 tahun, Kimberly tidak pernah tahu siapa Nenek dan Pamannya, jadi Mam ingin memperkenalkan keluarga Mam pada Kimberly," jelas Maria
"Iya Archo tahu Mam, tapi ...."
"Tapi apa Archo? Apa kamu keberatan dengan permintaan Mam ini?" tanya Maria menyidik.
Archo menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan begitu Mam, hanya saja Archo khawatir jika Kimberly di bawa kesini, maka masalah akan semakin bertambah. Mam kan tahu bagaimana rasa bencinya Kimberly terhadap Zuy, dan jika mereka berdua saling bertemu, Archo takut Kimberly akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan Zuy, Mam."
"Mam tahu itu Archo! Tapi kamu juga tahu kan, kalau keadaan Bunda sekarang seperti apa? Jadi sebelum terlambat Mam ingin mengenalkan Kimberly pada Bunda dan lagi keadaan adikmu sekarang sedang tidak baik, Mam sangat takut jika terjadi sesuatu buruk menimpanya kembali, Archo." seloroh Maria.
Seketika Archo langsung tertunduk diam, nampak jelas dari ekspresi wajahnya bahwa ia saat ini tengah kebingungan. Kemudian Maria kembali menggenggam tangan Archo, air matanya pun sudah mengalir di pipi Maria.
"Mam mohon padamu, Archo!" ucap Maria sembari menangis.
Sebelum mengangkat kepalanya kembali, Archo mengambil nafasnya dan perlahan menghembuskannya. Setelah itu ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap Maria yang sedang menangis.
"Baiklah Mam, nanti Archo akan bawa Kimberly kesini," ujar Archo.
"Apa kamu serius, Archo?"
Archo mengangguk. "Iya Mam. Sudah ya, Mam jangan menangis lagi!"
"Terimakasih Archo, kamu memang anak Mam," ucap Maria.
"Sama-sama Mam," balas Archo, ia pun langsung memeluk Maria.
"Maaf Mam, aku memang menuruti permintaan Mam, akan tetapi aku tidak bisa menjanjikannya. Soalnya aku khawatir jika terjadi masalah baru yang tidak di inginkan, sehingga membuat hubungan antara Mam dan Zuy akan semakin menjauh," batin Archo.
...----------------...
Sementara itu.....
Ray dan Zuy sudah berada di perjalanan menuju ke arah Villa-nya. Akan tetapi nampak ada yang berbeda dengan Zuy. Pasalnya setelah keluar dari tempat makan yang berada di Mall, Zuy terus saja terdiam dan tidak berkata apa-apa, bahkan pandangannya pun terus mengarah ke jendela kaca mobil yang di sebelahnya itu, sehingga membuat Ray merasa gelisah.
"Sayangku...."
"Hmmmm...."
"Sayangku, kenapa dari tadi kamu diam terus, apa kamu marah padaku?" tanya Ray.
"............"
"Sayangku, aku benar-benar tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya dan aku juga tidak mengenalnya. Sayangku, percayalah padaku! Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah tertarik dengan wanita lain, karena wanita yang aku cintai hanya kamu seorang, sayangku." ucap Ray dengan sungguh-sungguh.
Lalu tiba-tiba...
"Stooop!!!" seru Zuy
Seketika Ray langsung menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Sayangku...."
"Aku lapar, aku mau jagung bakar!" lontar Zuy sambil menunjuk ke arah penjual jagung bakar yang berada di sisi jalan.
"Hmmmm.... Baiklah, sayangku tunggu di sini! Biar aku yang beli jagung bakarnya." kata Ray dan di balas anggukan oleh Zuy.
Kemudian Ray membuka seat belt-nya dan keluar dari mobilnya menuju ke arah penjual jagung bakar.
"Sebentar ya anak-anak Mamah, Papah kalian sedang beli makanan untuk kita. Haaaa.... Coba aja kalau tadi tidak ada gangguan, kita pasti sudah makan banyak dan kenyang," ucap Zuy mengelus perutnya.
Tak lama kemudian, Ray kembali masuk ke mobilnya sambil membawa jagung bakar pesanan pujaan hatinya itu.
"Sayangku, ini jagung bakarnya, awas masih panas sayangku!"
Ray menyodorkan jagung bakarnya ke arah pujaan hatinya itu. Zuy pun mengambil jagung bakar dari tangan Ray dan langsung menyantapnya. Akan tetapi....
Aaaaaah....
