Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Amarahnya Si Tuan Dingin...


__ADS_3

WARNING....!!


Cup mengandung unsur kekerasan, di mohon bijak dalam membacanya. Terimakasih... 🙏🙏


<<<<<


Salah satu pelaku tersebut akhirnya perlahan membuka mulutnya.


"Se-sebenarnya ...,"


Lirih pelaku tersebut, namun ia kembali menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya, membuat Ray semakin murka, ia pun mengeratkan cengkramannya.


"Sebenarnya apa b*stard?!" bentak Ray


Pelaku tersebut kembali mengangkat kepalanya. "Se-sebenarnya ...,"


"Sebenarnya kami sangat mengagumi Nona cantik itu!" sela pelaku satunya dengan nada kencang, membuat Ray dan yang lainnya langsung melihat ke arahnya.


"Apa!!"


Namun yang sebenarnya adalah ...,


...----------------...


Flashback....


Di lain tempat, terlihat dua orang tengah sibuk merapihkan pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas, ternyata mereka adalah para pelaku yang membakar rumah Zuy itu.


"Kita akan kabur kemana?" tanya salah satu pelaku itu.


"Entahlah, yang penting kita pergi dulu dan lagi Mrs Maria sudah mengirim banyak uang untuk kita, jadi kita bisa pergi sejauh mungkin."


"Hmmmm, benar juga apa katamu itu."


Di saat mereka tengah sibuk, lalu tiba-tiba ...,


Tok Tok Tok...


Mendengar suara ketukan pintu rumahnya, kedua pelaku tersebut pun terkejut dan mereka menatap satu sama lain.


"Apa kau mendengarnya?" tanya salah satunya.


"Iya aku mendengarnya, hmmmm.. kira-kira siapa yang datang ya?"


"Entahlah, masa kita ketahuan sih? Apa jangan-jangan ..., coba kamu buka pintunya sana!" titah salah satunya.


"Lha kenapa saya?! Kan ada kamu." tolaknya.


Ia pun menatap tajam ke arah temannya itu. "Karena aku lebih tua dari mu, cepat buka!"


Temannya pun mendengus kesal. "Apa-apa pasti umur, ku doakan kamu benar-benar tua," umpatnya sambil bangkit dari posisinya, lalu ia pun berjalan menuju ke arah pintu.


Sesampainya di pintu, ia langsung membuka pintunya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat dua laki-laki berkacamata tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya. Dan mereka tak lain adalah Archo dan Dimas.


"Selamat pagi..."


"Si-siapa kalian?!" tanya si pelaku, tangannya pun mulai gemetaran.


Lalu Archo dan Dimas masuk ke dalam rumah mereka. Archo menyondongkan badannya ke arah pelaku itu.


"Kamu tidak perlu takut! Kami bukan seperti yang kamu kira, jadi tenang saja," papar Archo. Lalu kemudian ...,


"Siapa yang datang bro?" seru temannya.


"Yang datang ...,"


Belum sempat bicara, Archo menatap tajam ke arahnya, membuat si pelaku tertunduk. Karena temannya tidak menjawab pertanyaannya, si pelaku yang berada di dalam, langsung menghentikan aktivitasnya, lalu ia bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri temannya itu.


"Bro, sebenarnya siapa yang dat..,"


Pelaku itu pun terkejut melihat Archo dan Dimas, lalu pandangannya beralih pada temannya yang tengah berjongkok di lantai.


"Siapa kalian?!"


Lalu Dimas mencengkram kuat tangan pelaku itu sehingga membuatnya kesakitan.


"Hei lepaskan tanganku!" sergahnya.


Akan tetapi Dimas tidak mendengarnya, ia pun menarik tangan si pelaku dan mendudukkannya di samping temannya itu.


"Kami tidak akan berbuat apa-apa, kami hanya ingin kalian bekerja sama dengan kami!" ujar Archo sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Heh, bekerja sama dengan kalian, apa kalian berdua sedang bergurau?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Kami tidak sedang bergurau, dan lagi kami tahu apa yang telah kalian berdua lakukan semalam. Kalian telah membakar rumah seseorang atas permintaan Mrs Maria kan? Terus kalian akan kabur dari sini, iya kan?" ujar Archo membuat si pelaku terkejut.


