Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Susu Asin...


__ADS_3

<<<<<


Bu Ima pun terkejut, "Apa..!! tapi itu bukan su-su Tuan, itu adalah Beras Kencur.."


"Hah..!!"


Davin pun langsung tercengang saat mendengar perkataan Bu Ima, matanya seketika membulat dan mulutnya pun menganga.


"Tuan, anda kenapa?" tanya Bu Ima yang heran melihat ekspresi Davin.


Lalu Davin tersadar dan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa Bu, cuma terkejut saja," jelasnya, "Oh iya Bu, memangnya beras kencur itu apa?" sambung tanya Davin


"Itu minuman tradisional Tuan, dan manfaatnya juga banyak Tuan, termasuk bisa mengurangi rasa sakit pada perut," jelas Bu Ima.


"Oh, lalu itu minuman sebenarnya punya siapa?" tanya Davin penasaran


"Sebenarnya, minuman itu buat Zuy, sengaja Ibu beli di pasar soalnya Zuy kan lagi datang bulan, perutnya suka sakit," ujar Bu Ima


Seketika Davin langsung terkejut saat mendengarnya, "Apa..!! jangan bilang kalau ini minuman kaya kemaren lagi?"


"Bu-bukan Tuan, ini bukan minuman yang kemaren, tapi ...,"


Belum juga Bu Ima selesai menjelaskan, tiba-tiba Davin langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju ke kamar mandi. Setelah berada di depan kamar mandi, Davin pun langsung memutar handle pintu, namun pintunya terkunci karena ada Zuy di dalam.


Tok Tok Tok


"Siapa yang di dalam?" seru Davin sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Bu Ima pun menghampiri Davin, "Tuan Davin, anda kenapa?"


"Tidak apa-apa Bu, cuma ingin ke kamar mandi saja," jawab Davin


Lalu pintu kamar mandi pun terbuka, dan Zuy langsung keluar dari kamar mandi.


"Ada apa ini, kenapa pada berdiri di depan kamar mandi?" tanya Zuy kebingungan


"Maaf Zuy, tapi ini darurat..!!" seru Davin sembari masuk ke kamar mandi.


Braaaak


Ia pun menutup pintu kamar mandi dengan keras membuat Bu Ima dan Zuy terkejut.


"Pak Davin kenapa Bu?" tanya Zuy ke Bu Ima


"Ibu juga tidak tahu Nak," jawab Bu Ima, lalu kemudian..


Hoeeek.. Hoeeek...


Mendengar suara Davin yang sedang muntah membuat Zuy dan Bu Ima terkejut, lalu Zuy segera mengetuk pintu kamar mandi.


"Pak Davin, apa anda baik-baik saja? Pak Davin.." tanya Zuy yang panik.


Namun tidak ada jawaban, yang ada hanya suaranya yang sedang mengeluarkan isi perutnya.


"Bu Ima, tolong air minum yang hangat untuk Pak Davin..!!" pinta Zuy.


"Baik Nak," balas Bu Ima, lalu ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air hangat.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka, dan Davin langsung keluar dari kamar mandi.


"Uuh leganya, dengan ini pasti aku tidak akan tertular oleh datang bulannya Zuy," lontar Davin mengelus perutnya.


"Pak Davin, apa anda baik-baik saja? apa yang terjadi, kenapa anda bisa muntah seperti itu? apa anda salah makan?" beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Zuy, karena paniknya.


Lalu Davin menatap Zuy dengan heran, "Ada apa Zuy? kenapa pertanyaan mu banyak sekali? aku jadi bingung harus jawab yang mana dulu," papar Davin.


"Yang mana aja terserah Pak Davin," kata Zuy.


"Hmmm, aku mau berfikir sebentar Zuy," ujar Davin


"Berfikir?" tanya Zuy yang bingung


Davin pun menganggukkan kepalanya, "Iya, soalnya bingung mau jawab yang mana dulu dari pertanyaanmu itu."


"Huh... Pak Daviiin, Zuy serius Pak.." pekik Zuy.


"Ahahaha.. maaf Zuy, aku hanya menggoda mu saja," ujar Davin sambil menggaruk kepala belakangnya.


Lalu Bu Ima menghampiri mereka sembari membawa gelas berisi air hangat.


"Ini Pak Davin air hangatnya supaya perut anda nyaman," kata Bu Ima sambil memberikan gelas itu pada Davin.


"Terimakasih Bu," ucap Davin,


Davin langsung mengambil gelas tersebut, perlahan-lahan Davin meneguknya. Setelah itu ia memberikan gelas kosong ke Bu Ima.


"Apa sudah mendingan?" tanya Zuy


Davin pun menoleh ke arah Zuy, "Apanya yang mendingan Zuy? orang saya baik-baik saja," jelas Davin.


