
<<<<<
"Kalian berdua pagi-pagi udah pada berisik aja..." celetuk seseorang dari arah pintu. Ray dan Zuy pun langsung menoleh ke arah suara tersebut
"Kak Davin > Pak Davin..!!"
Ternyata suara itu adalah Davin, Davin lalu melangkahkan kakinya menghampiri Zuy dan Ray yang sedang berada di atas kasur dengan posisi yang membuat Davin jadi salah paham.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan di atas kasur berduaan seperti itu, nanti kalau kalian khilaf bagimana, ingat pepatah bicara kalau laki-laki dan perempuan lagi berduaan, yang ketiganya adalah setan," tutur Davin
Zuy dan Ray saling menatap satu sama lain, lalu kemudian...
Pffffft....
"Hahaha..." Zuy dan Ray pun tertawa bersama..
Melihat mereka berdua tertawa, Davin memicingkan matanya.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Davin yang kebingungan sambil garuk-garuk kepalanya.
Ray langsung turun dari tempat tidur, dan mendekati Davin, lalu ia pun memegang pundak Davin.
"Aduh Kak Davin, tadi Kakak bilang kalau ada laki-laki dan perempuan lagi berduaan, yang ketiganya adalah setan, berarti di sini orang yang ketiganya itu siapa?" tanya Ray sambil menahan ketawa.
"Saya.." singkat Davin
"Jadi paham kan, hahaha.." papar Ray sambil duduk di kursi yang di samping tempat tidur.
Davin pun semakin bingung apa maksud perkataan Ray, ia memiringkan kepalanya sambil berfikir, lalu kemudian...
"Apa...!!!"
"Hehehe, udah sadar siapa yang ketiganya di sini?" tanya Ray kembali sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Berarti saya setannya dong.." seru Davin sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Nah itu tahu.. hahaha," celetuk Ray sambil terkekeh..
"Zuy, kamu juga berfikiran yang sama dengan Tuan Ray?" tanya Davin sambil melihat ke arah Zuy,
Namun apalah daya, Davin melihat Zuy yang sedang tertawa geli sambil menutup mulutnya. Lalu Zuy melihat ke arah Davin dan melepaskan tangannya yang menutupi mulutnya.
"Ma-maaf Pak Davin, aku gak bisa tahan ketawa, ya ampun perutku sampai sakit, hahaha.." tawa Zuy sambil memegangi perutnya.
Ray pun merasa lega melihat Zuy tertawa seperti itu, "Syukurlah Kakak," batin Ray.
"Kalian.. kalau urusan membully memang kompak ya.." gerutu Davin sambil memanyunkan bibirnya.
"Lagian Kak Davin bilang seperti itu, dan di tambah lagi muka Kakak yang kaya adonan moci itu, gimana gak cocok tuh," celetuk Ray.
"Tadinya juga saya mau bersihin, tapi mendengar suara kalian berdua di kamar, bikin penasaran saja, lalu akhirnya saya kesini," ujar Davin.
"Oh begitu, yaudah sana kalau Kak Davin mau bersihin muka yang kaya adonan moci itu, biar Ray tetap di sini," tutur Ray sambil berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Zuy.
Davin tiba-tiba memegang kerah belakang baju Ray, "Tuan Ray, anda juga harus keluar dari sini, biarkan Zuy istirahat Tuan. Dan lagi, apa anda tidak bisa melihat ada aku yang masih jomblo ini, bikin iri saja," papar Davin sambil menarik kerah belakang baju Ray.
"Eeh tunggu, ya ampun, Kakak tolong aku...!!" seru Ray
"Hahaha, maaf Tuan Muda, tapi anda harus keluar dari kamar ini," ucap Zuy sambil melambaikan tangannya.
"Kakak tega..." gumam Ray sambil memasang wajah memelas.
Braaaak..
"Aduuh kalian berdua, bener-bener deh, ini sama persisnya dengan Airin dan Brian," gerutu Zuy sambil menepuk jidatnya. ia pun langsung merapihkan tempat tidurnya.
Setelah keluar dari Kamar, Davin pun langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Ray.
"Ya ampun Tuan Ray, sejak kapan anda di kamarnya?" tanya Davin.
"Itu.... Euum sebenarnya dari semalam aku udah berada di kamarnya," jawab Ray sambil memalingkan wajahnya dan tangannya menggosok bagian tengkuk lehernya.
"Apa! Kenapa anda bisa di kamarnya semalaman?" tanya Davin yang terkejut.
"Ya karena dari semalam badannya panas, jadi aku jagain dia takutnya kenapa-napa," ujar Ray.
"Oh jadi itu sebabnya di dahi Zuy terpasang Plester kompres?" tanya Davin
"Iya.." singkat Ray.
Lalu Zuy pun Keluar dari kamarnya..
"Lho Zuy kenapa keluar, bukannya istirahat di kamar, kan lagi sakit.." papar Davin.
"Zuy mau ke dapur, mau buatin sarapan untuk Pak Davin dan Tuan Muda," ujar Zuy.
"Gak boleh! Kakak istirahat dulu aja, untuk sarapan biar Ray buatin," kata Ray
Davin lalu mendekat ke telinga Ray, "Memangnya anda bisa masak Tuan Ray?"
