
<<<<<
Maria pun langsung memutuskan telponnya.
"Semoga ini awal yang baik untuk kebahagiaan-mu Mam."
Setelah selesai mengobrol dengan Maria lewat telpon, Archo meletakkan hpnya di atas meja dan melanjutkan kembali aktivitas sarapannya, akan tetapi saat ia hendak memasukan makanannya ke dalam mulutnya, tiba-tiba ...,
Kling...
Bunyi suara chat masuk dari hpnya, sontak membuat Archo mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali sendok yang ia pegang di atas piring, kemudian ia mengambil hpnya lagi dan melihat isi chat masuk di hpnya.
[Chat]
Dokter Dimas
π² Tuan Archo, apa anda masih di kota ini atau sudah kembali ke Amerika?β (Dimas)
β Saya masih di sini Dokter Dimas, apa ada perlu dengan saya?π² (Archo)
π² Bukan saya yang ada perlu dengan anda tapi Bunda. Beliau meminta mu datang ke rumah!β (Dimas)
β Oh begitu ya, tolong bilang ke Bunda, besok saya akan ke rumah.π² (Archo)
π² Baiklah kalau begitu, akan saya sampaikan ke Bunda, maaf sudah mengganggu anda. β (Dimas)
Chat pun berakhir.
"Gak sabar nunggu besok, bagaimana reaksi Nyonya Artiana saat bertemu dengan Mam Maria," lirih Archo, senyumnya pun terukir di wajahnya.
Archo lalu melanjutkan sarapannya kembali.
**************
Perusahaan CV
Β°Ruang Ceo
Ray tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memandang ke arah kertas note berwarna pink yang ia pegang, senyumnya pun mengembang di wajahnya.
"Aah sayangku, kamu benar-benar penyemangatku," lontar Ray, ternyata kertas itu dari Zuy dan terdapat tulisan tangannya.
Tampan-ku Rayyan, selamat bekerja dan semangat selalu ya! ;-) I LOVE YOU :-*
^^^Zuy^^^
Begitulah isi tulisan yang di kertas tersebut.
Ternyata pada saat Zuy membersihkan ruangan Ray, ia sempat menuliskan pesan penyemangat untuk Ray.
"Jadi kangen, ingin memeluk dan menciumnya lagi, tapi bagaimana caranya supaya sayangku datang ke sini?" lirihnya sembari memegang kepalanya.
Kemudian Ray mengambil hpnya di saku jasnya, lalu ia menyentuh icon chat dan mengetik sebuah pesan. Setelah selesai, ia pun langsung mengirim chat tersebut pada pujaan hatinya itu.
Pantry
Sementara itu, beberapa saat sebelumnya, setelah selesai dengan kerjaan, Airin dan Zuy langsung mendudukan dirinya masing-masing d kursi yang berada di Pantry.
"Duh badanku benar-benar sakit semua," rintih Zuy sembari meregangkan otot-otot tangannya.
"Lama libur sih, jadi sekalinya kerja langsung badan pada sakit," papar Airin.
"Ahahaha.. Sepertinya kamu benar Rin," balas Zuy, "Sebenarnya bukan karena itu, tapi ini gara-gara Ray yang terlalu sadis," batin Zuy.
"Zuy..."
Zuy menoleh, "Iya Rin ada apa?"
"Euum bisakah nanti pulang kerja kamu mampir ke Kosan-ku sebentar?! Soalnya ada Mamah dan beliau nanyain kamu terus."
"Apa! Mamah datang? Waah lama Zuy gak bertemu dengan Mamah, oke Zuy akan ke Kosan-mu Rin," kata Zuy.
"Benarkah?!"
Zuy mengangguk, "Tentu benar Rin, lagian Zuy juga ingin bertemu dengan Mamah dan Rion."
"Terimakasih banyak Kakak Zuy," ucap Airin dengan bahagianya, ia pun langsung memeluk Zuy.
"Dasar kamu Rin, jangan memanggilku Kakak!" pinta Zuy
Airin pun melepaskan pelukannya, "Hehehe maaf Zuy, oh iya aku penasaran nih, selama di Swedia kamu ngapain aja Zuy? terus apa Swedia itu indah?" tanyanya.