"Da-dari mana kau tahu?" tanya salah satu pelaku.


Sesaat Archo menghela nafasnya, lalu ia kembali menyodorkan badannya ke arah kedua pelaku tersebut.


"Tentu aku tahu karena aku adalah anak dari Mrs Maria," pekik Archo.


"Apa!! Kau anak Mrs Maria?!"


"Benar, makanya aku datang kesini ingin minta kerja sama kalian," jelas Archo.


Kedua pelaku tersebut saling menatap satu sama lain, sesaat kemudian pandangan mereka kembali ke arah Archo.


"Kerja sama apa yang kalian inginkan?" tanyanya.


"Aku minta kalian menyerahkan diri!" pinta Dimas, sontak membuat mereka tersentak kaget.


"Apa!! Apa kalian sudah gila, untuk apa kami menyerahkan diri. Dan lagi apa kalian tidak berfikir kalau kami menyerahkan diri tentu Mrs Maria juga kami seret, karena dia dalangnya," sergah pelaku tersebut.


Archo pun tersenyum sinis, lalu kemudian...


Bugh!


Satu pukulan mendarat ke wajah salah pelaku itu.


"Kenapa kau memukul ku? B*stard!"


"Itu karena kau tidak mau mendengarkan perkataan kami sampai selesai," ujar Archo.


"Maksud kami begini, kalian menyerahkan diri kalian dulu, tapi dengan catatan kalian jangan beri tahu kalau yang menyuruh kalian adalah Maria," papar Dimas


"Heh! Kenapa bisa seperti itu? Berarti enak di Mrs Maria," celetuknya.


"Saya bilang dengarkan dulu!" bentak Archo membuat si pelaku tertunduk diam.


Dimas lalu mengambil kursi dan mendudukinya. "Setelah kalian tertangkap, kami akan membebaskan kalian berdua kembali, lalu setelah itu kalian bisa pergi sesuka kalian tanpa ada yang mengetahuinya."


"Bagaimana kalau kami menolak?"


"Tentu saja, lidah kalian akan ku potong dan barang kalian akan ku kebiri, supaya kalian cacat dan tidak bisa bicara kembali," gertak Archo sambil menodongkan pisaunya.


Mendengar gertakan Archo, membuat keduanya langsung ketakutan, wajahnya pun seketika memucat.


"Bagaimana, apa kalian menyetujuinya?" tanya Archo.


"Baiklah-baiklah, tapi kalian janji harus membebaskan kami kembali!" pintanya.


"Itu bisa di atur, kalian berdua tenang saja!" kata Dimas, lalu kedua pelaku itu menundukkan kepalanya.


"Lalu kami harus bagaimana? Jika mereka menanyakan kenapa kami membakar rumahnya?"


"Pandai-pandailah kalian membuat alasan, agar mereka percaya bahwa pembakaran itu murni kalian buat tanpa ada yang menyuruh," ujar Archo.


Kedua pelaku tersebut menganggukkan kepalanya. Archo pun tersenyum sambil melipatkan kembali pisaunya.


"Lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Dimas


"Tentu saja menghubungi seseorang," jawab Archo mengambil hpnya.


"Siapa yang akan kau hubungi?"

__ADS_1


"Hmmmm, aku akan mengirimkan chat ke Davino Roveis, si wajah licin itu, tentunya dengan nomor tak di kenalnya," ujar Archo.


Dimas pun hanya mengangguk saja, lalu Archo mulai mengetik pesan di hpnya, setelah itu ia pun mengirimkan pesan tersebut pada Davin.


"Beres, kita tunggu kedatangannya, setelah dia datang, kita harus pergi dari sini!" titah Archo.


