
<<<<<
Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy, "Aktivitas membuat telinga anak kita, sayangku.."
"Hah..! A-anak ki-kita?!!"
Lontar Zuy yang terkejut mendengar bisikan Ray, sesaat Ray menjauhkan wajahnya dari telinga Zuy, kemudian ia memegang dagu Zuy.
"Iya sayangku anak kita, buah cinta kita berdua," jelas Ray membuat Zuy tercengang, lalu kemudian ...,
Blush...!!
Deeeg...!!
Bukan hanya wajahnya yang memerah, jantungnya pun berdegup kencang tak beraturan. Zuy lalu menatap tajam Ray.
"Lagi-lagi dia menggodaku, Aah... pasti wajahku sekarang benar-benar ungu," batin Zuy
"Sayangku, apa kau sedang berfikir kalau aku sedang menggodamu?" tanya Ray
"Hah! bagaimana anda tahu kalau Zuy sedang berfikiran seperti itu?"
Ray pun tersenyum dan berkata, "Tentu saja aku tahu sayangku, karena setiap aku menggodamu pasti wajahmu akan memerah seperti itu."
"Aaaach.. ternyata benar kalau anda sedang menggodaku lagi," pekik Zuy, lalu ia langsung membalikan badannya membelakangi Ray.
Melihat pujaan hatinya terlihat kesal, Ray langsung mendudukkan dirinya di samping Zuy, kemudian ia melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy dan menempatkan dagunya di bahu Zuy.
"Sayangku, jangan marah seperti itu, Ray tidak bermaksud menggodamu lagi, Ray benar-benar minta maaf sayangku," ucap Ray.
Mendengar ucapan Ray, Zuy pun menghela nafasnya, lalu ia membalikkan badannya dan menyandarkan kepalanya di dada Ray.
"Sayangku, apa kamu memaafkan ku?"
"Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan mu Ray, walaupun kamu sangat menyebalkan, selalu menggodaku, akan tetapi Zuy tidak bisa marah terhadap mu," ungkap Zuy.
Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ray, kemudian ia memegang pipi Ray, senyumannya terukir di wajah cantiknya.
"Sayangku..."
"Iya Zuy memaafkanmu Ray," ucap Zuy
Saking bahagianya dengan ucapan Zuy, Ray langsung memeluk Zuy dengan erat.
"Sayangku, terimakasih sudah memaafkan ku,"
"Iya Ray, tapi jangan erat-erat meluknya, Zuy gak bisa nafas ini," pekik Zuy
Mendengar itu, Ray langsung melepaskan pelukannya, kemudian ia mengangkat dagu Zuy sehingga pandangan mereka saling bertemu. Tatapan mereka pun semakin dalam dan penuh nafsu sehingga akhirnya Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy, lalu ia mengecupnya dengan lembut dan mesra, membuat Zuy tenggelam di dalamnya. Sesaat setelah puas dengan aksinya, mereka pun menghentikan aktivitasnya.
...----------------...
Tak terasa malam telah berlalu, pagi pun menyapa di iringi hujan salju yang begitu lebat.
Zuy nampak masih tertidur lelap di atas tempat tidurnya, dengan selimut yang masih menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian ia mulai terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka matanya yang masih sayu sambil mengusap-ngusap matanya.
"Awww, badanku terasa sakit," rintih Zuy meregangkan otot-ototnya.
Saat pandangannya mengarah ke samping, ia terkejut melihat Ray yang masih tertidur lelap di sampingnya.
"Tu-Tuan Muda, kenapa berada di sini lagi?"
......................
°Beberapa Jam Sebelumnya
"Sayangku, apa kamu sudah siap?" tanya Ray
Zuy pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Zuy sudah siap Ray," jawab Zuy
"Yaudah ayo kita mulai..!!"
Lalu Ray mematikan lampunya, sehingga kamar tersebut menjadi gelap.
"Kenapa harus di matiin lampunya Ray?" tanya Zuy
Ray mendekatkan wajahnya ke arah telinga Zuy, "Supaya enak sayangku," bisik Ray
"Oh begitu ya.." lirih Zuy
"Iya sayangku yang cantik."
Kemudian ia menjauhkan wajahnya dari telinga Zuy dan sekilas mencium pipi Zuy, lalu Ray segera menyalakan laptopnya, dan mencari film yang akan mereka tonton, setelah dapat, Ray langsung memutar filmnya.
"Hah...! akhirnya bisa nonton berduaan dengan sayangku ini," ujar Ray yang kegirangan.