"Panas-panas, lidah dan bibir ku...." ucap Zuy sambil mengipasi mulutnya dengan tangan.
Ray yang melihatnya pun langsung mendekat ke arah Zuy.
"Sayangku, tadikan aku sudah bilang, kalau jagungnya masih panas. Terus mana yang panas? Sini biar aku tiup," seloroh Ray.
"Mulutku panas," singkat Zuy.
Ray lalu mengambil jagung yang berada di tangan Zuy dan meletakkannya, setelah itu Ray memegang dagu Zuy dan perlahan meniup mulut Zuy. Sesaat setelahnya ....
"Bagaimana sayangku, apa sudah mendingan?" tanya Ray.
Zuy mengangguk. "Iya sudah, terimakasih Ray."
Ray tersenyum dan mengelus lembut pipi Zuy.
"Mana jagungnya?" tanya Zuy.
"Ada di sini sayangku, aku tiup dulu jagungnya supaya gak panas lagi," kata Ray.
Zuy menggeleng. "Jangan! Biar aku saja yang meniupnya."
"Tidak apa-apa sayangku, anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku padamu, sayangku." ucap Ray.
Seketika Zuy memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Hah! Minta maaf, memangnya kamu salah apa Ray?" tanya Zuy.
"Bukannya sayangku lagi marah karena kejadian di tempat makan tadi?"
"Oh, iya aku memang marah tapi bukan sama kamu, Ray. Melainkan sama perempuan itu, soalnya dia sudah mengganggu kita yang sedang makan," jelas Zuy.
"Jadi sayangku tidak marah padaku?"
Zuy memegang kedua pipi Ray dan berkata, "Tentu tidak tampan-ku, untuk apa aku marah padamu. Kecuali kalau kamu benar-benar ada sesuatu dengan wanita itu, maka aku akan marah besar padamu dan akan aku layangkan kembali sendok sayur ke arah kepala kamu, Ray."
"Jangan sayangku! Beneran aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu, bahkan aku juga tidak mengenalnya," jelas Ray.
"Syukurlah kalau begitu, lalu mana jagung bakar milikku? Soalnya aku dan si kembar sudah lapar," lontar Zuy.
"Hmmmm, kasihan sayangku. Yaudah aku tiup dulu ya jagungnya!"
Zuy kembali mengangguk, kemudian Ray meniup jagung bakar milik Zuy, setelah jagung bakarnya sudah tidak panas, ia pun langsung memberikannya pada pujaan hatinya itu.
"Ini sayangku jagungnya, pelan-pelan makannya ya!"
"Iya Ray."
Zuy pun langsung menyantap jagung bakar itu dengan lahapnya sampai mulutnya belepotan, sontak membuat Ray terkekeh geli melihatnya. Lalu ia mengambil tissue yang berada di depannya.
"Dasar sayangku, makan jagungnya sampai belepotan gini," ucap Ray sambil mengusap mulut Zuy.
"Maaf Ray, hehehe...." kekeh Zuy.
Zuy kembali menyantap jagungnya, begitu pula dengan Ray.
*************************
Villa Z&R
Di kala Ray dan Zuy tengah berada di luar, berbeda dengan Airin yang sedang berada di Villa sembari menonton acara kesukaannya yaitu pahlawan galaxy.
Awalnya Ray sudah mengajak Davin dan Airin, akan tetapi mereka berdua menolaknya dan lebih memilih untuk tinggal di Villa. Setelah beberapa saat Ray dan Zuy pergi jalan-jalan, Davin juga pergi ke suatu tempat karena ada sesuatu yang harus ia beli, dan meninggalkan Airin sendirian di Villa.
Lalu kemudian....
"Aku pulang...." seru seseorang yang melangkah masuk dan menghampiri Airin.
Seketika Airin langsung menolehkan kepalanya ke orang tersebut yang tak lain adalah ....
"Pak Davin, selamat datang." sambut Airin.
Davin lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Airin, setelah itu ia menyodorkan sesuatu ke arah Airin.
"Apa ini Pak?" tanya Airin
"Yoghurt untuk mu! Supaya bisa nurunin berat badan kamu biar gak berat Rin," seloroh Davin
Sontak membuat Airin mengerutkan dahinya dan ....
Bugh....
Ia juga melempar bantal kecil ke arah Davin.
"Hahaha.... Kamu lupa ya Rin? Kan waktu kamu tidur di kursi santai, aku yang membawa mu ke kamar," ujar Davin.
Blush....
