Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Hak Asuh....


__ADS_3

WARNING....!!


Episode CUP ini mengandung unsur kekerasan, harap bijak dalam membacanya!!! Terimakasih... πŸ™πŸ™πŸ™


<<<<<


Mendengar pertanyaan Dimas, Bunda Artiana melihat ke arah Dimas dan memegang tangan Dimas dengan erat.


"Dimas, Bunda ingin hak asuh Zuy!"


"Apa! Hak asuh?!"


Dimas sangat terkejut mendengar permintaan Bunda Artiana yang menginginkan hak asuh Zuy.


"Bunda.... Apa Bunda benar-benar serius meminta hak asuh Zuy?" tanya Dimas


"Tentu saja Bunda serius, bahkan sangat serius!" ujar Bunda Artiana. "Memangnya kenapa Dimas?"


"Bunda.... Maaf jika Dimas tidak sopan. Tapi permintaan Bunda itu sangat tidak masuk di akal," tegas Dimas.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Dimas? Apa Bunda salah jika Bunda menginginkan hak asuhnya?"


Dimas menghembuskan nafas gusarnya. "Huuft.... Bunda, tentu saja salah. Kalau Bunda menginginkan hak asuhnya, harusnya saat Zuy masih berusia seperti Nayla atau saat usianya masih di bawah umur, bukan sekarang!" ujar Dimas.


"Memangnya kenapa kalau Bunda meminta hak asuhnya sekarang? Apa sudah terlambat?" tanya Bunda Artiana


Dimas mengangguk cepat. "Iya Bunda, bahkan sudah sangat terlambat. Bunda, Zuy itu sudah dewasa, usianya sudah dua puluh sembilan tahun, dia sudah bisa hidup sendiri dan mandiri, Bunda." ujarnya.


"Yaitu karena Zuy di biarkan hidup sendiri, makanya dia hamil. Perkataan Maria ada benarnya juga, kalau Bibinya tidak membesarkannya dengan baik dan terlalu membebaskan nya, makanya dia jadi begitu," celetuk Bunda Artiana.


"Bunda jangan bicara seperti itu!"


"Ya memang kenyataannya seperti itu, Dimas," hardik Bunda Artiana.


Sesaat Dimas menghela nafasnya. "Bunda, dengarkan perkataan Dimas ya! Bibinya tidak mungkin seperti itu, menurut Dimas, Bibinya itu membesarkan Zuy dengan baik," tutur Dimas.


"Tapi kenapa Zuy bisa hamil?" tanya Bunda Artiana penasaran.


"Ya mungkin saja dia sudah menikah, makanya dia hamil. Bukannya waktu itu Bunda pernah cerita, kalau Zuy akan menikah. Benar kan Bunda?"


Bunda Artiana mengangguk. "Benar Dimas, tapi kan dia bilang mau menikah setelah bertemu dengan Ibunya," jelasnya.


"Bunda, Dimas ingin memberitahu sesuatu pada Bunda. Sebenarnya setelah Zuy pulang dari rumah kita, ia langsung di larikan ke rumah sakit," ujar Dimas.


Sontak membuat Bunda Artiana terkejut. "Apa! Kenapa bisa?"


"Karena dia mempunyai alergi seafood dan sudah akut," jelas Dimas.


"Kenapa kamu tidak memberitahu Bunda kalau Zuy punya alergi?"


"Dimas waktu itu sudah pernah bilang, tapi Bunda tidak percaya," cetus Dimas.


Seketika Bunda Artiana langsung menundukkan kepalanya.


"Bunda sangat menyesal Dimas. Lalu kenapa kamu bisa tahu kalau Zuy di larikan ke rumah sakit?"


"Itu karena Dimas yang memeriksanya. Waktu itu Dimas dapat telpon dari Dokter Arif, beliau menyuruh Dimas untuk menangani pasiennya, sebab Dokter Arif sedang berada di luar kota. Dan Dimas tidak menyangka kalau pasiennya itu Zuy. Zuy lalu cerita ke Dimas, kalau ia punya alergi seafood. Saat Dimas sedang memeriksanya, ternyata di kamarnya ada seorang laki-laki, dia juga memanggil Zuy dengan sebutan Sayangku," jelas Dimas.