"Kan tadi anda muntah Pak Davin...!" pekik Zuy.


"Oh itu karena gara-gara su-su asin tadi," kata Davin


"Su-su asin?"


"Bukan su-su Nak Zuy, tapi beras kencur yang ibu belikan untukmu," sela Bu Ima.


"Apa..!!" Zuy pun terkejut.


Davin langsung menangkupkan kedua tangannya, "Zuy, maaf aku sudah meminumnya, tanpa bertanya dulu, jangan mengutukku ya.." ucap Davin


"Siapa yang mau mengutuk anda Pak Davin, lagian juga beras kencur itu bagus untuk kesehatan apalagi untuk kulit," jelas Zuy.


"Benar apa kata Nak Zuy.." sambung Bu Ima


"Benarkah itu? aah aku menyesal sudah mengeluarkannya dari perutku, aku pikir itu minuman pelancar haid lagi," keluh Davin.

__ADS_1


Mendengar keluhan Davin, Bu Ima pun langsung terkekeh..


"Hihihi, ternyata anda masih trauma ya Tuan, gara-gara kemaren," lontar Bu Ima.


"Kemaren? memang kenapa Bu?" tanya Zuy


"Begini lho nak, kemaren Tuan Davin tidak sengaja meminum jamu pelancar haid milikmu, dia pikir itu adalah jus jeruk," jelas Bu Ima. Lalu..


Pffft...


"Hahaha.. ya ampun Pak Davin, pantas saja Zuy cari-cari gak ada, ternyata anda yang meminumnya.."


Davin pun langsung memalingkan wajahnya, "Ya maaf Zuy, mana aku tahu Zuy, aku cuma taunya kalau itu orange jus, hehehe," ujar Davin, wajahnya pun memerah karena malu.


"Yaudah gak apa-apa Pak, toh udah di minum juga," tutur Zuy.


"Terimakasih Zuy," ucap Davin dengan riangnya, "Aku mau nyarap dulu ah sudah lapar ini," sambungnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.


"Yaudah biar Ibu yang siapkan Tuan, Nak Zuy kamu juga harus banyak makan ya..!!" tutur Bu Ima


Zuy pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bu Ima, oh iya mana yang mau di bawa, sini biar Zuy bantu bawakan sisanya.." tawarnya.


"Iya terimakasih banyak Nak," ucap Bu Ima.


Lalu kemudian Zuy membawa makanannya lainnya yang sudah masak, ia pun berjalan menuju ke meja makan. Setelah itu Zuy langsung meletakkan makanan tersebut di atas meja makan.


"Tuan Muda belum bangun ya Pak?" tanya Zuy


"Sepertinya bayi gede masih tidur pulas," jawab Davin yang tengah mengambil sarapannya, " Oh iya, Zuy tolong kamu bangunkan si bayi gede ya..!!" sambung pinta Davin.


"Ke-kenapa saya Pak?"


"Karena aku lapar Zuy, cacing di perutku sudah berdemo, hehehe..." kata Davin


Zuy lalu menghela nafasnya, "Huu, baiklah Pak Davin," lirihnya.


Zuy segera melangkahkan kakinya ke arah tangga, kemudian ia menaiki anak tangga tersebut menuju ke kamar Ray.


Kamar Ray


Sesaat kemudian, Zuy pun sampai di depan kamar Ray, lalu ia mengetuk pintu kamar Ray.


Tok Tok Tok..


"Tuan Muda, apa anda sudah bangun?" seru Zuy, namun tidak ada jawaban.


"Kenapa Tuan Muda gak menjawab, apa dia masih tidur pulas atau sedang berada di kamar mandi?"


Zuy kemudian memutar handle pintu kamarnya Ray dan mendorong pelan hingga pintu terbuka, ia pun langsung masuk ke kamar sambil mengedarkan pandangannya, karena Zuy takut kalau Ray tiba-tiba muncul dari kamar mandi dan menjahili Zuy lagi seperti waktu itu. (bab.77)


Lalu ia beralih memandang ke arah tempat tidurnya Ray, dan ternyata Ray masih tertidur pulas, Zuy pun langsung berjalan mendekat ke tempat tidurnya Ray. Sesampainya, Zuy langsung duduk di tepi ranjang milik Ray, ia pun segera membangunkan Ray.


"Tuan Muda, ayo bangun..!!"


"Heung.. Ray masih ngantuk Mom, tunggu lima menit lagi, baru Ray bangun buat sekolah," erang Ray yang belum sadar.


Namun Ray malah tertidur lagi, lalu Zuy merapihkan rambut Ray yang menutupi matanya. Ia pun tersenyum melihat Ray yang tengah tertidur.


