
<<<<<
Dimas lalu mengangguk dan berkata, "Iya Zuy, beliau terkena serangan jantung dan sekarang keadaan beliau tengah kritis."
"Apa! Kritis?"
Seisi ruangan itu pun terkejut dengan apa yang di katakan oleh Dimas. Terkecuali Archo yang memang sedari awal sudah mengetahuinya.
"Iya Zuy, bahkan tadi Bunda sudah di nyatakan meninggal oleh Dokter yang menangani Bunda. Akan tetapi di beberapa menit kemudian, keajaiban muncul dan jantung Bunda kembali berdetak, Zuy." jelas Dimas sembari menitihkan air matanya.
Zuy yang awalnya berada di belakang tubuh Ray, kini ia beralih berdiri tepat di hadapan Dimas, ia pun menatap Dimas dengan sorot mata yang tak biasa.
"Dokter Dimas...."
"I-iya Zuy," sahut Dimas.
"Apa yang anda katakan barusan itu benar? Atau anda hanya membuat cerita omong kosong belaka, supaya anda dan keluarga anda bisa membujuk saya untuk menerima dan melupakan semua yang terjadi saat ini?" cecar Zuy.
"Zuy, dengarkan perkataan Paman! Semua yang Paman katakan barusan itu benar apa adanya. Dan lagi Paman benar-benar tidak mempunyai niat seperti itu, Paman hanya ingin kamu menjenguk Bunda! Sebab Bunda ingin bertemu dengan mu dan meminta maaf padamu, Zuy." ungkap Dimas.
Mendengar ungkapan dari Dimas, Zuy pun langsung menundukkan kepalanya. Lalu ....
"Sayangku...." tegur Ray sembari memegang pundak pujaan hatinya itu.
Zuy pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ray. Ray lalu merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya, seketika tangis Zuy kembali pecah.
"Ssssht.... Kamu yang sabar ya, sayangku!" ucap Ray sembari mengelus punggung Zuy.
"Aku harus bagaimana, Ray?"
"Sayangku, semua keputusan ada di kamu, terserah kamu mau menemuinya atau tidak. Aku hanya bisa memberikan dukungan untuk mu, sayangku." kata Ray.
Mendengar itu, Zuy mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Tapi Ray, aku ...."
"Iya sayangku, aku mengerti perasaan mu sekarang ini," balas Ray
Lalu tiba-tiba Dimas duduk berlutut di hadapan Zuy sambil menundukkan kepalanya.
"Paman mohon padamu! Tolong temui Bunda, walaupun hanya sekali saja. Karena Bunda benar-benar sangat ingin bertemu dengan mu, bahkan beliau selalu memanggil nama kamu, Zuy. Paman mohon, tolong kamu turuti permintaan Bunda," pinta Dimas, ia pun kembali menangis.
Zuy terenyuh melihat Dimas memohon padanya, ia pun melepaskan pelukan Ray dan beralih ke arah Dimas.
"Dokter Dimas, bangunlah!" titah Zuy.
Sekilas Dimas melihat ke arah Zuy, kemudian ia kembali menundukkan kepalanya.
"Tidak, Paman tidak akan bangun, sebelum Paman mendengar jawaban dari kamu," ujar Dimas.
"Dokter Dimas, Zuy akan menjawab permintaan anda. Maka dari itu anda harus bangun dulu!"
"Benarkah?" tanya Dimas memastikan.
Zuy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian Dimas segera bangkit dari posisinya itu.
"Bagaimana Zuy?" tanya Dimas dengan penuh harap.
Sebelum menjawab, Zuy terlebih dahulu melihat ke Ray yang berada di sampingnya. Seketika Ray mengangguk sambil tersenyum pada pujaan hatinya itu. Kemudian Zuy beralih ke arah Dimas sambil menghela nafasnya.
"Sesuai dengan permintaan anda dan keinginan Nyonya. Besok pagi Zuy akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Nyonya Artiana," ucap Zuy menyetujui permintaan Dimas.
Mendengar ucapan Zuy, Dimas langsung memegang kedua pundak Zuy.
"Apa kamu benar-benar serius ingin menemui Bunda?" tanya Dimas.
"Iya Dokter, saya serius ingin menemui Nyonya," jawab Zuy.
Senyum Dimas pun mengembang, ia sangat bahagia karena Zuy menyetujui permintaannya itu. Bahkan karena saking bahagianya, Dimas refleks memeluk erat Zuy, sehingga membuat Ray mengerutkan keningnya.
"Terimakasih-terimakasih Zuy, karena kamu bersedia untuk menemui Bunda. Paman benar-benar bahagia," ucap Dimas.
"I-iya Dokter, tapi lepasin pelukannya! Zuy merasa sesak," lontar Zuy.