Mata Bunda Artiana pun terbelalak mendengar penjelasan Dimas. "Laki-laki! Apa dia punya hubungan dengan Zuy? Lalu siapa dia?" tanyanya.


"Ya mungkin saja dia itu suaminya Zuy. Dia bukan orang biasa Bun, dia adalah Ceo dari Perusahaan dan juga keponakan Pak Willy, pasien pribadiku." ujar Dimas.


"Oh jadi seperti itu ya," lirih Bunda Artiana.


Dimas mengangguk. "Iya Bunda. Makanya kita jangan berburuk sangka dulu, sebelum kita tahu kebenarannya," tutur Dimas membuat Bunda Artiana tertunduk diam.


"Jadi dari pada menginginkan hak asuhnya, lebih baik kita doakan Zuy bahagia. Dan lagi harusnya Bunda bahagia kalau Zuy hamil, itu berarti Bunda akan segera mempunyai cicit," kata Dimas.


Bunda Artiana langsung mengangkat kepalanya, senyumnya pun terukir di wajahnya, lalu Bunda Artiana menganggukkan kepalanya.


"Iya kamu benar Dim."


"Nah gitu dong. Yaudah sekarang Bunda istirahat! Jangan lupa obatnya di minum dulu," tutur Dimas.


"Iya Dokter, Bunda tidak akan lupa."


Dimas pun tersenyum bahagia.


*********************


Rumah Sakit


Sementara itu, Maria sedang duduk menyandar di ranjangnya. Maria terus saja mengingat akan kehamilan Zuy, dari raut wajahnya pun nampak terlihat sedih dan tidak bahagia.


"Bagaimana ini, jika bayi yang di kandungnya itu benar-benar anaknya Rayyan, berarti tidak ada kesempatan lagi untuk Kimberly. Aku tidak bisa bayangin bagaimana perasaan Kimberly saat mengetahuinya. Aku benar-benar tidak sanggup jika Kimberly sedih dan sakit hati karena mereka. Sudah cukup penderitaan dan kesedihan Kimberly karena di campakan oleh Rayyan. Aku gak mau Kimberly sampai stres dan depresi karena terlalu tenggelam dalam kesedihannya itu," ucap Maria sambil menundukkan kepalanya dan menangis.


Lalu terlintas sesuatu di pikiran Maria sehingga membuat Maria mengangkat kepalanya.


"Apa aku harus membuat Zuy keguguran ya? Dengan begitu Kimberly jadi punya kesempatan, tapi bagaimana caranya? Harus kah aku menyuruh seseorang untuk membuatnya keguguran tanpa melukainya? Shit! Kalau saja aku tidak terkena stroke ringan, aku pasti yang akan melakukannya sendiri," umpat Maria.


......................


Flashback


Setelah melakukan pemeriksaan lanjut dan CT scan, Maria pun di bawa kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian, Dimas masuk ke kamar Maria sambil membawa hasil pemeriksaan Maria.


"Bagaimana hasilnya Dim, apa Kakak baik-baik saja?" tanya Maria penasaran.


Terlihat dari raut wajah Dimas memancarkan kesedihan, kemudian ia menundukkan kepalanya membuat yang lainnya kebingungan dan bertanya-tanya.


"Dimas, kenapa kamu diam dan tidak menjawab pertanyaan Maria?" tanya Bunda Artiana.


"Dim, apa yang terjadi sebenarnya?" sambung Maria.


Dimas pun menghela nafasnya, kemudian ia mengangkat kepalanya, nampak matanya berkaca-kaca walaupun ia memakai kacamata.


"Kak Maria, Dimas harap Kakak bersabar ya!" tutur Dimas.


"Apa maksud mu Dim? Apa jangan-jangan Kakak ...."