"Baiklah Tuan Archo," balas Dimas,


"Aku tidak tahu yang aku lakukan ini salah atau benar. Akan tetapi aku juga tidak mau Kak Maria tertangkap, karena ia belum sadar siapa Zuy sebenarnya dan lagi aku gak bisa bayangin perasaan Bunda," batin Dimas.


Beberapa saat kemudian...


Braaaak..


Seseorang mendobrak pintu rumah pelaku sontak membuat Archo dan lainnya terkejut.


"Hmmmm, sepertinya dia sudah datang, ayo kita pergi dari sini!" ajak Archo


Dimas pun kembali menganggukkan kepalanya, lalu pandangan Archo mengarah ke pelaku itu.


"Ingat tugas kalian!" titah Archo, keduanya pun mengangguk.


Kemudian Archo dan Dimas bergegas pergi lewat pintu belakang.


Flashback End...


...----------------...


Mendengar perkataan salah satu pelaku itu, Ray langsung melepaskan cengkramannya, "Kalian pegang dia!"


Pengawal pun mengangguk dan memegangi pelaku tersebut. Lalu Ray menghampiri pelaku satunya yang tengah duduk di lantai.


"Kamu bilang apa barusan?!"


"Ka-kami ah bukan maksudnya saya sangat mengagumi Nona cantik itu, pertama kali melihatnya saya sudah jatuh cinta padanya, namun ia tidak pernah menyadari keberadaan ku, jadi saya mencari info tentangnya. Saat saya mendapatkan alamatnya, saya pun langsung datang ke rumahnya. Namun ada yang bilang bahwa dia ada yang memiliki, jadi saya tidak terima, makanya saya dengan sengaja membakar rumahnya, agar sakit hati saya terobati," ungkap si pelaku itu, namun yang ia ucapkan adalah kebohongan.


Emosi Ray kembali memuncak, lalu ia mencengkram baju pelaku itu.


"Apa yang membuat mu mengagumi nya sampai kau bisa membakar rumahnya? B*stard." pekik Ray.


"Sa-saya mengaguminya karena dia sangat cantik, tubuhnya pun sangat indah, rasanya ingin sekali mencicipinya," jawab si pelaku itu membuat yang lainnya kembali tersentak.


"Tsk, berani sekali dia berkata seperti itu di hadapan Tuan Ray," lirih Davin.


Sedangkan Zuy hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Lalu tiba-tiba ...,


Bugh...!


Bugh...!


Duaaak..!


Ray mendaratkan pukulan dan tendangan ke arah pelaku tersebut hingga tersungkur ke tanah, amarahnya pun tidak bisa di padamkannya. Ray terus mengahajarnya hingga si pelaku babak belur.


"Cukup jangan memukulnya!" pinta teman si pelaku, namun Ray tidak menggubrisnya.


Zuy tercengang melihat kemarahan Ray, air matanya pun mengalir membasahi pipinya. "Ray...!!"


Sedangkan Davin sudah mulai khawatir pada Ray yang tengah emosi, lalu ia mendekat ke arah Zuy.


"Zuy, hentikan Tuan Ray! Jangan sampai dia melebihi batas."


Zuy mengangguk, lalu ia berjalan mendekat ke arah Ray.


"Kau pantas mati! Dasar b*stard." murka Ray, saat ia hendak melayangkan tinjunya, tiba-tiba....


"Ray cukup!!"


Zuy melingkarkan tangannya ke pinggang Ray membuat Ray menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Zuy.


"Sayangku, jangan halangi aku! Biarkan aku menghajarnya." pinta Ray, ia pun kembali melayangkan tangannya.


Zuy lalu mengeratkan pelukannya, "Raaaay... Zuy mohon cukup! Jangan seperti ini Ray, kau membuatku ketakutan," ujarnya.


Seketika Ray mengerutkan dahinya. "Sayangku takut padaku?"


Seketika amarah Ray langsung mereda, ia pun membalikkan badannya ke arah Zuy dan memeluknya.


"Sayangku, maaf sudah membuatmu ketakutan," ucap Ray.