Pipi Airin langsung merona dan jantungnya berdegup kencang saat mendengar perkataan dari Davin, ia pun menundukkan kepalanya.
"Ternyata memang benar kalau Pak Davin yang membawaku ke kamar, aku pikir pengawalnya Tuan Bos. Aiiih, kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini?" batin Airin. Lalu ....
"Tapi aku heran lho Rin, padahal badan mu kurus tapi kenapa bisa sangat berat ya?" lontar Davin.
Airin pun langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Davin.
"Ya itu karena berat badanku adalah tenaga, Pak Davin." papar Airin. "Oh iya, mana makanan yang aku pesan?" sambung tanyanya.
"Tentu ada dong."
Davin lalu mengambil makanan yang di pesan Airin, kemudian ia memberikan makanan itu pada Airin.
"Nih pesanan milikmu, mie ayam." kata Davin.
"Yeaaa, terimakasih Pak Davin. Nanti aku ganti uangnya Pak Davin ya!"
Davin mengibaskan tangannya. "Tidak usah di ganti Rin, kaya sama siapa aja."
Seketika wajah Airin langsung sumringah.
"Waah.... Terimakasih banyak Pak Davin, yaudah kalau begitu aku ambil mangkuknya dulu ya," seloroh Airin.
"Ya, sekalian punyaku juga!" titah Davin.
"Oke, Pak Davin."
Airin bangkit dari posisinya dan melangkah menuju ke arah dapur untuk mengambil mangkuk. Sesaat Airin kembali sambil membawa mangkuk dan minumannya, ia pun meletakkannya di atas lantai yang beralas karpet. Kemudian mereka menempatkan mie ayamnya ke dalam mangkuk masing-masing.
"Selamat makan...." ucapnya serempak
Airin dan Davin segera menyantap Mie ayam tersebut dengan lahapnya. Sesaat kemudian mie ayam pun habis, yang tersisa hanyalah mangkuk beserta sendok dan sumpitnya saja.
"Nikmatnya.... Persis mie ayam buatan Mamang," ucap Airin.
"Hmmmm, Mamang siapa Rin?" tanya Davin.
"Mamang penjual Mie ayam yang berada di Kota kelahiran ku Pak," jawab Airin.
"Oh.... Euuum, ngomong-ngomong aku jadi penasaran sama Kota kelahiran kamu, Memang di sana ada apa aja Rin?" Davin nampak penasaran.
"Banyak, ada gunung, air terjun, sawah, kebun teh, dan lain sebagainya."
"Kamu sering pulang ke sana Rin?"
"Jarang sih, kalau lagi pengin aja. Tapi kalau dulu suka seminggu sekali pulangnya, itu juga aku ke sananya bareng Zuy pakai motor, Pak. Pagi-pagi buta kita berangkat, jadi nyampe sana gak terlalu siang," ujar Airin.
Sontak membuat Davin tercengang mendengarnya, sehingga matanya membulat sempurna.
__ADS_1
"Hah! Kamu sama Zuy? Pakai motor berdua doang? Memangnya kalian gak takut?" lontar beberapa pertanyaan dari Davin.
Airin mengangguk. "Iya berdua doang, Pak. Tidak, ngapain mesti takut, di jalan banyak orang ini, lagi pula kita juga naik motornya sendiri-sendiri."
"Tapi setahu ku, jalanan menuju pegunungan itu berliku-liku kan? Ibarat kata seperti obat nyamuk. Ya kalau kamu sih aku percaya karena sepertinya sudah biasa, tapi kalau Zuy?"
Mendengar itu, Airin langsung menyunggingkan senyumannya.
"Hmmmm, sepertinya anda belum tahu bagaimana gesitnya Zuy jika sudah bersama si Molly motornya itu," papar Airin.
"Hah! Maksudmu Rin?"
"Zuy kalau sudah naik motor, gesitnya minta ampun. Bahkan semuanya dia terobos, walaupun jalanan berliku juga, aku aja kalah gesitnya dengan Zuy. Tapi meskipun demikian, Zuy tetap taati peraturan lalu lintas di jalan," jelas Airin.
"Woaaaa.... Gak nyangka aku, Zuy ternyata bisa seperti itu juga ya, kalau udah sama si Molly," ucap Davin terkagum-kagum.
"Ya, awalnya juga aku gak percaya, tapi memang kenyataannya seperti itu, aku juga kagum dengan keterampilannya dalam berkendara sepeda motor," kata Airin.
Airin lalu bangkit dari posisinya.
"Mau kemana Rin?" tanya Davin.
