
<<<<<
"Tidak, kami datang karena ingin bertemu dengan kerabat Mam, yaitu Nenek kamu dan lagi sekarang Mam terkena stroke Kimberly," tegas Archo
"Apa kau bilang! Mam terkena stroke?!"
Sentak Kimberly saat mendengar perkataan Archo.
"Archo! apa kau sedang membohongi ku?" tanya Kimberly yang belum percaya.
Archo lalu menghela nafasnya. "Kimberly... Untuk apa aku berbohong, Mam benar-benar terkena Stroke dan udah berapa hari Mam di rawat di rumah sakit," jelasnya
"Berarti pas kemaren Mam menelpon ku, jangan-jangan Mam sudah ...."
"Iya Kimberly, pas Mam menelpon mu, Mam sebenarnya sudah sakit," jelas Archo.
Seketika tangis Kimberly pecah...
Hiks...
"Jelaskan padaku Archo! Kenapa Mam bisa terkena stroke?"
"Haaa... Bukankah kau sudah tahu kalau Mam itu punya riwayat hipertensi dan itulah penyebabnya," jelas Archo,
Akan tetapi Archo menutupi yang sebenarnya dari Kimberly.
"Lalu kenapa kau baru memberitahu ku, Archo!"
"Itu karena Mam yang menyuruh ku untuk tidak memberitahumu Kimberly, karena Mam tidak ingin mengganggu pekerjaanmu itu." ujar Archo. "Kau sangat beruntung Kim, Mam sangat menyayangimu," lirihnya.
"Kau bilang apa Archo?!"
"Aku tidak bilang apa-apa Kim. Lalu bagaimana, apa kau akan datang kesini dan membujuk Mam untuk kembali ke Amerika?"
"Sebenarnya Kim ingin langsung kesana, cuma kata Manager Kim. Kim harus ikut pulang ke Amerika, karena ada acara lain di sana," kata Kimberly
Mendengar itu sontak membuat Archo merasa kesal.
"Jadi kamu lebih mentingin kerjaanmu di bandingkan kesehatan Mam?" sentak Archo.
"Bu-bukan seperti itu Archo, tapi ini juga penting untuk ku," ujar Kimberly.
"Oh jadi begitu ya Kim, yaudah kalau seperti itu, aku tidak akan memintanya lagi," pekik Archo.
"Archo! Dengarkan aku dulu, Seb ...."
Archo langsung memutuskan telponnya.
"Tsk, benar-benar si Kimberly." umpat Archo.
Archo pun menyandarkan kepalanya ke dinding sambil menatap langit-langit.
"Andai saja Mam tidak jahat pada Zuy, pasti Zuy tidak akan membenci Mam dan mungkin juga dia akan merawat Mam dengan senang hati," lirih Archo.
*********************
SWEDIA
"Halo, Archo... Archo!" seru Kimberly. "Tsk, kenapa malah di putus telponnya, aku kan belum selesai ngomong," sambungnya.
"Ada apa Mrs Kimberly?" tanya seseorang yang tak lain adalah YanYan asistennya.
Kimberly pun menoleh. "Ini Yan, Archo mutusin telponnya."
"Oh, terus kenapa anda nampak sedih gitu?" tanya YanYan
"Gimana gak sedih, tadi Archo bilang kalau Mam terkena stroke, dan Archo menyuruh ku datang ke Kota xxxx," jawab Kimberly.
"Hah! Mrs Maria terkena stroke?" YanYan pun terkejut mendengarnya.
Kimberly menghela nafasnya. "Haaaa... Iya Yan, aku harus bagaimana?" tanyanya.
"Hmmm... Kalau menurut saya lebih baik anda ikut ke Amerika dulu! Soalnya saya dengar kabar bahwa anda akan di promosikan," kata YanYan
Seketika mata Kimberly langsung berbinar. "Waah... Serius kamu Yan?"
YanYan pun mengangguk. "Aku serius Mrs Kimberly. Makanya anda lebih baik ikut kami pulang ke Amerika, dari pada harus pergi ke sana."