Zuy lalu mengeratkan pelukannya dan tangisnya kembali pecah, sedangkan Davin yang melihatnya merasa lega.


"Syukurlah, memang Zuy yang bisa membuat amarah Tuan Ray mereda," batin Davin.


Sesaat setelahnya Ray melepaskan pelukannya dan mengelus kepala Zuy, lalu ia mendaratkan bibirnya ke kening Zuy.


"Ray, bawa mereka ke kantor Polisi, dan biarkan mereka di hukum seberat-beratnya!" pinta Zuy.


"Apa kalian mendengar permintaan Nyonya, cepat bawa mereka!"


Para pengawal mengangguk, lalu mereka membawa kedua pelaku itu pergi. Davin langsung menghampiri Ray dan Zuy.


"Tuan Ray.."


"Kak Davin, Kakak kembali lah ke Perusahaan! Ray ingin menenangkan diri dan juga ingin menghibur sayangku."


Davin mengangguk cepat, "Baik Tuan Ray, kalau begitu saya permisi dulu. Zuy tenangkan dirimu!"


"Iya Pak Davin, terimakasih." ucap Zuy.


Davin pun tersenyum, kemudian ia melangkah pergi kembali ke Perusahaan CV. Ray dan Zuy juga bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


*************


Di perjalanan, Zuy terus menundukkan kepalanya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya, Ray yang sedang mengemudikan mobilnya mulai khawatir melihat pujaan hatinya seperti itu.


"Sayangku, apa kamu menangis karena kecewa dengan sikap ku tadi?" tanya Ray.


Zuy mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ray, ia pun menggelengkan kepalanya.


"Bukan Ray, justru Zuy senang karena kamu sudah membalas kan kesedihan Zuy pada mereka. Zuy nangis karena baju Papah yang terbakar," ucap Zuy.


Mendengar ucapan Zuy, Ray mendaratkan tangannya ke kepala Zuy dan mengelusnya. Lalu tiba-tiba Ray menghentikan laju mobilnya.


"Ray, kenapa berhenti?" tanya Zuy.


"Ayo kita turun sayangku!" ajak Ray.


Zuy pun mengangguk, mereka lalu turun dari mobilnya.


"Taman!!" lontar Zuy


"Iya sayangku, ayo kita duduk di sana! Dekat dengan kolam."


Ternyata Ray mengajak Zuy ke taman, dan di sana sudah ramai pengunjung. Ray lalu menggandeng tangan Zuy menuju arah yang ia tuju. Sesampainya di tempat tujuan, Zuy mendudukan dirinya di kursi panjang.


"Sayangku sebentar ya!"


"Memangnya kamu mau kemana Ray?" tanya Zuy.


"Ray mau beli minuman, soalnya Ray haus," jawab Ray.


"Yaudah, tapi jangan lama-lama Ray!"


Ray menganggukkan kepalanya, ia pun melangkah pergi. Zuy menyandarkan punggungnya di dinding kursi, sesaat ia menghela nafas panjangnya sambil memandangi air mancur di kolam yang berada di taman. Tak lama kemudian Ray kembali dan berdiri di hadapan Zuy, lalu ia menyodorkan tangannya ke arah Zuy.


"Sayangku pegang ini!" pintanya.


Zuy mendongakkan kepalanya ke atas. "Balon!!"


"Iya balon sayangku dan Ray sengaja beli balon ini untuk sayangku," ujar Ray, ternyata ia memberikan balon pada Zuy.


Zuy tersenyum dan berkata, "Ray, kenapa memberiku banyak balon? Zuy bukan anak kecil Ray."


"Sayangku, Ray memberi mu balon, supaya kamu tidak sedih lagi," kata Ray.

__ADS_1


"Maksudnya Ray?!" tanya Zuy kebingungan.


Ray menarik tangan Zuy, sehingga posisi Zuy berdiri, lalu ia meminta Zuy menggenggam erat tali yang mengikat balon tersebut.


"Sayangku, terbangkanlah balon-balon ini ke udara, agar kesedihan sayangku juga terbang bersama balon-balon ini," pinta Ray.