"Mau ke dapur, nyuci mangkuk kotor ini," jawab Airin.
"Oh, mau aku bantu?"
Airin mengibas tangannya. "Tidak usah Pak, aku sendiri aja." tolaknya.
Davin memanggut, Airin pun melangkah menuju dapur sambil membawa mangkuk kotornya.
Beberapa saat kemudian, Zuy dan Ray akhirnya sampai di tempat dimana Villanya berada. Setelah turun dari mobilnya, Ray dan Zuy berjalan menelusuri pantai menuju ke arah Villanya itu. Akan tetapi Ray tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti Ray?" tanya Zuy kebingungan.
"Sebentar sayangku!"
Ray membuka jas yang ia pakai, kemudian ia memakaikannya pada Zuy.
"Pakai ini! Biar kamu tetap hangat sayangku," ucap Ray.
Zuy menyunggingkan senyuman manisnya dan memegang pipi Ray.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy,
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah Ray.
"Tapi akan lebih hangat lagi, kalau sudah di pelukan Papahnya anak-anak," bisik Zuy membuat Ray terpukau.
"Sayangku, sekarang kamu sudah pandai menggodaku ya!" ucap Ray dengan wajahnya yang merona
Zuy hanya tersenyum manis, lalu ia membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Ray, sedangkan Ray masih berdiam diri, karena ia merasakan sesuatu yang mulai aktif kembali, akibat ulah pujaan hatinya itu.
Lalu....
"Sayangku, kenapa kamu meninggalkan ku?" seru Ray .
"Habisnya kamu melamun sih, Ray. Udah gitu wajahnya memerah lagi," balas Zuy meledek.
"Sayangku, kamu benar-benar menggemaskan ya, sini sayangku! Biar aku peluk kamu sampai puas." lontar Ray.
"Hahaha.... Kejarlah!"
Ray melangkahkan kakinya kembali dan menyusul Zuy, setelah berada di dekat Zuy ia menjatuhkan barang bawaannya dan menarik tangan Zuy ke pelukannya.
"Ray...."
"Kenapa sayangku? Bukankah ini yang kamu mau, di peluk sama Papahnya si kembar?"
"Ta-tapi ini masih di luar, Rayyan!" pekik Zuy.
"Oh, jadi sayangku ingin di dalam kamar? Baiklah kalau sayangku maunya seperti itu."
Ray lalu mengambil barang-barang yang ia jatuhkan, sesudah itu, ia pun mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Ayo sayangku! Aku tidak sabar ini, ingin peluk-peluk mesra sayangku yang cantik ini," ajak Ray sambil mengedipkan satu matanya.
Zuy menghela nafasnya dan membalas uluran tangan Ray, kemudian mereka melangkah bersama menuju ke dalam Villanya itu.
***************************
Rumah Sakit
Sementara itu, nampak Dimas dan Eqitna yang masih memakai pakaian dinasnya, sedang berlari terburu-buru menuju ke ruang ICCU tempat dimana Bunda Artiana di rawat. Terlihat sangat jelas dari raut wajah mereka berdua yang tengah sedih, sebab mereka baru mendapatkan kabar buruk tentang kondisi Bunda Artiana. Setibanya di tempat....
"Bagaimana keadaan Bunda? Saya ingin melihatnya sekarang!" lontar Dimas pada petugas yang berjaga di depan ruang ICCU.
"Maaf Dokter Dimas, lebih baik anda tunggu di sini! Soalnya Dokter Arga sedang menangani pasiennya," ujar petugas tersebut.
"Tapi saya anaknya, saya juga berhak masuk dan melihat kondisi Bunda," sentak Dimas.
Eqitna yang melihat itu segera menghampiri Dimas.
"Dim, lebih baik kita tunggu saja ya! Biarkan Dokter Arga melakukan tugasnya dengan baik." tutur Eqitna.
Dimas pun langsung menuruti perkataan Eqitna, kemudian mereka duduk di kursi yang berada di depan ruang tersebut.
Tak lama kemudian Dokter yang bernama Arga pun keluar dari ruangan Bunda Artiana, seketika Dimas dan Eqitna langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Dokter Arga.
"Bagaimana dengan Bunda, Dok?" tanya Dimas.
Sesaat Dokter Arga menghela nafasnya, kemudian ia melihat ke arah Dimas dengan tatapan sendu sambil menggelengkan kepalanya. Sontak membuat Dimas dan Eqitna tersentak.
"Ti-tidak mungkin!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1