Dimas seketika tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf Zuy, Paman gak sadar sudah memelukmu," ucap Dimas.
Zuy hanya tersenyum tipis saja. Lalu ....
"Yaudah kalau begitu kita berdua pamit," pamit Dimas.
"Pamit?" lirih Ray.
"Iya, soalnya sudah malam dan lagi ada panggilan dari rumah sakit," ujar Dimas. Akan tetapi ada kebohongan dalam dirinya.
Ray memanggut. "Oh...."
Dimas melangkah menghampiri Archo. "Ayo Tuan Archo, kita pulang!" ajak Dimas.
Archo langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka berdua melangkah keluar.
"Tuan Muda, Tuan Davin terimakasih banyak," ucap Dimas dan di balas oleh Ray.
Kemudian pandangannya beralih ke arah Zuy.
"Zuy, Paman tunggu kedatangan mu!"
Zuy hanya mengangguk pelan saja, lalu Archo dan Dimas langsung melangkahkan kakinya pergi dari Villa tersebut. Sesaat setelah mereka pergi, Ray dan lainnya segera masuk ke dalam Villanya.
Saat sudah berada di dalam, Zuy bergegas menuju ke kamarnya sambil mengusap matanya. Ray yang melihat itu pun langsung menyusul pujaan hatinya.
Kamar Z&R
Setibanya di kamar, Zuy langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menangkupkan wajahnya di bantal. Suara isak tangisnya pun kembali terdengar dari mulutnya itu. Lalu kemudian Ray masuk ke kamar dan menghampiri pujaan hatinya itu.
"Sayangku...." lirih Ray sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Mendengar suara Ray, Zuy segera bangkit dari posisinya dan beralih memeluk pria tampan yang di sebelahnya itu. Ray pun langsung membalas pelukan Zuy.
"A..ku harus ba..gaimana? Pa...dahal aku sudah berniat untuk tidak bertemu dengan mereka dulu. Tapi kenapa aku malah menuruti permintaan Dokter Dimas untuk menemui Nyonya," ucap Zuy sesenggukan.
"Itu artinya kamu sangat peduli dan sayang terhadap Nyonya, sayangku. Meskipun kamu bilang tidak akan tetapi berbeda dengan hati kecilmu itu," ujar Ray mengelus kepala Zuy.
"Iya kamu benar Ray, aku memang menyayangi Nyonya. Karena setiap aku berhadapan dengan Nyonya, ada rasa nyaman dan tenang di dalam diriku ini, apalagi kalau beliau sudah memeluk ku," ungkap Zuy.
"Tapi siapa sangka, di balik itu semua ternyata beliau adalah Nenek ku sendiri, Ray." sambung kata Zuy.
__ADS_1
Ray lalu memegang dagu Zuy dan perlahan mendongakkan kepala Zuy, sehingga membuat pandangan keduanya saling bertemu.
"Terus sekarang apa keputusan mu, sayangku. Apa kamu akan tetap menemuinya atau tidak?" tanya Ray memastikan.
"Karena aku sudah berjanji, maka aku akan menemui Nyonya besok, tapi ...."
"Tapi kenapa sayangku?"
"Bagaimana dengan Mrs Maria? Aku takut Mrs Maria akan ...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Ray langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Zuy sehingga membuat Zuy terdiam.
"Sayangku, kamu jangan takut! Karena ada aku yang akan selalu melindungi mu," ucap Ray.
Zuy tertegun mendengar ucapan Ray, ia pun menurunkan tangan Ray dari bibirnya itu.
"Ray itu berarti kamu akan menemani ku pergi ke rumah sakit?"
Ray mengangguk. "Iya sayangku, besok aku akan menemani mu ke rumah sakit."
Seketika senyum Zuy kembali terukir di wajahnya, ia pun langsung memeluk kembali pria bertubuh kekar itu.
"Terimakasih Ray...."
"Sama-sama sayangku, sudah kamu jangan menangis lagi ya! Kasihan si kembar kita, pasti sekarang mereka sedang merasakan kesedihan dari Mommy-nya ini, dan mereka pun ikut bersedih juga," tutur Ray.
Mendengar itu, Zuy kembali melepaskan pelukannya dan beralih ke perut besarnya itu.
"Anak-anak Mamah, maafin Mamah ya! Lagi-lagi Mamah sudah membuat kalian berdua bersedih," ucap Zuy sembari mengelus perutnya itu.
Ray yang melihatnya pun langsung menyunggingkan senyumannya dan ikut serta mengelus perut Zuy. Lalu ....
Dug!
Dug!
Kedua sejoli itu merasakan sesuatu dari perut Zuy yaitu tendangan dari anak-anaknya, sontak membuat mereka tersenyum bahagia.
"Apa kamu merasakannya, Ray?"
