
<<<<<
"Istri anda terkena radang tenggorokan Pak," jawab Eqitna.
"Hah..!! ra-radang tenggorokan..?!"
Lontar Pak Randy yang terkejut mendengar keadaan Bi Nana, lalu Eqitna pun menganggukkan kepalanya.
"Iya Pak, apa sebelumnya Nyonya Nana pernah mempunyai riwayat penyakit ini?" tanya Eqitna
Pak Randy menghela nafas kasarnya, lalu ia melihat ke arah Nana yang tengah terbaring, dan di hidungnya terpasang alat pernafasan.
"Sebenarnya dia memang mempunyai penyakit radang tenggorokan, tapi itu sudah lama sekali," jelas Pak Randy.
"Oh begitu ya Pak," lirih Eqitna.
Lalu pandangan Pak Randy beralih ke arah Eqitna, "Dokter, apa dia akan baik-baik saja?" tanyanya.
Eqitna pun tersenyum, "Bapak tenang saja, beliau baik-baik saja, hanya saja anda harus perhatikan pola makannya dan lagi untuk sekarang beliau harus banyak istirahat, jangan terlalu cape, jangan terlalu banyak pikiran, karena usia kehamilannya masih begitu rentan, apalagi usia beliau yang sudah kepala empat lebih, sangat berisiko bagi Nyonya Nana dan anak yang di kandungnya," sarannya.
"Baiklah Dok, saya akan dengar saran anda, terimakasih banyak.." ucap Pak Randy.
"Sama-sama Pak, sudah jadi tanggung jawab saya untuk menolong Nyonya Nana, kalau begitu saya permisi, nanti kalau ada apa-apa pada Nyonya, hubungi saya!" ujar Eqitna.
Pak Randy pun menganggukkan kepalanya, lalu Eqitna berjalan keluar dari ruang inap Bi Nana. Sesaat kepergian Eqitna, Pak Randy mendudukan dirinya di kursi samping tempat tidurnya Bi Nana, kemudian ia memegang tangan Bi Nana.
"Na, Syukurlah kamu baik-baik saja, aku sempat khawatir dan takut kamu kenapa-napa. Kalau sampai itu terjadi aku tidak tahu harus berbuat apa Na, apalagi harus menjelaskannya pada Nara dan gadis kecilmu itu. Na aku mohon bangun dan cepatlah sembuh, aku gak sanggup melihatmu seperti ini," ucap Pak Randy sembari menangis.
**************
Perusahaan CV
Davin baru saja keluar dari lift, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Pantry, akan tetapi...
"Pak Davin..." seseorang memanggilnya
Davin pun menoleh, "Citra..!!"
Citra langsung mendekat ke arah Davin, "Pak Davin.."
"Iya Citra, ada apa?" tanya Davin
Lalu Citra memberikan kotak bekal pada Davin.
"Ini untuk anda Pak Davin," ucap Citra.
"Apa itu Cit?" tanya Davin memandangi kotak bekal tersebut.
"Oh ini bekal dari ibu saya, soalnya ibu memasak makanan banyak, terus beliau menyuruhku membawa beberapa untuk di bagikan ke yang lainnya, dan yang ini khusus buat Pak Davin," jelas Citra.
"Begitu ya Citra, yaudah aku terima ya, bilang ke ibumu, terimakasih banyak," kata Davin sambil mengambil kotak bekal tersebut dari tangan Citra.
Citra pun langsung tersenyum bahagia, pipinya merona seperti tomat masak.
"Sama-sama Pak," balas Citra
"Yaudah kalau begitu, aku ke Pantry dulu ya Cit,"
Mendengar itu Citra langsung mengerutkan dahinya, karena Pantry tempat di mana Airin berada.
"Ke Pantry? mau apa Pak?" tanya Citra yang penasaran.