"Ray, kamu tahu dari mana?"


"Waktu di Amerika Ray sering melakukan ini jika Ray lagi sedih. Mendiang Mom Candika yang memberi tahu ku," jelas Ray. "Sekarang sayangku pejamkan matanya, lalu ucapkan terbanglah kesedihan ku, datanglah kebahagiaan," sambungnya.


Lalu Zuy menuruti perkataan Ray, ia pun menutup mata dan hatinya berkata, "Terbang lah kesedihan ku, datanglah kebahagiaan."


Sesaat Zuy membuka matanya, ia pun menghela nafasnya dan melepaskan balon-balon itu dari tangannya, seketika balon tersebut terbang tinggi.


"Bagaimana sayangku?" tanya Ray.


"Sudah sedikit membaik, terimakasih Ray." ucap Zuy memeluk Ray.


"Sama-sama sayangku, Ray tidak akan membiarkanmu bersedih lagi!"


Ray membalas pelukan Zuy dan mencium puncak kepala Zuy.


******************


Rumah Dimas


Di ruang tengah, Bunda Artiana nampak sedang duduk sambil memainkan jarinya dengan benang rajutan. Maria pun menghampiri Bunda Artiana.


"Bunda ngapain?" tanya Maria mendudukkan dirinya di samping Bunda Artiana.


Bunda Artiana menoleh, "Bunda sedang iseng saja Maria, kamu sudah makan?"


"Nanti saja Bunda," kata Maria.


Bunda Artiana tersenyum, lalu pandangannya kembali ke arah rajutannya.


"Maria, sebenarnya ada yang ingin Bunda sampaikan padamu," ujar Bunda Artiana


"Oh iya, apa itu Bunda?"


Bunda Artiana kembali menatap Maria dan memegang tangannya.


"Maria, sebenarnya setelah beberapa bulan kamu pergi meninggalkan kami, Bunda sempat mencari keberadaan suami dan anakmu," kata Bunda Artiana.


"Apa! Kenapa Bunda mencari mereka? Lalu apa Bunda bertemu mereka?" tanya Maria terkejut.


"Iya Maria, tapi Bunda tidak menemukan anakmu itu, yang Bunda temukan hanya makam suami mu itu, Maria." jawab Bunda Artiana.


"Ma-makam?! Jadi maksud Bunda Jordhan sudah meninggal? Lalu Zoya?"


Bunda Artiana mengangguk pelan, "Iya Maria, dia sudah meninggal. Bunda sudah mengatakannya tadi kalau Bunda tidak menemukan anakmu itu."


Maria lalu bangkit dari posisinya, "Bunda, Maria ke kamar sebentar!"


Maria pun bergegas menuju ke kamarnya, sedangkan Bunda Artiana menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya anak mu itu sudah berada dekat dengan kita, Maria." lirih Bunda Artiana.


Kamar Maria.


Setelah berada di kamarnya, Maria berdiam diri di balik pintu kamarnya, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Jordhan, mana tanggung jawab mu sebagai seorang ayah? kenapa kamu meninggalkan Zoya?! Siapa yang menjaganya sekarang, Jordhan!"


"Zoya di mana kamu sayang? Mamah sangat ingin bertemu dengan mu, Mamah ingin sekali memeluk mu, dan membawa mu pergi. Mam ingin menebus kesalahan Mam yang sudah meninggalkan mu, Mam ingin membahagiakan mu, Zoya anakku sayang." ucap Maria tersedu-sedu.


***************


Rumah Ray


Malam pun tiba, nampak sebuah mobil memasuki halaman dan berhenti di depan rumah. Ternyata itu mobil milik Ray, mereka berdua baru pulang setelah menghabiskan waktunya di luar. Mereka turun dari mobil dan bergegas menuju ke rumah. Setelah berada di dalam rumah, Zuy melepaskan tangannya dan memegang pipi Ray.


"Ray kamu lebih baik ke kamar ya dan bebersih, Zuy juga mau bebersih soalnya badan Zuy lengket," kata Zuy.


