
<<<<<
Wawan pun menganggukkan kepalanya dan perlahan membuka mulutnya.
"Iya, saya akan menceritakannya, sebenarnya waktu itu ...."
Lalu tiba-tiba Wawan mengarahkan pandangannya ke arah langit-langit kamar rawatnya itu.
"Wan...." tegur Ray.
Seketika Wawan menoleh ke arah Ray.
"Tuan, apa anda benar-benar ingat kejadian itu?" tanya Ardan.
"Iya saya ingat, waktu itu saya sedang berada di bengkel, sedang menunggu mobil milik Tuan Ray yang lagi di service. Lalu ...."
Sebenarnya mobil Ray menginap di bengkel tersebut, sebab Ray mengantar mobilnya pas sore hari setelah pulang kerja. Karena itu bengkel langganannya, makanya Ray tidak khawatir jika mobilnya berada di sana dan memang sudah terbiasa.
......................
Flashback
Kala itu Wawan tengah berada di ruang tunggu yang berada di bengkel tersebut sembari bermain game di hpnya itu. Saat ia tengah asik dengan permainannya, tiba-tiba ....
Drrrrrt.... Drrrrrt... Drrrrrt....
Hpnya pun berdering, sehingga Wawan harus menghentikan permainannya dan segera menjawab panggilan dari telponnya itu.
"Iya Pak Davin, ada apa?" tanya Wawan pada si penelpon yang tak lain adalah Davin.
"Wan, sekarang kamu ada di mana?" bukan menjawab, Davin malah balik bertanya.
"Saya sedang di bengkel Pak," ujar Wawan. "Memangnya ada apa Pak?" imbuhnya.
"Euuum.... Begini Wan, bisakah kamu ke Perusahaan CV untuk mengambil hp milik Tuan Ray yang tertinggal di sana?" lontar Davin.
"Bisa Pak, saya akan ambil sekarang," balas Wawan.
"Bagus! Lalu bisakah kamu mengantarnya ke sini?" pinta Davin.
"Baik Pak, nanti akan saya antar," ujar Wawan.
"Oke, terimakasih banyak Wan, maaf merepotkan mu lagi," ucap Davin
"Tidak apa-apa Pak, dan lagi ini juga sudah tugas saya," kata Wawan.
"Yaudah kalau begitu, aku tutup telponnya."
Davin langsung memutuskan telponnya.
"Kira-kira udah belum ya?" lirih Wawan sambil memasukkan hpnya ke dalam saku jaketnya.
Ia pun segera bangkit dari posisinya dan keluar dari ruang tunggu tersebut menuju ke arah mobil Ray berada. Sesampainya....
"Apa sudah selesai?" tanya Wawan.
"Belum Tuan, sebentar lagi," jawab montir yang menangani mobil milik Ray. "
"Haaa.... Kirain udah, padahal mau ke Perusahaan dulu," lirih Wawan.
"Euuum maaf Tuan, tadi anda bilang apa?" tanya montir
"Saya mau ke Perusahaan CV, soalnya ada barang yang tertinggal di sana," jawab Wawan.
"Oh, yaudah kalau begitu anda bisa pakai motor saya dulu," tawar montir tersebut.
Lalu montir itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci.
"Ini pakailah!" katanya sembari memberikan kunci tersebut pada Wawan.
Tanpa pikir panjang, Wawan pun mengambil kunci tersebut dari tangan montir itu.
"Oke terimakasih. Ngomong-ngomong motornya yang mana?" tanya Wawan.
"Motor saya yang berwarna hitam, di depannya ada tulisan Crazy Frog," ujarnya.
"Oke saya mengerti, yaudah kalau begitu saya pakai dulu motornya!" kata Wawan.
Montir mengangguk. "Iya, hati-hati!"
Wawan pun melangkah pergi. Sesaat setelah Wawan pergi, ia langsung ke ruang ganti dan saat berada di sana, montir itu mengambil hpnya. Ia lalu membuka kunci pola di hpnya itu dan mencari kontak seseorang, setelah dapat ia segera menghubunginya.
***************
Perusahaan CV
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, Wawan pun sampai di tempat dan segera memarkirkan kendaraannya. Lalu ia pun bergegas masuk ke dalam Perusahaan menuju ke resepsionis.
"Permisi Nona cantik...." ucap Wawan sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya, ada yang bisa kami bantu?" tanya Ernie
"Ada titipan hati kamu buat saya tidak?" goda Wawan pada Ernie.
