
<<<<<
Sontak Bu Ida dan lainnya pun terkejut saat mendengarnya.
"Apa! kamar mewah dan gratis?!"
Lontar Bu Ida, nampak dari raut wajahnya yang bahagia karena ia mengira bahwa yang di maksud Ray adalah liburan dan menginap di hotel atau Villa mewah gratis. Akan tetapi maksud dari kamar mewah dan gratis adalah penjara. Sementara Bu Ida merasa bahagia, namun berbeda dengan Ibunya Lidya. Raut wajahnya terlihat suram dan ketakutan, karena ia tahu kalau Ray akan membawanya ke kantor Polisi. Lalu ....
"Waah.... Benarkah yang anda katakan barusan Tuan?" tanya Bu Ida.
"Iya benar, untuk apa saya berbohong dan lagi sepertinya anda sangat bahagia mendengarnya," celetuk Ray.
"Tentu saja saya bahagia karena dapat menginap di hotel kamar mewah dan gratis," ujar Bu Ida.
Davin yang berada di belakang Bu Ida pun menyeringai kembali. "Heh, ternyata orang ini cuma besar mulut saja, otaknya hanya sekecil udang," batinnya.
Pandangan Bu Ida pun mengarah ke Ibunya Lidya yang tengah tertunduk diam.
"Hei kenapa diam? Bukannya bahagia."
Ibunya Lidya pun langsung melihat ke arah Bu Ida.
"Bahagia? Apa kau tahu maksud dari Tuan ini?" pekik Ibunya Lidya.
"Dia akan membawa kita liburan kan?"
Ibunya Lidya pun berdecak. "Ck, benar-benar bodoh!"
"Apa maksud mu bilang aku bodoh?" tanya Bu Ida dengan nada keras.
"Ya memang kau bodoh."
Mereka pun saling berdebat, lalu kemudian ....
"Diam!" bentak Ray membuat mereka terdiam. "Ayo kita berangkat sekarang!" sambungnya.
Tiba-tiba Ibunya Lidya berlutut di hadapan Ray.
"Tuan.... Saya mohon maafkan atas kesalahan saya! Saya tidak ingin pergi ke sana." ucap Ibunya Lidya.
Ray menyilangkan kedua tangannya di dadanya, tatapannya pun semakin tajam menusuk.
"Sekarang baru minta maaf, tadi kau menyiksanya tanpa ampun sehingga membuat mereka kesakitan," pekik Ray.
"Iya, saya akui kesalahan saya. Tapi saya benar-benar menyesal, saya sudah terhasut perkataan orang ini," Ibunya Lidya menunjuk ke arah Bu Ida.
"Hei kenapa kau jadi menyalahkanku?" papar Bu Ida.
"Ya karena kamu dan keponakan mu itu yang sudah menghasutku. Kamu bilang padaku kalau wanita yang bernama Zuy itu selalu bikin masalah, suka fitnah orang, wanita tidak benar, bahkan kamu bilang kalau Zuy itu menjual dirinya kepada para Pria kaya," ungkap Ibunya Lidya.
Sontak membuat lainnya terkejut mendengarnya, terutama Ray. Ia pun langsung menghampiri Bu Ida dan mencengkram tangannya dengan kuat membuat Bu Ida kesakitan.
"Tuan, kau menyakiti ku!" pekik Bu Ida.
"Kenapa anda berkata seperti itu tentang Zuy? Apa gertakan ku waktu itu belum cukup membuat anda takut. Sehingga anda terus-terusan berkata buruk tentang Zuy." amarah Ray langsung memuncak.
"Sa-saya ...." Bu Ida pun sudah mulai ketakutan.
Pandangan Ray mengarah ke Davin. "Siapkan mobil! Kita akan membawa mereka sekarang! Supaya mereka jera dengan perbuatan mereka ini."
Davin pun mengangguk patuh, akan tetapi ....