Zuy lalu mengangkat kepalanya sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Swedia itu sangat indah Rin, banyak tempat-tempat menarik di sana, ya walaupun di sana sedang turun salju. Kami di sana jalan-jalan, bermain ski, menghadiri acara temannya Tuan Muda, dan lagi ...," ujar Zuy, namun seketika Zuy terdiam, wajahnya pun memerah.
"Dan lagi apa Zuy? Kenapa tiba-tiba diam? Lalu kenapa wajahmu memerah gitu? apa jangan-jangan ...," tanya Airin penasaran
Zuy mengibas tangannya, "Aku gak apa-apa Rin, mungkin hawanya panas makanya wajahku memerah," elak Zuy.
"Oh begitu ya, lalu lanjutannya?"
"Iya dan lagi di sana, kalau malam hari suka ada nampak cahaya hijau di langit," ujar Zuy
"Maksudmu aurora?"
Zuy menganggukkan kepalanya, "Iya aurora Rin,"
"Aaah, jadi pengin di ajak kesana," kata Airin.
"Hmmm, minta aja sama Pak Davin," goda Zuy
"Ya kalau dia ma ..., eeh kenapa kamu bawa-bawa Pak Davin sih," gerutu Airin, namun nampak dari wajahnya yang memerah.
"Ehemmm, sepertinya aku ketinggalan info ya, hehehe." ledek Zuy.
"Berhenti meledekku Zuy!" pekik Airin sambil mencubit pipi Zuy.
"Aaaah, iya-iya ampun Rin, hahaha." tawa Zuy, Airin pun menurunkan tangannya dari pipi Zuy, lalu kemudian ...,
Tiing..
Mendengar hpnya berbunyi, Zuy langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan hpnya, kemudian ia melihat ke layar hpnya.
"Suamiku? sejak kapan aku mempunyai nomer kontak dengan nama suamiku?" lirih Zuy yang keheranan.
"Kenapa Zuy?" tanya Airin.
"Tidak apa-apa Rin, sebentar ya!"
Airin menganggukkan kepalanya, kemudian Zuy menekan icon chat, lalu ia segera membacanya.
[Chat]
Suamiku
π² Sayangku, tolong buatkan kopi untuk ku! Karena mataku mulai mengantuk, oke sayangku. ;-) β
"Hah! ternyata ini kamu Ray," batin Zuy. ia pun segera membalas pesan dari Ray.
Setelah itu Zuy langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Zuy kamu mau kemana?" tanya Airin.
"Mau buatin kopi, Tuan Muda minta kopi Rin," jawab Zuy.
"Ehemmm, modus tuh Tuan Bos minta di bikinin kopi, padahal aslinya pengin berduaan dengan pujaan hatinya, hahaha." ledek Airin
Mendengar ledekan Airin, Zuy menoel pipi Airin, "Kamu ya, kalau Tuan Muda dengar, kamu pasti di pelototin Rin, hahaha."
"Ah iya benar juga ya."
"Yaudah aku buat kopi dulu, setelah itu aku langsung ke atas."
"Oke Zuy.."
Lalu Zuy segera membuatkan kopi untuk Ray.
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
Ruang Ceo
Ray terus menatap ke arah hpnya, berharap dapat balasan chat dari pujaan hatinya. Lalu ...,
Hatchuuuuu....
Tanpa angin dan hujan, Ray tiba-tiba bersin membuatnya berkerut kening.
"Siapa sih yang mengutukku..!!" pekik Ray sambil menggosok-gosok bawah hidungnya.
Kling...
Suara chat masuk dari hpnya, membuat Ray tersenyum bahagia, ia pun segera membaca isi chat tersebut.
[Chat]
__ADS_1
β₯My Beloved Wife β₯
π² Baiklah Ray, akan aku buatkan.β
Setelah selesai membaca chat dari Zuy, Ray langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia pun berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Yeaaah, sayangku akan ke sini," lontarnya.
Tak lama kemudian ...,
Tok Tok Tok
Mendengar suara ketukan pintu, ia segera berhenti dari aksinya, lalu ia mengambil map berkas di atas meja dan pura-pura membacanya.
"Masuk!!"
Seseorang pun langsung membuka pintunya dan ternyata itu Zuy.
"Tuan Muda, ini kopi anda," ujar Zuy sambil berjalan masuk.
"Oh kamu Zuy, letakkan kopinya di atas meja!" titah Ray.