Ernie pun nampak kebingungan dengan pertanyaan Wawan. "Hati saya? Maksudnya apa ya?"
"Ah maaf bukan hati, maksud saya no hp kamu, eh salah maksudnya ada titipan hp milik Tuan Ray apa tidak? Soalnya tadi saya di minta Pak Davin untuk mengambil hp milik Tuan Ray," ujar Wawan.
"Oh, apa anda yang bernama Wawan?" tanya Ernie.
Wawan mengangguk. "Ya, itu benar sekali cantik."
Kemudian Ernie mengambil hp Ray dan memberikannya pada Wawan.
"Ini Tuan...."
"Terimakasih cantik," Wawan mengambil hp tersebut dari tangan Ernie.
Ernie pun tersenyum sambil mengangguk.
"Waaah kamu memang makhluk Tuhan paling cantik," ucap Wawan menggodanya.
Ernie di buat tersipu oleh ucapan Wawan. "Anda bisa aja, Tuan."
"Hmmm.... Yaudah kalau begitu saya pergi dulu, jangan lupa selalu mengingat wajah tampanku ini!"
Wawan lalu melangkahkan kakinya, namun pandangan masih mengarah ke Ernie. Setelah puas, ia pun memutar badannya dan berjalan keluar menuju parkiran.
Beberapa kemudian, Wawan pun sudah berada di perjalanan dan hampir tiba di bengkel. Akan tetapi sebelum sampai di tempat, ia terlebih dahulu singgah ke warung untuk membeli minuman. Setelah selesai mengambil minuman dari lemari pendingin, ia pun memberikan uang pada si penjual, Wawan lalu membuka tutup botol minumannya dan saat hendak meminumnya, penjual tersebut memanggil Wawan sehingga ia mengurungkan niatnya dan menutup kembali botol tersebut. Lalu saat Wawan menghampiri si penjual, tiba-tiba ...
Bruuk....
Ia pun bertabrakan dengan seseorang sehingga botol minuman yang ditangannya terjatuh bersamaan dengan botol milik seseorang yang bertabrakan itu.
"Gimana sih, kalau jalan lihat-lihat dong!" pekik seseorang itu sambil mengambil botol minuman yang terjatuh.
"Maaf saya tidak sengaja," ucap Wawan.
Kemudian seseorang itu menegakkan kembali tubuhnya dan memberikan botol minuman milik Wawan.
"Te-terimakasih sudah mengambilkan air minum milik saya," ucap Wawan.
"Iya, lain kali kalau jalan hati-hati, jangan meleng!" tuturnya, ia pun bergegas pergi.
Lalu pemilik warung tersebut menghampiri Wawan dan memberikan sesuatu pada Wawan yang ternyata adalah uang.
__ADS_1
"Anda lupa kembaliannya, Tuan." ujarnya.
"Oh iya, terimakasih ya Kak." ucap Wawan.
Setelah itu ia pun kembali ke kendaraannya dan melajukannya menuju ke bengkel mobil tersebut. Sesampainya di tempat, Wawan segera menghampiri montir tersebut untuk memberikan kunci motornya.
"Ini kuncinya, terimakasih banyak," ucap Wawan menyodorkan kuncinya.
"Iya sama-sama, kebetulan juga mobil anda juga sudah selesai," balas montir tersebut.
"Oh iya, yaudah kalau begitu saya bawa mobilnya, soalnya sudah di tunggu," ujar Wawan.
Montir pun mengangguk, kemudian Wawan segera masuk ke dalam mobil milik Ray dan menyalakannya, sesaat kemudian ia langsung melakukan mobilnya itu. Lalu montir tersebut kembali mengeluarkan hpnya dan menghubungi seseorang lagi.
Saat sudah di jalan, Wawan mengambil botol minuman yang ia beli, ia lalu membuka botol tersebut dan meneguk air di botol minuman tersebut. Setelah menghilangkan dahaga, ia meletakkan kembali botol minuman itu ke tempat semula.
Lima menit berlalu, Wawan tiba-tiba merasakan hal aneh yang menyerangnya, ia selalu menguap dan bahkan pandangannya sudah mulai kabur.
"Kenapa tiba-tiba mengantuk gini, ah gak bener ini. Aku harus berhenti sebentar," ucap Wawan.