"Pasti Tuan Muda sangat kelelahan dan lagi ini rambutnya sudah panjang dan hampir menutupi matanya," lontar Zuy.


Ia pun melepaskan tali rambut yang mengikat di rambutnya, kemudian ia mengikat rambutnya Ray ke atas, setelah selesai Zuy pun langsung terkekeh melihat Ray dengan rambut yang terikat.


"Hihihi, lucu juga rambutnya di ikat seperti itu, hmmm sebelum Tuan Muda bangun, aku harus segera pergi, jangan sampai Tuan Muda tahu apa yang aku lakukan padanya," lirih Zuy


Zuy segera bangkit dari posisinya, namun saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangan Zuy tertahan karena di pegang oleh Ray, sontak membuat Zuy terkejut dan menoleh ke arah Ray.


"Tu-Tuan Muda, apa anda sudah bangun?" tanya Zuy.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Zuy, Ray malah menarik tangan Zuy, sontak membuat Zuy terjatuh di atas tubuhnya Ray. Ray langsung mendekap tubuh Zuy dengan erat, lalu Ray mengubah posisinya sehingga membuat Zuy berada di bawahnya, ia pun mengunci kedua tangan Zuy dengan satu tangannya.


"Tuan Muda.."


"Mau pergi kemana sayangku, apa sayangku mau kabur setelah apa yang sayangku lakukan padaku?" pekik Ray sambil menatap lekat mata Zuy.


Zuy pun memalingkan wajahnya, "Me-memangnya Zuy ngelakuin apa Tuan?" tanya Zuy yang pura-pura tidak mengetahui.


"Sayangku, jangan pura-pura seperti itu, bukankah ini hasil karya sayangku?" Ray menunjuk ke arah rambutnya yang terikat.


Zuy kembali melihat ke arah Ray, lalu kemudian..


Pffft..


"Hahaha..." tawa Zuy pun lepas melihat Ray dengan rambut ikatnya.


Mendengar itu Ray mengerutkan dahinya, "Apa ada yang lucu, sayangku?"


Zuy langsung menghentikan tawanya, "Ah maaf Tuan Muda, tapi anda benar-benar sangat lucu dan menggemaskan dengan rambut ikat seperti itu, jadi mirip dengan Nara dan karakter teletabies berwarna hijau itu," ucap Zuy.


"Oh jadi aku lucu seperti karakter teletabies ya, dasar sayangku ini sekarang semakin jahil ya," ujar Ray melepaskan rambut yang ikatnya.


"Ya habisnya Tuan Muda tadi Zuy bangunin, gak bangun-bangun, yaudah Zuy jahilin aja sekalian," jelas Zuy memanyunkan bibirnya.


Melihat Zuy seperti itu, Ray pun merasa gemas, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Zuy, membuat Zuy tercengang.


"Tu-Tuan Muda, apa yang mau anda lakukan?" tanya Zuy


"Tidak ada sayangku, hanya saja Ray ingin ...," lalu kemudian Ray menggelitik pinggang Zuy.


"Aaaaaaah.. geli Tuan Muda, ampun..!!" teriak Zuy


"Tidak ada ampun buat sayangku yang jahil ini," ujar Ray yang terus menggelitiki Zuy.


Saking kegelian akibat ulah Ray, Zuy pun meneteskan air matanya, melihat itu Ray langsung menghentikan aksinya.


"Sayangku, maaf.. Ray gak bermaksud membuat sayangku menangis," ucap Ray memasang wajah memelas.


"Aduuh Tuan Muda, siapa yang menangis, Zuy hanya kegelian saja, jadi air mata Zuy mengalir," ungkap Zuy

__ADS_1


Raut wajah Ray pun langsung sumringah, lalu ia memeluk erat Zuy dan mencium pipi dan leher Zuy. Lalu tiba-tiba..


"Ehemmm.. kalau mau bikin telinga, pintu di tutup dong..!!" seru seseorang dari arah pintu.


Mereka pun terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.


"Kak Yiou, Kak Davin..!!" ucap Ray, ternyata suara itu berasal dari Yiou.


Lalu ia segera bangkit dari posisinya, begitu pula dengan Zuy. Yiou dan Davin langsung menghampiri Ray dan Zuy.


"Mrs Yiou," sapa Zuy


"Hai Baby... maaf ya Baby, aku mengejutkan kalian, habisnya kalian mau bikin telinga, pintu di biarin terbuka lebar, kasihan kan Davin yang dari tadi berdiri menempel di tembok kaya cicak," ujar Yiou


"Lho kok saya di bawa-bawa, bukannya Mrs Yiou yang menarik tanganku kesini," pekik Davin.


Yiou pun menoleh ke arah Davin, "Sssht..!!"