"Hmmmm, ternyata hukumannya di suruh nemenin anda nonton ya, Tuan Muda."
"Iya memang apalagi, apa sayangku ingin yang lebih dari pada menonton?" tanya Ray menggoda
Mendengar pertanyaan Ray, Zuy pun memutar bola matanya.
"Mulai lagi deh penyakit godanya," pekik Zuy.
"Hahaha, habisnya sayangku lucu kalau di goda."
"Rayyan, kalau masih menggoda, Zuy tinggal tidur nih.."
"Iya maaf sayangku, yaudah ayo kita lanjut nontonnya..!"
Zuy pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua melanjutkan nonton filmnya, dari film romantis, komedi, horor, bahkan Action, masing-masing berdurasi dua jam lebih. Ketegangan terjadi pada saat mereka menonton film horor, di mana Ray selalu menempel pada Zuy dan memeluknya, Zuy yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Hihihi, dasar Tuan Muda," batin Zuy.
__ADS_1
Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai menyerang Zuy, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Ray, sesaat ia pun memejamkan matanya dan tertidur.
"Kasihan sayangku, pasti dari tadi sayangku sudah mengantuk, untuk hari ini cukup sampai di sini saja nontonnya," lirih Ray sambil mengelus kepala Zuy.
Kemudian ia mematikan laptopnya dan bangkit dari tempat duduknya. Ray mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya dengan gaya bridal style menuju ke tempat tidurnya. Sesampainya Ray merebahkan tubuh Zuy di atas kasur, setelah itu ia segera merebahkan dirinya juga tapat di samping Zuy dan memeluknya. Tak lama ia pun tertidur juga.
Hayo pada Travelling kemana-mana lagi nih.. Hahaha.. (Author nimbrung)
°Flashback End
......................
"Hah..!! aku lupa semalam kan begadang sama Tuan Muda, gara-gara mengantuk jadi aku ketiduran, tapi gak sangka Tuan Muda menggendongku ke kasur, sampai ia ikut tidur di sini juga," lirih Zuy mengelus kepala Ray.
Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, Zuy segera keluar dari kamar mandi.
"Hmmm, mumpung Tuan Muda masih tidur, lebih baik aku keluar pesan makanan dulu," lirih Zuy
Zuy mengambil sweaternya yang tergantung dan memakainya, lalu ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah. Sesampainya di sana, ia melangkahkan kakinya ke arah luar resort, akan tetapi ...,
"Nyonya.." sapa Henri yang baru saja keluar dari kamarnya.
Zuy pun menghentikan langkahnya dan menoleh, "Tuan Henri, sudah bangun?"
Henri menganggukkan kepalanya dan menghampiri Zuy, "Nyonya, anda mau kemana?" tanya Henri
"Zuy mau keluar beli makanan, Tuan Henri," jawab Zuy
"Nyonya, berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, panggil saja aku Henri," pinta Henri.
"Kamu juga selalu memanggilku Nyonya,"
"Ya karena anda Nyonya kami, jadi kami harus memanggil anda Nyonya, dan lagi Tuan Ray pasti akan memotong gaji kami, jika kami tidak menuruti perkataannya untuk memanggil anda dengan sebutan Nyonya," jelas Henri.
"Oh seperti itu ya."
Henri pun menganggukkan kepalanya, "Iya Nyonya."
"Hmmm, dasar Tuan Muda ada-ada saja, yaudah kalau begitu aku ke depan dulu ya,"
"Nyonya, biar saya temani anda..!" tawar Henri
Mendengar tawaran dari Henri, Zuy langsung mengibas tangannya, "Tidak perlu Tuan eeh maksudku Henri, Zuy bisa sendiri," tolak Zuy.
"Tapi Nyonya nanti kaya kemaren lagi," lirih Henri menundukkan kepalanya
Melihat Henri menundukkan kepalanya, Zuy pun langsung menghela nafasnya, "Haaa.. baiklah Henri, kau boleh temani aku..!"
"Siap Nyonya,"
Lalu kemudian Zuy kembali melangkahkan kakinya menuju keluar, di ikuti oleh Henri.
****************
Perusahaan CV
Sementara itu pada saat jam istirahat tiba, Airin nampak tengah asik duduk di kantin sambil menikmati makanannya, lalu tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya
Mendengar itu, Airin pun langsung mengangkat kepalanya, "Lho Pak Davin! kenapa anda ada di sini?"
"Memangnya kenapa, gak boleh ya?"