"Hmmmm... Benar juga ya katamu, yaudah kalau begitu besok aku akan ikut kalian pulang, lagian kalau aku terkenal juga Mam pasti akan senang dan lagi aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk mendapatkan Ray kembali," cetus Kimberly
"Lagian kalau aku kesana pasti Archo akan menyuruhku buat merawat Mam yang sakit, hmmmm...." batin Kimberly sembari tersenyum smirk.
"Nah gitu dong, ayo kita ke cafe! Dari tadi perutku udah bunyi terus," ujar YanYan.
"Hmmmm... Dasar kamu Yan, yaudah ayo!"
Lalu mereka berdua bergegas ke cafe.
***********************
Rumah Ray
Sementara itu, nampak Daddy Michael yang sedang duduk di ruang keluarga sembari menikmati secangkir kopi.
"Hmmmm.... Sepertinya Ray akan merasakan apa yang aku rasakan saat Candika tengah mengandungnya dulu," ucap Daddy Michael.
Kamar Zuy
Di kamarnya, Zuy tengah duduk menyandar di atas ranjangnya, rasa mual terus saja menyerangnya sehingga membuat tubuhnya lemas seketika. Ray yang melihatnya pun mulai khawatir dengan kondisi pujaan hatinya itu.
"Sayangku.... Kita ke rumah sakit yuk!" ajak Ray sembari memegang tangan Zuy.
Akan tetapi Zuy malah menolaknya. "Zuy gak mau Ray, lagian ngapain harus ke rumah sakit sih Ray, Zuy kan gak sakit." pekiknya.
"Apanya yang gak sakit sayangku, lihat wajahmu pucat begitu," ujar Ray.
"Mungkin Zuy kecapean Ray, makanya terlihat pucat," papar Zuy, ia pun menyunggingkan senyumannya.
Lalu kemudian ....
Tok Tok Tok
"Masuk!!" seru Ray
Seseorang membuka pintunya dan ternyata Bu Ima yang datang membawa semangkuk bubur untuk Zuy, lalu Bu Ima berjalan menghampiri.
"Tuan Ray, ini buburnya!" kata Bu Ima sambil meletakkannya di atas nakas.
"Terimakasih Bu Ima," ucap Ray.
Bu Ima tersenyum. Kemudian pandangan Bu Ima mengarah ke Zuy.
"Nak Zuy, apa masih merasa mual?" tanya Bu Ima.
Zuy mengangguk. "Iya Bu Ima." jawabnya.
__ADS_1
"Wajar Nak kalau sedang hamil muda, tapi nanti kedepannya juga akan biasa saja," tutur Bu Ima.
"Oh begitu ya Bu, Zuy baru tahu. Haaa... Sepertinya Zuy harus belajar banyak lagi soal kehamilan, terutama belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman," ujar Zuy.
"Iya Nak, tapi tidak semuanya ngerasain hal yang sama. Yaudah kalau begitu Ibu keluar ya, mau ngasih makan si Manis," kata Bu Ima. "Jangan lupa di makan buburnya!"
"Iya Bu Ima, terimakasih banyak," ucap Zuy.
Bu Ima pun melangkah keluar dari kamar Zuy. Sesaat setelahnya, Ray mengambil mangkuk bubur itu.
"Sayangku makan ya!"
Zuy mengangguk patuh, lalu Ray menyendokan buburnya dan menyuapkannya ke mulut Zuy, satu suap, dua suap bubur sudah masuk ke perut Zuy dan saat Ray hendak meyuapkan buburnya lagi, tiba-tiba Zuy menutup hidung dan mulutnya.
"Kenapa sayangku?" tanya Ray kebingungan.
"Zuy mual Ray," jawab Zuy.
"Tapi sayangku baru makan sedikit."
"Huuumpt, tapi perutku enek Ray," rengek Zuy.
"Yaudah kalau begitu," Ray meletakkan kembali mangkuk bubur itu di atas nakas.
Ray lalu meraih tangan Zuy dan menciumnya. "Terus sayangku mau apa? Nanti Ray akan belikan untuk sayangku." tanyanya.