Zuy mengangguk, kemudian ia meletakkan kopinya di atas meja.
"Yaudah kalau gitu Zuy kembali ke Pantry dulu," pamit Zuy.
Lalu ia memutar badannya dan melangkahkan kakinya menuju keluar, akan tetapi Ray malah memeluknya dari belakang.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan?"
"Sayangku, kita hanya berdua saja, jangan terlalu formal gitu!"
"Hah..!!" Zuy memutar badannya kembali dan menghadap ke arah Ray, "Ray, jangan seperti ini, kita lagi di kerjaan! kan sesuai dengan perjanjian kita, kalau di kerjaan kita adalah Atasan dan bawahan." pintanya.
"Ray tau sayangku," ujar Ray.
"Lalu..."
Tanpa aba-aba, Ray mengangkat tubuh Zuy dan menempatkannya di atas meja kerjanya.
"Ray, jangan seperti ini!" pekik Zuy
"Memangnya kenapa sayangku? Apa kau tidak menyukainya?"
Zuy menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu Ray, takutnya tiba-tiba ada yang datang," ujar Zuy.
"Sayangku ini Kantor-ku, tidak ada yang berani masuk, kecuali aku menyuruhnya," papar Ray sambil mengetuk-ngetuk hidung Zuy.
Ray lalu memegang pipi Zuy, ia mendaratkan bibirnya ke kening Zuy dan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Zuy, akan tetapi ...,
Braaaak...
Seseorang tiba-tiba membuka pintu dengan kencang membuat Ray dan Zuy terkejut.
"Tuan Ray, ini proposal yang anda perlukan untuk rap..., eeh.."
Mendengar suara tak asing, Ray dan Zuy langsung menoleh ke arahnya.
"Pak Davin..!!"
"Kak Davin..!!"
Ternyata yang datang Davin, lalu Davin segera menutup matanya.
"Aku tidak melihat apa-apa, beneran lho," ucap Davin.
"Tsk, Kak Davin buka matamu sekarang!"
Davin pun menurut, perlahan ia membuka matanya dan melihat ke arah Ray.
"Kak Davin, kenapa gak ketuk dulu pintunya sih! mengganggu saja," pekik Ray
"Ahahaha, maaf Tuan Ray, habisnya aku gak tau kalau di sini ada Zuy juga," ujar Davin menggaruk kepalanya.
"Ck, benar-benar ya si adonan moci."
"Hmmm, lagian salah sendiri pintunya gak di kunci, untung saja aku yang masuk, coba kalau karyawan yang lain, mungkin pada jantungan lihat anda sedang melakukan aktivitas Misteri meja berguncang atau Misteri tembok bergetar," papar Davin.
"Hah! Misteri meja berguncang?" tanya Ray
"Tembok bergetar? Maksudnya?" timpal Zuy.
Davin pun berdecak, "Ck, masa gak tau sih, itu lho yang semalam kalian berdua lakukan, seperti aktivitas Misteri ranjang bergoyang, yang ada suara kriet, kriet, hu, ha, aww, dan lainnya."
"Euum Tuan Muda, Pak Davin, Zuy pamit kembali ke Pantry," ucap Zuy
"Iya Zuy, awas kepentok!"
Zuy melangkahkan kakinya sambil menggelengkan kepalanya namun ada perasaan malu dalam diri Zuy.
"Hmmmm, aku perhatikan Zuy jalannya sedikit berbeda ya?" tanya Davin penasaran.
"Kak Davin..!!"
Davin langsung menoleh, "Iya Tuan Ray, lho kenapa wajah anda merah begitu?"
"Ini gara-gara Kak Davin, lagian tau dari mana bahasa seperti itu?" pekik Ray.
"Ya hanya tau saja, hehehe."
Seketika Ray langsung menepuk jidatnya, "Bener-bener deh si adonan moci, lama-lama aku carikan jodoh ya!"
Saat mendengar perkataan Ray, Davin menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu repot-repot, Tuan Ray."
"Hmmmm, ya Ray paham, yaudah Kak Davin balik sana! Dan lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dulu!" titah Ray.
"Baiklah...."
Davin memutar badannya dan melangkahkan kakinya keluar, lalu saat di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ray.
"Tuan Ray, lain kali kalau melakukan aktivitas Misteri ranjang bergoyang, kerasin dikit suaranya ya!" ledek Davin.