Dimas mengangguk. "Iya Kak, sesuai dugaan Dimas, bahwa Kak Maria terkena stroke," jelasnya.


Bagaikan tersambar pentir dan tertusuk seribu jarum, Maria tak kuasa menahan tangisnya. Maria pun menangis sejadi-jadinya. Bunda Artiana yang duduk di sampingnya pun langsung beralih ke arah Maria dan memeluknya.


"Sabar Maria, ini ujian untuk mu, kamu harus bisa menerimanya!" tutur Bunda Artiana.


"Tapi Bunda, Maria tidak ingin seperti ini! Apalagi yang terkena tangan kanan Maria. Maria tidak bisa berkarya lagi," tangis Maria.


"Jangan bicara seperti itu Maria, nanti juga bakalan sembuh!" ujar Bunda Artiana.


"Benar apa yang di katakan Bunda, Kak Maria pasti sembuh." sambung Dimas.


Akan tetapi Maria kembali memberontak, sehingga Dimas memberikan suntikan obat penenang pada Maria.


Flashback End

__ADS_1


......................


"Mungkin ini benar-benar karma untuk ku karena berkali-kali menyakitinya. Zuy maafin Mam, Mam benar-benar bingung harus bagaimana. Kau dan Kimberly sama-sama anakku, darah daging ku. Zuy, Mam harap kamu mengerti dan memaafkan kesalahan ku ini! Dan Mam harap kamu mengalah untuk Kimberly, karena Kimberly masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang dari ku," ucap Maria.


Kemudian perlahan Maria membaringkan badannya kembali.


Kapan sadarnya sih Maria?!! (Author nimbrung)


**********************


Setelah beberapa saat berada di rumah Bi Nana. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak menginap. Zuy ikut di mobil Ray, sedangkan motornya di bawa oleh salah satu pengawalnya. Selama di perjalanan Zuy tertidur lelap di dalam mobil, mungkin kelelahan karena lama menangis atau bisa jadi karena kehamilannya itu.


Rumah Ray


Sesampainya di rumah, Ray langsung turun dari mobilnya, lalu ia mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, ia membawa Zuy menuju ke arah kamarnya.


Β°Kamar Ray


Setelah berada di kamarnya, Ray membaringkan tubuh Zuy di atas kasur dan menyelimutinya, lalu ia pun ikut berbaring di samping Zuy, posisinya menghadap ke arah Zuy dengan tangan satu menopang kepalanya. Ray mengelus lembut pipi Zuy sehingga membuat Zuy semakin lelap.


"Sayangku, terimakasih karena sudah membuat hari-hari ku begitu sempurna dan bahagia. Kau selalu membuatku semangat, membuatku menjadi pria yang paling beruntung karena memiliki wanita sepertimu. Dan sekarang kamu memberikan kejutan tak terduga untukku, yaitu calon Ray junior yang sekarang berada di dalam rahim mu ini. Aku benar-benar sangat bahagia, rasanya saat ini aku ingin menangis, menangis karena bahagia," ucap Ray.


Lalu Ray bangun dari posisinya dan beralih memandang perut Zuy, kemudian ia mengusap perut Zuy.


"Hai Ray junor, ini aku Daddy-mu sayang. Sehat-sehat di dalam sana ya! Daddy akan menunggu mu di sini bersama Mommy. Kamu jangan nakal ya boy, jangan nyusahin Mommy, kalau ngidam juga jangan yang aneh-aneh ya! Daddy sangat bahagia sayang, impian Daddy satu-persatu terkabul. I love you my future son, Ray junior." Ray mencium perut Zuy.


Kemudian Ray beralih mendaratkan bibirnya dan menghujani ciuman ke wajah Zuy. Sesaat setelahnya....


"Sweet dreams my dear, I love you my wife. Aku akan selalu melindungimu, menyayangimu dan membahagiakanmu selamanya," ucap Ray.


Ia pun merebahkan tubuhnya kembali sambil memeluk Zuy, tak lama rasa kantuknya mulai menyerang di dirinya. Sesaat Ray memejamkan matanya dan tertidur lelap.