Namun Zuy menggelengkan kepalanya. "Zuy lagi gak ingin apa-apa Ray, Zuy ingin tiduran aja," jelasnya sambil membaringkan badannya.
"Yaudah kalau begitu, Ray akan temani sayangku tidur."
Zuy pun tersenyum, lalu kemudian Ray mengelus kepala Zuy sehingga membuat Zuy nyaman, tak lama kemudian Zuy tertidur lelap.
"Kasihan sayangku ini," ucap Ray, ia pun mendaratkan bibirnya ke kening Zuy.
Lalu pandangan beralih ke perut Zuy dan mengelus perutnya.
"Hei junior, Daddy titip Mommy sebentar ya!" pinta Ray pada calon anaknya.
Kemudian ia berjalan keluar, saat berada di luar kamar Zuy, Ray melihat Daddy Michael sedang duduk sendirian, ia pun langsung menghampiri Daddy Michael.
"Dad...."
Daddy Michael menoleh. "Oh, kamu Boy," sahutnya.
Ray lalu mendudukkan dirinya di samping Daddy Michael.
"Kirain Ray, Daddy sedang istirahat siang, gak taunya sedang duduk di sini."
"Ya tadinya Daddy ingin istirahat siang, tapi malah mata Daddy ngajak melek, ya dari pada bosan di kamar, lebih baik Daddy duduk di sini," kata Daddy Michael.
"Oh begitu ya Dad...." lirih Ray sembari menyandarkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Zuy? Apa buburnya di makan?" tanya Daddy Michael.
Ray menghela nafasnya. "Buburnya di makan, cuma dua suap doang, dia bilang perutnya gak enak, Dad."
"Hmmmm.... Sepertinya benar apa yang di alami Daddy bakalan di alami kamu juga, Boy."
"Maksudnya Dad?" tanya Ray kebingungan.
"Gini Boy, dulu waktu Mom Candika hamil kamu, dia juga seperti Zuy. Awalnya baik-baik saja, ngejalani aktivitas seperti biasa, namun kesananya Mom kamu malah ngerasain hal yang biasa di alami kebanyakan orang hamil. Ya seperti mabuk, ngidam yang aneh-aneh, dan lain sebagainya. Daddy jadi ingat pas waktu malam-malam Mom kamu ingin sesuatu, sampai Daddy harus keliling malam-malam buat dapetin apa yang Mom kamu inginkan, Ray." ungkap Daddy Michael.
"Terus dapat?"
"Oh jadi seperti itu ya Dad, ternyata kalau orang hamil ngidamnya suka aneh-aneh ya," lirih Ray.
"Ya kurang lebih seperti itu Ray, tergantung juga. Bahkan ada juga tuh ibu hamil yang ngidamnya tidak ingin lihat wajah suaminya. Pokoknya kalau lihat wajah suaminya pasti mual dan tidak ingin bertemu dengan suaminya dulu," jelas Daddy Michael.
Mendengar penjelasan dari Daddy Michael sontak membuat Ray tersentak.
"Dad, benarkah apa yang Daddy katakan itu?" tanya Ray khawatir.
"Ya, yang Daddy tahu sih seperti itu Ray," jawab Daddy Michael.
"Haaaa...." desah Ray.
"Kamu kenapa boy?"
"Tidak apa-apa, Ray cuma takut kalau Zuy ngidamnya benci sama Ray," jawab Ray.
Sontak membuat Daddy Michael terkekeh. "Hihihi.... Dasar kamu boy."
Seketika Ray mendengus kesal. "Hummpt...."
"Rayyan...."
Ray menoleh. "Hmmmm.... Iya Dad."
"Daddy sarankan, lebih baik kamu daftarkan Zuy untuk ikut kelas kehamilan atau parenting class!" saran Daddy Michael.
"Kelas kehamilan? Parenting class?"
"Iya Ray, supaya kalian berdua mendapatkan pengetahuan lebih soal kehamilan dan anak, dulu Mom kamu juga sering ikut kelas kehamilan," tutur Daddy Michael.
Ray mengangguk. "Baik Dad, Ray akan daftarkan Zuy ke sana."