"Tuan, tolong jangan bawa saya! Saya benar-benar menyesal." sesal Ibunya Lidya.
Karena tidak tega melihat Ibunya seperti itu, Lidya pun langsung melihat ke arah Zuy, kemudian ia berlutut di hadapan Zuy.
"Zuy.... Saya tahu kamu marah karena perlakuan Ibu saya. Saya benar-benar minta maaf, tapi saya mohon jangan hukum Ibu saya, karena Ibu saya mempunyai bayi yang masih berusia dua bulan," ucap Lidya tersedu-sedu.
Mendengar ucapan Lidya, hati Zuy langsung terenyuh. Pandangannya pun mengarah ke Ibunya Lidya yang tengah tertunduk sambil menangis di hadapan Ray, kemudian Zuy berjalan menghampiri Ibunya Lidya.
"Ibu.... Bangunlah!" Zuy mengulurkan tangannya ke arah Ibunya Lidya.
Ibunya Lidya mendongakkan kepalanya ke arah Zuy.
"Kamu!!"
Lalu Ibunya Lidya kembali menundukkan kepalanya. "Maaf, maaf atas kesalahan saya. Saya benar-benar menyesal sudah melukai mu, saya ...." ucapnya.
"Ibu.... Ayo bangun!"
Ibunya Lidya pun mengangguk, lalu ia membalas uluran tangan Zuy. Zuy menarik pelan tangannya, sehingga Ibunya Lidya bangkit dari posisinya. Kemudian pandangan Zuy mengarah ke Ray.
"Tuan Muda...."
"Iya Zuy, ada apa?" tanya Ray.
"Bisakah anda melepaskan Ibu ini!" pinta Zuy
Ibunya Lidya tertegun mendengar permintaan Zuy.
"Kenapa kamu ingin melepaskannya? Bukankah dia sudah menyakiti mu?" tanya Ray kebingungan.
"Itu karena anaknya masih bayi," ujar Zuy.
Ibunya Lidya menatap lekat wajah Zuy. "Kamu melepaskanku?"
Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, saya melepaskan anda, karena anak anda yang masih membutuhkan kasih sayang dari anda."
Ibunya Lidya pun langsung memeluk Zuy dan menangis sejadi-jadinya.
"Ternyata kamu anak yang baik, saya benar-benar menyesal sudah mendengar perkataan orang itu," ucapnya. Lalu ....
"Zuy, apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Ray memastikan.
Zuy melepaskan pelukan Ibunya Lidya, ia melihat ke arah Ray dan mengangguk. "Iya Zuy sangat yakin, Tuan Muda."
Sesaat Ray menghela nafasnya. "Haaa... Baiklah kalau begitu, anda saya bebaskan! Akan tetapi jika anda mengulanginya lagi saya tidak akan segan-segan membawa anda ke pengadilan!" paparnya.
Ibunya Lidya menganggukkan kepalanya. "Baik, saya tidak akan mengulanginya lagi."
Lalu pandangan Ray mengarah ke Lidya. "Dan untuk anda Nona Lidya, anda tidak jadi di pecat. Akan tetapi anda akan di pindahkan ke anak Perusahaan," jelas Ray.
Senyum Lidya pun mengembang, kemudian ia membungkukkan badannya. "Terimakasih Tuan Ray."
"Kalau begitu kalian cepat pergi dari sini!"
Lidya mengangguk patuh, lalu ia melihat ke arah Zuy sembari menyunggingkan senyuman.
"Zuy, terimakasih banyak," ucap Lidya,
Zuy pun tersenyum. "Sama-sama, asal jangan di ulangi lagi!"
__ADS_1
Lidya lalu menggandeng tangan Ibunya, dan melangkah pergi.
"Lalu bagaimana dengan orang ini?" tanya Ray.
"Terserah anda saja Tuan Muda, Zuy udah gak tahu lagi," ujar Zuy.