Lalu tanpa sadar mobil yang di bawanya sudah berada di perempatan jalan, dan lampu merah lalu lintas pun menyala, saat ia hendak menginjak remnya, ternyata tidak berfungsi dan alhasil ia tidak bisa menghentikan mobilnya.
Rasa paniknya mulai menyerangnya karena ia melihat sebuah kontainer melaju cepat dari arah lain, namun tiba-tiba Wawan tidak sadarkan diri dan akhirnya kecelakaan maut itu terjadi.
Di tempat yang sama, seseorang dengan menggunakan topi melihat kejadian itu dari arah kejauhan, ia nampak tersenyum bahagia melihat kejadian tersebut.
"Tuan pasti senang mendengarnya," ucapnya.
Flashback end
......................
"Ya, yang saya ingat hanya itu, selebihnya saya tidak tahu lagi, saya juga terkejut tau-tau udah ada di rumah sakit dengan tubuh penuh perban begini," ucap Wawan yang selesai bercerita.
"Tadi anda bilang kalau anda bertabrakan dengan seseorang dan dia memberikan minuman milik anda yang terjatuh. Hmmm, bisa di pastikan bahwa minuman itu sudah di tukarnya," ujar Ardan.
"Wan, apa kamu tidak sadar bahwa minuman itu sudah di tukarnya?" tanya Davin.
Wawan menggeleng pelan. "Tidak Pak, soalnya botol minuman kami sama, jadi saya kira itu milik saya."
"Lalu tentang seseorang itu, apa anda tahu wajahnya?" Ardan kembali memberikan pertanyaannya.
"Tidak, soalnya dia memakai topi dan kacamata dan masker, Pak." jawab Wawan.
Kemudian Ardan mengeluarkan sebuah foto dari tas kecilnya dan menunjukkan foto tersebut pada Wawan.
"Apa orang ini yang menangani mobil milik Tuan Ray?"
Wawan lalu menatap foto tersebut seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya dia orangnya."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih karena anda sudah menceritakan kejadiannya," ucap Ardan.
"Sama-sama Pak," balas Wawan, lalu tiba-tiba....
Triiing.... Triiing....
Hp milik Ardan berdering sangat keras, ia lalu mengambil hpnya dan menatap layar hpnya itu.
"Hmmm.... Sebentar Tuan Ray, saya jawab telpon dulu," kata Ardan.
Ray mengangguk, lalu Ardan melangkah beberapa jarak dari mereka. Tak lama setelah menerima panggilan, Ardan pun kembali. Kemudian ia mendekat ke arah Ray.
"Tuan, tadi saya dapat kabar ...." Ardan berbisik pada Ray.
Mendengar bisikan dari Ardan, mata Ray membulat sempurna. Sesaat setelahnya Ardan menegakkan kembali tubuhnya.
"Bagaimana Tuan Ray?" tanya Ardan.
Lalu pandangan Ray mengarah ke Wawan. "Wan, saya pergi dulu, kamu istirahatlah!"
Wawan kembali mengangguk. "Baik Tuan, terimakasih."
Ray tersenyum seraya bangkit dari posisinya.
"Ayo kita pergi sekarang!" titah Ray.
Davin dan Ardan mengangguk serempak. Kemudian mereka melangkah keluar dari kamar rawat Wawan, setelah itu mereka bergegas pergi dari rumah sakit tersebut menuju ke suatu tempat.
*********************
Supermarket
Sementara itu, Yiou, Zuy dan Airin sudah berada di supermarket tengah mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk pesta barbeque nanti. Seperti daging sapi, ayam, jagung, sayur-sayuran, seafood dan bahan lainnya.
"Baby, Airin. Aku kesana sebentar ya!" kata Yiou sembari menunjuk.
"Iya Mrs Yiou," ucap Zuy dan Airin serempak.
Lalu Yiou pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang akan ia tuju. Sesaat setelahnya....
"Udah lama kita gak jalan bareng kaya gini ya Zuy?" papar Airin.
"Iya Rin, makanya aku senang banget, pas tadi kamu datang dan Mrs Yiou mengajakmu pergi juga, tapi sayangnya Mamah dan Rion malah pulang," ujar Zuy.
"Ya Mamah ada urusan di sana dan Rion juga harus sekolah. Tapi Mamah bilang, kalau Mamah bakalan sering-sering datang, soalnya Mamah ingin sekali menemani mu di saat kamu lahiran nanti, Zuy." jelas Airin membuat Zuy tertegun mendengarnya.