Lalu Daddy Michael merengkuh tubuh Ray dan memeluknya sehingga membuat Ray terpaku.
"Dad...."
"Kamu benar-benar sudah dewasa Rayyan, bahkan sampai mau punya anak. Maaf, jika Daddy masih menganggapmu anak kecil. Mungkin karena Daddy masih merindukan saat-saat kamu masih kecil dulu, " ucap Daddy Michael sembari menitihkan air matanya.
Ray tertegun mendengar ucapan dari Daddy Michael. Kemudian membalas pelukan Daddy Michael.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai berbincang dengan Daddy Michael, Ray kembali masuk ke kamar Zuy. Sedangkan Daddy Michael berjalan menuju ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar Zuy, Ray mendudukkan dirinya di atas kursi samping ranjang Zuy. Ray terus memandangi wajah pujaan hatinya yang tengah tertidur itu sambil mengelus lembut pipinya.
"Sayangku.... Apapun yang kamu mau aku akan memberikannya, asal sayangku jangan membenciku! Jujur aku jadi kepikiran perkataan Daddy barusan, kalau orang hamil kadang membenci suaminya, aku gak sanggup jika kamu membenci ku sayangku," ucap Ray sambil menundukkan kepalanya. Lalu ....
"Siapa yang membenci mu Ray." lirih Zuy
Mendengar suara pujaan hatinya, Ray langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Zuy yang tengah tersenyum padanya.
"Sayangku, kamu sudah bangun?" tanya Ray.
Zuy mengangguk, kemudian ia perlahan bangkit dari posisinya menjadi duduk, Zuy pun menempatkan tangannya ke pipi Ray dan menatap lekat wajah Ray.
"Sayangku...."
"Ray, Zuy dengar ucapan mu barusan, kalau orang hamil kadang membenci orang yang di dekatnya itu, apa benar?" tanya Zuy
Ray mengangguk. "Iya sayangku, tadi Daddy bilang seperti itu," ujarnya.
"Hmmmm.... Tapi Zuy gak membenci mu Ray, justru Zuy ingin selalu di dekat mu. Jujur tadi aja di Perusahaan Zuy kebayang wajah kamu terus, rasanya ingin sekali segera pulang dan bertemu denganmu, Ray." ungkap Zuy.
__ADS_1
"Benarkah sayangku?"
"Iya Ray, tentu saja benar."
Seketika senyum Ray mengembang, lalu ia menghujani ciuman ke wajah Zuy. Sesaat setelahnya ....
"Terimakasih sayangku...." ucap Ray sembari memeluk Zuy.
Zuy pun membenamkan wajahnya di dada bidang Ray.
"Wangi tubuhnya ini benar-benar membuatku merasa nyaman, rasa mual pun menghilang seketika," batin Zuy mengeratkan pelukannya.
***********************
Sementara itu di tempat lain, yang tak lain tempat tinggal dari Deva.
(Deva karakter yang jarang muncul)
"Aku pulang....!" seru Zetta (istri Deva)
"Selamat datang tta, kenapa terlambat?" tanya Deva sambil melipat koran yang telah ia baca.
Zetta pun menghampiri Deva dan duduk di sampingnya.
"Aku mampir ke tempat makan dulu, untuk membeli makanan Dev," balasnya.
Lalu tanpa sengaja pandangan Deva mengarah ke tangan Zetta yang memerah akibat menampar Anne.
"Tta, telapak tangan mu kenapa?" tanya Deva
"Oh ini, aku tadi habis memukul ular pengganggu," jawab Zetta.
"Ular pengganggu?" Deva pun mulai kebingungan dengan jawaban dari Zetta.
"Tadi aku bertemu dengan Anne, lalu aku menamparnya bahkan dua kali sampai bibirnya berdarah," ungkap Zetta
Deva pun terkejut mendengar ungkapan dari Zetta.
"Zetta, kenapa kamu menamparnya?"
"Aku menamparnya karena aku ingin membalaskan dendam seseorang yang telah aku tampar dulu," ujar Zetta.
"Hah! Orang yang kamu tampar dulu? Maksud mu itu Zuy?"