Ray langsung mengerti, kemudian ia menyuruh anak buahnya untuk membawa Bu Ida pergi menuju ke suatu tempat, dimana ia akan mendapatkan kamar gratis.
Setelah kepergian mereka, Ray langsung membawa Zuy ke ruangannya, sedangkan Airin pergi ke Pantry bersama Davin.
••••••••••••••••••••
Ruang Ceo
Sesampainya, Ray menyuruh Zuy duduk, ia pun mengambil es di kulkas yang berada di dalam ruangannya. Setelah itu Ray duduk di samping Zuy dan mengompres pipi Zuy yang terkena tampar itu.
"Diam sebentar ya sayangku!"
Zuy hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sayangku, kenapa kamu melepaskan Ibunya Lidya?" Ray masih penasaran akan keputusan Zuy melepaskan Ibunya Lidya.
"Bukankah tadi Zuy sudah bilang, Zuy melepaskannya karena anaknya, adik dari Lidya." ujar Zuy.
"Iya, Ray dengar. Tapi kenapa?"
"Karena Zuy tidak ingin adiknya Lidya kehilangan kasih sayang Ibunya. Apalagi usianya masih dua bulan," jelas Zuy.
"Sayangku apa kamu ...."
Zuy melihat ke arah Ray dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Ray, Zuy mengingat akan diri Zuy yang di tinggal oleh Mamah dan tidak pernah merasakan kasih sayang Mamah. Zuy gak bisa ngebayangin nasib adiknya Lidya, jika nanti Ibunya Lidya jadi di penjara. Pasti ia akan merasakan sedih seperti apa yang telah Zuy rasakan selama ini," ujar Zuy, air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
Melihat pujaan hatinya menangis, Ray langsung meletakkan esnya di atas meja, kemudian Ray merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Ray sekarang mengerti kenapa sayangku melakukan itu. Yaudah jangan menangis ya sayangku!" ucap Ray.
"Siapa yang nangis? Zuy gak nangis." ujar Zuy
"Hmmmm gak nangis? Lalu ...."
"Hanya air mata Zuy yang jatuh," kata Zuy membuat Ray terkekeh.
Pffft ....
"Sayangku sejak kapan kamu jadi lucu begini?"
"Zuy selalu lucu, hanya saja kamu tidak menyadarinya," pekik Zuy.
"Hahaha.... Iya maaf kalau Ray baru menyadarinya. Oh iya sayangku...."
Zuy mendongakkan kepalanya sehingga pandangan mereka berdua saling bertemu.
"Ada apa Ray?"
"Euuum, apa sayangku menginginkan sesuatu?"
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya seperti itu?" Zuy nampak bingung dengan pertanyaan Ray.
"Biasanya kalau orang hamil kan suka mengidam dan menginginkan sesuatu," jelas Ray
Mendengar itu, Ray langsung melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Zuy.
"Sayangku kenapa?"
"Zuy tidak apa-apa Ray," singkat Zuy.
"Lalu kenapa raut wajah sayangku nampak sedih? Apa sayangku tidak bahagia?" tanya Ray menyidik.
Zuy tersenyum. "Hmmm.... Siapa yang tidak bahagia, Zuy bahagia kok, bahkan sangat-sangat bahagia," jawabnya.
"Lalu ...."
"Haaaa... Memang kepekaan yang sempurna. Begini Ray, Zuy sedih karena Zuy lupa, kalau Zuy sekarang sedang mengandung anakmu. Maaf ya Ray," ucap Zuy.
"Oh seperti itu ya," Ray mengusap perut Zuy.
Lalu Zuy menyandarkan kepalanya di dinding sofa, kemudian ia kembali menghela nafasnya sambil memegangi perutnya.