"Kan ada Kak Davin yang bantuin aku," bisik Ray.
"Hah...!!"
__ADS_1
Ray lalu menghampiri Zuy dan menarik tangan Zuy menuju ke meja makan.
"Tu-Tuan Muda," lirih Zuy
Lalu Ray menarik kursi dan langsung mendudukan Zuy di kursi itu.
"Udah Kakak duduk aja! Hari ini biar Ray yang melayani Kakak," ujar Ray
"Tapi Tuan Muda," lirih Zuy sambil menatap Ray.
"Udah, Kakak di sini aja ya, ayo kak Davin..!!!" Ray lalu menarik baju Davin menuju ke dapur.
"Kalian! Aduh kenapa kepalaku terasa sakit gini?" lirih Zuy sambil memegang kepalanya.
`Dapur
Setelah berada di dapur, Ray langsung mengambil bahan makanan yang akan ia masak, kebetulan di kulkas masih ada beberapa bahan mentah, seperti telur, sosis dan bahan lainnya, akan tetapi Ray malah mengambil telur dan sosis, sedangkan Davin membantu memasak nasi.
Setelah beberapa saat kemudian, masakan mereka pun jadi, Ray langsung membawanya ke meja makan.
"Nah Kakak, silahkan...!!" kata Ray sambil menaroh makanannya.
"Waah Omelet ya, gak di sangka kalian bisa masak juga, salut deh" puji Zuy.
"Ahahaha, udah biasa Kak," kata Ray dengan percaya dirinya.
Davin pun memicingkan matanya ke arah Ray.
"Dasar Tuan Ray, telinganya sampai memerah gitu gara-gara di puji Zuy, padahal tadi pas ngiris bawang aja juga sampai nangis-nangis," batin Davin.
"Oh iya Tuan Ray, Zuy, saya ke kamar mandi dulu, mau siap-siap," kata Davin,
Lalu ia pun berjalan menuju ke kamar mandi.
"Tuan Muda juga mandi sana siap-siap! Zuy juga mau siap-siap berangkat kerja," papar Zuy sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kakak mau berangkat kerja?" tanya Ray
"Iya Tuan, memang kenapa?" Zuy malah bertanya balik
Ray lalu memegang kedua pundak Zuy, "Kak, kakak istirahat dulu di rumah ya, Ray gak mau Kakak kenapa-napa, soalnya Kakak belum sembuh total," pinta Ray.
"Tapi Tuan Muda nanti Zuy ...," lirih Zuy
Ray lalu memegang dahi Zuy, "Tuh kan masih panas, Ray gak mau Kakak kenapa-napa, lebih baik Kakak di sini aja ya..!!" pinta Ray.
Lalu Zuy menundukkan kepalanya, "Iya Tuan Muda," lirih Zuy.
"Iya, lebih baik aku istirahat dulu," lirih Zuy, lalu ia pun kembali duduk.
Kamar Ray.
Setelah berada di dalam kamar, Ray pun mulai melepaskan semua pakaiannya, lalu ia masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Tak lama kemudian Ray keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di lipatkan ke pinggangnya, ia lalu mengibas rambutnya dengan tangannya. Ray lalu membuka lemari pakaiannya dan mengambil salah satu pakaian kerjanya. Saat hendak memakai baju, tiba-tiba..
Triiiiiing.. Triiiiiing...Triiiiiing..
Suara hpnya berbunyi, ia pun langsung mengambil hpnya yang berada di atas nakas. Lalu Ray melihat ke layar hpnya.
"Hmmm Lesya? tumben telpon jam segini," katanya, lalu Ray menjawab telponnya.
"Hai Sis.."
"Ray, sedang apa?" tanya Lesya.
"Lagi pakai baju, mau siap-siap kerja," jawab Ray
"Ray, When did you return to America?" tanya Lesya
"Ya nanti Ray kabarin Sis," ujar Ray.
"Hmmm, kalau misalnya liburan aku kesana boleh gak?" Lesya bertanya kembali.
"Iya boleh dong Sis," kata Ray, "Memang kapan liburnya?" imbuhnya.
"Ya minggu depan, hmmm Ray, Momy Liora sedang ke Paris,"
"Ke Paris?" tanya Ray
"Iya Ray, soalnya Uncle Mario lagi sakit, jadi Momy Liora ke sana bareng Kimberly dan lainnya," jelas Lesya
"Oh gitu, yaudah Sis, Ray mau pakai baju dulu, nanti kalau jadi kesini, telpon aja..!!" suruh Ray
"Okey, Miss you Ray,"
Lesya pun memutuskan telponnya.
Ray langsung menaroh hpnya kembali dan ia segera memakai bajunya. Setelah selesai semuanya, Ray pun langsung keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah.
*****
^Di Rumah Zuy
Nampak sebuah mobil datang dan berhenti di halaman rumah Zuy, lalu seseorang turun dari mobil tersebut. Dan ternyata itu Bi Nana. Setelah turun dari mobil, Bi Nana langsung menuju ke rumah Zuy. Saat di depan pintu...