"Kak Daviiiiiin...!" seru Ray sambil melempar buku ke arah Davin, akan tetapi lemparannya meleset karena Davin langsung menutup pintu ruang Ray.
"Bener-bener ini orang satu, gagal bermesraan jadinya, hummpt," gerutu Ray
Ray segera kembali ke meja kebesarannya.
...----------------...
Tak terasa waktu berlalu, sebagian karyawan sudah meninggalkan tempat pekerjaannya, sedangkan Zuy dan lainnya masih berada di tempat. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Zuy dan Airin segera menuju ke parkiran.
Saat berada di parkiran, Zuy dan Airin langsung mengambil motornya masing-masing.
"Zuy, beneran kamu mau ke Kosan-ku?"
"Iya Airin, tapi sebelum itu kita ke toko buah dulu ya!"
"Okey Zuy."
Lalu kemudian mereka menyalakan motornya masing-masing dan bergegas pergi meninggalkan Perusahaan.
*******************
Toko Buah
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di toko buah, Zuy mulai memilih beberapa buah.
"Zuy, sebenarnya beli buah buat siapa?" tanya Airin.
"Buat Mamah dong," jawab Zuy.
Airin langsung tertegun mendengar jawaban Zuy. Setelah selesai memilih, Zuy memberikan buah yang ia pilih pada pedagangnya.
"Totalnya Kak ...," kata si penjual tersebut.
Zuy langsung membuka ransel dan mengambil dompetnya, saat ia hendak mengambil uang, Zuy terkejut melihat isi dompetnya ada benda tipis berwarna hitam, serta uang di dompetnya bertambah.
"Kenapa ada blackcard di dompetku? Dan lagi kenapa uang ku bertambah, apa jangan-jangan ini milik Ray? tapi kenapa bisa ada di dompetku?" batin Zuy.
"Kak, maaf ini buahnya!" kata si penjual tersebut
"Oh iya, ini uangnya."
Lalu Zuy mengambil buah tersebut, kemudian saat Zuy hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ...,
Bruuugh...
Zuy menabrak seseorang, membuatnya hampir terjatuh, akan tetapi dengan sigap orang tersebut langsung memegang tangan Zuy.
"Apa anda baik-baik saja Nona?" tanyanya.
"Iya saya baik-baik saja, maaf sudah menabrak anda," ucap Zuy, lalu ia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah orang itu, sontak membuat orang tersebut terkejut.
"Kamu!!"
__ADS_1
Lalu Airin datang menghampiri Zuy, "Zuy apa kamu baik-baik saja?"
"Aku gak apa-apa Rin."
"Nama kamu Zuy?" tanya seseorang itu.
Mendengar pertanyaan nya, Airin dan Zuy langsung menoleh ke arahnya.
"Lho, bukannya anda Tuan mata empat?" tanya Airin terkejut.
"Mata empat? Aduh Nona ini sama seperti si wajah licin," lalu ia mengulurkan tangannya pada Airin, "Perkenalkan nama saya Archo Fuca."
Ternyata dia Archo, Airin segera membalas uluran tangannya,
"Oh namanya Archo, ya saya Airin."
Mereka melepaskan tangannya, lalu pandangan Archo beralih ke arah Zuy, "Nona ini?"
"Oh dia, namanya Zuy," jelas Airin
Archo mengulurkan tangannya, akan tetapi Zuy tidak membalas uluran tangan Archo, dia hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya saja. Lalu ...,
"Airin ayo kita ke kosan-mu!" ajak Zuy
"Oke Zuy, nah Tuan mata empat kita pergi dulu," ucap Airin
Archo menganggukkan kepalanya, mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
"Hmmmm, memang benar-benar cantik, bahkan melebihi Mam Maria dan Kimberly," lirih Archo.
Kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah toko buah tersebut.
********************
Kosan Airin
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka pun sampai, Airin dan Zuy segera memarkirkan motornya dan berjalan menuju ke arah pintu.
Tok Tok Tok
Seketika Mamahnya Airin segera membuka pintunya.
"Mamah, Airin pulang..!" ucap Airin, ia langsung mencium tangan Mamahnya.
"Iya, yaudah langsung ke belakang dan bebersih sana!" titah Mamahnya.