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul 02.17Am. Zuy nampak terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka matanya, kemudian mengedarkan pandangannya.


"Pengin ice cream," lirih Zuy.


Ia pun membangunkan dirinya dan beranjak dari tempat tidurnya. Akan tetapi ....


"Sayangku, kamu mau kemana?" tanya Ray menahan tangan Zuy.


Zuy menoleh. "Zuy mau ice cream Ray," ujarnya membuat Ray terkejut dan langsung bangkit dari posisinya.


"Apa! Sayangku mau ice cream?"


Zuy mengangguk cepat seraya menjawab pertanyaan dari Ray.


"Tapi ini masih malam sayangku, minimarket pun masih tutup," tegas Ray.


"Kok minimarket sih!"


"Lha bukannya sayangku menginginkan ice cream?"


"Iya, tapi bukan di minimarket melainkan di dalam kulkas Ray," pekik Zuy


Mendengar itu, Ray langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ahahaha.. Ray pikir di minimarket, yaudah biar Ray aja yang ambilin ice creamnya, sayangku tunggu di sini aja!" pinta Ray.


"Baiklah, terimakasih Ray."


Ray tersenyum, lalu ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar menuju ke dapur.


Setelah berada di dapur, Ray membuka pintu kulkasnya, ia mengambil wadah berisi ice cream mangga, kemudian meletakkannya di atas meja. Ray lalu mengambil botol mineral, ia pun membuka tutupnya dan meneguknya. Saat Ray tengah asik minum, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sontak membuat Ray langsung menoleh ke belakang. Lalu ....


Ray menyemburkan air yang ada di mulutnya ke arah wajah orang tersebut, mungkin karena kagetnya Ray melihat wajah yang tertutupi masker dan orang itu tak lain adalah ....


"Kak Davin!!"


"Tuan Ray, kenapa menyembur ku sih? Jadi luntur deh maskerku." pekik Davin.


"Gak sengaja, siapa suruh ngagetin. Lagian ngapain sih malam-malam pake masker bikin jantungan aja, untungnya aku bukan Bu Ima," papar Ray.


"Siapa yang ngagetin anda, Tuan. Orang saya mau ambil minum, pas kebetulan lihat Tuan, jadi ya saya tepuk pundak Tuan Ray," ujar Davin mengusap wajahnya


"Benar-benar rusak ini maskerku. Lalu Tuan Ray ke dapur ngapain?" sambungnya.


"Oh begitu ya. Ngambil minuman dan ice cream," singkat Ray.


Davin pun tersentak. "Apa! ice cream? Malam-malam anda mau makan ice cream?" tanyanya.


"Bukan untukku tapi ini untuk Zuy, soalnya Zuy yang minta." ujar Ray


"Kirain untuk anda, tapi tumben Zuy malam-malam minta ice cream, apa dia mengidam?"


"Iya benar, memang Zuy lagi mengidam," jawab Ray.


Davin sangat terkejut mendengarnya. "Apa! Jadi Zuy beneran hamil? Waah asik nih, sebentar lagi aku punya keponakan," ucap Davin bahagia.


"Iya Kak Davin. Yaudah kalau gitu Ray ke kamar dulu ya! takut Zuy nungguin," kata Ray.


Davin mengangguk. "Oke Tuan Ray."


Lalu Ray melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.Setelah sampai di kamarnya, ia memberikan ice cream tersebut pada Zuy.


"Terimakasih Ray..."


"Sama-sama sayangku...."


Zuy memakan ice cream itu dengan lahapnya, sehingga membuat bibirnya blepotan karena ice creamnya itu. Ray yang melihatnya langsung membersihkannya dengan Ibu jarinya.


"Sayangku kaya anak kecil," ledek Ray sambil mengusap bibir Zuy.


"Biarin, bleee..." Zuy menjulurkan lidahnya seraya membalas ledekan Ray.


"Dasar kamu ya! Sini bagi sesendok ice creamnya!" pinta Ray.