"Aku bener-bener terharu Rin, walaupun Mamah bukan Mamah kandungku tapi dia ingin menemaniku saat aku lahiran nanti, sedangkan Mamah kandungku ...." ucap Zuy dengan wajah sendunya.
Melihat wajah sendu Zuy, Airin merangkul Zuy.
"Hei jangan memasang wajah sendu seperti itu! Nanti kalau Mrs Yiou datang dia pasti akan bertanya-tanya, apalagi kalau Tuanmu itu tau, bisa-bisa dia akan memasang wajah dinginnya itu," lontar Airin.
Seketika Zuy terkekeh kecil mendengar perkataan yang di lontarkan Airin.
"Hihihi, dasar kamu Rin. Untung orangnya gak ada," ujar Zuy.
"Walaupun orangnya gak ada disini, pasti dia ngerasa kalau sedang di omongin dan aku pastikan Tuan bos bakalan bersin," papar Airin.
•••••••••
Sementara itu....
Hatchuuuuu....
"Tuan Ray, anda kenapa?" tanya Davin yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Entahlah sepertinya ada yang mengutukku," jawab Ray sambil menggosok bawah hidungnya.
•••••••
"Hihihi.... Kamu bener-bener deh Rin," lirih Zuy yang terus terkekeh.
Airin tersenyum melihat Zuy terkekeh seperti itu.
"Syukurlah, maaf Tuan Bos, demi membuat Zuy tersenyum, aku harus bergosip tentang anda," batin Airin.
Lalu tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"Zuy, apa kamu benar-benar Zuy?" tanya seseorang itu membuat Airin dan Zuy menoleh ke arah orang tersebut.
"Iya saya Zuy, anda siapa ya?" tanya Zuy
Setelah menyidik wajah orang yang menyapa Zuy, Airin langsung mengerutkan dahinya dan berdiri di depan Zuy.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" pekik Airin.
"Sa-saya...."
"Rin kamu mengenalnya?" tanya Zuy pada Airin.
Airin menoleh ke Zuy. "Zuy, apa kamu lupa dengan wanita ini?" tanyanya sambil menunjuk ke arah orang tersebut.
Zuy menggeleng. "Tidak, atau mungkin aku lupa. Memang dia siapa?"
"Zuy.... Wanita ini, dia yang pernah nampar kamu waktu di tempat makan," jelas Airin.
"Hah! Menamparku? Kamu serius Rin?" Zuy bertanya lagi karena ia benar-benar lupa.
"Iya dia benar Zuy. saya memang pernah menamparmu saat kamu sedang makan bersama Deva dan saya Zetta istri dari Deva," ujar orang tersebut yang ternyata Zetta.
(Bab. 25 Mengikutinya)
"Zetta? Deva?" Zuy berfikir sejenak, sesaat kemudian....
"Oh jadi kamu Zetta, istrinya Deva teman sekolah ku ya? Apa kabar? Udah lama banget ya kita gak bertemu," tanya Zuy ramah.
"Kabar ku baik-baik saja. Zuy, sebenarnya aku udah lama mencari kamu," ujar Zetta
"Mencariku? Memangnya ada apa?" Zuy pun kebingungan.
"Tentu saja aku ingin minta maaf, karena sudah menamparmu secara tiba-tiba tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu. Waktu itu aku benar-benar terbawa emosi gara-gara perkataan si Anne itu, apalagi waktu itu aku sedang hamil besar," ucap Zetta.
"Hamil jangan di jadikan alasan," celetuk Airin.
Zuy lalu menepuk pundak Airin dan mendekati Zetta.
"Tidak apa-apa, aku udah lama maafin kamu kok, dan aku juga tahu kalau itu hanya salah paham saja," kata Zuy.
"Ja-jadi kamu memaafkanku, Zuy?"
Zuy mengangguk. "Iya aku memaafkan mu, lagian itu udah lama, aku pun sudah lupa kejadiannya," ujarnya.
"Terimakasih banyak Zuy, benar apa kata Deva, kamu benar-benar wanita baik," ucap Zetta.
Kling....
Suara bunyi pesan masuk dari hp milik Zetta, ia pun segera membuka hpnya itu untuk melihat isi pesan masuk. Sesaat setelahnya....
"Zuy, Nona. Sepertinya aku harus pergi, karena anakku yang kecil mencariku," pamit Zetta.