"Iya sayangku, aku merasakannya. Mereka sepertinya sedang menyapa kita," balas Ray.
Lalu ia mendekatkan wajahnya ke perut Zuy.
"Anak-anak Daddy yang aktif dan kuat, Daddy berharap kalian berdua baik-baik saja di dalam sana. Sampai tiba saatnya kalian berdua keluar dari tempat persembunyian kalian yang hanya tinggal beberapa bulan lagi," ucap Ray kepada kedua calon buah hatinya dan ia pun mencium perut Zuy.
Kemudian Ray mengangkat kepalanya kembali dan menatap lekat wajah pujaan hatinya itu.
"Sayangku, aku benar-benar tidak sabar menunggu kehadiran mereka," lontar Ray.
"Aku juga sama seperti mu, Ray. Kita sama-sama berdoa ya! Semoga anak-anak kita selalu sehat dan kuat," kata Zuy.
"Bukan hanya anak-anak saja sayangku, tapi Mommy-nya juga harus sehat selalu."
"Begitu pula dengan Papahnya."
Ray lagi-lagi menyunggingkan senyumannya, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy dan....
Cup....
Cup....
Cup....
"Sayangku bolehkah aku tidur sambil ...." ucap Ray sembari menusuk-nusuk Squishy milik Zuy.
Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu boleh Ray, tapi hanya itu aja kan?"
"Iya sayangku hanya itu saja, tapi gak tau kedepannya, hehehe...."
"Rayyan...."
Kemudian mereka saling merebahkan tubuh mereka masing-masing di atas kasur.
...----------------...
Keesokan harinya....
—Pukul 08.50Am
Sesuai janjinya, hari ini Zuy akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bunda Artiana, tentunya ia di temani oleh Ray, dan saat ini mereka sudah berada di jalan menuju ke rumah sakit.
"Sayangku apa kamu merasa gugup?" tanya Ray.
"Ya, kalau gugup pasti ada, Ray. Cuma aku akan mencoba melawannya," ujar Zuy.
"Kamu pasti bisa melawan rasa gugup itu."
Ray menyemangati Zuy, ia pun meraih tangan Zuy dan menciumnya.
*******************
Rumah Sakit
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan yaitu rumah sakit. Sesudah memarkirkan mobilnya, mereka bergegas masuk ke dalam menuju ke Resepsionis.
"Ada yang bisa kami bantu?" ujar petugas resepsionis
"Euuum, apa Dokter Dimas sudah datang?" tanya Zuy.
"Oh, beliau sudah datang dan sekarang sedang berada di ruangannya," jawab petugas tersebut. "Mari saya antar ke ruangannya!" imbuhnya.
Zuy dan Ray mengangguk, kemudian petugas resepsionis itu mengantar mereka ke ruangan di mana Dimas berada, sesampainya di depan ruangan Dimas, petugas itu langsung mengetuk pintunya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk....!" seru Dimas dari dalam ruangannya.
Setelah mendapatkan izin, ia pun membuka pintunya.
"Permisi Dokter Dimas," ucapnya.
Dimas menoleh. "Iya, ada apa?"
"Ada yang ingin bertemu dengan anda, Dok."
__ADS_1
"Siapa?" tanya Dimas.
Kemudian Ray dan Zuy melangkah masuk ke dalam ruangan itu, sontak membuat Dimas tercengang.
"Kalian berdua!"
"Iya Dokter Dimas, ini kami." sahut Zuy.
Dimas pun segera bangkit dari posisinya dan menghampiri mereka. Kemudian Dimas memeluk tubuh Ray.
"Terimakasih karena sudah datang," ucap Dimas.
"Sama-sama Dokter Dimas," balas Ray.
Sesaat kemudian mereka pun melepaskan pelukannya.
"Ayo saya antar kalian ke tempat di mana Bunda berada," ajak Dimas.
"Baiklah Dokter Dimas."
Lalu Dimas melangkah keluar dari ruangannya di susul oleh Ray dan Zuy. Saat berada di luar ruangannya, Dimas mengarahkan pandangannya ke petugas resepsionis itu.
"Terimakasih karena sudah mengantar mereka berdua," ucap Dimas pada petugas tersebut.
"Sama-sama Dokter," balasnya.
"Oh iya kalau ada yang mencari saya, bilang aja kalau saya sedang berada di ruang ICCU," pinta Dimas.
Petugas itu mengangguk patuh. "Baiklah Dokter Dimas."
Dimas, Zuy dan Ray, kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang ICCU. Setibanya di sana, Zuy langsung menghentikan langkahnya, karena ia melihat Maria yang tengah berada di luar ruangan ICCU bersama dengan Archo.
"Sayangku, ada apa?" tanya Ray.
"Mereka ...." Zuy menunjuk ke arah Maria dan Archo berada.