"Hmmmm, aku mau buat kopi, soalnya mataku tidak sedang bersahabat, makanya aku butuh kopi," ujar Davin
"Pak Davin, biar saya saja yang membuatnya..!" tawar Citra
Akan tetapi Davin menggelengkan kepalanya dan berkata, "Terimakasih tawarannya Cit, tapi tidak usah aku bisa sendiri kok, yaudah kalau gitu aku ke Pantry dulu ya, sekali lagi terimakasih atas makanannya."
Davin pun melenggang pergi meninggalkan Citra.
"Pak Davin, kapan anda mengerti," lirih Citra, ia pun bergegas kembali ke Resepsionis.
°Pantry
Sesampainya di Pantry, Davin langsung meletakkan kotak bekal tersebut di atas meja, kemudian ia mengambil cangkir dan kopi instan, ia membuka bungkus kopi tersebut dan menuangkannya ke dalam cangkir. Lalu Davin mendekatkan cangkir tersebut kearah Dispenser, saat hendak menekan tombol dispenser tersebut, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sontak membuat Davin terkejut dan menoleh ke belakang.
"Ya ampun Airin, aku pikir siapa, ngagetin aja.." pekik Davin sembari memijit tombol dispenser khusus air panas.
"Hehehe.. ya maaf Pak, lagian tadi Pak Davin fokus banget, memang sedang bikin apa Pak?" tanya Airin.
"Bikin kopi Rin, soalnya mataku sedang tidak bersahabat," ujar Davin.
"Oh begitu ya Pak, kenapa gak nyuruh saya saja, jadi Pak Davin gak perlu repot kesini," papar Airin.
Davin pun membalikkan badannya sembari mengaduk kopinya, kemudian ia menatap Airin sambil tersenyum manis.
"Oh iya aku lupa Rin, tapi gak repot kok Rin, sekalian jalan aja biar mataku gak ngantuk," jelas Davin.
Airin pun tersenyum, kemudian Davin melangkahkan kakinya beberapa jarak, setelah itu ia menarik kursinya dan mendudukinya. Ia pun langsung membuka kotak bekal dari Citra.
"Waah kimbab..!!" seru Airin melihat isi kotak tersebut.
"Hmmm, bukankah ini sushi?" tanya Davin
Lalu Airin mendudukan dirinya berhadapan dengan Davin.
"Haaa... Pak Davin, itu kimbab, kalau Sushi beda lagi," ujar Airin
"Oh begitu ya Rin," lirih Davin
Airin pun mengangguk cepat, kemudian tanpa sengaja Davin menyumpit salah satu kimbab tersebut dan menyodorkannya ke arah Airin, sontak membuat Airin terkejut dan menatap ke arah Davin.
"Jangan menatap seperti itu, bisa-bisa matamu copot lho," celetuk Davin.
"Gimana aku gak menatap, orang tiba-tiba di sodorin makanan gitu," gerutu Airin
Davin pun terkekeh, "Hehehe, iya maaf, yaudah nih buruan makan, soalnya tanganku udah mulai pegal ini."
Sesaat Airin menghela nafasnya, kemudian ia membuka mulutnya, Davin pun langsung menyuapkannya ke mulut Airin.
"Enak gak Rin?" tanya Davin
"Hang hamanya mahanan Hasti henak Pak, (Yang namanya makanan pasti enak Pak)" ujar Airin yang tak jelas gara-gara ngomongnya sambil ngunyah
"Waah hebat Rin, kamu bisa bahasa Alien juga?"
Mendengar Davin bertanya seperti itu sontak membuat Airin kesal dan memukul tangan Davin.
__ADS_1
"Awww sakit Rin.." rintinya.
"Lagian orang lagi makan malah di tanya," pekik Airin
"Ya maaf Rin, hehehe.."
Airin pun memutar bola matanya, "Huh dasar Pak Davin ini.."
Kemudian mereka asik bercengkrama sembari memakan Kimbab tersebut.
*************
Åre Ski Resort, Swedia
Sementara itu, setelah selesai dengan kemesraannya, Ray pun langsung mengajari Zuy bermain ski.