"Bu-bukan begitu Pak, hanya saja ...,"
"Aku mengerti maksudmu Rin, ya sebenarnya aku datang kesini karena aku ingin makan di sini, soalnya aku udah bosan makan di luar terus," ujar Davin.
"Oh, hmmm Pak Davin,"
Davin pun menoleh, "Iya Rin.."
"Dari tadi Airin penasaran lho sama wajah Pak Davin, bukannya semalam pada lebam, kenapa sekarang mulus lagi?" tanya Airin penasaran
Lalu Davin pun menyunggingkan senyumannya dan berkata, "Kamu lupa ya Rin, semalam aku sudah bilang ke kamu, besok juga sembuh."
"Ta-tapi itu mustahil Pak Davin, soalnya yang Airin tahu luka lebam sembuhnya sekitar dua atau tiga hari Pak," papar Airin.
Mendengar itu, Davin pun langsung terkekeh, "Hihihi, kamu sangat teliti ya, ya sebenarnya lebam ku masih, cuma aku tutupin aja pake Concealer," jelasnya.
"Oh begitu ya Pak, anda memang tahu segalanya kalau sudah urusan dengan wajah, hahaha..."
"Hahaha, ya jelas donk Davino Roveis gitu lho.." kata Davin dengan bangganya.
"Huh dasar Pak Davin, tapi untuk yang semalam Airin benar-benar berterimakasih lho pada anda Pak Davin karena telah menolong ku dari preman-preman itu," ucap Airin
Davin pun tersenyum saat mendengar ucapan Airin, kemudian ia mendaratkan tangannya ke kepala Airin.
"Kamu ya, sudah berapa kali berterimakasih padaku, apa ucapan itu masih belum habis Rin? sehingga harus mengucapnya berkali-kali," papar Davin mengusap rambut Airin.
"Kalau untuk kata terimakasih mah tidak ada habisnya Pak Davin, dan lagi ...," Airin menatap tajam Davin
Melihat tatapan tajam Airin, Davin pun langsung bertanya, "Hmmm, kenapa tatapanmu seperti itu Rin? Apa ada sesuatu?"
Airin pun berdecak, "Ck, dasar Pak Davin, coba anda lihat tangan anda ada dimana?"
Davin langsung menoleh ke arah tangannya yang tengah memegang Airin, melihat itu, Davin segera menurunkan tangannya dari kepala Airin.
"Kebiasaan suka bikin berantakan rambutku," pekik Airin
"Ahahaha, maaf Rin aku gak sengaja," ujar Davin sambil menggaruk kepalanya
Airin pun memutar bola matanya dengan malas, "Huh, benar-benar Pak Davin ini."
__ADS_1
Sementara itu di tempat yang sama, terlihat Brian yang berada tak jauh dari Airin, tengah asik duduk akan tetapi pandangannya tertuju pada Davin dan Airin yang tengah mengobrol bersama, dan itu sangat membuatnya cemburu.
"Rin, sepertinya memang benar kamu lebih bahagia bersama Pak Davin, di bandingkan dengan ku," batin Brian, lalu kemudian...
"Kak Brian ada apa? kenapa melihat kesana terus?" tanya Salsa yang berada di sampingnya.
Sesaat Brian pun tersadar, lalu ia melihat ke arah Salsa.
"Iya Sa, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa Kak, hehehe"
"Oh, yaudah kalau gitu kita lanjutin makannya..!" ajak Brian.
Salsa pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Brian.
"Kak Brian, coba dong buka dikit hati Kakak untukku dan lupakan Airin itu," batin Salsa
Lalu ia pun melanjutkan makannya bersama Brian.
*************
Rumah Sakit
Sementara itu di rumah sakit, Bi Nana masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya, Pak Randy pun terus menjaga Bi Nana, lalu kemudian Aries datang bersama Nara.
"Om Randy.."
"Papih.."
Pak Randy pun langsung menoleh, "Oh kalian sudah datang,"
"Iya Om, oh iya ini Aries bawa makanan untuk Om, kita makan dulu yuk..!" ajak Aries.
Pak Randy pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ries, kebetulan Om juga sudah lapar, tadi sarapan cuma dikit."
"Yaudah kalau gitu Om makan yang banyak ya, Nara juga mau makan?" tanya Aries ke Nara.
"Tidak Kak, Nara mau duduk di samping Mamih,"
"Oh yaudah kalau begitu, Nara jagain Mamih bentar ya, Papih mau makan dulu," titah Pak Randy.