"Iya Mamah," balas Airin. Lalu kemudian ...
"Mamah.." sapa Zuy
Mamahnya Airin pun langsung menoleh, "Zuy..!!"
Zuy mendekat ke arah Mamahnya Airin dan mencium tangannya.
"Mamah apa kabar?" tanya Zuy
"Kabar Mamah baik-baik saja, kamu bagaimana?"
"Zuy juga baik Mah, oh iya ini untuk Mamah!" kata Zuy menyerahkan bungkusan buah tersebut.
"Terimakasih, ayo masuk!"
Mereka pun masuk ke dalam Kosan Airin, Mamahnya Airin menyuruh Zuy duduk.
"Kak Zuy..!"
"Rion.."
Rion menghampiri Zuy dan duduk di sampingnya.
"Kamu sudah besar ya Rion, tambah cakep aja," ujar Zuy
"Makasih Kakak, hanya Kakak yang selalu muji Rion, gak kaya wanita bar-bar dan tepos itu," celetuk Rion.
"Rion benar-benar minta di pukul ya!" pekik Airin
Seketika Rion menyembunyikan dirinya di belakang Zuy, "Kakak tolongin Rion..!"
"Ya begitulah mereka Zuy," papar Mamahnya Airin sambil meletakkan minuman di atas meja
Zuy hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Rion dan Airin langsung menunduk. Lalu Mereka pun melanjutkan ngobrolnya.
*****************
Rumah Ray
Menjelang Malam...
Sementara itu, Ray tengah berada di ruang utama, ia nampak berjalan bolak-balik tak jelas karena menunggu Zuy pulang.
"Tuan Ray," sapa Davin
"......" Ray menoleh ke arah Davin
"Zuy belum pulang?" tanya Davin
Ray menggeleng cepat, "Belum Kak, dan lagi apa muka Kak Davin gak berat ya? Adonan moci sampai setebal itu nempel di wajah."
"Tentu tidak, justru dengan begini, wajah ku kembali mulus, glowing dan bersinar," papar Davin mengedipkan matanya
"Iya terserah Kak Davin saja," gumam Ray. Kemudian...,
Ting Tong
"Itu pasti Zuy Tuan," kata Davin
Ray segera berjalan menuju pintu, sesampainya ia pun membuka pintunya dan ternyata itu Zuy, seketika Ray langsung memeluknya.
"Ray.."
"Sayangku, kenapa baru pulang?"
"Maaf sudah membuat mu khawatir," ucap Zuy
Ray melepaskan pelukannya, "Hmmmm, gak apa-apa sayangku, asalkan kamu selamat. Yaudah sayangku masuk terus bebersih, habis itu istirahat ya!" tutur Ray sambil mencium pipi Zuy.
Zuy mengangguk cepat, ia pun masuk ke dalam dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Gak di susul Tuan Ray, sekalian aktivitas misteri cipratan air," ledek Davin
Paak...
Ray memukul keras punggung Davin, membuatnya meringis kesakitan.
"Bener-bener tenaga gorila," pekik Davin.
"Apa kamu bilang barusan..!!"
Melihat tatapan Ray, Davin segera berlari menuju ke kamarnya, sedangkan Ray langsung mengejarnya.
***************
Rumah Dimas
Tanpa terasa malam panjang pun berlalu, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 08.45Am. Bunda Artiana nampak tengah duduk sambil tangannya memainkan benang rajutannya. Lalu kemudian ...,
Ting Tong
Mendengar suara bel berbunyi, Bunda Artiana beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu, setelah sampai, Bunda Artiana langsung membuka pintunya.
Ceklek
"Pagi Nyonya,"
"Nak Archo, kenapa baru datang? padahal Bunda dari kemaren nungguin kamu," kata Bunda Artiana
"Maaf Nyonya, Archo sibuk jadi baru sempat mampir," ujar Archo
"Oh begitu, yaudah ayo masuk!" ajak Bunda Artiana
Archo pun menganggukkan kepalanya, lalu saat Bunda Artiana hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba...,
"Bunda..!"
Seseorang memanggilnya, membuat Bunda Artiana menoleh ke arah suara tersebut, dan betapa terkejutnya Bunda Artiana ternyata yang memanggilnya adalah ...,
"Ma-Maria..!!"
***Bersambung
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ
__ADS_1