"Sayangku, jangan gemetaran gitu..!!"
"Si-siapa yang gemetaran, Zuy gak gemetaran," elak Zuy
Ray tersenyum sambil memperhatikan pujaan hatinya yang sedang berlatih ski.
"Lalu setelah ini gimana lagi?" tanya Zuy
"Langkahkan kaki kiri ke depan, jaga keseimbangan sayangku," jelas Ray
Zuy mengikuti arahan Ray, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan perlahan, namun karena terus gemetaran dan akhirnya...
Bruuugh...
Zuy tergelincir membuatnya terjungkal dan jatuh di atas tanah.
"Awwww..." pekik Zuy.
"Sayangku..!!"
Ray langsung menghampiri Zuy dan mengulurkan tangannya, Zuy pun meraih tangan Ray, kemudian Ray menarik Zuy hingga posisi Zuy berdiri sejajar dengan Ray.
"Apa ada yang sakit?" tanya Ray memeriksa tubuh Zuy.
"Sakit bagian belakang ku," pekik Zuy
Lalu Ray memegang pipi Zuy, "Kasihan sayangku, mau belajar lagi atau menyerah?"
"Tentu saja belajar lagi, Zuy bukan orang yang gampang nyerah, Zuy akan buktikan pada anda, bahwa Zuy bisa," ucap Zuy dengan penuh semangat.
Kemudian Ray mengalihkan tangannya dari pipi Zuy ke kepala Zuy, "Nah ini baru sayangku, tidak gampang menyerah, tapi ...,"
"Tapi apa Tuan Muda?"
Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy, "Tapi, kalau sayangku tidak bisa membuktikannya, maka siap-siap saja malam ini Ray akan buat sayangku tidak bisa tidur sampai pagi," bisiknya.
"Hah...!! maksudnya?!" tanya Zuy keheranan
Ray menjauhkan wajahnya dari telinga Zuy, kemudian ia pun menyunggingkan senyumannya ke arah Zuy.
"Kenapa aku punya firasat gak baik tentang ucapan Tuan Muda barusan," batin Zuy.
"Baiklah, Zuy akan buktikan pada anda," kata Zuy.
"Sayangku, sudah jangan di paksakan...!!"
"Sekali lagi ya Tuan Muda...!" pinta Zuy dengan tatapan memohon.
Ray yang melihat tatapan Zuy seperti itu, langsung menghela nafasnya, dan tangannya kembali memegang kepala Zuy.
"Haaa, dasar sayangku gak penurut, baiklah sekali lagi, tapi kalau tetap jatuh, sayangku harus berhenti..!!" titah Ray
Zuy pun mengangguk, lalu ia kembali berlatih, namun pada akhirnya...
Bruuugh
Zuy kembali terjungkal, akan tetapi untuk kali ini ia terjatuh tepat di atas tubuh Ray, karena tadinya posisi Ray di belakang Zuy, ia ikut tergelincir sebab menahan Zuy.
"Tumben gak kerasa sakit, tapi yang di bawahku apa ya, kok terasa kaya ada yang menonjol?" lirih Zuy yang belum sadar apa yang ia duduki.
"Sayangku...!!"
Lalu Zuy menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Zuy melihat Ray terbaring sambil meringis dan wajah yang memerah.
"Tu-Tuan Muda.." lirih Zuy,
"Hmmm, tunggu sebentar, kalau aku jatuh di atas Tuan Muda maka yang menonjol ini?" Zuy langsung melihat ke bawah
"Anak ayam..!!" ia pun tersentak dan bangkit dari posisinya menjadi berdiri.
Kemudian Ray mengganti posisinya menjadi duduk, "Sayangku benar-benar ya, punyaku masa di samain kaya anak ayam..!"
"Ma-maaf Tuan Muda, Zuy gak tau kalau di bawah ada Tuan Muda, dan lagi ...," Zuy langsung tertunduk diam, wajahnya kini memerah padam.
Ray pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia menyodorkan badannya ke arah Zuy yang tengah tertunduk.