Pandangan Ray langsung mengarah di mana Zuy menunjuk, sesaat ia beralih kembali ke arah Zuy.
"Sayangku, kita di sini hanya untuk menemui Nyonya, jadi kamu tidak perlu memikirkan yang lainnya," tutur Ray.
"Benar apa yang di katakan suami mu itu, kamu di sini hanya untuk bertemu dengan Bunda, kalau Kak Maria berbuat sesuatu, biar Paman yang menghadapinya," sambung Dimas.
Sesaat Zuy menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka kembali melangkahkan kakinya.
"Kak Maria...." tegur Dimas.
Maria menolehkan kepalanya ke arah Dimas, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ray dan Zuy yang tengah berdiri di samping Dimas.
"Zoya, akhirnya kamu datang. Mamah ...."
"Kak, Zuy datang untuk menemui Bunda," ujar Dimas.
"Tapi Dimas, Kakak ...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Dimas langsung menangkupkan kedua tangannya seraya memohon pada Maria.
"Baiklah Dimas, Kakak mengerti." lirih Maria menundukkan kepalanya.
"Nah Zuy, sekarang kamu masuk temui Bunda, jangan lupa untuk memakai pakaian khusus ya!" tutur Dimas.
Zuy mengangguk, lalu ia melihat ke arah Ray.
"Iya sayangku, kamu masuklah dan aku akan menunggumu di sini!" kata Ray.
Dimas lalu membuka pintu ruangan tersebut.
"Silahkan Zuy!"
Zuy perlahan berjalan masuk ke ruang ICCU itu. Setelah Zuy masuk ke dalam, Ray dan Dimas langsung duduk di kursi yang berada di sana. Kemudian Maria menghampiri Ray.
"Rayyan...." sapa Maria.
Ray langsung menoleh ke arah Maria. "Mrs Maria!"
°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu, sesaat setelah berada di dalam dan sudah memakai pakaian khusus, Zuy mendudukkan dirinya di atas kursi yang berada di samping tempat tidur Bunda Artiana.
Air matanya tak dapat di bendungnya lagi saat ia melihat kondisi Bunda Artiana yang terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya. Zuy lalu perlahan meraih tangan Bunda Artiana dan menciumnya.
"Sesuai permintaan Nyonya, Zuy datang ke sini untuk menemui Nyonya. Zuy gak tau harus bilang apa, Zuy bingung harus bagaimana? Nyonya, jika anda benar-benar ingin melihat Zuy dan meminta maaf pada Zuy, maka bukalah mata anda sekarang dan bangunlah! Karena Zuy ingin tahu semuanya dari Nyonya, Zuy mohon bangunlah Nyonya!" ucap Zuy sambil menangis
Ia pun menangkupkan wajahnya di tempat tidur Bunda Artiana. Nampak aliran air mata dari sudut mata Bunda Artiana yang tertutup, seakan-akan ia mendengar ucapan dari Zuy.
Sesaat sebelumnya di luar ruangan, Ray dan Maria tengah duduk bersama, sedangkan Dimas beralih duduk di samping Archo. Lalu ....
"Ray, bagaimana kabar kamu?" tanya Maria.
"Ya seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja," jawab Ray. "Lalu apa yang terjadi pada anda? Kenapa anda bisa duduk di kursi roda?" sambung tanya Ray.
"Aku terkena stroke dan mungkin juga ini adalah karma yang harus aku jalani," ujar Maria.
Ray hanya memanggut saja.
"Ray, aku tidak menyangka bahwa kamu sudah menjadi menantu ku, meskipun yang kamu nikahi bukan Kimberly," ucap Maria.
"Iya Mrs Maria, saya juga tidak menyangka. Tapi ya mau bagaimana lagi, orang saya sangat mencintainya, bagi saya dia adalah segalanya," ungkap Ray.
"Lalu bagaimana dengan Kimberly? Dia pasti sangat sedih saat mengetahui bahwa kamu sudah menikah dengan wanita lain," lontar Maria.
Mendengar lontaran Maria, Ray langsung menghela nafasnya dan menatap wajah lekat Maria.
"Mrs Maria, asal Anda tahu. Bahwa selama ini saya tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Kimberly, tapi kalian saja yang salah paham terhadap saya. Dan asal anda tahu saja, dari dulu sampai sekarang hanya akan ada satu wanita yang selalu saya cintai yaitu Zoey Lestari, yang sekarang sudah menjadi istriku dan Ibu dari calon anak-anak saya," ungkap Ray dengan sungguh-sungguh.
"Ya sekarang aku paham Ray, tapi apa kamu tahu keadaan Kimberly sekarang? Dia sedang sedih karena wajahnya rusak akibat di celakai seseorang," jelas Maria.
Sontak membuat Ray tercengang mendengarnya.
"Hah! Di celakai seseorang?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1