Zetta mengangguk. "Iya Dev, kan dulu aku sudah salah paham terhadap Zuy, bahkan sampai aku menamparnya gara-gara hasutan dari Anne. Sampai-sampai kita hampir kehilangan semuanya. Ternyata ucapan mu benar Dev, dia wanita yang baik, aku yang begitu bodoh karena sudah menuduhnya."
"Zuy memang baik Tta, apalagi Bibinya Zuy." ujar Deva.
"Aku jadi ingin bertemu dengannya dan menjadi sahabatnya, tapi aku masih punya rasa malu Dev, karena kelakuan ku yang memalukan itu," kata Zetta
Deva lalu merangkul pundak Zetta dan berkata, "Ya aku mengerti Tta, yaudah kalau begitu kita makan yuk! Mumpung anak-anak masih tidur."
Zetta pun menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah meja makan.
...----------------...
Tak terasa malam hari pun tiba, waktu menunjukan pukul 07.25 Pm. Davin nampak baru pulang dari kerjaannya. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia pun bergegas menuju pintu masuk. Akan tetapi Davin mendengar suara nyaring sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Suara apa itu? Seperti raungan macan? Masa iya ada macan di sini?" duganya.
Davin langsung mencari sumber dari suara tersebut, setelah di telusuri, ternyata sumber suara itu berasal dari rumah kecil yang di tinggali oleh si manis yaitu kucing kesayangan Zuy. Davin lalu membuka pintunya dan betapa terkejutnya Davin melihat si Manis memancarkan sorot matanya yang menakutkan dengan mulutnya yang berdarah.
"Ma-macan gembul!"
Seketika Davin langsung berlari menuju ke arah pintu, sesampainya ia pun memijit bel pintu berulang-ulang. Tak lama Ray membuka pintunya.
Ceklek
Melihat pintu terbuka, ia pun segera masuk, akan tetapi ....
Gedebuk....
Davin malah menabrak dan terjatuh tepat di atas tubuh Ray.
"Kak Davin...!"
"Ma-maaf Tuan Ray, saya tidak sengaja," ucap Davin
Sesaat mereka pun langsung membangunkan diri mereka masing-masing.
"Ada apa sih Kak Davin? Pulang kerja nampak ketakutan gitu, sampai-sampai nabrak segala. Untung aku yang di tabrak bukan Daddy atau sayangku," pekik Ray
"Ma-maaf Tuan Ray, tapi ba-barusan saya lihat a-ada ma-macan gembul di rumahnya si manis," jawab Davin gemetaran.
"Hah! Macan gembul?"
***********************
Rumah Sakit
Di kamar rawat Maria, nampak Eqitna tengah berada di sana sambil menyuapi Maria, karena malam ini Eqitna lembur jadi ia memanfaatkan waktunya untuk menemani Maria yang kalah itu tengah sendirian.
"Eqitna..."
"Iya Kak, apa Kak Maria mau minum?" tanya Eqitna
"Tidak Qi, Kakak cuma mau nanya. Waktu itu kamu yang memeriksa Zuy kan?" tanya Maria.
Eqitna pun mengangguk. "Iya Kak, Eqi yang memeriksanya, bukan hanya Zuy saja, Bibinya pun sama," ujar Eqitna.
"Oh begitu ya...." lirih Maria
"Iya Kak, memangnya ada apa?" tanya Eqitna penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Kakak cuma ingin tahu saja, apa bayi yang di kandungan Zuy sehat atau bermasalah?" ujar Maria.
"Janin yang di dalam kandungannya sangat sehat Kak," balas Eqitna
Mendengar itu Maria pun langsung mengerutkan dahinya, rasa kecewa muncul dalam dirinya. Sesaat Maria menghela nafas panjangnya.
"Haaa... ternyata kandungannya sehat ya? Sayang sekali ya, padahal aku berharap kandungannya bermasalah dan akhirnya keguguran," kata Maria
Sontak membuat Eqitna tersentak kaget.
"Hah! Kak Maria barusan bilang apa? Keguguran?"
***Bersambung
IG: kim_anandin_chan0619
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1