Seketika Davin langsung memutar bola matanya, "Dasar Mrs Yiou, sikap bar-bar nya mirip sekali dengan seseorang," batin Davin.


"Tante, tumben pagi-pagi sudah datang kesini, ada perlu apa?" tanya Ray memasang wajah ramah.


"Tuan dingin, bukannya kamu kemaren menghubungiku dan menyuruhku untuk datang kesini sekalian membawakan sweater pesananmu itu," jelas Yiou dengan nada kesal.


"Oh iya, maaf Kak Yiou Ray benar-benar lupa, hehehe.."


Mendengar perkataan Ray, Yiou pun merasa kesal, lalu ia menyentil keras jidat Ray.


Bletaak..


"Aaaw.. sakit Tante.." rintih Ray


"Tuan Muda, apa anda baik-baik saja?" tanya Zuy,


Yiou pun menyilangkan kedua tangannya di dadanya, "Lagian umur masih muda tapi sudah pelupa.."


"Ya maaf, namanya juga lupa, pasti gak mandang umur Tan," balas Ray.


"Hah, kalau urusan debat kamu memang juaranya ya Tuan dingin," pekik Yiou,


Ray langsung terkekeh, begitu pula dengan Davin, sedangkan Zuy hanya tertunduk diam saja. Yiou lalu melirik ke arah Zuy.


"Baby ada apa? kenapa kamu diam saja?" tanya Yiou


Zuy langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Yiou, "Aah maaf Mrs Yiou, Zuy hanya tidak enak saja,"


"Ya ampun My Baby, jangan seperti itu dong, aku ini juga Kakakmu lho," ujar Yiou memegang pundak Zuy.


"Lebih tepatnya Tante.." sela Ray.


Yiou menatap tajam Ray, "Diam kau..!!"


"Iya Tante.."


"Dasar Tom dan Jerry, ribut terus kalau sudah ngumpul.." gerutu Davin membuat Ray dan Yiou menatap tajam Davin.


"Diam..!!" ucap Ray dan Yiou bersamaan.


Seketika Davin langsung menciut dan terdiam, Zuy yang melihatnya pun terkekeh.


"Baby, aku kelelahan, bisa kau antar aku ke kamarmu.!!" pinta Yiou


"Kenapa harus kamar Zuy sih Kak, kan masih banyak kamar kosong di sini.." ujar Ray.


Yiou pun berdecak, "Berisik..!! ayo Baby kita pergi ke kamar mu..!!" ia langsung menarik tangan Zuy dan membawanya keluar dari kamar Ray.


"Hmmm, sepertinya ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh Kak Yiou pada sayangku, tapi apa ya? hei Kak Davin, apa Kakak tau tujuan Kak Yiou?"


"Jangan tanya aku, aku hanya seekor ikan," gumam Davin.


"Tsk, dasar adonan moci," gerutu Ray.


Kamar Zuy


Setelah berada di kamar Zuy, Yiou pun langsung mendudukan dirinya di tepi ranjang.


"Baby, duduk sini...!!" titah Yiou pada Zuy.


Zuy menganggukkan kepalanya, lalu ia mendekat ke arah Yiou dan duduk di sebelahnya.


"Hei, santai saja jangan gerogi gitu dong, aku ini juga keluarga mu sekarang.." ujar Yiou.


"Maaf Mrs, cuma Zuy agak canggung aja," ungkap Zuy.


Yiou pun langsung tersenyum, kemudian ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berbentuk hati. Lalu ia memberikan kotak berbentuk hati tersebut pada Zuy.


"A-apa ini Mrs Yiou?!!" tanya Zuy yang kebingungan.


"Buka saja Baby..!!" titah Yiou


Lalu Zuy langsung membukanya, ternyata isi dari kotak tersebut adalah sebuah gelang berlian cantik dan tertera huruf V di gelang tersebut, sontak membuat Zuy tercengang melihatnya.


"Mrs Yiou, i-ini ...!!"


"Itu gelang warisan keluarga Vallery, semua keturunan Vallery memiliki gelang seperti itu semua. Sebenarnya gelang yang kamu pegang itu adalah milik Candika. Sebelum meninggal, ia pernah menitipkan pesan padaku untuk memberikan gelang tersebut kepada pendamping Ray nanti, dan berhubung pendamping Ray adalah kamu, maka aku memberikan gelang itu padamu Baby, karena kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Vallery," ungkap Yiou.


Mendengar ungkapan Yiou membuat Zuy terdiam sesaat, lalu..


"Apa kau bisa menyimpan dan memakai gelang ini, Baby?!!" tanya Yiou pada Zuy.


Zuy lalu menundukkan kepalanya, "Euum.. soal itu Zuy ...."


***Bersambung


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2