"Gak di sangka ya! Kita sebentar lagi akan menjadi orang tua. Dulu status Zuy hanya seorang pengasuh Tuan Muda, walaupun usia Zuy bisa di bilang masih kecil dan sekarang Tuan Muda yang Zuy asuh malah menjadi ayah dari anakku. Haaa... kita berpisah selama kurang lebih 14 tahun, itu pun bukan waktu yang singkat. Dan ternyata takdir mempertemukan kita kembali dengan cara yang sama yaitu Zuy bekerja denganmu lagi. Hidup memang unik ya Ray?" ungkap Zuy.
"Iya kau benar sayangku, hidup ini memang unik dan juga ini sudah menjadi takdir kita untuk bersama lagi, rencana Tuhan memang Indah," balas Ray.
"Tapi waktu itu Zuy sangat terkejut dan benar-benar tidak menyangka, walau kita sudah lama berpisah, tapi kamu masih mengenali wajahku ini. Zuy aja hampir lupa dengan wajah mu itu, Ray." ujar Zuy melihat ke arah Ray.
Ray lalu tersenyum dan mengelus lembut pipi Zuy.
"Itu karena rasa Cintaku Untuk Pengasuhku ini sangat lah besar. Sehingga Ray cepat mengenali sayangku, walaupun kita berpisah sangat lama. Dan lagi apa sayangku tidak menyadari bahwa wajah sayangku tidak berubah sama sekali, masih tetap cantik bahkan lebih cantik. Orang yang melihat sayangku gak akan menyadari bahwa usia sayangku hampir kepala tiga. Mereka pasti menganggap kalau usia sayangku ini masih dua puluhan," ungkap Ray.
"Zuy tidak menyadari itu Ray, yang Zuy tahu kalau wajah Zuy ini sering jadi sasaran tamparan orang. Sehingga berapa kali Zuy mengalami lebam di pipi Zuy," papar Zuy membuat raut wajah Ray murung.
"Akan tetapi sekarang Zuy sudah punya obatnya, yaitu kamu Ray. Sebab pada saat Zuy terluka akibat tamparan atau apapun, kamu selalu menjadi obat dan menyembuhkan luka ku Ray. Semenjak kehadiran mu, Zuy jadi bisa melawan rasa kesedihan dan kesakitan yang Zuy alami selama ini. Terimakasih ya Ray sudah hadir di hidupku lagi," ucap Zuy.
Ray tertegun mendengar ucapan dari Zuy, senyumannya pun terukir di wajah tampannya. Lalu ia mengangkat tubuh Zuy dan menempatkannya di pangkuhannya.
"Justru aku yang berterimakasih karena sayangku sudah membuat ku menjadi seperti ini. Jadi jangan pernah pergi dariku, tetaplah bersama ku ya sayangku! kita rawat anak kita bersama-sama." pinta Ray.
Zuy mengangguk cepat seraya menyetujui permintaan Ray, lalu ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ray.
********************************
Rumah Sakit
Sementara itu di kamar Maria, Archo nampak tengah menyuapi Maria, karena semenjak terkena stroke, Maria sudah tidak bisa apa-apa selain berbaring di ranjangnya, bahkan ke kamar mandi pun ia harus menyuruh seseorang.
"Sudah cukup Archo! Mam sudah kenyang." pinta Maria
Archo pun menghentikan aktivitasnya dan meletakkan kembali piring bekas makan Maria di atas nakas. Kemudian Archo mengambil gelas air minum dan memberikannya pada Maria. Perlahan Maria meneguknya, sesaat setelahnya ....
"Archo, maaf ya kalau Mam menyusahkan mu," ucap Maria.
"Ini sudah menjadi tugas Archo sebagai anak, ya harusnya Kimberly juga, tapi dia malah sibuk dengan karirnya," celetuk Archo.
"Archo kenapa kamu bicara seperti itu, wajar saja kalau Kimberly sibuk dengan karirnya, orang dia model terkenal di sana, bahkan hampir seluruh cover majalah di sana itu wajahnya semua," Maria pun memuji Kimberly.