"Nih... Ayo buka mulutnya!" titah Zuy menyodorkan sendok berisi ice creamnya.


Ray menurut, ia pun membuka mulutnya, lalu kemudian Zuy memasukan ice cream tersebut ke dalam mulut Ray.


Drama ice cream pun masih berlanjut.


**********************


Perusahaan CV


Siang hari di Perusahaan CV, Zuy nampak tengah berada di halaman luar gedung Perusahaan dan menjalankan aktivitasnya sebagai OB. Zuy masuk kerja setelah tadi pagi ia meminta Ray untuk mengizinkannya, karena sayangnya Ray pada pujaan hatinya, ia pun mengizinkan Zuy untuk bekerja.


Setelah selesai, ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di taman sambil memijat pelipis kepalanya.


"Panasnya siang ini bikin kepala ku sakit," lirih Zuy.


Di saat Zuy sedang asik duduk, tiba-tiba ia di datangi dua orang wanita yang usianya mirip dengan Bi Nana, lalu kemudian ....

__ADS_1


"Oh ternyata ini anaknya yang membuat Lidya di liburkan tanpa di bayar," celetuknya.


"Iya dia anaknya, wanita j*lang dan gak benar," balas satunya.


Zuy pun langsung menoleh ke arah kedua orang tersebut.


"Bu Ida!!" lirih Zuy, ternyata yang datang Bu Ida dan Ibunya Lidya.


Zuy langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghadap ke arah mereka, lalu tiba-tiba ....


Plaaak...


Satu tamparan dari Ibunya Lidya mendarat di pipinya Zuy, membuat Zuy tersentak.


"Kenapa anda menamparku?!" tanya Zuy.


"Itu balasan karena kamu sudah membuat anaknya dan Wanda tidak bekerja lagi," ujar Bu Ida.


"Lalu kenapa menyalahkan saya? Kan mereka yang bersalah sudah menyinggung saya dan Ceo," pekik Zuy.


"Tuh lihat kan! Dia gak mau di salahin," papar Bu Ida memanas-manasi Ibunya Lidya.


"Dasar kurang ajar!"


Ibunya Lidya terpancing amarah, lalu ia menarik rambut Zuy.


"Awww sakit, lepasin!" rintih Zuy.


Airin terkejut melihat Zuy di jambak seseorang, ia pun langsung menghampiri mereka.


"Hei berhenti menyiksanya!" bentak Airin mencoba melepaskan tangan Ibunya Lidya dari rambut Zuy.


"Nah mungkin kamu anak yang bernama Airin, sini kamu! Biar ku hajar sekalian," sergah Ibunya Lidya, ia pun menarik rambut Airin juga.


"Lepaskan rambut ku!" teriak Airin.


Mendengar keributan, Security pun datang.


"Nyonya jangan buat keributan di sini! Cepat lepaskan mereka!"


"Heh... Melepaskan mereka? Jangan mimpi! Mereka yang sudah membuat anakku berhenti dari kerjaannya!"


Security mencoba melepaskan nya akan tetapi Bu Ida menghalanginya dengan memukul Security menggunakan payungnya.


Sementara itu, beberapa saat sebelumnya, Ray tengah berada di ruangannya sambil berdiri di depan jendela kaca ruangannya. Tanpa sengaja ia melihat pujaan hatinya tengah duduk di halaman luar, walau terlihat sangat tidak jelas karena ia berada di atas namun ia merasakan bahwa itu adalah Zuy. Kemudian Ray terpaku saat melihat dua orang datang menghampiri Zuy, awalnya Ray biasa saja, namun saat melihat salah satu dari orang tersebut menampar Zuy, Ray langsung beranjak dari posisinya dan melangkah keluar.


"Kak Davin ikut aku!" ajak Ray.


"Kemana Tuan!"


"Jangan banyak bicara!"


Davin pun mengangguk patuh dan dalam hatinya berkata, "Sepertinya Tuan Ray sedang marah."


Mereka pun berjalan ke arah lift menuju lantai bawah.