Ray mengangguk, "Baiklah sayangku."


Ray bergegas menuju ke kamarnya, sedangkan Zuy langsung menuju ke kamar mandi.


Kamar mandi...


Saat berada di dalam kamar mandi, Zuy menyalakan keran airnya ke arah bathtube, setelah bathtube terisi, ia pun memantikan keran airnya dan berendam di dalam bathtube. Tangisnya kembali pecah saat mengingat baju-baju milik Papahnya yang terbakar.


"Papah, maafin Zuy tidak bisa menjaga baju Papah. Papah pasti kecewa sama Zuy. Pah, Zuy kangen sama Papah, Zuy ingin Papah datang lagi, Zuy ingin di peluk Papah," tangis Zuy, sesaat ia pun menyandar ke dinding sambil memejamkan matanya.


Kamar Ray


Tak lama setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, Ray langsung mendudukan dirinya di atas sofa sambil menatap laptopnya untuk mengecek semua data yang masuk melalui laptopnya.


Beberapa Saat Kemudian....


Bu Ima nampak sedang berdiri di depan kamar mandi sambil terus mengetuk pintu kamar mandi.


"Nak Zuy, Nak Zuy.... Kenapa gak ada jawaban, apa jangan-jangan ..., Nak Zuy, kamu baik-baik saja kan? Nak Zuy.."


"Ada apa Bu Ima?" tanya Davin menghampiri.


"Ini Tuan Davin, Nak Zuy di dalam kamar mandi," jawab Bu Ima.


"Oh, mungkin dia lagi mandi Bu, kalau Bu Ima mau ke kamar mandi, bisa pakai kamar mandi di kamarku!" titah Davin.


Bu Ima menggelengkan kepalanya, "Ibu tidak ingin ke kamar mandi, Tuan Davin."


"Lalu..."


"Tuan Davin, Ibu khawatir dengan Zuy, soalnya sudah hampir satu jam dia di kamar mandi. Ibu takut Zuy kenapa-napa, dari tadi Ibu panggil tapi gak ada jawaban," ujar Bu Ima.


"Ibu serius?"


Bu Ima menganggukkan kepalanya, Davin pun berlari menuju ke kamar Ray. Sesampainya ia mengetuk kencang pintu kamarnya Ray.


Tok... Tok.. Tok...


"Tuan Ray, Tuan Ray... buka pintunya dan keluar!" seru Davin


"Ada apa Kak Davin? udah malam berisik jangan teriak-teriak!" pekik Ray dari dalam kamarnya.


"Tuan Ray... buka pintunya, ini soal Zuy,"


Mendengar nama Zuy di sebut, Ray segera membuka pintunya.


"Ada apa? Apa yang terjadi pada sayangku?"


"Dia di kamar mandi dan sudah satu jam belum keluar, Tuan." ujar Davin sontak membuat Ray terkejut.


Ia pun berlari menuju ke tangga dan menuruninya. Setelah berada di bawah, Ray bergegas menuju ke kamar mandi, sesampainya ia menghampiri Bu Ima.


"Bu Ima, apa yang terjadi?" tanya Ray


"Tuan Ray, Nak Zuy ...."


Lalu Ray mengambil kunci cadangan yang berada di kotak P3k yang menempel di dinding, ia pun segera memasukan kunci tersebut dan membukanya. Setelah terbuka, ia bergegas masuk ke dalam dan betapa terkejutnya Ray melihat Zuy sedang menggigil dan wajahnya pun memucat.


Ray langsung mengambil handuk dan mengenakannya pada Zuy, ia pun segera mengangkat tubuh Zuy dari bathtube dan membawanya keluar.


"Tuan Ray, apa yang terjadi pada Nak Zuy?" tanya Bu Ima terkejut melihat wajah Zuy memucat.


"Sepertinya dia demam Bu," jawab Ray.


Mendengar jawaban Ray, membuat Bu Ima tersentak. "Apa!! De-demam?!"


***Bersambung...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2