"Iya model terkenal. Lalu dengan keadaan Mam yang seperti ini, apa Mam akan memberitahukannya pada Kimberly atau merahasiakannya?" tanya Archo
"Mam ingin merahasiakannya dari Kimberly, sebab Mam tidak ingin dia kepikiran dan kesusahan karena Mam. Kasihan Kimberly, Archo." ujar Maria.
Archo pun langsung memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Iya apa-apa Kimberly, sampai Mam lupa dengan anak Mam itu. Coba saja kalau Mam baikin dia dan tidak menyiksanya terus. Pasti dia tidak akan melontarkan kata benci terhadap Mam dan Archo jamin pasti dia akan merawat Mam yang sedang sakit seperti ini," celetuk Archo.
"Mam tidak lupa dengan anak Mam itu, hanya saja dia sudah bikin malu keluarga. Buktinya sekarang dia hamil yang entah anak siapa yang ia kandung itu. Berbeda dengan Kimberly yang baik dan penurut. Haaa... Mungkin karena yang merawat Zuy gak baik sehingga Zuy jadi anak seperti itu," sindir Maria.
Archo langsung berdecak. "Ck, walaupun tidak baik, setidaknya Bibinya itu merawat Zuy sampai sekarang. Bukan seperti Mamahnya yang meninggalkannya selama bertahun-tahun, setelah bertemu bukannya di sayang malah di siksa terus-terusan," ungkap Archo.
Raut wajah Maria seketika berubah sorot matanya pun memancarkan amarah.
"Archo, kamu selalu saja berdebat dengan Mam kalau sudah menyinggung masalah Zuy," pekik Maria.
"Bukan begitu Mam, Archo hanya ingin Mam memberikan kasih sayang yang tulus padanya, sama seperti kasih sayang yang Mam berikan padaku dan Kimberly. Archo sangat yakin bahwa dia sangat merindukan kasih sayang dari Ibunya itu," tutur Archo.
Sesaat Maria menundukkan kepalanya. "Untuk saat ini Mam masih belum menerima keadaannya yang sekarang sedang mengandung, Mam sangat malu Archo."
Lalu Archo bangkit dari tempat duduknya. "Haaa... Lagi-lagi Mam seperti ini, yaudah Archo mau ke depan, mau ngerokok dulu. Mam istirahat lah!"
Maria hanya mengangguk pelan, lalu kemudian Archo melangkah pergi. Setelah Archo pergi, Maria langsung mengangkat kepalanya.
"Mam akan menyayanginya jika bayi dalam kandungannya lenyap. Supaya tidak ada yang menghalangi jalan Kimberly untuk mendapatkan Ray, tapi apa yang harus aku lakukan untuk menyingkirkan bayinya itu. Aaah ini semua gara-gara Archo yang sudah memblokir orang-orang ku," pekik Maria.
******************
Rumah Ray
Sore menjelang senja hari, Ray nampak tengah di dapur sambil memegang sebuah kotak. Ia pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum karyawan lainnya.
Ray terus saja memandangi kotak yang ada di tangannya itu dan kotak tersebut adalah susu untuk Ibu hamil dengan rasa stroberi.
"Hmmm... Jadi seperti itu, tuangkan tiga sendok makan dan bisa pakai es juga," lirih Ray.
Ray lalu mengambil tumbler yang berada di rak, kemudian ia mengikuti arahan dari petunjuk kotak susu tersebut. Setelah selesai membuatnya, Ray meletakkan tumbler itu ke dalam kulkas.
"Nah sudah selesai, tinggal nunggu sayangku datang, baru deh aku kasih ke sayangku. Pasti sayangku akan bahagia dan memelukku lagi," lirih Ray membayangkan.
Lalu tiba-tiba sesuatu menyerangnya kembali, sehingga ia bergegas menuju ke kamar mandi. Sesaat setelah Ray berada di kamar mandi, Davin pun datang dan langsung membuka pintu kulkas.