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok...
"Zuy, ini Bi Nana Zuy.. kamu masih di dalam apa udah berangkat kerja?!!" seru Bi Nana.
Namun tidak ada jawaban apa-apa, Bi Nana pun langsung merogoh tasnya untuk mengambil kunci rumah Zuy, setelah dapat, ia langsung memasukan kunci ke dalam lubang pintu, Bi Nana langsung membuka pintu rumahnya.
Cekleeek..
Bi Nana pun masuk ke dalam rumah, Lalu Bi Nana berjalan ke arah kamar Zuy, setelah itu, ia lalu membuka pintu kamarnya Zuy, namun Zuy tidak ada di kamarnya.
"Sepi, sepertinya dia udah berangkat," lirih Bi Nana menutup kembali pintu kamarnya Zuy. Lalu kemudian..
"Permisi..." seru seseorang dari arah pintu depan.
Mendengar suara seseorang, Bi Nana pun langsung menuju ke ruang depan, saat berada di ruang depan..
"Iya cari siapa ya ..., lho Kak Ima..!!"
"Eh kamu Na, aku pikir Zuy ada di rumah. Soalnya Kakak mau antar makanan buatnya," ujar Bu Ima
"Sepertinya dia udah kerja, saya kesini juga rumah udah kosong," ujar Bi Nana, "Ayo masuk Kak Ima..!!"
Bu Ima pun masuk ke dalam rumah Zuy, " Terimakasih, hmmm, berarti dia gak pulang ya?" kata Bu Ima.
Mendengar perkataan Bu Ima, Bi Nana pun terkejut, ia langsung bertanya, "Gak pulang? Maksudnya gimana Kak Ima?" "Silahkan duduk Kak..!!"
"Iya dia gak pulang, dari semalam saya bolak-balik kesini, karena khawatir Zuy kenapa-napa, soalnya kemaren dia sempat marah sama Ida," jelas Bu Ima sambil mendudukan dirinya di Sofa
"Coba Kak Ima jelasin ke Nana, kenapa bisa Zuy marah pada Ida, memang apa yang terjadi sebenarnya?" Bi Nana makin penasaran.
Lalu Bu Ima menjelaskan apa yang terjadi kemaren, sontak membuat Bi Nana marah.
"Idaaa! Dia benar-benar ya, perlu di kasih pelajaran si Ida ini!" pekik Bi Nana sambil mengepalkan tangannya.
"Na, sabar ya Na! Dari pada kamu mikirin Ida, lebih baik kamu nyari Zuy aja. Saya yakin hatinya masih tertekan Na," tutur Bu Ima.
"Itu sebabnya kemaren Zuy datang ke rumah, ya ampun Zuy..." lirih Bi Nana.
"Yaudah Na, Kakak pulang dulu, kalau kamu ketemu Zuy tolong berikan ini padanya!" kata Bu Ima sambil memberikan kantong ke Bi Nana.
"Iya terimakasih banyak Kak," ucap Bi Nana. Lalu Bu Ima pun keluar dari rumah Zuy.
"Zuy, lebih baik aku ke tempat kerjanya Zuy," lirihnya.
Bi Nana juga ikutan keluar dari rumah Zuy, setelah berada di luar, Bi Nana langsung mengunci pintunya, dan bergegas ke mobil, lalu Bi Nana langsung masuk ke mobil dan langsung mengemudikan mobilnya menuju ke Perusahaan CV.
******
^Perusahaan Cv
Beberapa saat kemudian, Bi Nana akhirnya sampai di Perusahaan CV, ia langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu Bi Nana langsung turun dari Mobilnya dan menuju ke dalam Perusahaan.
Setelah berada di dalam Perusahaan CV, Bi Nana langsung menuju ke Resepsionis. kebetulan para pegawai sudah datang.
"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Citra.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Ray," jawab Bi Nana
"Maaf Bu, sepertinya Tuan Ray belum datang," jelas Citra, "Maaf dengan Ibu siapa ya?"
"Nama saya Nana, kerabat Tuan Ray. Oh begitu ya, kalau Zuy apa dia udah datang?" Bi Nana kembali bertanya
Citra menggelengkan kepalanya "Sepertinya dia belum datang Bu."
"Oh, yaudah kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih banyak ya.." ucap Bi Nana.
"Iya sama-sama Bu," balas Citra.
Lalu Bi Nana langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu luar dengan raut wajahnya yang nampak sangat kecewa, lalu Tiba-tiba...
Bruuugh...
Bi Nana pun tanpa sengaja menabrak seseorang...
"Ah maaf saya tidak sengaja," ucap Bi Nana
"Lho Bi Nana..!!"
Lalu Bi Nana mendongakkan kepalanya, "Tuan Muda..!!"
"Bi Nana, sedang apa Bi Nana kesini?" tanya Ray
"Eumm itu ...,"
"Hmmm, Yaudah kita ke ruangan Ray aja ya Bi..!!" ajak Ray, Bi Nana pun menganggukkan kepalanya.
Mereka pun bergegas menuju ke Ruangan Ceo.
**Bersambung...
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... ✌😉😉✌
__ADS_1