"Baiklah, titip salam buat Deva," kata Zuy.
"Ya akan saya sampaikan, sekali lagi terimakasih," ucap Zetta sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Zuy kenapa kamu cepat memaafkannya sih, harusnya kamu biarkan saja dia merasa bersalah seumur hidupnya karena sudah menyakitimu," pekik Airin.
"Rin...."
"Maaf Zuy, habisnya aku kesal saat mengingat kejadian dimana dia menamparmu sampai kamu terluka," ujar Airin.
Zuy menghela nafasnya. "Haaa.... Kamu benar-benar masih mengingatnya ya, padahal aku udah lupa Rin, kejadian itu sudah sangat lama."
"Iya karena kamu Kakakku jadi setiap orang yang menyakitimu aku akan selalu mengingatnya," ungkap Airin.
Zuy pun tersenyum dan berkata, "Terimakasih Rin, karena kamu selalu bersamaku."
Airin tertegun mendengar perkataan Zuy, ia langsung memeluknya.
"Sama-sama Zuy." balas Airin.
Lalu kemudian....
"Maaf lama tadi ..., lho da apa ini? Kenapa kalian saling berpelukan?" tanya Yiou yang datang menghampiri.
Airin dan Zuy pun segera melepaskan pelukannya.
"Tidak ada apa-apa Mrs Yiou, biasa ini pelukan sahabat," ujar Airin.
"Euuum.... Maaf Mrs Yiou, apa bahan-bahan ini sudah cukup?" tanya Zuy.
Yiou pun mengecek barang-barang yang berada di troli belanja.
"Hmmm.... Sepertinya cukup sih, tapi tambah beberapa sayur dan daging lagi. Takutnya kurang, kalau lebih kita bisa menyimpannya," kata Yiou.
"Oke Mrs Yiou," ucap Airin dan Zuy serempak.
Kemudian mereka melanjutkan belanjanya kembali.
*****************
Amerika
°Kediaman Maria
Saat ini di Amerika sudah tengah malam, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika kurang lebih 12 jam.
Archo baru saja pulang dari pekerjaannya, setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia pun segera berjalan ke arah pintu masuk, lalu Archo menekan tombol yang berada di samping pintu tersebut, sesaat kemudian pintu pun terbuka dan ia segera masuk ke dalam.
Saat berada di dalam, Archo melihat Maria yang tengah berada di kursi rodanya sambil duduk menunduk di ruang tengah. Archo lalu menghampirinya.
"Mam...." tegur Archo.
Seketika Maria langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Archo.
"Kamu sudah pulang?" tanya Maria.
"Iya sudah Mam, lalu kenapa Mam ada di sini? Bukannya istirahat di kamar! Kan besok kita akan berangkat ke Airport, Mam." papar Archo.
"Mam belum ngantuk Archo, dan Mam menunggu Kimberly datang. Soalnya Mam mau berpamitan dengannya," ujar Maria.
Archo lalu duduk berjongkok di hadapan Maria.
"Mam, bukannya kemaren Mam sudah berpamitan sama Kimberly, dan lagi dia juga tidak peduli, jadi untuk apa Mam menunggunya," tutur Archo.
Maria langsung menundukkan kepalanya, air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa dia seperti itu terhadap Mam, padahal Mam sangat menyayanginya, bahkan Mam selalu menuruti keinginannya. Tapi malah ...." ucap Maria tersedu-sedu.
"Mam, sudah jangan buang air mata Mam untuk anak seperti itu dan lagi anak Mam bukan hanya dia, Mam masih punya anak lagi yaitu aku dan Zuy," tutur Archo.
Maria mengangkat kepalanya kembali dan menatap wajah Archo.
"Iya, tapi bagaimana kalau dia membenci Mam? Waktu itu kamu mendengarnya sendiri kan."
"Mam, Archo sangat yakin dia bukan orang seperti itu, dan mungkin waktu itu dia sedang hamil muda makanya emosinya naik sehingga dia berkata seperti itu," ujar Archo.
"Tapi...."
Archo lalu memegang erat tangan Maria.
"Mam, asal Mam mau minta maaf kepada Zuy dengan sungguh-sungguh dan menjelaskannya pasti dia akan mengerti," ujar Archo.
"Mam akan mencobanya, semoga saja Zoya maksudku Zuy bisa memaafkan kesalahanku ini."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