"Hmmm... Kita lihat di sini ada minuman apa aja?" ucap Davin
Tanpa sengaja pandangannya mengarah ke tumbler berisi susu yang di buat Ray, ia pun langsung tergiur dan mengambilnya, akan tetapi Davin belum sadar apa yang ia ambil itu.
"Sepertinya enak nih jus stroberi, pasti ini bikinan Bu Ima," kata Davin memandangi tumbler tersebut.
Davin berjalan sambil membawa tumbler tersebut menuju ke kamarnya. Selang beberapa saat, Ray keluar dari kamar mandi. Lalu kemudian ....
Ting Tong...
Mendengar suara bel berbunyi, Ray langsung bergegas menuju ke arah pintu, karena ia menduga bahwa yang datang itu pujaan hatinya. Setelah pintu terbuka, ternyata dugaan Ray benar.
"Aku pulang..."
"Selamat datang sayangku," sambut Ray
Zuy pun tersenyum sambil masuk ke dalam dan mendudukan dirinya di atas sofa, kemudian ia meluruskan kakinya dan memijatnya. Ray yang melihatnya pun langsung duduk di samping Zuy. Ia mengangkat kaki Zuy dan menempatkannya di atas pahanya sehingga membuat Zuy kebingungan.
"Ray apa yang kamu lakukan?" tanya Zuy
"Hanya membantu sayangku saja," jawab Ray sambil memijat kaki Zuy.
"Tapi Ray ...."
"Kenapa sayangku? Apa sayangku tidak menyukainya?" raut wajahnya pun berubah murung.
Lalu Zuy mengibas tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu Ray, hanya saja Zuy gak enak," ujar Zuy.
"Ya di enakin aja sayangku, bayangin aja kaya kita bikin telinga," goda Ray.
Blush...
Wajah Zuy langsung memerah mendengar godaan Ray.
"Aah.. Dasar mesum! Kenapa membicarakan itu sih?" pekik Zuy nenutupi wajahnya.
Ray langsung menyunggingkan senyuman jahilnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Tapi sayangku menikmatinya kan?" lagi-lagi Ray menggoda Zuy.
"Rayyan... Berhenti menggoda ku!"
Ray terkekeh, Zuy lalu menurunkan kakinya dari paha Ray dan bangkit dari posisinya.
"Sayangku mau kemana?"
"Mau ke kamar naroh ransel, habis itu Zuy mau bebersih," ujar Zuy.
"Baiklah sayangku...."
Zuy langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar, setelah itu Zuy bergegas menuju ke kamar mandi. Sedangkan Ray berjalan menuju ke dapur. Sesampainya ia membuka pintu kulkas untuk mengambil tumbler berisi susu yang telah ia buat. Akan tetapi Ray terkejut melihat botol tumbler tersebut sudah tidak ada.
"Perasaan tadi aku taroh sini deh," lirih Ray, lalu ....
"Cari apa Tuan Ray?" tanya Davin yang baru datang.
Ray menoleh ke arah Davin. "Ray tengah cari ...."
Mata Ray terbelalak saat melihat tumblernya berada di tangan Davin.
"Kak Davin, kenapa tumbler itu ada di tangan Kakak?" tanya Ray menunjuk.
"Oh ini aku ambil dari kulkas, aku pikir jus stroberi ternyata susu stroberi, enak sih tapi kurang manis," ujar Davin. "Apa kehabisan gula ya?"
"Kak Davin.... Kak Davin tahu gak, apa yang Kak Davin minum itu?" tanya Ray
Davin menggeleng cepat. "Tidak tahu Tuan Ray."
"Tsk, itu susu hamil yang sengaja Ray bikin untuk sayangku," pekik Ray.
Sontak membuat Davin terkejut mendengarnya, lalu tanpa sengaja ia menjatuhkan botol tumbler yang berada di tangannya itu.
Glataak...
"Apa! Su-susu hamil?!"
*** Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1