Nara pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian Pak Randy dan Aries langsung menyantap makanannya. Sedangkan Nara langsung duduk di kursi dekat Bi Nana.
'Dalam Mimpi Bi Nana'
"Aku ada di mana? kenapa banyak bunga di sini? apa aku benar-benar sudah pergi?" tanya Bi Nana yang keheranan melihat tempat indah dan di sekelilingnya di penuhi bunga.
Lalu seseorang datang menghampiri Bi Nana, "Nana.." panggilnya.
Mendengar namanya di panggil ia pun langsung menoleh, betapa terkejutnya Bi Nana melihat pria yang sangat di rindukannya berdiri di hadapannya dan ternyata dia adalah
"Kak Jordhan..!!" ucapnya, (Jordhan adalah nama Papahnya Zuy)
Ia pun menganggukkan kepalanya, "Iya Na, ini aku Jordhan,"
Seketika Bi Nana langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
"Kak Jordhan, akhirnya Nana bisa melihat Kak Jordhan lagi, Nana benar-benar merindukan Kakak," kata Bi Nana sambil menangis di pelukan Jordhan.
"Na, aku juga merindukanmu, makanya aku datang menemuimu dan membawa mu kesini," ujar Jordhan.
Mendengar perkataan Jordhan, Bi Nana langsung melepaskan pelukannya.
"Kak, Kakak membawa Nana ke sini, berarti Nana sudah pergi ninggalin semuanya?" tanya Bi Nana
"Tidak Na, kamu masih bisa kembali ke dunia mu,"
"Oh Syukurlah kalau begitu,"
"Na, terimakasih banyak kamu sudah merawat anakku dengan baik, sehingga ia tumbuh menjadi anak yang baik dan cantik, walaupun wajahnya sangat mirip sekali dengan ibunya," ucap Papahnya Zuy
Mendengar ucapan dari Papahnya Zuy, Bi Nana pun langsung tertegun dan memegang tangan Papahnya Zuy.
"Kak, tidak perlu berterimakasih padaku, bukankah sudah kewajibanku merawatnya, karena dia adalah satu-satunya peninggalan yang Kakak berikan pada Nana, ya walau Nana masih banyak kekurangan dalam membesarkannya, sehingga ia hidup dalam kesusahan, maaf ya Kak.."
Papahnya Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak Na, kamu membesarkannya dengan baik, justru aku yang minta maaf karena aku sudah merepotkanmu, coba saja kalau aku tidak pergi, pasti kita bisa merawatnya bersama-sama dan aku juga bisa melindunginya, haaa... rasanya ingin hidup sekali lagi, aku benar-benar menyesal telah meninggalkan kalian,"
"Kak, jangan sesali yang sudah terjadi, mungkin sudah takdir kita Kak, dan lagi Zuy sekarang sudah bahagia dengan seseorang yang menyayanginya," ujar Bi Nana
"Na, sebenarnya sebelum aku menemuimu, aku sudah menemuinya terlebih dahulu, dan kau memang benar bahwa dia sangat bahagia bersama orang yang dia sayangi,"
Bi Nana pun terkejut mendengar perkataan Papahnya Zuy, "Jadi Kakak sudah menemuinya?"
"Iya Na, karena aku sangat khawatir padanya, dan itu sangat membuatku tidak tenang di sana, sehingga aku datang menemuinya secara langsung."
"Syukurlah kalau begitu, dia pasti sangat bahagia bertemu denganmu Kak,"
"Iya kamu benar Na, dia sangat bahagia melihatku. Oh iya Na, aku titip pesan padamu, tolong sampaikan pada pemuda yang telah menculik anakku itu (Ray), agar dia selalu menyayanginya, melindunginya dan membahagiakannya. Jangan sampai anakku kenapa-napa lagi, apalagi sampai menangis. Tolong ya Na..!!" pinta Papahnya Zuy.
Lalu Bi Nana mengangguk, "Iya, nanti Nana akan sampaikan pesan Kakak."
"Yaudah kalau begitu, aku pergi dulu ya Na, cepatlah sembuh karena mereka masih membutuhkan mu, terutama anakku, sampai jumpa lagi Na."
Seketika cahaya mengelilingi tubuh Papahnya Zuy, sesaat ia pun menghilang dari pandangan Bi Nana.
"Terimakasih sudah menemuiku dan Zuy Kak, pesan Kakak akan segera Nana sampaikan padanya, tenanglah Kakak di sana, kami selalu mendoakanmu Kak," ucap Bi Nana,
Lalu Bi Nana pun melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan tempat itu.
***Bersambung..
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