Kembali lagi pada mereka....


Bu Ida terus memukuli Security itu, agar ia tidak ikut campur. Lalu tiba-tiba .....


"Berhenti membuat keributan di Perusahaan ku!" seru seseorang dengan nada dingin menghampiri mereka.


Bu Ida pun sangat terkejut melihat Ray berada di sini, ia pun langsung menghentikan aksinya.


"Ka-kamu!!"


Ray lalu mencengkram tangan Ibunya Lidya sehingga membuatnya meringis kesakitan dan langsung melepaskan tangannya dari rambut Airin dan Zuy.


"Airin, Zuy.... Kalian tidak apa-apa?" tanya Davin.


"Tidak apa-apa, hanya saja kepala ku terasa sakit," ungkap Airin membuat Davin memanas.


"Kalian benar-benar cari masalah ya!" pekik Davin.


Lalu Ray melihat ke arah Davin. "Pegangi Ibu satunya!"


Davin pun mengangguk, lalu ia memegangi lengan Bu Ida.


"Lagi-lagi si wajah butek menjadi biang masalah." celetuk Davin


"Hei lepaskan saya! Dan lagi kenapa selalu ada kalian berdua sih?" pekik Bu Ida, karena ia belum tahu kalau Ceo di Perusahaan itu adalah Ray.


"Kalian berdua siapa? Datang-datang membuat masalah." tanya Ray dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh.


"Saya Ibunya Lidya, saya datang kesini ingin memberi pelajaran pada anak ini, karena dia anak saya di liburkan tanpa ada uang gaji, dan saya juga ingin menuntut pada Ceo dari Perusahaan ini!" ujarnya.


"Oh jadi anda itu Ibunya Lidya, hmmmm...."


Lalu tiba-tiba Lidya datang menghampiri.


"Ibu.... Sudah jangan buat keributan! Ini salah Lidya." ujar Lidya.


Pandangan Ray beralih ke arah Lidya. "Nona Lidya, apa yang Nona katakan ke Ibu anda, sehingga dia seperti ini?" tanya Ray menyidik.


"Maaf Tuan Ray, saya bilang ke Ibu kalau Tuan Ray meliburkan saya karena kesalahan saya, akan tetapi Ibu saya tidak percaya dengan ucapan saya, dia lebih mempercayai omongan orang lain," jelas Lidya, ia pun berlutut di hadapan Ray.


"Lidya kenapa kamu berlutut seperti itu? Memangnya dia siapa?" tanya Ibunya.


"Ibu, dia Tuan Ray. Ceo dari Perusahaan CV ini," ujar Lidya membuat Bu Ida terkejut.


"Ja-jadi dia Ceo dari Perusahaan ini?!"


Mendengar itu, Davin pun menyeringai, lalu ia mendekat ke telinga Bu Ida.


"Terkejut? Bukan hanya ini saja, nanti kalian akan di buat terkejut lagi oleh Tuan Ray," bisik Davin.


Ray terus mencengkram tangan Ibunya Lidya membuat Ibunya Lidya kesakitan, kini amarahnya mulai memuncak. Lalu ....


"Kak Davin.... Kasih tahu pada HRD untuk membuat surat pemecatan atas nama Lidya dan surat perintah untuk semua Perusahaan yang berkerja sama dengan kita agar tidak menerima orang seperti Wanda!" titah Ray.


Davin langsung menganggukkan kepalanya, sedangkan Lidya sangat terkejut mendengarnya.


"Apa! Jadi saya benar-benar di pecat!"


Lalu kemudian pandangan Ray mengarah ke Bu Ida dan beralih kembali ke arah Ibunya Lidya.


"Dan untuk kalian berdua, saya akan bawa kalian ke suatu tempat, supaya kalian berdua langsung mendapatkan kamar mewah dan gratis berpintu besi!" cetus Ray.


Sontak Bu Ida dan lainnya pun terkejut saat mendengarnya.


"Apa! kamar mewah dan gratis?!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ


__ADS_2