"Sayangku, sepertinya sayangku bener-bener menikmatinya ya..." goda Ray
Mendengar Ray berkata seperti itu, Zuy langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ray.
"Si-siapa yang menikmatinya, lagian mana Zuy tahu kalau anda di bawah Zuy, dan lagi ...,"
"Dan lagi apa?" tanya Ray menyunggingkan senyuman jahilnya.
"Aah benar-benar memalukan, anak ayam Tuan Muda...," teriak Zuy dalam hatinya,
Lalu ia menutup wajahnya karena malu akan kejadian barusan.
"Sayangku, kenapa menutup wajah, apa sayangku sedang membayangkan sesuatu? hmmm apa jangan-jangan sayangku bayangin yang barusan?" tanya Ray, "Ternyata sayangku benar-benar mesum ya.." sambungnya menggoda Zuy.
"Si-siapa yang mesum, Aaah... Rayyan berhenti menggodaku..!!" seru Zuy yang masih menutup wajahnya.
Ray mengangkat tubuhnya, kemudian ia mendekat ke arah Zuy, lalu Ray menurunkan tangan Zuy yang menutupi wajahnya Zuy.
"Sayangku, angkat kepalamu..!!"
Zuy pun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ray dengan wajah yang masih memerah. Lalu Ray langsung memeluk Zuy.
"Tuan Muda..."
"Sayangku, sebentar saja..!!" ujar Ray
__ADS_1
Ia pun terus memeluk Zuy, lalu tiba-tiba turun salju, membuat Ray melepaskan pelukannya.
"Hmmm, ternyata turun salju..." lirih Ray.
Sedangkan mata Zuy langsung berbinar saat melihat salju berjatuhan, lalu ia menadahkan tangannya.
"Waah benar-benar benda putih yang indah," ucap Zuy.
Lalu Ray melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy sambil menempatkan dagunya di bahu Zuy.
"Sayangku, apa kau benar-benar menyukainya?" tanya Ray
"Iya Tuan Muda, Zuy menyukainya," ujar Zuy.
Ray tersenyum, kemudian ia melepaskan tangannya dari pinggang Zuy. Setelah itu ia mengambil segenggam salju dan membentuknya menjadi bola.
"Sayangku..!!"
Zuy pun menoleh, Ray langsung melemparkan bola salju tersebut pada Zuy pas kena bagian dadanya.
"Hahaha, pas tepat sasaran.." tawa Ray
"Tuan Muda, anda benar-benar ya," pekik Zuy,
Ia pun mengambil salju di bawahnya, lalu ia melakukan apa yang Ray lakukan, setelah itu ia melemparkannya pada Ray, akan tetapi lemparannya malah meleset.
"Bleeh gak kena..." ledek Ray menjulurkan lidahnya.
"Tuan Mudaaaa.." ia pun mengambil lagi salju dari bawahnya,
Akan tetapi Ray malah menjauh beberapa jarak, membuat Zuy mengejarnya. Lemparan demi lemparan bola salju, membuat mereka berdua gembira dan sweater mereka di penuhi dengan salju.
Setelah puas main dan tak terasa hari nampak gelap, salju pun turun dengan derasnya, Ray dan Zuy memutuskan untuk kembali ke resort, sedangkan untuk peralatan ski-nya, Ray menyuruh Henri untuk mengembalikannya kepada Pemilik nya.
Resort
Setelah sampai di Resort, mereka berjalan menuju ke atas di mana kamar mereka berdua berada. Sesampainya...
Zuy langsung pergi ke kamarnya, akan tetapi Ray juga mengikuti Zuy.
"Tuan Muda, kenapa anda malah mengikutiku?" tanya Zuy
"Ray ingin bersama sayangku..." ucap Ray manja.
Sesaat Zuy menghela nafasnya, "Haaa, baiklah Tuan Muda,"
Lalu mereka pun masuk ke kamar, setelah berada di kamar, Ray mendudukan dirinya ke atas sofa sembari menyandarkan kepalanya. Sedangkan Zuy membuka sweaternya dan menggantungnya. Kemudian Zuy menghampiri Ray dan duduk di sampingnya.
"Tuan Muda, terimakasih untuk hari ini ya," ucap Zuy
Ray mengangkat bahunya dan menatap ke arah Zuy, "Iya sayangku sama-sama, Ray senang kalau sayangku juga senang."
Zuy pun menyunggingkan senyuman manisnya, lalu kemudian ia mendekat ke arah Ray dan menyandarkan kepalanya di dada Ray.
"Tuan Muda, tentang perkataan Tuan Muda yang tidak akan buat Zuy tertidur sampai pagi maksudnya apa ya?" tanya Zuy.
"Hmmmm sayangku penasaran nih?"
Zuy pun mengangguk cepat, "Iya, Zuy penasaran..."
"Tunggu nanti malam ya sayangku," ujar Ray.
"Baiklah, tapi dari pada itu, sebenarnya Zuy sedang memikirkan sesuatu,"
"Oh iya, memangnya sayangku sedang memikirkan apa?" tanya Ray
"Sebenarnya Zuy memikirkan Bi Nana, entah kenapa perasaan Zuy gak enak, setiap mengingat Bi Nana dada Zuy juga terasa sakit, bahkan Zuy sampai berfikiran kalau Bi Nana sedang tidak baik-baik saja," kata Zuy.
Mendengar perkataan Zuy, Ray langsung mengeratkan pelukannya, kemudian ia menoleh ke arah Zuy, tatapannya pun berubah sendu.
"Sayangku, ternyata ikatan mu terhadap Bi Nana sangatlah kuat, kamu bisa merasakan kalau Bi Nana sedang tidak baik-baik saja, maaf jika Ray tidak memberitahu keadaan Bi Nana, sebab ini semua permintaan Bi Nana agar sayangku tidak khawatir padanya," batin Ray.
"Sayangku, jangan berfikiran seperti itu, ya kita berdoa saja, semoga semua yang di sana baik-baik saja," tutur Ray
Zuy mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Ray, ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, melihat pujaan hatinya tersenyum, Ray langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy, lalu saat bibirnya hampir mendarat ke bibir Zuy, tiba-tiba...
Tok... Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu, membuat Ray menghentikan niatnya.
"Tsk mengganggu saja," umpat Ray dalam hati, "Masuk..!!"
Lalu seseorang membuka pintunya, dan ternyata dia adalah Henri.
"Maaf Tuan, Nyonya, kalau saya mengganggu,"
"Ada apa?" tanya Ray menatap tajam Henri.
Melihat tatapan tajam Ray, Henri langsung menunduk, "Sa-saya mengantarkan cokelat hangat dan kopi pesanan Tuan."
Lalu Henri memberikan bungkusan pada Ray sambil gemetaran, Ray pun mengambil bungkusan itu.
"Terimakasih, kau boleh keluar..!" titah Ray
Henri pun mengangguk, kemudian ia bergegas keluar dari kamar.
"Gak jauh beda dari Kak Davin," gerutu Ray.
"Rayyan.."
Ray menoleh ke arah Zuy, lalu ia memberikan cokelat panas pada Zuy. Setelah itu mereka meminum minuman hangatnya di temani pemandangan indah dari jendela kamar Zuy.
**********
Rumah Ray
Tak terasa malam hari pun tiba, nampak mobil yang baru datang memasuki halaman rumah Ray, ternyata mobil milik Davin, setelah mobil terparkir, Davin pun langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke arah pintu, akan tetapi ada sesuatu yang berbeda darinya. Sesaat setelah sampai di depan pintu, Davin memijit bel pintunya. Tak lama Yiou datang membuka pintu.
"Vin baru pul ..., lho Davin apa yang terjadi pada wajahmu? kenapa lebam begini?" tanya Yiou yang terkejut
"Errh, itu ...,"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1